Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)

Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)
Chapter 236: POV Daniel (2)


__ADS_3

“Itu siapa tiba-tiba memeluk?” tanya Darmawan


“Eh, itu Arya temannya Andi. Kenapa dia bisa di sini?” ujar Sugiyono bingung


“Rita sangat populer, sudah dua lelaki memeluknya!” ujar Simon


“Huh dua orang, Siapa yang pertama?” Darmawan sangat gusar dengan para lelaki yang memeluk cucu kesayangannya


“Plak!” Radian memukul punggung Daniel pelan


“Maaf!” gumam Daniel, ia menjadi sangat cemburu melihat keakraban Rita dan Dewa.


“Aku tidak menyangka cucu ku se-populer itu, setahu ku dia tidak mudah didekati lelaki” ujar Darmawan


“Memang tidak!, para lelaki yang terlalu akrab dengannya, adik lihat sendiri bukan Rita yang memeluk tapi ia dipeluk!” ujar Sugiyono membela


“Hahaha....kurasa Anda berdua harus menjaganya lebih ketat lagi!” ujar Lucas tiba-tiba


“Itulah sebabnya ia akan kutunangkan dengan Rendy!” ujar Sugiyono, semua yang hadir kecuali Darmawan dan Radian terperanjat


“Eh Rita ditunangkan?” tanya Edward


“Iya, dengan Rendy. Dia itu salah satu peserta. Kelihatannya Rita tidak keberatan?” ujar Sugiyono lagi. Darmawan hanya diam tanpa komentar. Sementara Edward keluar dari ruangan itu, Lucas dan Simon mengikutinya.


“Apa Rita sudah tahu Pak?” tanya Radian


“Aku sih belum bilang padanya aku ingin mereka dekat secara alami. Kamu juga belum bilang apa-apa sama Rita kan Dik?”


“Aku? Belum!” jawab Darmawan


Tak lama kemudian Andi datang menghadap kedua kakeknya sambil marah-marah.


“Kek, kenapa pertandingan ku harus online? Dibedakan dengan yang lain?” tanya Andi


“Karena kondisi mu Ndi!” jawab Sugiyono


“Aku sudah kuat kok, sudah lama aku gak mengalami serangan?”


“Ya bagus, masa kamu harus mengalaminya sekarang ?” ujar kakek Sugiyono lagi


“Aku gak terima! Aku ingin pertandingan offline seperti yang lain!” paksa Andi


“Tidak Boleh!” kali ini suara Sugiyono tegas


“Iya tidak boleh! Kita gak tahu seberapa kuat jantung kamu, nanti kalau habis bertanding kamu sakit bagaimana?” ujar Darmawan menimpali


Andi semakin marah, ia meninggalkan ruangan tersebut sambil membanting pintu hingga kaca di pintu itu pecah. Dewa mengikutinya dari belakang. Radian dan Daniel meninggalkan ruangan itu karena hawa kemarahan terpancar dari ruangan tersebut.Andi dan Dewa pergi meninggalkan arena panjat tebing. Saat itu perasaan Daniel tidak karuan, ia sangat cemburu dengan kedatangan Dewa dan pertunangan Rita dan Rendy.


“Pak Radian Anda akan kembali ke kantor?”


“Iya, kamu boleh pulang , tugas kamu sudah selesai kan?” ujar Radian


“Iya pak, terima kasih!”


Radian meninggalkan arena, diikuti rombongan Lucas, sementara Daniel ingin mencari tahu tentang Dewa. Sebelumnya Daniel memperhatikan Dewa meletakkan tas ranselnya, diam-diam Daniel membuka tas ransel itu lalu mencari paspor Dewa, ia memotonya setelah itu ia letakan kembali ransel tersebut di tempat yang aman.


“Mas, ini ransel milik temannya mas Andi, tolong disimpan agaknya ia lupa membawanya” ujar Daniel menitipkan ransel milik Dewa, sementara ia mengakses informasi tentang Dewa.


“Arya Dewangga, 19 tahun. Alamat...Sukabumi. oh tempat yang sama dengan Rita tinggal dulu” gumam Andi. Daniel semakin penasaran dan ingin mencari tahu tentang hubungan Dewa dan Rita tapi ia bingung dengan siapa ia harus menanyakannya. Tiba-tiba ia mendapat ide, ia menemui Lee, kepala pelayan di rumah besar Darmawan.


“Selamat siang pak Lee?” sapa Daniel


“Selamat siang pak Daniel, semua orang masih di arena pak!”


“iya saya tahu tadi ada sedikit keributan di sana”


“Oh ya? apa pertandingannya tidak seru?”


“Justru sangat seru, kenapa Anda tidak menontonnya langsung?”


“Tugasku di sini belum selesai, tapi nanti aku bisa melihat rekamannya”


“Oh ada ya?”


“Tentu saja, pak Darmawan sangat menyukai dokumentasi, hampir segalanya ia dokumentasikan”


“Oh begitu, pak Lee Anda sangat mengenal pak Darmawan ya?”


“Tentu saja, saya bekerja di sini sejak beliau masih merintis usaha, saya melihat usahanya berkembang dan maju. Saya sangat mengaguminya. “ jawab Lee tersenyum


“oh ya bagaimana dengan cucu-cucu pak Darmawan, apa Anda mengenalnya?”


“Kalau mba Rita saya baru kenal. Ia sangat bersemangat, tomboy dan tentu saja cantik seperti mamanya”


“Memang!” Daniel tersenyum setuju


“Kalau mas Andi, saya mengenalnya sejak ia lahir, bahkan pernah ikut mengasuhnya. Kasihan anak itu harus bolak-balik Jakarta-Auckland karena kesayangan kedua kakeknya”


“Apa Anda mengenal teman-temannya Andi?”


“hmm...mas Andi jarang membawa temannya, eh kecuali ada satu temannya dari kecil kalau gak salah namanya Arya...”


“Arya Dewangga?”


“Iya betul, Arya Dewangga! Dulu mereka bertetangga, hingga mas Andi pindah ke Auckland. Mereka hilang kontak waktu itu”


“Tapi hari ini Arya kemari?”

__ADS_1


“Oh ya? hmm...setahu ku, mereka bertemu lagi secara tak sengaja. Ternyata ia kakak kelasnya mba Rita”


“Oh begitu” Daniel mendengarkan dengan serius, tiba-tiba Lee tersenyum


“Kenapa Pak? Ada yang lucu?”


“Tidak eh sebenarnya ada. Beberapa waktu yang lalu kami kedatangan rombongan biarawati dari panti asuhan. Mereka ingin mengucapkan terima kasih atas donasi yang diberikan mba Rita beberapa waktu yang lalu”


“Dia sangat darmawan ya seperti kakeknya”


“Iya, Dia menyumbangkan semua mainan yang ia menangkan saat itu untuk anak-anak panti, juga uang sebesar seribu dolar New Zealand”


“Wow, pasti pak Darmawan sangat bangga padanya”


“Tidak!”


“Huh? Kenapa?”


“Karena sejak saat itu mereka sering kemari meminta sumbangan, mba Rita dihukum karena itu”


“Oh ya? apa dia bersedih?”


“Kalau menurut cerita mas Andi, Rita menjalani hukumannya dengan pasrah.”


“Anda mendengar ceritanya dari Andi?”


“Iya, sumber gosip di sini itu mas Andi, dia sangat mengagumi adiknya dan melindungi adiknya bahkan dari perasaannya sendiri”


“Maksudnya Andi menyukai adiknya?”


“Bukan itu, maksud ku, mas Andi takut mba Rita terluka hatinya karena menyukai orang yang tidak menyukainya, begitu!”


“Apa Rita menyukai seseorang?” tanya Daniel


“Entahlah, tapi yang aku dengar dari mas Andi, sumber kekesalan mba Rita hingga ia bermain lama di playzone karena ia dimarahi di depan orang yang ia sukai. Dan sepertinya orang yang ia sukai juga marah padanya jadi dia melampiaskan dengan bermain playzone”


“Siapa yang berani memarahi cucu kesayangan pak Darmawan?” tanya Daniel heran


“Omnya, siapa ya namanya? Om yang tampan tapi kaku!” ujar Lee, Daniel hampir tergelak mendengar ucapan terakhir Lee.


“baiklah pak Daniel, saya harus kembali bertugas, sepertinya orang-orang sudah kembali ke rumah ini. Rombongan pak Sugiyono membuat rumah ini meriah, tapi juga membuat kami jadi repot!”


“Terima kasih pak Lee sudah ditemani” ujar Daniel. Ia memikirkan saat Rita dimarahi oleh Radian, di situ hanya ada dirinya, Radian dan Rita.


“Ya Tuhan!!!” tiba-tiba Daniel menyadari sesuatu, ia menutup mulutnya dan memukul-mukul dinding di dekatnya , ia terlihat gembira.


“Itu Aku!, apa Rita juga menyukai ku?” ia memikirkannya lagi, kemudian tersenyum senang.


“Aku harus memastikannya!” ia mencari Rita, tetapi rumah besar sedang dihebohkan karena kecelakaan mobil milik Andi, yang membuat Darmawan pingsan sehingga dibawa ke rumah besar untuk perawatan.


“Di sini lumayan, kalau saja kakek tidak menebang cabang-cabang pohon di dekat rumah aku pasti memanjat itu” gumamnya


“Rita! Rita!” panggil Daniel dari bawah


“Eh Daniel? “ Rita melihat ke bawah


“Bisa turun sebentar?” pintanya. Rita menuruti permintaan Daniel, beberapa menit kemudian ia telah di bawah, beberapa staf membantunya melepas pengaman.


“Ada apa?” tanya Rita


“Apa kamu gak tahu apa yang sedang terjadi?” tanya Daniel, ia ingin memeluk gadis di depannya dan mengatakan perasaannya secara langsung, tapi ia tidak ingin staf Sugiyono yang masih di situ melihatnya.


“Enggak kenapa?” tanya Rita


“Kami mendapat berita mobil Andi kecelakaan” ujar Daniel


“Apa mereka yakin itu kak Andi?” tanya Rita


“Entahlah benar atau tidak tapi pihak kepolisian mengidentifikasi mobil tersebut milik Andi” ujar Daniel lagi


“Mobil kak Andi? Tapi kak Andi ada di..” Rita tidak melanjutkan ucapannya ia baru sadar Andi dan Dewa sudah tidak ada di situ.


“Aku ganti baju dulu!” ujarnya mulai panik ia bergegas ke lokernya dan membuka pesan dari Dewa. Setelah berganti pakaian, ia menunjukkan pesan itu ke Daniel


“Daniel, aku melihat pesan dari kak Dewa, mereka selamat dan sedang di kantor polisi untuk membuat berita kehilangan”


“Kantor polisi mana? Oh dekat taman hiburan, kecelakaan itu tidak jauh dari situ bisa dilihat pukul berapa pesan itu terkirim?


“Sekitar tiga puluh menit yang lalu” Rita mengecek waktu pesan itu terkirim


“Kita kesana Rit!” ajak Daniel, Rita mengangguk setuju ,mereka meminjam SUV milik Radian, karena Radian menitipkan mobilnya di rumah Darmawan. Rita duduk di kursi penumpang, Daniel yang menyetir. Rita kelihatan sangat khawatir, Daniel memegang tangan Rita untuk menenangkannya/


“Tenanglah kita akan tahu kebenarannya setelah tiba di sana ujarnya”


Sepanjang perjalanan Rita teriam, pikirannya terbang entah kemana karena mencemaskan kakaknya.


“Jadi Rit, cowok yang tadi memeluk mu siapa?” tanya Daniel memecah suasana


“Oh itu kak Dewa, dia sahabatnya kak Andi dari kecil dan juga kakak kelas Rita di sekolah yang dulu”


“Apa kalian punya hubungan istimewa sehingga ia memeluk adik kelasnya?” tanya Daniel menyelidik


“Dengan ku? Tidak ada hubungan apa-apa kami hanya lagi teman, ya teman baik. Kami sudah lama tidak bertemu sejak aku di sini. Mungkin ia lega bertemu”


“Hanya teman?” tanya Daniel setengah tidak percaya


“Yeahh..kami pernah beberapakali mengalami kejadian luar biasa dan ia banyak membantu Rita sejak dulu”

__ADS_1


“Kejadian luar biasa? Bisa diceritakan? Perjalanan kita cukup lama, aku pikir ini bisa membuatmu berkurang khawatirnya”


Rita menceritakan pengalamannya bersama Dewa, sepulang dari kantor polisi. Daniel bersikap seperti memiliki Rita, dan Dewa memperhatikannya.


Keesokan paginya ia menerima kabar Rita diopname di rumah sakit karena demam tinggi dan orang yang bersamanya tak lain adalah Rendy calon tunangannya. Kabar ini diterima Daniel melalui Radian dan ia sangat cemas dan tidak tenang.


“Niel!” panggil Radian


“Ya pak?”


“kamu kenapa sih gelisah terus sejak tadi”


“Oh enggak pak, oh ya Apa Anda jadi ke London hari ini?”


“Tentu, aku akan naik pesawat jetnya milik Lucas. Jadi kamu gak usah repot memesankan ku tiket”


“Berapa lama Anda di London?”


“Mungkin beberapa hari, tapi aku ingin menjenguk keponakan ku yang bandel itu, kamu mau ikut Niel?” tanya Radian


“Baik pak!” Daniel kelihatan senang, dan lebih tenang.


Radian telah berada di London beberapa hari, tugas kantor masih dapat dipegang Daniel. Ia terus melihat jam tangannya sejak pagi.


“Anda akan pergi pak Daniel?” tanya Victor


“Iya Vic, aku tinggal dulu ya. Ada yang ingin aku lakukan”


Sudah beberapa hari Rita di rumah sakit dan Daniel rajin menjenguknya walau sebentar. Ia selalu beralasan bahwa itu merupakan pesan Radian padanya. Ia sangat cemas melihat Ratna sangat ramah pada Rendy yang juga menjenguk Rita.


“Aku sangat berterima kasih sama kamu Ren!, kalau kamu gak ngobrol sama Rita sudah pasti dia gak tertolong!” ujar Ratna suatu kali


“Kebetulan kok tante, waktu itu saya ingin membicarakan sesuatu sama Rita” ujar Rendy


“Eh, membicarakan sesuatu? Apa itu?” Daniel yang duduk di situ mencuri dengar. Semalaman ia tidak bisa tidur mencemaskan.


“Ah sudahlah!..biarkan saja kalau Rita tunangan memangnya urusan dengan ku apa?” gumam Daniel di atas tempat tidurnya. Ia berusaha memejamkan matanya, tetapi tawa Rita, senyumnya, wajahnya menari-nari di kepalanya. Lalu kata-kata Lee tentang Rita dimarahi didepan orang yang disukainya membuatnya kembali gelisah.


“Kemarin saat tidur ia memegang erat tangan ku!” gumamnya lagi


“Ya Tuhan, aku harus bagaimana?” Daniel begitu gelisah, akhirnya ia tertidur karena kelelahan berpikir.


Bunyi alarm dari jam weker serta ponselnya membangunkannya. Setelah mandi dan berpakaian rapi tiba-tiba ia terpikir untuk mengungkapkan perasaannya kepada Rita.


Hari itu pukul 10 pagi ia datang ke kamar Rita, di situ hanya ada dia sendirian


“Pagi!” sapa Daniel tersenyum


“Pagi , wah kok sudah kemari?” tanya Rita, ia baru saja selesai mandi dan berganti pakaian. Ia masih memakai piyama rumah sakit.


“Pagi!!” sapa perawat


“Pagi suster!” jawab Rita dan Daniel


“Hari ini Anda test lab ya? dan check up, apa ada wali yang akan menemani?” tanya perawat


“Biar saya saja!” ujar Daniel


Rita duduk di atas kursi roda dan didorong oleh Daniel ke ruang test dan dokter.


“Baiklah, anda boleh kembali ke kamar!” ujar dokter yang memeriksa


“Terima kasih dokter!” jawab Daniel dan Rita bersamaan.


Tetapi bukan ke kamar Rita, tetapi Daniel membawanya ke kafetaria


“Kamu belum sarapan pagi ini?” tanya Rita,


“Sebentar!” Daniel menepikan kursi roda, lalu pergi sebentar . Ia kembali membawa tiga botol air mineral dan memberinya satu untuk Rita


“Nih Rit untuk kamu!” lalu ia meminum satu botol air mineral


“Kamu gak apa-apa Niel?” tanya Rita heran, ia melihat Daniel meminum botol keduanya tanpa sisa


“Kamu bisa sakit kalau kebanyakan minum” ujar Rita lagi


“Rita!” panggil Daniel , Ia menghadapkan dirinya hingga saling berhadapan dengan Rita. Ia sudah tidak bisa menahan perasaannya lagi


“Rita, aku menyukai mu! Sangat menyukai mu! Wajah mu selalu berada di kepala ku, Jadi please...jangan tolak aku!” ujar Daniel dengan suara tegas


“Eh?” Rita terdiam. Ia ingin mencubit tangannya untuk memastikan bahwa ini bukan mimpi belaka, tapi tangannya kaku, lidahnya menjadi kelu. Ia merasa wajahnya terbakar. Melihat respon Rita yang terdiam , Daniel menjadi bingung


“Rita! Kamu gak apa-apa?” tanyanya, ia juga takut mendengar penolakan


“Ehh...”Rita membuka botol air mineral, kemudian meminumnya.


“Kamu gak apa-apa ?” tanya Daniel heran


“Wajah ku panas!” ujar Rita, lalu ia mengguyurkan sisa air mineral ke wajahnya, dan itu membuat Daniel terkejut


“Eh, kenapa?” tanya Daniel, ia tersenyum dengan respon Rita , tanpa bertanya lagi ke Rita, ia langsung mengatakan


“Aku anggap ini jawaban yang sama dengan ku!” ujar Daniel tersenyum manis, hari itu mereka telah resmi berpacaran.


_kisah cinta Daniel& Rita End_


_petualangan Rita- bersambung

__ADS_1


__ADS_2