Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)

Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)
Episode 58: Rahasia Rita (1)


__ADS_3

Dewa menenangkan diri sejenak, setelah berpikir, ia mengambil ponselnya dan menghubungi Andi.


Tuuuutttt..bunyi sambungan telepon, klik!


"Halo?" Terdengar suara


"Rakha?"


"Ya, ada apa Ar?" Tanya Andi yang baru saja sampai di kamar kostnya


"Tumben lo nelpon, ini kena roaming lho, gw ada di NZ!"


"Gak penting, gw mau ngabarin, Om Reza kena serangan jantung, tadi malam dibawa ke RS tempat beliau kerja!"


"Hah? Kog Rita gak ngabarin?"


"Rita dari kemarin malam menghilang" Dewa berusaha menjelaskan dengan suara tertahan.


"Sebentar Ar, suara Lo kurang jelas. Lo matiin dulu, nanti gue telepon dari sini!"


"Oh, oke!" Ia mematikan ponselnya.


Beberapa saat kemudian..


Ponsel Dewa berbunyi.


"Ya, Ar?"


"Jadi gimana tadi?"


"Om Reza kena serangan jantung tadi malam, sekarang diopname di RS tempat beliau kerja, Rita sejak kemarin menghilang!"


"Maksud Lo menghilang?"


"Kalau menurut tetangga malam sebelumnya Rita pergi dengan salah satu temannya tapi hingga kini gak ada kabar darinya!"


"Waahhh, gawat nih, gue harus segera mengubungi nyokap dan kakek gue di Jakarta!"


"Iya Kha, secepatnya, jujur gue bingung harus ngapain!" Suara Dewa penuh penyesalan.


"You did well by calling me!, Don't worry Ar, we'll be there soon!"


"Alhamdulillah" Dewa menarik nafas lega


Setelah percakapan telepon selesai, Dewa bergegas ke motornya menuju RS tempat ayah Rita dirawat. Sementara itu, Andi segera menghubungi mamanya.


"Jadi gimana ma? Andi segera ke Jakarta ya?"


"Sebentar, jadwal Test tengah semester kamu bagaimana? Nanti kakek Darmawan akan marah sama mama karena sering ganggu konsentrasi kamu!"


"Yahh mama, Rita lebih penting! Dia kan anak mama!"


"Iya, mama sudah duga ini akan terjadi lagi, jadi mama sudah pasang microchip di tangan bawah kulit Rita sewaktu kejadian zombie dulu."


"Microchip? "


"Iya, ini usulan kakek kamu! Semua cucu dan anaknya sudah dipasangi microchip!"


"Termasuk Andi?"


"Iya termasuk Kamu! Jadi mama akan melihat posisi Rita, kamu selesaikan dulu ujian semesternya, lalu menyusul ke Jakarta!"


"Hmm...baiklah ma!"Andi menutup percakapan dengan mamanya.


Sementara itu, Ratna membuka tabletnya, dibukanya aplikasi tracking microchip untuk mencari posisi Rita.


"Kog gak ada? Apa rusak ya?" Keringat mulai menetes di dahi Ratna, pikiran buruk yang akan terjadi pada Rita berkecamuk. Ia menepuk-nepuk pipinya untuk menghilangkan kepanikan. Diraih ponselnya ia menghubungi layanan konsultasi microchip.


"Maaf bu, bisa dibantu nomor seri Microchip yang tertanam di anak ibu?" Kata operator call center


Ratna menyebutkan nomor seri yang tercantum pada buku panduan.


"Baik bu, Kami bantu menelusuri posisi anak Ibu, memang sekarang ini sepertinya anak Ibu berada di tempat yang tertutup sehingga sinyal dari chip terganggu!" Kata operator menjelaskan


"Lho kog bisa? Bukannya waktu itu mereka bilang jangkauannya bisa jauh?"


"Itu betul bu, kemungkinan anak ibu berada di tempat yang bahan bangunannya bisa mengganggu transmisi sinyal chip"


"Aduuhhh...saya jadi harus bagaimana?"


"Kami bisa bantu posisi terakhir anak Ibu, kami akan kirim koordinat dan posisi tepatnya. Jika ada pergerakan baru dari anak ibu, akan segera kami hubungi!"


"Baiklah, terimakasih banyak!" Ratna menutup ponsel lipatnya, beberapa saat kemudian, pesan dari call center muncul, Ratna membacanya, lalu dengan segera ia menghubungi papanya.


"Ya Ratna?"


"Pah, Rita menghilang, saya sudah dapat posisi terakhirnya, sekarang saya menuju kesana!"


"Hmm..kirim posisinya, papa akan kirim orang-orang papa untuk melacaknya!"


"Apa kita perlu lapor polisi?"


"Papa akan menghubungi teman papa di kepolisian, kalau perlu 1 pasukan papa minta untuk membebaskan Rita!"


"Terimakasih Pa, Ratna segera kesana!"


"Hati-hati nak, keep in touch ya!"


"Iya papa, terimakasih!" Ratna menutup teleponnya.


Beberapa menit kemudian ia tiba di gedung miliknya, di atap gedung terdapat sebuah helikopter yang siap membawanya ke rumah Rita.


"Pak, hubungi pak Umar di sana untuk menjemput saya di mengantar saya ke RS, saya harus menemui Reza!" Perintah Ratna kepada supir pribadinya. Suara helikopter menderu, semakin meninggi dan pergi meninggalkan Jakarta. Sesampainya di Sukabumi, helikopter mendarat di helipad, pak Umar telah menunggunya.


"Bagaimana perkembangan Rita pak?"tanya Ratna


"Belum ada perkembangan bu, karena sudah lebih dari 24 jam menghilang, saya berniat melaporkan ke polisi, tetapi saya menunggu Ibu, jadi saya memilih menunggu dr.Reza di RS."


"Hmm .. terimakasih Pak, tentang lapor polisi, telah saya lakukan di Jakarta, mereka akan berkoordinasi dengan kepolisian di daerah ini, bagaimana keadaan dr.Reza?"


"Kondisinya lebih baik pagi ini, tetapi masih dipantau, beliau bekerja terlalu keras hingga tubuhnya lelah."


"Baiklah, antar saya menemuinya pak!"


Mobil membawa merek menuju RSUD. Ratna membawa buah-buahan untuk membesuk.


"Tok..tok...!"Ratna mengetuk pintu ruang rawat VIP


" Assalamualaikum!"


"Wa'alaikummussalam!" Suara Reza dari dalam kamar


Dengan hati-hati Ratna membuka pintu kamar


"Halo Mas? Bagaimana kondisinya?" Tanya Ratna menghampiri Reza yang terbaring lemah


"Ratna, kamu sendirian? Andi mana?" Tanya Reza berusaha bangkit dari tidurnya

__ADS_1


"Jangan dipaksa mas, sambil tiduran saja!" Ratna mencegahnya


"Maaf Ratna, aku tidak menjaga Rita dengan baik!" Reza memegang tangan Ratna penuh penyesalan Ratna mengangguk


"Papa sudah mengerahkan orang-orangnya untuk melacak Rita, mas!"


"Bagaimana? Rita hilang sudah lebih dari 24 jam!"


"Aku dapat posisi terakhirnya dari chip yang ditanam pada saat ia sakit dulu.Sekarang ini banyak yang membantu untuk mencari Rita"


"Ohh.. microchip ya, aku gak kepikiran kesitu. Aku bukan ayah yang baik ya, Rita sering aku tinggal sendirian di rumah" Reza menutup wajahnya dengan tangan penuh penyesalan.


"Sudahlah mas, aku yakin Rita baik-baik saja, mungkin sekarang ini ia tengah berusaha mencari jalan keluar!"


Dugaan Ratna meleset, Rita terbaring lemah tak berdaya.


"Ki, badan gue kog jadi gak bertenaga begini ya?" Tanya Rita dengan suara lemah


"Mungkin obatnya sedang bekerja Rit, gue lihat jempol kaki Lo sudah gak bengkak lagi!"


"Oh..kemarin gue dikasih minum apaan?"


"Kayaknya antibiotik, tadi dia juga ngasih ini lagi!" Kiki menunjukkan kantung obat yang berisi beberapa butir tablet .


"Apa gara-gara obat itu ya? Kog gue lemes banget?" Rita berusaha bangkit dari tidurnya.


"Lo belum makan sejak kemarin Rit, makanya lemas, makan bubur ya, gue suapin!"


"Mata Lo bengkak Ki, habis nangis?"Rita memperhatikan wajah Kiki


"Gue gak jadi hamil Rit, pagi ini menstruasi!"


"Alhamdulillah..." Ucap Rita


Kiki menangis sesenggukan


"Kenapa Ki, harusnya Lo lega kan?" Tanya Rita memegang pundak Kiki


"Iya Rit, tapi gue sedih, gue khawatir Andre gak jadi menikahi gue!"


"Lo masih mau menikah sama dia Ki? Gak bisa nunggu setelah lulus SMU atau kuliah?"


"Gue sudah gak perawan lagi Rit, kalau bukan Andre, siapa lagi yang mau sama gue? "


"Kalau gak karena kalian sudah tidur bareng Lo juga gak akan terus berhubungan sama dia kan?" Tanya Rita


"Gak tahu Rit, cuma sekarang ini di kepala gue cuma ada dia saja. Gue takut kehilangan dia, gue harap dengan menikah dia akan terus di sisi gue!"


"Kog Lo jadi kayak gini sih Ki, seharusnya Lo ga menyerahkan masa depan Lo begitu saja, kalau Andre benar-benar setia sama Lo, kalau enggak?" Rita mengucapkan dengan nada tajam


"Apa Lo sebenci itu sama Andre Rit?" Tanya Kiki memelas


"Gue gak benci dia, kenal saja enggak, cuma gue hilang respek sama cowok yang metik bunga sebelum sah, lo ngerti maksud gue kan Ki?"


Suara Rita mulai melembut


"Walaupun hubungannya suka sama suka?" Tanya Kiki


"Iya lah, seharusnya dia bisa menahan dirinya kalau dia betul-betul sayang sama Lo Ki! Kak Tomi begitu sama gue!" Tiba-tiba ia teringat kenangan akan Tomi


"Masa Tomi gak pernah romantis sama Lo Rit?"


"Setiap perhatian dia selalu romantis Ki, Lo tahu gak, mungkin gue bisa kayak Lo bucin, tapi dia selalu jaga jarak. Dia bilang, karena dia sayang sama gue makanya dia gak mau merusak."


"Hmm ..begitu ya, Lo kehilangan banget dong Rit?"


"Hmm .. Lo gak membuka diri?"


"Iya dong, tapi bukan berarti gue menjajakan diri kan?"


"Kalau sudah kayak gue gimana?"ucap Kiki menyesal


"Masa lalu ga bisa diubah Ki, kita bisa mengubah masa depan. Mulai sekarang berhenti menggantungkan kebahagiaan Lo sama orang lain. Gue yakin Lo bisa!"Rita memberikan semangat.


"Jadi gue harus putus sama Andre?"


"Gue gak bilang Lo harus putus sama dia, untuk ke depannya please pacarannya jangan berlebihan, itu saja Ki!"


"Lo bawel ya Rit?"


"Iyalah, karena Lo sahabat gue Ki, gue gak suka sahabat gue dirusak orang!"ujar Rita kembali galak


"Iya Rit, maafin gue ya yang mengkhianati persahabatan kita, Lo gak ada ide Rit untuk bisa keluar dari sini?"


"Sebenarnya gue harus berada di ruang terbuka, supaya keberadaan gue ter deteksi dari satelit!" Rita berusaha bangun


"Maksud Lo?"


"Nyokap gue memasang microchip di badan gue, gak tahu sebelah mana, tapi agaknya karena ruangan ini terpencil sepertinya mereka kesulitan melacak gue"


"Oo begitu, gimana ya supaya kita bisa keluar, walau cuma sebentar!" Kiki mulai berpikir.


Tiba-tiba suara pintu terbuka, langkah beberapa orang memasuki ruangan.


"Jadi banyak patroli di luar?" Tanya salah satu orang


"Iya, katanya, cucu salah satu orang terkaya di negeri ini diculik, dari tadi malam helikopter berseliweran di atas!" Jawab temannya


"Jangan-jangan salah satu dari gadis yang kemarin dibawa Eros?"


"Yang itu? Bos bilang jangan biarkan gadis itu sehat karena kejadian di Bali , Bos besar rugi besar!"


"Emang gadis itu bisa apa?"


"Dia bisa meloloskan diri dari bunker penampungan, akhirnya beberapa orang yang sedianya dijual ke luar negeri batal karena razia dadakan."


"Tapi dari mana mereka bisa tahu daerah sini?"


"Salah satu orang kita bilang ,posisi terakhirnya di sekitar sini"


"Kalau begitu, kita jangan bergerak dulu, terlalu berbahaya!"


"Perlu gak kita satukan dua gadis itu dengan yang lain?"


"Sebaiknya jangan, panggil Yayuk, suruh dia geledah gadis-gadis itu, siapa tahu mereka membawa barang yang bisa memancarkan sinyal!"


Beberapa saat kemudian, seorang wanita paruh baya masuk ke sel tempat Rita dan Kiki berada


"Buka pakaian kalian, ganti dengan ini!" Wanita itu memberikan 2 stel training warna biru dongker


"Ganti di sini? Tanya Kiki


"Iya, cuma kita bertiga di sini, yang laki-laki tidak di sini!" Ujarnya ketus


Kiki mengganti pakaiannya setelah itu ia membantu Rita mengganti pakaiannya. Tiba-tiba ponsel dari tubuh Rita jatuh


"Apaan tu?" Tanya Yayuk

__ADS_1


Rita dan Kiki diam mematung, mereka menyesal tidak menyembunyikan ponsel itu.


"Punya siapa ini!" Bentaknya


"Punya aku!" Jawab Kiki memberanikan diri


"Oh Kamu yang bikin orang luar sibuk!" Yayuk menarik rambut Kiki kasar dan berniat membenturkan kepala Kiki ke tembok.


Rita dengan sekuat tenaga menahan tubuh Yayuk yang kesulitan karena dikeroyok 2 anak ABG. Terjadi perkelahian 2 lawan 1, lebih tepatnya saling bergumul. Kiki yang berhasil melepaskan rambutnya dari cengkeraman mbok Yayuk membantu Rita yang kini jadi sasaran tangan Yayuk.


"Kiki, pintunya terbuka, Lo kabur, minta bantuan !" Teriak Rita yang menahan tubuh mbok Yayuk. Kiki menolak meninggalkan Rita, ia mulai berani, ia menggigit tangan Yayuk agar melepaskan cengkramannya dari Rita.


"Aduuhhh!!!" Teriak Yayuk. Rita berhasil bangun lalu dengan sekuat tenaga ia menarik tangan Yayuk dan membenturkan tubuhnya ke tembok, Yayuk pingsan.


"Hah...hah...hah.." ******* nafas keduanya.


"Ayo Rit kita pergi dari sini!" Ajak Kiki memapah Rita. Keduanya berhasil keluar dari ruangan itu


"Rit, nanti kalau cewek galak itu bangun gimana?" Tanya Kiki


"Kita kunci pintu ini, buang kuncinya. Dugaan gue, kita berada di basement"


"Kog lo bisa yakin?"


"Karena nyokap gue gak bisa menjangkau gue di sini, gue harus ke tempat terbuka"


Dengan susah payah Kiki memapah Rita.


"Rit, setelah ini selesai kita olga bareng ya?"


"Kenapa? Gue berat ya?"


"Banget!" Kiki tersenyum


"Hahaha .. insyaaAllah Ki!" Tertatih keduanya menaiki tangga


"Eh ada suara orang!, Gawat, turun lagi Ki!"


Tergopoh-gopoh keduanya turun kembali ke tempat semula, dan bersembunyi di bawah tangga


"Eh, kog pintunya terkunci? Si Yayuk sudah kesini belum?"


"Kalau terkunci kayak gini biasanya belum"


"Ih, si Yayuk ini kinerjanya menurun, kata bos kalau begini terus, dia yang bakal dijual ke luar negeri!" Ucap salah seorang kesal


"Di jual? Yayuk sudah 40 tahun lebih mana laku?"


"Bisa untuk kerja diperkebunan sawit, mereka butuh banyak orang, pemilik kebun gak mau bayar tenaga kerja mahal-mahal, makanya nyari yang ilegal, biar murah, bahkan gak usah dibayar!"


"Kejam amat!"


"Makanya kita kerjanya harus bener, supaya gak dijual!" Ucap temannya yang satu lagi


"Lo ke atas gih, ambil kunci, sekalian panggil Yayuk!"


"Kita aja yang pergi gimana, emang enak sendirian di sini, pengap!"


Akhirnya keduanya menaiki tangga kembali ke atas


"Sudah aman Rit, ayo!" Kiki dan Rita beranjak dari persembunyiannya.


"Ki, jangan lewat situ!"


"Hah, habis lewat mana?" Tanya Kiki


Tertatih Rita menunjuk ke tembok


"Katanya ada tombol rahasia di sini!" Ia meraba-raba bagian tembok, Kiki memperhatikannya bingung


"Ketemu!" Rita menekan salah satu bagian tembok, tiba-tiba tembok itu terbuka, ada ruangan lain di situ.


"Masuk Ki!"ajak Rita


Keduanya masuk ke ruangan itu.


"Rapatkan lagi Ki, jangan sampai mereka tahu kita lewat sini"


"Kog Lo bisa tahu Rit?"


"Kapan-kapan gue ceritain ya?" Ucap Rita tersenyum.


Keduanya berjalan ke tengah ruangan, di situ ada tali


"Awas, Ki, tali ini akan menurunkan tangga"


Rita menarik tali yang tergantung di langit-langit,


"Brak!" Muncullah tangga lipat dari langit -langit


"Hati-hati Ki, tangganya agak rapuh, seharusnya kita bisa ke atas"


Perlahan keduanya menaiki tangga itu,


"Hatchi!!" Kiki bersin karena debu beterbangan. Cukup lama mereka memanjat tangga hingga sampai di langit-langit yang tertutup.


Rita mendorong langit-langit itu sekuat tenaga.


"Ah, keras banget!, Coba lo Ki!"


Keduanya bergantian mendorong langit-langit itu


"Ahh... kayaknya kita stuck di sini!" Rita kelelahan, ia menyenderkan tubuhnya ke tembok


"Brak!!!" Tiba-tiba tembok itu terbuka


"Ah ternyata yang samping Rit, bukan yang atas!" Ujar Kiki kegirangan


Mereka memasuki ruangan sempit itu sambil tiarap, terdengar langkah orang berlari. Di ruangan itu ada sebuah jendela kaca kecil, mereka bisa melihat orang-orang lalu lalang.


"Ki, kita istirahat sebentar di sini" Rita tertidur, menaiki tangga yang banyak dan curam membuatnya lelah.


Sementara itu, Ratna mendapat pesan dari perusahaan microchip.


"Got You!, sepertinya Rita sudah bergerak mas!, That's my girl!" Ratna tersenyum.


Reza yang masih terbaring memperhatikan Ratna dan tersenyum.


"Sudah lama aku gak lihat kamu tersenyum Ratna!"


"Ehem...kamu sih memilih menyerah!" Canda Ratna


Reza mengalihkan pandangannya menatap langit-langit


"Aku menyembunyikan banyak hal dari Kamu Ratna, Kamu akan lebih baik tanpa Aku" ucap Reza pelan


"

__ADS_1


-bersambung-


__ADS_2