Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)

Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)
Chapter 6: Senpai Jutek


__ADS_3

Kira-kira 500 meter dari alun-alun mereka memasuki sebuah tempat bernama “Warung pak Umar”. Tempat  tersebut cukup besar,sebenarnya lebih cocok di sebut resto dari pada warung. Tempatnya cukup luas, berkonsep outdoor. Mejanya meja bundar dengan payung bergaya pantai di tengahnya. Di sisi samping pintu masuk, ada tempat pemesanan dan kasir. Disebelahnya ada dapur terbuka .


Mereka mencari spot terbaik untuk duduk, Kiki bertugas memesan minuman serta cemilan.


“Pak, kami pesan, es teh tawar 5, roti panggang coklat-keju 5” pesan Kiki


 “Roti panggang coklat keju 5 x 8 ribu \= 40.000, Es teh Tawar 5x 2000\= 10.000, total 50.000 ya neng” ucap pak Umar yang menjadi Kasir.


Kiki mengeluarkan selembar uang seratus ribuan. Pak Umar menerimanya dan memberikan kembalian,bukti pembayaran serta nomer meja pada Kiki. Kiki menerimanya dan menghampiri teman-temannya yang sedang duduk.


“Oke gengs, total belanja 50 ribu, karena kita ada 5 masing-masing bayar ke gue 10 ribu!” ucap Kiki


“oohh, bs-bs nih?, kirain ditraktir “ ucap Lisa


“Hohoho..mohon maaf ferguso, uang jajan gue limited edition” jawab Kiki sambil bercanda


Teman-temannya memberikan uang sepuluh ribuan kepada Kiki. Tak lama kemudian pesanan mereka datang.


“Terimakasih”,ucap Rita


“Sama-sama” ucap pelayan tersenyum sambil meninggalkan mereka.


“Klub karate angkatan sekarang memang terkenal dengan sarang cowok-cowok tamvan bak model” ucap Kiki sambil nyeruput es teh.


“Betul,Rit, jangankan cowoknya, cewek-ceweknya juga cantik”, ucap Kowi


“o ya? gue baru masuk klub jadi belum kenal semuanya” ucap Rita yang mulai menggigit Roti coklat-kejunya


“Enak banget ya rotinya, pantes ni warung penuh terus,” ucap Andien


Lisa mengangguk setuju sambil menjilati tangannya yang berlumeran keju.


“Kita beruntung bisa dapat tempat di sini, kalau engga, ya cuma bisa dibawa pulang saja,” ucap Kowi mulai memasukkan roti keju ke mulutnya


“Seharusnya, namanya diganti jangan warung tapi resto, rasa makanannya setara di hotel bintang 5” ucap Kiki


“Menurut pak Umar, justru itu daya tariknya, kalau namanya resto, orang-orang akan menyangka makanannya terlalu mahal, makanya tetap warung supaya orang tetap datang dan makan di sini,” ucap Lisa menerangkan


“Kog lo tahu Lis? Pak Umar siapanya lo?” tanya Rita penuh selidik


“He..he..he..gue denger dari Adelia, tetangga gue, ternyata pak Umar itu pernah pinjam uang untuk modal usaha di banknya bokapnya Adel.” Ucap Lisa


“Sebenarnya,lo bisa jadi reporter lho Lis, sumber informasi lo banyak,” ucap Andien


“Emang gue pengen jadi reporter, tapi gue ditolak pas mau gabung di majalah sekolah, ga tau kenapa,” ucap Lisa agak kesal


“Itu, kerjaannya si Gunawan sepoi-sepoi, kepala redaksi. Dia takut bokapnya Lisa ikut campur sama hasil investigasi majalah sekolah,jadi Lisa ditolak dengan bermacam alasan” terang Kowi


“Nah, itulah , makanya gue sebel, kenapa juga bisa pada tahu gue anak penilik sekolah, jadi pada takut sama gue.” Ucap Lisa


“Ga pa-pa lis, justru itu Bagus, guru-guru juga jadi pada hati-hati kan sama lo?” ucap Kowi


“Lo inget ga waktu kita semester satu di kelas 10? ada guru namanya Herliana, beneran bisnis woman banget. Dia guru ketrampilan. Tiap minggu siswa disuruh ngumpulin duit buat praktek masak, padahal yang masak beliau, kita cuma ngeliatin doang, udahannya tu masakan dikasihkan ke guru, nyobain sedikit juga engga. Siswa pinter masak engga, dompet jebol iya” ucap Kiki


“Udah gitu pas mau tes, kumpulin duit buat fotokopi, mending Cuma 500, ini 2 ribu perak, mana cuma selembar lagi. Lo bayangin aja selembar 2 ribu, 1 kelas ada 40 orang, berapa rupiah dia dapat duit buat ulangan?” tanya Kowi


“Lo nanya jumlahnya apa cerita wi?” tanya Lisa


“Delapan puluh ribu” jawab Rita


“Nah, lo bayangin deh , satu kelas delapan puluh ribu, di sekolah ada lima kelas, jadi 80 ribu x 5,berapa Ki? Tanya Kowi


“Banyak!!” jawab Kiki , dia memang lemah dalam pelajaran matematika

__ADS_1


“Empat ratus ribu” jawab Rita lagi


“Nahhh..empat ratus ribu, bayangin kalau tiap minggu ulangannya,..hadeuhhh!!!” keluh Kowi


 “Terus akhirnya gimana? Tanya Andien


“Eh lo ga tau? Bukannya lo dari kelas 10 di sini?” tanya Rita


“Gue masuk pas semester dua”, jawab Andien


“Gue cerita ke bokap gue tentang bu Herliana, seharusnya untuk tes dan praktek tidak dibebankan kepada siswa secara terus menerus, apalagi ada dana BOS. Bokap gue datang dan menegur kepsek, kenapa hal tersebut dibiarkan. Karena hal tersebut bu Herliana di mutasi ke sekolah lain. Kalau belum berubah juga kelakuannya, mungkin akan dipecat oleh pemerintah” terang Lisa


“Kalau di sekolah gue yang dulu, kita melapornya ke komite sekolah yang tersusun dari orang tua siswa, kalau ada keluhan dari siswa dan lain-lain mereka yang komplen ke sekolah. Kalau di sini beda ya?” tanya Rita


“Sebenernya sama, kayaknya ketua komite sekolah pada waktu itu takut nilai anaknya di jatuhin, jadi lebih memilih diam saja. Nah kebetulan gue yang anak penilik ini ngalamin hal tersebut, kepsek jadi tahu dan mengambil tindakan.” Jelas Lisa


Ketika mereka sedang bercakap-cakap, tiga cowok memasuki warung, salah satu diantaranya memesan dua yang lain mencari tempat duduk. Suasana di warung tersebut sudah agak ramai dengan pengunjung. Mereka kesulitan mencari tempat duduk.


Kiki memperhatikan tiga cowok yang masuk tersebut.


“Eh, itu Kak Dewa,Indra dan Farhat”, ucap Kiki kepada teman-temannya


Rita menoleh dan melambaikan tangan kepada Indra


“senpai, disebelah sini kosong” ucap Rita menunjuk meja di samping mereka


Indra mencolek Dewa, dan menghampiri meja sebelah Rita dan teman-teman


“Eh,..ketemu lagi!”, sapa Indra ramah. Dia melambaikan tangannya pada Farhat yang sedang mencarinya


“Hat!! Di sini!” panggilnya


“Kamu sudah sehat Rita? Tanya Dewa


“Alhamdulillah,Kak, oh iya makasih ya sudah bantuin Kami kemarin.” Ucap Rita  posisi duduknya lebih dekat dengan Dewa.


“Bukan kemarin, tapi 4 hari yang lalu, itu lho tentang tuyul itu” jelas Dewa


“oohh..tuyul bonyok itu” ucap Indra.


“Eh di sini toiletnya mana ya? tanya Indra ke Rita


Rita menunjuk tulisan toilet yang letaknya agak jauh. Indra beranjak dari tempat duduknya dan pergi ke toilet. Tak lama kemudian Farhat datang membawa 4 eskrim.


“Eh, Indra mana?” Tanya nya sambil memberikan es krim kepada Dewa, yang 2 dia letakan di atas mejanya dan Indra, yang satu lagi diberikan kepada Lisa


“nih untuk Lisa” katanya sambil menyodorkan es krim ke Lisa


“Buat aku? Itu rasa coklat? Tanya Lisa


“ Iya, kan kesukaan kamu?” ucap Farhat                                  


Teman-temannya melihat ke arah Lisa dengan tatapan iri.


“Asiikk...makasih kak!” ucap Lisa girang


“Kog Cuma Lisa doang yang dibeliin? Yang lain engga?” Goda dewa


“Tetangga-an kita..nanti kalau ga dikasih emaknya protes!” canda Farhat


Dewa bangkit dari tempat duduknya dan menuju tempat pemesanan. Ia memesan 4 eskrim lagi dan 2 french fries ukuran besar. Lalu kembali ke tempat duduknya sambil membawa nampan berisi 4 es krim. Lalu memberikan eskrim tersebut kepada Rita Cs


“Mudah-mudahan kalian suka coklat yaa..” ucapnya lagi

__ADS_1


“Waaahhh..terimakasih kak!!” ucap Rita CS bersamaan.


“Kalian ga buru-buru kan? Tanyanya


“Engga kak” jawab Rita CS bersamaan lagi


“Kalian seperti paduan suara ya? bisa kompak begitu!” canda Indra yang baru datang dari toilet


“Satukan saja mejanya, supaya enak ngobrolnya” ucap Farhat sambil bangkit dan mendorong mejanya ke dekat Rita CS, dibantu oleh Indra.


Lalu mereka ngobrol sangat seru dan lucu. Rita CS mendengarkan sambil tertawa


“eh kak, aku kaget lho, gosipnya, kak Indra jutek banget,aku jadi takut kalau mau menegur “ ucap Kowi


“Eh? Aku? Bukan aku kali, tapi Tommy.”sanggah Indra


“yaa kak Tommi juga, kak Indra juga!” ucap Kiki, kan kalian digosipin sama ciwi2 adik kelas dan kelas kita juga.


“Oya??? Gosipnya apa?” tanya Farhat


“Kak Indra ganteng tapi jutek.” Ucap Kowi


“tuh kan ndra, makanya lo sering senyum dong!!!” goda Dewa


“owh begitu ya? mungkin karena gue sering jalan sama Tommy.” Ucap Indra


“Kog lo nyalahin Tommy?” tanya Farhat


“Tommy itu jutek banget, pernah ada cewek yang negur dia, eh dia melengos saja, pasang muka galak, gue aja kaget” ucap Indra


“Kak Tomi yang jadi wasit itu ya?” tanya Rita


“Betul!!!” jawab Indra lagi


“Kalau sering jalan sama senpai Indra kog sekarang dia ga ikutan? “ tanya Rita


“Walau jutek, tapi dia anak yang baik, kalau libur, dia kerja sambilan di restoran cepat saji mamanya”, jelas Dewa


“Oya? Kog gue baru tahu? “ tanya Indra


“Pernah ga sengaja gue makan di situ sama adik gue, Isye, yang melayani si Tommy” cerita Dewa


“Isye pasti langsung suka lagi sama Tommy, ABG banget soalnya” ucap Farhat nyengir


“Betul!!. Isye sering curi-curi hp gue buat nyari nomer kontaknya si Tommi, untung gue pakein password, jadi ga bisa buka dia!” cerita Dewa tersenyum


“passwordnya apa kak?” Tanya Rita iseng


“Abang tamvan” jawab Dewa ga sengaja


“Ha..ha..ha...ha...” semua tertawa, karena Dewa ketelepasan menyebutkan password Hpnya.


“Kesalahan adiklo  ga nanya langsung ke elo ya” ucap Indra sambil tertawa


“aahhhh..gue harus ganti password dong” gerutu Dewa


Rita CS tertawa geli, baru kali ini mereka melihat ekspresi manyun Dewa


Waktu menunjukan pukul 13.00, Rita CS berpamitan dengan ketiga kakak kelasnya.


“Permisi dulu ya Kak, kami mau pulang, karena sudah Siang,” Pamit Rita


“Iya Kak Dewa, Terimakasih banyak traktirannya, jangan kapok ya” sambung Kiki tersenyum

__ADS_1


“Hahaha..iya..iya..kapan-kapan kita ngumpul lagi ya” ucap Dewa


Rita CS keluar dari warung dengan wajah ceria.


__ADS_2