
“mami?”
“Ya Sayang?”
“Why, papi no play with us?” tanya Ranna suatu hari
“Papi sibuk sayang, nanti kalau sudah tidak sibuk pasti main lagi sama kalian”
“but, papi always play with adek. I saw them” ujar Raffa
Rita diam saja
“Hey, kalian mau ketemu papi hari ini?”
“Can we?” tanya Raffa dan Ranna bersamaan
“Kita surprise him, gimana?”
“Really? Asyikk!! Let’s go mami!”
“Kalian ke suster, minta ganti pakaian dan siap-siap , mami juga akan siap-siap!”
Kedua batita itu berlari kegirangan, mereka menuju kamar mereka dan berganti pakaian, sementara Rita menelpon Daniel.
“Ya?” Daniel menjawab ponselnya
“Sayang, kamu di kantor hari ini?”
“Iya, kenapa?”
“Jam berapa makan siang?”
“Satu jam lagi”
“Kamu membawa bekal mu?”
“Astaghfirullah, lupa, biar deh nanti aku pesan antar saja!”
“Baiklah, love you!!!” Rita mengakhiri percakapannya
“Love you!” jawab Daniel
“Maaf interupsi sebentar, itu tadi istri ku” ujar Daniel pada timnya di ruang rapat
“Anda sangat perhatian sekali dengan istri Anda ya?” puji salah seorang anggota
“Biasa saja! Mari kita lanjutkan tadi sampai mana?”
Rapat pun dilanjutkan. Pukul 12.00 Rita bersama rombongan datang ke kantor Lexi.
“Maaf bisa saya bertemu dengan Pak Samuel?” tanya Rita pada security
“Anda siapanya?”
“Saya Rita kenalannya”
Security agak heran dengan rombongan yang dibawa Rita. Security menghubungi Samuel, beberapa menit kemudian ia turun ke bawah dan menemui Rita.
“Eh bu Rita selamat siang!, Selamat Siang Raffa!” sapa Samuel
“Selamat Siang Pak Samuel, sebenarnya aku ingin mengejutkan suamiku, anak-anak kangen ayahnya”
“Kalau begitu mari bu, langsung ke ruangannya. Beliau baru selesai rapat”
“Kamu gak bilang aku datang kan? Aku hanya ingin mengejutkannya”
“Tidak bu!, tadi beliau hendak memesan makan siang, mungkin belum sempat karena menunggu saya dulu”
Samuel, Rita beserta rombongan memasuki kantor Lexi yang megah layaknya mall, kemunculan anak-anak yang lucu menarik perhatian beberapa orang.
“Mereka siapa?” tanya salah seorang staf pada security
“Oh, itu keluarganya pak Daniel”
“hah? Pak Daniel yang itu?”
“iya”
“wah bakal heboh nih!” staf itu mengirimkan pesan kepada temannya, seketika itu juga beberapa staf keluar dari ruangannya untuk melihat rombongan Rita yang hendak memasuki lift.
“Katanya ada keluarganya pak Daniel!”
“Mana?”
“itu, yang sedang jalan di samping Samuel”
“Eh perempuan muda itu?”
“iya, dan itu anak-anaknya”
“lucuuuu”
“iya ya, lucu banget” mereka memperhatikan rombongan itu
“Di sini ramai juga ya pak?” tanya Rita
“Maklum jam makan siang bu, oh iya panggil saja saya Samuel”
“Eh iya, Samuel”
Tak berapa lama lift terbuka, ruangan di lift cukup luas, sehingga semua rombongan Rita bisa masuk, mereka berpas-pasan dengan Tony.
“Selamat Siang Pak Tony!” sapa Samuel
“Selamat Siang!, wah kamu membawa siapa?” tanya Tony melihat Rita dan rombongannya
“Ah iya, Pak Tony kenalkan ini bu Rita istrinya pak Daniel. bu Rita ini pak Tony kepala cabang Lexi Jakarta!” Samuel memperkenalkan Rita kepada Tony
“Oh ya? Selamat Siang Pak Tony, saya Rita, ini anak-anak kami. Ranna, Raffa dan yang digendong ini Rayya”
“Selamat Siang! Wah bu Rita, saya baru mendengar cerita tentang anak-anak pak Daniel minggu lalu, sekarang sudah bertemu” Tony tampak ramah
“hahaha..iya pak, anak-anak ingin main dengan papinya, karena Sabtu dan Minggu lalu ia membatalkan acara dengan mereka” ujar Rita
“ohhh...maaf ya? saya mewakili Lexi mohon maaf!! Maaf ya nak!” ujar Tony, wajahnya tampak menyesal. Ia sendiri merasa kesal harus membatalkan acara dengan anaknya
“it’s okay uncle!” jawab Raffa ramah
Ting! Bunyi lift telah sampai di lantai ruangan Daniel
“Sudah sampai,yuk kita keluar anak-anak!” ajak Samuel
“Kami permisi dulu pak!” pamit Rita
“Iya!” jawab Tony ramah
Ranna dan Raffa turun dari stroller mereka dan menggandeng tangan Samuel kiri dan kanan
“Assalammu’alaikum!!!” teriak Ranna dan Raffa bersamaan ketika masuk ke ruang kerja Daniel
“Wa’alaikummussalam!” Daniel yang sedang membereskan kertas kerja tampak terkejut
“Surprise!!!” teriak Ranna dan Raffa sambil menghambur nomplok ke papinya, hampir saja ia jatuh dari kursinya
“Assalammu’alaikum, sayang!” Rita masuk ke ruangan sambil tersenyum melihat kegembiraan anak-anak bertemu papinya
“Wa’alaikummussalam, kamu benar-benar bikin kejutan ya?” Daniel tersenyum, ia diciumi dan dipeluk oleh kedua anaknya, Samuel geli melihat bosnya yang selalu tampak cool kini tak berdaya diserang kedua batitanya
“Saya tinggal dulu ya bu?” pamit Samuel
“Eh ini, untuk makan siang!” Rita memberikan kotak makan untuk Samuel
“Eh untuk saya?”
“Iya, mudah-mudahan cocok di lidah kamu!” Ujar Rita sambil tersenyum
“Terima kasih bu Rita!” Samuel menerimanya dengan senang hati lalu menutup pintu
“Sayang, kamu bawa untuk aku kan?” tanya Daniel
“Tentu dong! Anak-anak, biarin papi makan dulu. Kalian di sini. Suster, kita makan di sini sama-sama ya?”
Mereka makan siang di ruangan Daniel yang luas.
“Wah enak sekali, kamu yang bikin ?”
“Iya, aku mau memasukan resep ini ke resto, menurut kamu gimana?”
“Boleh, tapi apa Anwar gak keberatan?”
“Bukan restonya Anwar, resto aku!”
“Hah? Kamu bikin resto?”
“Iya, aku belum bilang ya? kamu sibuk banget sih, aku jadi gak enak mengganggu kamu.”
“Di mana restonya?”
“di mall, kemarin ada tenant yang kosong, aku pikir boleh deh coba-coba. “
“Kamu menyewa tempat?”
“Iya, sekitar 4 bulan, kalau berjalan lancar lanjutkan, kalau enggak ya sudah tutup saja”
“hmm...nama restonya apa?”
“Daniel’s taste”
“Nama ku?”
“hehehe...aku pikir nama mu itu lumayan bagus, boleh kan?”
“Boleh saja sih, tapi aku dapat royalti dong nama ku dipakai?”
“Kamu dapat makan siang gratis dari Daniel’s, kan mallnya dekat sini. Aku sudah bilang ke salah satu orang ku untuk mengirimkannya ke kamu setiap senin-Jum’at mulai minggu depan”
__ADS_1
“Wahh...kamu pintar sekali, sasaran mu pegawai sini ya?”
“hehehe...kalau Lexi menyita waktu suami ku, aku ingin mendapatkan manfaat juga dari Lexi”
Daniel mengangguk paham, ia menyantap makan siangnya dengan lahap. Setelah makan, ia sholat Dzuhur, lalu bermain dengan anak-anak.
“Maaf ya kak, Bang, papi membatalkan ke Sea World” ujar Daniel pada kedua anaknya
“Papi, what if besok?” tanya Ranna sambil duduk dipangkuan Daniel, sedangkan Raffa menaiki leher papinya
“Bang, papi bukan pohon, kamu panjat begitu!” Rita memperingatkan anaknya, kedua suster geli melihat tingkah Raffa
“Kita lihat deh Kak, kalau batal lagi papi dosa dong boong lagi sama kalian!” ujar Daniel
“Yahh papiiii!!!” Ranna memeluk Daniel manja.
“Tumben nih anak?” tanya Daniel ke Rita
“Mereka bilang, kamu kemarin mainnya sama adek saja, mereka merasa dilupakan. Aku sudah pernah bilang kan?”
“Papi juga sayang kalian, Kak, Bang. Papi capek saja, kebetulan yang ada dekat papi cuma adek saja” ujar Daniel kepada kedua anaknya
Ranna dan Raffa makin mendekap Daniel, mereka mengeroyok wajah papinya
“Aduuhh....tolongg!!...tolong!...mami!! adek!!! Papi gak bisa nafas!” canda Daniel
Rita merekamnya melalui ponselnya, sambil tertawa geli. Tanpa terasa jam makan siang sudah selesai.
“Yuk kita pulang anak-anak, papi mau kerja lagi” ajak Rita
“Papi, may we stay ?” pinta Raffa
“Jangan bang, nanti ganggu papi” larang Rita
Daniel memanggil Samuel ke ruangannya
“ya Pak?”
“setelah ini ada rapat lagi?”
“Hmm...sebentar pak!” Samuel kembali ke mejanya kemudian kembali dengan tabletnya
“Ada meeting online dengan klien pak, jam 14.00, setelah itu kosong”
“Siapa kliennya?”
“Golden Corp?”
“Yahh...mereka sangat kaku, maaf ya Bang, nanti saja di rumah kita lanjutkan mainnya. Insya Allah papi gak terlambat pulang!”
“Promise?” Raffa mendekatkan kepalanya ke kepala Daniel, Ranna mengikuti
“Ini mereka kenapa ya?” Daniel bingung, Rita memfotonya
“Promise Pi?” tanya Ranna, suaranya tegas, Daniel kaget dibuatnya
“InsyaAllah kak!” jawab Daniel tersenyum.
Akhirnya mereka menyudahi kunjungannya, Daniel mengantar sampai mereka naik ke mobil
“Dadah!!!”
“Dadah papi!!!” Ranna dan Raffa berteriak
“Heyyy!!! Jangan berisik!” larang Rita
“Dah Sayang!”
“Dah!!!” mobil velfire menjauh dan meninggalkan Daniel yang memperhatikan , kemudian ia kembali masuk
“Eh pak Daniel!” sapa Tony
“Pak Tony!” ia tersenyum membalas jabat tangan Tony
“Tadi saya bertemu istri dan anak-anak Anda, ramai sekali ya?”
“hahahaha...iya, biasanya saya selalu bermain dengan mereka sepulang kerja, beberapa hari ini. Saya pulang mereka sudah tidur, saya berangkat mereka masih tidur. Jadi mereka kangen sama saya”
“Saya jadi iri dengan Anda pak Daniel, setidaknya Anda bisa bertemu mereka setiap hari, baiklah, silakan lanjutkan pak Daniel!”
“Baik pak, terima kasih!” Daniel kembali ke ruangannya, ia membuka pesan ponselnya dan melihat foto yang tadi diambil oleh Rita, ia tersenyum melihat foto-foto tersebut.
“Eh pak Daniel, makin tampan ya kalau senyum begitu”
“Diam saja tampan apalagi senyum”
“Dia bikin Dar.Co Singapura ramai lho setiap pagi”
“Kamu kata siapa?”
“Salah seorang staf di sana teman ku, mereka selalu datang pagi hanya untuk melihat pak Daniel lewat”
“Berarti karyawati sana norak ya?”
Sementara di dalam ruangan Tony
“Tadi siapa Ton, keramaian di lobby?” tanya Sir Alec
“Oh, tadi keluarganya pak Daniel datang”
“Keluarganya? Ayah-ibunya?”
“Bukan pak, istri dan anak-anaknya”
“Oh ya? istrinya? Siapa namanya?”
“Kalau gak salah Rita”
“hmm...Rita...” Sir Alec mengangguk mengingat-ingat
“Tony, bagaimana kinerja Daniel?”
“Daniel? Daniel Kang?”
“Iya, aku sengaja merekrutnya dari Dar.Co. kamu tahu gak, dia berhasil menggol kan tender dengan BOS 2 tahun berturut-turut. Gimana gak tambah kaya itu Dar.Co”
“Kalau dia sesukses itu kenapa dia meninggalkan Dar.Co Pak?”
“Aku dengar-dengar, istrinya pak Daniel itu cucu perempuannya pak Darmawan. Daniel sering dihubungkan dengan itu”
“Maksudnya pak?”
“Singkatnya, orang melihat itu, bukan pekerjaannya, jadi dia memilih untuk pindah bekerja”
“Apa Dar.Co membiarkan karyawan berpotensi seperti Daniel pergi begitu saja?”
“Entahlah, tapi aku dengar hal itu bertepatan dengan pengambil alihan Dar.Co Singapura 2 oleh Lexi”
“Dar.Co mengalami kemunduran ya pak, setelah pak Radian wafat?”
“Tapi pak Darmawan itu pebisnis handal, dia tidak akan membiarkan perusahaannya mundur hanya karena satu atau dua orang kepercayaannya pergi”
“Saya dengar beliau jatuh sakit pak?”
“Oh ya? saya tidak tahu. Sejak kapan?”
“Dua minggu lalu, salah satu orang kita di Singapura menceritakannya”
“Orang kita?”
“Karyawan kita berteman dengan karyawan dari Dar.Co pak”
"Jadi bagaimana kinerja nya?"
"cukup baik pak, tapi masih butuh pembuktian pada tender yang akan datang"
"Aku gak sabar melihat kemampuannya dengan mata-kepala ku sendiri"
Tony mengangguk setuju
“hmm...Tony !“
“Ya pak?”
“Besok aku akan kembali ke London”
“Iya pak?”
“Kamu kelihatan senang sekali”
“Eh tidak pak”
“Kamu senang saya berlama-lama di sini”
“Eh??”
“Besok aku kembali ke London, kalian bisa bekerja kembali ke jam kerja kalian, tapi jangan terlalu santai ya? “
“Tapi pak kenapa ke London? Tidak ke Swiss?”
“Aku diundang ke penobatan King Charles III”
“Wahh..selamat ya pak!”
“Terima kasih,..kamu tahu, gelar ku ini bukan gelar turunan seperti adik ku, tapi aku dapatkan sendiri karena berjasa pada pemerintah Inggris, ratu Elizabeth sendiri yang memberikan gelar kebangsawanan kepada ku. Kamu tahu yang paling bikin aku puas?”
“Iya pak? “
“Melihat wajah tidak senang ibu tiri ku,..hahahaha...aku heran sama dia. Dia yang merebut ayah dari ibuku, eh dia yang benci sekali sama aku. Kalau aku jahat, sudah lama CITE aku bikin bangkrut, tapi karena adik ku Lucas itu baik sekali aku jadi gak tega”
“Anda memang orang baik pak!”
“Apa iya? Baiklah, sekarang aku mau kembali ke hotel ku”
Tony mengantarkan Sir Alec sampai mobilnya
__ADS_1
“Selamat jalan pak, hati-hati!”
“Terima kasih Tony!” mobil roll royce yang membawa sir Alec meninggalkan kantor Lexi
Ketika Tony masuk ke kantor, seketika seluruh penghuni kantor berteriak
“yeaayy!!!!!” mereka meluapkan kegembiraannya, Tony tersenyum, ia turut merasakan tekanan yang dirasakan karyawan seminggu belakangan ini.
“Kalian bisa pulang, sesuai jam kerja kalian!” ujarnya sambil berjalan kembali ke ruangannya
“Baik pak!!!”
“Ada keramaian apa Samuel?” Daniel baru saja kembali dari toilet
“Itu pak, Sir Alec sudah pulang, ia akan kembali ke London besok” Samuel tersenyum lega
“ooo,..pantas..aku dengar kemeriahan di bawah, apa Sir Alec tidak akan tersinggung jika mendengar ini?”
“Entahlah pak, yang penting jam kerja kita kembali normal! Saya bisa libur lagi saat weekend”
“oh iya! Kamu benar! Saya bisa mengajak anak-anak jalan sabtu ini”
Di mobil roll royce, Sir Alec melamunkan sesuatu
“Rita...kayaknya pernah dengar deh tapi di mana ya?” gumamnya
Sementara Rita mengajak anak-anaknya melihat booth barunya di mall. Anak-anak dibawa suster bermain di play ground, sementara ia berada di booth membantu karyawannya menyediakan makanan.
“Paket makan siangnya sudah habis bu” ujar kasir
“Hari ini kita bikin berapa?”
“100 kotak bu”
“Sudah habis? Wah hebat juga”
“Apa besok kita menambah jumlah paketnya?”
“Ada berapa varian paket yang kita jual?”
“Baru 2 bu, yang satu paket makan siang beef, satu lagi chicken”
“Mana yang lebih cepat habis?”
“Beef bu”
“Untuk sementara 100 dulu, kalau dalam sebulan ini stabil, baru paketnya kita tambah”
“Jadi sekarang kita sudah bisa bebenah bu?”
“Karena sudah habis, ya sudah kita tutup saja!”
“Baik bu!” karyawan itu tampak senang, ia segera membereskan boothnya.
Seseorang menghampiri booth mereka,
“Yaa, sudah habis ya?”
“Iya mba, besok lagi ya?”
“Di sini cepat sekali habisnya, padahal saya sudah bela-belain datang” ujarnya kecewa
“Kami membuat paketnya terbatas”
“Bukanya jam berapa?”
“Jam 11 mba”
“Baru jam 3 sudah habis, apa gak membuka orderan pesan antar atau lewat ojol?”
“Tapi mba bisa pesan lewat jastip” ujar Kasir
“Iya, ya, biasanya tarif jastipnya berapa?”
“Wah kami kurang tahu mba, tapi banyak kok yang membeli melalui jastip”
“Oh begitu, baiklah, terima kasih!”
“Sama-sama!”
Rita menghampiri kasir
“Siapa?”
“Itu bu, dia mau beli makan siang di sini eh sudah habis, padahal dia sudah jauh-jauh kemari”
“kasihan, sayang sekali. Sebenarnya aku ingin membantu, tapi biar deh untuk hari ini biar dia jadi rejeki pedagang yang lain”
Hari sudah sore, Rita bersama rombongannya kembali ke rumah, Ranna tidur dipangkuannya
“Kak, sudah sampai yuk turun!” Rita membangunkan anaknya lembut
“aku ngantuk!” keluh Ranna
“ya udah mami gendong deh!”
Rita bersama dua suster menggendong masing-masing anak dan keluar dari mobil mewahnya. Ia menaruh Ranna di tempat tidurnya, begitu juga dengan para suster.
“Kalian istirahat dulu saja, sebentar lagi jam kerja kalian selesai kan?” Rita melihat jam dinding menunjukkan pukul setengah 5 sore.
“Baik bu!” para suster pergi dari kamar anak-anak
“Aku belum sholat Ashar”, gumam Rita. Ia segera mandi lalu sholat .
Pukul 5, Daniel telah tiba di rumah
“Assalammu’alaikum!” ia bersuara agak keras
“Wa’alaikummussalam! Sssttt...anak-anak masih tidur” Rita mengambil tas kerja suaminya
“Lho kenapa biasanya sudah pada mandi?”
“Mereka kelelahan, tadi sepulang dari kantor mu, kami mampir ke mall untuk melihat booth baru, mereka main di play ground”
“oh begitu, ya sudah deh, aku mandi dulu”
“Gak makan dulu?”
“Aku masih kenyang, tadi makan siang dari kamu lumayan banyak ya?”
“oh ya? porsinya kebanyakan?”
“Iya, tapi enak!” Daniel masuk ke kamar mandi
Malam harinya, anak-anak bermain dengan papinya di kamar
“Insya Allah Sabtu ini kita bisa ke Sea World” ujar Daniel
“Beneran nih? bukan janji-janji palsu kan?” ujar Rita
“Enggak, Sir Alec pulang ke London besok, makanya kami bisa kembali ke jam kerja normal”
“Kok begitu sih? Tidak professional?”
“Yang penting kami digaji baik!”
“Tapi kok ke London? Bukannya kantor pusat Lexi di Swiss?”
“Beliau diundang ke penobatan King Charles III”
“Wow, hebat!”
“Memang, oh ya, tadi katanya kamu bertemu pak Tony ya?”
“Iya, ramah dan baik ya?”
“Iya, aku baru tahu kalau dia kepala cabang Lexi di Jakarta, karena selama pelatihan dia tidak kelihatan menonjol”
“Dia satu angkatan sama kamu?”
“Ternyata enggak, dia senior. Jadi setiap perekrutan orang baru, orang lama juga diajak. Tapi mereka gak bilang orang-orangnya siapa.”
“Oh begitu, unik banget ya?”
“Iya betul, gak heran terobosan-terobosan Lexi itu, karena mereka mengumpulkan orang-orang unik dengan cara yang unik”
“Kamu berarti termasuk yang unik!”
“Hahaha...iya...Kak Ranna kita pergi ke Sea World, yeaayyy!!!!”
Ranna dan Raffa berteriak kegirangan, Rayya ikutan bertepuk tangan
“eh Adek, ikutan!!!”
“hahahahahahhhaa...” Rayya tertawa girang
“ih lucu banget, sini mih!” Daniel mengambil Rayya dari Rita
Ranna memperhatikan Daniel yang menciumi Rayya
“Papi, u no love me ya?” tanya nya dengan nada lucu
“Siapa bilang, papi love kakak juga kok!”
“really?” wajahnya terlihat tak percaya.
Daniel meraih tubuh Ranna dengan tangannya yang satu lagi.
“I love all of you!!!” Dia menciumi leher Ranna
“hahahahaha....geli papi!!!” Ranna tertawa kegelian, sementara Rayya menarik rambut Daniel
Raffa duduk dipangkuan Rita memperhatikan papinya bermain dengan kakak dan adeknya.
_bersambung_
__ADS_1