
Pukul satu siang, praktek elektronika di mulai, setiap kelompok mengumpulkan tugas yang diberikan sebelumnya. Rita mengumpulkan tugas dengan hanya menuliskan namanya.
“Rita Soegiarto!” panggil pak guru
“Saya pak!” Rita menghampiri guru berusia setengah baya itu
“Kamu satu kelompok sama siapa?” tanya pak guru
“Kelompok saya? Wah saya lupa pak” Rita berpura-pura, pak guru melihat catatan kelompok
“Kamu sekelompok dengan Koko, mana Koko?” pak guru memanggilnya, dengan enggan Koko maju menghampiri pak guru
“Saya pak?”
“Kamu sudah tahu sekelompok dengan Rita kan?”
“Sudah pak!”
“Tulis nama mu di sini!” pak guru menyuruh dia menulis namanya di buku kelompok
“Tapi pak saya mengerjakan ini sendirian, Koko tidak ada kerja sama sekali” Rita menarik bukunya
“Apa benar Ko? Memangnya kalian kemana saja? Kelompok lain bisa bekerja sama dengan baik?”
“Bahkan Koko meminjamkan bukunya ke kelompok lain Pak” Rita sengaja mengadu karena jengkel, sementara Koko hanya menunduk terdiam
“Bapak gak mau tahu tentang ini, kalian harus mengatasinya sendiri. Kalian tahu, nanti ketika kalian masuk ke dunia kerja, kalian akan bertemu dengan rekan kerja yang tidak sesuai dengan keinginan kalian. Jadi Bapak minta kalian bisa bekerja sama dengan baik. Oh iya, bapak tidak akan mengakui pekerjaan salah satu dari kalian kecual kalian melakukannya bersama-sama”
“Baik pak!”ujar keduanya. Akhirnya Rita mengalah, Koko menuliskan namanya di buku praktek. Selama praktek berlangsung, Rita diam saja hatinya dongkol tak terkira. Ia ingin memukuli Koko sepulang praktek nanti. Tapi niatnya diurungkan, karena praktek elektronika hari itu cukup menyenangkan sehingga ia melupakan kekesalannya.
Seminggu telah berlalu, Rita mulai terbiasa dengan cara kerja Koko, demikian juga Koko. Walaupun keduanya jarang berbicara kecuali untuk keperluan praktek.
“Nah kan akhirnya akur juga!” ledek Liza
“Akur apaan?” tanya Rita sambil memasukkan peralatannya ke dalam tas
“Itu, lo sama Koko!”
“Dari awal gue gak ada masalah sama dia kok, gue saja baru kenal sama dia.”
“hah? Beneran Rit?” tanya Iin nimbrung percakapan mereka
“Koko itu sejak SD siswa berprestasi lho! Otaknya encer! Kalau gak salah dia satu SD sama lo ya Liz?” tanya Iin
“Enggak! SD kita yang tetanggaan, gue sering lihat dia dianterin mamanya sampai gerbang sekolah”
“Ciyee Liza merhatiin Koko nih yee?”
“Lah SD negeri kan begitu, satu gedung tapi beda sekolah” ujar Liza
“Oh iya ya? tapi menurut gue Koko itu baik kok, gue sering bareng pulang sama dia, eh ssttt...” tiba-tiba Iin mengecilkan suaranya, Liza dan Rita mendekatinya
“Kenapa In?” tanya Rita penasaran
“Koko nembak gue!”
“Mati dong lo?” canda Rita
“Bukan nembak itu bolot! Dia nembak gue, katanya sudah lama dia suka sama gue” cerita Iin
“Kapan dia nembak lo In?” tanya Liza
“Kapan ya? dua bulan lalu deh!
“Terus lo terima?” tanya Rita ikut penasaran
“Gue bilang pikir-pikir dulu”
“Dia mau nerima jawaban pikir-pikir dulu?” tanya Liza
“Iya, dia bilang gak usah buru-buru, gue tetap ada di sini kok” Iin tampak tersipu
“Kalau sudah dua bulan, berarti lo sudah jawab dong?” tanya Rita
“Memang sudah!” jawab Iin tersenyum
“Jadi lo pacaran sama dia?” tanya Rita dan Liza bersamaan
“Enggak dong!, gue bilang kita temanan saja. Dia itu terlalu baik buat gue”
“Terus dia bilang apa?” tanya Liza
“Reset aja deh, lupain gue pernah nembak lo ya? terus dia cabut deh”
“Kenapa lo tolak In?” tanya Rita
“Karena gue gak ada perasaan apa-apa sama dia selain pertemanan”
“Tapi gue perhatiin, dia sudah baik banget sama elo lho In, bantuin tugas lo, nemenin lo, malah kadang gue perhatiin dia sampai naik pohon buat ngambil sapu tangan lo yang nyangkut”
“Wah, kayaknya ini cinta segitiga deh, Koko merhatiin Iin, eh Liza merhatiin Koko. Jangan-jangan lo naksir Koko ya Liz?” tanya Rita
“Enggak Ih! Jangan sampai deh!” ujar Liza pelan
“Jangan sampai? Memangnya kenapa?” tanya Rita lebih penasaran
“Nanti deh gue bilangin”
“Kenapa gak sekarang aja?” tanya Iin
“Karena Koko itu orangnya memang begitu, kalau dia suka sama cewek perhatiannya tak terhingga deh! Dulu ada teman gue yang jadian sama dia”
“Hah? Kelas berapa tuh? Masih SD?” tanya Rita kaget bercampur heran
“Ah Elo Rit, kelas 5 itu kita lagi senang-senangnya ngeliat cowok ganteng kan?” jawab Liza Enteng
“Memangnya Koko ganteng? Ganteng dari hongkong!” gumam Rita pelan
“In!” Seseorang memanggil Iin keluar kelas ia meninggalkan Liza dan Rita
Liza melanjutkan ucapannya
“Sebenarnya gue kasihan sama Koko Rit, dia itu dipergunain sama Iin. Lo tahu gak, Iin kan sudah pacaran sama kakak kelas, kalau gak salah namanya Syahrul” bisik Liza
“Kak Syahrul? Oh yang dari ekskul pramuka itu?”
“He eh! Mereka sering jalan bareng tuh!”
“Apa Koko gak tahu Iin sudah jadian sama kakak kelas?”
“Mungkin tahu, tapi lo tahu sendiri, Iin itu punya lidah yang tidak bisa ditolak ucapannya"
“Kalau begitu jangan salahin Iinnya dong, Kokonya yang bego. Sudah tahu ceweknya sudah punya pacar kenapa dia masih ngejar?” ujar Rita ngotot
“Kok lo nge gas sih Rit, memang lo benci banget ya sama Koko?”
“Belum sampai benci ya. karena antara batas antara benci dan suka itu setipis tissue. Tapi Liz, baru kali ini lho gue ditolak cowok sampai sebegitunya. Dia bahkan gak kenal gue!” ujar Rita masih dengan nada jengkel
__ADS_1
“Iya sih, tapi jangan terlalu masuk ke hati Rit, eh iya tadi pagi lo dicariin kak Tommy “
“Hah? Kok Lo gak bilang dari tadi?” Rita langsung meninggalkan kelasnya dan menuju ruangan OSIS.
“Halo! Kak Tommy ada?” tanyanya pada pengurus OSIS yang masih berada di ruangan
“Tommy sudah pulang dari tadi, dia ijin katanya kepalanya sakit” jawab salah satu kakak kelas
“Oh begitu, terima kasih kak!” Rita agak kecewa, kemudian ia kembali ke kelasnya.
Pukul 3 sore bel berbunyi tanda sekolah selesai dan anak-anak diperkenankan pulang. Rita beserta teman-teman sholat ashar dulu di mushola sekolah untuk menghindari kemacetan di gerbang sekolah.
Beberapa menit kemudian mereka bertiga keluar dari mushola. Di sekolah hanya tinggal beberapa siswa yang hendak pulang. Iin dan Liza menaiki angkot dengan arah yang sama sedangkan Rita berlawanan. Entah kenapa sore itu angkot yang menuju rumah Rita tidak kunjung datang, akhirnya ia memutuskan naik angkot nomor lain yang dekat ke rumahnya. Ia melihat jam tangannya
“Setengah 5! Ampun deh nunggu angkot sampe 1 jam!” gerutunya. Tak lama angkot alternatif lewat, Rita menaiki angkot tersebut. Kondisi jalanan saat itu lumayan ramai sebentar lagi Rita turun dari angkot tersebut, tiba-tiba ada keributan di depan.
“Eh ada apaan nih?” tanya supir angkot yang ditumpangi Rita
“Ada anak-anak tawuran!”
“Ah sial! Muter saja deh!” supir angkot trauma karena sebelumnya angkotnya pernah dirusak oleh anak sekolah tawuran.
“Eh pak, saya turun di sini saja deh!” pinta Rita, akhirnya ia turun dari angkot. Kebanyakan orang menghindari jalanan tersebut, atau mencari jalan memutar tapi Rita tidak peduli dengan santainya ia berjalan. Ketika ia melewati suatu gang yang sepi, ia melihat seorang anak lelaki sedang dipukuli beberapa orang. Anak lelaki tersebut melengkungkan tubuhnya ditutupi tas untuk melindungi bagian vital tubuhnya. Anak itu rebahan dijalan tak berdaya.
“Eh itu kan si Koko” gumam Rita ketika ia melewati gang tersebut.
“Biarinin saja, orang ngeselin gitu memang pantas digebukin” gumam Rita dalam hati, dengan cueknya ia meninggalkan Koko yang berteriak-teriak. Makin lama teriakannya makin kencang, anak-anak yang mengeroyoknya mengambil tas dan mulai menendang perutnya.
Rita tidak tega, ia yang sudah jauh dari tempat itu, ia berlari menghampiri dan menyerang anak-anak yang menendang Koko.
Anak-anak tersebut kaget dengan serangan tiba-tiba Rita, mereka sempat mengeluarkan celurit, tetapi dengan menggunakan tas Koko, Rita menghalau celurit tersebut hingga celurit tersebut terlempar jauh. Tanpa adanya senjata mereka tampak ciut, mereka masih berani menyerang.
Dengan tangkas, Rita meraih tubuh mereka satu persatu dan ditendangnya seperti mereka menendang Koko. Mereka menangis kesakitan, Rita tidak berhenti sampai di situ, ia membuka tas anak-anak itu satu-persatu dan melempar tas mereka sejauh mungkin. Sambil kesakitan, mereka berlari menjauhi Rita yang kelihatan terpuaskan.
“hah..hah..hah...lari saja kalian...bawa teman kalian gue habisin sekalian!” teriak Rita kesal
Sejak tadi Koko terbengong melihat aksi Rita, antara kagum, ketakutan juga kesal. Tak berapa lama Rita mulai sadar dari kemarahannya. Ia mengambilkan tas Koko yang terlempar jauh, lalu memberikannya. Tanpa berkata apa-apa ia meninggalkan Koko sendirian di tempat itu.
Koko tersadar dari lamunannya. Ia mengunci tasnya lalu berlari menyusul Rita
“Heh! Heh! Lo jangan berpikir sudah nolong gue ya? gue gak butuh pertolongan lo!” ujarnya marah
Rita menghentikan langkahnya lalu dengan kesal ia menarik tas Koko
“Eh apa-apaan nih?” Koko mempertahankan tasnya sekuat tenaga, tapi Rita yang sedang kesal tenaganya bertambah beberapa kali lipat ia menarik tas itu hingga tas itu terlepas dari genggaman Koko, Rita melemparnya jauh.
“Hah! Ambil sendiri!” ujarnya dengan wajah puas
“Dasar gila!” teriak Koko berlari menjauh untuk mengambil tas yang dilempar Rita.
“Dasar goblok! Gak tahu diri!” teriak Rita kesal, Ia berlari pulang.
Sesampainya di rumah,
“Assalammu’alaikum!” ujarnya, tidak ada jawaban dari dalam
“Oh ayah belum pulang” gumamnya, ia mencari kunci rumah di dalam tasnya. Tangannya bergetar karena habis memukuli beberapa orang
“yah luka lagi” keluhnya, ia melihat tetesan darah dari tangannya. Ia terbiasa dengan luka-luka. Dengan sigap ia mengobati sendiri lukanya. Ia membersihkan lukanya dengan antiseptik lalu menutupnya dengan plester luka. Setelah berganti pakaian, ia menyiapkan makanan untuk dirinya sendiri.
Bunyi telepon menghentikannya makan
“Halo?”
“Rita? Kamu sudah pulang sejak tadi?” tanya ayahnya dari telepon
“Baru datang yah?”
“Tadi angkot yang menuju rumah ini sedang pada mogok, jadi Rita harus mengambil jalan alternatif”
“Oh begitu, kamu sudah makan?”
“Lagi makan yah?”
“Ayah pulangnya agak malam Rit, kamu gak usah nunggu ayah ya? Ayah juga sudah beli makanan di sini jadi kamu gak usah repot nganter makanan kemari”
“iya ayah!”
“Hati-hati di rumah ya?”
“iya yah!”
Rita kembali sendirian di rumah itu. Setelah makan, ia merapikan semuanya, lalu mengunci pintu dan jendela kemudian ia masuk ke kamarnya dan merebahkan tubuhnya, matanya menatap langit-langit.
“Sepi banget, coba ada TV di sini” Ia keluar kamarnya hendak memindahkan TV dari ruang tamu, tapi karena TV itu model TV tabung yang besar sehingga ia kewalahan mengangkatnya.
“Gak jadi deh” ia kembali ke kamarnya, dan rebahan lagi.
“ting!” bunyi SMS dari ponselnya, dengan segan ia membacanya
“Rita, bulan ini kamu mau apa? nanti kakek kirimkan- kakek Sugi”
“Ah iya!” dengan tersenyum ia membalas SMS kakeknya
“Rita minta dibelikan TV LED kek untuk di kamar, yang 21 inchi juga gak apa-apa” balasnya
“Baiklah!” jawab kakek
“Terima kasih Kek!” Rita mengirimkan emoticon tersenyum dan hati.
Pukul 7 malam, bunyi bel pagar depan, Rita baru saja selesai sholat Isya
“Ya?” Rita membuka jendela kamarnya
“Mba Rita?” tanya orang tersebut
“Iya?”
“Saya dari toko Elektronika Ekspress mengantarkan TV dik!” ujar orang tersebut
“Oh iya, sebentar bang!” setengah berlari Rita membuka kan pintu pagar depan. Hanya butuh beberapa menit, TV LED 40 Inch beserta antena dalam telah terpasang rapi di dalam kamar Rita.
“terima kasih pak!” Rita mengucapkan terima kasih sambil memberikan uang sebagai tips untuk mereka
“Sama-sama dik!”
Rita sangat senang dengan TV barunya, ia mengunci kembali pintu pagar lalu kembali ke kamarnya ia membuka acara TV kesukaannya, sambil mengirimkan SMS ke kakeknya
“TV dan antenanya sudah datang Kek, terima kasih banyak!”
“Sama-sama” jawaban singkat kakeknya
Rita mempelajari fungsi timer di Tvnya yang lebih canggih dari pada TV yang ada di ruang tengah.
“Oh begini, kalau mati jam segini, kalau nyalain begini”
Karena kelelahan ia pun tertidur. Ayahnya tiba pukul 10 malam dan langsung masuk ke kamarnya tanpa mengetahui kecanggihan kamar anaknya.
__ADS_1
Keesokan paginya Rita diantar ke sekolah oleh ayahnya dengan menaiki mobil
“Nanti ayah pulang malam lagi Rita, kamu gak apa-apa kan sendirian di rumah?” tanya ayahnya
“Gak apa-apa kok Yah, Rita kan sudah terbiasa sendirian sejak SD” jawab Rita, ayahnya terdiam
“oh iya, untuk jajan di sekolah minggu ini Ayah sudah taruh uangnya di atas TV, kamu sudah ambil?”
“Sudah yah, ini kan?” Rita menunjukkan uang 20 ribuan dari kantongnya
“Kalau kurang seperti biasa saja ya, kamu buat daftar keperluan nanti ayah pertimbangkan untuk kenaikan uang saku mu” ujar ayahnya
“Cukup kok yah! Tenang saja!” Rita tersenyum, tampaknya ayahnya tidak tahu kakeknya juga mengirimkan uang saku setiap bulan sebesar Rp 500 ribu. Karena Rita tidak boros, ia cenderung menabung uang sakunya.
“Sudah sampai, hati-hati ya?” ujar ayahnya, Rita mencium punggung tangan ayahnya lalu keluar dari mobil
“Terima kasih Yah! Dadah!!” mobil pun pergi, dengan santai Rita berjalan menyusuri jalan ke dalam komplek sekolahnya. Hari itu di sekolahnya tidak ada pelajaran karena seluruh siswa dikumpulkan di aula sekolah untuk pengarahan pencegahan tawuran antar sekolah dan bahaya narkoba.
“Eh hari ini kita praktek gak sih?” tanya Liza, ia duduk berderet dengan Rita dan Iin
“Mudah-mudahan enggak ya, gue males!” ujar Rita
“Kenapa lagi sama musuh lo?” goda Iin
“Gak ada apa-apa, cuma gue pengen pulang cepet saja” Rita tidak sabar untuk pergi membeli VCD player dan film untuk ia tonton di rumah.
Acara itu berlangsung cukup lama dan membosankan, Rita sampai tertidur.
“Hey Rit! Bangun!”Liza membangunkan
“hah? Sudah selesai?”
“Baru saja, eh kita tetap praktek!”
“yahh...” keluh Rita ia melihat jam tangannya,
“Baru jam 11?”
“Iya, langsung ke ruang praktek!” ujar Iin
“Asyik pulang cepet!” Rita kembali bersemangat. Hari itu ia harus praktek sendirian karena Koko tidak datang karena sakit
“Lo praktek sendirian gak apa-apa Rit?” tanya Iin
“Biasanya juga begitu, kenapa si tolol gak datang?” tanya Rita
“maneketehe?” ujar Iin
“ketehe dong!” jawab Rita
“Eh...eh..eh!” Liza memasuki ruang kelas
“Kenapa lo?”
“Si Koko diopname! tadi gue diminta ngumpulin uang beli buah untuk menjenguk” Liza menjadi bendahara kelas
“Kenapa dia?” tanya Iin
“gak tau, tapi tadi pak Ical walas , kita jenguk dia di RS”
“Gue gak ikut ah!” tolak Rita
“lo harus ikut Rit, Lo kan wakil ketua kelas. Karena Ketua kelasnya gak ada jadi lo yang harus datang” ujar Liza
“Yahh...ketua kelasnya kemana sih?” protes Rita
“Dia kan lagi diikut sertakan perlombaan antar sekolah”
“Lomba apaan?”
“Lomba matematika, yang dikirim dari kelas 7 Ketua kelas Rendra, kelas 8 Once terus kelas 9 Kak Tommy”
“oh kak Tommy jadi perwakilan sekolah”
“Kak Tommy kan pinter banget Rit, masa lo gak tahu? Katanya lo deket sama dia?” tanya Iin menyelidik
“Gue tahu sih kak Tommy pinter, tapi gak tahu kalau pinter banget”sanggah Rita
Selesai praktek, Rita , Liza dan pak Ical wali kelas mereka menjenguk Koko.
“Koko sakit apa bu?” tanya pak Ical
“Kemarin sore pak, kayaknya dia dipukulin anak-anak sekolah lain diperutnya. Tadi pagi dia kesakitan” terang ibunya Koko yang tampak sederhana. Rita memperhatikan si ibu yang terlihat kelelahan.
“Lalu Koko sudah diperiksa bu?” tanya pak Ical lagi
“Sudah pak, pemeriksaannya banyak ya. bapaknya Koko belum pulang dagang bakso. Jam segini di warung biasanya ramai. Koko biasa membantu bapaknya, tapi kalau sakit begini saya bingung. Ya biaya RS gak sedikit" keluh ibunya Koko.
Rita mendengarkan keluhan ibu Koko, ia merasa bersalah karena sebelumnya ia membiarkan Koko dipukuli. Setelah menjenguk Koko, mereka pun pulang.
“Eh pak, sebentar ada yang ketinggalan di kamar Koko tadi” ujar Rita, ia berlari kembali ke ruang rawat inap, ia menemui ibunya Koko.
“Bu, maaf ini uang kas kelas dari teman-teman, tidak banyak tapi mudah-mudahan bisa membantu ya bu” Rita memberikan amplop putih berisi uang sebesar Rp 500 ribu yang tadinya hendak ia belikan VCD player.
“Aduhh...terima kasih ya Nak, sampaikan salam saya pada teman-teman Koko. Terima kasih banyak!” ibunya Koko mencium amplop putih tersebut
Rita segera meninggalkan ibunya Koko dan kembali pada pak Ical dan Liza. Ia berdua diantarkan sampai halte bis. Dari situ ia pulang dengan ojek ke rumahnya.
Seminggu kemudian Koko masuk sekolah kembali, ia telah pulih. Sikapnya pada Rita berubah 180 derajat. Ia menyelidiki ternyata uang yang diberikan Rita kepada ibunya itu bukan uang dari kas kelas. Ia merenungkan sikapnya pada Rita. Ia tampak ramah pada Rita dan mereka bekerja sama dengan baik di kelompoknya. Kelompoknya kini menjadi salah satu dengan nilai terbaik.
“Eh Rita, lo butuh buku elektronik gak?” tanyanya
“Enggak, gue udah pinjam tadi. Buat lo aja” Rita bersikap biasa saja seolah tak terjadi apa-apa.
“Eh Rita, gue bawain tas lo deh, berat kan?” tanya Koko suatu hari
“Enggak berat!” tolak Rita, ia bersikap cuek.
“Eh Rita!”
“apaan sih KO? Dari tadi eh Rita eh Rita terus?” lama-lama Rita terganggu
“Eh enggak, Cuma bantuin aja!” ujarnya malu
“Gak usah! Gue bisa sendiri kok!” ujar Rita sambil pergi meninggalkan Koko
“Rita!!!” panggil Koko ketika Rita sudah menjauh
“Apaan sih!” Rita menoleh kesal
“Maaf!!! Dan terima kasih ya!!” teriak Koko
“Kenapa Lo? dasar sakit jiwa!” Rita tersenyum meninggalkan Koko di ruang praktek. Hari itu hari terakhir praktek dan mereka telah selesai sebagai partner.
“nyam...Mmmm......” Rita terbangun mendengar suara aneh berasal dari dadanya. Ia mengintip Ranna menyusu langsung dari dadanya. Ia sengaja tidak membuka matanya. Ia berpikir mungkin Ranna iri dengan kedua adiknya. Setelah selesai menyusu, Ranna merapikan kembali piyama atasan mamanya, lalu mencium pipi maminya
“I love you mami!” bisiknya lalu pergi meninggalkan maminya yang pura-pura tertidur
__ADS_1
Rita sambil memejamkan matanya sambil tersenyum.
-bersambung_