
“Sayang, maaf sepertinya aku gak bisa ikut kamu ke Sukabumi minggu ini” Ujar Daniel suatu pagi
“Kenapa?”
“Aku diminta datang ke kantor Lexington Jakarta untuk interview lanjutan”
“Jadi besok kita gak jadi ke Singapura?”
“Enggak jadi, mereka menghubungiku untuk datang besok langsung ke kantor Lexington”
“Waahh...kamu diterima Say!” Rita memeluk suaminya
“Belum tentu, ini interview tahap lanjutan”
“Ribet amat! Apa gak cukup dengan yang sebelumnya?”
“Itu kan yang di Singapura, sedangkan aku minta penempatan Jakarta, sudah pasti harus di sini kan?”
“Kalau besok kamu ke kantor, berarti Sabtu ini bisa dong ke Sukabumi?”
“Nah itu, aku dapat kabar, mereka bilang owner Lexington langsung akan mengajak para kandidat mendaki gunung sebagai tes akhir, rencananya Jum’at , pulangnya Minggu”
“Hah? Kemping? Ke gunung mana? Sekarang semua gunung di Indonesia lagi pada gelisah”
“Gak tau nih, tapi mereka bilang supaya para kandidat mempersiapkan perlengkapan kemping”
“Sebentar aku gak ngerti, besok kamu ke kantor Lexington terus hari jum’atnya kemping gitu?”
“iya begitu!”
“Aneh banget!, apa aku gak usah ke nikahan Lisa?”
“Jangan! Dia kan sahabat kamu, waktu kita nikah dia banyak bantu lho!”
“Kok kamu tahu?”
“Tentu! Mario, Qowi dan Lisa yang menjadi EO nya, mereka melapor ke aku”
“Oh begitu, aku gak tahu sama sekali lho!”
“Memang! Aku hanya ingin pengantin ku terima beres!”
“Itu sebabnya kamu menyebut Lisa itu si Pintar?” Rita mengatakannya dengan nada cemburu
“Memang dia pintar, kamu sendiri yang cerita kalau dia seperti ensiklopedia berjalan” Daniel merangkul istrinya
Esoknya, sepulang dari kantor, setelah membersihkan diri dan berganti pakaian, seperti biasa Daniel dan anak-anak duduk di meja makan untuk makan malam.
“Bagaimana wawancara mu hari ini?” tanya Rita, ia menyuapi kedua anaknya
“Baik, lancar!, aku bahkan bertemu owner nya langsung!”
“Wahh...keren nih!”
“Kamu pasti kaget”
“Kaget kenapa?”
“Siapa owner Lexington?”
“Siapa?”
“Tuan Alex Ferguson”
“Alex Ferguson? Siapa ?”
“Kamu gak ingat?”
“Enggak!” Rita menggeleng
“Dia itu kakak tirinya Lucas!”
“Lucas? Charles Lucas?”
“Iya betul!”
“Wah dunia sempit ya?”
“Iya, ketika bertemu dia langsung menyalami ku, dia juga menanyakan kamu!”
“Dia ingat aku?”
“Tentu! Karena mimpi mu yang melihat seseorang terperangkap di gunung”
“Aku kok bisa lupa ya?”
“Kamu gak ingat?”
“Itu mimpi yang mana?”
“Mimpi itu jauh sebelum kita menikah. Waktu itu kita dalam perjalanan ke Dubai, kamu mimpi di pesawat. Ada seseorang terengah-engah dan minta tolong. Sepertinya ia terpeleset salju dan masuk ke lubang yang ternyata sebuah lembah. Lembah itu seperti gua dalam tanah ada jalan, dia mengikuti jalan itu berharap bisa naik ke atas”
“Jalannya melingkar gitu? Kenapa dia gak teriak minta tolong? Apa gak ada temannya?”
“Menurut ceritanya, dia pergi bertiga dengan temannya, seharusnya Lucas ikut tetapi saat itu ada masalah di kantor sehingga Lucas tidak jadi ikut.”
“Lalu?”
“Lalu, ketika berjalan menyusuri jalan setapak yang licin dan menurun, ia terpeleset dan merosot mengikuti jalan hingga berakhir di lubang lembah itu”
“Apa teman-temannya mencarinya?”
“Mereka langsung melapor, tetapi malang saat itu terjadi badai salju selama tiga hari lamanya, sehingga bekas-bekas jalan yang ia lewati terhapus”
“Waduh kasihan, dia gak bawa HT?”
“enggak!, itulah yang disesalkan Lucas.Kamu ingat gak, bagaimana Lucas melihat jaket yang kamu pakai?”
“Iya? Kenapa?”
“Nah, ternyata itu rancangan Alex. Lucas mengenalinya, dia mencecar mu kan? Bagaimana kamu mendapatkan jaket itu, dia berharap bisa menemukan kakaknya yang hilang”
“Gunung itu, gunung yang sama ?”
“Iya, betul!”
“Sejak kita terperangkap bersama Lucas dan ke Dubai, itu lama kan?”
“Iya! Dia sendiri gak ingat waktu. Pokoknya ia berusaha jalan ke atas saja”
“Bagaimana dia bisa selamat?”
“Pertama kali kamu bermimpi di pesawat terbang saat subuh, ketika kembali kamu mimpi lagi kali ini kamu mendapat gambarannya secara utuh. Eh , salah ya, seingat ku kamu empat kali bermimpi sampai kamu benar-benar mendapat gambaran yang utuh tentang orang itu”
“Oh iya!, waktu itu kamu sempat gak percaya kan?”
“Tentu dong! Aku kan seperti orang kebanyakan tetapi Andi meyakinkan ku untuk mengeceknya lalu aku menghubungi Simon. Aku bertanya tentang orang yang bernama Alex. Ketika mendengar nama Alex, Simon langsung bilang ke Lucas, tanpa pikir panjang Lucas mengirimkan hampir setengah pasukan SAR untuk datang ke tempat yang kamu bilang dan benar, Alex ditemukan. Ia hampir mati”
“Tapi aku dengar kakak Lucas perempuan?”
“Alex ini kakak dari istri pertamanya ayah Lucas, ibunya bukan dari keluarga bangsawan sehingga Alex tidak mendapat keistimewaan seperti Lucas akan tetapi Lucas sangat menyayangi kakaknya ini”
“Seru ya?”
“Ketika Alex sadar di rumah sakit, dia nanya bagaimana bisa selamat. Lucas menceritakan tentang mimpi mu ke dia!”
“Oh begitu, syukurlah. Akhirnya mimpi ku bisa menyelamatkan nyawa ya” Rita menghela nafas lega
“Tadi Alex banyak bercerita, Lucas mencarinya berbulan-bulan lamanya sampai ia bertemu dengan gadis tomboy dengan jaket yang ia buat, sejak itu ia memperhatikan mu dan berharap petunjuk apapun itu”
“Jadi Lucas itu percaya hal yang gaib juga ya?”
“Menurut Simon, ia menggunakan segala cara, kalau cara science tidak bisa, ia menggunakan cara diluar nalar, misalnya menggunakan roh-roh. Seandainya Alex mati, setidaknya rohnya akan menghubunginya”
“Kenapa dia gak menghubungi cenayang atau paranormal?”
__ADS_1
“Dia pernah tertipu sekali ternyata cenayang itu tahu infonya berdasarkan pencarian di internet padahal dia sudah bayar mahal”
“Kenapa Ia langsung mempercayai ucapan mu Niel?”
“Ketika kamu sakit, aku bercerita banyak tentang kamu yang punya indera keenam dan beberapa kali menyelamatkan orang. Tapi ia tidak pernah bercerita tentang Alex, ketika aku bilang tentang Alex dan mimpi mu, ia langsung mengerahkan orang. Dia pikir lebih baik dicek daripada penasaran dan ternyata mimpi mu benar”
“Jadi kamu tadi hanya bercerita tentang itu?”
“Ya, kurang lebih begitu, sebenarnya Alex ingin mengajak mu juga untuk kemping, tapi aku bilang kamu sedang hamil 3 bulan jadi tidak bisa ikut”
“Aku bahkan belum pernah bertemu dengan Alex padahal kita sudah dua kali ke London”
“Alex bilang, karena dia dianggap anak dari istri yang dibenci maka ibunya Lucas tidak mengijinkannya datang ke acara-acara keluarga”
“Kasihan!”
“Tapi Alex ini hebat, ia mendirikan perusahaan Lexington yang sudah berskala internasional bahkan CITE milik Lucas kalah besar dibandingkan Lexington “
“Wahh...mr.CEO gaji mu besar dong!”
“Hehehe...lumayan, tapi ingat nih dibalik gaji yang besar ada pengorbanan besar juga, kemungkinan aku akan lebih sibuk dari biasanya jadi sebaiknya kamu bersiap!”
“Tapi jam kerja mu tetap jam 9-5 kan? 5 hari?”
“Iya! Tenang saja, Alex bilang istrinya menyuruh untuk memberikan libur dua hari dalam sebulan untuk karyawan yang berkeluarga. Libur itu di luar sabtu-Minggu”
“Wah istrinya Alex keren!” Rita bertepuk tangan senang
“Apa aku harus bilang ke kakek?”
“Jangan dulu! Kakek masih sibuk dengan Singapura 1, kalau kamu cerita tentang Lexington takutnya kakek tersinggung”
“Iya sih, kalau begitu bantu aku untuk packing yang akan aku bawa untuk kemping”
“Siap!” Rita membantu suaminya berkemas.
Hari Jum’at pagi Daniel bersiap untuk berangkat kemping.
“Jangan lupa HT! Aku sudah menaruh coklat halal yang banyak!” ujar Rita
“Iya, Aku akan segera datang pada mu ya?” Daniel memeluk dan mencium kening istrinya,
“Ranna papi pergi dulu ya” ia mencium dan memeluk anak pertamanya
“Papi! Go!”
“Kok papi diusir kak?” Daniel mencium anak pertamanya gemas, lalu ia berpindah ke Rafa
“Pi, back!” Rafa mencium dan memeluk papinya keduanya berpelukan dengan erat
“Papi, insya Allah kembali ya Bang! Jaga kakak dan mami ya?” ujar Daniel mencium lagi anak lelakinya
Daniel berangkat diantar oleh Amin si supir.
“Ayo Sus!, kita juga bersiap!” Rita yang sudah mempersiapkan perlengkapan untuk pergi ke Sukabumi
“Rita!” panggi Ratna tiba-tiba
“Ya ma?”
“Kamu mau ke Sukabumi?”
“Iya?”
“Mama ikut ya?”
“Beneran? Asyiiikkk!!!!” Rita berteriak kegirangan
“Mama pengen ziarah ke makam ayah mu, oh iya kita menginap di mana?”
“Rumah Ayah di Sukabumi dibeli Daniel ma, jadi kita bisa tinggal di sana”
“Hah? Kapan Daniel belinya?”
“Hmm...tiga bulan setelah Ayah meninggal, waktu itu tante Saye nelpon beliau bilang akan pindah jauh dari rumah ayah jadi tidak bisa mengurusnya. Lalu Daniel bilang ia saja yang membeli rumah itu dan mempekerjakan orang untuk membersihkan rumah itu sekali seminggu”
“Dia bilang, mungkin suatu saat ingin tinggal di Sukabumi ma!”
“Siapa yang membersihkan rumah Rit?”
“Entah lah, Daniel mempercayakan ke Mario, dia lebih bawel daripada perempuan katanya”
“Oh iya, Mario ikut gak?”
“Gak bisa Ma, dia kan lagi sibuk di Singapura 1 sama kakek”
“Oh iya, tadi Andi pergi ke rumah kakek Sugi dan menginap di sana. Jadi mama bisa ikut sama kamu”
“Kok bisa?”
“Kalau ada Andi, mama sering dicuekin kakek Sugi jadi mendingan ikut kamu saja!”
“Alhamdulillah!! Terimakasih ma!!! Rita sempat bingung, siapa yang mengawasi anak-anak kalau Rita bersama teman-teman”
“Jangan khawatir Rit, mama bisa kok!”
Mereka berangkat menuju Sukabumi pukul 10 pagi dengan menaiki velfire putih dan tiba di Sukabumi 3 jam kemudian.
“Alhamdulillah sampai juga!!” Rita turun dari mobil dengan lega,
“Assalammu’alaikum!” ia masuk ke rumahnya yang masih tampak bersih dan rapi.
“Wa’alaikummussalam, Eh Neng Rita! Tadi a’Mario sudah telepon emak untuk rapi-rapi di sini”
“Terima kasih mak! Eh emak mengerjakan ini sendiri?”
“Enggak! anak-anak panti dikerahkan untuk membersihkan, A’Mario ngancem akan menghentikan bantuan bulanan kalau anak-anak panti gak bantuin. Emak jadi supervisornya, videocall ke dia langsung untuk ngecek kebersihan rumah”
“Wah hebat Mario, terima kasih ya Mak!”
Mak panti Asuhan tempat Mario tinggal pamit, ia memberikan kunci rumah
“Ayo masuk!” ajak Rita ke para suster dan seorang ART yang sengaja ia bawa dari rumah besar.
“Wah Rita, rumahnya masih bagus dan bersih!” Ratna berkeliling rumah
“Kita tidur di kamar depan Ma, para suster dan ART di kamar belakang yang lebih besar”
“Ada berapa kamar Rit?”
“Tiga kamar ma, kamar Rita, Ayah satu lagi untuk gudang. Kamar mandinya ada 2.”
“Rita minta dibikinin kamar mandi pribadi, biar kecil yang penting ada di dalam. Kalau ayah pakai kamar mandi yang di luar”
“Dapur dan ruang makannya juga bersih dan rapi Rit!”
Setelah beristirahat beberapa saat, Rita dan Ratna memeriksa dapur
“Rit, walau rumahnya kecil tapi peralatannya canggih ya? ada oven listrik dan filter air segala” Ratna memperhatikan dapur rumah itu
“Hahaha...ini belanjaan Rita Ma, kakek Sugi tiap bulan selalu nelpon, beliau tanya kamu butuh apa Rita? Rita jawab, saya butuh perlengkapan masak Kek! Eh besoknya dikirim ini semua, sampai lemari esnya juga”
“Kakek Sugi yang beliin ini semua?” tanya Ratna iri
“Iya Ma, itu waktu Rita baru pindah kesini. Kakek bilang gak mau ngasih uang, maunya ngasih barang saja. Rita minta ini semua”
“Ayah kamu gak komentar apa-apa?”
“Awalnya keningnya berkerut kelihatannya beliau keberatan.Katanya listriknya gak cukup nanti bayarnya mahal. Eh besoknya kakek ngirimin tenaga surya yang ditaruh di atap rumah, supaya bayar listrik PLN nya gak terlalu besar”
“Jadi sebenarnya kamu gak menderita-derita amat ya Rit?”
“Siapa bilang Rita menderita ma? Hanya karena tinggal di desa Rita menderita? Enggak lah! Memang sih semua pekerjaan rumah Rita kerjakan sendiri, tapi kan dibantu alat canggih”
“Jadi yang kamu dibawa ke daerah konflik itu gimana?”
__ADS_1
“Nah itu yang berat ma tapi cuma sebentar sih, kata ayah kakek Sugi menggunakan koneksinya untuk mengeluarkan ayah dari tugas di situ supaya Rita juga aman”
“Rita, kalau dengar cerita kamu seharusnya kamu sayang dong sama kakek Sugi?”
“Rita sayang kok sama kakek Sugi, cuma saja kakek Sugi itu suka mengusir-usir Rita, beliau gak suka terlalu dekat.”
“Oh sama kamu begitu juga?” ujar Ratna kaget
“Sama mama juga?”
“Iya!, mama pikir beliau begitu sama mama saja”
“Sepertinya beliau kurang nyaman kalau terlalu dekat ma, Rita pernah baca sih ada orang yang kepribadiannya begitu”
“Eh Rit, kamu bawa apa saja dari rumah besar?”
“gak bawa apa-apa, Rita berniat belanja di sini ma”
“Kapan?”
“Sekarang yuk!”
Rita membawa rombongannya pergi ke Mall terbesar di Sukabumi, ia membeli banyak bahan makanan juga motor listrik roda tiga yang akan dikirimkan nanti malam.
“Rita, ngapain kamu beli motor listrik segala? Memangnya kamu gak punya motor?”
“Gak punya ma, ayah melarang Rita bawa motor menurutnya akan mempermudah Rita kabur kalau kita lagi berantem”
“Kok kamu gak minta beliin motor sama kakek?”
“Kakek juga setuju sama Ayah, beliau bilang apapun asal jangan yang bisa dibuat kabur”
“Kalau mobil ayah gimana Rit?”
“Nah itu ma, menurut tante Saye, ayah membuat surat waris beliau bilang mobilnya dijual dan uangnya untuk biaya sekolah anak-anaknya”
“Ckckck...ayah mu itu, kamu dapat apa Rit?”
“Dari ayah? Rita belum periksa sih ma, kemarin tante Saye bilang, mau dikirim hari ini tapi belum datang”
“Kok di tempat Saye? Kan Ayahmu tinggal di sini?”
“Selama beberapa bulan ayah kan di Singapura ma, katanya rumah ini sempat dikosongin”
“Oh begitu, terus kan katanya Daniel yang beli rumah ini, uangnya kemana?”
“Dibagiin ke saudara-saudaranya ayah ma, dan rumah ini sudah atas nama Rita dan Daniel”
“Oh begitu, kamu anak baik Rit makanya dapat suami yang baik dan gak pelit”
“Aaamiin...Alhamdulillah ma!, Daniel bilang sih setelah kemping dia akan kemari”
“Nah lho? Nanti mama tidur dimana nih?” Ratna panik
“Tenang ma!, kemarin si Emak bilang. Mario sudah menyuruh orang untuk membersihkan kamar yang sebelumnya untuk gudang, barang-barang di gudang sudah dipindah semua ke garasi. Kita jadi punya kamar untuk tamu”
Rita membukakan kamar tambahan untuk Ratna.
“Wah..bersih Rit! Seperti hotel! Ini beneran rumah di kampung?” Ratna terheran-heran melihat kamar itu.
“Ini, si Mario ngirim tagihannya, dia bilang untuk tante Ratna tidur supaya gak ganggu boss” ujar Rita menunjukkan pesan dari Mario
“Bos? Ah Daniel rupanya! Mario itu betul-betul memikirkan orang lain!”
“Sebenarnya Daniel pernah bilang begini, O, kalau kamu kangen Sukabumi dan bingung mau tinggal di mana, ya di rumah ini saja. Begitu ma!”
Ratna mengangguk senang
“Mama Pindahin barang-barang mama ke kamar ini ah!”
“Yah..mama gak mau tidur sama Rita?”
“Enggak!, mama kena tendang Rafa terus, heran tuh anak mimpi apaan padahal cuma tidur siang, tapi tidurnya muter”
“Kalau tidur sama Ranna gimana ma? Supaya ada yang nemenin?”
“Boleh deh! Ranna lebih tenang tidurnya tapi apa dia mau pisah tidur sama maminya?”
“Lihat nanti saja ma”
Rita dibantu ART memasak makan siang.
“Masak apa Rit?”
“Sayur bayam ma, pakai baso”, Ratna mencicipi
“Enak Rit! Wahh...kamu pinter masak!”
Mereka makan siang dengan lahap setelah itu tidur siang. Malam menjelang, pesanan motor listrik roda tiga datang. Setelah diberitahu cara penggunaan, Rita pun mencobanya.
“iiihhhaaaaa!!!!” ia berteriak kegirangan, Ratna menggeleng melihat kelakuan anaknya, sementara kedua anak batitanya yang digendong para suster berontak ingin ikut masuk ke dalam motor.
“Ayo! Masuk semua!” ajak Rita, Ranna, Rafa, salah satu baby sitter serta Ratna ikut masuk ke dalam motor roda tiga itu, mereka pun berkeliling komplek perumahan
“Kamu langsung bisa Rit?” tanya Ratna sambil berpegangan erat
“Ini kan roda tiga ma, gak usah takut jatuh!”
“Kayak bajaj, kamu besok mau bawa ini?”
“Hehehe iya!, sekarang cuacanya sering hujan jadi daripada ribet pakai jas hujan mending ini sekalian”
Setelah berkeliling, mereka kembali ke rumah, Rita mencharge baterai motor untuk dipakai besok.
“Kamu beli apa? tadi aku nelpon ke rumah yang angkat Amin, dia bilang bu Rita lagi keliling naik motor roda tiga”
“Hehehe, iya Say, aku beli motor roda tiga untuk besok. Aku malas harus nelpon taksi atau bawa mobil terlalu wah”
“Apa motor itu gak terlalu wah?”
“Enggak! mirip bajaj!” Rita menunjukkan motor nya melalui vcall pada suaminya.
“Gampang gak naiknya?”
“Gampang banget!, oh iya kamu lagi ngapain?”
“Ini lagi ngumpul di depan Api unggun. Lagi pada rehat dulu tadi pada cerita-cerita. “
“Kamu gak cerita?”
“Sudah tadi!, sekarang lagi rehat nanti malam kita berangkat lagi”
“Hati-hati ya? ingat head lampnya jangan di lepas”
“Itu lampu terang banget ya? Api unggun sampai minder” canda Daniel
“Hahahaha...kemping zaman now harus canggih”
“Aku mau lihat anak-anak dong!”
Rita menunjukkan Rafa yang tidur nyenyak di sampingnya
“Ranna mana?” tanya Daniel
“Tidur sama mama di kamar lain”
“Kenapa gak tidur di kamar yang sama?”
“Mama bilang ketendang Rafa terus”
“Hahaha...anak itu!” Daniel tertawa geli mendengar tingkah anak lelakinya
“Oke deh Yang, sudah mau naik gunung nih!”
“Oke, Love you!” mereka menyudahi VC mereka
__ADS_1
_bersambung_