
“Rit, kamu di mana?” Daniel menelpon dari ruang kerjanya
“Di studio say, lagi take nih”
“anak-anak di situ?”
“Iya dong, kamu sudah selesai kerjanya?”
“Lagi rehat, aku ke situ ya?”
“Okay!” Daniel menutup ponselnya, lalu segera keluar dari ruang kerjanya menuju ke studio yang terletak di lantai satu rumah itu, letaknya 5 kamar dari kamar utama mereka.
“zzzzzz!” Daniel membuka pintu khusus yang menghubungkan rumah utama dengan studio. Alangkah terkejutnya ia, studio itu cukup luas didesign layaknya dapur di rumah-rumah, lengkap dengan peralatan memasak yang dimiliki masyarakat umum. Di situ juga terdapat ruang makan.
“Hai Yang!” Sapa Rita tersenyum, ia memakai apron bermotif buah-buahan
“Hai!” Daniel menghampiri Ranna yang duduk di depan sambil memperhatikan maminya memasak. Daniel menggendong lalu menciumnya
“Hey!, ciyuss banget cihh kamu!!!” Daniel mencium pipinya gemas!, para staf cewek di situ memandang iri pada Ranna. Sementara Rafa yang memakai baby walker berjalan menghampiri papinya, suster mengikuti di belakangnya.
“Piiiii!” panggil Rafa
“Hei!!! Si ganteng!!!” Daniel meletakan Ranna kembali dan mengambil Rafa dari baby walkernya, seperti Ranna, Rafa juga dipeluk seperti sudah lama tidak bertemu. Sementara Rita masih sibuk dengan kontennya
“Oke guys, sekarang kita lihat hasilnya ya? Bismillahirohmannirrohim!” Rita membalik kue cake yang baru saja ia buat.
“Wiiihhh!!!, mengembang guys!!,” dengan cekatan ia membalikan kue ke tempatnya.
“Kita tunggu dingin dulu ya?, oh iya, aku spill resepnya di sini!!”
Sutradara mengarahkan
“Pak Daniel, Anda bisa bergabung dengan bu Rita di konten?”
“Boleh?” ia meminta persetujuan istrinya, Rita mengangguk
“Pak Daniel duduk di sini bersama anak-anak, sambil menunggu makanan di hidangkan”
“Oh baiklah!” Daniel menuruti sutradara,
“Oke guys, masakan yang tadi saya buat siap untuk dicicipi, nah itu suami saya” Rita membawa masakan, dengan sigap Daniel menyambutnya dan meletakannya di meja makan. Ia juga membantu Rita menyiapkan piring dan gelas untuk mereka makan. Para staf bengong melihat Daniel yang giat membantu istrinya.
“Beda banget sama laki gue” bisik salah satu staf
“Iya, laki gue maunya dilayani mulu, ngambil piring aje harus gue” balas temannya lagi
Beberapa menit kemudian, semua masakan telah terhidang di atas meja makan.
“Ayo kita coba!” ujar Rita, ia siap memasukkan sendok berisi masakan ke mulutnya
“Sebentar!, berdoa dulu dong!” Daniel mengingatkan
“Oh iya!” Rita meletakan kembali sendoknya. Setelah berdoa mereka pun mencoba masakannya
“Kamu dulu deh Pi, yang nyobain!” ujar Rita
“Okey!” Daniel menyuap makanan ke mulutnya, tanpa disadari, orang-orang yang memperhatikannya ikut membuka mulutnya, berbuat seolah-olah ikut makan
“Hmm...gimana?” tanya Rita
“Yummy!!!,..pas!!, aku bisa nambah terus nih!” Daniel mencoba suapan kedua
“Jangan!,ada beberapa masakan yang harus kamu cobain, nanti kalau kekenyangan, gak dapat rasa enaknya” larang Rita
“Oh begitu, begitulah guys. Saya selalu menjadi obyek percobaan masakan istri saya!” celoteh Daniel sambil melihat ke arah kamera yang menyorotnya.
Satu studio tertawa, mereka senang kedatangan Daniel membawa hawa baru di acara mereka. Konten selesai dibuat,
“Kalian akan mengeditnya di sini kan?” tanya Rita pada video editor dan sutradara
“maunya sih begitu bu, tapi di sini terbatas alatnya”
“Memangnya kalian butuh apa saja?”
“Laptop saja sih, biasanya saya mengeditnya di tempat teman saya” jawab editor
“hmm,...kasih tahu saya spesifikasi laptop yang kamu butuhkan, nanti kalau sudah ada kalian mengeditnya di tempat ini saja!” ujar Rita
“Sekarang bu?” tanya editor itu ragu
“Ya sekarang lah, makin cepat makin baik kan?”
Editor berdiskusi dengan sutradara, sementara Rita ngobrol dengan suaminya.
“Masakannya beneran enak gak sih Yang?” tanya Rita ragu
“Enak kok! beneran deh, masa aku boong” jawab Daniel
“Syukurlah, padahal tadi aku sempat lupa sama bahan-bahannya. Tadi beberapa kali take!”
“Aku boleh usul gak?” tanya Daniel
“Boleh dong!”
“Kalau kamu lupa, sebaiknya jangan diulang atau jangan take ulang. Apa adanya saja, kamu pasti tahu orang awam pasti juga sering lupa bumbu kan? Konten kamu kan beda dengan acara masak di TV!”
“Hmm...benar juga ya? nanti deh video yang salah-salah jangan dipotong ya?”
“Iya!” Daniel menggendong Ranna, sementara Rafa sedang senang berjalan-jalan dengan walkernya diawasi suster.
“Pi!, home!” ujar Ranna
“Home? Kamu mau kembali ke kamar kita?” tanya Daniel, Ranna mengangguk
“Sebentar, bilang mami dulu ya?” Daniel menghampiri istrinya yang sedang berdiskusi dengan penulis naskah
“Rit, aku dan anak-anak kembali ke kamar ya? sepertinya mereka bosan di sini”
“Baiklah, aku sebentar lagi kok!” , Daniel segera membawa kedua anaknya keluar dari studio dan kembali ke kamar mereka.
“Alhamdulillah!!, padahal Cuma berjarak 5 kamar tapi lumayan capek ya Ran?” Daniel duduk di karpet di tengah kamar besar mereka, sementara Ranna mengikuti papinya berguling-guling di tengah karpet.
“Eh Kak, adek mana?” tanya Daniel, ia tidak melihat Rafa, Ranna mengerti, ia langsung bangun dan keluar dari kamar mencari Rafa, suster mengikuti dari belakang. Tak berapa lama Ranna mendorong baby walker dengan Rafa di dalamnya.
“Ah kak Ranna pintar!! Adek tadi kemana?” tanya Daniel, ia mengambil Rafa dari walker. Ranna pergi ke kamar mainnya lalu mengambil beberapa mainan. Ia bermain di tengah kamar.
“Kak Ranna ngajak main nih Dek!” Daniel ikut duduk bersama Rafa, mereka bertiga main dengan mainan yang dibawa Ranna.
Di studio,
“Ini bu spesifikasi laptopnya”
“Baiklah, mungkin besok atau lusa laptopnya sudah ada”
“Hah? Beneran bu?” tanya editor setengah tak percaya, mengingat harga laptop dengan spesifikasi itu sangat mahal
“InsyaAllah akan ada, selain itu, butuh juga untuk penulis dan finance kan?”
“Betul bu!” jawab mereka bersamaan
“Oke, kita sudahi dulu untuk hari ini, lusa kita ketemu lagi ya?”
“Baik bu!” jawab mereka kompak
Studio tersebut memiliki pintu keluar sendiri terpisah dari pintu rumah utama. Rita sengaja meminta renovasi ulang agar studio dibuat dengan pintu keluar tersendiri. Di samping studio terdapat ruang kantor administrasi tempat mereka mengadakan pertemuan dan ruang untuk bagian finance. Akses ke dalam rumah melalui pintu khusus dengan kunci sidik jari milik Rita dan Daniel. Rita kembali ke rumah utama melalui pintu khusus yang dibuat kokoh, agar tidak sembarang orang masuk ke dalam rumah utama.
“Selamat sore bu!” sapa salah satu staf dapur
“Sore!”
“Makan malamnya kami antar ke kamar sekarang?”
“Hmm,..masakannya gak berat kan? Karena kami baru saja makan di studio”
__ADS_1
“nanti kami info menunya bu!”
“Baiklah, terima kasih!”, Rita berjalan dengan santai menuju kamarnya
“Assalammu’alaikum!!”
“Wa’alaikummussalam!” Jawab Daniel, Rafa dengan semangat merangkak menghampiri maminya di pintu masuk.
“Eh Adek!, lagi ngapain?” tanya Rita, ia menggendong anak keduanya, Rafa menunjuk ke arah Daniel dan kakaknya.
“Sudah waktunya mandi nih, sus!” Rita memberikan Rafa ke susternya
“Kakak mandi juga ya? bau nih!” goda Daniel, Ranna menutup hidungnya. Tingkahnya membuat Daniel gemas padanya
“Hih!! Papi gemeess!!” Ia menggendong Ranna dan mencium pipinya
“Pi, biarin Ranna mandi dulu” ujar Rita mengingatkan
“Iya!” Daniel memberikan Ranna kepada susternya, ia sendiri membenahi mainan Ranna. Rita melihat suaminya
“Next time, biar Ranna yang membenahi bekas mainannya ya Pi, biar dia belajar bertanggung jawab”
“Ranna kan masih kecil, mana ngerti makna tanggung jawab?” protes Daniel
“Jangan salah!, justru dari kecil harus dibiasakan.”
“Kamu jangan terlalu galak begitu sama anak!”
“Aku gak galak kok, aku hanya gak mau nanti anak-anakku menjadi anak manja.”
“Apa tidak membereskan mainannya berarti dia anak yang manja?”
“Membereskan mainan artinya ia belajar menyelesaikan masalahnya sendiri”
“Iya,..iya, jadi gimana dong, aku biarkan saja berantakan? Aku gak suka berantakan kayak gini”
“Tapi Yang, kamu bukannya masih online?” Rita mengingatkan
“Oh iya!!!” Daniel langsung meninggalkan Rita dan berlari menuju ruang kerjanya
“Maaf ya, tadi ada tamu” ujarnya beralasan kepada para bawahannya yang masih online.
“Kami sudah selesai dari tadi pak!” ujar Eddy, suaranya menyiratkan kekesalan
“Oh iya, baiklah, kita sudahi hari ini ya? sampai jumpa besok!” Satu per satu karyawan offline. Daniel mengecek pekerjaan hari itu. Satu jam kemudian ia kembali ke ruang tengah, di situ ia melihat Ranna sedang membereskan mainannya. Ia memasukkan mainan ke kotak mainannya, lalu membawanya kembali ke ruang bermain.
“Ah, kak Ranna pandai!!” Rita memeluk putrinya, yang tampak bangga dengan pujian yang diberikan maminya. Raffa merangkak menghampiri mereka dan ingin bergabung dengan pelukan maminya
“Oke, pelukan berkelompok!!” teriak Rita
“Aahhhh!!!” ketiganya berteriak kompak, Daniel dan kedua baby sitter tersenyum geli melihat tingkah ibu dan anak.
“Sudah sore, jam kerja kalian sudah selesai kan?” ujar Daniel
“Baik pak, kami permisi dulu!” kedua baby sitter pamit pada Daniel dan Rita.
“Tadi siapa yang membereskan bekas mainnya?” tanya Daniel, Ranna mengangkat tangannya
“Pintar sekali kakak! Sini sekarang papi yang peluk!!” Daniel memeluk putrinya dengan wajah bangga.
“Kamu jadi membeli laptop untuk edit video?” tanya Daniel
“Besok saja, aku hubungi teman kak Andi. Aku kan sudah di rumah, ini waktu ku bersama keluarga. Aku gak mau direcoki pekerjaan!” ujar Rita sambil bermain dengan Raffa. Daniel mengangguk setuju
“Yang, besok aku diminta ke Singapura” ujar Daniel
“Huh? Kenapa?memangnya sudah boleh?” tanya Rita heran
“Ada urusan pekerjaan yang tidak bisa diselesaikan secara online”
“Kamu pulang hari atau menginap di sana?” tanya Rita dengan suara khawatir
“Aku belum tahu tapi kalaupun harus menginap aku bisa tinggal di apartemen kita”
“Jangan!, keadaan belum baik di luar, kasihan anak-anak masih kecil. Aku gak akan apa-apa”
“Kamu harus mengikuti tes kesehatan dulu dong?”
“Pastinya, kamu gak apa-apa kan aku tinggal?” tanya Daniel
“Urusan apa yang tidak bisa diselesaikan secara online?” tanya Rita curiga
“Hmm...sebenarnya berkaitan dengan proyek property yang dulu dipegang Martin. Sepertinya bermasalah dengan perijinan, aku sendiri belum tahu tentang apa, yang pasti mereka ingin CEO yang sekarang bertugas menjelaskan kepada lembaga yang terkait”
“Apa masalah ini gawat Yang? Kok perasaanku gak enak ya?”
“Kamu jangan ngomong kayak gitu, bikin aku takut saja” Daniel menjadi kuatir sendiri
“Kalau aku ikut dengan charter pesawat gimana? Jadi kamu jangan naik penerbangan umum”
“Charter pesawat? Mahal itu kan?”
“Kamu tahu gak, Kakek Sugi memberikan voucher penerbangan gratis kemana saja sebagai kado ultahnya Ranna kemarin. “
“Serius?”
“Iya!, kalau pakai jet pribadi kita akan lolos dari tes macam-macam kan?”
“Kalau di sini, gak tau deh kalau di Singapura”
“Ya gak apa-apa”
“Oh iya vouchernya untuk berapa kali terbang?”
“mungkin tiga kali pergi-pulang”
“Boleh deh!, dari pada aku khawatir pisah sama kalian mendingan kita sama-sama kesana saja ya?”
“Asyikk, kita berangkat jam 8 pagi ya?”
“Oke, bilang sama kedua suster untuk ikut kita!”
“Tentu dong, aku gak mungkin bisa membawa anak-anak yang mulai berat seperti sekarang!”
Malam harinya Rita menghubungi bagian penyewaan pesawat jet, dan memberitahu tentang keberangkatan mereka esok pagi. Ia mengirimkan voucher pemberian kakeknya. Setelah dikonfirmasi kembali, mereka bisa berangkat ke Singapura seperti yang direncanakan semula.
“Beres Yang! Aku sudah daftarin kita semua sebagai penumpang pesawat!”
“Alhamdulillah, Aku lega deh, sebenarnya sejak tadi siang aku sangat khawatir akan berpisah dengan kalian”
“Kita ini lebay banget ya?” ujar Rita tersenyum
“Enggak lebay dong!, belajar dari Mario . Dia gak bisa kemana-mana dengan keadaan seperti sekarang”
“Iya sih, berarti aku akan mengundurkan pertemuan dengan para freelancer content creatorku”
“Oh, kamu belum merekrut mereka menjadi pegawai tetap?”
“Belum dong Yang, aku lihat dulu bagaimana respon Vlog ku, kalau bagus dan bisa mendapatkan penghasilan, baru deh aku mempekerjakan mereka secara tetap”
“Oh iya, untuk membangun studio dan biaya lainnya, kamu dapat uang dari mana? Bukan dari uang bulanan kan?”
“Enggak dong!, aku kan punya tabungan!”
“Tabungan dari D’Ritz?”
“Bukan!! Beda itu, ini proyek beda lagi”
“Jadi uangnya dari mana?”
“Kamu nanyea? Kamu bertanya-tanya?” Rita menggunakan nada yang sedang trend
“Aku kesal lho kalau ada orang yang ngomongnya begitu”
__ADS_1
“Ehem..maaf!..Sebenarnya ini dari uang jajanku yang aku kumpulkan sejak dulu.”
“Uang jajan? Dari siapa?”
“Dari Mama, dari kakek Sugi dan dari kakek Darmawan”
“Tapi katamu kakek Sugi gak pernah ngasih uang banyak ke kamu?”
“Memang!, kakek Sugi gak pernah ngasih uang banyak, beliau takut kami akan menyalah gunakan uang itu untuk hal-hal yang tidak baik, narkoba misalnya. Tetapi beliau membebaskan kami untuk membeli barang-barang yang kami inginkan, dari mulai sepatu branded, jam tangan, tas, pakaian dan lain-lain. Tiap tahun, walaupun aku tinggal bersama ayah, kakek selalu mengirimkan katalog barang yang mau aku beli.”
“Oh ya? misalnya apa?”
“Aku pernah minta dibelikan sepatu Nike edisi terbatas, lalu ipod, ipad, banyak deh”
“Kamu pakai itu semua?”
“Enggak dong, aku jual di e-bay, bersama sertifikat keaslian. Lalu uangnya aku belikan logam mulia.”
“Logam mulia? Serius?”
“serius!, ketika aku cek ternyata nilai LM ku meningkat lebih besar dari yang dulu aku beli, aku jual dan uangnya untuk renovasi itu”
“Wahh...ternyata kamu lebih kaya dari yang aku duga ya? apa kakek mu gak mengecek barang-barang yang ia sudah belikan ke kamu?”
“Enggak!, yang penting dia sudah lihat barangnya”
“Kalau dari mama mu gimana?”
“Kalau dari mama aku baru mendapat uang saku ketika 16 tahun, itu yang aku gunakan untuk jajan dan keperluan, karena kalau minta ke ayah kelamaan.”
“Ayah gak pernah memberimu uang jajan?”
“Ngasih kog, 20 ribu perhari atau 600 ribu sebulan”
“Cukup?”
“Kalau di Sukabumi itu lebih dari cukup, aku membeli pakaian, jaket, sepatu, jam tangan yang mereknya biasa. Karena sekolahku sekolah biasa “
“Kalau dari kakek Darmawan gimana?”
“Nah, beliau lumayan tuh, setiap minggu aku di transfer 3000 dolar, plus kartu kredit”
“Tiga ribu dolar untuk anak SMA? Apa gak berlebihan?”
“Sekolahku di Auckland kan sekolah elite, kakek khawatir aku gak bisa mengikuti gaya hidup teman sekolah ku jadi beliau membekali kartu kredit”
“Tapi aku salut lho sama kamu, kamu tuh gak seperti anak kaya lainnya.”
“Hehehe..begitu ya? ya iyalah, wong aku bertahun-tahun tinggal sama Ayah yang tidak kaya”
“Tapi apa ayah mu tahu, kamu punya uang banyak?”
“Kayaknya tahu”
“Kok bisa tahu?”
“Di rumah ku banyak alat-alat elektronik yang harganya mahal, nah itu aku yang beli untuk membantu pekerjaan rumah tangga”
“Apa ayahmu gak komentar, uangnya dari mana nih?”
“Sepertinya ayah tahu, tapi beliau gak mau menggangguku dan uang ku, mungkin beliau takut aku lapor ke kakek Sugi kalau ia ingin tahu berapa besar uang yang ku punya”
“begitu?”
“Eh Yang? Setelah tahu sumber uangku, kamu gak bakal pelit kan sama aku?”
“Kenapa kamu mikir begitu?”
“Aku dengar nih, biasanya laki kalau dengar istrinya punya uang lebih banyak darinya, ia malas menafkahi”
“Memangnya kamu yakin uang mu lebih banyak dari uang ku?”
“Siapa tahu kan? Soalnya kamu sampai nanya begitu?”
“Apa salah? Aku ingin tahu saja, apa ada uang bulanan mu yang terpakai untuk proyek pribadi mu?”
“Yang, sebenarnya yang dimaksud uang bulanan dari kamu itu, uang belanja?”
“Bukan! Kalau uang belanja dan pengeluaran lain kan ada pos tersendiri, kalau uang bulanan itu, artinya uang nafkah untuk mu selain uang belanja”
“Ohhh...begitu, jadi boleh dong kalau terpakai?”
“Yaa, terserah saja sih toh itu uang mu, tapi kalau uang mu habis bagaimana?”
“Kalau habis ya minta lagi sama suami ku?” Rita menyenderkan wajahnya ke lengan suaminya manja
“Nanti lah, kalau rate gaji ku naik, pasti bulanan mu aku naikan!”
“Benar ya? asyikk!!!” Rita memeluk suaminya girang
“Tapi hari ini, pak suami minta jatah. Boleh gak?”
“Boleh dong!! Kapan sekarang?”
“Ayo!!!” Daniel menarik Rita ke kamar tidur mereka
“Eh Yang, anak-anak gimana?” tanya Rita, Daniel menutup pintu kamar utama, lalu menyalakan video anak-anak. Ia juga memasang microphone dan CCTV yang terhubung ke kamar mereka.
“Oke, mereka terlihat aman!” setelah menset semuanya, ia menuju kamar tidur dimana Rita telah siap dengan lingerie seksi yang sengaja ia beli
“Hmm..itu baru?” tanya Daniel, ia melihat lingerie baru Rita
“Iya, bagus kan? Aku belinya online lho!”
“Bagus mana sama victoria secret?” tanya Daniel, ia memegang jenis kain lingerie itu
“Kalau bahannya sih victoria secret, tapi ini lebih seksi kan?”
“Yeah..” ia memeluk istrinya mesra.
Beberapa jam kemudian, selesai bercinta. Mereka telah mandi wajib dan menidurkan anak mereka.
“Yang, kamu beli lingerienya di tik-tik ya?”
“Iya, kenapa?”
“Seksi sih, tapi bahannya kurang bagus gak cocok di kulit kamu yang mahal!” Daniel mencium lengan istrinya yang putih bersih
“Habis, aku sering kepikiran stalker itu setiap memikirkan Victoria Secret”
“Cari merek lain saja, yang berkelas! Gak harus VS kan? Nanti deh aku cari kan!”
“Kamu detail sekali ya?”
“Istriku kan istri mahal, masa pakai pakaian yang murah.”
“Ini gak murah yang! 200 ribuan”
“Kalau dalam dolar itu murah!, nanti deh aku belikan lagi”
“Aku pikir kamu akan bilang, toh Cuma sebentar pakainya, nanti juga aku lepas lagi” Rita menirukan perkataan Daniel
“Iya, tapi tadi kulitku menyentuh bahan itu, panas. Aku gak suka. Lebih baik kamu langsung naked saja ketahuan!”
“Hahaha...kita ini sekarang lancar banget ya ngomong adegan 20 ++, gak ada malu-malunya lagi” ujar Rita geli
“Kalau sudah suami istri ya begitu, kalau gak urusan, anak-anak, dapur ya ranjang!” ujar Daniel
“oo begitu ya?”
“Sudah ah, kita tidur, besok kita kembali ke Singapura!”
“Good night!” Daniel mencium kening istrinya, lalu mematikan lampu tidur.
__ADS_1
_Bersambung_