Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)

Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)
Chapter 141: Rekonsiliasi


__ADS_3

Suatu siang, para tetua dan Ratna berkumpul untuk membicarakan sesuatu yang penting.


“Jadi Rita tidak mau menikah dengan Daniel?” tanya Darmawan kepada Ratna, ia sengaja datang ke rumah Sugiyono untuk rapat keluarga mengenai hubungan Rita dan Daniel


“Dia gak bilang tidak mau pa, tapi dia bilang mati rasa sama Daniel”


“Mati rasa? Kog bisa?” tanya Kakek Sugi heran


“Mungkin dia masih marah karena kelakuan Daniel waktu itu!”


 “Memangnya apa yang telah Daniel lakukan? Apa dia selingkuh?” tanya Sugiyono


“Tidak pa, kalau menurut cerita Rita, kalau Daniel marah atau tersinggung atas sesuatu, dia menghilang. Kadang seminggu gak ada kabar. Nah begitu kembali, baru mereka betul-betul bertengkar. Nah yang terakhir ini Daniel mengabaikan telponnya ketika Rita butuh bantuan sampai ia harus menghubungi Radian untuk meminta pertolongan”


“Radian yang membantu?” tanya Sugiyono


“Bukan, Daniel. Radian menghubungi Daniel untuk membantu Rita” terang Ratna


“hmm...Apa Daniel mengatakan sesuatu tentang hal tersebut?” tanya kakek Sugi.


“Waktu itu tersebar kabar di kantor kalau Daniel menjadi CEO karena kedekatannya dengan Rita, dan ia sangat tersinggung. Aku sudah mengklarifikasinya, kalau aku mengangkatnya sebagai CEO menggantikan Radian karena aku berhutang budi pada ayahnya.”


“Hmm...bagaimana reaksi Daniel”


“Dia sangat lega, dan sangat bersyukur” ujar Darmawan


“Dek Wan, apa kamu yakin dengan Daniel ini?” tanya Kakek Sugi


“Maksud kakak apa?”


“Yaa, Kita banyak berhutang budi pada ayahnya Daniel, tapi kita juga telah membalasnya dulu. Apa tidak berlebihan mengangkatnya sebagai CEO?”


“Sebenarnya Kak, itu alasanku saja. Aku menyukai anak itu. Dia sangat loyal, tekun dan cerdas pula. Aku mengenalnya sejak ia berumur belasan tahun. Anak yang sangat berbakti pada ibunya. Biasanya anak yang memperlakukan ibunya dengan baik, ia juga akan memperlakukan istrinya dengan baik. Dan Aku mempercayakan Rita padanya” ujar Darmawan mantap


“Hmm...Jadi bagaimana dengan Rita? Apa kita biarkan saja, atau kita melakukan sesuatu?” tanya Ratna


“Bagaimana kalau keduanya kita uji?, yaa hitung-hitung bertaruh, kalau mereka masih ada perasaan satu sama lain, pasti semua permasalahan bisa diatasi” usul kakek Sugi


“Apa kak Sugi ada ide?” tanya Darmawan


Kakek Sugiyono tersenyum jahil. “Kita pikirkan caranya!”


Hari yang ditunggu Rita telah tiba, ia sangat menantikan pergi ke rumah ayah Reza dan kondangan ke pernikahan tante Saye. Rita melakukan VC dengan Daniel


“Kapan kamu berangkat ke Sukabumi?” tanya Daniel


“Besok pagi!, Aku akan pergi ke sana bersama mama dan kak Andi”


“Aku sangat ingin mengenal Ayah Reza” ujar Daniel, ia menyayangkan tidak bisa ikut datang


“Kamu belum pernah bertemu dengannya?”


“Belum, aku hanya mendengar ceritanya dari Andi. Ketika Aku datang beliau sudah pulang”


“hmm..Ayah memang sangat sibuk, ia selalu kepikiran akan tugasnya di RS. Jadi ia buru-buru pulang”


“Kakek Darmawan akan datang juga ke Sukabumi?”


“Kayaknya enggak, ia diwakili kak Andi”


“Kamu kelihatan senang sekali ya?”


“Tentu saja, sudah setahun kami tidak bertemu”


“Kira-kira kalian akan membicarakan apa?”


“Entahlah, mungkin apa kabar dulu? Hehehe” Rita sambil VC sambil melakukan packing


“Bagaimana dengan pernikahan tantemu? Apa aku boleh datang?”


“Apa kamu bisa datang? Kalau bisa datang saja!” ajak Rita senang


“Hmm,..Aku masih sibuk di sini, aku harap bisa di sana bersamamu!” ujarnya dengan wajah menyesal


“Aku juga berharap kamu di sini!”


“Oiya Rit, apa kamu akan bertemu dengan teman-teman lamamu lagi?”


“Iya juga ya? kog aku gak kepikiran ke sana? Karena girang mau ketemu Ayah, aku melupakan teman-temanku, terima kasih ya Niel sudah diingatkan!”


“Eh tapi teman-temanmu itu cewek semua kan?” tanya Daniel tiba-tiba


“kalau teman geng ya cewek semua, tapi gak tau deh kalau para senpai pada ikutan datang”


“Senpai? Apa tu?”


“Kakak pembina taekwondo!”


“Eh!” Daniel memperbaiki posisi tidurnya, ia ingat foto para senpai yang pernah Rita tunjukan


“Senpai yang ganteng-ganteng itu?” katanya lagi


“Ganteng? Gak tau deh, waktu itu sih menurut Rita yang ganteng cuma kak Tommy dan kak Dewa, selebihnya biasa saja”


“Hmm..Dewa...Dewa itu yang temannya Andi bukan? Yang pernah ke Auckland?”


“Iya betul! Biasanya kalau kak Andi datang berkunjung, dia juga datang!”


Daniel bangun dari tempat tidurnya.


“Hmm..kapan itu pernikahannya?”


“Empat hari lagi!”


“Empat hari lagi, berarti jatuhnya hari Sabtu ya?”


“Kenapa? Kamu bisa datang?” tanya Rita senang


“Lihat nanti deh, tapi aku sangat was-was, karena wanitaku akan bertemu pada senpai ganteng”


“Wanitaku?” Rita tertawa geli, baru kali ia mendengar Daniel memanggilnya wanitaku


“Iya dong, aku takut, kamu akan berubah pikiran lagi ketika bertemu mereka, apalagi Dewa!”


“Kamu cemburu? Kamu pikir aku gak cemburu melihat kamu didekati Zasha?”


“Zasha? Kog kamu tahu? Apa kakekmu memata-mataiku?”


“Enggak, Aku pernah dengar dari kak Andi, ketika di pernikahan pak Charles, mata Zasha tidak terlepas dari mengawasimu”


“Oya? Aku gak pernah memperhatikannya, karena di kepalaku cuma ada kamu!” rayu Daniel


“Huh! Gombal!” Rita tersenyum senang, hatinya kembali berbunga-bunga. Vc pun berakhir. Rita berbaring di ranjangnya, ia mengingat pembicaraannya dengan Daniel beberapa waktu yang lalu.


Daniel menemuinya di teras kamar Rita


“Aku senang kamu telah sadar!” ujar Daniel lega


Rita memandangnya dingin


“Terima kasih, sudah jauh-jauh datang!” ujarnya dengan nada kesal


“Kamu masih belum memaafkanku?” tanya Daniel


“Aku belum bisa memaafkan!, karena waktu itu sikapmu bukan saja dingin, tapi juga mengabaikanku! Aku sangat tidak suka itu. Lebih baik kita gak usah bertemu lagi!”ujar Rita tegas ia bangkit dari kursinya hendak masuk ke kamarnya. Daniel menahannya dengan memegang tangannya


“Maafkan Aku, saat itu Aku begitu marah pada mereka. Siapa mereka berani menilaiku! Tapi kamu justru paling terkena imbasnya. Aku menyesal Rita. Aku hanya manusia biasa, maafkan Aku!”


“Aku juga manusia biasa Niel, punya perasaan, Aku sangat terluka dengan perlakuanmu!” ujar Rita

__ADS_1


“Apa yang harus Aku lakukan, supaya kamu memaafkanku lagi?”


“Entahlah, sekarang ini aku tidak ingin bertemu denganmu, tapi aku sungguh berterima kasih kamu sudah membantuku”


“Waktu itu, Aku hendak kembali ke Auckland, entah kenapa hatiku was-was. Ada sesuatu yang seolah memanggilku. Aku tahu kamu akan menolakku. Aku memberanikan diri menghubungi nomor barumu. Kamu memanggilku Rita. Bahkan disaat kamu sakit, kamu memanggilku, jadi jangan menolakku!” ujar Daniel. Rita terdiam, ia sendiri tidak yakin dengan perasaannya saat itu. Ia masuk ke kamarnya, sementara Daniel keluar dari kamar Rita. Ia tahu, saat itu kata-katanya tidak akan banyak membantunya.


Daniel kembali ke Singapura malam itu juga. Ia bertekad membenamkan dirinya di dalam pekerjaan untuk melupakan Rita. Sementara Rita juga memikirkan hal yang sama. Ia bertekad melupakan Daniel dengan membenamkan diri pada kegiatan sekolah.


Beberapa hari telah berlalu, semakin mereka bertekad ingin saling melupakan, semakin mereka saling ingin bertemu. Rita melihat foto-fotonya bersama Daniel ketika masih di Auckland dulu, begitu pula Daniel.


“Hahhhhh” keluh Rita, ia merebahkan kepalanya di atas meja


“Kenapa lo?” tanya Anwar, yang kini menjadi teman sebangkunya


“Eh War, Lo gak apa-apa sebangku sama gue? Nanti kita digosipin pacaran gimana?” tanya Rita


“Ya gak apa-apa, gue untung dong!”


“Kok untung?”


“Artinya gue laku! Hehehe!”


“Ah..Elo kira dagangan!” balas Rita


“Eh Rit, Lo juga gak apa-apa sebangku sama gue?” balas Anwar


“Gak apa-apa? kenapa?”


“Lo gak takut digosipin? Jangan-jangan lo beneran demen sama gue?” tanya Anwar iseng


“Lo boleh geer sih War, tapi jujur saja gue gak anggap lo cowok!”


“Hah? Jadi lo pikir gue apaan?”


Rita menatap Anwar, sesaat


“Lo netral saja buat gue!”


“Et deh nih cewek, di mana-mana jenis kelamin itu cuma 2, kalau gak cewek ya cowok, ini netral. Lo kira gue group band?”


“maksud gue, Lo cowok, tapi gue gak ada rasa-rasa gimana gitu sama Lo! jadi gue nyantai saja!”


“Oooh gitu, sama ding kita!”


“dong!”


“Iya maksud gue gitu! eh Rit, kog sekarang bekal makan lo monoton sih? Nasgor melulu! Bosen gue!”


“gue gak bosen! Itu kan bekal gue, kenapa lo yang makanin mulu?” tanya Rita nyolot


“Kita orang kan bersaudara! Jadi boleh dong gue nyobain bekal Lo?”


“hmm...” Rita kembali merebahkan kepalanya di atas meja


Sementara Anwar sibuk dengan kotak makan Rita, saat itu jam kosong, sehingga tidak ada guru di dalam kelas.


“Eh War, makan aje lo, gak bagi-bagi!” tiba-tiba Tony menghampiri dan menegurnya


“Lo mau? Tanya Rita deh, boleh gak gue bagi nasi gorengnya ke elo?”


Tony yang menaksir Rita menggunakan kesempatan ini untuk mendekatinya


“Rita, gue boleh nyobain nasi gorengnya?” tanyanya lembut, ia sengaja mendekatkan wajahnya ke Rita, itu membuatnya kaget


“Hei! What’s wrong with you!” teriak Rita, tiba-tiba kelas menjadi sepi, mereka melihat ke arah mereka berdua.


Tony juga kaget dengan reaksi Rita


“Eh, cuma nanya tentang nasgor!” katanya agak canggung


“Hmm..ambil deh!” Rita bangkit dari tempat duduknya, lalu pergi ke toilet.


“Ah Daniel, kenapa malah keingatan dia terus!” gumamnya, ia mengambil tissue untuk mengelap tangannya yang basah. Ketika ia keluar dari toilet, 3 orang cewek mendekatinya.


“Hei!, Lo yang namanya Rita kan?” tanya salah satunya


“Iya, Lo Santi kan? Ini Edith terus Eka! Kita kan sekelas  !” ujar Rita


“Eh dia kenal kita lho!” ujar Edith kagum


“Tentu dong!, kalian kan terkenal cewek-cewek gaul di kelas kita!” jawab Rita lagi


Santi dan teman-teman mengangguk senang


“Eh, hubungan lo sama Tony apa?”


“Tony? Yang mana tu?”


“Itu Tony, yang tadi Lo teriakin!” ujar Edith


“Oh itu Tony, gak ada hubungan apa-apa!, gue saja baru tau namanya Tony”


“Kalau gitu hubungan lo sama Anwar apa?” tanya Eka


“Anwar, hmm..lebih ke sodara kali ye?”


“Kok bisa?” tanya Santi heran


“Lah, dia seenaknya makan bekal gue, apa lagi kalau bukan sodara?” jawab Rita


“Lo yakin nih?” tanya Eka menegaskan


“Yakin dong!, kenapa lo demen sama Anwar?” tanya Rita, ia mendekatkan wajahnya ke Eka


“Apaan sih Lo aneh aje deh!” ujar Eka malu


“Gue kasih saran sih, kalau mau deketin Anwar, bawain dia makanan buatan lo! nanti dia berkoar-koar deh, jadi sok akrab!” ujar Rita menyarankan


“Kalau Tony? Deketinnya gimana?” tanya Edith tiba-tiba


“Mana gue tahu? Gue saja gak kenal dia!”


“Masa gak kenal?” tanya Santi gak percaya


“Emang si Tony duduknya di mana?”


“Di pojok belakang!” ujar Edith


“Wah, gue gak pernah jalan ke belakang! Udeh ah, gue mau balik ke kelas!”ujar Rita


Santi menyelengkat Rita, tetapi Rita waspada ia dapat mengantisipasinya


“Wah, lo bisa bela diri juga?” tanyaSanti                                                                             


Rita tersenyum, “Mau tanding nanti sepulang sekolah?” ajaknya


Wajah Santi berubah “ Ayo! Gue tunggu di gelanggang ya?”


“Oke!” Ketiga anak cewek itu ke toilet sedangkan Rita kembali ke kelas.


Sepulang sekolah, mereka berkumpul di ruang olah raga. Mereka telah berganti pakaian


“Wuidiih...keren nih!” Rita tersenyum senang, ia melupakan tubuhnya yang baru sembuh pasca operasi


“Lo ganti baju dulu gih!” ujar Santi, ia melemparkan pakaian putih-putih ke wajah Rita. Dengan sigap ia menangkap baju itu dan pergi berganti pakaian, setelah itu ia menghampiri mereka


“Satu-satu ya?” ujarnya


“Tunggu dulu, Lo apa bela dirinya?” tanya Santi

__ADS_1


“Taekwondo!” jawab Rita


“Wah , Kita Judo!” ujar Edith


“Tenang, gue juga pernah belajar Judo!” ujar Rita


Beberapa menit kemudian, mereka saling banting dan menjepit. Edith menjadi wasitnya


Santi melakukan hiza guruma / sapuan lutut, dibalas oleh Rita dengan desha barai sapuan samping.


“Lo tahukan Judo dan tekwondo itu tekniknya jauh beda?” ujar Santi, ia unggul dari Rita


“Udah, lo jangan banyak omong” Rita melakukan ko uchi gari / menjegal dari depan, Santi menahannya dan kembali membanting Rita


“Aduhh” Rita mengerang kesakitan


“Udeh lo nyerah saja, Santi itu yang terbaik dari kita! Dia itu juara Judo sekecamatan!” teriak Eka. Rita tidak peduli, serangannya makin tidak terkendali, ia mengunci pinggang Santi, tapi Santi berhasil melepaskan kuncian Rita, dan kembali membanting Rita


“Ya..selesai! Santi menang!” teriak Edith


Rita tidak bangun-bangun, Santi dan kedua temannya panik, dengan segera mereka membawanya ke klinik terdekat, ketika ia tersadar dari pingsannya, Santi dan kawan-kawan mengerubunginya


“Lo gak apa-apa kan Rit?” tanya Eka khawatir


“Seharusnya Lo bilang baru sembuh!” ujar Santi


“Ini di mana?” tanya Rita heran


“Klinik dekat sekolah!” jawab Edith


“Lo bikin kita khawatir saja!, bilang dong kalau Lo pasca operasi, jadi kita gak tanding!” ujar Santi kesal


“Sorry deh, gue pikir sudah sembuh, soalnya sudah gak sakit. Tapi setelah di banting beberapa kali, baru terasa sakitnya!” ujar Rita lagi, ia memegang tubuhnya


“Tadi dokter Alan sudah kasih lo obat nyeri, dia bilang lo jangan banyak gerak dulu!, rumah Lo di mana? Gue anterin deh!” ujar Santi


“Gak usah, gue bisa pulang sendiri!” ujar Rita bersikeras


Edith dan Eka pulang lebih dulu, sedangkan Santi masih menunggui Rita di jemput


“Udeh lo pulang saja!”


“Gak bisa! Gue tuh tanggung jawab sudah membuat lo kayak begini!” ujar Santi bersikeras


“Kan gue juga yang salah!”


“Eh Rit, Daniel itu siapa?” tanya Santi tiba-tiba


“Daniel? Kenapa? Dia nelpon?” Rita membuka tas ranselnya untuk mengambil ponselnya


“Bukan!, lo tadi waktu pingsan, Lo mengingau, panggil-panggil nama dia!, siapa tu?”


“Seseoranglah!” ujar Rita ia menyembunyikan rasa malunya


“Kata nyokap gue, kalau orang menyebut nama seseorang di alam bawah sadarnya, berarti tuh orang berarti banget!”


“Begitu? Walau orang itu salah?” tanya Rita tiba-tiba


“Memang salah kayak apa yang gak termaafkan? Lo taukan artis yang sudah dibanting , dicekik dan dilempar bola biliard saja masih bisa memaafkan suaminya. Eh Daniel itu pacar lo kan? Dia selingkuh?”


Rita menggeleng


“KDRT?”


Rita menggeleng lagi


“Pelit, medit, bakhil, kutu kupret?”


“Kutu kupret?” tanya Rita heran


“Nyokap bilang itu sebutan untuk cowok yang tukang morotin ceweknya!”


“Oh enggak, Daniel gak ada sifat-sifat itu!”


“Bagus dong!!!, maafin deh!” ujar Santi lagi


“Sok tau lo!” ujar Rita tertawa, tiba-tiba ia merasa Santi orang yang tepat untuk dijadikan teman.


Bunyi ponsel Rita dari supirnya yang menunggu di tempat biasa


“Nah gue udeh dijemput, Lo mau bareng gak?” Rita menawarkan kepada Santi


“Gak usah, nanti gue pulang bareng dokter! Eh Rit, kalau besok sakit  gak usah masuk sekolah dulu ya?”


“Iye, bawel lo, kayak emak gue aje!”


“Itu pesen dokter Alan tau”


“Dokter Alan itu Abang lo ketemu gede?” tanya Rita menggoda


“Udeh lo pulang saja sana! Hati-hati ya? eh kalau bisa mampir ke depan, untuk bayar pengobatan lo!”


“Yahh, gue kira dibayarin!” ujar Rita tertawa Santi pun ikut tertawa


Rita membayar pengobatannya di klinik dan berjalan ke tempat biasa untuk mendatangi supirnya, ia berselisih jalan dengan seorang dokter muda


“Eh itu dokter yang kemarin di RS” Rita memalingkan wajahnya, tetapi agaknya dokter itu tidak melihat Rita, ia terus berjalan, tersenyum menghampiri Santi yang menyambutnya dengan wajah senang.


Rita masuk ke mobilnya dengan wajah lega walau badannya sakit tapi hatinya tidak sakit lagi.


Hari Sabtu pagi, Rita bergegas ke bandara dengan penerbangan pukul 8 pagi dengan tujuan Singapura. Ia ditemani pak Ridwan. Satu setengah jam kemudian mereka tiba di Singapura, dengan taksi membawa Rita dan Ridwan ke apartemen di jalan Orchard


“Ting-tong!” Rita memencet bel apartement, suara dari dalam terdengar, seseorang berusaha membuka pintu


“Cklek!” Daniel yang baru bangun tidurnya membuka pintu, ia terkejut melihat Rita berada di depan pintu apartemennya


“Hah? Rita?” ia menggosok matanya seolah tidak percaya


“Aku gak boleh masuk?” tanya Rita tersenyum


Daniel mempersilakannya masuk


“Kamu sendirian?”


“Enggak, sama pak Ridwan, ia lagi di bawah mau memesan apartment buat kita menginap”


“hmm..sebentar aku belum sadar. Kamu duduk di sini dulu ya!” Daniel memegang pundak Rita dan menyuruhnya duduk di sofa yang empuk. Ia pergi ke kamar mandi . Satu jam kemudian ia telah berpakaian rapi, ia menyuguhkan roti panggang dengan susu coklat


“Silakan, kalau aku tahu kamu datang, hidangannya akan lebih meriah!” ujar Daniel


“Gak apa, ini cukup kok!” ujar Rita, ia merasa bingung untuk memulai pembicaraan


Mereka sarapan dalam keheningan, dalam hati Daniel, ia takut Rita datang untuk memutuskan hubungan dengannya.


“Hhhh..Rita...tentang...” Daniel memulai percakapan


“Aku duluan!” ujar Rita, ia mengangkat tangannya, Daniel mengangguk


“Daniel, Aku masih menyukaimu, kamu memang pernah melukai perasaanku, tetapi aku masih menyukaimu. Maafkan Aku, jika ..” Sebelum Rita menyelesaikan kalimatnya, Daniel segera memeluknya dengan perasaan lega


“Syukurlah! Aku takut kamu datang untuk putus denganku!” ujarnya, ia makin mempererat pelukannya


“Kamu harus tahu Niel, untuk orang lain pengabaian itu tidak masalah, tapi bagiku itu sangat bermasalah. Jadi tolong jika kita harus bertengkar, jangan mengabaikan Aku!” ujar Rita dalam pelukan Daniel


Daniel melepaskan pelukannya.


“Aku tidak akan melakukannya lagi! Sungguh!” ujarnya


“Bener ya!” Rita memberikan kelingkingnya untuk menandakan janji mereka berdua, Daniel membalasnya dengan tersenyum “Bener!”

__ADS_1


_Bersambung_


__ADS_2