
Daniel mempersiapkan kepergiannya ke Swiss, Rita memperhatikan suaminya yang sedang packing pakaian.
“Kenapa kamu lebih banyak membawa pakaian untuk mendaki gunung dari pada setelan jas?” tanya Rita heran
“Kakek Sugi benar, aku dengar untuk mendapatkan rumah yang layak aku harus berjuang lagi di sana.”
“maksudnya?”
“Katanya sih akan ada permainan yang hadiahnya rumah”
“Kalau menang rumahnya jadi punya kita?” tanya Rita bersemangat
“Gak tahu juga, Pak Alec memang terkenal eksentrik sejak dulu, ini saja aku diberitahu Simon.”
“Pak Simon? Kapan kalian ketemu? Bukannya dia di Dubai sekarang?”
“Kami bertemu di Singapura ketika aku interview pertama kali, dia ada kepentingan dengan kepala Lexi Singapura. Dia juga kaget melihat aku apply di Lexi”
“Oh ya? dia bilang apa?”
“Gak menyangka cucu menantu Darmawan malah kerja untuk orang lain”
“Say, pak Alec mengenal mu gak?”
“Kenal dong, kan sudah pernah aku ceritakan tentang obrolan terakhir kami kan?”
“Jadi sebenarnya kamu bisa jalur khusus!”
“Jalur khusus apa? gak ada itu, ketika di gunung kemarin aku benar-benar bekerja keras untuk mencapai poin tertinggi” ujar Daniel , ia telah selesai membereskan pakaian dan sepatunya.
“Kamu sengaja beli koper besar itu?” tanya Rita melihat koper baru yang akan dibawa Daniel.
“Hehehe, iya, harganya lumayan lho! Raffa! Ranna!” Daniel memanggil kedua anaknya yang sedang bermain di depan TV. Mendengar suara papinya, kedua anaknya segera berlari menghampiri
“Ya Pi?” tanya keduanya kompak, Rita tersenyum melihat anak-anak batitanya yang begitu lucu
“Coba sini deh!” Daniel menggendong satu persatu anaknya lalu menaruhnya di atas koper
“Abang pegang ini ya, kak Ranna pegangan abang!” kemudian tas itu berjalan seperti mobil-mobilan
“Yeaaayyyy!!” kedua anaknya senang,
“Ooohh jadi kamu beli itu supaya anak-anak bisa mainin?”
“Bukan untuk anak-anak saja, untuk aku juga. Koper ini tahan sampai dengan 100 kg lho!”
Tiba-tiba kopernya berhenti
“Yaaa stop?” tanya Raffa , Ranna langsung turun dari koper lalu menghampiri maminya
“Mami drink!” ujarnya. Rita membuka piyama atasnya, lalu membiarkan Ranna menyusu.
Daniel membolak-balikan koper itu, sementara Raffa ikut sibuk memperhatikan papinya.
“Mungkin baterainya habis bang!” ujar Daniel,
“Sebentar papi cari chargernya” ujar Daniel lagi, mendengar itu, kali ini Raffa yang menghampiri Rita lalu menyusu seperti kakaknya. Daniel melihat kedua anaknya yang menempel di dada istrinya, sementara Rita dengan cueknya menonton drakor dari tabletnya.
“Baik mami dan anak, semuanya sama saja!” Daniel menggeleng-geleng, Rita tidak mendengarkan perkataan suaminya. Setelah kenyang, Ranna berhenti menyusu, Raffa mengikutinya.
“Kak, tutup dulu!” pinta Rita. Ranna dan Raffa bekerja sama mengancingkan piyama maminya. Karena gerakan mereka masih lambat, cukup lama mereka mengancingkan. Beberapa menit kemudian mereka telah berhasil mengancingkan piyama atas maminya
“Ah pandai sekali kalian, cium mami dong!” ujar Rita. Keduanya mencium bibir maminya, juga pipinya
“Cium saja? Peluk juga dong!” ujar Rita lagi. Tadinya kedua anaknya malas, melihat itu Daniel jahil, ia menghampiri Rita, lalu memeluknya
“Papi saja yang memeluk mami!”Daniel memeluk Rita
“Ahhh!!!” Rita berteriak seolah-olah kesakitan, kedua anaknya menyerbu Daniel lalu menarik-narik tangan Daniel agar melepaskan pelukannya
“Papi! Lepas!” ujar Ranna dan Raffa bersamaan
“Gak mau!!, mami punya papi!” canda Daniel, Rita pasrah saja dipeluk seperti boneka
“Noo!!! Mami punya Ranna!” teriak Ranna
“Punya Raffa!” teriak Raffa
Karena teriakan ribut, akhirnya Daniel melepaskan pelukannya dari Rita
“Kalau kalian gak mau meluk mami, biar papi yang meluk ya?” ujar Daniel dengan nada bercanda tetapi seperti serius. Kedua anaknya mengangguk, lalu memeluk Rita satu persatu
“Hey, kalian gak ngantuk?” tanya Rita
“Hoaahhh!” Ranna dan Raffa menguap
“Pipis, ganti baju lalu bobo ya?” ujar Rita,
“Ayo papi temani!” ujar Daniel. ia mengantar kedua anaknya ke toilet, lalu memakaikan pampers dan pakaian
“Papi akan pergi satu minggu, kalian jaga mami ya? jangan nakal! Nurut apa kata mami. Nanti kalau papi pulang, papi belikan es krim!” pesan Daniel kepada kedua anaknya
“Papi pergi?” tanya Raffa dengan suara lucu
“Besok! Bang! Abang jaga kakak, mami sama adek ya?” Daniel berpesan ke anak lelakinya
“Heeh!” jawab Raffa, lalu ia naik ke tempat tidurnya. Daniel menyiapkan susu ASI di botol untuk kedua anaknya.
“Nanti kalau haus minumnya di sini ya kak? Bang?” pesannya
“hee” Ranna menjawab sekenanya
“Kak Ranna harus menjawab iya! “ ujar Daniel tegas
“Iya pi!” ujar Ranna, ia menghampiri papinya, lalu memeluk dan mencium pipinya
“Ah, terimakasih! Anak baik!” Daniel tersenyum dan memeluk anak perempuannya. Ia menunggu kedua anaknya tidur, setelah yakin anaknya tidur ia pun kembali ke kamarnya.
“Maminya gak dikekepin?” tanya Rita, Daniel menghampiri istrinya, lalu memeluknya.
“Aku senang dipeluk seperti ini” ujar Rita, sambil memeluk suaminya. Mereka pun tertidur.
Keesokan paginya, setelah sholat subuh Daniel berolah raga di depan kamar mereka. Terkadang beberapa staf cewek sengaja melewati tempat itu untuk memperhatikannya olah raga. Rita baru saja kembali dari dapur utama lalu melihat suaminya yang telah berpeluh.
“Wahh...sudah lari kemana saja say?” tanyanya melihat tubuh suaminya banjir keringat
“Ke lapangan depan, naik turun tangga! Push up, balik lagi kemari” ia mulai melakukan gerakan pendinginan
“Jam berapa penerbangan ke Swiss?” tanya Rita
“Jam 10!”
“Aku antar ya?”
“Boleh! “
__ADS_1
Pukul setengah 9, Rita dan keluarga kecilnya bergegas ke airport untuk mengantar Daniel ke Swiss, di tengah perjalanan, ia melihat sekumpulan ojol yang sedang menunggu pesanan.
“Kenapa mereka kumpul di sini pak?” tanya Rita pada pak supir
“Mereka menunggu pesanan non” jawab pak supir yang merupakan orang baru
“Mereka pasti dapat pesanan?” tanya Rita
“Tergantung non, kalau kondisi seperti ini kayaknya susah. Biaya hidup meningkat, orang lebih memilih naik angkot yang lebih murah. Ongkos ojol dinaikan, orang yang menggunakan transportasi umum setiap hari akan memikirkan uang transportnya yang naik” ujar supir panjang lebar
Tak berapa lama kemudian mereka tiba di airport. Daniel mendaftarkan tiketnya
“Jam berapa berangkatnya?” tanya Rita
“Satu jam lagi” Daniel menghabiskan waktu dengan bermain dengan kedua anaknya, sementara Rita sibuk dengan ponselnya. Tanpa terasa waktu satu jam telah mereka lewati, tiba saatnya Daniel memasuki pesawat.
“Aku pergi dulu ya? nanti kalian aku jemput!” Daniel memeluk Rita, mencium dahi dan bibirnya, “Kamu jangan banyak bertingkah ya dek, kasihan mami!”ujarnya sambil mencium perut Rita, kemudian ia beralih memeluk Ranna dan Raffa bergantian
“Papi pergi dulu ya Kak, Bang! Kalian jangan bandel!” pesan Daniel. Setelah perpisahan selesai ia menaiki tangga jalan untuk menuju pesawat. Rita memperhatikannya hingga tidak terlihat. Dari airport, Rita mampir ke bank untuk mengambil uang pecahan seratus ribu sebanyak 10 juta rupiah.
Kemudian, ia meminta supirnya berhenti sejenak di pangkalan ojek online, dengan bantuan pak supir. Dalam waktu singkat para ojol berbaris rapi, Rita membagikan uang sebesar seratus ribu rupiah kepada setiap ojol.
“Terima kasih mba!” ujar mereka senang, dari satu tempat , ia ke pangkalan ojol lainnya hingga uang sepuluh jutanya habis.
“Kemana lagi non?” tanya pak supir, ia sangat senang dengan acara bagi-bagi uang oleh Rita, ia juga mendapat lima ratus ribu dari Rita
“Pulang Pak!” jawab Rita.
Sesampainya di rumah, ia mendapati paket tas brandednya sudah tiba di kediamannya. Ia pun membongkar, kemudian menghitung jumlah tasnya
“Dua puluh? Banyak juga. Eh aku baru tahu punya hermes juga? Dolce, eh lengkap ya?” ia memeriksa sertifikat setiap tas. Kemudian ia mulai memilih yang ia sukai dan tidak ia sukai dan memisahkannya. Ia masuk ke studionya dan menemui tim kerjanya.
“Mungkin kalian kerja sampai bulan ini” ujarnya
“kenapa bu?” tanya salah satu timnya
“Aku dan suamiku akan pindah ke Swiss. Aku pikir agak sulit menjalankan conten seperti ini dari sana” ujar Rita
“Tapi bu, conten kita mendapat subscriber yang cukup baik!” ujar salah satu staf
“Nanti saya pikirkan lagi, oh iya saya punya ide baru untuk conten penutupan kita” ujar Rita
“Ide apa?”
“Saya ingin menjual beberapa koleksi tas branded saya, lalu uangnya akan saya sumbangkan untuk komunitas ojol di kota ini”
“Eh?”
“Tapi, saya ingin nama saya tidak tercantum, alias no name, kalian bisa menyebut mama peri, jadi selama membuat konten, wajah saya tidak ditampilkan, bagaimana bisa?”
“Menyumbangkannya bagaimana?”
“Kalian bisa datang ke pangkalan ojek online dan meminta nomor hp mereka, dan uangnya akan ditransfer melalui aplikasi ovi, Dani atau lunk. Bagaimana? Kalian bisa mewujudkan keinginan saya? Tenang saja kalian akan mendapat bonus khusus di luar bayaran kalian”
Mereka sangat bersemangat.
“Baiklah bu!” jawab mereka. Koordinator membagi mereka menjadi beberapa tim, tim yang datang ke pangkalan ojol dan tim yang mengikuti Rita menjual tas brandednya. Rita memutuskan menjual Hermes dan LV yang harganya lumayan tinggi. Ia mendapatkan uang senilai 375 juta untuk kedua tas tersebut.
“Wah lumayan juga ya?” ujarnya ketika menerima transferan dari pemilik butik. Seperti rencana semula, ketika tiba di rumah ia dan tim nya mulai mengirimkan uang melalui aplikasi. Dan ada tim di lapangan yang memantau bahwa uang yang ditransfer sampai kepada yang berhak.
Dalam waktu singkat content mama peri menjadi viral. Para warga net,mendukung kegiatan konten tersebut, ada juga yang menentang.
“Bagus sih, kalau jarang-jarang, tapi kalau sering orang akan menjadi malas..” salah satu netizen berkomentar
“Keren habis, menjual tas branded, uangnya dibagikan, semoga bermanfaat...”
“Kami dari komunitas yang menjaga kebersihan juga membutuhkan uluran tangan, bukan hanya ojol..”
Rita membaca komentar netizen
“hmm...benar juga ya kata kakek”
“Kenapa bu?” tanya salah satu staf, ia menghentikan kegiatannya mentransfer uang.
“Berapa lagi yang nomor yang belum dikirim?” tanya Rita
“Tinggal 20 nomor lagi bu”
“Hmm...” Rita memeriksa uang penjualan tas yang masih tersisa
“Masih ada 150 juta” gumamnya
“Setelah yang 20 nomor sudahi saja, itu semua yang ojol di wilayah Jakarta kan?”
“Iya bu!”
“Nah sekarang kalian datangi sekolah-sekolah swasta kecil, lalu data nomor ponsel para guru kontrak atau honorer” perintah Rita
“Apa juga masih no name?”
“Semua no name!, aku gak mau ada orang datang kemari dan meminta-minta. Ingat ya, ini proyek terakhir kita, jangan dibocorkan siapa pun. Kalian telah menandatangani kerahasiaan dengan ku! Kalau rahasia terbongkar, aku tahu dari siapa “ ujar Rita
Timnya bekerja keras selama seminggu untuk mengumpulkan nomor ponsel para guru honorer. Seperti biasa, timnya kembali mengirimkan uang melalui aplikasi ke nomor-nomor tersebut.
Rita membaca tanggapan dari para netizen
“Terima kasih sudah dikirim, Alhamdulillah 150 rb, semoga berkah”
“Terima kasih! Semoga sehat selalu”
“Terima kasih, semoga berlipat rejekinya”
“Terima kasih, semoga gak berhenti sampai sini saja, karena kebutuhan ada setiap hari..
“Yah Cuma 150 rb, tapi terima kasih deh”
“Hari gini 150 rb dapat apa?”
“Kayaknya mama peri ini calon anggota legislatif deh, bagi-bagi duit. Itu duitnya halal apa haram ya?”
Rita kesal membaca komentar negatif itu, lalu ia menjawab
“Hai, kalau kalian yang mendapatkan uang lalu komentar jelek, silakan nonton video sebelumnya. Uang yang dibagikan kepada kalian dan digunakan untuk kebutuhan kalian itu hasil menjual tas mahal koleksi saya. Mohon maaf jika jumlah uang yang dibagikan tidak bisa memenuhi hasrat kalian. Yang saya lakukan hanya ingin sekedar meringankan beban hidup, walaupun tidak bisa menyelesaikan masalah hidup kalian. Mohon maaf dan smoga uangnya bermanfaat!” – mamaPeri
Tanggapan Rita, mendapat dukungan banyak netizen, beberapa bahkan menghujat orang-orang yang berkomentar negatif.
Tiba saatnya Rita membubarkan timnya.
“Kalian sudah bekerja keras beberapa minggu ini, honor kalian dan bonus khusus juga sudah saya transfer. Tax free,..saya yang bayar pajaknya jadi kalian menerima honornya utuh!”
“Alhamdulillah!! Terima kasih bu Rita!”
“Sama-sama” Rita tersenyum
“oh iya, kapan bu Rita berangkat ke Swiss?” tanya salah satu staf
__ADS_1
“Saya belum tahu, mungkin akhir bulan ini. Suami saya belum mengabari kapan kami akan pindah”
“Oh begitu, jadi ini hari terakhir kami di sini ya?” ujar mereka sedih
“Ya!, nanti kalau saya kembali kemari dan berniat membuat konten lagi, aku akan menghubungi kalian!”
“Iya bu!”
Mereka mengadakan acara perpisahan kecil-kecilan, tanpa terasa hari telah sore, semua staf Rita berpamitan
“Permisi bu Rita dan terima kasih..sehat-sehat ya bu! Kak Ranna! Bang Raffa!” Rita dan anak-anaknya mengantar para staf. Dalam waktu singkat, ruangan studio itu telah kosong. Staf rumah membantu Rita menutup pintu dan jendela studio yang sudah digunakan selama beberapa bulan itu. Rita berkeliling sebentar lalu kembali ke kamarnya.
Alangkah terkejutnya ia, tenyata Daniel telah berada di kamar mereka
“Hei!” sapanya tersenyum, Rita yang sudah hampir tiga minggu tidak bertemu langsung dengan suaminya, menghambur dan langsung memeluknya
“Kok kamu gak bilang mau datang?” bisiknya, ia sangat kangen dengan suaminya. Ia memeluk suaminya cukup lama.
“Surprise! Aku pengen tahu kamu ngapain saja kalau aku pergi” jawab Daniel masih memeluk Rita.
Anak-anak yang digendong para suster mendengar suara papinya, terutama Raffa, ia langsung turun dari gendongan suster dan langsung memeluk papinya
“Papiii!!!”
“Bang Raffa!” Daniel melepas kangen dengan anak lelakinya. Ranna melihat papinya yang sudah tidak bertemu selama beberapa minggu. Ia agak menjauh
“Kak Ranna, itu papi! Ayo salam!” suruh Rita, dengan malu-malu Ranna mendekati papinya
“Kak Ranna? Gak kangen papi?” tanya Daniel, tiba-tiba Ranna menangis kencang, ia minta digendong Daniel. Rita sampai berlinang air mata melihat adegan itu.
“Kak Ranna, padahal setiap hari papi VC, kamu masih saja kayak begitu!” ujar Rita terharu.
Setelah kangen-kangenan, Daniel telah berganti pakaian, dan makan sore. Rita telah menyiapkan hidangan kesukaan suaminya.
“Kamu sebenarnya sudah tahu ya aku mau datang?” tanya Daniel curiga, karena makanan yang disajikan merupakan favoritnya
“Raffa yang bilang, katanya besok papi pulang” jawab Rita
“Ha? Raffa? Jangan-jangan dia?” tanya Daniel
“Mungkin! Tapi aku gak begitu percaya.”
“Gak percaya tapi kamu tetap bikin ini?”
“Siapa tahu kan? Hehehe”
“Tadi aku berpas-pasan dengan tim konten mu!”
“oh”
“Katanya , kamu menyudahi konten mu?”
“Iya!, aku lelah. Pikiran ku seperti tersita untuk membuat konten. Lebih baik aku sudahi saja”
“Ini bukan karena kepindahan kita ke Swiss kan?”
“Aku sih alasannya begitu, lagi pula aku gak serius membuat konten”
“Aku dengar kamu menjual tas koleksi mu ya?”
“Hah? Kamu dengar dari siapa?”
“Aku kan subscriber mu! Aku mengenali tas-tas itu. Kamu tahu kan vlog mu itu viral? Bahkan sampai ke luar negeri”
“Oh ya? wah tahu begitu”
“Tapi aku bersyukur kamu menyudahi acara amal mu”
“Memangnya kenapa?”
“Aku membaca komentar negatif orang, jujur aku benci sekali”
“Gak usah ditanggapi. Aku melakukannya karena aku ingin, bukan karena ingin mendapatkan pujian”
“Tapi kamu tahu Yang?”
“Apa?”
“Vlog mu ditonton oleh istrinya pak Alec, kata pak Alec istrinya gak berhenti menangis terharu dengan tindakan mu. Beliau bilang, perbuatan mulia, sungguh mulia”
“Oh ya?” Rita tersenyum senang
“Nah, kemudian....” Daniel melanjutkan ceritanya
“Istri pak Alec ini meminta suaminya untuk menyelidiki pemilik akun no name itu, setelah diselidiki dia mendapatkan nama kamu! Istriku”
“Hah? Kok bisa?”
“Pak Alec itu orang berpengaruh dia bisa mendapatkan info dari intel dengan mudah”
“Terus?”
“Beliau memanggil ku! Awalnya aku pura-pura gak tahu kan?”
“Eh beliau menunjukkan bukti-bukti yang tak bisa disangkal”
“Terus? Kamu dipecat lagi!”
“Enak saja!”
“Jadi apa dong?”
Daniel mengambil sebuah kotak besar dari lemari
“Nih dari ibu Alec, katanya untuk mami peri”
Rita membuka kotak besar itu, isinya berupa tas branded
“Hermes Matte Crocodile Birkin Bag” Rita membaca nama yang tertera di tas itu.
“Kamu tahu gak harganya berapa?” tanya Daniel
“Berapa? Ini kulit buaya asli kan?”
“Harganya sekitar 120 ribu dolar amerika atau setara dengan 1,6 Milyar rupiah”
Rita mengejap-ngejapkan matanya tak percaya. Tas tangan berwarna gelap terbuat dari kulit buaya asli dan bertatahkan berlian, kini menjadi miliknya
“Sayang kamu gak apa-apa?” tanya Daniel, melihat istrinya yang mematung
“Mahal sekali..” ujarnya pelan
“Kata bu Alec, ia juga ingin berbagi dengan orang baik seperti kamu!”
Rita menangis terharu dan memeluk suaminya
__ADS_1
“Terima kasih!” ujarnya
_bersambung_