
Rita menyendiri di teras depan kamarnya di rumah Auckland, Daniel menghampirinya
“Hei, lagi ngapain?” Daniel memeluk istrinya dari belakang
“Lagi melamun”
“Melamun? Melamun apa? dari tadi aku mencari mu, gak tahunya ada di sini”
“Aku senang di teras depan kamar, banyak yang bisa aku lihat dari sini. Apalagi pemandangan dari atas sini. Dulu aku sering memandang kepergian mobil mu dari tempat ini” Rita bernostalgia
“Oh ya? dulu aku juga ingin langsung naik ke kamar mu setiap aku kangen”
Rita tersenyum mendengar balasan suaminya
“Ada apa?” tanya Daniel, ia duduk menghadap istrinya
“Aku ditolak!”
“Huh? Apa? ditolak? Siapa?”
“Kakek! Aku mengajukan diri menjadi Dirut Dar.co cabang Jakarta, dan kakek menolak ku. Secara halus dan menyentuh tetapi tetap saja itu penolakan” Rita menyatakan dengan nada lirih
“Kakek bilang apa?”
“Dia mengakui ku atas D’Ritz, tapi beliau bilang, menjadi dirut itu berat, kerja tiada henti dan bisa mematikan hati nurani. Aku sangat baik mengurus anak-anak. Huh!” keluh Rita kesal
“Tapi kamu memang sangat baik mengurus anak-anak!” puji Daniel
“Terima kasih!” Rita tersenyum membalas pujian suaminya
“Tetapi kakek memberikan Dar.Co cabang Zurich pada tante Metha. Perbuatan lebih nyata daripada ucapan!” ujar Rita lagi
Daniel terdiam mendengar ocehan istrinya
“Kenapa kamu diam saja?” tanya Rita
“mmm... apa kakek menyebut tentang ku?”
“ya, beliau minta padaku untuk membujuk mu agar kamu mau mejadi dirut Dar.Co Jakarta”
“Lalu kamu bilang apa?”
“Aku bilang, berikan waktu 5-6 tahun kepada Daniel untuk belajar di tempat lain, sebelum memimpin Dar.co”
“Hah? Kamu bilang begitu?” Daniel terkejut dengan ucapan istrinya, Rita mengangguk
“Kok kamu PD sekali aku bakal kembali ke Dar.Co?” tanya Daniel
“Aku memperhatikan mu lho! Meskipun kamu menikmati semua fasilitas dari Lexi, tetap saja kamu merasa ada yang lain darinya. Perkiraan ku, kamu mungkin 2x perpanjangan kontrak lalu keluar”
“Sok tahu ah!”
“Itu kan prediksiku. Lexi memang hebat, tetapi ia seperti menguras habis energi mu. Benar gak?”
Daniel bangkit lalu memeluk istrinya gemas
“Tapi aku selalu berenergi kalau di dekat kamu!” Daniel mencium leher Rita
“Eh, Yang, Rayya mana?”
“Rayya? Tadi Andi datang dengan khusus dan meminta izin untuk membawanya bermain dengan kakak-kakaknya. Dia bilang dia sedang bikin video bersama para keponakan, obat rindu jika ia jauh dari mereka”
“Tumben kamu izinkan Rayya, biasanya kamu nempel banget!” goda Rita
“Anak itu, aku benar-benar memanjakannya, eh tetap saja dia pro ke kamu!”
“Hahahaha...kamu itu ganteng tapi baperan!”
“Aku baper?”
“Iya! Baper!, Rayya kan masih ASI tentu dia sangat dekat dengan ku.”
“Ranna sudah tidak ASI lagi tapi tetap saja!”
“Kamu tahu kan posisi ibu itu 3x di atas ayah!”
“Maksud mu?”
“Iya, ibu itu mengandung, melahirkan dan menyusui. Kalau kamu ingin dekat 3x dengan anak-anak, coba dong 3M itu!” ujar Rita tersenyum jahil
“3M? Aku ngidam waktu Raffa saja aku sudah gak tahan apalagi harus menyimpan bayi di perut selama 9 bulan” gumam Daniel
“Nah! Sekarang ngerti dong? Masa gitu aja gak ngerti!”
“iya ngerti, tapi karena obrolan ini kamu jadi gak sedih lagi kan?”
“sebenarnya aku sudah putuskan”
“Putuskan apa?”
“Kalau kakek tidak mau memberi, kalau begitu lebih baik aku beli saja!”
“Hah? Maksud mu?”
“Kalau goal mu di Lexi itu Lexus, kalau aku Dar.co. Aku akan membeli saham-saham Dar.Co. Aku akan membicarakannya dengan Erina ketika di Singapura nanti” tekad Rita
Daniel memandang wajah istrinya dengan perasaan kagum
“Wahhh...istri ku ambisius sekali! Aku gak menyangka menikah dengan seorang perempuan ambisius”
“Manusia itu harus punya ambisi, atau tujuan hidup! Itu yang membuat hidup lebih berarti!” ujar Rita optimis
“Kalau kamu sudah mendapatkan Dar.Co, dan menjadi dirut, aku dan anak-anak gimana?”
“gimana-gimana? ya biasa saja. Aku kerja pagi sampai sore, lalu pulang. Kita kan bisa ketemu malam dan weekend!”
“Yaa gak seru!”
“kok gak seru?”
“Iya gak seru! Kamu gak bisa datang lagi bersama anak-anak menjadi kejutan bagi ku! Karena pasti sudah sibuk!” ujar Daniel dengan wajah kecewa
“Memangnya kamu gak terganggu dikejutkan dengan kedatangan ku dan anak-anak?”
“Enggak! justru aku senang sekali! Aku bahagia!!! Aku sedang kerja eh anak dan istri ku pada datang!! Benar-benar mood booster!” jawab Daniel sambil mencium pipi Rita
“Kamu aneh banget ya?”
__ADS_1
“Aku aneh?”
“iya! Aneh, kadang orang kalau kerja itu maunya fokus, gak diganggu. Eh kamu malah..”
“ya tergantung siapa yang ganggu lah! Kalau kamu dan anak-anak itu mood booster! Selain itu baru deh gangguan!”
“Eh sayang, besok kita berangkat jam berapa?”
“Kita dapat penerbangan sore, insyaAllah besok pagi sampai di Singapura, kenapa?”
“Karena besok kita sudah pergi, makan malam ini kamu di ruang makan ya? kasihan kakek kesepian” bujuk Rita sambil memeluk pinggang suaminya
“Iya..iya..niat ku memang begitu. Tadi siang aku juga menyapa kakek di ruang kerjanya”
“Terus?”
“Ya biasa saja, kami ngobrol-ngobrol. Dan beliau ingin segera punya cicit lagi!”
“Itu kamu kali!”
“ih beneran! Beliau bilang, Ranna dan Raffa seperti anak kembar, mungkin lucu kalau Rayya punya kembaran juga!”
“Kalau aku cenderung ingin anak lelaki” jawab Rita
“kenapa?”
“Ya supaya adil, 2 lelaki 2 perempuan! Selama ini aku melihat Raffa sangat menjaga saudara perempuannya, lucu banget. Anak seusia dia sudah pandai bertanggung jawab” Rita tersenyum mengingat putra keduanya
“Itu karena aku selalu mengajarkannya menjadi lelaki! Kamu tahu kan aku selalu mengajaknya ke mesjid, kantor dan acara-acara kantor”
“Mungkin dari situ juga Raffa lebih dewasa”
Mereka asyik mengobrol, tiba-tiba kedua batita menghambur
“Mamiiiii!!!papiiii!!!” Ranna dan Raffa langsung nomplok di kaki kedua orang tuanya
“hey! Kalian sudah puas main sama uwa?” tanya Daniel
“Yes! He gave us these!” Raffa menunjukkan smartwatch mungil yang menempel di tangannya
“Aku juga punya!” Ranna menunjukkan tangannya kepada Daniel dan Rita
“Wow! Uwa ngasih ini satu-satu?” tanya Rita
“Yes!, Rayya has too!” jawab Raffa
“Ini gak apa-apa radiasinya?” tanya Daniel pada Rita
“Gak usah khawatir! Itu smart watch khusus untuk anak-anak! Keluaran terbaru perusahaan gue, sudah diuji keamanannya!” ujar Andi yang datang tiba-tiba sambil menggendong Rayya, dan mengembalikannya kepada Daniel
“Kamu pakai apa nak?” tanya Daniel pada Rayya, ia menggoyang-goyangkan tangannya untuk menunjukkan smartwatch nya.
“Terimakasih ya kak! Jadi gak enak nih ngerepotin terus” ujar Rita
“enggak repot kok!, eh ini ada 2 lagi untuk kalian!” Andi memberikan 2 kotak untuk Rita dan Daniel.
Dengan senang mereka membukanya
“Wah keren banget Di!” Daniel menyukai desainnya, ia langsung memakainya begitu juga Rita
“coba deh, pencet quick dial di angka 1” ujar Andi memberi instruksi. Daniel melakukannya, tiba-tiba
Smartwatch di tangan Rita dan anak-anak saling terhubung
“Halo!!!” Daniel melakukan vcall dari smartwatchnya
“papiii!!!” kedua batitanya tertawa senang melihat wajah papinya di tangan mereka
“ini baterainya tahan berapa jam kak?” tanya Rita
“10 jam! Asal dimatikan waktu mencharge nya!”
“Oh begitu, terima kasih ndi!, kamu banyak ngasih barang ke anak-anak. Aku jadi bingung ngebalasnya” ujar Daniel
“gak usah dibalas! Boleh main sepuasnya dengan anak-anak saja gue sudah senang banget!!”
“uwaaa!!!” Ranna dan Raffa memeluk kaki uwanya
“Anak-anak bilang apa ke Uwa?” tanya Daniel
“Thank you very much Wa!” Raffa mencium dan memeluk Andi
“Terima kasih banyak Wa!” ujar Ranna melakukan hal yang sama
“Adek juga, terima kasih Uwa!” Daniel mendekatkan Rayya ke Andi
“Eh iya Rit, tentang Dar.co. Kata-kata kakek jangan terlalu diambil hati. Beliau memang agak sensi sejak sakit”
“Iya kak!”
“Tapi Niel!, kamu itu sudah diproyeksikan menjadi dirut Dar.co lho! Makanya kakek setuju kalian menikah!”
“Eh?” Daniel dan Rita tertegun dengan ucapan Andi yang tiba-tiba
“Bahkan Om Radian sudah merekomendasikan kamu Niel”
“Sejak kapan?”
“Sejak kamu direkrut!”
“Ah masa?” Daniel tidak percaya
“Beneran! Makanya mendiang menyuruhmu sekolah sampai S3 kan?”
“Kalau kami gak menikah, apa Niel tetap jadi CEO?” tanya Rita
“Mungkin ya mungkin tidak!”
“Kok mungkin tidak?”
“Bagaimana pun juga Dar.co itu milik keluarga, milik kakek sih, tapi kakek kan punya keluarga. Dan kita ini keluarganya. Kamu sudah jadi bagian dari keluarga ini Niel! Kakek memberi waktu paling lama 7 tahun untuk belajar di perusahaan lain. Setelah itu kembali ke Dar.co ya!” ujar Andi tegas
“Itu perintah?” tanya Daniel
“Yaa...bisa dibilang begitu! Masa kamu tega membiarkan Dar.Co jatuh ke tangan orang lain? Kamu tahu sendiri kan bagaimana Dar.co ini membesarkan kamu!” ujar Andi lagi
Daniel terdiam, ia pikir perkataan Andi ada benarnya
__ADS_1
“Lagi pula Niel, kalau kamu menjadi dirut kamu dengan leluasa bisa membuat suara-suara sumbang itu keluar dari Dar.co! keluarin saja kalau gak suka sama kamu!” ujar Andi galak
“Wuidihh...kak Andi...serem!” ujar Rita
“Beneran Rit!, gue nih di London banyak dengar suara sumbang, masih muda lah, cucu manja, gak bisa kerja, macam-macam deh! Gue langsung bilang begitu awal masuk. Gue adalah pemimpin di perusahaan ini. Gak suka boleh keluar! Gue gak butuh suara sumbang yang meragukan gue!”
“Terus kak?”
“Gak ada lagi tuh yang ngomongin! Yaa mungkin ada sih di luaran sana, tapi gue bilang juga lewat jaringan kantor, siapa saja yang ngegosipin gue, ngomongin yang jelek, gue trace alamatnya emailnya, begitu ketahuan bakal langsung dipecat! Dan gue pastiin tu orang gak dapat kerjaan di mana pun! Gue ancam gitu! “
“Berhasil?” tanya Daniel
“Tentu dong!, lagi pula kalau dengerin mereka gak selesai-selesai Niel! Belum tentu kerja mereka lebih baik dari kita!” sambung Andi lagi
“Eh Di, ngomong-ngomong tentang pak Radian, apa beliau masih hidup ya?” tanya Daniel tiba-tiba
“Hah? Kata siapa?” tanya Andi
“Sebenarnya, beberapa waktu lalu Raffa bilang , Om Radian minta tolong” ujar Daniel lagi
“Minta tolong dari alam kubur maksudnya?” tanya Andi bingung
“Bukan! Dari alam sini lah!” jawab Rita dan Daniel bersamaan
“Apa firasat Raffa ini akurat?” tanya Andi menyelidik
“Kayaknya lebih bagus dari Rita deh!” jawab Daniel
“Maksud mu APA???” tanya Rita tersinggung
“ya, waktu kakek jatuh kan, Raffa yang bilang duluan, kamu gak ada firasat apa-apa kan?” ujar Daniel
Rita diam saja karena kesal
“Tapi kan Niel, bukannya kamu yang mengidentifikasi jenasah beliau pertama kali?” tanya Andi
“Iya Yang? Kan kamu yang diminta mengenali jenasahnya, kalau aku sih lagi di UGD nungguin O” ujar Rita mengingat masa itu
“Sebenarnya, wajahnya sulit dikenali. Sudah rusak dan berlumuran darah. Aku gak kuat ngeliatnya. Jadi aku iya kan saja" jawab Daniel
“Tapi kamu kan mantan agen interpol, masa gak kuat lihat muka hancur?” ujar Rita lagi
“Waktu pelatihan dengan mayat, aku banyak skip nya!, aku gak kuat ngeliat yang serem-serem takut terbawa mimpi” elak Daniel
“Jadi gimana dong?”tanya Andi bingung
“Apa bongkar lagi makamnya, terus minta tes DNA?” tanya Daniel
“Memangnya bisa semudah itu?” tanya Rita
“Harus ada perintah pengadilan" ujar Daniel
“Iya! Alasan harus kuat, masa iya kita bilang karena ada anak kecil yang ngomong om Radian masih hidup” ujar Andi
“Eh kak Andi, cerita saja ke kakek! Siapa tahu kakek mau mengusahakan!” ujar Rita
“Bilangnya gimana?”
“Ya cerita saja tentang kemampuan Raffa, terus cerita deh tentang Om Radian yang dilihat Raffa”
“iya Ndi!” sambung Daniel
“Hmm...kalau kakek Dar agak susah percaya sama 6th sense, beliau logic banget! Mungkin gue bisa bujuk dari kakek Sugi”
“Kakek Sugi?” ujar Rita dan Daniel bersamaan
“Kalau kakek Sugi terbuka dengan 6th sense, mungkin pengalaman sama Elo Rit, sedangkan kakek Dar kan baru kenal lo beberapa tahun ini”
“Iya kak! Disegerakan saja, supaya kita bisa bantu Om Radian” ujar Rita
“Besok, kalian ke Singapura ya?”
“Iya! Kamu mau ikut?” ajak Daniel
“Enggak ah! Aku di sini dulu beberapa bulan, setelah itu kembali ke London”
“Jadi kapan kak Andi cerita ke kakek Sugi?”
“Nanti malam, lewat Vcall”
“Memangnya kakek mau di Vcall?”
“Kalau sama gue selalu mau tuh, memangnya sama elo enggak?”
“Bukannya gak Vcall Rita masih takut sama kakek Sugi” ledek Daniel
“ih siapa yang takut! Kamu tuh!!” Rita mencubit lengan suaminya gemas.
Keesokan sorenya mereka berangkat ke Singapura dan tiba pagi hari di apartement mereka.
“ Alhamdulillah,...sampai juga!!” Rita dan Daniel rebahan di ranjang mereka, kedua batita mereka langsung naik ke ranjang dan lompat-lompatan
“Hei!!! Jangan lompat-lompat nanti jatuh!” larang Rita
“Aku capek sekali!, kenapa kedua baby sitter malah pada kembali ke Jakarta?” keluh Daniel
“Mereka kangen keluarga, mungkin mempersiapkan diri juga untuk menetap bersama kita di Swiss”
Rita memindahkan Rayya ke box tidurnya
“Kakak, abang, mau tidur apa mau mami kunciin di luar?” ancam Rita
“Tidur mi!”jawab Ranna sambil rebahan di samping papinya, diikuti Raffa
“Enak kan tidur bareng-bareng gini!” ujar Daniel , ia diapit kedua buah hatinya sementara Rita sibuk dengan ponselnya.
“Nanti siang saya ke toko ya? kami baru saja tiba!” ujar Rita pada Erina
“Oh baik bu, akan saya tunggu!”
“Terima kasih Er!” Rita menutup percakapan ponselnya, dan mendengar sesuatu dilemparkan ke pintu apartemen mereka. Rita membuka pintu apartemen dan didapatkan sebuah gulungan.
“Apaan nih? siapa yang melempar?” Rita ingat ia pernah memasang kamera kecil di depan pintu apartemennya. Ia membuka aplikasi ponsel dan melihat kejadian beberapa menit yang lalu
“Siapa tuh?” ia melihat rekaman orang yang melempar ke depan pintunya
_Bersambung_
__ADS_1