Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)

Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)
Chapter 146: Nikah Dadakan, Dewa?


__ADS_3

Berita Daniel memberikan cincin senilai 89juta telah sampai ke telinga para kakek, kebetulan mereka sedang bermain golf bersama


“Dek, sudah dengar?”


“Dengar apa kak?”


“Si Daniel memberikan cincin ke Rita, kalau di rupiahkan harganya 89 juta!”


“Itu cincin tunangan?” tanya Darmawan terkejut


“Bukan, sekedar hadiah saja.” Ujar Sugiyono sambil memberikan stick golfnya kepada caddy


“Apa aku menggajinya terlalu besar?” Darmawan memukul bola, setelah itu mereka berdua bersama para caddy menaiki mobil golf


“Apa dek Darmawan tidak pernah mengecek laporan keuangan?”


“Selalu, dan tidak ada yang salah. Semua wajar!, sebentar aku tadi meminta asistenku menyelidiki cincin itu! Tunggu saja kabarnya” ujar Darmawan


“Kamu sudah mendengar tentang cincin itu?” tanya Sugiyono heran


“Sudah, Andi heboh menceritakan semuanya padaku” ujar Darmawan, mereka beristirahat di cafe


“Nah itu asistenku datang!” Darmawan menerima amplop coklat yang berisi informasi tentang cincin dari perusahaan perhiasan Frank. Ia membacanya kemudian tersenyum lega


“Kenapa Dik? Kog kamu senang sekali?”


“Coba baca kak!” Darmawan memberikan laporan itu kepada Sugiyono


Sugiyono membacanya dengan serius


“Daniel ini multi talenta rupanya, siapa yang menyangka kalau dia mendesign fashion ring seperti itu?” Sugiyono berdecak kagum


“Designnya disukai banyak wanita kelas atas, ia mendapatkan royalty atas designnya itu, cincin yang diberikan ke Rita itu royaltynya”


“Ckckckc...hebat calon cucu mantuku” ujar Sugiyono


“Jadi bagaimana Kak?” tanya Darmawan


“Ya biarkan saja mereka terus berhubungan, aku percaya pada Daniel” ujar Sugiyono, ia menyeruput kopi hangat, notifikasi di ponsel Darmawan berbunyi. Asistennya memberikan ponselnya, setelah membaca pesan, Darmawan terkejut


“Kak, dari Andi, katanya Daniel sudah melamar Rita di depan Reza, ia memberikan cincin tunangan senilai 100 juta!” ujar Darmawan setengah berteriak, Sugiyono tersedak


“Uhuk..uhuk..uhuk!”


“Tenang kak, ini minum air putihnya!” Darmawan memberikan air putih kepada Sugiyono


“Kalau dia begitu serius, kita nikahkan langsung saja!” ujar Sugiyono


“Apa Rita mau?” Darmawan ragu


“Kalau sudah menerima, seharusnya dia sudah gak ragu lagi!”


“Kapan kita bicarakan tentang itu?” tanya Darmawan


“Ratna sudah merencanakan umroh sepulang dari pesta Saye, mungkin sepulang dari sana” ujar Sugiyono


“Oh ya? kenapa Andi tidak bilang apa-apa padaku?” tanya Darmawan heran


“Mungkin Ratna belum memberitahunya, Ratna itu orangnya sangat detail, dia belum mengatakan kalau belum pasti. Aku dengar tadi pagi visanya sudah turun, jadi sepulang dari Sukabumi mereka langsung berangkat!”


“Apa Rita dan Andi sudah mempersiapkan perlengkapan umroh?”


“Ratna sudah menyiapkan semuanya, mereka tinggal berangkat saja”


“Kita menyusul kak, gimana? Aku sudah tidak ada jadwal mendesak” tanya Darmawan


“Hmm...ayo deh!, ajak Daniel saja mungkin kita bisa menikahkan mereka di sana”


“Tapi kak, Daniel sedang sibuk dengan proyek di Singapura, aku ragu dia mau meninggalkan pekerjaannya” ujar Darmawan


“Hei!! Ownernya kan kamu, kalau kamu bilang hentikan, proyek akan berhenti bukan?” ujar Sugiyono


“Benar juga ya? masalahnya aku gak pernah begitu kak!, memotong pekerjaan di tengah jalan!”


“Ting!” bunyi notifikasi lagi dari ponselnya, Darmawan membaca pesan dari Radian


“Ah..kayaknya Daniel bisa ikut kak, Radian bilang SOP proyek sudah diselesaikan Daniel sebelum ia berangkat ke Sukabumi!”


“Wahhh..hebat sekali cucu mantu kita!, segera kan saja dik!”


“Tapi kak, sekolah Rita gimana?” tanya Darmawan


“Ya tetap sekolah, toh setelah mereka menikah, Daniel di Singapura, Rita di Jakarta melanjutkan sekolah. Rita akan lulus dari SMU tinggal hitungan bulan. Sedangkan dengan Daniel, aku pikir tidak baik ditunda-tunda”


“Menurut kakak begitu?”


“Kita berdua lelaki Dik, kita lebih tahu hasrat kita kan?”


“Hmm...baiklah!” Darmawan menyetujui rencana Sugiyono


Dugaan kedua kakek tidak salah, Daniel melihat Rita berkebaya biru, tampak ayu, membuat jantungnya berdebar kencang.


“Ah sial!! Kenapa sih gue” dia bolak-balik ke kamar mandi membasuh wajahnya


“Kamu kenapa Niel? “ tanya Andi, ia melihat wajah Daniel yang memerah


“Eh, Di, aku dapat pesan dari kakek Darmawan, aku harus segera menemuinya. Sepertinya ada masalah dengan proyek di Singapura” ujar Daniel berbohong


“Tapi Niel, acaranya sebentar lagi selesai!”


Daniel termangu sebentar memperhatikan Rita dari kejauhan, ia pikir ia tidak akan bisa menahan dirinya lagi jika harus berhadapan dengan Rita


“Ini mendesak Di, tolong ya? Aku pulang lebih dulu!” Daniel yang telah berganti pakaian, setelah pamit pada Reza dan Ratna, ia pun menaiki taksi


“Yah..Daniel pulang!” keluh salah seorang sepupu Rita


“Hah? Siapa?” tanya Rita


“Pacar lo pulang tuh!” ujarnya lagi


“Masa?” Rita pergi mencari Daniel yang sudah jauh meninggalkan rumah Saye, kemudian ia menelpon Daniel


“Niel kamu di mana? Kok pulang?” tanya Rita bingung


“Maaf Rit, ada masalah di Sangapura, Aku harus segera kembali”


“Hmm...begitu ya? baiklah, hati-hati di jalan ya? kabari kalau sudah sampai!”


“Iya, dadah!, love you!” ujar Daniel


“Love you too!” jawab Rita, ia pun mengakhiri telponnya, kebingungan terpancar dari wajahnya


“Daniel lagi sibuk Rit?” ujar Ayah Reza


“Iya , dia sama kayak ayah ya? gila kerja!” ujar Rita agak kecewa


Tidak berapa lama, taksi yang membawa Daniel kembali ke rumah Saye. Daniel kembali, wajahnya tampak sangat serius. Ia menghampiri Andi dan mengatakan sesuatu, kemudian bersama Andi mereka menemui Reza.


(bahasa Inggris)


“Dr.Reza, saya ingin menikahi Rita “


“Iya aku tahu, aku kan sudah mengijinkannya”


“Maksudku hari ini” ujar Daniel tegas


“eh sekarang?” Reza kaget


“Para kakek memanggil Daniel Yah, aku takut mereka berencana memisahkan mereka lagi” ujar Andi


“Masa? Bukannya kakek Darmawan sudah setuju dengan Daniel?”


“Itu sebelum kabar tentang cincin itu” ujar Andi lagi


“Kamu gak macam-macam kan Niel untuk mendapatkan cincin itu?” tanya dr.Reza


Daniel menjelaskan asal-usul cincin tersebut dan memberikan bukti sertifikat cincin tersebut, Andi dan Reza tertegun melihat sertifikat asli kedua cincin dan mereka juga mengagumi design Daniel pada perhiasan


“Jadi bagaimana pak?” tanya Daniel


“Kita tanya mamanya dan Rita “ ujar Reza, Andi memanggil Ratna ke kamarnya, sedangkan Daniel berbicara empat mata dengan Rita di kamar lain.


“Niel, katanya ada masalah di Singapura? Kog kamu balik lagi?” tanya Rita, ia melihat keresahan di wajah Daniel. Tiba-tiba Daniel berlutut, ia memegang tangan Rita


“Rita kamu mau kan menikah denganku sekarang?”


“hah? Sekarang?” Rita terperanjat, pertanyaan Daniel yang begitu mendadak, membuatnya agak kehilangan keseimbangan, Daniel dengan sigap menangkap tubuhnya,


“Aku tahu, kamu masih banyak cita-cita, tapi aku tidak akan mengekangmu Rita, setelah menikah kamu bebas bersekolah lagi. Tapi aku tidak mau pulang dengan tangan hampa, aku ingin kamu jadi istriku. “ Daniel menatap mata Rita dalam-dalam


“eh,kalau...” Rita masih berpikir


“Ketika kemari, aku sudah menyiapkan dokumen untuk kita menikah, semua persyaratannya. Jadi tinggal kamunya setuju atau tidak” ujar Daniel

__ADS_1


“Masa? Bukannya kamu baru saja melamarku pagi ini?” Rita membuka amplop coklat yang dibawa Daniel, ia membaca berkas-berkas yang dibutuhkannya untuk menikah.


“Berkasku juga ada di sini?” katanya heran


“Aku sudah menyiapkannya sejak lama, aku bawa terus. Aku menunggu saat yang tepat untuk menyatakan semuanya padamu!”


“Selama ini kamu bawa-bawa ini terus?” tanya Rita heran


“Ya, gak terus-terusan sih, pokoknya setelah cincin nikahnya jadi baru aku siapin semuanya. Aku juga sudah minta Andi jadi wali kita”


“Apa gak terburu-buru Niel? Bukan maksudku, Aku juga ingin menikah dengan mu tapi..”


“Kamu pernah dengar pepatah lama? “


“Pepatah lama? Apa itu?”


“Niat baik itu jangan ditunda-tunda nanti keburu setan!” ujar Daniel


“Itu pepatah orang jadul !”


“Itu benar Rit, ayolah, kita menikah sekarang!, Aku tidak mau kamu berubah pikiran jika bertemu banyak orang dari masa lalu mu!”


“Tapi Niel, aku hanya melihat padamu!” ujar Rita


“Itu tidak cukup Rita, aku ingin kita sah di mata Tuhan, hukum dan orang tua mu! Kebetulan mereka ada di sini kan?”


“Hmm...” Rita masih berpikir


“Tapi aku tidak memakai gaun pengantin” ujarnya


Daniel tersenyum


“Sejak tadi, kebayamu ini sudah menjadi gaun pengantin, aku deg-deg-an terus melihat kamu!” ujar Daniel pelan. Rita tersipu malu,


“Baiklah, cepat atau lambat kita pasti menikah, kenapa harus ditunda-tunda? Iya gak?”


“NAHH!!! That’s my girl!” Daniel memeluk Rita, kemudian mereka keluar dari kamar dan menemui Reza dan Ratna. Mata Ratna berkaca-kaca...


“Rita anakku, kamu mau menikah sekarang nak?” ujarnya terisak sambil memeluk Rita


“Iya ma, boleh gak?” tanya Rita


“Boleh dong sayaangg!!! Daniel!!” Ratna juga memeluk Daniel.


Andi menemui Mario untuk mempersiapkan pernikahan Rita dalam beberapa jam


Mario mendengar Rita akan menikah hari itu juga, ia jadi panik


“Ah..Ritong!!! Yu gak berubah deh, kalau mau loncat dia loncat kayak kodok! Sekarang tiba-tiba mau nikah mendadak dangdut!” ujarnya setengah berteriak


“Hush! O berisik gimana bisa gak lo nyiapin? Katanya lo punya ISO? Harusnya iso kan?” bisik Andi


“Hey Ding! Tentu dong ai bisa, nih ya, Ai bisa dapat tempat dengan cepat!” Mario menghubungi temannya melalui telpon, dengan gayanya yang gemulai dan serius ia mulai mencari tempat untuk Rita menikah.


“Kenapa gak di sini saja kak?” tanya Saye


“Jangan Say, ini kan pesta kamu, istilahnya Rita gak boleh mencuri petir kamu! ( Stole your thunder) kalau istilah jawa nya PAMALI” ujar Ratna


“Jadi menikahnya kapan?”


“Malam ini, tadi Reza sudah menghubungi penghulu yang menikahkan kalian, Daniel juga sudah melengkapi berkas-berkas, jadi tinggal akadnya saja!”


“WOW kilat sekali!, kan harus ada surat numpang menikah?”


“Itu bisa diurus nanti, Reza sudah menyuruh orang untuk mengerjakannya, dia sangat bersemangat!”


“Saya gak menyangka kak Reza bakal punya mantu”


“Aku juga Say” Ratna kembali menitikkan air mata.


Waktu menunjukkan pukul 2 siang, Mario sudah menemukan tempat untuk mereka menikah, yaitu Restaurant paling mewah di daerah itu. Dalam waktu beberapa jam, Mario telah mendekor resto tersebut menjadi tempat megah. Andi tidak berhenti berdecak kagum atas kerja Mario, begitu pula Daniel


“You did great man!” ujar Daniel memuji Mario


“Of course! I am a professional decorator, this is my card!” ia menyerahkan sesuatu ke Daniel


“Heh! Itu KTP lo Oon!” tegur Andi


“Ups my bad!” ujarnya malu, ia mengambil KTPnya kemudian menggantinya dengan kartu nama


“O, Mario !” Daniel membaca tulisan yang tertera di kartu nama milik Mario


“Hei Yu dengar ya, nama O ini bawa hoki, Ai banyak dapat job karena nama ini!” ujarnya


Mario terdiam, dia ketelepasan bicara tentang nama bisnisnya


“Begini saja deh, jasa Ai sekarang ini ai kasih diskon!”


“Berapa persen?” tanya Andi


“10 %?”


“Ah kecil banget, 20 dong!” tawar Andi


“Yaa,..15% deh!” akhirnya mereka sepakat


“Should I transfer you now?” tanya Daniel


“No..no..no..nanti saja kalau semua sudah selesai, baru deh kita itung-itungan!” ujar Mario genit, kemudian ia pergi, Daniel diberitahu oleh Andi


Andi segera mengabari para kakek tentang pernikahan Rita yang akan dilaksanakan malam ini, para kakek segera berangkat ke Sukabumi dengan mengendarai helikopter. Pukul 5 sore mereka tiba di Sukabumi, penginapan Qowi yang mulai kosong, kini terisi kembali dengan tamu dari Jakarta. Para kakek dan sepupu Rita datang untuk menghadiri acara pernikahan. Qowi mengabari teman-teman dekatnya termasuk para senior untuk hadir di pernikahan Rita malam ini, termasuk Dewa.


“Eh sekarang menikahnya?” tanya Dewa heran


“Iya Kak!, tadi Rita yang ngabarin, akad nikahnya pukul 7 malam ini” ujar Qowi


“Apa gak mendadak? Tadi pagi tantenya yang nikah?” tanya Dewa


“Katanya mumpung masih hari jum’at. Mereka ingin menikah hari jum’at”


“oo begitu, iya insya Allah aku datang deh” ujar Dewa


Setelah mendengar kabar itu, tangan Dewa bergetar, tanpa sadar ia menjatuhkan ponselnya. Ia menangis, pupus sudah harapannya mendapatkan Rita kembali. Sementara Indra dan kawan-kawan juga telah dihubungi . Lisa, Andien telah berkumpul di tempat Qowi mereka berencana berangkat bersama


“Wah gak nyangka ya Rita duluan nikah dari kita semua” ujar Andien


“Kiki dong yang duluan!” sanggah Lisa


“Eh Indrajit diundang gak?” tanya Andien


“Tentulah, Qowi gitu lho, masa engga?”


“apa mau datang Indrajit?” tanya Andien lagi


“Ya mau dong, tapi yang kasihan itu kak Dewa” ujar Qowi tiba-tiba


“Kenapa sama kak Dewa? Rita kan adiknya teman kak Dewa?” tanya Andien


“Memangnya lo gak tau ya?” tanya qowi dan Lisa saling berpandangan


“Gak tau! Cerita dong!” ujar Andien gak sabar


Qowi melihat jam tangannya, “masih jam setengah 6, masih ada waktu buat dongeng” ujarnya


“Jadi gimana?” tanya Andien penasaran, Qowi dan Lisa terdiam, tiba-tiba


“DooR!!” teriak Qowi, “Nungguin ya?” sambung Lisa tertawa


“Kalian ini, jangan begitu dong, gue memang paling akhir gabung di geng kalian, tapi gak begini caranya!” ujar Andien ngambek


“Dia ngambek Lis! Nanti bapaknya marah lho!” canda Qowi, Andien memang terkenal anak papa


Lisa memulai ceritanya


“Jadi nih Dien, duluuu..nih..pas Rita baru masuk ke sekolah kita, dia naksir kak Dewa. Mereka bertemu gak sengaja di jalan, waktu itu Rita kesasar mencari sekolah kita, eh kebetulan ketemu Dewa. Lo kenal bagaimana ramahnya kan kak Dewa?” ujar Lisa, Andien mengangguk setuju


“Nah, sejak pertemuan itu, Rita terus mengikuti kak Dewa, bahkan ia sengaja masuk PMR”


“Tapi katanya supaya kayak ayahnya?” tanya Andien


“Itu alasannya dia!, padahal tanpa masuk PMR dia tuh sudah jago melakukan pertolongan pertama. Ia bela-belain supaya dekat sama Dewa.”


“Tapi katanya dia ditolak di Karate karena penuh?”


“Iya, dia tahu kak Dewa ikut 2 ekskul Karate dan PMR”


“Ooh begitu, itu sebelum ia jadian sama Tomi?”


“bahkan ia belum ketemu Tomi” sambung Qowi


“Terus, kak Dewa tahu gak Rita naksir dia?”


“Kayaknya tahu, tapi karena Rita agresif, jadi dia kurang suka. Lagi pula lo inget kan kak Dewa banyak banget cewek yang naksir?”

__ADS_1


“Jadi Rita ditolak begitu?”


“Kalau menurut ceritanya sih begitu” ujar Qowi


“Gimana maksudnya?” tanya Andien


“Lo inget gak Lis, waktu itu Rita cerita apa? sampai dia nangis lama?”


“Eh Rita nangis?” tanya Andien


“Iya, dia patah hati yang pertama”


“jadi first lovenya Rita itu Dewa? Bukan Tomi?” tanya Andien berbisik


“Kayaknya begitu!” ujar Qowi dan Lisa berbisik


“Tapi belakangan mereka dekat tuh?” ujar Andien


“Iya, tetapi setelah Rita tidak meneruskan perasaannya ke Dewa”


“Sebenarnya penyebabnya apaan sih?” Andien penasaran


“Gue lupa Lis, Lo inget gak sebabnya?” tanya Qowi


“Iya gue juga lupa, Rita lebih banyak terisak sih ya, jadi kita juga gak jelas dia ngomong apa”


Satu setengah tahun yang lalu...


“Selamaat pagi kak Dewa?” Rita menyapa dengan riang


“Pagi!!!..Eh kamu anak yang nyasar kemarin kan?” tanya Dewa, mereka berjalan menuju sekolah


“Iya kak, Saya Rita!, lupa ya?”


“Rita? Enggak kog, ingat sekarang. Kamu di kelas berapa sekarang?”


“11-1”


“Ohh,...nanti mau ikut ekskul apa?”


“Aku mau taekwondo kak!”


“Di sini gak ada Rit, adanya karate. Gimana masuk karate saja?”


“hmm...Rita kalau karate masih sabuk coklat sih”


“Naikin saja jadi sabuk hitam di sini, kakak juga ikut karate!”


“Beneran kak? Asyik,...oke deh, nanti Rita daftar”


“Iya segera deh soalnya peminatnya banyak, maklum karate kumpulan orang ganteng-ganteng!”


“Begitu ya? oh iya warna kesukaan kak Dewa apa?”


“Hmm..putih, kalau Rita?”


“Hijau Army!”


“Wah kamu galak kalau begitu!” canda Dewa, mereka bercakap-cakap tidak terasa sampai di gerbang sekolah


“Sudah sampai saja, gak terasa ya kalau asyik ngobrol!” ujar Rita riang, Dewa mengangguk


“Eh, kak Dewa suka wafer coklat?” Rita mengeluarkan wafer Tangu dari dalam tasnya dan memberikannya ke Dewa


“Buat kakak?” tanya Dewa, Rita mengangguk


“Ucapan terima kasih karena sudah membantu Rita kemarin!” kemudian Rita berlari masuk ke kelasnya


Dewa menyimpan wafer itu di tasnya, ketika istirahat tiba


“Apaan tuh Wa? Tanya Tomi, ia melihat wafer Tangu pemberian Rita muncul di tas Dewa


“Itu Wafer coklat, lo mau?” Dewa menawarkan


“Lo gak mau?”


“Enggak! Bosen sama wafer!” ujar Dewa, dengan senang hati Tomi memakan wafer itu. Keesokan harinya, Rita memberi Dewa wafer Bang-bang. Hari berikutnya permen hati, hari berikutnya wafer TIP, hingga tas Dewa sudah penuh dengan pemberian cemilan dari Rita.


“Lo jualan ya Wa?” tanya Tomi ia melihat banyak snack di dalam tas Dewa


“Lo mau? Ambil deh! Gue gak suka!” ujarnya


“Boleh nih? Lo yakin gak mau?”


“Yakin! Ambil deh semuanya!” ujar Dewa. Dengan senang hati Tomi mengambil semua snack dari tas Dewa.


Hari itu hari persahabatan, Rita dengan riangnya mendatangi Dewa yang sedang duduk sambil membaca di bawah pohon.


“Kak Dewa!” tegurnya


“Eh Rita!” Dewa bangkit dari duduknya


“Tadi kak Dewa datangnya terlambat ya? Rita cariin!”


“Eh iya nih, kak Dewa kesiangan!” ujarnya beralasan padahal ia sengaja datang terlambat untuk menghindari Rita


“Kak ini!” Rita memberikan gelang terbuat dari benang, ia sengaja memilih warna putih dan hijau. Putih warna kesukaan Dewa, sedangkan hijau warna kesukaannya. Semalaman ia merajut benang itu agar bisa ia berikan ke Dewa


“Apaan nih Rit?” tanya Dewa heran


“Ini gelang persahabatan kak!, nih Rita juga pakai! Ini buat kak Dewa!” Rita memakaikan gelang persahabatan itu di tangan kanan Dewa


“Jadi couple deh!” ujar Rita tertawa, Dewa tertawa terpaksa


Keesokan harinya, Rita melihat seseorang memakai gelang yang ia berikan ke Dewa, ia tahu itu gelang Dewa, karena benang yang ia pakai dibelinya khusus tidak ada di toko benang biasa.


“Maaf, Kamu dapat gelang ini dari mana ya?” tanya Rita ke cowok itu


“Oh ini? Hmm...kemarin sih gue nemuin di bawah pohon! Karena bagus jadi gue pakai saja!”


“Oo begitu, menurut mu itu bagus?”


“Iya warnanya keren, gue suka!”


“Apa orang yang memakainya gak tahu gelangnya terlepas?” tanya Rita lagi


Orang itu menunjukkan gelangnya yang terikat


“Nih cara pakai gelang ini diikat, kecuali ikatannya terlepas atau dilepas!”ujarnya lagi


“hmm..iya juga ya?”


Tiba-tiba seseorang dari kejauhan memanggil orang itu


“Tomi Woy!!! Jadi main bola gak?” tanya temannya


“Jadi!, eh sudah dulu ya!” orang yang dipanggil Tomi itu pergi meninggalkan Rita.


Rita penasaran dengan gelang itu, apa terlepas, apa sengaja dilepaskan, keesokan siang ia sengaja berpas-pasan dengan Dewa


“eh Kak Dewa!”


“Rita!” Dewa tersenyum


“Gelangnya mana kak?” tanya Rita pura-pura


“Eh kemana ya? kemarin setelah kamu pasang, kakak tidur-tiduran di pohon, sudah gitu gak merhatiin lagi”


“oo begitu”


Di kamarnya Rita masih memikirkan tentang gelang itu,


“Masa sih kak Dewa sengaja melepaskan gelang itu?” pikirnya, kemudian ia mencari sesuatu


Keesokannya, Rita menemui Dewa lagi


“Kak Dewa! Kakak senang olah raga kan?”


“Iya, kenapa?”


“Ini kak! Karena gelang persahabatannya hilang, Rita kasih ini deh!” Rita memberikan sebuah wrist band berwarna putih


“Kamu beli ini?” tanya Dewa, Rita mengangguk dan memakaikan ke tangan kanan Dewa


“Pas kan warnanya putih, ini menyerap keringat kak!, Rita punya banyak!”


“Kamu jualan?”


“Bukan!, dikirim dari kakak Rita untuk Rita olah raga”


“Buat kamu mana dong?” tanya Dewa, sebenarnya dia suka wrist band itu


“Kan aku punya 5 lagi kak!” katanya, setelah memberikan wrist band itu, ia pun pergi. Setelah Rita pergi, Dewa melepaskan Wrist band itu lalu menaruhnya di dalam tasnya. Hal yang sama terulang, Tomi melihat wrist band itu dan memintanya. Dewa tidak peduli, ia menyerahkan begitu saja. Suatu hari, tanpa sengaja Rita melihat wristband pemberiannya ada di tangan seseorang dan bukan Dewa. Sejak itu ia sadar perasaannya selama ini tidak terbalas.

__ADS_1


_Bersambung_


__ADS_2