Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)

Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)
Chapter 153: Victoria Secret


__ADS_3

Sepulang umroh Rita mempersiapkan diri untuk menghadapi ujian sekolah, selain ikut les privat ia juga banyak berlatih soal-soal sendiri. Tempat favorit belajarnya, di taman belakang rumah besar Darmawan, dengan suara air memercik dari kolam ikan koi, yang sengaja dibuat dengan tema suasana di Jepang. Rita duduk di tempat itu sambil menjawab soal-soal latihan ujian dari buku soal yang sengaja ia beli. Staff dapur menyediakan banyak cemilan untuk menemaninya belajar. Mario yang kini tinggal bersama mereka di rumah besar Darmawan menghampiri Rita yang sedang serius belajar


“Hei Ritong! Lagi ngapain?” tanyanya, ia duduk di kursi taman yang nyaman


“Macul!” jawab Rita ngasal, ia memperhatikan wajah Mario yang lesu. Kemudian ia menaruh bukunya


“Kenapa lo? kok lesu begitu?”


“Kakek Soto nyuruh Ai mengikuti ujian paket C!”


“Terus kenapa? Ikut saja, bareng si Roby tuh, dia juga ikut ujian paket C!, karena dia pengen kuliah”


“Tapi untuk apa Ritong? Belajar mulu, kapan dapat duitnya?”


“Wahh..pikiran lo itu sempit O!”


“Gang kali sempit!”


“Belajar itu harus seumur hidup tahu! Lo ngaji kan?”


“Tapi untuk apa ijasah? Kalau sekolah cuma untuk dapat ijasah?” sanggah Mario


“Bukan begitu O!, masa elo gak ada pikiran, siapa tahu, suatu ketika lo melamar cewek! Apa gak malu kalau Cuma tamat SMP doang? Hari gini?”


“enggak lah!”


“Iya juga ya Elo kan gak tahu malu!” ledek Rita


“Bukan begitu!, cewek yang mau gue lamar sudah laku!” ujarnya lesu


“Jangan begitu ah O!, kalau lo begitu lagi, gue gak mau ngomong lagi sama Elo!” nada suara dan tatapan mata Rita tegas


“Iya deh! Iya! Ai gak bakal ungkit-ungkit soal itu lagi!”


“Bener ya! ini ultimatum Lho! kalau lo menyinggung itu lagi, gue bener-bener gak mau ngomong lagi sama Lo!” ancam Rita dengan wajah tegas, Mario agak takut dengan muka serius Rita


“Iya!!! Galak banget sih, ngasih ultimatum! Kayak Belanda aje!” ujarnya kesal


“Kalau lo belajar bener, dan bisa lulus. Lo bisa di sekolahin di luar negeri, Belanda, Perancis”


“kog belajar melulu? Ai kan sudah pandai mendekor!”


“Nah itu, kalau pikiran lo sama kayak gang!” ujar Rita sinis,


“Nanti deh kalau lo keliling ke tempat-tempat bagus di Eropa, lo bakal bengong, ternyata yang lo bisa Cuma dikit!, Cuma setingkat kampung!” ujar Rita meremehkan


“Tingkat kampung? Sembarangan! Yu gak tahu apa banyak tamu yang memuji karya Ai? Termasuk kakek-kakek ?” Mario merasa tersinggung


“Iya, dekor lo sih bagus! Kalau Lo pergi ke pernikahan di gedung-gedung di Jakarta, wah dekorasinya lebih bagus tuh O!”


“Masa sih?” Mario gak percaya


“Terserah deh kalau gak percaya. Dekor lo memang bagus tapi akan lebih bagus kalau inspirasi lo lebih banyak! Bahkan lo bisa mengembangkan ketrampilan lo ke dekor-dekor lain selain pernikahan!”


Mario termangu mendengarkan saran dari Rita


“btw anyway, Anding mana ya Ritong? Ai nyariin dia dari kemarin!”


“Hah? Lo gak tahu?” tanya Rita heran, Mario menggeleng


“Kak Andi kembali ke Auckland!, dia kuliah di sana!”


“Auckland? Sebelah mananya Sukabumi?” tanyanya heran


“Seberang benua, sekali-kali cek globe dong!”


“OMG!!! Anding di seberang benua!!, Ai gak tahu!, Ai kesepian di sini!”


“Bukannya lo juga sudah mulai les?”


“Iya, tapi banyak banget pelajarannya...Ai stress tau!, kenapa gak yu aja yang ngajarin Ai?”


“Yakin mau gue ajarin? Inget2 deh !”


Mario mengingat bagaimana Rita mengajarinya dulu, tiba-tiba ia bergidik, mengingat masa-masa itu, Rita tertawa geli melihat reaksi Mario


“Eh O! Kog Lo jadi melambai begitu sih? Ini serius! Kenapa dulu lo macho?”


“Heh Ritong, lo inget ini gak?” Mario meminum cangkir teh milik Rita, jari kelingking kanannya naik


“Eh??” Rita mengingat itu, setiap Mario minum, ia selalu menaikan jari kelingking kanannya


“ngerti Yu? masa begitu saja gak ngerti?”


“Enggak ngerti maksud lo apa?”


“Ai itu sebenarnya dari dulu begini! Cuma karena bokap Ai sangat galak, Ai jadi gak berani. Kalau almarhum melihat Ai kemayu, Ai langsung disabet pakai rotan!”


“Bagus dong!, Lo kan cowok O!, lo tahu kan? Kalau cowok yang perilakunya seperti cewek itu dilaknat Tuhan?”


“Iya sih? Abis gimana dong??? Setelah bokap wafat, gak ada lagi yang mencambuk AI!” ujarnya sedih


“Ya lo harus bisa sendirilah! Kan Elo cowok!, tanamkan dipikiran lo! gue ini cowok! Pasti deh lo bakal normal!”


“Apa bisa begitu?” ujar Mario ia mendekatkan wajahnya ke Rita


“Heh! Ngapain lo? mau mati ya?” ancam Rita bercanda, ia menirukan kalimat sebuah film legendaris


“Ahhh....tidak ndoro! Ampun!” Mario mengikuti akting Rita, mereka tertawa bersama


“eh Rit!, kenapa kakek Yu repot-repot nyokolain Ai? “


“Mungkin ia mau membalas budi?”


“Balas budi? Memangnya si Budi salah apa?” tanya Mario


“Bukan Budi itu Oon!, maksudnya, mereka mau membalas kebaikan lo!”


“Kebaikan Ai? Ai sudah dibayar kok untuk dekor itu!”


“Bukan itu!, lo inget, waktu kak Andi menginap di rumah tante gue? Lagi main di lapangan, tiba-tiba kak Andi pingsan. Mana cuma kita bertiga, gue gak kuat angkat kak Andi. Tapi Lo yang ceking, langsung gendong dia dan bawa pulang ke rumah! Karena tindakan lo itu, kak Andi jadi selamat!”


“Selamat? memangnya dia kenapa?”


“Dulu ada kebocoran jantung, itu sebabnya kalau terlalu banyak aktivitas ia sering pingsan!”


“ooo begitu!, pingsan itu karena penyakit jantung? Ai kira karena hobi!”


“Hobi??? Ah Elo jangan Oon dipelihara, sapi dipelihara lumayan susunya!” ujar Rita sebal

__ADS_1


“Ai gak mengharap apa-apa padahal, Ai senang, kalian berdua masih mau temenan sama Ai, sementara tetangga yang lain malah pada ngebully Ai!”


“Iya ya, mereka kejam banget, sampai masukin Lo ke sumur!”


“Hah? Bukan mereka yang masukin, Ai masuk sendiri, Ai takut! Terus Ai ngumpet di situ!”


“oo begitu!” Rita menyeruput teh hangatnya dari gelas yang baru


“Eh iya!!! Ai inget waktu itu para ibunya anak- anak itu nyariin yu! Mereka marah karena anaknya yu mendorong anak mereka ke sumur! Untung sumurnya banyak air! Kalau enggak mereka bisa mati!”


“hahaha!, gue kira mereka yang masukin lo ke sumur, jadi mereka bertiga gue dorong ke sana!, tapi gue sudah perkirakan kok mereka bakal selamat, Cuma kasih pelajaran saja! Supaya gak semena-mena sama orang!”


Mario menatap Rita tanpa berkedip, kemudian ia memalingkan wajahnya


“hmm...kenapa nasib mempertemukan kita kayak gini ya Tong? Setelah yu pergi, Ai patah hati untung gak sampai patah kaki. Ai bertekad menyusul Yu!, Ai nanya alamat yu ke tante Say, eh dia sudah menikah dan dibawa suaminya. Ai kehilangan jejak yu!” ujar Mario sedih


“Lo Cuma kesepian saja O!, kan lo bilang sendiri gak ada yang mau berteman sama lo!, suatu saat lo akan menemukan cewek yang istimewa O! Jadi lo harus normal ye!” Rita menepuk punggung Mario


Salah seorang ART menghampiri mereka


“Mba Rita, ini ada , dari mama mba!”


“Paket? Apaan nih?” Rita penasaran, dengan semangat ia mengambil cutter dari tempat pensilnya dan membuka kotak kardus itu


“Wow ini dari luar negeri lho!” Mario membaca label pengiriman


“hmm..victoria secret! Wah ini lingerie Tong!” ujarnya girang, Rita menatapnya kesal, kemudian ia mengurungkan niatnya membuka paket depan Mario


“Aku bawa ke kamar saja!” ia menaruh buku dan perlengkapan belajarnya di kardus itu membawanya ke kamarnya


“Mau dibantuin gak?” Mario menawarkan bantuan


“Gak usah! Lo mulai belajar gih! Makin sering lo belajar makin pinter, makin cepet diajak ke luar negeri!” Rita mengangkat kardus itu lalu meninggalkan Mario


Sesampainya di kamar ia membuka 5 kotak dari dalam kardus


“apaan nih?” ia membuka kotak pertama, mamanya mengiriminya lingerie seksi dengan beberapa warna dan model, hitam, marun, hijau, ungu dan merah cabai


“Astaghfirullah mama!” iya kaget melihat lingerie kiriman mamanya, kemudian ia menelpon mamanya


“Assalammu’alaikum mama!”


“Eh Rita!”


“Mama lagi di mana?”


“Mama lagi menghadiri Paris Fashion Week!”jawabnya berbisik


“oo, hmm...paket dari mama sudah sampai!”


“ah sudah sampai! Wah cepat sekali! Bagus kan Rit, kamu bawa dan pakai ya kalau bertemu Daniel!”


“Mama ih!” Rita merasa malu, wajahnya memerah


“Rita, minggu ini kamu selesai ujian kan? Kamu gak usah menunggu hasilnya, serahkan ke pak Ridwan saja! Kamu langsung menemui suamimu!”


“Tapi ma, apa harus berpakaian begini?” protesnya


“harus dong! Masa kamu mau ketemu suamimu pakai piyama hello kitty? Memangnya kamu masih anak-anak?”


“Kalau Daniel gak suka gimana?”


“Menerkam? Memangnya dia singa, mama jangan nakutin Rita begitu dong!” Rita mulai merasa takut


“Rita, sekarang kamu sudah dewasa, sudah menjadi istri orang! Sudah bukan tanggung jawab mama, Andi atau Kakek, kamu sudah milik suamimu! Kamu harus melayaninya dengan baik !”


“Memangnya Rita pelayan?”


“Bukan begitu sayang!, Kamu kan sudah jadi istrinya, sudah kewajibanmu membuatnya senang! Nanti juga kamu senang! Coba deh! Belum merasakan saja!”


“Tapi ma, nanti kalau ketemu Daniel Rita harus ngapain?”


“Sebelum ke apartemennya, kamu ke salon dulu ya, minta perawatan tubuh! SPA, massage pokoknya sampai tubuhmu wangi gak kecut!, jangan lupa facial, supaya wajahmu cerah!”


“Udah gitu saja?”


“Iya , nanti setelah berduaan, Daniel tahu deh harus ngapain!”


“Tapi ma, baju ini gak sopan banget!”


“Kan di kamar Cuma ada kalian berdua, ngapain sopan-sopan segala!”


“Apa Rita perlu pakai jaket ma?”


“Memangnya kamu mau kemping? Sudah deh! Ikutin kata mama saja!, setelah mandi kamu pakai lingerie itu ya?”


“Sesudah makan malam apa sebelum ma?”


“Sesudah makan malam! Kamu kan bersiap-siap tidur, biasanya kamu pakai piyama, sekarang kamu pakai itu!”


“Gak apa-apa nih ma? Kog Rita jadi takut ya?”


“Takut kenapa?”


“Takut Daniel gak suka!”


“Coba dulu!, itu victoria secret, mama juga sudah memesan bra dan underwearnya! “


“Mama gak usah repot deh!, biar Rita saja yang beli underwearnya!”


“ya nantilah! Sudah dulu ya Rit, mama dipanggil nih, untuk memberi penghormatan!” Ratna menutup teleponnya


Rita melihat lingerie itu, kemudian ia menaruhnya di lemari pakaian, ia berniat membawa piyama kesukaannya.


Sehari setelah ujian berakhir, ia melakukan packing untuk tinggal di Singapura selama beberapa minggu. Ia melupakan pesan mamanya, ia memasukkan beberapa piyama kesayangannya dan jaket dari berbahan coduray. Mario mengetuk pintu kamarnya


“Woy Ritong! Dipanggil kakek tuh! Dia mau ngomong!”


“sebentar!, Rita menutup kopernya, kemudian meninggalkan kamarnya. Diam-diam Mario membuka kopernya, kemudian melihat isi koper Rita


“Ah benar juga Tante Ratna, si Ritong bukan bersiap bulan madu!, ini mah kemping!” gumamnya. Dengan segera ia mengambil semua piyama kesayangan Rita juga jaket coduraynya, kemudian ia memasukkan lingerie yang berada di dalam lemari pakaian Rita, kemudian ia bergumam


“Lo akan berterima kasih sama gue Ritong!” ujar Mario pelan, ia kembali menutup koper Rita seperti semula, kemudian keluar dari kamar Rita.


Rita yang baru kembali dari ruang kerja kakeknya tidak curiga Mario telah mengganti piyamanya dengan Lingerie, dengan santai ia menarik kopernya dan menggendong tas ranselnya


“Mau gue bantuin gak?” Mario menawarkan bantuan


“Nih!, Rita memberikan ranselnya yang berat, tetapi Mario memilih koper yang bisa ditarik

__ADS_1


“ini saja ah!” ujarnya tersenyum


“Sialan lo! yang berat itu ini!”


“Lagian yu sih! Mau ketemu laki apa mau perang! Kok bawa ransel , warnanya hijau army lagi!”


“apa gue pindahin isinya ke koper ya?” Rita melepaskan tas ranselnya, Mario takut Rita membuka kopernya, kemudian ia mencegahnya


“Sini deh Ai saja yang bawa!” Dia menggendong ransel itu, sementara Rita menyeret kopernya


“Lo baik-baik ya di sini sama kakek!, temenin kakek kalau sore! Dia tuh senang berkuda." pesan Rita


“yeay Nyonya!, kemarin yu sudah bikin daftar panjang Do and Don’t untuk Ai kan!, percaya deh! Oke! Nanti balik lagi bawa ponakan ye!” ujarnya


“Ponakan? Ponakan sape?” tanya Rita heran


“Ah sudahlah!, Amin sudah siap tuh!” Rita memberikan kopernya kemudian masuk ke dalam mobil, Mario membisiki Amin sesuatu, Amin mengangguk mengerti dan memasukan ransel Rita ke bagasi


“Eh, kok taruh di bagasi?” tanya Rita heran


“Ini kan mobil sedan non!, jangan taruh di depan norak!” Mario ikut masuk ke dalam mobil


“Eh lo ikut O?”


“Ikut dong!, Ai ini kan dekorator merangkap ajudan! Ai gak mungkin membiarkan anak eh cucu bos sendirian! Berangkat min!” aba-aba Mario, mobil pun meninggalkan rumah besar menuju bandara.


Sampai di bandara, Mario menaruh ransel dan koper masuk ke bagian bagasi, sementara Rita check in tiketnya


“Eh ranselnya? Kok masuk bagasi?”


“Gak ada alat elektronik kan? Laptop atau tablet?” tanya Mario


“Gak ada kan sudah ada ini!” Rita memakai ponsel Android terbaru yang bisa dilipat dan dibuka menjadi tablet


“ya sudah!, ransel itu terlalu berat, yu duduk manis saja di pesawat okey?”


Pengumuman agar para penumpang masuk pesawat telah berkumandang, Rita berpamitan dengan Mario


“Makasih ya O! Kita benar-benar jadi saudara!” Rita memeluk Mario, yang terisak-isak


“Hati-hati ya Rit!, sering kabarin Ai di sini!” isaknya, orang sekitar banyak yang heran, karena biasanya yang terisak perempuannya, ini malah sebaliknya


“Hush! Cep...cep...sebulan lagi gue balik kok! Pada ngeliatin tuh!” Rita berbisik malu, ia pun berangkat meninggalkan Mario yang masih terisak


“Selamat tinggal cintaku!” gumamnya dengan air mata berlinang


Sembilan puluh menit kemudian pesawat Rita tiba di bandara Changi, Daniel menjemputnya dengan senang, ia memeluk Rita dengan erat! Tidak sabar untuk membawanya ke apartemennya.


“Kamu pindah apartemen Niel?” Rita melihat ke luar jendela


“Iya, aku minta di lantai paling atas, lebih luas tempatnya” Daniel memegang tangan Rita


“Kamu sudah makan Niel? Aku lapar!”, mereka berhenti di restaurant cepat saji. Daniel memesan beberapa porsi burger dan kentang goreng untuk dibawanya pulang.


“Kita gak makan di sini?” tanya Rita heran


“Makan di mobil saja!” ujar Daniel


Rita menyantap burger dan kentang gorengnya dengan lahap, beberapa menit kemudian mereka telah sampai di apartemen baru Daniel


“Wah kamu benar Niel lebih luas! Pemandangannya lebih bagus! Kamu menyewanya lebih mahal?” Daniel mengangguk tersenyum, ia meletakan koper dan ransel Rita di walking closet


“kamu bisa merapikan pakaianmu!”


“Iya!” Rita masih mengagumi pemandangan di luar, Daniel membaca pesan di ponselnya


“Ah sial! Keluhnya!” ia menghampiri Rita


“Sayang, aku harus kembali ke kantor, pak Radian datang”


“Aku harus menemui om Radian?”


“Gak usah!, semoga dia cuma sebentar!, aku lihat jadwal tour Blackpink sangat padat, ia akan mengikuti jadwal itu! Aku pergi dulu ya!” ia mengecup kening Rita, kemudian ia pergi.


Rita mengingat pesan mamanya, ia mengambil tasnya kemudian pergi ke salon untuk perawatan tubuh. Ia selesai perawatan di sore hari, kemudian kembali ke apartemen. Ia melihat Daniel sedang tidur di sofa


“Sayang! Kamu sudah makan?” tegurnya


“Hah? Belum! Kamu habis dari mana?”


“Salon! Tadi aku di massage”


“Owh, kamu bawa apa?”


Rita menunjukkan 2 paket masakan Jepang, mereka makan dengan lahap


“Bagaimana pertemuan dengan Om?”


“Beliau ngambek! Karena tidak diundang! Aku bilang ini dadakan!”


“Apa dia mau mengerti?”


“Entahlah, dia hanya diam saja, bahkan mengucapkan selamat saja tidak!” keluh Daniel, ia mengingat wajah kesal bosnya


Ting! Notifikasi dari m-banking Rita, Radian mengiriminya uang sebagai hadiah pernikahan


“Sepertinya beliau punya cara sendiri untuk mengucapkan selamat!” Rita menunjukkan jumlah transfer


“10 ribu dolar? Beliau sangat dermawan!” akhirnya Daniel bisa tersenyum lega


“Aku mau berganti pakaian tidur! Ini sudah malam” Rita ke kamar mandi, sebelumnya ia dan Daniel sholat Isya secara berjama’ah, Daniel telah mahir sholat dan hapal beberapa surat pendek.


“Aku duluan!”Daniel berlari ke kamar mandi untuk gosok gigi dan membersihkan diri, setelah itu giliran Rita, betapa kaget dirinya, piyama kesayangannya berganti dengan 5 lingerie seksi.


“Waduh gawat!” teriaknya tanpa sadar


“Kenapa ?” tanya Daniel dari ruang tidur


“Enggak apa-apa!" jawabnya


" ini pasti kerjaan si O nih! Dia kaki tangannya mama!” keluh Rita, tapi ia teringat video yang ia lihat di ponsel sitaan, pemeran wanitanya juga memakai lingerie.


Ia mencoba lingerie berwarna hitam, kemudian ia melihat tampilannya di cermin besar yang terpampang di walking closet.


Daniel penasaran karena Rita tak kunjung keluar setelah berteriak tadi, ia tertegun melihat Rita mematut diri di depan cermin memakai lingerie hitam seksi


“Kamu gak suka ya?” tanya Rita malu


“Suka sekali!” Daniel menghampirinya lalu mencium bibir Rita dengan intens kemudian menggendongnya ke ranjang, merekapun melakukan malam pertama yang tertunda..

__ADS_1


_Bersambung_


__ADS_2