Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)

Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)
Chapter 234: Kisah Cinta...Tour ke Rumah Radian


__ADS_3

“Hey! Kalian berdua!” tegur Sharon pada Emily dan Maya pada saat jam makan siang


“Eh bu Sharon selamat siang!” tegur keduanya


“Kalian berdua kemari!” Sharon mengajak kedua wanita itu ke tempat yang sepi


“Kalian berdua dari lantai 35 kan?” tanya Sharon tegas


“Betul bu!” Jawab keduanya kompak


“Kalian mau menjebak ku ya?” tanyanya galak


“Maksud ibu?”


“Kalian suruhan pak Jake kan untuk menjebak ku supaya mengerjai Rita?” tanya Sharon lagi


“Enggak bu!” jawab mereka, suara mereka makin kecil karena mereka baru menyadari tindakan mereka bisa menyeret atasan mereka


“Jujur saja! Aku sudah mengklarifikasinya pada Jake, ternyata Rita bukan keponakannya!”


“Eh masa?” keduanya heran


“Jangan pura-pura deh!, karena pancingan kalian hampir saja aku dipecat bos besar!” ujar Sharon menakuti


“Aduh bu, maaf kami tidak bermaksud demikian” ujar keduanya


“Kami sangat iri pada Rita yang bisa akrab dengan pak Daniel. Kami pikir jika bu Sharon bisa membuat Rita menjauhi pak Daniel itu akan baik sekali bagi kami” Maya yang berhati lemah berterus terang


“hooo..jadi itu maksud kalian mempergunakan kesukaan ku pada Daniel, ckckckck..terlalu sekali kalian!” wajah Sharon makin marah, selain karena ia merasa bodoh karena diperalat, juga karena kedua wanita di depannya itu juga menyukai Daniel seperti dirinya.


“Aku gak terima tentang ini!” ujarnya dengan nada mengancam


“Maaf bu...maafkan kami!” kedua wanita itu berlutut dihadapan Sharon sambil menangis


“Kami akan melakukan apapun untuk menebus kesalahan kami” ujar keduanya


“Apa pun?” tanya Sharon


“Apa pun Bu!” jawab keduanya, Sharon berpikir keras.


“Baiklah, aku akan menyimpan ini, sewaktu-waktu aku membutuhkan bantuan, kalian tidak boleh menolak!” ujar Sharon


“Terima kasih bu Sharon atas kemurahan hati ibu, dan maafkan kami!” ujar keduanya masih berlutut dan menghapus air mata mereka. Sharon meninggalkan keduanya


“Kalau Rita bukan keponakan pak Jake, siapa orang penting di belakang Rita?” tanya Maya tiba-tiba ia kepikiran


“Kamu masih memikirkan itu?” ujar Emily kesal karena jebakannya tidak berhasil


“Apa kita tanya Ellie saja?”tanya Maya meminta persetujuan


“AH gak usah! Dia juga sama begonya dengan kita. Lagi pula kita ini gak ada harapan sama sekali dengan Daniel.” ujar Emily tiba-tiba menyadari kebodohannya


“Gak ada harapan? Kenapa kak Emily berkata begitu? Jadi menyerah?”


“Jujur saja, Daniel memang tampan, tapi apa gunanya kalau kita mengejar terus, lagi pula aku yakin dia gak mengenal kita sama sekali”


“Hmm..apa kak Emily menyerah?” tanya Maya


“Iya, aku menyerah mendapatkan Daniel, kalau kamu mau terus silakan saja! Aku muak!” Emily pergi meninggalkan Maya sendirian.


Hari itu Rita kembali menjadi asistennya Radian. Ia tidak begitu bersemangat karena itu berarti, ia akan terus berhubungan dengan Daniel.


“Selamat Pagi Pak!” sapa Rita


“Pagi Rita! Wah , akhirnya kamu kembali kemari!” Radian tersenyum puas. Rita mengangguk .


“Ini tablet kamu, Daniel bertugas ke luar selama dua minggu. Jadi kamu yang mengurus semua urusan ku ya?” ujar Radian


Mendengar Daniel pergi dua minggu, Rita menjadi bersemangat lagi.


“Siap pak!” ujarnya ia kembali ke ruangannya. Di laci mejanya ia mendapatkan sepucuk surat.


“Selamat Datang Kembali!, kita akan makan siang bersama lagi ya,- Daniel.


Rita membaca surat itu, tiba-tiba ia merasa kesal, lalu merobek surat itu dan membuangnya ke tempat sampah.


Ia kembali menekuni pekerjaannya, dan memutuskan tidak lagi membawa bekal makan siang.


Setiap pulang dari kantor, ia senang mendengarkan podcast dan siaran radio.


Di Minggu pagi, siaran radio yang sering ia dengarkan membahas tentang ‘Cinta yang tak terbalas, menjadi teman atau musuh?'


Yang menjadi nara sumbernya dua orang, pertama seorang penulis novel terkenal sedangkan nara sumber yang satu lagi seorang psikolog remaja yang sering mengisi di acara-acara remaja di tv nasional.


Rita sangat tertarik dengan tema yang diangkat. Ia memutuskan menelpon ke radio tersebut dan menanyakan tentang kisah cinta yang ia alami.


“Hello, Selamat pagi!” sapanya melalui telpon


“Pagi, dengan siapa?”


“Saya Sisca” Rita menggunakan nama samaran


“Sisca, usia anda berapa?”


“Enam belas tahun”


“Sisca, apa yang ingin Anda tanyakan?” tanya penyiar tersebut


“Bagaimana saya harus bersikap pada rekan kerja, saya sangat menyukainya, sedangkan dia tidak. Tetapi kesehariannya ia sangat ramah pada saya, dan itu membuat saya sangat tertekan”


“Anda masih 16 tahun sudah bekerja?”


“Hanya part time untuk mengisi waktu”


“Oh begitu, bagaimana Sisca tahu kalau rekan anda itu tidak punya perasaan yang sama dengan Anda?”


“Saya pernah mencuri dengar, seseorang bertanya padanya tentang perasaannya pada saya”


“Lalu dia bilang?”


“Dia bilang tidak ada perasaan apa-apa padanya, sikap baiknya selama ini karena ia mengenal orang tua saya dengan baik”


“Oh, rekan kerja Anda ini lebih tua dari Anda?”


“Betul Kak!”


“Kalau boleh tahu, sikap ramah seperti apa yang ia lakukan?”


“Hmm,..mengajak makan siang bersama, dia sering memakan bekal yang saya bawa, keesokannya dia menggantinya dengan masakan yang ia buat”


“Sisca, kenapa Anda merasa risau? Apa Anda menginginkan lebih dari dia?” tanya psikolog


“Begitu lah, saya belum pernah merasakan perasaan sekuat ini padanya” jawab Rita


“Jadi yang ingin Anda tanyakan?”


“Haruskah saya berubah sikap padanya? Atau menghindarinya?” tanya Rita


“Baiklah, bisa langsung dijawab oleh pakar psikolog kita dulu yang pertama?” ujar penyiar sebagai moderator


“Sisca, tadi usia Anda masih enam belas tahun ya?”


“Betul!”


“Anda bekerja sambilan, dan rekan kerja Anda usianya jauh lebih tua dari Anda, kira-kira berapa tahun?”


“Hmm...delapan atau sembilan tahun” jawab Rita


“Wow, perbedaan usia yang cukup jauh ya dik Sisca. Menurut saya, perasaan kuat yang anda rasakan pada rekan kerja Anda itu mungkin mengingatkan Anda pada seseorang di keluarga Anda, misalnya sosok ayah atau kakak. Apa ayah Anda masih ada?”


“Masih pak, tapi kami tinggal terpisah”


“Begitu, bagaimana dengan kakak Anda?”


“Saya tinggal bersama kakak dan kakek saya”


“Kenapa Anda terpisah dari ayah Anda?”


“Karena saya meneruskan pendidikan di sini”


“Oh begitu, baiklah Sisca. Saran saya langsung saja ya, karena banyak yang mengantri”

__ADS_1


“Baik”


“Kamu bersikap biasa saja padanya, lagi pula kamu mau kemana terburu-buru? Siapa tahu perasaannya pada mu bisa berubah?”


“Tapi pak, kalau dia naksir orang lain gimana? Saya pikir saya tidak sanggup menerima kenyataan itu”


“Jika itu terjadi, Kamu bisa menghindar darinya karena itu berarti Anda tidak cukup berarti baginya”


“Yahh?? Apa tidak ada yang bisa saya lakukan untuk meraih hatinya?”


“Tentu ada, jika ia ramah balaslah dengan keramahan yang sama. Tetap bersikap baik seperti biasanya jangan terlalu berharap lebih. Biarlah semua terjadi dengan sendirinya”


“Perlu saya tambahkan Sis, kalau lelaki itu benar-benar menyukai Anda, gak usah khawatir kemana pun Anda pergi ia akan mengejar, sebaliknya jika ia tidak tertarik apapun yang Anda lakukan tidak akan membuatnya bergeming” ujar novelist


“Begitu ya? baiklah, terima kasih atas sarannya!” Rita mendapat pencerahan dari dua orang pakar yang tidak diragukan pengalamannya.


“Ngapain Rit?” tanya Andi tiba-tiba muncul di kamarnya


“Eh enggak!, kak Andi ketok pintu dulu kenapa?” protes Rita


“sudah tadi, gue dengar lo lagi nelpon siaran radio itu ya?”


“Ya, iseng saja kak, pertanyaan Rita menjadi terfavorit lho, mereka akan mengirim merchandise kemari sebagai hadiah”


“Memangnya pertanyaan lo apaan?”


“hmm....ada deh!! Hehehe..kak Andi kepo banget sih. Oh iya kenapa kemari?”


“Ikut gue yuk?”


“Kemana kak?”


“Ke apartemennya om Radian”


“Ih ngapain? Hampir setiap hari Rita ketemu sama beliau, masa sekarang harus ketemu lagi?”


“Temenin gue Rit, pleaseee???”


“Memangnya ada perlu apa sama Om Radian?”


“Sebenarnya Om Radian membeli drone dari toko gue,nah terus ternyata beliau gak bisa masangnya.”


“Memangnya kak Andi gak punya staf yang bisa merakit drone itu?”


“Ada sih, teman kakak. Tapi Om Radian maunya gue yang datang. Beliau nungguin di apartemennya”


“Memangnya kak Andi gak berani sendirian?”


“Enggak!, gue bingung harus ngomong apa sama beliau”


“Lah ngomong tentang drone saja, ajarin cara nge-setnya”


“Lo gak pernah berdua saja sama dia sih, responnya Cuma gini, hmm......apaan coba?”


“Kalau Rita temenin, aku dapat apa?”


“Lo gue traktir deh, main playzone? Gue temenin, gue bayarin malah!”


“Beneran ya?”


“Bener!”


“Ya udah, kak Andi keluar dulu deh, Rita mau ganti baju”


“Oke, sip, gue tunggu di mobil ya?”


“Oke!”


Beberapa menit kemudian, Rita keluar dengan setelan denim favoritenya, celana denim panjang selutut , kaos putih, jaket denim serta sepatu berwarna biru. Rambutnya dikuncir dua, tampilannya seperti remaja pada umumnya. Seperti biasa ia membawa tas kecil favoritenya. Ia masuk ke mobil merah milik Andi, duduk di kursi penumpang dan memasang seat belt.


“Ayo kak!, let’s go!” ujarnya. Andi menyalakan Googel Map yang akan menunjukkan jalan ke apartemen milik Radian.


“Kak Andi belum pernah ke apartemennya?”


“Belum! Ini saja terpaksa Rit”


“Memangnya harga drone yang dibeli om Radian mahal?”


“Sama dong sama kak Andi”


Mereka mengikuti arahan googel map, setelah satu jam mereka merasa berputar-putar di tempat.


“Kak, kenapa pakai googel map, kenapa gak GPS saja?”


“Mobil ini belum terpasang GPS, gue pikir gampang pakai googel map, kenapa jadi nyasar begini?” Andi menepikan mobilnya. Ia mengarahkan kembali googel mapnya, tempat yang ia tuju di luar jangkauan.


“Ah sial! Gimana nih?” ujarnya bingung


“Telpon Om Radian saja!”


“Gak punya nomornya!”


“Masa kak Andi gak punya? Dia kan klien penting?”


“Sudah jangan berisik!, Lo aja yang telponin!”


Rita mengambil ponselnya dan menelpon Radian.


“Siang Om!” sapa Rita”


“Ya Rit?” jawab Radian


“Saya bersama kak Andi Om, kami nyasar” ujar Rita terus terang


“Posisi kamu di mana? Coba share lock!” ujar Radian


“Baik Om!” Rita membagi lokasinya


“Tunggu sebentar Rit!” ujar Radian, ia menutup ponselnya


“Gimana Rit?”


“Suruh tunggu kak!”


Beberapa menit kemudian, seseorang datang mengendarai motor balap berwarna orange, ia mengambil jarak di depan mobil Andi dan membuka helmnya


“Pak Daniel?”tenggorokan Rita tercekat, ia tidak menyangka akan bertemu pujaannya di tengah jalan antah berantah


“Andi!, hey Rita!”


“Pak Daniel!” sapa Rita senang, ia tidak bisa menyembunyikan perasaannya


“Andi kamu ikuti saya ya?” ujarnya, Daniel kembali memakai helmnya dan menaiki motor orange nya. Pakaiannya juga setelan denim dengan kaos putih seperti Rita. Ia tampak begitu keren.


“Daniel makin keren ya Rit?” ujar Andi, ia melihat Rita yang tidak berhenti menatap orang di depannya


“Hei Rit! Hati-hati nanti bola mata lo lepas!” goda Andi


“Eh, kak Andi ngomong apa?”


“Diihhh...orang ngomong dicuekin!” Andi merasa sebal, beberapa menit kemudian mereka tiba di rumah dengan pagar otomatis. Daniel memberikan isyarat pada security yang membolehkan mereka berdua masuk ke dalam rumah.


Rumah Radian bergaya minimalis tapi kesan mewah ketika masuk ke dalam sangat terasa.


“Siang pak Daniel!” sapa security


“Siang! Mereka keponakannya pak Radian!” Daniel mengenalkan Andi dan Rita pada security. Andi dan Rita mengangguk untuk membalas sapaan security.


“Ayo masuk!” ajak Daniel


“Kata kak Andi, Om Radian tinggal di apartemen?” tanya Rita


“Di alamat pembelian tulisannya apartemen” ujar Andi


“Mungkin beliau membelinya sewaktu masih di apartemen. Beliau baru pindah kemari sekitar seminggu yang lalu!” ujar Daniel


“Pak Daniel juga sering ke rumah pak Radian?” tanya Rita


“Beliau selalu mengajak saya ke tempatnya. Agaknya beliau sudah menemukan tempat beristirahat yang terbaik baginya agar tidak stress”


“oh begitu, tapi makin jauh dari kantor ya?” ujar Rita lagi

__ADS_1


“Enggak juga, dari sini ada jalan besar berbayar, jalanan itu pintasan ke pusat kota. Justru beliau lebih cepat sampai kantor”


“oh begitu”


Mereka masuk ke dalam rumah Radian, yang tertata apik dan rapi. Radian penyuka warna cream. Dinding yang berbatu dan sofa berwarna cream serta beberapa tanaman asli membuat suasana ruang tamu nyaman.


“Silakan duduk!, sebentar saya panggil pak Radian dulu” Daniel masuk ke dalam ruang lain dan mengambil kotak besar yang terletak di atas meja makan.


“Pak Radian masih di atas, ia sedang sibuk dengan temannya di Jepang” ujar Daniel.


Ia memberikan kotak besar drone kepada Andi.


Andi membuka kotak besar berisi drone, ia pun mulai merakitnya. Daniel dan Rita memperhatikannya bekerja. Tak berapa lama kemudian Radian datang


“hey, sorry ya! kalian nyasar ya tadi?” ujarnya ramah. Rita agak kaget karena Radian di rumah lebih ramah dari pada di kantor. Pakaian nya pun sangat casual.


“Iya Om, tadi kak Andi pakai googel Map, eh di tengah jalan sinyalnya hilang” ujar Rita bercerita


“Iya, memang sering terjadi kalau lewat daerah situ, syukurlah tadi Daniel juga hendak kemari. Jadi aku pikir sekalian saja mengantar kalian kemari”


“Pak Daniel tinggalnya di daerah sini juga?” tanya Rita


“Enggak! saya tinggal di apartemen di pusat kota, jaraknya sepuluh menit dari kantor”


“Perumahan ini baru, belum banyak penghuninya. Aku lihat baru beberapa rumah terisi, ada juga beberapa keluarga yang menempati rumah di sebelah rumah ini”


“Rumah yang lain bentuknya sama Om, Cuma rumah ini saja yang beda?” tanya Rita


“Aku membeli rumah ini sudah lama Rit, kira-kira tiga rumah aku gabung jadi satu. Jadi aku rombak semuanya” cerita Radian


“Oh begitu” Rita mengangguk


“Oh ya, Rita kata Daniel kamu pandai memasak?” tanya Radian


“Eh?”


“Nih kartu kredit, kamu dan Daniel pergilah ke supermarket terdekat dan membeli bahan makanan untuk dimasak!” Radian memberikan kartu kreditnya.


“Andi aku pinjam mobilnya” pinta Daniel, dengan enggan Andi memberikan kunci mobilnya kepada Daniel, ia melirik Rita pandangannya memohon agar ia tidak ditinggalkan sendirian bersama Radian, tetapi Rita tidak melihat ke Andi, ia sangat senang bisa bersama Daniel di hari Minggu itu.


Mereka berbelanja bahan makanan cukup banyak, juga minuman


“Apa pak Radian alergi makan sesuatu pak Daniel?” tanya Rita sambil mencari bahan makanan untuk ia olah.


“Setahuku tidak ada, beliau sangat menyukai sushi, teriyaki, tepanyaki, katsudon” Daniel menyebutkan makanan Jepang yang disukai Radian


“Apa pak Radian akan menikah?” tanya Rita


“Hah? Enggak, setahu ku sih” Jawab Daniel


“Ohh”


“Kenapa?”


“Karena beliau pindah ke rumah, yang aku tahu kalau orang mulai menetap berarti ia akan berkeluarga”


“Belum tentu juga, pak Radian pernah cerita, dengan membeli rumah artinya uang hasil kerjanya terpakai dengan baik”


“Oh begitu, aku kira beliau akan segera menikah”


“Kalau beliau menikah, Aku pasti yang pertama diberitahu”


“Pak Daniel sudah lama dekat dengan pak Radian?”


“Lumayan, kira-kira tiga tahun, kalau gak salah hitung. Dulu aku pernah jadi pengawalnya”


“Sekarang juga kan?”


“Maksudku, dulu aku pernah bekerja di bagian pengawalan dan pak Radian menjadi klien di perusahaan tempat ku bekerja”


“oh begitu, kemudian Anda direkrut olehnya?”, Daniel mengangguk.


Setelah berkeliling supermarket, mereka pun kembali ke rumah Radian. Andi masih merakit dronenya


“Kok belum selesai juga kak?” tanya Rita


“Dronenya sendiri sudah, ini aku sedang mengeset remotenya ke ponsel” jawab Andi


“Rita langsung saja ke dapur dan memasak! Sebentar lagi waktu makan siang nih!” ujar Radian


Rita ke dapur di rumah Radian, ia terkejut karena dapurnya merupakan dapur modern penuh kecanggihan.


“wow! Keren dapurnya!” Rita sangat menyukai konsep dapurnya


“Ada yang bisa kubantu?” tanya Daniel. Rita mengangguk, ia membuka belanjaan mereka. Lalu meminta Daniel untuk mencuci beberapa sayuran, sementara ia menyiapkan bumbu-bumbu.


“Wah, semua peralatan masaknya baru!” ujar Rita, Daniel tersenyum geli karena wajah Rita yang terlihat sangat kagum dengan peralatan masak Radian yang lengkap.


“Kamu suka sekali memasak ya?” tanyanya, Rita mengangguk. Dengan sigap dan penuh semangat ia memasak, satu jam kemudian semua masakan terhidang.


“Wahh..wangi sekali nih!” Radian masuk ke dapur, ia melihat masakan sudah terhidang di meja makan. Sementara Rita membantu Daniel mencuci peralatan masak.


“Hey kalian! Andi!, ayo kita makan dulu!” ajak Radian


Mereka menempati tempat duduk masing-masing, dan mulai menyantap hidangan makan siang.


“Enak Rit! Ternyata Daniel gak boong!” Radian menyantap teriyaki


“Terima kasih Om!” Rita tersenyum senang dengan pujian pamannya


“Katanya kamu mau kuliah kuliner?” tanya Radian


“Iya Om, Rita ingin kuliah kuliner di Paris”


“Kenapa harus Paris? Jujur saja aku gak begitu suka dengan masakan perancis. Menurutku gak bikin kenyang!” ujar Radian, ia mengambil katsudon.


“Iya Rit!, lagi pula kamu sudah jago masak jadi perlu belajar apalagi?” ujar Daniel


Radian mengangguk setuju, tiba-tiba dua ekor kucing anggora menghampiri mereka


“Hai!! Naruto dan Songoku!” panggil Daniel, ia menggendong kucing besar itu seperti menggendong anaknya.


“Naruto dan Songoku?” tanya Andi,


“Kenapa? Heran ya? aku ngefans sama Naruto dan Songoku sejak remaja, bahkan koleksi komik dan merchandisenya” ujar Radian


“Beneran Om?” tanya Rita dan Andi gak percaya


“Mau lihat?” , Rita dan Andi mengangguk kompak. Setelah makan mereka naik ke lantai dua, di situ ia melihat koleksi Radian, mulai dari action figure, bantal, karpet, hampir semuanya bernuansa Naruto.


“Songokunya mana Om?” tanya Rita yang penggemar Dragon ball


“Oh kamu penggemar Dragon ball ya?”


“Iya Om, kalau kak Andi Naruto maniak!” ujar Rita, ia melihat Andi yang terpana dengan koleksi Naruto milik pamannya.


“Songoku di sini Rit!” Radian membuka salah satu kamar, di situ kamar bernuansa orange dan hitam, seragam bela diri Songoku.


“Keren Om!!” Rita sangat senang dengan kamar itu


“Kamar ini kamar para kucingku, Naruto dan Songoku” ujar Radian, Daniel sibuk memberi makan kedua kucing itu.


Tak terasa sore telah tiba, Andi dan Rita pamit, mereka mengikuti Daniel keluar dari daerah tersebut dari belakang, lalu berpisah di suatu tempat.


“Ya Kak?”


“Daniel nyaman banget ya di rumahnya Om? Jangan-jangan bener gosip yang beredar”


“Gosip apa kak?”


“Gosipnya Daniel dan Om Radian pacaran”


“Uhuk..uhuk..uhuk..”Rita terbatuk


“Kenapa Rit? Kok kaget sampai segitunya?”


“Masa sih kak? Gak mungkin ah?”


“Lo lihat sendiri kan tadi? Daniel seperti sudah biasa di rumah Om, padahal katanya baru seminggu pindah ke situ”


Rita diam saja, ia menjadi semakin sedih mendengar perkataan Andi, ia tidak bisa berhenti memikirkannya hingga tidak bisa tidur.

__ADS_1


_Bersambung_


__ADS_2