Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)

Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)
Chapter 332: Kehidupan Rita di semesta yang lain


__ADS_3

Dari penulis:..


Haii...untuk yang sudah membaca chapter 96, Rita di semesta yang lain, chapter ini merupakan cerita kehidupan Rita di semesta yang lain..selamat membaca...


Rita terbangun di suatu tempat


"Tempat apaan nih? Rumah sakit?" Rita bangun dari ranjangnya dan melihat sekeliling


"Aduhh..kepala gue sakit" ia ingat baru saja jatuh dari palang keseimbangan.


Seorang suster datang ke kamarnya


"Mba, uji toxic di darahnya sudah keluar, nanti dokter kemari untuk memberitahu oh iya kakak mba masih di ruangan lain"


"Uji toxic apaan?" Rita bangkit tiba-tiba dari ranjangnya


"Aduuhhh.!!" Ia jatuh dari ranjangnya


"Hati-hati dong mba!" Suster membantunya bangun


"Kepala saya sakit suster!"


"Tunggu sebentar ya?" Suster keluar ruangan, tak berapa lama kemudian ia datang dengan seorang dokter.


"Dek Rita, hasil uji darah anda bersih"


"Tapi kepala saya sakit dokter"


Dokter memeriksa keadaan Rita.


"Kepala Anda akan di CT Scan, apa ada wali yang bisa dihubungi?"


"Itu dokter, yang ada di ruangan lain" suster berbisik pada dokter


"Oh begitu,..baiklah..nanti suster ini akan membawa Anda untuk CT Scan" ujar dokter


"Terimakasih dokter!"


Rita kembali berbaring di ranjangnya, tanpa ia sadari ia kembali tertidur ketika terbangun ia kembali telah berada di dalam kamarnya.


"Eh..kok sudah di sini?" Ia seperti kebingungan.


"Sudah berapa lama gue tidur ya?" gumamnya. Ia bangun dari tempat tidurnya lalu duduk di meja belajar. Ia melihat susunan kamarnya agak berubah.


"siapa yang merubah nih?" gerutunya, sambil membereskan barang-barang ke tempatnya semula. Ia melihat meja belajar nya agak bergeser.


"eh... jangan-jangan.." dengan segera Ia membuka laci khusus di meja belajar


"Eh, siapa yang buka diary gue?" Gumam nya heran. Ia membaca isi diary nya. Di situ ia menemukan pesan dari Rita di semesta yang lain. Semula Rita tidak percaya apa yang baru ia baca tapi memori ponselnya selama beberapa hari dia tidak mengingat menunjukkan foto-foto selama Rita semesta lain berada di kamar dan membuat dirinya percaya.


Ia menangis, ketika tahu dirinya sudah putus dari Tommy.


"Ah sialan! Dia yang berpindah hati kenapa gue yang kena!" Makinya. Kemudian ia memikirkan hubungan LDRnya dengan Tommy,


"ya sudahlah..kalau gue dan Kaka Tommy jodoh pasti akan bertemu lagi" gumamnya sendirian


"Ting!"


Bel tanda makan malam berbunyi,


dengan segera ia menutup bukunya lalu keluar dari kamar dan menuju ruang makan. Sesampainya di sana baru dirinya yang berada di ruang makan. Peralatan makan sudah tersedia di atas meja,


Ia mengambil piring dan mengisinya dengan makanan.


"Malam sayang!" Papa Eka mencium kepala Rita


"Malam Pa!, Rita makan duluan ya?"


Eka mengangguk.


Mereka makan malam dengan tenang.


"Rita, kamu mau sekolah di luar negeri?" Tanya Eka


"Luar negeri nya dimana pa?"


"New Zealand, kamu bisa tinggal dengan kakek Darmawan"


"Kenapa tiba-tiba Rita dikirim ke luar negeri pa?" Tanya Ratna yang tiba di ruang makan bersama Andi, mereka menempati tempat duduk masing-masing, para staf dapur menyediakan makanan untuk mereka.


"Papa gak suka Rita di sekolah itu"


"Bukannya kasus pembullyan itu sudah selesai pa?" Tanya Andi


"Sudah selesai secara kekeluargaan, itu yang papa gak suka. Anak-anak itu sudah bertindak di luar batas, seharusnya ada tindakan hukum" ujar Eka kesal


"Masalahnya yang terluka mereka pa, Rita sendiri baik-baik saja" ujar Ratna menimpali.


"Rita mau deh pa!" Rita bersemangat


"Kenapa tiba-tiba?" Tanya Andi heran


"Rita ingin suasana baru kak!" Jawab Rita


"Mau move on dari Tommy ya?" Tanya Andi, Rita terdiam, ia pikir yang terjadi beberapa minggu ini biarlah menjadi rahasianya.


"Yakin nih Rit? Nanti papa bilang ke kakek, beliau pasti senang cucu perempuannya tinggal sama beliau"


"InsyaAllah yakin pa!"


"Kamu gak apa-apa? Anak perempuan satu-satunya dikirim jauh ?" Tanya Ratna


"Gak apa-apa, nanti kita kan bisa nengokin dia, dari pada di sini, anakku bisa cacat" ujar Eka geram


"Andi pindah juga pa?"


"Terserah kamu, kalau mau kuliah di sana"


"Hmmm ...Andi pikir-pikir dulu deh"


"Yah..kalau kalian ke Auckland, mama sepi dong di sini"


"Mama kan sibuk dengan perusahaan, dengan kita di sana mama hanya ngurusin papa saja" ujar Andi


"Jadi kamu mau ke Auckland Di? Katanya mikir dulu kok langsung bilang begitu?" Tanya Ratna


"Iya deh Pa, Andi mau kuliah di sana saja!"


"Kalau begitu, nanti papa bilang ke kakek. Kalian urus administrasi di sekolah kalian masing-masing!"


"Iya pa!" Jawab Andi dan Rita kompak.


Sebulan kemudian Rita dan Andi berangkat ke Auckland, Ratna dan Eka ikut mereka ke sana.


"Assalamualaikum!" Sapa mereka ke Kakeknya


"Wa'alaikummussalam..ayo masuk!!!" Darmawan dengan gembira menyambut keluarga anak lelaki satu-satunya


"Kakek!" Rita dan Andi menyalami kakeknya


"Andi, Rita, kakek kangen kalian!" Darmawan memeluk cucunya satu per satu.


"Papa!"Eka dan Ratna bergantian menyalami


"Eka, Ratna! Ayo masuk! Aku sudah menunggu kalian!"


"Ibu mana pa?" Eka menanyakan Sinta ibu tirinya


"Dia lagi di Paris menemani Metha untuk persiapan pernikahan"


"Nikahnya di Paris pa?" Tanya Ratna


"Enggak! Di Cianjur, mereka ke Paris untuk memesan gaun pengantin" jawab Darmawan


"Wah..kayaknya bakal mewah pernikahannya" ujar Ratna

__ADS_1


Mereka duduk di ruang keluarga yang luas.


"Kakek sudah merenovasi kamar kalian"


"Beneran Kek?" Tanya Rita bersemangat


"Bener dong, lihat saja sendiri, di lantai 2!"


Rita dan Andi berlari ke lantai 2 menuju kamar masing-masing.


"Aku sudah mendaftarkan Rita ke sekolah di sini, sedangkan Andi akan masuk kuliah semester depan!" Ujar Darmawan


"Terimakasih pa, Eka titip anak-anak ya?"


"Jangan khawatir Ka, kamu dan Ratna kalau mau tinggal di sini lagi juga boleh..di sini rumah besar, banyak kamar!"


"Eka kan harus urus kantor di Jakarta pa!"


"Iya sih, tapi sekarang ini semua bisa dilakukan secara online! Papa mengecek semua cabang via online saja"


"Ratna mau lihat kamar anak-anak pa!" Ratna pamit, ia menuju ke lantai 2.


"Tok..tok..!" Ratna mengunjungi kamar Rita


"Masuk Ma!"


"Gimana Rit?"


"Wah...kakek benar-benar gak tanggung ma, ranjangnya luas banget ini ukuran XL lho, sudah gitu ranjang ini mengikuti bentuk tulang jadi kita nyaman"


"Kamar mandinya juga luas Rit, ada walking closetnya segala!"


"Iya ma, itu ada pantry mini, komputer, tivi layar lebar, alat olahraga di luar..ckckckck..."


"Kamu jaga diri ya Rit, kamu kan jauh dari mama dan papa, nurut apa kata kakek!"


"Iya Ma!"


"Oh iya, papa juga menyewa instruktur untuk kamu belajar bela diri"


"Bela diri apa ma?"


"Krav maga! Katanya papa mau kamu bisa bela diri!"


"Iya ma!"


"Kenapa?"


"Apanya?"


"Biasanya kamu keberatan kalau disuruh latihan bela diri? Dulu di tempat kakek Sugi kamu selalu kabur kan?"


"Rita ingin membuka lembaran baru ma"


"Eh Rit, karir kamu di senam gimana dong? Kan sayang kamu sudah banyak prestasi "


"Nanti Rita cari klub senam di sini ma, siapa tahu bisa diteruskan"


Ratna tiduran di ranjangnya Rita


"Nyaman Rit"


"Iya kan?"


"Metha belanja baju pengantin di Paris, padahal kalau pesan sama mama bisa lebih murah"


"Mungkin seleranya luar negeri kali ma!"


"Menurut mama sih bukan Metha, tapi nenek Sinta. Beliau selalu berpikir produk barat lebih bagus daripada buatan dalam negeri, padahal orang luar negeri saja mengakui produk buatan Indonesia"


"Tante menikahnya kapan ma?"


"Katanya sih 6 bulan lagi, dia sendiri yang bilang,waktu ke rumah bersama tunangannya"


"Tunangannya seperti apa ma?"


"Rita lupa ma"


"Tampan dan ganteng banget lho, orang Korea tapi besar di Kanada. Orang tuanya pemilik usaha yang cukup berhasil di Korea"


"Mereka ketemu di mana ma?"


"Daniel menjadi salah satu karyawan di perusahaan kakek mu"


"Namanya Daniel?"


"Iya, Daniel Kang, usianya beda 5 tahun dari Metha"


"Ohh..jadi brondong ya?"


"Iya, ternyata Metha seleranya brondong "


"Tapi apa gak apa-apa ma?"


"Maksudnya?"


"Tante Metha kan anaknya pemilik perusahaan, apa Daniel akan menjadi direktur kalau mereka menikah?"


"Soal itu mama mana tahu, itu urusan kakek. Setahu mama, kakek itu tidak mengangkat orang sembarangan, walaupun ada hubungan kekerabatan sekalipun. Beliau butuh seorang profesional!" Terang Ratna


"Tok..tok.." pintu kamar Rita kembali di ketuk


Rita membuka pintu kamarnya


"Silakan masuk Pa, Kak!" Eka dan Andi masuk ke kamar Rita


"Luas juga Rit, kok kakek tahu Lo suka hijau? Biasanya orang memilihkan pink" Kamar Rita ber cat hijau pastel warna kesukaannya.


"Kakek nelpon Rita menanyakan warna untuk kamar ini"


"Oo pantesan"


"Eh iya, kalian sebelum masuk sekolah dan kuliah, kalian akan intensif belajar bahasa Inggris. Kakek sudah menyewa seorang guru bahasa untuk kalian. Jadi belajar yang betul ya?"


"Siap pa!"


Rita dan Andi kini tinggal bersama kakeknya di rumah besar Auckland. Mereka mengikuti kursus bahasa Inggris secara privat dan intensif.


Selesai kursus Rita kembali ke kamarnya, ia sangat lelah. Ia berbaring di sofa besar di tengah kamarnya, di situ ada meja yang telah disediakan aneka cemilan untuknya. Rita tertidur sejenak hingga interkom di kamarnya berbunyi.


"Ya?"


"Makan malam sudah tersedia mba!" Ujar staf dapur menggunakan bahasa Inggris


"Eh,..apa kakek sudah pulang?"


"Pak Darmawan berada di Inggris sejak tadi pagi, mungkin lusa baru pulang" jawab Lee kepala pelayan.


"Oh begitu, Lee, maaf bisa antarkan makan malamnya ke kamar? Aku sangat lelah untuk turun ke bawah" pinta Rita


"Baik mba!"


Andi datang ke kamar Rita


"Rit, makan yuk!"


"Rita minta makanan di bawa ke kamar kak!"


"Eh bisa begitu ya?" Andi segera ke kamarnya dan meminta hal yang sama kepada Lee lalu ia kembali ke kamar Rita.


"Gue minta makan malamnya pindah di sini saja!"ujarnya


Rita mengangguk


"Lo mulai masuk sekolah kapan?"

__ADS_1


"Dua Minggu lagi kak"


"OOO!"


"Kakak kapan mulai kuliah lagi?"


"Sebulan lagi, kan masuk semester baru"


"Kira-kira pelajarannya susah gak ya?" Rita tampak khawatir


"Kata kakek sih, sekolah Lo itu gak ketat seperti sekolah biasa. Paling lama belajar 4 jam, selebihnya banyak ekskul"


"Ekskul?"


"Iya, Lo bisa milih ekskul sesuai minat"


"Kok kak Andi bisa tahu?"


"Kakek ngasih brosurnya,dan gue sudah browsing keadaan sekolah itu. Dari mulai sistem pendidikan, sampai kasus-kasus kalau ada. Dan ternyata bersih dari kasus pembullyan "


"Aneh, kok kakek gak kasih brosurnya ke Rita?"


"Ini permintaan papa, beliau ingin memastikan sekolah yang akan Lo masukin itu aman! Jadi beliau sudah cerewet sejak tiba di sini, gue disuruh survei ke sekolah itu"


"Survei? Kapan kak?"


"Seminggu yang lalu, nanya orang-orang sekitar. Nanya orang kantin, banyak deh dan InsyaAllah Lo aman Rit"


"Mudah-mudahan ya Kak"


"Lo gak percaya sama gue?"


"Percaya! Cuma saja yang namanya pembullyan biasanya dilakukan diam-diam, mana ada orang tahu"


"Ya mudah-mudahan sih beneran gak ada tapi kalau menurut berita yang gue baca, kasus bully di sekolah di Auckland jarang terjadi bahkan hampir gak ada. Kalaupun ada pelaku pembullyan hukumannya berat lho!"


"Permisi!!" Staf dapur datang membawa kereta makanan.


"Terimakasih!" Ujar Rita dan Andi bersamaan


"Mas Andi, mba Rita nanti kami kembali satu jam lagi untuk mengambil kereta ini"


"Iyaaa...kalau gak ada kakek, kami makan di kamar masing-masing saja, tolong bilang ke pak Lee" ujar Rita yang disetujui oleh Andi


Sementara di Paris


"Kamu di mana?" Tanya Daniel melalui telepon


"Aku di Paris bersama mama" jawab Metha


"Ngapain kamu di situ? Kok gak bilang ke Paris?"


"Aku memesan gaun pengantin"


"Jauh amat, bukannya perusahaan kak Ratna bisa membuat gaun pengantin?"


"Mama ku ingin buatan Paris"


"Kapan kamu kembali?"


"Mungkin tiga hari lagi, kenapa?"


"Aku kangen, kamu membiarkan tunangan mu sendirian!"


"Manja ah! Kamu sih kerja terus, Aku kan sudah mengajak eh kamu bilang harus kerja, daripada nungguin kamu gak selesai -selesai kerjanya lebih baik aku pergi sama mama ku"


"Aku kerja untuk membiayai pernikahan kita"


"Kamu terlalu repot, padahal papa ku akan membiayai semuanya "


"Aku gak mau begitu! Itu namanya aku memanfaatkan papa mu! Biar nikahnya sederhana tapi hasil usaha ku sendiri!" Ujar Daniel


"Eh sederhana? Apanya?"


"Pesta nya sederhana kan?"


"Di Cianjur kita menyewa gedung yang besar lho"


"Iya, tapi itu tergolong murah karena dalam rupiah, bisa terjangkau oleh ku"


"Tapi Niel, mama ku mau pernikahan kita diadakan juga di Auckland"


"Hah?"


"Iya, untuk teman-teman beliau yang gak bisa datang ke Cianjur "


"Kalau itu bisa di rumah kan? Aku bisa menyewa rumah yang agak besar untuk menyambut tamu ibumu "


"Mama sudah menyewa hotel bintang 5, beliau bahkan sudah menyewa Event Organizer untuk mengatur semuanya "


"Ckckckck...habis deh tabungan ku!"


"Kamu gak usah khawatir tentang itu! Sudah dulu ya, sepertinya aku diminta fitting baju"


"Kirim foto mu dengan gaun itu ya?"


"Maaf itu gak boleh!"


"Gak boleh?"


"Kalau calon pengantin pria melihat gaun pengantin calon istrinya, bisa-bisa pernikahan batal!"


"Ah, kamu zaman sudah modern tapi masih percaya sama mitos"


"Sebentar ma!" Metha menaruh ponselnya, ia lupa mematikan, Daniel masih menunggu.


"Siapa Met?" Tanya Sinta


"Daniel ma!"


"Ngapain dia nelpon"


"Kok ngapain? Ya nanyain tunangannya lah!"


"Memangnya dia gak percaya sama aku?"


"Bukan begitu ma! Daniel itu sayang sama Metha makanya dia khawatir"


"Lebay ah!"


"Mama kenapa sih? Dari kemarin kayaknya kesal banget kalau Metha ngomong tentang Daniel? Dia itu calon suami Metha Ma! Dia juga akan jadi anak mama!"


"Daniel memang tampan, ganteng, badannya juga bagus tapi sayang dia miskin!"


"Mama!"


"Apa mama salah? Kamu sendiri yang bilang, usaha orang tuanya Daniel di Korea tidak sebesar usaha papa mu!"


"Itu gak masalah Ma! Yang penting Daniel menyayangi Metha! Dan dia setia dan juga pekerja keras, Metha yakin kelak dia akan jadi orang sukses!"


"Huh! Jadi ceritanya kamu ingin menemaninya dari nol gitu?"


"Kenapa sih Mama sinis begitu? Seharusnya mama senang anaknya sudah laku"


"Kalau lakunya sama pengusaha sukses, mama akan lebih senang Met!"


"Pengusaha sukses belum tentu sebaik dan setia seperti Daniel!"


"Iya..iya..mama tahu! Kamu lagi kasmaran sama dia, jadi gak dengarkan kata orang"


"Kenapa sih Mama gak suka Daniel?"


"Bukannya gak suka, hanya saja selain dia gak sekaya papa mu, dia juga hanya karyawan biasa. Apa kamu gak keberatan? Selama ini hidup mu serba mewah, tapi nanti bersamanya mungkin kamu akan kesulitan karena hidup yang sederhana "


Kali ini Metha terdiam, ia tidak menjawab sementara Daniel mendengarkan percakapan anak dan ibu itu, lalu ia mematikan ponselnya.

__ADS_1


_bersambung_


__ADS_2