Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)

Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)
Chapter 333: Metha,Daniel, Rita dan Andi


__ADS_3

Metha sudah kembali dari Paris, ia menghubungi Daniel


"Halo Niel!"


"Hai!!! Kamu di mana?"


"Aku di restoran depan kantor, kamu mau kesini?"


"Hmm...baiklah! Tunggu aku ya?"


"Oke!"


"Leo!" Panggil Daniel ke asistennya


"Ya Pak?"


"Aku keluar sebentar ada perlu, kalau bos butuh aku, telepon aku saja ya?"


"Siap bos!!"


Dengan segera Daniel keluar dari kantor, ia menyebrang ke restoran di mana Metha berada.


"Hai!" Daniel mencium pipi Metha


"Hai! Aku sudah memesan makanan kesukaan mu!"


Daniel melihat jam tangannya


"Ini masih pagi belum jam makan siang!"


"Kamu kaku sekali! Gak apa sekali-kali keluar kantor. Katanya kamu kangen aku?"


"Iya kangen, tapi kayaknya aku saja yang kangen, kamu nya enggak!"


"Aku kangen juga!" Metha menyantap pastanya


"Kamu makan juga dong, masa aku makan sendirian "


"Baiklah!" Daniel mulai menyantap pasta nya.


"Aku menghubungi mu tadi malam tapi ponsel mu kayaknya dimatikan" ujar Daniel


"Oh ya? Aku sampai di rumah sudah malam, mungkin aku langsung tidur. Oh iya Andi dan Rita sekarang tinggal bersama kami"


"Andi dan Rita?"


"Mereka itu keponakan ku, anaknya kak Eka, kita pernah ke rumahnya waktu ke Jakarta, masa kamu lupa?"


"Ah iya! Rita ya?"


"Kamu ingatnya Rita?" Metha agak cemburu


"Iya, dia menunjukkan letak toilet, waktu itu aku bingung mencari toilet. Rumahnya besar sekali"


"Rumah di Jakarta itu rumah kak Eka, papa memberikannya, mungkin kalau kita menikah dia akan membelikan rumah untuk kita"


"Hmmm...."


"Kenapa? Kamu diam? Keberatan?"


"Aku berpikir setelah menikah kita akan tinggal di apartemen, berdua saja. Kalau sudah punya anak baru deh pindah ke rumah"


"Apartemen? Tanggung sekali, aku capek harus pindahan lagi. Sudahlah kamu ikut aku saja, gak usah merasa gak enak! Ini resiko menyukai anak orang kaya!" Ujar Metha terus terang


"Eh?" Daniel kaget dengan perkataan Metha yang sekarang ceplas-ceplos


"Kenapa? Kamu kaget? Ini aku apa adanya. Kamu bilang mencintai ku apa adanya. Aku bukan anak orang miskin, papa ku salah satu orang terkaya di dunia kamu harus bisa menerimanya kalau kamu ingin pernikahan ini terjadi" ujar Metha berterus terang


Daniel terdiam,


"Apa menurutmu aku gak pantas menjadi suami mu?" Tanya Daniel, ia mengingat percakapan Metha dengan mamanya


"Bukan begitu! Kamu gak mengerti ya? Pernikahan itu hal yang serius, kita bukan hanya berhubungan intim semata, tapi kita akan hidup bersama, agar bisa bertahan lama hubungan ini kita harus bisa menerima kekurangan masing-masing."


"Iya aku tahu!"


"Kalau kamu tahu kenapa kamu selalu keberatan setiap aku menyebut papa akan memberikan ini dan itu?"


"Karena aku muak dengan omongan orang! Mereka bilang aku hanya parasit di keluarga mu! Itu sebabnya aku ingin kita mandiri"


"Itu aneh Niel!"


"Aneh?"


"Iya, kita bertemu di kantor, kamu sudah mengenalku sebagai supervisor dan sebagai anak bos. Kamu dengan berani dan percaya diri menyatakan perasaan mu padaku, seharusnya tahu resiko omongan orang kan?"


"Memang! Dulu itu tidak begitu mengganggu ku tapi karena hubungan kita makin serius semakin lama itu semakin merasuki pikiran ku. Apalagi mama mu keberatan dengan hubungan kita kan?"


"Yang akan menikah kan kita Niel, bukan mama ku, kita yang akan tinggal dan hidup bersama"


"Tapi mama mu pasti akan terus bersamamu kan?"


"gak selalu sih tapi beliau akan sering menyapa kita, aku kan anak perempuan satu-satunya "


"Kamu harus mengingatkan mama mu, perempuan itu kalau sudah menikah berarti sudah ikut suaminya! Mama mu gak boleh ikut campur urusan kita!"


"kenapa sekarang kamu bawa-bawa mama ku?"


"karena pendapat orang tua itu penting! sekarang mungkin kamu gak terpengaruh, tapi lama-lama kamu akan lebih mendengarkan mama mu dibandingkan aku!" ujar Daniel


"kamu kok seperti cari alasan?"


"alasan?"


"iya sepertinya kamu mau mundur dari pertunangan ini?"


"Bukan begitu Metha, aku menyukai mu dan ingin terus berhubungan akrab, mengenal mu lebih dalam lagi tetapi kamu yang ingin kita segera menikah padahal hubungan kita baru berjalan 5 bulan"


"OOO..jadi begitu ya? Sebenarnya kamu gak ingin kita menikah?"


"Bukan begitu Metha duduklah dulu, jangan ribut di sini!" Ujar Daniel mengingatkan


"Biar saja! Biar mereka tahu orang macam apa kamu itu!" Teriak Metha,


"Metha jangan berteriak, apa kamu gak malu dilihat orang?"


"kamu mau mengenalku kan? Ini aku Niel! Kalau aku marah seperti ini! Kalau kamu mau orang yang selalu tampak manis di depan mu! Kamu salah orang! 5 bulan atau bertahun-tahun pacaran tidak akan berpengaruh Niel!" Metha meninggalkan Daniel di restoran itu sendirian


Metha kembali ke apartemennya. Diam-diam Metha menyewa apartemen dekat kantor, ia sendiri segan harus tinggal di rumah besar yang sepi itu. Ia menangis sejadi-jadinya di dalam kamarnya. Daniel tidak mengejarnya, Ia memikirkan kata-kata Metha kemudian ia kembali ke kantor.


Sementara di rumah besar. Rita dan Andi sibuk dengan les privat, guru bahasa Inggrisnya bernama Ericson.


(Dalam bahasa Inggris)


"Pak Ericson nama Anda bukan nama Inggris tapi lebih ke nama Eropa?" Tanya Rita


"Bahasa Inggris Anda mulai lancar Miss Rita," Ericson tersenyum


"Sebenarnya ayah saya orang Swedia, ibu saya orang Amerika, mereka pindah ke Auckland ketika saya berusia 10 tahun"


"OOO begitu" ujar Rita dan Andi bersamaan


"Berapa usia Anda?" Tanya Rita


"Hush! Itu gak sopan nanya umur di sini!" Tegur Andi pakai bahasa Indonesia


"Saya 28 tahun"

__ADS_1


"Sudah menikah?"


"Belum, tapi sudah bertunangan!"


"Oh ya?"


"Saya dan pacar saya sudah bertunangan selama 3 tahun"


"Lama sekali.." gumam Rita


"Disini pertunangan itu sudah biasa, itu seperti ujicoba sebelum pernikahan"


"Ujicoba?"


"Iya, apakah dalam pertunangan ini kami saling cocok untuk melanjutkan atau putus"


"Aneh ya?" Tanya Rita heran


"Kenapa aneh?"


"Kalau di Indonesia, pertunangan itu justru hal yang lebih serius, persiapan menuju pernikahan, biasanya 2-4 bulan pasangan yang bertunangan langsung menikah"


"Mungkin budayanya berbeda!" Ujar Andi menimpali, ia gak suka Rita yang terlalu mencampuri urusan orang.


"Ya mungkin Andi benar, tapi pacar saya yang minta pertunangan ini, kalau saya pribadi inginnya langsung menikah" jawab Ericson


"Anda orang baik!" ujar Rita tersenyum


"terimakasih!" jawab Ericson


Sesi pelajaran privat sudah selesai.


"Eh Rit, kita keliling rumah ini yuk!" Ajak Andi


"Keliling? Rumah ini kan luas kak, capek ah!"


" Gue udah minta pak Lee siapin scooter buat kita, jadi gak akan capek"


"Scooter nya ada tempat duduknya gak?"


"Kalau itu kekecilan, scooter ini gede kapasitasnya bisa jalan 8 jam!"


"Begitu? Oke deh!"


Staf membawa dua scooter dan memberikan ke Andi dan Rita.


"Kemana dulu nih? "


"Keliling lantai satu saja dulu" ajak Andi


Mereka menjalankan scooter nya berkeliling melihat rumah kakeknya yang besar.


"Besarnya seperti mall ya kak?"


"Memang dulunya ini mall, kakek menyukai lokasinya, jadi beliau beli. Beberapa toko dijadikan kamar" terang Andi


"Kak Andi tahu banget?"


"Kakek membuat E-katalog tentang rumah ini, bahkan benda-benda di rumah ini diinventarisir supaya bisa terpantau"


"Ada berapa lantai kak?"


"Ada 4 lantai termasuk basement, sudah gitu ada mezanine juga"


"Mezanine?"


"Iya, basement untuk tempat parkir, sedangkan mezanine itu tempat tinggal karyawan di sini"


"Ada berapa karyawan kak?"


"Sekitar 30-an deh"


"Tapi kakek Darmawan ini pintar, ia seperti kakek Sugi,.untuk listrik beliau menggunakan tenaga Surya, untuk ketersediaan Air , beliau membuat waduk dengan penjernih air,"


"Tapi kak, Rita pernah baca kalau di luar negeri menampung air itu ilegal, karena semua air harus masuk ke tanah dan dipergunakan oleh masyarakat"


"Itu di AS kali, kalau di sini enggak! hukum tiap negara kan beda-beda Rit!"


"Begitu ya?"


"Oh iya ada salam dari Arya!"


"Arya?"


"Itu lho Arya Dewangga!"


"oh...Kak Dewa! Dia kuliah di mana kak?"


"Di sini, karena dia juga kuliah di sini makanya kakak juga berani kuliah di sini"


"Yah.."


"Kok yah?"


"Kak Andi jadi junior nya dong"


"Ya gpp, itu kan kalau di kampus, kalau sehari-hari biasa saja. Besok dia mau main kemari!"


"Iya? Wahhh...rame lagi dong!"


"Dewa baru putus juga tuh Rit!"


"Memangnya kenapa kalau putus?"


"Ya lumayan kalau Lo jadi pacar nya, kayaknya dia juga naksir Lo!"


"Kak Dewa cakep sih tapi.."


"Tapi apa?"


"Tapi Playboy ya? Rita takut sama cowok playboy!"


"Dia bilang dia cuma boy saja gak suka play!" Canda Andi


"Kak Andi kok jadi jodoh-jodohin Rita begitu?"


"Enggak! Gue sedih saja ngeliat Lo, kayaknya kosong gitu, waktu sama Tommy kan Lo semangat, sekarang seperti layangan putus!"


"Sok tahu ah kak Andi..eh ini kamar apaan?" Mereka memasuki ruangan yang sangat besar, seperti taman dalam rumah


"Wah ini Rit, taman in door..tuh ada angsanya, wah ada wahana airnya, naik itu yuk!"


Andi dan Rita berlarian menuju wahana air, staf membantu mereka menjalankan perahu berbentuk angsa .


"Wahh...asyikk!!..eh kak, itu ada roller coaster juga!" Teriak Rita


"Gak usah teriak! Berisik!" Ujar Andi tertawa, karena angsanya membawa mereka ke arus air yang lebih kuat dan berputar seperti arung jeram.


"Aaahhhhhh...." Keduanya berteriak keras kegirangan


Dari wahana air, mereka mencoba roller coaster. Wahana rollercoaster mengajak mereka mengelilingi bagian luar rumah mereka, atas dan bawah. Jalannya kereta tidak kencang karena diperuntukkan membawa orang untuk melihat keliling rumah dari luar tembok.


"Kak, seru juga ya? Kita seperti Spiderman"


"Hahahah..ini idenya papa, beliau bilang ke kakek pengen naik kereta tapi diatas gedung, eh kakek membuatnya seperti ini"


Rita kegirangan, smartwatch nya berbunyi

__ADS_1


"Mba Rita, guru bela dirinya sudah datang!"


"Oh iya, pak Lee, bisa minta beliau ke gym duluan? Saya masih di taman bermain"


"Iya mba, jangan terlalu lama ya? Sepertinya guru Anda tidak sabar"


"Baik pak, terimakasih!"


"Kak, Rita latihan dulu ya?"


"Oke, nanti kemari lagi?"


"Iya dong!"


"Eh gue ikut deh"


"Ikut kemana?"


"Liatin Lo latihan, kalau gurunya galak, nanti gue suruh ganti!"


"Jiahh..kak Andi.." Rita tertawa mendengar ocehan kakaknya


Lima belas menit kemudian Rita telah berpakaian olahraga dan siap untuk melakukan latihan.


"Anda terlambat lagi Rita!" Tegur Billy, instruktur Krav maga.


"Maaf Mr!" Ujar Rita, ia agak takut mendengar suara Billy yang keras.


"Hai Mr.Billy!" Sapa Andi menghampiri dan menyalaminya


"Hai Andi! Rita selalu terlambat latihan, aku heran apa dia gak tertarik belajar?"


"Maaf, atas keterlambatan adikku, kami baru saja keliling rumah ini. Anda tidak usah khawatir, kalau jam lesnya kurang Anda bisa menambahkan jamnya dan biaya kelebihan jamnya ke tagihan, kami akan membayar tagihannya"


Wajah Billy yang semula kesal berubah menjadi cerah, ia lebih ramah dan sabar mengajarkan Rita.


Andi membaca tabletnya dari kejauhan, ia memperhatikan Rita latihan. Sebenarnya Andi sedang memvideokan dan mengirimnya ke papanya.


"Bagus Di, kamu kakak yang baik! Pastikan Rita baik-baik saja ya?"


"Iyaaa...paa!..dia kuat kok!"


"Iya papa tahu, tapi papa khawatir saja, kamu kan lihat sendiri video pembullyan nya kan?, papa saja masih trauma melihatnya, sampai ga bisa tidur tiga hari"


"Tapi kata mama, papa tidurnya mendengkur?"


"Itu karena semalaman papa gak bisa tidur mikirin adik mu, jadi siangnya papa baru bisa tidur"


"Oh begitu, Pa, di video itu Rita melawan mereka , 5 lawan 1, kok bisa? Dari mana dia punya kemampuan bela diri?"


"Entahlah, mama mu bilang dulu kalian pernah belajar bela diri juga kan?"


"Tapi Rita bagian melarikan diri pa, jago banget malah. Dia bilang juga selama ini dia berhasil menghindar dari para pembully. Kalau tidak bisa menghindar justru yang melindungi pelatih senamnya itu"


"Justru dia bilang keroknya. Dia yang merancang semuanya. Entah papa salah apa sama dia, dendamnya malah dilampiaskan ke anak-anak "


"Dia dihukum kan pa?"


"Iya dong, dipenjara 5 tahun, papa sebenarnya mau banding supaya lebih lama hukumannya tetapi kakek Sugi melarang, beliau bilang jangan berlebihan. Papa gak habis pikir kok kakek Sugi bisanya melihat cucu perempuannya dibully tapi tenang-tenang saja"


"Curhat pa?"


"Bukan begitu, kakek Sugi kan terkenal galak tapi cucunya digituin malah gak dibela gimana gitu, malah menyalahkan Rita yang lemah"


"Kakek pernah bilang pa,waktu kami dilatih bela diri, beliau bilang latihan bela diri itu penting selain untuk menjaga diri sendiri juga mengontrol emosi. Tapi sepertinya Rita gak terlalu tertarik"


"Tapi tetap saja! Baiklah Ndi, terus awasi adik mu ya? Papa baru bisa tenang kalau dapat laporan dari kamu!"


"Tapi pa, bulan depan Andi sudah mulai kuliah, jadi gak mungkin ngawasin Rita terus kan?"


"Hmm...baiklah ..nanti kita pikirin! "


"Dah pa!" Andi mengakhiri Vcall nya


"Andi pa?" Tanya Ratna menghampiri dan duduk di sampingnya


"Iya!"


"Ih anak itu gak nyapa mamanya sama sekali"


"Dia lagi laporan tentang Rita"


"Kamu masih ngawasin juga? Sampai kapan?"


"Sampai aku benar-benar yakin dia aman"


"Dia gak apa-apa, papa ku bilang Rita itu kuat! Jangan perlakukan dia seperti gelas yang mudah pecah nanti dia malah rapuh!"


"Masa kamu gak khawatir anaknya digebukin kayak gitu?"


"Khawatir lah, tapi waktu mama di tempat kakek Sugi, pemandangan itu sudah biasa"


"Hah?"


"Iya! Papa kan punya 1 anak dari masing-masing istri, kami sering ribut, nah biasalah kami berantem seperti itu"


"Ih gila bener! Papa mu diam saja?"


"Beliau cuma nonton saja, dia bilang di dunia nyata akan lebih kejam jadi kami harus kuat!"


"Serem ah!..aku gak mau Rita begitu!"


"Itu kan zamannya aku, gak tahu deh zamannya Andi dan Rita, apalagi Rita jago sembunyi" ujar Ratna tersenyum


"Jago sembunyi?"


"Iya! Papa ku pernah mengadakan permainan seperti film hunger games, semua cucunya saling baku hantam, cuma Rita yang berhasil bertahan tanpa terluka sedikitpun "


"Bagaimana bisa begitu?"


"Kemampuannya memanjat ke tempat tinggi membuat para sepupu gak bisa menjangkaunya"


"Oh begitu.. syukurlah..jadi dia menang?"


"Enggak! Dia didiskualifikasi "


"Kenapa?"


"Dia terlalu jauh ngumpetnya, permainan selesai dia gak kembali, gak tahunya ketiduran di pohon paling tinggi di rumah itu. Papa sibuk menelpon polisi untuk mencarinya, gak tahunya masih di rumah"


"Ketahuannya gimana?"


"Ada pegawai papa yang melihat peralatan nya di bawah pohon, ketika ia melihat ke atas, si Rita lagi gelantungan ketiduran"


"Lalu?"


"Papa memanggil pemadam kebakaran untuk mengangkatnya.. benar-benar merepotkan"


"Kok Andi gak pernah cerita tentang ini?"


"Kalau Andi beda lagi, dia menggunakan papa Darmawan sebagai tameng, jadi papa ku gak pernah bisa menyentuhnya, sepupunya yang lain juga enggak!"


"Kamu kok bisa tahu cerita ini?"


"Lho aku kan yang perancang permainan nya!" Jawab Ratna sambil berlalu


Eka terkejut, ia tidak menyangka istrinya yang penuh kelembutan bisa membuat permainan yang menyeramkan seperti itu.

__ADS_1


_bersambung_


__ADS_2