
Rita dan keluarganya pindah ke Kanada setelah hanya 4 bulan tinggal di Swiss.
Mereka mengucapkan perpisahan dengan Beatrice,Deidre dan Dickens
"Terimakasih ya Beatrice, kami tidak akan melupakan mu!" Rita memeluk Beatrice erat,
"Glany!!" Anak-anak mengerubungi Beatrice
"Saya membekali roti jagung kesukaan kalian untuk bekal di perjalanan " ujarnya berlinang airmata
"Terimakasih!" Ujar Daniel dan Rita bersamaan.
"Pertemuan kita singkat sekali ya Bu Deidre, terimakasih atas bantuannya " ujar Rita menyalaminya. Anak-anak juga menyalami Deidre yang berusaha tegar dengan perpisahan mereka.
Dickens mengantar sampai bandara.
"Baiklah Dickens, terimakasih atas bantuannya, sehat -sehat terus ya!" Ujar Daniel, matanya berkaca-kaca.
"Sama-sama pak Daniel!"
Mereka meninggalkan Zurich menuju Ottawa , Kanada. Setelah menempuh Perjalanan selama 10 jam 4 menit, mereka tiba di Bandara Internasional Cartier- Ontario, Ottawa pukul 2 siang.
Di bandara rombongan Daniel dijemput asistennya.
"Selamat sore Pak Daniel, saya Allan asisten Anda"
"Sore! Allan, ini Rita istri ku, dan ketiga anak-anak ini, Ranna dan Raffa" Daniel menunjuk kedua bayi dalam stroller yang didorong baby sitternya.
"Sedangkan ini yang terkecil Rayya" Daniel menunjuk Rayya dalam gendongannya.
"Dan mereka Erni dan Eva para nanny"
"Salam kenal semuanya! Silakan pak, mobil sudah disiapkan" Ujar Allan ramah.
Beberapa porter membantu rombongan Daniel membawa kopernya.
"Barang yang kami kirim dari Swiss sudah tiba di rumah?" Tanya Daniel
"Sudah pak!"
"Oh cepat juga Yang, aku khawatir barang nya lama sampai" ujar Daniel ke Rita
"Cuma alat barbeque saja kan?"
"Itu hadiah langka dari mu, masa aku tinggal begitu saja!" Jawab Daniel tersenyum
Mereka menaiki mobil berpenumpang 10 orang, barang bawaan di tempat kan di mobil yang lain. Rita dan para suster mengagumi pemandangan dari jendela mobil.
"Wah keren banget? Kamu sudah biasa sih ya?" Ujar Rita ke Daniel yang terlibat biasa saja dan sibuk dengan ponsel melaporkan kedatangannya.
"Tidak banyak perubahan, aku terakhir kemari sekitar 7 tahun yang lalu" jawab Daniel
"Tujuh tahun? Ngapain?"
"Suami Tante ku meninggal dunia, dan mama juga datang. Aku kesini selain untuk melayat juga untuk bertemu mama" jawab Daniel
"Oh, apa rumah Tante mu juga di Ottawa?"
"Enggak, di kota lain, sekitar 2 jam dari bandara ini"
"Apa Tante mu tahu kamu sudah pindah ke Kanada?"
"Belum! Biar jadi kejutan saja!"
"Tante mu punya anak?"
"Ada sepasang, keduanya sudah dewasa. Tapi aku kurang suka sama mereka"
"Kenapa?"
"Kapan-kapan aku ceritakan!" Ujar Daniel, ia merasa kurang pantas bercerita tentang keluarganya di depan para baby sitter.
"Kita langsung ke rumah?" Tanya Rita
"Rumah kami sudah siap kan?" Tanya Daniel
"Sudah pak sejak dua Minggu yang lalu, interiornya juga sudah rapi"
"Hah, interior? Apa rumahnya mewah?" Tanya Daniel penasaran.
"Rumah yang akan Anda tempati milik bintang film Mathew C, dia menyewakannya. Di AS sendiri dia sudah punya 6 rumah" jawab Allan
"Ternyata artis bule berbisnis properti juga ya?" Ujar Rita
"Banyak Bu, karena biaya perawatan rumah di sini itu mahal, apalagi mereka jarang mengunjungi rumah yang sudah mereka beli" jawab Allan
"Lexi menyewanya untuk berapa lama?" Tanya Daniel
"Tiga tahun"
"Tiga tahun? Kontrak kerja ku dengan Lexi 2 tahun lagi"
"Setahu saya Lexi selalu menyewa rumah melebihi waktu kontrak kerja, itu untuk berjaga-jaga adanya perpanjangan kontrak kerja" jawab Allan
"Oh begitu, kamu sendiri tinggal dimana?" Tanya Daniel
"Saya mendapatkan apartemen di dekat kantor pak, itu fasilitas kantor untuk para asisten CEO"
"Rumah yang ini jauh dari kantor?"
"Tidak pak, perjalanannya hanya setengah jam"
Daniel mengangguk, beberapa menit kemudian mobil tiba di sebuah rumah mewah.
Pagarnya berwarna hitam, ada beberapa security yang menjaga gerbang.
"Sore pak Allan!" Sapa Security. Allan keluar dari mobil, Daniel mengikuti nya.
"Dave, ini pak Daniel beliau yang akan menempati rumah ini" Allan memperkenalkan
"Daniel!"
"Dave!"
"Dave, kamu harus mengenal semua anggota keluarga ku" ujar Daniel, ia membuka pintu mobil
"Ini Rita istri ku, ini anak-anak ku dan mereka nanny yang bekerja untuk ku"
Dave mengambil foto setiap anggota keluarga dan memasukkan ke sistem keamanan.
Setelah perkenalan, mobil membawa mereka ke rumah.
Rumah mewah berlantai dua, terdiri dari 8 kamar tidur, empat kamar mandi, ruang keluarga, kolam renang dan berbagai fasilitas lainnya. Mereka disambut oleh Art rumah yang berjumlah empat orang.
"Mereka para asisten rumah tangga" Allan memperkenalkan
"Hai! Aku Daniel dan ini istriku Rita, dan mereka anak-anak ku, dan mereka para nanny anakku" Daniel ,Mereka saling memperkenalkan diri
"Apa kalian tinggal di rumah ini juga?" Tanya Daniel
"Tidak pak! Kami bergantian bertugas, empat orang siang hari dan empat orang malam hari" jawab Eleanor koordinator ART.
"Oh begitu"
Mereka berkeliling rumah untuk melihat kamar-kamar yang sudah tertata rapi.
"Assalamualaikum!" Rita menyapa ketika masuk ke dalam kamarnya
"Wa'alaikummussalam" Jawab Daniel
"Ah..aku lelah sekali" Rita rebahan di ranjang empuk putih. Daniel melepaskan Rayya dari gendongannya, ia menaruh di ranjang mereka.
"Biar dia di sini dulu"
Ia memperhatikan kamar tidur mereka.
Ada ruang tamu , tv layar lebar menghadap ke tempat tidur, mini pantry, walking closet, kamar mandi kering dan basah, interiornya seperti kamar Rita di Auckland.
"Anak-anak di kamar mana?" tanya Rita
"Kamar sebelah"
"Oh ya?" Rita beranjak lalu menuju ke kamar anaknya. Anak-anak ditempat kan dalam satu kamar karena masih balita tetapi masing-masing sudah memiliki tempat tidur sendiri. Ranna dan Rayya tempat tidur bertema princess, sedangkan Raffa tempat tidur berbentuk mobil balap. Tempat tidur Rayya masih memakai pengaman.
"Apa kamar anak sudah dilengkapi CCTV ?" Tanya Daniel
"Tentu pak, Anda bisa melihatnya langsung di TV di kamar Anda" jawab Eleanor
"Luas sekali ya?" Ujar Rita
"Kamar ini dimodifikasi, dua kamar menjadi satu kamar. Kami mendapat info dari Swiss kalau anak-anak Anda sangat aktif, jadi kami memfasilitasinya" jawab Eleanor
Dalam kamar anak, selain tempat tidur, terdapat ruang bermain di pojokan, ada mainan perosotan, lemari berisi buku bacaan, lemari tempat mainan, meja panjang berada di tengahnya untuk anak berkreasi. Di sebelahnya kamar mandi basah dan kering, walking closet serta nursery room.
__ADS_1
"Wow ini benar-benar.. seperti ruangan di TK ya?" Ujar Rita mengagumi.
"Kamar para Nanny ada di sebelah kamar anak-anak " Eleanor menunjukkan kamar para Nanny
"Bagaimana dengan yang bertugas memasak? Sebenarnya istri ku pandai memasak, hanya saja sekarang dia sedang hamil 4 bulan, mood masaknya sering hilang.
"Kami sudah memiliki seorang chef yang biasa memasak masakan halal "
"Oh ya?"
"Anda akan bertemu dengannya saat makan malam nanti, sekarang dia sedang berbelanja"
"Eleanor, apa kalian libur saat weekend?"
"Kamu bergiliran bekerja pak, perusahaan tidak membenarkan semua staf meninggalkan majikannya bersamaan" jawab Eleanor
"Oh begitu, bagus lah!"
Rita kembali ke kamarnya, ia mendengar Rayya memanggil nya
"Miii!!"panggilnya, Rayya berjalan keluar kamar orang tuanya.
"Adek mau lihat kamar?" Rita menuntun Rayya ke kamarnya, melihat perosotan, Rayya langsung melepaskan diri dari Rita dan menaiki perosotan, ia sudah bisa merosot sendiri.
"Wah, adek pintar sekali!" Rita bertepuk tangan. Tepukannya membangunkan Ranna dan Raffa. Mereka duduk di tempat tidurnya, masih bingung dengan keberadaannya.
"Kakak, Abang, dimana coba?" Tanya Rita. Raffa bangun dari tempat tidurnya ia mengagumi tempat tidur balapnya.
Ranna mendekati Rita, ia memeluknya. Ranna butuh waktu untuk beradaptasi di tempat baru.
"Ini di Ottawa kak, Kanada" ujar Rita memangku Ranna.
"Ottawa?"
"Iya, ini kamar kakak dan adek-adek ya?"
"Mami, Arnold mana?" Ranna menanyakan boneka kelinci kesayangannya.
"Nih kak!" Raffa memberikan boneka kelinci ke Ranna, sedangkan ia sendiri memegang boneka lebah kesayangannya.
"Lho Optimus Prime nya mana bang?" Tanya Rita heran
"Abang kembaliin ke Michele" jawab Raffa enteng.
"Oh..nanti mau beli lagi bang?" Tanya Rita, Raffa menggeleng.
Setelah beberapa saat, Ranna mulai ikut bermain.
"Mami ke kamar ya sayang?"
"Ikut mii!" Ranna mengikuti Rita ke kamar , Raffa ingin ikut juga, tidak lupa ia mengajak Rayya bersamanya. Di kamar, Rita heran Daniel memasang musik keras-keras.
"Sayang, kenapa?"
"Oh ini, aku menguji apa suara antar ruangan terdengar, kamu gak dengar apa-apa kan tadi di kamar anak-anak?"
"Enggak!"
"Papoii" Ranna langsung naik ke ranjang, Raffa membantu Rayya naik.
"Jangan lompat-lompatan ya!" Ujar Rita, ia melihat keluar jendela.
"Bagus banget view nya!" Rita mengagumi pemandangan di luar jendela. Daniel memeluknya dari belakang.
" Bagus mana sama view di Sukabumi?"
"Beda dong, dua-duanya bagus"
"Mami, lapal!" Ujar Raffa
"Iya nih, papi juga lapar, yuk ke bawah, seharusnya sudah ada makanan"
Mereka bersamaan keluar dari kamar.
"Kita kayak di hotel ya? Norak banget " ujar Rita
"Padahal rumah kita di Jakarta lebih besar dari ini ya?" Ujar Daniel sambil menggendong Rayya.
"Iya, masalahnya walaupun ini rumah sewaan tapi hasil kerja keras mu, sedangkan yang di Jakarta kan pemberian"
"Begitu ya?" Daniel tersenyum bangga.
Mereka tiba di ruang makan yang luas, konsep ruang makan nya open kitchen, mereka bisa melihat chef memasak untuk mereka.
"Selamat sore pak Daniel, Bu Rita, nama saya Emir, saya akan menjadi chef kalian" Emir, seorang lelaki paruh baya, terlihat keturunan timur tengah.
"Saya mendapatkan email dari Beatrice, ia mengirimkan catatan makanan kesukaan kalian beserta resepnya. Jadi hari ini saya membuatkan nasi kebuli ayam"
"Ah Beatrice, baik sekali!" Rita tersenyum senang.
Emir membuka piring besar yang berisi nasi dengan ayam di tengahnya.
"Kebuli!!" Daniel sangat menyukainya, Emir memotong ayamnya menjadi bagian kecil, Daniel mengambil nasi untuk masing-masing anaknya juga Rita.
"Terimakasih Pi!" Ujar Ranna dan Raffa
"Terimakasih sayang!" Rita mengambil piring berisi nasi kebuli
Lauk pelengkap juga terhidang.
"Hmm... rasanya agak beda ya?"
"Sepertinya ini versi lain ya Emir?" Tanya Rita
"Ini kebuli versi Pakistan Bu"
"Oh begitu, enak juga ya, tapi rempahnya terasa sekali" ujar Daniel mengamati
"Enak Pi!!" Ranna dan Raffa makan dengan lahap. Rayya juga menyukai nasi itu, ia disuapi oleh Rita.
"Para suster sudah makan belum?" Tanya Rita.
"Para staf makan di ruang lain Bu!" Ujar Emir
"Oh dibedakan?" Tanya Rita
"Ini agar agar ada sinergi antara nanny dari Anda dengan staf di sini" ujar Emir
"Ada ruang makan lainnya?" Tanya Rita penasaran
"Ada Bu,"
"Wah luas sekali ya?"
"Emir, aku bisa minta dibuatkan makanan kecil untuk di kamar?" Tanya Rita
"Tentu Bu, tinggal bilang saja minta apa nanti akan saya buatkan "
Rita menuliskan cemilan yang ingin ia dan anak-anak makan di kertas, lalu memberikan ke Emir.
"Baiklah, segera akan saya buatkan!"
"Terimakasih!"
Selesai makan mereka berkumpul di ruang keluarga, di situ terdapat bioskop mini, juga ada mesin popcorn dan jus seperti layaknya di bioskop.
"Papi mau popcon!" Pinta Ranna
"Sebentar Kak" Daniel melihat mesin popcorn dan mempelajari caranya.
Tiba-tiba seorang pelayan lelaki datang.
"Anda ingin popcorn?" Tanyanya
"Eh iya!"
Dengan cekatan ia membuatkan popcorn.
"Selain popcorn tersedia apa lagi?" Tanya Daniel
"Gulali, takoyaki, croffle, kebab" jawab pelayan itu
"Aku mau takoyaki!" Pinta Rita
"Gulali!" Teriak Ranna
"Jangan! Anak-anak gak boleh makan gula nanti hiperaktif!" Larang Rita tegas
"Mamii!" Ranna tampak kesal
"Croffle dan kebab saja!" Pinta Rita
Mereka menonton film animasi sambil menikmati hidangan.
__ADS_1
"Ah sudah jam 4.30, aku belum sholat Ashar" Daniel pergi ke kamarnya untuk sholat Ashar, setelah selesai giliran Rita yang sholat. Mereka bergantian menjaga anak karena rumah itu masih terasa asing bagi mereka. Menjelang Maghrib mereka kembali ke kamarnya.
"Mami, aku mandi di sini saja ya?" Pinta Ranna yang diamini Raffa.
"Kenapa di kamar mandi kalian?" Tanya Daniel
"Telalu besal Pi!" Jawab Raffa
"Mandi di tempat kalian saja, yuk papi mandiin"
"Yuk mami bantuin"
"Mami masih eneg gak?" Tanya Daniel
"Sudah enggak Pi"
"Alhamdulillah.."
Kamar mandi anak-anak ada walking closet, dimana pakaiannya sudah tersedia di situ. WC , shower dan bathtub terletak di ruang berbeda.
"Pantas saja anak-anak bingung, kamar mandinya luas begini" ujar Rita
Mereka bahu membahu memandikan ketiga anak mereka, setelah selesai, mereka berpakaian.
"Papi, kakak mau ke kamar papi saja" pinta Ranna, ia belum terbiasa dengan kamar barunya.
"Kamar mereka terlalu luas Pi"
Mereka berkumpul di kamar orangtuanya, sambil menonton TV layar lebar. Rita dan Daniel mandi bergantian.
"Seperti di hotel ya?" Ujar Rita
"Iya mi" jawab Ranna, ia duduk di karpet depan TV
"Kak, jangan terlalu dekat TV nanti matanya sakit!" Larang Daniel
"Ting nong!" Bunyi bel kamar mereka berbunyi
"Ya?" Daniel membuka pintu
"Snack yang dipesan ibu, pak!" Ujar ART
"Oh iya, silakan!" ART membawa masuk kereta makanan.
"Terimakasih!" Ujar Rita, ia menghampiri kereta makanan yang penuh berisi makanan pesanannya
"Wahh..kalau begini bisa-bisa gak makan malam nih" ujar Rita
Mereka menyantap Snack dengan suka cita.
"Besok pagi kamu sudah pergi kerja?"
"Belum, aku mau keliling rumah ini dulu."
"Aku ikut ah!"
Anak-anak terlelap di kamar orangtuanya, ketika mereka sudah nyenyak, diam-diam Daniel memindahkan mereka ke kamarnya.
"Mereka gak bangun kan?" Tanya Rita
"Enggak, kecapean kayaknya" Daniel merebahkan tubuhnya di samping Rita.
"Walaupun cuma 4 bulan di Swiss aku sudah kangen Swiss, kamu kangen gak?" tanya Rita, Daniel tidak menjawab, ia sudah lelap tertidur.
Keesokan paginya, Daniel dan Rita berkeliling rumah, mereka berhenti di garasi mobil.Tetapi di situ belum ada mobil, mereka menemukan sesuatu di garasinya.
"Wah..Harley Davidson!" Rita terkagum dengan motor gede dihadapannya
"Ini fasilitas kantor " ujar Daniel
"Fasilitas kantor? Aneh banget?"
"Kamu gak tahu, terkadang untuk membangun relasi bisnis agar dekat dengan klien melalui hobi mereka, biasanya moge, golf apapun deh!" Ujar Daniel memegang moge itu.
"Eh Yang, jangan sembarangan mengelapnya , nanti tergores" Rita mencari lap khusus
"Nah pakai ini" Dia mengambil lap micro fiber di rak kaca, lalu mengajarkan Daniel mengelap moge .
"Begini caranya, supaya gak gores. Ini motor mahal lho!" Rita memegang tangan suaminya.
"Kamu tahu dari mana?"
"Dulu aku pernah sambilan menjadi SPG moge Harley di pameran "
"Oh ya? Rajin juga ya?"
"Sebenarnya aku didaftarkan Tommy, ia sangat rajin mengikuti kerja sambilan, kami berdua menjadi SPG di pameran."
"Yang mengajarkan mengelap seperti tadi Tommy?"
"Iya, dia sangat telaten"
"Kamu polos banget ya?" Ujar Daniel
"Polos? Maksudnya?"
"Masa kamu gak ngerti, itu caranya menggoda mu. Mungkin dia gak mesum, tetapi itu alasannya supaya bisa memegang tangan mu!" Ujar Daniel kesal.
"Iya ya? Aku gak pernah kepikiran, karena dia bersikap biasa saja!"
Wajah Daniel tampak kesal
"kamu jangan kesal begitu."
"Habis kamu menceritakan gaya kencan mu dengan mantan mu, itu menganggu ku tahu!" Protes Daniel
Rita berpikir, tak menyangka kenangan itu membuat suaminya marah. Ia memeluk punggung suaminya yang lebar
"Maaf , aku gak sengaja. Ingatan ku muncul ketika lihat moge ini" ujarnya manja
"Ada lagi yang kamu ingat saat kencan dengan Tommy, selain moge dan basket?"
"Gak ada!"
"Beneran?"
"Seingat ku sih! Jangan marah dong, pak CEO!" Bujuk Rita menggelitik pinggang suaminya. Daniel kegelian, ia tertawa.
"Aku tuh suka banget sama kamu! Jadi jangan ingat lelaki lain selagi bersama ku!" Ujarnya sambil memeluk Rita.
"Kamu tuh, anak sudah hampir 4 masih saja insecure!"
"Tentu dong! Istriku muda dan cantik, pasti insecure!"
Rita mencium bibir suaminya
"Muach!! Kamu lucu kalau cemburu!"
Daniel mengingat kata-kata itu ketika di awal pacaran dulu. Daniel membalas ciumannya. Mereka pun melakukan ciuman yang panas. Daniel menutup garasi motornya dan mereka bermesraan di dalam garasi.
"Sus, mami dan papi mana?" Tanya Ranna
"Mereka keliling rumah kak!" Jawab suster Erni yang menyuapi Ranna dan Raffa bergantian. Sedangkan Eva menyuapi Rayya.
"Rumah ini besar ya?" Ujar Erni
"Iya, aku agak takut tidur di kamar, untung sekamar sama kamu" ujar Eva
"Iya sus, kakak juga takut, tadi malam kakak bobo di kamal mami, eh paginya sudah di Kamal sendili"
Erni dan Eva tersenyum mendengar cerita Ranna.
Bunyi ponsel Daniel berbunyi, mengganggu aktivitas bercinta mereka.
"Ah mengganggu saja!" Daniel mengangkat ponselnya, Rita merapikan pakaiannya yang berantakan.
"Ya?" Jawab Daniel
"Siang ini meeting pak!" Ujar Allan mengingatkan
"Hah? Meeting? Jam berapa?"
"Jam 11"
Daniel melihat jam tangannya
"Baiklah, aku akan siap-siap " ia menutup ponselnya.
" Kamu ke kantor juga?" Tanya Rita, ia merapikan rambut Daniel yang acak-acakan.
"Iya! Ayo kita kembali ke rumah!" Daniel membantu Rita bangun. Mereka saling merapikan baju masing-masing.
"Mengganggu saja ya?" Ujar Daniel tersenyum
__ADS_1
"Kita bisa lanjutkan nanti!" Ujar Rita tersenyum, sambil berpegangan tangan mereka berjalan menuju rumah.
_bersambung_