
Tak terasa sudah dua minggu mereka berada di Kanada, Rita dan keluarganya sudah terbiasa dengan suasana di rumah dan lingkungan sekitar rumahnya.
Anak-anak selalu berenang di pagi hari, Rita membiarkan agar nafsu makan mereka bertambah. Sambil kuliah online dan mengurus D'Ritz dari jauh ia juga memperhatikan tumbuh kembang anak-anaknya.
"Sayang, aku ingin sus Rini kesini, Rayya semakin besar, suster Eva tidak bisa mengawasi Ranna dan Rayya bersamaan. Raffa memonopoli sus Erni." Rita melakukan VC saat jam makan siang.
"Bukannya sus Rini mau konsentrasi sama keluarganya?"
"Bukan sus Rini yang Jakarta, tapi yang Singapura, aku ingin dia mendisplinkan Ranna. Eva takluk sama Ranna, katanya gemoynya maksimal jadi dia gak bisa tegas"
"Sus Rini? Apa dia bisa? Anak-anaknya gimana?"
"Tadi dia menghubungi ku meminta pekerjaan, rumah ini sangat luas aku pikir anaknya bisa tinggal bersama kita"
"Berapa usia anak-anaknya?"
"Yang kecil 10 tahun, yang besar 12 tahun. Mereka tidak ada keluarga lagi di Singapura"
"Tapi Yang, apa nanti gak merepotkan dia, harus mengasuh Ranna juga memperhatikan anaknya? Belum lagi masalah ijin tinggal di sini, sebenarnya itu bisa aku urus. Hanya saja aku bingung dengan anak-anak nya"
Rita terdiam, tidak pernah terpikirkan olehnya.
"Sayang!" Panggil Daniel
"Ya?" Rita tersadar dari lamunannya
"Begini deh, biar aku pikirkan dulu baiknya gimana. Ini bukan masalah gak mau bantu dia, tapi aku gak mau mengasuh Ranna hanya menjadi sambilan buat dia."
"Baiklah, aku gak kepikiran kesana. Oh iya, siang ini aku mau mengajak anak-anak melihat sekolah. Kemarin sepulang belanja aku melihat sekolah untuk toddler, aku ingin memasukkan anak-anak sekolah supaya gak main tablet terus di rumah"
"Rayya juga sekolah?" Daniel selalu tersenyum jika berhubungan dengan Rayya.
"Nanti aku lihat deh, tapi dia memang sudah ingin sekolah. Sus Eva bilang dia sudah mahir membedakan bentuk benda. Raffa yang mencontohkannya"
"Biasanya ada trial nya kan? Coba saja dulu kalau anak-anak suka lanjutkan."
"Aku pikir juga begitu, baiklah sayang lanjutkan makannya ya?" Rita hendak menutup telponnya
"Eh Rit!"
"Ya?"
"Kita belum melanjutkan yang di garasi itu" bisik Daniel, Rita tersenyum
"Iyaa..nanti yaa..kamu jaga kondisi supaya gak kecapean, dua minggu ini kamu langsung mendengkur begitu kepala nempel di kasur"
"InsyaAllah, aku juga masih mempelajari di sini dan mengenal rekan-rekan kerja ku, jadi lelah rasanya otak ini"
"Aku mengerti sayang, jangan lupa sholat ya!"
"Iya! Sampai nanti di rumah!" Daniel menutup VC nya dan melanjutkan makan siang. Dia selalu membawa bekal dari rumah.
"Lan, bos baru kita jarang terlihat di ruang makan ya?" Tanya salah satu staf pada Allan.
"Pak Daniel membawa makan siang dari rumah, dia takut di sini gak halal. Tercampur dengan masakan lain" jawab Allan enteng
"Halal? Itu apa?"
"Halal itu tidak mengandung Babi dan turunannya, lemak, minyak, atau bumbu yang ada alkohol nya. Beliau seorang muslim"
"OOO..aku pikir hanya Yahudi saja yang makanan nya seperti itu"
"Bukan, muslim juga"
"Kamu repot gak Lan?"
"Baru dua minggu aku membantunya, belum ada tuntutan macam-macam, kelihatannya beliau juga sedang menyesuaikan diri di sini"
"Kelihatan nya kamu menyukai bos mu!"
"Apa iya?"
"Biasanya para asisten curhat betapa menyebalkan bos mereka, tapi kamu tenang-tenang saja"
"Kan baru dua minggu, pak Daniel sangat tepat waktu, aku menjemputnya, ia sudah siap. Selain dia, aku juga di sambut anaknya. Rumah pak Daniel selalu ramai. Anak-anak nya sangat ramah dan lincah."
"Anaknya ada berapa?"
"3 mau 4, Bu Rita sedang mengandung anak ke4"
"Rita? Itu nama istrinya?"
"Iya masih muda dan cantik, usianya 22 tahun kalau gak salah"
"Pak Daniel usianya berapa?"
"Seingat ku di CV nya 31 tahun"
"Hah 31 tahun? Aku sudah 35 dan masih bawahan" keluhnya
"Kamu beda genre! Aku dengar dari orang HRD, pak Daniel itu dulu pernah bekerja di Dar.Co,"
"Dar,co? Darmasyah,Corp?"
"Bukan! Darmawan Corp, yang besar itu lho! Musuh bebuyutan Lexi."
"Kenapa pak Daniel pindah ke musuh? Apa dia kecewa dengan Dar.Co? Aku dengar kerja di situ sulit, kalau bisa masuk, terima posisi apa saja dan ditempatkan dimana saja asal bisa kerja di situ"
"Kok kamu tahu?" Tanya Allan
"Sepupuku berhasil lolos ujian dan di tempatkan di Dar.co cabang Paris. Dia sangat senang sekali, gajinya memang tidak tidak sebesar di sini tapi hidup mu ditanggung perusahaan, jadi gaji mu utuh "
"Oh begitu, kenapa kamu gak melamar ke situ?"
"Sudah! 5 x malah, sejak lulus kuliah gak diterima, akhirnya aku menyerah dan melamar kesini dan di terima"
"Masuk kerja di sini juga sulit kan? Apa lagi bos kita benar-benar mendidik di alam terbuka"
"Iya memang, kerja di sini gaji besar, tenaga yang dikeluarkan juga besar. Aku sempat mau menyerah saja ketika di gunung dulu"
"Oh gunung yang malam-malam itu ya? Terus kenapa gak menyerah?"
"Seingat ku ada seorang Korea yang menyemangati ku, dia juga membantu ku berjalan sampai peristirahatan, hebatnya dia lanjut terus."
"Nah, itu sebabnya kamu di posisi ini, menurut HRD, sir Alec menempatkan karyawan sesuai posisi yang dia capai ketika mendaki. Itu melambangkan daya tahannya menahan semua rintangan!"
"Kamu sendiri?"
"Oh kalau aku gak melamar lewat jalur itu"
"Memangnya ada jalur lain?"
"Ada dong, aku dulu melamar posisi HRD , kalau posisi itu aku gak perlu melewati itu semua"
"Enak banget! Tapi kenapa kamu bisa berakhir menjadi asisten?"
"Aku juga gak ngerti, aku hanya menerima penugasan saja, tapi dalam kontrak kerja ku, aku harus melayani bos ku 24 jam baik urusan kantor maupun urusan rumah yang menjadi concern bos ku harus ku tangani. Ponsel ku gak boleh Off. Sekali saja ada komplain dari bos, aku akan digeser menjadi staf biasa, dan bernasib seperti kamu"
"Seperti aku?"
"Iya, selalu di tempa di alam setiap 4 bulan sekali"
"Yah..aku cukup bersyukur setidaknya kegiatan naik gunung itu membuat fisik ku terlatih baik"
__ADS_1
Selesai makan siang Allan kembali ke ruangannya. Ia mencari Daniel untuk menyampaikan jadwal kerja berikutnya, ia melihat Daniel sedang sholat di pojok ruangannya. Ia kembali ke ruangannya, setelah beberapa menit ia kembali.
"Ah..Allan, kebetulan. Tolong cari kontrak kerja ku, ada beberapa pasal yang aku lupa"
"Baik pak!" Allan ke ruangannya dan mencari di lemari arsip. Ia kembali dan memberikan ke Daniel
"Setelah ini akan datang dari divisi perencanaan pak!"
"Perencanaan? Berikan aku struktur organisasi perusahaan di sini, aku belum hapal divisi-divisinya"
"Baik pak!"
Allan mengirimkan file struktur perusahaan ke tablet Daniel yang baru.
"Kalau kontrak kerja ku gak dalam bentuk digital?"
"Belum discan pak, "
"Bisa tolong lakukan sekarang? Aku sudah terbiasa dengan digital, kalau kertas tulisannya tidak bisa diperbesar"
"Baik pak!"
Setelah beberapa saat Daniel menerima file di tablet nya.
"Ke ruangan ku Al!" tulis Daniel ke ponsel Allan
"Ya pak?"
"Duduk!"
"Hmm ..jujur saja aku butuh waktu untuk mempelajari semuanya, walaupun sudah dua minggu di sini tapi aku merasa semuanya tidak tersusun dengan rapi."
"Bagaimana pak?"
"Coba kamu tanyakan ke divisi yang nanti aku temui, apa yang akan mereka laporkan. Minta file laporannya ke mereka dan kirimkan dulu pada ku, sebaiknya tunda dulu pertemuan dengan mereka sampai aku mempelajari laporannya "
"Baik pak!"
"Eh Al!"
"Ya pak?"
"Apa aku bisa pulang lebih awal hari ini?"
Alan tertegun heran.
"Ehmm...pak Anda kan pemimpin tertinggi di kantor ini jadi terserah Anda"
"Begitu ya?" Daniel berpikir sejenak,
"Ya sudah deh, aku tunggu laporan divisi itu ya?"
"Baik pak!" Allan bingung dengan bos barunya.
Malam harinya, selesai sesi bercinta, Daniel melingkarkan tangan nya di perut Rita tertutupi selimut.
"Sebenarnya tadi siang aku mau pulang cepat, apalagi Allan bilang, Anda bos tertinggi di sini..jadi terserah Anda!"
"Terus kenapa gak pulang cepat?"
"Aku jadi ingat yang kamu bilang, pemimpin itu harus mencontohkan , jadi aku urungkan niat ku"
Rita mendekatkan wajah suaminya ke wajahnya.
"Aku senang kamu mengingat perkataan ku!"
"Tentu saja! Kamu selain istri , ibu anak ku juga partner kerja ku!"
"Hmm...berarti tugas ku banyak, kok transfernya cuma sekali?"
"Hehehehe...bercanda!! Kamu tuh sensi banget deh!" Rita memeluk suaminya manja.
"Menurut mu aku harus mengadakan pertemuan dengan semua kepala divisi?"
"Perlu dong! Biar mereka tahu siapa yang bertanggungjawab. Sir Alex mempercayakan Kanada sama kamu. Makanya dia memberikan semua yang terbaik untuk kita."
"Memang! Sir Alec gak mau rugi ya?" Daniel merangkul istrinya.
"Kamu juga hati-hati ya bertindak, maksud ku tidak semua orang itu jinak"
"Jinak?"
"Maksud ku tidak semua orang itu bisa melakukan sesuai yang kamu minta"
"Memang! Terimakasih sudah mengingatkan!" Daniel mencium pipi istrinya
"Sebenarnya aku ingin sekali lagi tapi besok aku harus meeting dengan semua kepala divisi"Daniel hendak bangun dari ranjang
"Nanti dulu! Kamu harus membereskan divisi yang di rumah dulu!" Rita menarik suaminya kembali ke ranjang, mereka kembali bercinta.
Esok paginya, Daniel tampak segar dan bersemangat,
"Pagi semuanya !" ia mengusap kepala satu per satu anaknya saat sarapan pagi.
"Pagi Pi!, Mami mana?" Tanya Ranna
"Mami lagi mandi, sebentar lagi turun, kalian ke sekolah hari ini?"
"Yaa!" Ranna dan Raffa teriak bersamaan
"Yaaaa!" Rayya ikut menaikan tangannya , ia terlambat menjawab
"Adek juga senang sekolah?" Tanya Daniel,
Rayya mengangguk.
"Kalian saling menjaga ya? Kak Ranna jaga Raffa dan Rayya, Raffa jaga kak Anna dan Rayya"
"Ayya jaga siapa Pi?" Tanya Raffa
"Dek Rayya kan masih kecil"
"Tapi kan ada sus Eva, dek Ayya sama susEva!" Protes Ranna
"Memangnya kakak gak mau jaga adek?" tanya Daniel
Ranna diam saja.
"Dek Affa kita tukelan aja gimana?"
"Tukelan?"
"Iya, Affa jadi anak duluan kakak jadi anak belakangan " ujar Ranna
"Gak mau ah! Gak usah tukelan, Abang juga jaga kak Anna telus" jawab Raffa santai
"Ih..kapan tu??"
"Seling! Tanya aja sus Elni, ya sus?"
Suster Erni yang turut sarapan bersama mereka mengangguk.
"Pagi!!" Rita tampak segar, ia memakai setelan berwarna hijau muda kesukaannya, make up tipis, tampak cantik.
__ADS_1
Daniel melihatnya dan terkesima
"Eh, kamu mau kemana?"
"Antar anak-anak daftar sekolah"
Daniel bangkit, lalu menariknya ke ruangan lain.
"Papi kenapa Dek?" Tanya sus Erni
"Papi gak mau mami cantik, dia minta mami ganti , mami gak mau, nanti papi ikut kita ke sekolah" ujar Raffa datar sambil memakan roti toast isi daging panggang dan telur.
Tak lama kemudian Daniel dan Rita muncul di dapur
"Baiklah, yuk kita berangkat ke sekolah kalian!" Ujar Daniel, kedua suster terbengong-bengong, karena persis sekali apa yang dikatakan Raffa.
"Emir aku bawa sarapan dan bekal, aku makan di mobil saja! Oh sarapan untuk ibu juga!"
"Baik pak!"
Emir dan sous chef segera menyiapkan perbekalan untuk Daniel dan Rita. Tak berapa lama kemudian Allan datang.
"Allan! Kita ke sekolah anak-anak ku dulu!" Ujar Daniel, anak-anak masuk ke mobil dengan riang, begitu juga dengan baby sitter.
wajah Rita tampak sebal dengan kelakuan suaminya. Jarak rumah ke sekolah hanya dua puluh menit, mereka mendaftarkan ketiga anaknya.
Ranna dan Raffa berada di kelas play group sedangkan Rayya di kelas toddler. Semua guru di situ perempuan, hanya satpam dan janitor saja yang lelaki, hal itu membuat Daniel tenang. Setelah mendaftar, mereka juga mampir ke klub karate untuk mendaftarkan menjadi murid di situ, setelah itu pulang.
Daniel mengantar istri dan anaknya kembali ke rumah.
"Dah papi!!!" Teriak anak-anak
"Dahhh!" Mobil menjauh, Rita yang kesal langsung masuk ke rumah tanpa say good bye pada suaminya. Ia terlihat sangat kesal. Ia langsung duduk di sofa. Ranna dan Raffa mendekati nya
"Mami, boleh belenang lagi?" Tanya Ranna
"Sus, berenang hanya satu jam ya, sudah begitu main di dalam rumah saja!" Ujar Rita kepada para suster
"Baik Bu!" Mereka meninggalkan Rita sendirian yang masih tampak kesal.
"Ting!" Bunyi notifikasi di ponselnya
"Masih marah?" Tanya Daniel
"Au ahh!!" Jawab Rita
"Kamu kalau pergi jangan terlalu cantik! Apalagi gak ada suaminya! Aku gak tenang tahu!" Ketik Daniel
"Kamu tuh overthinking, memangnya aku mau ngapain? Masa aku pakai baju rombeng dan wajah polos saja? Apa kamu gak malu istrinya kelihatannya jelek?" Protes Rita
"Baju mu gak rombeng, tapi make up mu berlebihan "
"Aku cuma pakai bedak dan lipstik saja!"
"Masa sih? Kok cantik banget?"
Rita kesal sekaligus senang
"Jadi gimana? Aku gak boleh kemana-mana?"
"Boleh, kamu pakai lipstik warna bibir saja, jadi gak keliatan kinclong!"
"Kamu merepotkan sekali sih!"
"Kamu tuh yang bikin aku repot!"
"Sudah ah!"
"Sampai nanti sore ya? Muachh!" Daniel mengirimkan emoticon bibir sambil tersenyum.Allan memperhatikan bosnya
"Saya sudah mengirimkan undangan kepada kepala divisi pak,"
"Huh? Oh iya!! Jam berapa pertemuannya?"
"Karena ini hampir jam makan siang, jadi setelah jam makan siang"
"Iya! " Daniel membuka tablet kerja dan mempelajari laporan divisi yang kemarin.
Sementara saat jam istirahat para suster.
"Pak Daniel bucin banget ya?" Ujar sus Eva
"Memang! Aku pernah dengar, pak Daniel insecure dengan jarak usianya dengan Bu Rita"
"Mereka beda berapa tahun?"
"Sembilan tahun!"
"Oo..itu gimana waktu pacaran nya ya?"
"Mereka sempat putus beberapa kali, itu menurut versi Bu Rita yang diceritakan ke pak Ridwan. Tapi menurut pak Daniel cuma sekali"
"Sekali? Kamu dari?"
"Cerita pak Dickens. Setelah putus itu, lalu nyambung lagi pak Daniel langsung mengajak menikah"
"Kenapa bisa putus? Kalau keduanya saling bucin?" Tanya Eva penasaran
"Gak jelas kabarnya, tapi yang penting ending nya."
"Memang, dengan jarak usia anak yang terlalu dekat seperti ini terlihat banget ya mereka menggebu-gebu "
"Kita harus menjaga rahasia majikan kita, mereka baik banget kan sama kita? Terserah mereka mau ngapain juga toh sudah suami -istri" ujar Erni
"Memang! Tapi lucu juga cara Raffa menjelaskan ke kita tadi"
"Sepertinya Raffa itu jenius, tapi dia menyembunyikan kejeniusannya"
"Kamu tahu dari mana?"
"Dia sudah bisa baca, ia belajar sendiri dari YouTube .Aku melihatnya ia membacakan buku cerita ke Rayya dan semua yang ia baca benar!"
"Oh ya? Apa Bu Rita dan pak Daniel tahu?"
"Kayaknya enggak, sepertinya Raffa takut mereka mengistimewakan dirinya. Raffa ini sangat menjaga perasaan kakaknya lho!" Ujar susErni
"Kamu paham sekali?"
"Sudah hampir 2 tahun aku mengasuh nya, aku memahaminya "
"Kalau Ranna gimana?"
"Yang aku tahu dari susRini, dia itu lebih pada aktivitas fisik. Semua olahraga bisa dia kuasai dengan cepat, tapi kalau pelajaran rata-rata seperti anak seusianya "
"Menarik ya, kedua anak itu"
"Kamu harus memperhatikan Rayya lebih intens, kelebihan dan kekurangannya. Meskipun kamu gak punya latar belakang mengasuh tetapi anggap saja Rayya itu harta mu! Kalau mereka sudah percaya, apapun mereka bisa usahakan untuk kamu"
"Apa iya begitu?" Eva terlihat ragu
"Kalau kamu asal-asalan, dengan mudah mereka mengganti mu, ingat nih kalau kamu punya catatan jelek di sini, kamu akan susah meneruskan di bidang lain di rumah besar!" Ujar Erni mengingatkan
"Ah iya benar juga!"
__ADS_1
Sejak itu Eva lebih memperhatikan anak majikannya.
_bersambung_