
“Dien, habis lo gue ya?” pinta Qowi, mereka bergantian mencoba motor listrik roda tiga yang dibawa Rita ke rumah Lisa
“Nanti dong, gantian!” ujar Andien dia sangat menikmati berkendara dengan motor itu
“Kenapa kalian gak naik berdua saja? Lalu keliling agak jauh daripada bolak-balik di sini” usul Lisa
“Oh iya bener juga!” ujar Qowi dan Andien bersamaan mereka baru ingat kalau motor itu cukup untuk penumpang 2 orang. Akhirnya mereka berkendara keluar dari rumah Lisa
“Dasar!” gerutu Lisa, Rita baru saja selesai menelpon suaminya
“Sudah selesai laporannya?” tanya Lisa
“Sudah, tadi dia baru turun gunung sekarang lagi perjalanan pulang “
“Pulang? Kesini atau ke Jakarta?”
“Ah iya, gue lupa nanya! Ah sudahlah! Jadi sampai mana kita tadi Lis?”
“Kalian para bride’s maid kok gak bikin bridenya senang ya?” ujar Lisa gusar
“Lo kenapa gelisah sih? Lo bilang sendiri kan, semua acara sudah diatur sama nyokap lo, jadi lo tinggal duduk manis jadi pengantin!” ujar Rita
“Nah itu Rit, selera nyokap gue itu beda sama gue, ini saja gue minta bride’s maid tadinya beliau gak ngerti setelah bokap gue bilang pagar ayu, baru deh ngerti”
“Lo harus sabar Lis, bagi nyokap lo acara ini acara nikahan yang pertama dan terakhir karena elo kan anak satu-satunya”
Tak lama kemudian kedua teman mereka bergabung dengan obrolan mereka
“Sudah kelilingnya?” tanya Rita
“Sudah bosen, Rit itu indikator baterainya kelap-kelip” ujar Andien
“Oh gegara itu pada balik?” Rita menuju motornya lalu mengangkat baterai motor
“Gue numpang ngecharge ya?” pintanya, Lisa mengangguk
“Kemarin nyokapnya Lisa curhat sama gue, katanya Lisa mau jadi pengantin malah jadi galak!” cerita Qowi
“Kalau istilah bulenya Bride-zilla” sambung Andien
“Kalian belum pernah ngerasain sih, coba deh tanya Rita !”
“Eh?” Rita yang sedang memakan kue cake yang disediakan
“Perasaan dulu Rita gak jutek kayak Elo!” ujar Qowi kesal
“Ah iya, dulu kan Rita gak sengaja nikahnya ya?” ujar Andien
“Sialan Lo, masa gue dibilang gak sengaja nikah?” protes Rita
“Lah iya, orang tiba-tiba ngasih undangan nikahan, sampai teman2 yang gak diundang pada suudzhon, katanya lo hamil duluan” ujar Qowi
“Ah bodo amat! Toh gue gak kenal mereka, yang penting kalian tahu yang sebenarnya kan?” ujar Rita cuek
“Eh Lis, mau nanya nih kenapa Lo nerima Farhat lagi? Bukannya lo pernah menolak lamarannya?” tanya Andien
“Iya, kita sempat putus setahun eh apa lebih ya? gue lupa”
“Bukannya Lo bilang Farhat sudah punya pacar di sana?” tanya Rita
“Iya memang, terus mereka putus. Kata Farhat dia gak bisa ngelupain gue.”
“Dia gak bisa ngelupain Lo, kalau Lo bisa lupain dia gak?”
“Ya sama lah!, Lo gak tahu gue nangis seminggu dengar dia punya cewek di sana?”
“Nangis seminggu? Terus berentinya gimana?” tanya Qowi
“Gimana ya? gue lupa pokoknya tiba-tiba gue bosan nangis. Sudah gitu flat saja!”
“Terus Lis, bisa jadian lagi gimana?”
“Hmm...itu gak sengaja kita ketemu di acara teman gue. Lo sama Qowi gak kenal deh. Tadinya kita saling cuek, eh tiba-tiba acara couple gitu, gue dapat dia pasangannya dan kita menang. Senang banget kan, apalagi bisa pulang dianterin kayak dulu”
“Heh Lis, rumah Farhat tuh di seberang!” ujar Qowi
“Tapi tetap Wi, namanya dianterin ya senang”
“Terus?” Rita dan Andien bersamaan
“Ya terus besoknya kita sering ketemu, gak canggung. Kira-kira seminggu deh, kita ngebicarain semuanya. Masalah kenapa gue nolak dia dan sebagainya. Akhirnya dia bilang, keberatan gue tidak berdasar dan dia pengen kita langsung nikah”
“Wow! Lo kaget gak?”
“Pasti dong! Tapi gue jadi inget ibu Rita ini, kesempatan tidak akan datang dua kali kan? Gue sudah pernah nolak dia dan rasanya seperti tertusuk dalaaaammm banget”
“Jiaahhhhh...lebay lo!” ujar Qowi dan Andien
“Akhirnya gue bilang, baiklah tapi ijin ke bokap dan nyokap gue dulu. Malam itu, dia datang ke bokap lalu melamar gue lagi. Dia juga ngajak bokap-nyokapnya, dia bilang gak mau ada acara lamaran keluarga langsung nikah saja. Dan bokap gue setuju”
“Kira-kira kapan itu terjadinya?” tanya Rita
“Sebulan yang lalu!”
“Sebulan? Itu kan kita lagi UTS?” tanya Qowi
“Iya bener! “
“Kilat juga ya? ujar Rita
“Lebih kilat Lo kalee!” ujar Andien dan Qowi bersamaan
“Iya-iya! Kalian ini dari tadi!” protes Rita
“Eh Rit, sebenarnya malam pertama itu gimana?” tanya Lisa
“eh???”
“Skip yang COD ya? gue ngerti maksud lo, tapi pengalaman lo, tiba-tiba tidur bareng lelaki ?” tanya Lisa. Andien dan Qowi juga penasaran
“Ehem!..begini waktu gue pertama kan di hotel tuh, nah karena gue lagi halangan jadi kita tidur biasa!”
“Lo kaget gak pas bangun ada sosok asing di tempat tidur lo?” tanya Lisa
“Iya dong! Pastinya!, gue itu sempat pura-pura tidur lagi karena merhatiin mukanya laki gue yang ada di depan gue”
“Wow!!! Ketahuan gak?”
“Ketahuan kayaknya, tapi dianya cuek. Dia bangun lalu sholat subuh”
“Daniel hebat juga ya? padahal dia mualaf”
“iya memang! Dia itu kalau melakukan sesuatu gak tanggung-tanggung!” ujar Rita
“Terus Rit, itu kan pengalaman tidur pertama nah, kalian berhubungan suami-istrinya?” tanya Lisa
“Itu ada perannya Mario tuh!”
“Hah? Dia datang ke kamar lo gitu?”
“Bukan!, Dia nukar piyama hello kitty gue sama lingerie yang dibeliin nyokap gue”
“Eh Lingerie? Waduh gue gak punya tuh!” ujar Lisa panik
“Tenang!” Rita mengambil bungkusan besar dari tasnya
“Apaan tuh Rit?” tanya Qowi
Rita memberikan ke Lisa
“Nih untuk Lo, semoga bermanfaat!”
“Terima kasih!” Lisa menerimanya dengan senang, lalu membuka bungkusan yang berbentuk kotak itu
“Wow!!! Lingerie sutra” ujar Qowi, Andien dan Lisa bersamaan
“Pakai waktu malam ya? sebelum tidur sesudah makan malam”
“Ada petunjuknya di sini? Kayak minum obat?” canda Lisa mencari petunjuk penggunaan
__ADS_1
“Dulu gue digituin sama nyokap. Kata nyokap cukup pakai baju itu di depan laki lo, setelah itu biarkan dia yang bekerja! Lo tinggal ngikutin saja!”
“Oh begitu, nanti gaya macam-macam itu gimana Rit?” tanya Lisa
“Soal gaya urusan nanti, kalian kan sama-sama belajar. Awalnya memang malu sih tapi lama-lama terbiasa.”
“Oh gitu ya Rit? Gak heran ya Rit anak lo mau tiga?” ujar Qowi
“Eh, kelihatan ya?” tanya Rita
“Memangnya Lo lagi hamil lagi Rit?” tanya Lisa
“Dari tadi lo gak berenti makan. Terus perut Lo memang rada buncit sih” jawab Qowi
“Iya, gue lupa minum pil KB, karena Rafa demam eh ternyata waktu itu gue masuk masa subur, jadi deh”
“Kalian senang dong?”
“Namanya anak itu rejeki, kalau ditolak berarti menolak rejeki, nanti kalian rasain sendiri deh!” ujar Rita
“Tapi Rit, sebelumnya kalian pernah membicarakan gak mau punya anak berapa, terus gimana?” tanya Lisa
“Hmm..Daniel pernah bilang , dia kan anak tunggal, jadi dia kepengen punya anak banyak, 5 atau 6”
“Hah? Lo gak apa-apa tuh Rit?” tanya Lisa heran
“Hey!, manusia kan merencanakan, Tuhan yang menentukan. Kalau gue sekasihnya saja. Karena gue pernah kehilangan anak satu kan? Jadi terserah saja Allah ngasih berapa, yang penting bapaknya tanggung jawab penuh”
“Btw bapaknya ni anak besok datang?”
“Datang kali, gak tau deh. Tadi dia bilang badannya sakit semua dari gunung. Gue nelponin gak diangkat. Lagi tidur kali” jawab Rita
“Anak-anak sama siapa Rit?”
“Sama neneknya, dan para baby sitter di rumah ayah, btw sekarang rumah ayah sudah jadi rumah gue lho!”
“Oh ya? berarti lo bisa sering kemari dong Rit?” ujar teman-temannya senang
“Mungkin! Eh sebentar laki gue nelpon!” Rita menjawab panggilan telepon dari suaminya
Sementara ketiga temannya melihat kado dari Rita
“Wuidihh...genuine silk..sutra asli bo!” bisik Qowi melihat merk yang tertempel di kardus
“bener-bener horang kaya ya? gue jadi pengen buru-buru nikah nih supaya dapat kado mahal dari Rita” ujar Andien
Teman-temannya tertawa geli
“Kenapa kalian ketawa? Apa gue gak memenuhi syarat buat nikah cepat?” tanya Andien agak kesal
“Bukan begitu, dari semua percakapan kita tentang tujuan pernikahan baru Lo doang yang tujuannya supaya dapat kado mahal dari Rita” ujar Qowi, Lisa ikut tertawa ngakak, tawanya menular, sehingga mereka tertawa bersama.
“Eh kenapa nih? kok ketawanya gak ngajak-ngajak?” tanya Rita
“Enggak!, jadi laki lo gimana?”
“Eh Lis, besok jam berapa gue harus stand by di sini?” tanya Rita
“Lo gak nginep di sini Rit?” tanya Andien
“Gak bisa dong, anak-anak gimana?” ujar Qowi
“Lo bisa datang pagi? Sekitar jam 7 deh untuk make up.”
“Akad nikahnya jam berapa?” tanya Rita
“Jam 8!”
“Oh jam 8, insya Allah bisa. Eh ini seragamnya?”
“Iya Rit, pakainya pas resepsi, kalau pas akad terserah yang penting kebaya!” ujar Andien yang bertugas mengingatkan para bride’s maid
“Oh begitu, okelah, gue balik dulu ya?”
“Eh langsung balik?” tanya ketiga temannya
“Oh begitu, iya deh, salam ya sama Daniel!” ujar teman-temannya
Rita mengendarai motornya keluar dari pekarangan rumah Lisa, dalam perjalanan pulang ia bertemu dengan Dewa yang sedang repot dengan membawa banyak barang.
“tin-tin!” Rita menghentikan motornya dan turun
“Eh Rita! Ngagetin saja?” Dewa kaget ditegur Rita
“Maaf!, kak Dewa repot banget, Rita anterin deh!”
“Hmm....” Dewa berpikir sejenak, belanjaannya cukup banyak. ia kerepotan untuk membawanya
“Oke deh, biar kakak saja yang masukin ke baj eh motor Rit!” ujar Dewa
Rita menyetir motor, sementara Dewa dibelakang bersama belanjaannya
“Sudah lama narik bajaj bu?” canda Dewa
“Baru saja pak! Hehehe...tadinya Rita mau beli motor biasa, tapi kalau motor biasa bisa kepanasan dan kehujanan jadi beli beginian saja”
“Ini ada plat nomornya gak?”
“Kemarin sih belum kak, tapi gak tau deh. Rita lewat jalan kampung kok”
“ini motor listrik kan?”
“Iya!”
“Abang-adek sama saja ya?” ujar Dewa sambil memperhatikan interior motor itu
“Kenapa kak?” Rita melihat kaca spion
“Oh, kalau si Andi eh Raka terobsesi sama mobil listrik, ini adeknya motor listrik”
“Sebenarnya Rita beli yang praktis saja kak, yang penting bisa langsung dipakai”
“Besok kamu mau naik ini?”
“Hehehe..iya! kenapa gak level ya?”
“Enggak juga, unik sih. Depan kayak bajaj tapi yang keluar putri raja. Kayak cerita Cindrelela pas jam 12 malam!”
“Hahahaha..kak Dewa masih lucu juga!” Rita tertawa senang, mereka terdiam cukup lama
“Kamu dari rumah Lisa ya?” tanya Dewa memecah kesunyian
“Iya, kak Dewa dari rumah kak Farhat?”
“Iya!”
“disuruh tugas belanja atau bagaimana?” tanya Rita
“Oh ini? Sebenarnya kami para senpai berniat mengadakan acara seperti bachelor party untuk Farhat. Jadi kakak beli perlengkapannya”
“Biasanya kak Dewa bawa mobil?”
“Mobilnya lagi dipinjam pengantin, dihias untuk mobil pernikahan besok!”
“Oh begitu, seru juga ya, btw bachelor party, gak nyewa striptease kan?”
“Hahahaha...enggak lah! Kali... kita begitu! ada juga si Indra yang mau joget-joget!” jawab Dewa
“Hahahaha...kak Indra masih konyol juga” Dewa ikut tertawa dengan ocehan Rita
Rita mengantarkan Dewa sampai depan rumahnya
“Gak usah masuk bang, eh Rit. Biar di sini saja!” Dewa menurunkan barang-barangnya lalu memencet bel pintu pagar agar satpam membantunya membawa barang
“Oke deh kak Dewa, sampai besok ya?”
“Oke Ba eh Rit!, makasih yaa!!!”
“Sama-sama kak!” Rita meninggalkan rumah Dewa.
__ADS_1
Dewa menghela nafas panjang
“Huffftttt...ketemu mantan...apes banget deh...padahal niat menghindar eh malah dianterin...Dewa..Dewa kaciaaan...banget kamu!!” gumam Dewa sambil melihat motor Rita yang menjauh dari rumahnya.
Rita menaruh motornya di rumah lalu pergi naik taksi ke hotel tempat dulu ia pernah menginap bersama Daniel.
“tok-tok!” Rita naik ke lantai kamar hotel
“cklek!” bunyi pintu terbuka, Daniel membuka pintu
“Hey!!” sapanya wajahnya kelihatan lelah. Rita memeluknya erat, seperti bertahun-tahun tidak bertemu.
“Kamu sehat kan?” tanyanya khawatir
“Aku capek!, badan ku pegal-pegal” keluh Daniel, ia merebahkan diri di sofa kamar.
Rita meletakan tasnya, lalu melihat menu hotel. Daniel terlelap di sofa, tak berapa lama pintu terketuk
“Ya?” Rita membuka pintu
“Tadi memesan pijat mba?” tanya terapis cowok
“Iya, silakan masuk! Sebentar, saya bangunkan suami saya dulu?”
“Baik bu!” jawab kedua terapis itu agak terkejut, mereka tidak menyangka perempuan di depannya sudah menikah
Terapis yang berjumlah dua orang itu, membawa masuk peralatannya yang berupa meja lipat besar yang ada lubang sebesar wajah.
“Sayang, bangun sebentar ya, ada yang mau memijat badan mu” ujar Rita lembut
“Ahh..kamu saja yang mijat!” Daniel merangkul istrinya
“Enggak, mereka profesional kamu akan lebih segar!” ujar Rita. Dengan segan Daniel bangun, lalu menghampiri kedua terapis.
“Saya harus bagaimana?” tanyanya
“tidur tengkurap pak! Oh iya silakan dilepas dulu pakaiannya”
Daniel menurut, ia membuka pakaiannya, badannya yang bagus terlihat, membuat kedua terapis minder, Rita sendiri bergumam dalam hati
“Wow!!” ia kembali memperhatikan ponselnya.
Daniel dipijat selama 90 menit, kemudian ia terlelap. Tak lupa Rita memberikan tip kepada kedua terapis itu.
“Terima kasih, kalau membutuhkan jasa kami lagi tinggal hubungi kami saja!” ujar salah satu terapis memberikan kartu namanya.
“Sama-sama!” jawab Rita tersenyum dan menutup pintu kamar.
Hari mulai sore, Daniel tertidur lelap sekali, Rita ikut tertidur di sampingnya.
Pukul 4 sore Daniel terbangun,
“Eh, aku belum sholat ashar!” ia terbangun, dan melihat sosok perempuan di depannya
“cantik sekali!” gumamnya, ia menatap wajah istrinya dan mengibaskan rambut kecil di dahi istrinya dengan lembut. Rita terbangun
“Ahhh!!! Kamu sudah bangun?” tanya Rita sambil bangkit dari tempat tidur
“Baru saja”
“Badan mu sudah enak kan?”
“Lumayan, agak enteng!”
“Syukurlah, tadi aku sempat khawatir karena wajah mu memucat”
“Aku sholat Ashar dulu!” Daniel bangkit dari tempat tidur lalu mengambil wudhu di kamar mandi
Setelah Daniel sholat, Rita mandi sore lalu sholat Ashar.
“Anak-anak gimana?” tanya Daniel, ia menyantap makan sore yang dipesan Rita melalui layanan kamar.
“Ada mama, tadi aku bilang ke mama, Daniel sakit. Eh mama langsung bilang, urus suami mu, biar anak-anak sama mama!”
“Jadi gak enak merepotkan mama mertua!” Daniel menyelesaikan makannya lalu membereskan bekas makanannya
“Kok kamu gak langsung ke rumah saja? Malah check in di hotel?” tanya Rita heran. Daniel pergi ke kamar mandi untuk menyikat giginya setelah itu
“Kamu gak sikat gigi?” tanyanya ke Rita
“Eh iya!” Rita menyikat giginya setelah makan, sesudah itu ia melihat Daniel menatap pemandangan di luar hotel.
“Sudah maghrib belum sih? “ tanyanya
“Sebentar lagi! Hari ini maghrib 6.15 masih 10 menit lagi” jawab Rita
“Lama juga ya?” Daniel menggeser tempat duduk menghadap keluar jendela.
“kamu duduk di sini!” ujarnya pada istrinya. Rita menuruti
“Tadi kamu ngapain saja?” tanyanya
“Aku ngasih kado ke Lisa”
“Masih zaman ngasih kado? Kenapa gak transfer saja?”
“Enggak, aku memberikan hadiah spesial untuk sahabat”
“Oh ya? apa tuh?”
“Hmm..sebenarnya hadiah yang mama belikan untuk ku ketika kita menikah dulu”
“Lingerie?”
“Tepat sekali!!”
“Kamu beli buat kamu juga gak?”
“Enggak! pamali!”
“Kok pamali? Maksudnya?”
“Ada yang bilang, kalau beli kado untuk orang nikahan jangan bercabang, nanti bisa-bisa nikah dua kali”
“Hah? Baru dengar tuh! Zaman sudah canggih masih percaya pak?? Apa tadi?”
“Bukan pak! Tapi pamali!”
“Iya itu! Kan gak boleh percaya sama hal-hal aneh kayak gitu” ujar Daniel
“Iya sih, tapi kita kan jaga-jaga. Lagi pula lingerienya lumayan mahal. Aku pikir nanti saja deh belinya!”
“Seharusnya kamu beli saja, nanti aku ganti”
“Eh sudah adzan tuh, sholat dulu yuk!” ajak Daniel. Mereka sholat berjamaah di kamar itu. Setelah sholat, Rita mengecek ponselnya untuk melihat kabar anak-anak.
“Masih aman!, mereka baru saja selesai main air” Rita menunjukkan foto-foto yang dikirim mamanya.
“Rita sini deh!” Daniel melihat ke luar jendela
“Eh kenapa?” Rita meletakkan ponselnya dan menghampiri suaminya.
Tiba-tiba Daniel menariknya, dan mendekapnya dari belakang.
“Kamu ingat pemandangan ini?” tanyanya
“Hmm...eh ini kan waktu kita menghabiskan waktu malam pertama menikah? Apa di kamar ini?” tanya Rita memalingkan wajahnya menghadap suaminya. Hatinya berdebar kencang, padahal ia sudah sering bermesraan dengan suaminya tapi hari itu hatinya benar-benar berdebar. Tiba-tiba Rita mencium bibir suaminya,
“cup!”
Daniel kaget dengan reaksi istrinya.
“Kamu?”
“Aku pikir aku jatuh cinta lagi dengan suami ku” bisik Rita. Mereka pun bercinta di kamar tempat mereka pertama kali tidur bersama.
Mereka check out dari hotel setelah sholat subuh dan kembali ke rumah mereka. Setibanya di rumah anak-anak masih tertidur, Daniel kembali tidur di kamarnya, sedangkan Rita bersiap berangkat ke rumah Lisa.
_bersambung
__ADS_1