
Pagi hari saat weekend, Daniel asyik membuat sarapan pagi.
"Pagi?!" Sapa Rita, ia menghampiri suaminya yang sedang memasak
"wangi sekali...Kamu yang bikin sarapan?"
"Iya, Emir datang nanti siang"
"Kamu bikin apa?" Rita melihat masakan suaminya sambil menyenderkan tubuhnya
"Aku lagi bikin kimchi"
"Kimchi buat sarapan?"
"Bukan! Buat sarapan aku sudah buat, tuh di atas meja. Ini kimchi lobak, sawi dan daun bawang"
"Pedas banget ya, bau cabe nya menyengat" Rita menjauh lalu melihat masakan suaminya.
"Nasi goreng!!"
"Cobain deh!" Daniel mengoleskan bumbu kimchi ke sayuran.Sementara Rita mengambil piring dan mengisi piringnya dengan nasi goreng.
"Bismillahirrahmanirrahim" ia mulai menyantapnya
"Bagaimana?" Tanya Daniel menunggu respon istrinya
"Enak!.. rasanya nendang! Kamu bikin banyak kan? Aku pikir anak-anak akan suka ini"
"Untuk anak-anak aku sudah siapkan di tempat lain, mereka kan gak tahan pedas, beda sama kamu"
Rita begitu serius dengan sarapannya sehingga tidak mendengar ucapan suaminya. Dia menambah sepiring lagi.
"pelan-pelan makannya!" Daniel tersenyum melihat istrinya makan sarapan buatannya dengan lahap.
"Alhamdulillah.. kenyang aku, terimakasih sayang, sepertinya dedek di perut ku juga senang" Rita tersenyum.
"syukurlah masakan ku cocok dengan mu!" jawab Daniel.
"Jadi, ada masalah apa?" Tanya Rita , ia mencuci piring bekas makannya.
"Hah? Masalah?"
"Iya! Apa ada sesuatu yang terjadi di kantor?"
semula Daniel tidak menjawab pertanyaan istrinya.
"kamu mulai main rahasia-rahasia an ya sama aku?"
"Rahasia apa?"
"itu!"
"Kelihatan ya?"
"Heeh..kamu kalau lagi banyak pikiran pasti larinya masak"
"Begitu ya?" Daniel telah selesai membumbui sayuran lalu menutup wadahnya.
"Selesai! ini dibiarkan dulu di suhu ruang, setelah tiga hari baru masukin kulkas"
"Belum bisa disantap ya?"
"Bisa, tapi kurang enak, karena inti dari kimchi itu rasa asam pedas dan asin. Nah kalau masih baru belum asam, segarnya belum terasa"Daniel menerangkan
"Aku agak trauma dengan kimchi, kamu ingat kan terakhir aku makan kimchi?"
"Iya! Makanya kamu gak usah makan!"
"Enaknya taruh dimana nih?"
"Di atas situ saja, lemari itu masih kosong"
"kalau dalam lemari nanti aku malah lupa"
"kalau begitu di samping ini, barang yang lain bisa pindahkan ke lemari"
"apa Emir gak akan marah dapurnya aku acak-acak?"
"tulis note saja di kontainer itu, nanti dia gak akan mengganggu kimchi mu"
Daniel mengambil kertas notes dan menulis di atas kertas
"Jangan ganggu sedang di fermentasi..sudah begini saja!" lalu ia menempelnya di kontainer. Ia mencuci sarung tangan karet lalu menjemurnya.
"Terus, kamu gak mau cerita?" tanya Rita penasaran
"Rabu yang lalu aku ada meeting dengan para korban"
"Korban? Korban bencana yang kemarin?"
"Bukan! Korban yang terkena dampak pembuangan polutan oleh Lexicon, mereka curhat habis-habisan, aku jadi gak tega"
"Lalu? Kamu menjanjikan membantu mereka?"
"Aku katakan ke mereka untuk memberi waktu untuk menyelidiki semuanya sebelum ambil tindakan. Bagaimana pun juga ini masalah kebijakan Lexicon sebelumnya "
"Iya ya, menjadi Dirut juga gak semudah itu membuat kebijakan!"
Daniel mengangguk, lalu ia memberikan roti panggang, Rita mengambilnya
"Kamu bikin ini juga?" Rita melahapnya
"Iya, kemarin pulang kantor aku belanja sayuran dan roti."
"Kamu beli Daging juga kan?"
"Beli juga. Aku ingat kok, kamu mau steak lagi kan?"
"Heeh!" Rita mengambil roti lagi
"Nanti jadi cek dokter?" Tanya Daniel
"Jadi dong! Pulangnya kita jalan ke mall yuk?"
"Gak mau ah, aku mau rebahan di rumah"
"Yahh..aku bosan di rumah terus!"
"Ya kamu saja yang ke mall gimana?"
"Boleh nih? Biasanya kamu kan ngikutin"
"Pengennya sih, tapi aku capek..otak ku rasanya mau pecah!" Keluh Daniel, Rita terdiam.
Siang harinya mereka pergi ke dokter kandungan.
"Sehat Bu, baby nya normal, besarnya juga normal" dokter menunjuk layar USG
"Alhamdulillah..."Rita menggenggam erat tangan Daniel yang termangu melihat tampilan anaknya.
"Kira-kira berapa Minggu lagi dokter?" Tanya Daniel
"Anak pertama ya pak? Jadi gak sabar?" Tanya dokter tersenyum,
"Keempat dok!" Jawab Rita
"Oh ...maaf..kalian terlihat sebagai pasangan muda, saya pikir anak pertama"ujar dokter
"terimakasih " jawab Rita tersenyum senang.
"Kira-kira 18 Minggu lagi pak" lanjut dokter
"wajahnya mirip siapa ya?" gumam Daniel
"kalau masih di sini belum kelihatan jelas pak" jawab dokter.
Setelah cek kandungan dan menebus obat, mereka kembali ke mobil.
"Kamu jadi ke mall?" Tanya Daniel,
"Enggak jadi deh!"
"Kenapa? Katanya bosan di rumah?"
__ADS_1
"Aku juga kepengen rebahan di rumah ngumpul sama kamu."
Daniel tersenyum dan mulai menyalakan mesin mobilnya
"Tapi kita beli makanan untuk bekal rebahan gimana? Lumayan lho dua hari!"
"Ayo deh!" Daniel menyetir mobil menuju supermarket yang searah dengan rumah mereka.
Di supermarket mereka membeli berbagai makanan, mulai dari biskuit sampai dengan bahan makanan.
"Kamu mau pesta ya?"tanya Rita yang melihat Daniel memasukkan banyak cemilan
"Ini cemilan sehat, aku baca rekomendasinya, selain bergizi juga sehat untuk cemilan"
"Tapi enak gak? Biasanya judul makanan sehat , rasanya enggak banget!"
"Enak kok, aku sudah pernah beli. Allan makan ini di kantor, katanya lumayan untuk ganjal perut lapar"
"Kalau Allan aku percaya perutnya kosong, kalau kamu? Bukannya selalu bawa makan siang?" Ujar Rita, matanya mencari cemilan yang lain, lalu pergi meninggalkan Daniel yang kembali mengembalikan beberapa cemilan belanjaannya.
"Pak Daniel!" Seorang lelaki paruh baya menegurnya
"Ya?" Daniel menoleh, orang itu menghampiri
"Anda belanja di sini juga?" Tanya orang itu
"Begitulah!, Maaf apa kita pernah bertemu?" Tanya Daniel
"Saya salah satu perwakilan yang bertemu anda hari Rabu yang lalu?"
Daniel mengingat-ingat
"Oh ya? Maaf saya lupa!"
"Bagaimana pak keputusannya?"
"Maaf, saya belum bisa menjawab apa-apa. Tetapi keluhan kalian kami perhatikan " jawab Daniel, wajah orang tersebut berubah, yang semula ramah menjadi tampak kesal.
"Mungkin saya terlalu berharap banyak pada Anda, ternyata Anda sama saja dengan Dirut Lexicon sebelumnya" ujarnya kesal sambil berlalu. Rita melihat mereka bercakap-cakap dari jauh, diam-diam ia merekamnya. Setelah orang itu berlalu, Rita menghampiri suaminya yang termangu.
"Sayang, tadi siapa?"
"Itu, katanya sih salah satu orang yang kemarin ikut pertemuan"
"OOO.. kelihatannya gak ramah gitu ya?"
"Mungkin dia kecewa! Kamu sudah selesai?"
"Sudah, yuk bayar!"
Rita membayar semua belanjaan lalu mereka kembali ke mobil.
"Wah... anak-anak akan senang sekali ini, kita membelikan banyak es krim" ujar Rita
"Huh?" Daniel masih melamun
Sesampainya di mobil, dia kebingungan mencari kunci mobilnya
"Kamu nyari apa?" Tanya Rita
"Kunci mobil"
"Lho, mobil ini kan gak pakai kunci, tinggal pencet saja!"
"Oh iya!" Daniel hendak menjalankan mobil
"Sebentar!" Rita mencegah suaminya menjalankan mobil
"Eh, kenapa? Apa ada yang ketinggalan?"
"Ada!"
Daniel melihat ke jok mobil belakang
"Apa yang ketinggalan?" Tanyanya bingung
"Roh kamu!"
"Roh?"
"Masa? Aku fokus kok !"
"Oh ya? Sekarang kira-kira apa yang ketinggalan?"
"Tadi kan roh?"
"Coba lihat ke bawah!"
Daniel menundukkan wajahnya, ia melihat kakinya tanpa alas
"Eh, sandal ku mana?" Tanyanya heran
" Kamu melepasnya ketika masuk mobil! Coba buka pintu pasti ada di luar "
Daniel membuka pintu mobil
"Ah ini dia!" Ia mengeluarkan kakinya dan memakai sandal.
"Sayang, aku cuma mau mengingatkan, kamu manusia biasa bukan malaikat!"
"Maksudnya?"
"Aku tahu kamu ingin membantu mereka, tapi kalau tidak bisa jangan dipaksakan. "
"Maksud mu, aku harus biarkan begitu?"
"Enggak begitu juga! Kamu kan lebih tahu, orang-orang yang mengaku korban, apa betul? Kamu sudah selidiki mendalam? Apa memang Lexicon yang membuang polutan? Info-info seperti itu kamu lebih jago kan mencarinya!"
Tiba-tiba Daniel menghampiri istrinya, lalu mencium bibirnya
"Muachhh!"
"Hey! Ini di jalan!" Ujar Rita tersipu
"Biar saja! Aku mencium istri pintar ku!" Daniel kembali bersemangat, ia mengendarai mobil ke rumah.
Rita melihat kantong obat yang baru saja ia tebus
"Yah vitamin lagi, tambah banyak makan deh aku" keluh Rita
"Biasanya dokter kasih itu karena keluhan, kamu ngeluh apa?"
"Selain mudah lelah juga lupaan"
"Kalau aku sih asal gak lupa sama Aku dan anak-anak gak masalah!" Ujar Daniel tersenyum
"Aah iya, aku lupa, kemarin gurunya anak-anak minta kita membawa Raffa ke psikolog "
"Raffa? Ada masalah? Aku pikir selama ini Ranna saja yang bermasalah"
"Kamu benar membuat Ryan yang menjaganya dibandingkan sus Erni, Ranna lebih patuh padanya."
"Ranna itu sifatnya aktif, kalau Erni akan kepayahan mengikutinya, Ryan masih muda dia akan mengikuti Ranna kemana saja."
"Sepertinya begitu, aku dengar Ryan selalu tidur siang saat istirahat , mengikuti Ranna pasti berat juga" Rita tersenyum mengingat anak sulungnya
"Jadi kenapa sama Raffa?"
"Beberapa minggu yang lalu mereka mengadakan psikotes, dan hasilnya Raffa kemungkinan jenius. Hasil tesnya tinggi, dia juga sudah bisa membaca. Katanya sih ia belajar sendiri dari YouTube "
"Wahh...ternyata kita punya gen jenius juga..lalu kamu bilang apa ke gurunya?"
"Aku bilang,aku harus diskusikan dulu dengan papinya"
Daniel melihat ekspresi Rita yang kelihatan biasa saja
"Anaknya jenius kok kamu biasa saja?"
"Sebenarnya aku sudah lama tahu kok, Raffa banyak mengajarkan Rayya huruf-huruf dan membacakan buku cerita"
"Terus?"
"Aku hanya ingin Raffa bahagia. Tes kecerdasan seperti ini hanya akan membuatnya tertekan. Aku ingin dia besar seperti anak normal lainnya"
__ADS_1
"Memangnya jenius itu tidak normal?"
"Lho masa kamu gak tahu? Kalau dia ketahuan jenius, nanti dia mulai pakai kacamata, kerjanya hanya belajar melulu..membosankan! Belum lagi hubungan dengan Ranna. Kamu tahu sendiri kan, bagaimana pencemburu nya Ranna. Kita memberikan adik dimana ia masih sangat membutuhkan perhatian kita"
"Kita kan juga memperhatikan dia"
"Memang, tapi berbeda kalau sudah ada adik."
"Begitu? Jadi kita tidak akan membawanya ke psikolog?"
"Gak usahlah, eh kamu setuju kan?"
Daniel diam, ia masih mencerna yang Rita katakan, lalu ia melihat tangan Rita yang lebam.
"Kenapa tangan mu?"
"Oh ini, kemarin kepentok lemari"
"Kamu hati-hati dong!"
"Bukan salah aku! Lemari dan barang-barang di rumah ramah sekali sama Aku"
"Memangnya mereka sengaja jalan lalu menyenggol mu? Kamu harus sayang tubuh mu, aku saja sayang sama tubuh mu masa kamu enggak!"
Rita mencubit pinggang suaminya gemas
"Auu! Hey aku lagi menyetir!"
"Kamu sih! Becandanya kadang menjurus!"
"Kamu masih menulis novel?"
"Masih!"
"Sudah berapa episode?"
"Tembus 300-an"
"Viewer nya sedikit ya?"
"Iya, gak apa-apalah, selain orang kita itu literasi nya rendah mereka juga lebih senang cerita-cerita penuh konflik rumah tangga "
"Rencananya kamu mau menulis sampai berapa episode?"
"Entahlah, suka-suka aku saja, mungkin bisa jadi 1000 episode...hehehe.."
"Kalau konfliknya ringan-ringan saja biasanya gak menarik, kasih dong konflik yang rada menantang gitu"
"Misalnya apa?"
"Ya..apa gitu.."
"Gitu..gitu.." ledek Rita
"Hahaha...jadi...kenapa kamu mau menikah sama aku?" Tanya Daniel
"Kalna aku sukaaaa sekaliiiii!" Jawab Rita
"Hahahaha!" Daniel geli melihat gaya istrinya menirukan Ranna.
Sesampainya di rumah, ketiga anaknya sudah menunggu di teras bersama para baby sitternya
"Mamii- papi!!" Teriak Ranna dan Raffa berlari menghampiri kedua orangtuanya, Rayya ikut berlari, tapi karena masih kecil, akhirnya ia digendong oleh sus Eva .
"Mami lihat adek ya?" Tanya Ranna, menggandeng tangan Rita
"Iya, maaf ya kalian gak ikut!"
"Adek sehat Mi?" Tanya Raffa
"Sehat dong!"
"Kila-kila namanya siapa Mi?" Tanya Ranna
"Tanya Papi dong!"jawab Rita
"Kakak-Abang, bantuin papi dong!" Kedua anak berlari menghampiri Daniel,
"Kalian bawa ini" Daniel memberikan kantong belanja yang agak kecil.
"Uh belat!" Raffa kesulitan mengangkatnya, Ranna berlari membantunya
"Sini dek, kakak pegang ini, adek yang satunya lagi" keduanya bekerja sama mengangkat tas belanja.
Rita tersenyum melihat anaknya saling membantu
"Wah pandai sekali, nanti mami kasih es krim ya?"
"Asyiikkk!"
Daniel dibantu Ryan dan Erni mengambil belanjaan
"Ini ditaruh di dapur Bu?" Tanya Erni
"Jangan! Itu cemilan semua, taruh di lantai dua!" Pinta Rita
"Baik Bu!"
Daniel langsung menuju ruang kerjanya. Rayya menangis minta digendong papinya.
"Adek! Sama mami saja, papi ada perlu!" Rita mengambil Rayya dari susEva .
"Dia mencari papi nya sejak bangun tidur" lapor Eva
"Adeknya sudah berat ya? Sama sus saja ya?" Rayya kembali ke Eva.
Daniel menelpon dari ruang kerjanya.
"Selamat siang pakDaniel!"
"Siang! Allan! Kamu ada di kantor sekarang?"
"Tidak pak!"
"Oh iya!"
"Ada apa ya pak?"
"Saya minta berkas laporan pembuangan polutan dan laporan kasus yang kemarin kita bicarakan"
"Untuk hari apa pak?"
"Hari Senin! Tapi kalau kamu punya salinan onlinenya boleh kirimkan ke aku hari ini atau besok."
"Baik pak, adalagi?"
"Oh ya, jangan lupa kabari aku meeting hari Senin, lewat WA saja tak perlu menelpon, kalau libur begini aku menjauhkan ponselku "
"Baik pak Daniel"
"Terimakasih Al! Selamat Weekend!"
"Sama-sama pak!"
"Siapa?" Tanya wanita di sampingnya
"Bos ku!"
"Apa kamu gak bilang lagi di Spanyol?"
"Enggak!" Allan memeluk tubuh perempuan di sampingnya.
"Kamu mau begini terus?"
"Besok aku sudah harus kembali ke Kanada! Jadi biarkan aku memeluk tunangan ku agak lama!" Mereka saling berpelukan
Bunyi ponsel berbunyi
"Suara apa tu?"
"Ponsel ku!"
"Isabel!"
__ADS_1
"Ya papa?"
_bersambung_