
Peristiwa ini terjadi pada saat mobil Andi dicuri seseorang ketika ia dan Dewa sedang bermain di taman hiburan Auckland. Sepulang dari kantor polisi selesai melakukan BAP
“Ar, mau bantuin gue gak?” tanya Andi pada Dewa. Andi dan Dewa merupakan teman masa kecil, Andi memanggil Dewa dengan sebutan Arya sesuai namanya Arya Dewangga, sedangkan Dewa memanggil Andi dengan sebutan Ray dari namanya Rayi Andika.
“Bantuin apaan?”
“Gue pengen melacak komplotan yang ngambil mobil gue”
“Kenapa gak beli baru saja? Bukannya lo duitnya banyak?”
“Ini bukan masalah duit bro! masalahnya itu mobil pertama gue dan hasil kerja keras gue”
“Tapi kan tuh mobil udeh kebakar Ray? Gak ada gunanya lo nyari-nyari orang yang ngambil kan mereka juga sudah terbakar di mobil lo?”
“Mobil gue itu mobil listrik masih jarang di sini, kayaknya sudah diincer sejak kita sampai”
“Kata lo mobil hybird?”
“Iya, tapi gue lebih ke listrik, jarang isi bensin kecuali kepepet”
“Btw Ray, itu cowok yang sama Rita siapa?”
“Itu? Daniel”
“Iya, gue tahu namanya maksud gue hubungannya apa sama Rita?”
“Dia asistennya om gue”
“Asisten om lo? kok kayak posesif gitu sama Rita?”
“Kenapa lo cemburu?”
“Cemburu? Memangnya gue siapanya Rita?”
“terus kenapa lo nanya kayak gitu?”
“Emang nanya aja gak boleh?” elak Dewa
“Jadi gimana? mau bantuin gue gak?”
“Caranya gimana?”
“Kita bikin pancingan! gue sudah beli mobil murah, nanti gue parkir di taman itu. mobil sudah gue pasangin penyadap untuk ngikutin tu maling sampai markasnya”
“Terus nanti lo gimana?”
“Telepon polisi lah, masa gue yang grebek?”
“Sudahlah Ray, lo tuh gak usah macam-macam, konsentrasi saja sama pertandingan lo. Lagi pula kejadian ini bikin kakek lo sakit kan?”
“Kakek gue suka pada lebay, gue gak apa-apa tapi mereka seperti kiamat”
“pastilah, bagi kakek lo yang satu lagi lo itu cucu lelaki satu-satunya, kalau kakek yang satu lagi masih mending ada Robby jadi tugas lo gak berat”
“Sekarang sudah ada Rita, seharusnya gue bukan satu-satunya”
“Beda Ray, Rita itu perempuan nanti dia akan menikah dan ikut suaminya. Bisnis kakek lo akan dikuasai suaminya”
“Enggak lah, memangnya sekarang zaman jadul, yang harus memimpin cowok? Rita juga hebat lho”
“Iya gue tahu kok”
“Kenapa lo senyam-senyum? Lo naksir Rita kan? Jujur saja deh!”
“Lo gak apa-apa kalau gue jadian sama Rita?”
“Bagus malah, gue kan sudah kenal lo lama, seharusnya Rita lebih aman sama lo”
“Kalau jadi beneran terus putus di tengah jalan gimana? apa lo masih mau jadi sobat gue?”
“Wah, lo itu aneh Ar, jadian saja belum sudah ribut putus. Kalau niatnya bakal putus mendingan gak usah saja dari awal”
“Gue itu selalu memikirkan skenario terburuk ,bagaimana pun juga Rita itu banyak cowok yang suka, di sekolah saja dulu banyak apalagi di sini, contohnya si Daniel itu”
“Belum tentu Daniel suka sama adek gue, orangnya kaku dan sangat taat peraturan. Gue yakin di kepalanya hanya menganggap Rita tugas yang harus dijaga”
“Lho, dia kan asisten Om lo, kenapa jadi jaga Rita?”
“Kan mereka kerja bareng, Rita juga jadi asisten Om gue”
“Tuuhh kannn!!! Ah payah lo menyembunyikan informasi penting!” ujar Dewa kecewa
“Sudah deh, gimana mau bantuin gue kan?”
“Mau! mulai kapan?”
“Nanti tengah malam!”
“Sudah hampir malam nih, gue laper”
“Yuk kita makan! Sudah waktunya makan malam!”
Mereka keluar dari kamar Andi menuju ruang makan. Di ruang makan sudah ramai dengan orang-orang, para sepupu, kedua kakek, Rita serta Daniel.
“Nah...tuan rumahnya baru datang!!!” ledek kakek Darmawan pada Andi
“Maaf kek!” Andi mengambil tempat berseberangan dengan Rita, sedangkan Dewa berseberangan dengan Daniel. Sebelumnya Dewa menyalami kedua kakek
“Arya, apa kabar ayah mu?” tanya kakek Sugiyono
“Baik kek, beliau sekarang bertugas di Bali”
“Oh ya? Ibu mu ikut ke sana?”
“Iya kek, bersama dengan adik saya tinggal di sana”
“Jadi kamu sendirian di Sukabumi?”
“Iya kek”
“Kuliah mu di mana? Jurusan apa?”
“Saya kuliah di ITB kek, mengambil jurusan teknik”
“teknik? Hmm...teknik mesin? Elektro?”
“Elektro kek!”
“Sayang sekali “ ujar kakek Sugi
__ADS_1
“Kenapa kek?” tanya Andi dan Rita bersamaan
“Kalau kamu kuliah di bidang hukum, aku bisa menempatkan mu di firma hukum ku!” ujar kakek Sugi
“Tapi perusahaan kakek bukan hanya itu saja kan?” ujar Rita ikut bersuara
“Betul! Tetapi kalau di bidang elektro, dia hanya akan dipekerjakan bagian menengah, sulit untuk mencapai top management” jawab Kakek Sugi lagi sambil menyantap makan malamnya
“Memangnya kakek berniat mengajak Arya menjadi eksekutif di kantor kakek?” tanya Andi
“kenapa enggak? aku dengar dia salah satu siswa berprestasi di sekolah dan terlihat bukan seperti kutu buku. Tampilannya menarik!”
“Kakek belum tahu dia bisa apa tapi sudah menawarkan posisi di kantor? Hebat lo Ar!” Andi menepuk punggung sahabatnya. Melihat hal itu, Robby terlihat cemburu
“Aku kan cucu kakek, aku lebih berhak di top management kan?” ujarnya kesal
“Kalau kerja mu tidak main-main saja dan konsentrasi pada sekolah mu, kakek akan membiarkan mu masuk top management di perusahaan, tapi sebelum itu kakek gak mau memberi mu posisi apa pun. Bisa-bisa perusahaan kakek gulung tikar!”
“emmmp!!!” Rita dan Andi menahan tawa bersamaan, Robby menatap mereka dengan tatapan sebal.
“Jadi Niel, bagaimana perkembangan kasus mobilnya Andi?” Kakek Darmawan mengalihkan percakapan sebelum terjadi pertengkaran antara Robby dan Rita
“Daniel dulu bekerja penyidik di Interpol” bisik Andi kepada Dewa, sudut matanya memperhatikan sikap Daniel pada Rita.
“Penyelidikan sedang berlangsung Pak, sepertinya mereka termasuk organisasi pencurian mobil di kota ini” jawab Daniel
“Ketahuannya dari mana?” tanya Rita
“Pencuri yang menjadi korban kecelakaan itu berhasil diidentifikasi dan tercatat sudah pernah ditangkap polisi dan di penjara selama beberapa tahun” jawab Daniel
“Berarti penjara tidak membuat mereka kapok ya?” ujar Rita geram
“Kalau masuk sebagai anggota organisasi pencuri itu gak mungkin bisa insaf kecuali dia mati. Karena mereka lebih memilih di penjara dari pada melaporkan teman-temannya” ujar Daniel menerangkan
“Ada yang mati juga?” tanya Dewa tiba-tiba, Daniel mengangguk
“Waktu itu interpol pernah mengincar organisasi tersebut, kami berhasil menangkap satu orang. Kita anggap saja sebagai freelance, karena ia hendak bertobat.”
“Lalu dia gak jadi tobat?” tanya Rita, ia tertarik dengan cerita Daniel
“Kami memasangkan penyadap padanya, tapi sepertinya mereka sudah mengetahui ada penghianat akhirnya informan kami di tembak mati di mobil yang hendak dicurinya”
“Innalillahi wa’innalillaihi roji’un” ujar Rita prihatin
“Kalau informan mati, apa interpol bertanggung jawab?” tanya Andi
“Informan itu bukan agen interpol jadi ya seperti orang biasa yang terbunuh saja” ujar Daniel dengan nada enteng
“Kok kamu seperti tidak ada perasaan gitu sih?” tanya Rita heran
“Huh? Jadi aku harus bagaimana? Nangis-nangis begitu? Kami dari interpol sudah berusaha menjaganya, tetapi kami gagal” jawab Daniel sambil menyantap steaknya
“Tapi kamu sudah tidak aktif di interpol Niel?” tanya Sugiyono
“Sudah dua tahun ini tidak pak, walaupun saya tetap menjaga komunikasi dengan teman-teman di sana” jawab Daniel
“Masuk interpol itu kan susah Niel, apa gak sayang dilepas begitu saja?” tanya Andi
Semua yang duduk di ruang itu mendengarkan
“Hmm..gimana ya? masuk ke sana memang sulit, bahkan ujiannya beberapa kali seperti mempertaruhkan nyawa. Tetapi seperti yang Rita bilang tadi kalau terlalu lama di bidang pekerjaan itu, kepekaan kita menjadi berkurang. Misalnya jika ada korban yang meninggal karena tugas, perasaan kami biasa saja. sebenarnya kami bersedih tapi tidak boleh berlarut karena bisa menghalangi tugas berikutnya”
“Bukan itu saja sih, tawaran dari pak Radian lebih menggiurkan dan lebih aman, mama ku juga lega ketika aku sudah tidak di interpol” jawab Daniel
“Informan yang meninggal itu, keluarganya bagaimana?” tanya Rita
“Untuk menjaga keselamatan keluarganya, kami menghubungi kepolisian setempat untuk mengurus korban dan dicatat sebagai korban pembunuhan. Kalau keluarga mengetahui ia informan interpol bukan saja berbahaya bagi anggota keluarga tersebut maka akan menjadi ancaman bagi para komplotan itu jadi lebih baik kami tidak mengungkap keterlibatan kami”
“Sewaktu kamu bertugas mengawasi organisasi itu, apa kamu berhasil menangkap mereka?” tanya Andi penasaran
“ya, kami berhasil mengamankan beberapa barang bukti yang hendak dihancurkan. Jadi mereka mencuri mobil, lalu dipreteli , suku cadangnya di pisahkan, bisa dijual di pisah atau dipasangkan ke mobil lain.”
“Lalu diapakan?” tanya Rita
“Di jual ke luar negeri, diselundupkan melalui laut”
“Bagaimana kamu bisa menangkap mereka?” tanya Andi
“setelah penembakan informan kami itu, aku menerima rekaman terakhir dari korban.”
“Korban itu informan kan?” tanya Robby tiba-tiba
“Iya betul! Ternyata orang yang menembak informan kami sebelumnya juga menembak agen polisi yang menyamar”
“Nah lho! Seru nih, gimana dong?” tanya Andi
“Berdasarkan rekaman itu kami mendatangi markas organisasi dan menangkapnya dengan barang bukti rekaman itu”
“tapi bukti rekaman itu tidak kuat kan?” tanya Kakek sugi
“Betul pak, tetapi kami memiliki rekaman pengakuan pelaku membunuh agen polisi dari informan, berdasarkan itu ia kami tangkap”
“Ditangkapnya untuk pembunuhan? Bukan kasus pencurian?” tanya Dewa
“Kami pikir jalan apapun kami lakukan agar pelaku bisa tertangkap, setidaknya setelah penangkapan itu, laporan pencurian mobil berkurang hingga 90%, sampai saat ini agaknya organisasi itu sudah menemukan bos baru” jawab Daniel
“Cerita mu seru lho Niel!” puji Andi
“Terimakasih” jawab Daniel tersenyum
“Kamu bilang kamu masih berhubungan dengan teman-teman di Interpol, biasanya kasus apa? apa ada pekerjaan mu yang sekarang membutuhkan bantuan mereka?” tanya kakek Darmawan
“Tentu pak, biasanya jika kami hendak melakukan bisnis dengan seseorang, pak Radian meminta saya untuk mengecek latar belakang orang tersebut, apakah punya kasus hukum sebelumnya atau tidak. Jika ada kasus hukum, kasusnya tentang apa, dan kami akan mendiskusikan apakah dilanjutkan kerjasama dengan orang itu apa tidak” jawab Daniel
“Oh begitu, hebat juga ya Radian. Aku gak pernah kepikiran tentang itu sebelumnya. Merekrut mu di perusahaan bisa sangat menguntungkan” ujar Kakek Darmawan
“Sekarang ini, kamu masih suka melakukan pengintaian?” tanya Andi tiba-tiba
“Pengintaian? Untuk apa?” jawab Daniel
“Ya untuk menyelidiki calon rekan bisnis” jawab Andi
“Pengintaian itu dilakukan untuk membuktikan suatu bentuk kejahatan, sedangkan yang diminta pak Radian bukan itu” jawab Daniel
“Tapi kamu masih ingat cara-cara mengintai kan?” tanya Andi
“Andi! Apa kamu mau mengintai seseorang? Kamu gak usah macam-macam!” ujar Kakek Darmawan memperingati
“Enggak kok kek, aku cuma penasaran saja apa kemampuan Daniel untuk mengintai masih ada atau tidak”
__ADS_1
“Hahaha...mungkin kalau dilakukan sekarang akan cepat ketahuan..”
“Pastilah, penampilannya sekarang akan mengundang para cewek untuk memperhatikan dia, jadi sulit untuk mengintai iya kan Niel?” ujar Maia tiba-tiba nimbrung, Daniel mengangguk malu
“Memangnya dulu penampilan mu seperti apa?” tanya Robby penasaran
“Kami dilatih untuk berpakaian tidak mencolok, bahkan terkadang kami diharuskan tidak mandi selama beberapa hari agar kulit kami betul-betul terlihat dekil”
“Tidak mandi? Yeakhh!!!” ujar Robby yang hobi mandi
“Kalau di film-film para agen menggunakan setelan jas, apa di dunia nyata juga begitu?” tanya Rosy
“Tidak, kami memakai pakaian biasa, kami pakai seragam kalau ada upacara dan acara resmi atau menghadiri pemakaman salah satu rekan kami yang meninggal”
“Iya lah namanya juga intel bajunya harus baju bebas, kalau intel berseragam berarti sedang libur, iya gak Niel?” canda kakek Sugi
“Benar pak! Hahaha..” jawab Daniel, yang lain ikut tertawa
Makan malam selesai, semua kembali ke tempatnya masing-masing. Rita mengantar Daniel sampai depan taksi
“Sampai ketemu besok di kantor!” ujar Daniel
“Maaf Niel, kakek tidak membolehkan ku ke kantor lagi” ujar Rita dengan nada menyesal
“Itu untuk seterusnya?” tanya Daniel dengan nada kecewa
“Sepertinya begitu, aku akan mulai masuk sekolah minggu ini”
“Oh ya? kita akan susah ketemu ya?” gumam Daniel
“Eh kenapa?”
“Ah enggak, kapan pertandingannya lagi?”
“Mungkin 2-3 hari lagi, kamu mau nonton?”
“Tentu! Gak akan aku lewatkan!” jawab Daniel tersenyum sambil memasuki taksinya
“Dadah! Hati-hati di jalan!” taksi membawa Daniel menjauh, Rita menunggu hingga taksi tak terlihat lagi, di dalam taksi Daniel terus melihat ke belakang. Supir taksi tersenyum melihat penumpangnya yang tak henti menengok ke belakang.
“Kekasih ya pak?” tanyanya iseng
“Belum!” jawab Daniel
“Wah, belum dijadiin? Nanti disamber orang lho kalau kebanyakan mikir” ujar supir
“Begitu ya? tapi usia kami berbeda 9 tahun, mungkin aku lebih cocok jadi ayahnya”
“Hahaha...9 tahun itu kecil, mungkin cocok jadi kakaknya bukan ayahnya. Tetapi anak perempuan itu cepat dewasa, kalau dia nya suka kenapa gak maju terus?” ujar supir memprovokasi
“Begitu ya? kalau ditolak bagaimana?” tanya Daniel, pak supir mengintip wajah Daniel dari spion tengah
“Menolak Anda? Sepertinya anda terlalu merendah. Kalau dilihat dari tingkah cewek tadi, sepertinya dia mempunyai perasaan yang sama”
“Bapak menghibur saya”
“Karena dia menunggu hingga mobil ini menghilang, hanya orang yang teristimewa di hati yang akan diperlakukan seperti itu”
“Apa benar?” hati Daniel kini berbunga-bunga
Sementara di rumah, Dewa memperhatikan Rita dari kejauhan
“Lama banget Rita di luar” ujarnya
“Dia nganterin Daniel” jawab Andi
“Taksi Daniel sudah pergi dari tadi”
Andi melihat ke bawah, ia memperhatikan Rita yang masih berdiri
“Woy Rit! Ngapain di situ!” teriak Andi
“Eh iya kak!” Rita tersadar dari lamunannya, ia segera masuk ke rumah. Ia bertemu dengan kakek Sugi yang duduk di ruang depan bersama kakek Darmawan
“Daniel sudah pulang Rit?” tanya kakek Darmawan
“Sudah kek!”
“Naik apa dia?” tanya kakek Sugi
“tadi panggil taksi”
“Kenapa dia gak pakai mobil Radian? Tadi kan dia pakai mobil Radian kemari?”
“Dia bilang nitip mobil om di sini saja selama om di London lebih aman katanya”
“Begitu?”
“Rita ke atas dulu kek?”
“Hmm!”
Setengah berlari Rita menuju kamarnya, ia mengunci pintu kamar lalu langsung merebahkan diri di ranjangnya.
“ahhh...besok gak ke kantor..santaiiii....”tak lama ia terlelap.
“Rit...Rita...” panggil Andi berbisik, ia mengetuk pintu kamar Rita
“Dia masih tidur kali , udeh kita gak jadi mengintai! Gue juga ngantuk nih!” protes Dewa
“sssttt..jangan berisik, kita ajak Rita”
“Tapi dia masih tidur!” ujar Dewa kesal, setelah dipanggil berkali-kali tidak juga ada sahutan dari dalam, akhirnya Andi memutuskan berangkat berdua Dewa
“Kita saja deh Ar!” ujarnya
“Sebentar gue ke toilet dulu!”
“Bukan dari tadi lo!”
Dewa berlari kembali ke kamar Andi dan meninggalkan pesan tertulis untuk Rita, kemudian ia pergi menemui Andi
“Sudah lo?” tanya Andi dengan nada kesal
“Sudah, eh ini gak ketahuan? Banyak security di bawah?”
“Tenang! Ini gue gitu loh!” ujar Andi percaya diri.
Waktu menunjukkan pukul 1 pagi, Andi dan Dewa menuruni tangga rumah, lalu keluar dengan menaiki mobil yang baru saja dibeli Andi. Dengan mudah ia keluar dari rumah besar
__ADS_1
_bersambung_