Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)

Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)
Chapter 221: Ultah Pertama Ranna


__ADS_3

“Assalammu’alaikum, hai Mai!”


“Wa’alaikummussalam!, hei Rita, apa kabar Lo?”


“Alhamdulillah, baik. Ini gimana tadi gue Vcall ke rumah besar gak ada yang angkat, pada kemana?”


“Di sini lagi kode merah Rit!”


“Maksudnya?”


“Robby positif kena virus, sekarang dia lagi diisolasi. Masalahnya dia diam-diam saja, akhirnya seluruh penghuni di suruh PCR kemarin”


“Terus?”


“Ya, hampir semua kena, Alhamdulillah gue enggak. Karena gue jarang ketemu mereka”


“Kakek kena juga?”


“Iya lah, makanya beliau bete banget”


“Yahh,..padahal gue mau ngundang ultahnya setahunnya Ranna”


“Coba telpon kakek lagi saja Rit, sekarang sudah dikamarnya kali”


“Memangnya tadi di mana?”


“Di ruang dokter, beliau galak banget, dokternya sampai ketakutan”


“Btw nanti lo hadir ya Mai, gpp secara online juga, hehehe”


“InsyaAllah Rit, jam berapa?”


“Jam 7 malam”


“Apa Ranna gak ngantuk itu?”


“Ranna itu tidurnya jam setengah sembilan, karena dia biasa nonton film sama papinya”


“Oh iya, gimana kabar yayang Daniel?”


“Baik, kenapa lo nanya? Tertarik?”


“Jiiaaahh,..sensi banget Low! Enggak, kemarin gue vcall sama Rosy”


“Oh ya? gimana kabarnya?”


“Lagi hamil dia, 5 bulan , dia kangen rumah”


“Lho, mamanya bukannya ikut dia ke Dubai?”


“Enggak, tante di sini jagain Robby.”


“Ooo pantes!”


“Kakek ngeluh, Rosy manja banget padahal baru anak 1, Rita tuh anaknya mau tiga, memangnya lo lagi hamil lagi Rit?”


“Enggak, memangnya Rosy minta pulang?”


“Cengeng, tiap malam nelpon mamanya nangis-nangis, si Rendy sampai sebal”


“Bilangin Mai, itu bawaan orok. Seharusnya tante tahu “


“Tapi lo gak begitu Rit? Iya kan? Kakek yang bilang sih!”


“Setiap anak kan beda-beda Mai, misalnya waktu hamil Raffa yang ngidam Daniel, dia tiap pagi muntah-muntah selama 3 bulan. Waktu Ranna yang ngidam gue. Jadi tiap anak beda-beda, btw lo jadi sering ngobrol sama kakek?”


“Iya nih, tumben juga kakek jadi sering datang ke cucu-cucunya ngajak ngobrol”


“Oh ya? asyik dong?”


“Iya, dia bilang supaya kita-kita gak merasa kakek mengistimewakan Lo dan Andi saja, gitu”


“hahaha..ada-ada saja kakek, ya udah gue coba hubungi kakek ya Mai!”


“Oke Rit, sampai besok malam ya?”


“Daaah!!”


Daniel melihat istrinya masih vcall melalui laptopnya


“Yang, anak-anak sudah tidur?” tanya Daniel


“Sudah, sebentar Yang, aku nelpon kakek Sugi dulu”


“Eh Kakek Sugi?” tiba-tiba wajah Daniel berubah serius


“Kok wajahmu jadi kayak begitu?”


“Eh enggak, kalau dengar namanya tiba-tiba aku jadi takut saja”


“Hahaha..jangan begitu dong, biasa saja” akhirnya Rita menelpon dari ruang tengah


“Assalammu’alaikum, kakek!” sapanya


“Wa’alaikummussalam, hai Rit!”


“Apa kabar kek?”


“Baik Rit!, kamu dan anak-anak gimana?”


“Alhamdulillah baik kek, oh iya kakek bisa datang besok malam? Ke ultahnya Ranna?”


“Maunya sih datang, kakek kangen sama Ranna, tapi gak bisa Rit, rumah ini lagi diisolasi. Ada beberapa orang yang positif terjangkit”


“Tapi gak sakit kan kek?”


“Enggak sih, tapi sudah terkena virus Rit, jadi untuk menghentikan penyebaran, rumah ini di desinfektan. Dua hari lagi di PCR”


“Kalau begitu hadir secara online saja Kek, besok Rita bikin zoom nya!”


“Ya, boleh deh. Oh iya kalau keadaan sudah mereda, kalian datang sekali-sekali kemari. Nginap begitu!”


“Hehehe..iya Kek, Rita sering lupa karena kelamaan di luar!”


“Dasar! Oh iya, adiknya Ranna, siapa namanya?”


“Raffa, Raffa Muhammad Kang!”


“Oh iya Raffa, sudah bisa apa sekarang?”


“sudah bisa tengkurap kek”


“Wahh..cepat juga ya? Ranna senang gak ada adiknya?”


“Ya gitu deh, kadang dia jaga, kadang dia juga yang mukul”


“Hahaha..lucu sekali cicit kakek, iya insya Allah besok kakek online ya Rit?”


“Alhamdulillah, iya kek sudah dulu ya?”


“Eh sebentar, Raffa mau punya adik lagi ya?”


“huh? Enggak Kek! Belum!?”


“Oh ya? hmm...baiklah sampai besok ya?”

__ADS_1


“Sampai besok kek!”, Rita menyudahi percakapannya, ia memeriksa pintu serta jendela kamarnya, kemudian berganti pakaian. Ia mengecek ke kamar anak-anak, kemudian masuk ke ruang tidur.


“Sudah nelponnya?”


“Sudah!,jadi besok pagi tinggal beres-beres untuk acara”


“Mau diadakan di mana?”


“Kamu tahu? Di lantai dua rumah ini ada ruangan seperti ball room, nah itu bisa dipakai untuk acara”


“Oh, aku belum ke lantai 2, baru lantai 1 saja aku sudah capek mikirnya. Mau diapakan ruangan sebanyak itu!”


“Iya ya, aku juga sempat stress, berat nih diberi amanah rumah besar kayak gini”


“He eh!” Daniel mulai mengantuk, lalu ia memejamkan matanya


“Yang!” panggil Rita


“Sudah tidur rupanya” gumam Rita, ia mematikan lampu kamar tidur kemudian tidur di samping suaminya.


Keesokan paginya setelah sarapan,


“Sayang, aku dan anak-anak akan ke lantai dua, kalau kamu butuh aku, telpon saja ya?” Rita menunjuk ke smart watchnya


“Oke!!” Daniel masuk ke ruang kerjanya dan mulai online.


Sementara Rita sibuk menata ruang untuk pesta ultah Ranna


“Pak, nanti kameranya di sini dan di sini, di zoom supaya yang hadir bisa melihat Ranna dengan jelas.”


“Iya mba, oh iya snack-snack juga sudah disiapkan”


“Sebenarnya lucu sih, yang hadir online semua, paling-paling snack untuk kita semua di sini”


“Kue ultah Ranna juga sudah jadi”


“Oh ya? sudah diantar?”


“Sudah!, sekarang ada di freezer”


“Alhamdulillah,..sekarang tinggal menyiapkan pakaian untuk Ranna dan Raffa”


“Oh iya , kostum arabiannya juga sudah ada mba”


“Hahahah...keren nih, nanti yang hadir di sini juga pada pakai kostum ya?”


“Siap mba, nanti kostumnya diantar ke kamar ya?”


“Iya, sudah bereskan?”


“Sudah semua mba, oh iya mba Rita mau melihat lantai 2?”


“hmm..boleh lah!” Rita bersama anak-anak, baby sitter serta pak Ridwan berkeliling lantai 2.


“Semuanya masih kosong ya pak?” tanya Rita


“memang sengaja dikosongkan, pak Darmawan bilang, nanti kalau butuh apa-apa tinggal diisi”


“Maksudnya?”


“Ya, seperti kemarin, butuh untuk ruang perawatan, tinggal diubah menjadi kamar perawatan”


“Ya sebenarnya memang lebih baik begitu sih, mungkin nanti aku ingin mengisi ruangan yang di sebelah ballroom tadi pak untuk studio vlog ku”


“Oh ya? konsep ruangnya mau dibuat seperti apa mba?”


“Buat seperti dapur, karena vlog ku tentang memasak”


“Kalau untuk memasak, saya usul sebaiknya di lantai satu saja mba, karena ada jendela dan pintu yang langsung keluar, kalau di lantai ini lebih cocok untuk studio senam atau yang lainnya selain memasak”


“Ada mba!, kalau kurang luas dua kamar bisa dijadikan satu”


“Hmm...bisa ya?”


“Tentu, ini kontraktor terakhir yang pak Darmawan pakai untuk renovasi rumah”


“Oh rumah ini pernah direnovasi?”


“Dua kali, pertama ketika mba Rita masuk ke keluarga ini, kedua ketika membangun kamar rumah yang sekarang mba Rita tempati”


“Oh begitu, apa ada denah rumah ini pak?”


“Sebenarnya mas Andi pernah membuatnya,nanti deh saya cari filenya”


“Lantai 3 itu tempatnya kakek?”


“Iya tempat pak Darmawan , sedangkan kamar mas Andi di sebelahnya”


“Selain itu ada apalagi pak?”


“Tidak ada apa-apa lagi, Cuma dua kamar itu saja, tetapi sangat luas.”


“Eh kamar kak Andi itu yang dulu pernah kita pakai ya?”


“Iya betul, tapi kemudian dipindah ke bawah. Menurut pak Darmawan anak-anak butuh ruangan luas dan aman. Kalau di lantai tiga terlalu beresiko”


“Kakek terlalu memikirkan cicit-cicitnya, padahal mereka masih batita”


“Kalau sedang di rumah ini, beliau hanya diam di kamarnya, jarang keluar kecuali waktu ada mas Andi atau mas Mario. Beliau keliling-keliling rumah, itu pun setelah mas Mario mengatakan banyak hal tentang menata ulang rumah ini”


“Oh begitu, eh pak Ridwan , aku mau tanya boleh gak?”


“Tanya saja mba, gak usah sungkan!”


“Kenapa kakek mengangkat Mario sebagai anak? Kan bisa saja jadi anak asuh, kenapa harus adopsi?”


“hmm..tentang itu saya kurang paham mba, tapi kalau saya perhatikan sejak mas Mario di rumah ini, suasana menjadi ceria. Saya juga melihat pak Darmawan sering tertawa dibandingkan sebelumnya”


“Oh begitu, jadi kakek benar-benar sayang sama Mario ya?”


“Kenapa mba?”


“Enggak Cuma penasaran saja, hehehe..baiklah pak, saya kembali ke kamar dulu ya?”


“Iya mba! Saya masih di sini untuk mengawasi “


Rita dan anak-anak naik lift menuju lantai bawah


“Disini Cuma tiga lantai, tapi jarak tiap lantai jauh gak heran kita naik lift!” ujar Rita kepada kedua baby sitter


“Bu, nanti anak-anak di kamar bermain atau bagaimana?”


“Taman bermain saja, nanti saya juga akan di situ”


Mereka masuk ke kamar bermain anak-anak, Ranna yang sudah bosan duduk di strollernya, langsung berlarian di kamar bermain yang cukup luas itu. Rita dengan senang memvideokan, sementara Raffa ingin seperti kakaknya, ia menggerak-gerakkan kakinya aktif.


“Kamu belum bisa dik!, nanti ya? tunggu beberapa bulan lagi” ujar Rita sambil menggendong Raffa


“Kakak, sini kita main ini” Rita mengajak kedua anaknya lompat pelan di trampolin, beberapa kali Ranna terjatuh, Rita tertawa geli melihat tingkah anaknya yang berusaha melompat di trampolin itu. Sementara ia duduk bersama Raffa sambil memperhatikan Ranna.


Tiba-tiba Rita teringat sesuatu, lalu ia menelpon dari smartwatchnya


“Hei tong!”


“Hei O! Lagi ngapain lo?”

__ADS_1


“Lagi macul!”


“Emang ada sawah di situ?”


“Ada!, kenapa nih? tumben? Ai lgi online sama laki yu?”


“oh, eh, nanti malam Ranna ultah, lo datang online ye, nanti gue undang di zoomnya”


“Telat! Ai udeh diundang laki yu! Heran, laki yu lebih inget Ai dari pada Yu?”


“Maklum deh, lagi banyak pikiran!, eh O, gue mau bikin studio masak untuk vlog, lo bisa bantuin desainnya gak? nanti gue bayar deh!"


“Untuk kapan?”


“Ya secepatnya!, kalau bisa mumpung masih pandemik nih”


“Memangnya Yu sempat? Anak yu sudah mau 3 !”


“Ah ngaco lo! baru 2, ini kenapa pada sok tahu gitu sih!” protes Rita


“Hahaha..ya udeh, yu video in aja bentuk ruangannya nanti Ai bikin deh interiornya”


“Biasanya bayarnya berdasarkan apa O?”


“Biasanya Ai dibayar borongan, jadi selain desain, Ai juga yang mandorin jadi Ai yang nunjuk kontraktornya”


“Oh gitu, jadi gue tinggal terima beres ya?”


“Iya!, oh nanti Ai rekomenin vlog masak yang bagus, siapa tahu jadi inspirasi Yu!”


“Iya deh, thanks ya O!”


“Eh bentar, Tong!”


“Apaan?”


“Lo jangan bilang laki Yu ya?”


“Apaan lagi?”


“Ai dengar rumor, katanya laki yu lagi diselidiki!”


“Diselidiki? Sama siapa?”


“Katanya sih lembaga terkait di sini, ada laporan gelap tentang praktek ilegal, katanya dari lantai 20”


“Eh O, lo bukannya lantai 20 juga?”


“Oh iya??? Kenapa Ai sampai lupa!”


“Dasar!, coba O, lo cari tahu dong, praktek ilegal kayak apa. setahu gue lantai 20 itu nerima proyek lama kan?”


“Ah iya bener! Kenapa Ai jadi lupa terus ya?”


“Lo sih! Kelamaan sendiri di situ ya?”


“Iye tong!, paling gue datang ke D’Ritz ngobrol sama Erina”


“Ciyeee!!!”


“Ah Ciyee..ciye...apaan sih lo! bini orang tuh!”


“Lo sih kelamaan, jadi disamber orang deh!”


“Mungkin nasib Ai, yang jodohnya disamber orang, gak apa-apa deh dari pada disamber petir!”


“Mulai deh!, ya udeh sampai nanti malam ya? jam 7 oke!”


“Oke! Thanks Tong!” mereka mengakhiri percakapannya


Malam harinya setelah sholat Isya, Rita dan Daniel serta anak-anak telah memakai kostum, tema pestanya 1001 Arabian Night, Daniel berpakaian seperti Jin dengan kaos biru dan rambut dikuncir satu. Sedangkan Rita memakai kostum penyihir dengan burung kakak tua di bahunya.Sedangkan Ranna sang bintang berpakaian seperti princess Jasmine , ia memakai wig rambut panjang, tampak manis dan lucu. Ia sebal dan menarik-narik wig panjang dari kepalanya. Sedangkan Raffa memakai baju seperti Ali baba.


Mereka tiba di lantai dua bersama kedua baby sitter , semua tamu staf rumah berkumpul juga para tamu online. Mereka tertawa melihat kostum tuan rumah


“Hahaha...ada-ada saja nih Rita, Daniel jadi Jin!” Andi gak bisa berhenti tertawa karena wajah Daniel yang dicat biru


“Anything for my daughter” ujar Daniel


Pesta berlangsung dengan meriah, Ranna terlihat sangat gembira, begitu juga Raffa yang selalu digendong Daniel. Ia menarik-narik kuncir rambut papinya. Ranna yang memainkan hiasan burung kakak tua dari kostum maminya juga tak luput dari kamera.


“Wah, seru nih!..pinter juga lo Tong!” ujar Mario


“Hehehe...gak kalah kan sama lo?”


“Tapi kenapa kamu pakai kostum itu?” tanya kakek Sugi


“Kan bintangnya Ranna Kek, jadi dia yang harus menonjol bukan maminya”


“Bukan, maksud kakek kenapa harus jadi penyihir?”


“Tokoh utamanya 4 kan? Jasmine, Ali, Jin san penyihir”


“Maksud kakek ada lagi!” ujar Mario


“Siapa?”


“Abu!”


“Abu? Monyet dong?”


“Hahahaha!!!” semua tertawa melihat wajah Rita yang bingung


Pesta berakhir pukul 8.30, Ranna sudah kelihatan mengantuk, MC menutup pesta itu, semua yang hadir baik offline dan online mengundurkan diri. Rita dan keluarga pun kembali ke kamarnya. Baby Sitter mengganti pakaian Ranna dan Raffa lalu menidurkannya.


“Bu, anak-anak sudah tidur, kami mohon diri dulu!”


“Baiklah, terima kasih ya?” ujar Rita, ia menutup pintu kamar mereka lalu memeriksa pintu dan jendela.


Daniel baru saja keluar dari kamar mandi, ia membersihkan warna biru dari wajahnya, kini wajahnya kembali kinclong. Kini giliran Rita berganti pakaian, selesai bebersih ia merebahkan diri di sisi suaminya.


“Ranna sudah setahun saja ya? 9 bulan lagi Raffa”


“Kamu juga sudah hampir 20 tahun ya?”


“Yah,..tua deh” keluh Rita


“Tua?? Kalau kamu tua aku apa dong?” Daniel menunjuk wajahnya


“Cowok mah gak bakal tua! Kalau cewek tuh kelihatan. Masa kamu gak lihat, walau kita terpaut 9 tahun, tapi kayak seumuran!” ujar Rita


“Ah enggak! kamu gak berubah kok, masih sama. Cuma tadi memang kostumnya bikin kamu kelihatan tua”


“Kostum apa riasan?”


“Semuanya!”


“Berarti aku sukses ya, hehehhe, aku belajar melukis wajah dari youtube lho. Ternyata berhasil”


“Untung kamu milihnya penyihir, bukan si Abu!”


“Ih kamu ikutan jahil gitu!” Rita menggelitik pinggang Suaminya


“Sudah ah, aku ngantuk! Besok ada rapat para CEO” Daniel mulai terlelap


Rita memperhatikan suaminya , ia teringat kata-kata Mario tadi siang. Dalam hatinya ia berdoa, semoga Allah melindungi suami tercintanya, aamiin.. ia pun terlelap

__ADS_1


_ bersambung_


__ADS_2