Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)

Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)
chapter 248: Kencan


__ADS_3

Sebelum pulang ke rumah, Daniel menemui dokter SPOG yang merawat Rita.


“Pak, ini hasil test ibu dan janin yang terakhir, dan hasilnya sangat baik. Ibu dan anak sehat”


“Alhamdulillah” Daniel bernafas lega


“Mungkin setelah anak ketiga ini lahir, ibunya istirahat dulu dari kehamilan pak. Memang usia ibu masih muda, tetapi untuk lebih amannya sebaiknya untuk anak selanjutnya diprogram agar jaraknya tidak terlalu dekat”


“InsyaAllah dokter, sebenarnya anak ketiga ini tidak direncanakan. Istri saya lupa minum pil KB dokter.”


“Kalau begitu bapak saja yang KB. Sudah ada pak suntik KB untuk lelaki dan sudah diuji 96% efektif mencegah kehamilan”


“Ini permanen dokter?”


“Tidak pak” Dokter menerangkan prinsip KB untuk lelaki pada Daniel


Setelah mendengarkan keterangan dokter


“Saya akan mempelajarinya dulu, kalau saya ingin melakukannya, bisa di RS ini dokter?”


“Bisa pak, nanti bapak bisa tanya ke resepsionis untuk program KB lelaki”


“Baik dokter, terima kasih banyak!”


“Sama-sama!”


Daniel segera mengurus pembiayaan rumah sakit dan menemui resepsionis untuk info program KB.


“Sudah Say?” tanya Rita yang telah siap di kamarnya


“Sudah, yuk kita pulang!”


“Aku bisa jalan kok!”


“Kamu naik kursi roda saja, mumpung aku pengen dorong kamu!”, Rita menurut ia menaiki kursi roda yang di bawa Daniel. Ia melihat flier yang dibawa Daniel


“Itu apa Say?” tanyanya


“Oh ini” Daniel memberikan flier program KB kepada Rita, dan ia membacanya


“Kamu mau KB ini?”


“Iya, aku saja yang KB, kamu gak usah”


Rita tersenyum


“Apa itu aman?”


“Aku mau mempelajarinya dulu, nanti kalau mau aku tinggal kemari”


“Kenapa tiba-tiba kamu ingin melakukan ini?”


“Tadi dokter bilang, sebaiknya berjarak kalau ingin punya anak lagi.”


“Memang, tetapi kita tidak merencanakan ini”


“Waktu Raffa juga enggak kan? Tahu-tahu jadi saja!”


“Yang, kamu lapar gak?”


“Lapar banget!”


“Mampir restaurant yuk?”


“Kantin di RS ini enak juga lho!”


“Memangnya kamu pernah makan di sini?”


“Setiap habis kontrol, aku selalu makan di sini”


“Memangnya kamu kontrol berapa kali?”


“Walau gak hamil aku tetap kontrol, penting lho menjaga kesehatan rahim. Aku juga sudah divaksin anti kanker serviks”


“Wah kamu benar-benar deh!”


“Ini karena majalah kesehatan yang selalu aku baca, ayah selalu membawanya ke rumah dan aku membacanya. Dalam hati, nanti kalau sudah menikah aku harus rajin menjaga kesehatan rahim dan **** * ku!”


“Aku juga harus rajin menjaganya! Hahaha!”canda Daniel


“Hahaha! Dasar! Gimana mau coba makan di kantin sini?”


“Boleh deh!”


Rita dan Daniel memasuki kantin RS, Daniel terkejut


“Eh mewah banget kantinnya” Kantin RS yang designnya seperti restaurant bintang 5.


“Iya kan? Rasa makanannya juga enak kok!” mereka memilih meja agak ke tengah. Seorang waitress datang dan memberikan menu.


“Rekomendasi makanannya apa nih?” tanya Daniel, Rita belum menjawab, tiba-tiba waitress itu menjawab


“Soto, sop dan steak kami enak pak!“


“Iya aku setuju!”


“Kalau begitu, aku minta Sop, Soto dan steak! Minumnya jus alpukat, jeruk dan air mineral 2!”


“Baik! Di tunggu ya pak!”


“Kamu benar-benar lapar ya? sampai langsung pesan tiga menu?” tanya Rita


“Aku mau steak, tapi aku mau mencoba sop dan soto. Kamu makan itu kan?”


“Jadi kita sharing food nih?”


“Kalau kurang tinggal beli lagi!”


“Kalau dipikir-pikir kamu boros juga ya?”


“Hmm! Enggak dong! Karena ini pemakaian sesuai kebutuhan! Kalau boros itu, gak perlu tapi kita beli nah itu boros!”


“Iya sih, tetapi kita sudah keluar uang banyak untuk biaya berobat aku di sini!”


“Kamu gak usah khawatir itu semua!, selama kita menggunakan uang kita untuk kita nikmati sendiri itu gak salah!”


“Tapi kita harus menyimpan untuk masa paceklik, ingat kan waktu pandemi?”


“Itu betul, tetapi bukan berarti aku harus membatasi keinginanku, kamu pernah dengar gak cerita tentang ibu Ayu?”


“Ibu Ayu? Orang Indonesia?”


“Iya, aku membacanya dari pesan WA di ponsel ku, aku menanyakan pada Mario untuk menerjemahkannya”


“Kenapa sama bu Ayu?” “


“Bu Ayu itu istrinya seorang pengusaha restaurant. Dia bekerja keras dari pagi hingga malam untuk menjalankan rumah makan miliknya dan suaminya. Dia menyimpan uang hasil jerih payahnya, bahkan untuk baju saja ia tidak menggantinya kalau tidak sobek atau usang. Hidupnya sangat irit, hingga suatu hari ia jatuh sakit, lalu meninggal dunia”


“Innalillahi wa’innaillaihi roji’un”


“Iya, lalu kamu tahu uang yang sudah ia kumpulkan selama ini siapa yang menikmati?”


“Anaknya?”


“Bu Ayu tidak punya anak”


“Lalu ke siapa?”

__ADS_1


“Suaminya bu Ayu menikah lagi, dan uang jerih payah bu Ayu yang menikmati istri baru suaminya”


“Wah, kasihan banget bu Ayu”


“Nah dari situ aku belajar, memang menyimpan itu bagus, berbagi untuk orang lain juga bagus, tapi menikmati untuk diri sendiri juga gak salah kan?”


“Iya sih!”


“Nah sekarang, kalau ada keinginan kamu yang tertahan, dan hidup kita Cuma punya sehari, kamu mau ngapain?”


“Sebenarnya aku mau sesuatu”


“Apa?”


“Aku ingin kencan berdua saja sama kamu!” ujar Rita


“Kencan?”


“Iya!, tapi semua aku yang bayar kamu gak boleh keluar uang sepeser pun!”


“Beneran nih?”


“Iya!, aku sudah lama mikirnya. Karena melahirkan dan kesibukan kita, aku hampir melupakan keinginan ku”


“hmm..apa kamu baik-baik saja?” tanya Daniel curiga


“Aku sehat-sehat kok! gimana? Kamu mau kan kencan sama aku?”


“Kapan?”


“Hari ini saja, toh masih belum sore. Lagi pula kalau menunggu besok nanti malah batal lagi”


“Iya, terakhir kali batal karena ayah sakit kan?”


“Oh iya ya? tapi kenapa harus uang mu? Apa kamu gak percaya aku bisa membayarnya?”


“Bukan begitu, karena keinginan ku ini, agak mahal dan egois sifatnya. Kalau pakai uang mu nanti aku merasa bersalah”


“Hmm..baiklah!” Daniel mulai menyantap makanan yang telah tersaji


“Enak! Aku suka steaknya! Tadi harganya berapa?”


“80 ribu!”


“murah ya?”


Mereka menyantap makanan dengan tenang, sesekali Daniel mencoba soto yang Rita makan, begitu pula sebaliknya.


“Aku ingin steak ini, kamu mau?”


“Jangan deh, kan dari sini kita mau kencan!” cegah Rita


“Oh iya!”


Setelah membayar makanan, mereka pun keluar dari rumah sakit.


“Pak! Ke alamat ini ya?” Rita memberikan alamat yang hendak mereka tuju ke supir mereka.


Mobil SUV berwarna biru itu meluncur ke tempat yang Rita inginkan, keadaan lalu lintas ke tempat itu tidak padat jadi hanya dengan beberapa menit mereka bisa sampai di tempat itu.


“Tempat apa ini Yang?” tanya Daniel


“Ini? Ini seperti factory outlet, biasanya banyak di Bandung, tapi sudah lama aku ingin kemari. Dulu waktu masih sekolah aku berkhayal keliling-keliling tempat ini bersama pacar ku!” ujar Rita tersenyum, ia memakai tas selempangnya. Daniel tersenyum mendengar keinginan istrinya.


“Tunggu di sini ya pak!” pinta Rita


“Iya non!” jawab supir itu


Rita mengajak Daniel untuk memasuki sebuah FO, ia melihat-lihat baju di sana. Ia mencoba beberapa pakaian.


“Bagaimana menurut mu?” tanyanya ke Daniel


“Iya ya? hahaha!” Rita kembali ke kamar pas dan mencoba baju yang lain.


“Kalau yang ini?” Rita mencoba setelan berbahan denim


“Kamu ingin pakai jeans lagi ya?”


“Iya! Aku kan belum tua banget!” jawab Rita, wajahnya memelas


“Ya sudah!, karena ini keinginan mu, lakukan yang kamu suka!”


“Asyiikkk!!!”


Rita membeli beberapa setelan berbahan denim, ia juga membelikan untuk kedua anaknya dan suaminya. Cukup banyak uang yang ia habiskan di tempat itu


“Sudah semuanya?” Daniel membawa banyak bungkusan


“Taruh di mobil dulu, ada satu tempat lagi!” ujar Rita dengan riang. Daniel menaruh semua belanjaan istrinya di mobil, lalu kembali lagi ke tempat semula. Kali ini Rita mendatangi sebuah toko lumayan mewah.


“Nah ini!”


“Ini apa?”


“Aku suka model baju di toko ini, masih ada gak ya?”


“Hah? Memangnya tahun berapa baju yang kamu mau itu dibuat? Apa masih ada?” tanya Daniel heran.


“Sudah ikut saja!” Rita menarik suaminya, lalu berkeliling toko itu dan melihat baju yang dulu pernah ia taksir


“Masih ada Say!” ujarnya senang, lalu ia mencoba di kamar pas.


“Bagaimana?” ia menunjukkan pakaian yang ia pilih. Baju bergaya cheongsam berwarna hijau tampak cantik melekat di tubuh Rita. Daniel terpaku melihat istrinya memakai baju itu


“Gimana? Bagus gak?” tanya Rita mengaburkan lamunan Daniel. Beberapa lelaki dan SPG lelaki juga terkesima melihat penampilan Rita


“Bagus! Memangnya kamu mau pakai kapan?”


“Kondangan? Hehehe?”


“Tolong tanyakan, untuk yang lelaki berwarna sama ada gak!” ujar Daniel


Rita menanyakan ke SPG. Dan mereka segera mencarinya. Beberapa saat kemudian SPG datang membawa permintaan Rita.


“Atasannya saja Say!” ujar Rita


“Ya gak apa-apa, aku coba ya?” Daniel masuk ke kamar pas dan mencobanya, lalu keluar


“Bagaimana?” kali ini Daniel yang mendapat perhatian para tamu dan SPG di situ.


“Bagus!” Rita sangat senang.


“Mba! Kami ambil ini dan ini ya?” pinta Rita


“Eh ada yang untuk anak-anak? Warnanya sama?” tanya Daniel


“Warna sama?” SPG mencarikan, kemudian memberikan kepada Daniel


“Oke, kami ambil ini juga” ujar Daniel dengan bahasa Indonesia yang terbata-bata.


“Karena ada baju ku dan anak-anak, aku yang bayar!” ujar Daniel


“Enggak! ini masuk kencan istimewa aku, kamu gak boleh keluar uang!” ujar Rita, ia memberikan kartu debitnya ke kasir. Dari toko itu, mereka memborong snack masa kecil.


“Sudah?” tanya Daniel


“Belum!! Ada lagi! Ayo ke resto ini!” , mereka mampir ke sebuah resto dengan menu andalan roti bakar. Rita memesan juga dibungkus untuk supir.

__ADS_1


“Tahun berapa kamu punya keinginan ke toko tadi?” tanya Daniel,


“Tahun berapa ya? mungkin waktu umur dua belas tahun!”


“Lama juga, kamu tahu tempat itu dari mana?”


“Waktu umur segitu, aku sering bolos sekolah. Aku main kesini sendirian. Dulu toko itu terlihat lebih besar, aku gak bisa masuk karena masih anak-anak. Tapi melihat display di depan toko itu, aku berkhayal suatu saat aku akan membeli baju di toko itu dengan suami ku, eh ternyata jadi kenyataan!”


“Memangnya apa istimewanya toko itu dibandingkan toko yang lain?”


“Aku juga gak ngerti, menurut ku toko itu menarik”


“Kenapa kamu gak ajak mama mu kemari?”


“Aku jarang jalan dengan mama, kecuali waktu ke Bali. Itu pun aku harus menunggunya kerja dulu.”


“Mama mu wanita yang sangat sibuk ya?”


“Iya, sangat!, tetapi mama selalu menyempatkan waktunya untuk ku. Apa lagi setelah ayah membolehkan aku pergi bersamanya”


“Aku bingung deh!” ujar Daniel sambil mengambil roti bakar isi kornet keju


“Bingung kenapa?”


“Sebenarnya kamu yang gak mau pergi ninggalin ayah, atau ayah yang melarang mu pergi? kamu bilang kan, bisa pergi dengan mama mu di usia enam belas tahun?”


“Iya ya? aku juga baru kepikiran, sebenarnya aku bisa saja minta dibawa mama sebelum umur 16”


“Terus kenapa enggak?”


“Kenapa ya? Aku lupa!, Karena hingga umur 10 tahun, kami sering diam-diam pergi dari rumah tempat kami tinggal, ketika ketahuan oleh kakek Sugi. Tapi belakangan kakek tidak kesulitan menghubungi ku. Ayah ku memang gak jelas!” jawab Rita


“Sama dong seperti anaknya, kencan ini selesai?” tanya Daniel, ia kelihatan sudah lelah


“Untuk sementara sudah!”


“Untuk sementara? Memangnya ada lagi?”


“Sebenarnya ada! Kamu tahu motorcross?”


“Motorcross? Yang motor di jalanan becek?”


“Iya! Aku ingin main itu!, karena aku sedang hamil jadi tidak mungkin”


Daniel termangu dengan keinginan istrinya


“Dulu ayah selalu meninggalkan ku sendirian di rumah, nah diam-diam aku ikut club motorcross di Sukabumi. Aku bahkan memenangkan pertandingan tingkat lokal”


“Kamu menang?”


“Iya, lawan ku perempuan juga, jangan heran lho banyak perempuan yang lebih jago main motorcross dibandingkan cowok”


“Oh begitu, tapi apa di sini ada arena itu?” tanya Daniel, ia penasaran dengan cerita istrinya


“Ada, tapi namanya tong setan. Aku gak mau itu, ada kok arenanya. Nanti ya kalau aku sudah melahirkan, kita kemari lagi”


“Heeh” Daniel agak segan mengiyakan, dalam hati ia berdoa agar istrinya melupakan keinginan gilanya itu.


Mereka kembali ke rumah saat malam hari, kedua anak mereka telah terlelap di kamar tidur orang tuanya.


“Sudah kencannya?” tanya Ratna


“Sudah ma, terima kasih ya? ini oleh-oleh buat mama dan kak Andi” Rita memberikan roti bakar yang ia beli tadi


“Terima kasih ya ma!” ujar Daniel


“Sama-sama, kapan lagi nenek main agak lama dengan cucunya” jawab Ratna tersenyum


“Anak-anak sudah tidur ma?” tanya Rita


“Sudah, mereka minta tidur di kamar kalian. Raffa bahkan mengambil pakaian kalian dari lemari. Benar-benar deh!” Ratna geleng-geleng


“Hah?” Daniel segera masuk ke kamar tidurnya, ia melihat kedua anaknya terlelap dengan memegang pakaian kedua orang tuanya.


“Rita, besok mama akan menemani Andi ke Auckland. Kamu sudah sehat kan? Oh iya Kakek Dar juga akan tinggal di Singapura”


“Hah? Kakek? Mulai kapan?” tanya Rita


“Mungkin minggu depan, beliau bilang kalau bolak-balik naik jet mahal. Jadi beliau memakai apartemennya di sana”


“Kakek punya apartemen di Singapura?”


“Punya dong!, selama ini disewakan, tetapi beberapa bulan ini sudah kosong, jadi kakek yang akan menempatinya”


“Apa apartemen kakek masih kosong?” tanya Rita


“Gak tahu, kenapa?”


“Daniel mau menyewakan apartemen kami, sudah beberapa peminat, kami bingung menaruh barang-barang, kalau kakek mau memakai furniture kami, itu lebih baik kan? Lebih hemat”


“hmm...Besok kamu bilang saja sama kakek, siapa tahu beliau tertarik dari pada beli furniture lagi, kebanyakan!”


“Iya deh”


“Sudah ya Rit, mama capek”


“Iya ma terimakasih ya!”


“Sama-sama!” Ratna keluar dari kamar Rita dan kembali ke kamarnya di lantai 3


Rita mengunci kamarnya, lalu masuk ke kamar tidur mereka


“Lihat anak-anak ini!” ujar Daniel


Rita tersenyum melihat anaknya memegang bajunya. Kemudian ia agak kesal, karena lemari pakaiannya berantakan


“Anak-anak itu, benar-benar deh!” Rita membenahi bajunya yang berserakan di lantai


“Kamu istirahat saja, biar aku yang rapikan!” ujar Daniel


Rita mengambil piyamanya, lalu ke kamar mandi, sedangkan Daniel merapikan pakaian mereka kembali ke lemari pakaian


Setelah mandi dan sholat Isya, Rita mencium bau masakan dari dapur, lalu ia keluar


“Kamu masak sesuatu?” tanyanya


“Hehehe, aku sedang menghangatkan steak yang tadi, kamu mau gak?”


“Mau deh! Sebenarnya sudah malam, tapi wanginya menggoda sekali”


Daniel memberikan steak kepada istrinya


“Nih, makan pelan-pelan ya?”


“Kok aku gak tahu kamu pesan lagi?”


“Tadi aku bilang ke pelayannya untuk di antar ke alamat ini, 4 porsi, dia senang sekali”


“Empat porsi? Itu 320 ribu!”


“Iya, aku memberinya 400 ribu sama ongkir”


“Tentu saja ia senang!”


“Steak ini enak! Dua lagi untuk besok pagi”


“Jangan terlalu banyak makan daging, nanti kolestrol!”Ujar Rita mengingatkan

__ADS_1


“Sudah makan saja!” ujar Daniel sambil menyantap steaknya


_Bersambung_


__ADS_2