Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)

Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)
Chapter 68: Hukuman


__ADS_3

"Seharusnya kamu gak usah berlebihan seperti itu! Meta baik-baik saja,tanpa kamu kejar pun Meta akan segera kembali." Ujar kakek Darmawan dengan nada kesal


"Tapi Kek, Rita hanya bertindak sesuai keadaan, gak mungkin Rita mendiamkan seseorang diculik di depan mata"


"Andi mungkin lupa kasih tahu, kakek selalu menyertakan pengawal di sekitar kalian, mereka juga melakukan pengejaran, aksi kamu justru menghambat mereka!"


"Kakek sudah diperingati oleh pak Sugiono tentang sifat kamu yang sok pahlawan dan sering membahayakan diri sendiri. Mama mu juga minta supaya kamu dihukum !"


"Mama datang kek?"


"Iya, kemarin malam!, Tapi melihat kamu luka-luka dan kecapean sehabis mengejar orang, mama mu langsung pergi lagi."


"Yaahh.. kog Aku ga dibangunin?" Imbuh Rita sedih


"Mulai besok, kamu jadi asisten Om Radian!"


"Eh kenapa Kek?"


"Kamu gak tahu ya? Akibat perbuatan mu, 1 mobil dan 1 motor rusak, walau sudah kakek ganti, tapi Kakek minta kamu ganti uang kakek yang dipakai untuk mengganti kerusakan!"


"Eh?? Waduuhh.. mahal banget ya Kek?"


"Iya, mahal, mungkin kamu harus bekerja selama setahun di kantor Om mu untuk mengumpulkan uang!" Kakek Darmawan pergi meninggalkan Rita yang termangu menatap kuitansi perbaikan motor dan mobil.


"Ahh..liburan ku!" Gumamnya sedih.


Malam itu ia menelpon mamanya


"Ma, datang kog ga bangunin Rita?"


"Mama kesal sama kamu!, Ga di sini gak di sana selalu saja berlagak jadi pahlawan!"


"Rita refleks ma!" Ujarnya merengek


"Refleks itu gak kayak gitu! Kamu itu kecanduan jadi pahlawan, masa kamu gak kapok sudah pernah koma?" Ujar mamanya marah di telepon


"Jadi mama gak mau kemari?" Tanya Rita memelas


"Enggak! Mama bilang ke Kakek, selama masa hukuman ,mama gak ketemu kamu dulu!"


"Mama gak kangen sama aku?" Tanya Rita


"Mama sudah biasa Rit, kamu gak tahu sih selama kamu gak sadar mama hampir mati mengkhawatirkan kamu! Sekarang kamu begitu lagi, ah mama capek Rit!"


"Maafin Rita ma! Rita gak bermaksud bikin mama dan kakek khawatir!" Air mata menetes dari matanya.


Selama mereka berbicara ditelepon Rita hanya diam mendengarkan, ia baru menyadari, aksinya selama ini sudah membuat orang sekitarnya khawatir. Ia jadi teringat ayahnya yang selalu marah setiap dirinya terlibat dengan suatu aksi.


Setelah pamit dari mamanya, Rita mematut dirinya di cermin kamarnya.


"Hei Kamu! Lain kali pikir dulu sebelum bertindak, kamu sudah bikin orang sedih, tahu gak!!!" Ujarnya kesal pada bayangannya di cermin, setelah itu ia pergi tidur. Kebiasaan Rita, setiap dia kesal selalu mengantuk.


Keesokan harinya


"Pagi Rita!" Sapa Andi memasuki kamar Rita


"Pagi Kak!" Jawab Rita, ia tengah bersiap pergi bekerja.


"Waahh..Mau kemana Rit? Kog tumben ga olga dulu? Kakak sudah siap nih! Tanya Andi melihat Rita yang sudah berpakaian rapi


"Rita kena hukuman kak, harus bekerja di waktu liburan" ujar Rita sambil merapikan pakaiannya


"Kerja? Di mana? Hukuman apa?" Tanya Andi bingung


"Kerja kak, mulai sekarang Rita bekerja di jadi asistennya Om Radian."


"Hah? Kenapa? Kan sekarang waktu liburan?"


"Ini karena motor dan mobil yang Rita rusak kemarin, untuk mengganti kerugiannya."


"Waahh..kacau banget, nanti kakak lapor ke kakek tentang ini! Masa Rita yang menyelamatkan Tante Meta, malah disuruh ganti rugi!" Ujar Andi kesal


"Kemarin Kakek yang menyuruh Kak, mama bahkan mendukung kakek, beliau gak jadi menjenguk Rita di sini" ujar Rita sedih.


"Kamu gak protes Rit? Bela diri kek! Kamu kan gak bermaksud buruk!" Ujar Andi memprovokasi


"Yahh anggap saja ini hukuman karena sudah membuat kakek dan mama khawatir. Kemarin malam mama curhat tentang kekhawatirannya. Rita jadi terbayang wajah kakek waktu mendengar tentang aksi Rita. Bukan wajah senang tapi wajah khawatir dan sedih, kakek bahkan memegang dada kirinya."


"Oiya, kak Andi kenapa gak bilang sudah ada pengawal yang jagain kita? Aku baru tahu dari kakek kemarin" tanya Rita

__ADS_1


"Ahh..iya, reaksi Rita lebih cepat dari para pengawal, jadi kakAndi mau bilang kamu sudah kabur duluan! Kamu bisa tahu posisi tante ya dari alatnya pengawal!"


"Setidaknya kakAndi bilang waktu kita Online !"


"Kakak pikir, yah sudah tanggung, lanjutin sajalah!"


"Iya kan? Kalau nunggu mereka mungkin tante sudah dilecehkan"


"Sebenarnya mereka bisa lebih cepat,Rit. Mereka juga harus jagain Rita!"


"Ooo...itu maksudnya kakek kalau Rita sudah menghambat" Ia mengangguk paham


"Mereka bertanggungjawab atas tante,Rita dan kakak!"


"Ooo begitu!"


Andi mengangguk


"Kalau Rita kerja, kakak nganggur dong! Padahal kakak sudah mempersiapkan rencana untuk kita liburan." Ujar Andi kecewa


"Mungkin kak Andi bisa minta kakek untuk nemani Rita kerja di Om Radian?"


"Kerja di Om Radian? Ogah!" Ujarnya dengan nada sebal


"Kenapa kak?"


"Om Radian itu Om paling dingin diantara om-om lainnya. Beliau jarang berekspresi. Mau sedih, senang, kesal mukanya sama saja , datar!"


"Kak Andi pernah kerja sama Om?"


"Kerja sih gak pernah, tapi dulu waktu kecil, kakek pernah meninggalkan kakak sama Om, idiihh selain membosankan, juga apa ya nyebutnya, ah Rita rasain sendiri deh!"


"Tapi gak galak kan kak?"


"Bukan galak, tapi jutek! Entah sudah berapa banyak asistennya yang resign karena kerja sama beliau. Beliau gak ngomong saja orang sudah pada jantungan, apalagi ngomong kali!"


"Jadi, saran kak Andi apa?"


"Jangan sok akrab sama beliau, percuma gak akan ditanggapi! Mendingan, masing-masing saja, kalau beliau suruh kerjakan, kalau engga nyuruh ya tinggalkan. Gak usah mendekati, nanti kamu sakit hati dicuekin!"


"Hmm begitu ya kak?"


Tiba-tiba suara intercom di kamar Rita berbunyi


"Ok, I'm going!" Jawab Rita


"Kak Andi, Rita berangkat dulu ya, wish me luck!" Ujar Rita berlari keluar dari kamarnya.


"Hati-hati Rit! Good Luck!" Teriak Andi dari dalam kamar Rita


Ketika Rita di dalam mobil, ia terkejut karena Meta sudah ada di sana.


"Eh Tante, sapanya canggung."


"Maaf ya Rit, karena tante, kamu malah dihukum!"


"Gak apa-apa kog Tan, sudah biasa, hehehe!"


"Sudah biasa?"


"Dulu waktu masih dengan ayah, Rita juga selalu dihukum setelah terlibat perkelahian."


"Kamu sering berkelahi?"


"Yahh..lumayan Tan, tapi itu karena mereka membully teman Rita, jadi Rita membalasnya."


"Jadi kamu gak bisa diam saja ya melihat orang terdekat dizalimi?"


"Ya begitulah, tante gak usah merasa gak enak, Rita ikhlas kog, ini juga pelajaran buat Rita supaya lebih berhati-hati ke depannya."


"Hmmm...begini deh, supaya tante juga gak merasa bersalah ke Rita, ini kartu ATM, saldonya cukup untuk bayar ganti rugi ke kakek, nomor ATMnya ada di sini..oiya paspor kamu juga ditahan kakek, takut kamu kabur kayak Andi."


"Gak mungkinlah Tan, Rita lari dari tanggung jawab!"


"That's my hero! Ini ya Rit, kartunya, kalau mau pakai terserah, enggak juga gak papa, untuk Rita saja, Tante juga akan ke bandara."


"Hah? Tante mau pergi? Kemana?"


"Healing, kakek menugaskan Tante ke kantor kami di Swiss, mungkin kakek sengaja supaya tante bisa melupakan semua masalah di sini."

__ADS_1


"Berapa lama Tan?"


"Mungkin sekitar 6 bulan!"


"Wahh lama banget!"


"Yahh.. mudah-mudahan cukup untuk menyembuhkan luka hati, tuh Rit sudah sampai!, See you my niece, I Love you!" Meta memeluk dan mencium pipi Rita, sebelum ia turun dari mobil.


"Bye Tante!" Ucapnya sedih.


"Bye!!" Meta melambaikan tangannya


Rita memperhatikan mobil berlalu dari hadapannya, hatinya sedih karena harus berpisah lagi dari tante barunya. Sebelum masuk ke dalam gedung, ia membuka dompet kartu berisi ATM pemberian Meta.Ia melihat nomor pin dan saldo terakhir di ATM


"Haahh 5.000 US dolar? Ini lebih dari cukup untuk bayar kerugian, gue gak usah kerja nih!" gumamnya


Perhatian Rita ke kartu ATM terganggu, ia melihat sesosok pria tinggi, berambut hitam kecoklatan, berkulit putih bersih dan berwajah tampan, ia mengenakan setelan biru navy. Semua orang di dalam gedung yang mengenalnya sedikit membungkuk menghormatinya.


"Good morning sir!" Sapa seorang satpam ketika lelaki tampan itu memberikan tanda pengenalnya


"Morning, Joseph!" Jawabnya, kemudian ia masuk ke lift khusus eksekutif. Rita melihatnya dari kejauhan, itukah Om Radian? Gumamnya dalam hati, rasa penasaran untuk mengenal Omnya membuat ia mengurungkan niatnya untuk menggunakan ATM.


"Ini nanti saja deh, lumayan duitnya" gumamnya, ia memasukkan kartu itu ke dompetnya, lalu menghampiri security


(Dalam bahasa inggris)


"Saya yang akan magang di kantor ini!" Ia memberikan tanda pengenalnya.


"Tunggu sebentar!" Ujar di satpam , ia mengangkat telepon untuk menghubungi seseorang. Beberapa menit kemudian, seorang lelaki keluar dari lift, ia menghampiri security, yang mengarahkannya kepada Rita


"Hi! Saya Andrew, saya akan menjadi pengawas kamu selama kamu magang di sini!, Ikuti saya!"


Rita mengangguk dan mengikuti Andrew.


Mereka memasuki lift, lift berhenti di lantai 35, setelah itu mereka memasuki sebuah ruangan besar yang sangat nyaman, beberapa orang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Andrew membawa Rita ke ruang HRD


"Rita ini Emma, ia staf HRD di sini, ia akan menjelaskan tugas-tugas kamu!"


"Hi!" Sapa Rita berusaha menyembunyikan kegugupannya


"Kamu duduk di sana dulu!" Perintah Andrew.


Rita duduk di sofa yang letaknya cukup jauh dari mereka.


Samar-samar Rita mendengar percakapan Andrew dan Emma


"Asistennya bos makin muda saja ya? "Tanya Emma


"Kemarin pak Jake yang suruh"


"Pak Jake? Kenapa harus dia yang jadi asisten bos Radian? Kasihan ya? Apa dia masih kerabat bos yang sedang ada tugas sekolah?" Tanya Emma


"Entahlah, pak Jake gak mengatakan apapun." Setelah berkas beres, Andrew mengajak Rita memasuki ruangan bos.


"Meja kamu di sini, kalau dipanggil bos, ketuk pintu dulu, setelah ada jawaban baru masuk. Kamu dipanggil melalui interkom ini. Sebuah meja kerja ukuran standar, berada sedikit di samping depan pintu ruangan bos.


Andrew mengetuk pintu kantor bos


"Masuk!" Sahut suara dari dalam. Andrew membawa Rita masuk dan memperkenalkan Rita kepada Radian, setelah itu ia pergi meninggalkan ruangan. Radian yang sibuk membaca tabletnya, sejenak meletakkan tablet dan menghampiri Rita


, Lalu mengulurkan tangannya untuk menyalami Rita


"Radian!" Sapanya


"Rita!" jawabnya


"Kamu tidak akan diperlakukan istimewa di sini! Saya harap kita bisa bekerja sama dengan baik!" Ujarnya ramah.


Rita terkejut dengan ucapan Radian, tidak seperti yang orang-orang bilang tentang betapa dinginnya ia.


"Iya Pak!" Sahut Rita


"Hmm..bagus kamu sudah mengerti. Di pertemuan keluarga kemarin aku gak datang karena masih berada di Australia. Tapi aku dengar kamu sudah menyelamatkan Meta. Yaa berkat kamu pengawal-pengawal Meta dipecat karena bekerja tidak becus!" Ujar Radian


"Eh dipecat?" Rita menggaruk pipinya, ia merasa bersalah kepada para pengawal yang harus kehilangan pekerjaannya.


"Iya dong, mereka lalai, kalau mereka benar kerjanya, seharusnya lebih sigap dari kamu yang cuma anak-anak!" Ujar Radian


"Kakek menempatkan kamu di sini karena akan aman, di sini kamu hanya akan berhadapan dengan berkas-berkas. Di atas meja kamu sudah ada job deskripsi tentang tugas kamu di sini, dan berkas apa saja yang harus kamu siapkan, kamu bisa mulai sekarang!" ujar Radian lagi

__ADS_1


"Baik!" Rita sedikit membungkukkan tubuhnya, lalu pergi dari ruangan, ia bertekad menebus kesalahannya.


-bersambung-


__ADS_2