
Helikopter yang ditumpangi Daniel dan Rita harus mendarat darurat di suatu tempat,
“Badai terlalu parah dan berbahaya untuk melanjutkan penerbangan” ujar sang pilot
“Kita diam di dalam sini?” tanya Daniel ia menoleh ke arah Rita yang tertidur lelap
“Kita tunggu di sini, jika dalam beberapa jam belum reda, kita tetap di sini, kalau kita keluar malah berbahaya.” Ujar pilot itu lagi
Daniel membuka ponselnya, ia berusaha mencari sinyal
“Di sini juga tidak ada sinyal!”
“Tentu saja, penginapan tadi berada di lembah di antara bukit, kita masih di sekitar situ, sinyal tidak bisa menjangkau tempat ini” ujar Pilot
“Apa kamu tidak membawa radio HT? Itu frekuensi khusus, tidak seperti sinyal ponsel”
“Sayang sekali aku tidak membawanya, bos mu menghubungiku secara mendadak, sehingga aku langsung kemari. Aku gak nyangka bakal terjebak seperti ini.”
Lalu mereka terdiam, keadaan begitu sunyi, di luar helikopter terdengar suara ******* angin dan salju. Daniel pun tertidur, rasa kantuk sudah tidak bisa ditahannya lagi, hingga tiba-tiba ia terbangun karena mendengar suara ledakan keras.
“Duarrr!!!”
Tanpa pikir panjang ia membuka pintu helikopter, lalu melihat ke atas, ia melihat salju dari atas bukit mulai longsor. Ia membangunkan Rita dan pilot, dengan cepat mereka meninggalkan helikopter dan menjauhi jalur itu, syukurlah mereka tepat waktu, sehingga mereka tidak tertimbun salju, sedangkan helikopter mereka tersapu longsoran salju.
“Siallll!!!” teriak sang pilot kesal melihat helikopternya tersapu salju
“Syukurlah kita bisa keluar dari sana, kalau tidak , kita bertiga pasti mati.” Ujar Daniel , Rita mengangguk setuju
“Aku bakal dipecat bos ku, seharusnya tadi aku mendengarkan ibuku, ia melarangku untuk mengangkut kalian, tapi karena bos kalian menjanjikan bayaran tiga kali lipat, jadi aku menyanggupinya, sekarang upah tidak dapat dan aku harus mengganti helikopter perusahaan, dasar sial!!” pilot itu terus memaki.
“Sudahlah, yang penting nyawamu selamat, itu yang lebih pentingkan?” ujar Daniel menenangkan
Pilot itu makin kesal
“Seharusnya aku mati saja, hutang judi ku banyak, kalau aku hidup, rentenir akan mengambil organ tubuhku untuk melunasi hutang. Itulah makanya aku nekat mengambil penumpang di tengah cuaca seperti ini!” pilot itu terduduk sedih.
“Hei, jangan putus asa seperti itu, kakek anak ini salah satu yang terkaya di negeri ini, kamu tahu daerah sini, kalau bisa mengantarkan kami keluar dari sini dengan selamat, tidak saja kamu mendapatkan upah seperti yang dijanjikan, helikoptermu pun akan diganti!” ujar Daniel menghibur
Pilot itu menoleh ke arah Rita yang celingukan melihat sekeliling yang sudah di tutupi salju
“Kamu gak bohong kan?” ujar sang pilot
“Untuk apa aku bohong?, ayo bangun, kita cari tempat berteduh sebelum badai datang lagi.” Daniel mengulurkan tangannya membantu pilot itu bangun
“Namamu siapa? Aku Rick!” ujar sang pilot berjalan di samping Daniel
“Aku Daniel dan dia Rita, anak bos ku” ujar Daniel membalas jabatan tangan Rick
Kira-kira 10 menit dari tempat tadi, Rick membuka tas ransel kecilnya ia mengambil peta yang terlipat dan senter kecil.
“Posisi kita terakhir di sini, kita harus berjalan ke arah selatan, di situ ada jalan raya.”
“Apakah jauh?” tanya Daniel
“Yah lumayan, apalagi ini perbukitan!” ia menutup petanya dan kembali menaruhnya di dalam tas.“
Senternya tetap dibiarkan menyala
“Kalian membawa senter?” tanyanya
__ADS_1
“Kita bisa pakai senter di ponsel!” ujar Daniel
“Apa tidak bawa senter? Aku khawatir baterai ponsel kalian akan habis sebelum kita sampai jalan raya, akan sulit menguhubungi kenalan kalian kalau baterai ponsel kalian habis.” Ujar Rick lagi
“Aku membawanya” Rita mengeluarkan dua buah senter, yang satu ia berikan kepada Daniel
“Kamu bawa dua?” tanya Daniel heran
“Kak Andi menyuruhku membawa back up, ternyata ia benar!”
Mereka berjalan menuju selatan, kira-kira satu jam mereka mencari tempat beristirahat.
“Hari telah gelap, sulit untuk meneruskan perjalanan, kita menginap di sini” ujar Rick , mereka memasuki sebuah gua , setelah dianggap aman, merekapun menaruh peralatannya dan duduk beristirahat.
“Aku haus sekali, apa kalian membawa air minum” tanya Rick
“Apa kamu terbiasa kemping?” tanya Rick sambil meminum air dari Rita
“Tidak, aku pernah menontonnya di acara survival, aku gak nyangka pengetahuannya sangat berguna sekarang.” Rita membuka ranselnya lagi, ia mengeluarkan sebatang coklat, ia membaginya dengan Daniel dan Rick
“Kamu juga bawa coklat?” tanya Daniel lagi sambil menerima coklat dari Rita
“Kak Andi yang memasukannya ke ranselku, ketika aku bilang sore kemarin berangkat, tiba-tiba ia belanja banyak dan membawakanku banyak coklat, ia khawatir aku kedinginan dan kelaparan.” Ujar Rita mengunyah coklatnya dan menatap api unggun.
“Apalagi yang Andi bawakan? Apa dia gak membawakan kamu HT? Tanya Daniel, ia penasaran dengan isi ransel Rita
“Entahlah, aku belum memeriksa semuanya, sejak tadi aku berpikir kata-katanya sebelum aku berangkat” ujar Rita termenung
“Dia bilang apa?” tanya Daniel
“Dia bilang, bersamaku pasti ada kejadian menarik, petualangan baru, sudah seharusnya aku bersiap dan waspada. Sejujurnya aku gak percaya sama ramalan, apapun itu, tetapi melihat kejadian sekarang dan kejadian sebelumnya, sepertinya kak Andi benar” Rita menggeser-geser ranting kayu
“Yah, tidak ada yang kebetulan di dunia ini!” ujar Daniel
Rita mengambil tempat di pojok, ia meringkuk sambil memeluk ranselnya, Daniel meringkuk di dekat api unggun, semakin malam udara semakin dingin, api unggun yang Rita buat sudah padam. Tanpa disadari ketiganya tertidur lelap. Keesokan paginya, ketika mereka tersadar, salju sudah menutupi pintu gua. Rick membangunkan Daniel dan Rita, susah payah mereka menggali salju yang menutupi pintu gua, setelah berhasil keluar, mereka kembali berjalan. Sepanjang perjalanan, Daniel terus membuka ponselnya, ia berharap bisa mengirimkan sinyal darurat.
“Kamu lelah?” tanya Daniel ke Rita
“Yah lumayan” nafas Rita memburu
“Mari aku bantu membawa tasmu!” Daniel mengambil tas ransel Rita
“Apa berat? Tasmu juga sudah berat?” ujar Rita
“Ranselku tidak seberat ransel mu, mau tukeran?” Daniel menyerahkan ranselnya, Rita yang membawa ransel Daniel. Mereka beristirahat setiap satu jam
“Kamu yakin ini arah yang benar? Kog aku merasa dari tadi kita berjalan berputar-putar saja?” tanya Daniel kepada Rick
“Seharusnya ini arah yang benar, aku selalu menandai dengan pohon-pohon!”
“Kamu bercanda kan? Pohon di sini sama semua!” Daniel mulai kesal karena kelelahan
“Sebaiknya kita rehat lagi, kalau tidak kita akan saling bunuh karena kelelahan!” ujar Rita
Mereka rehat lagi, Rita kembali membagi coklat dan minumannya kepada Daniel dan Rick
“Sungguh, Rit, jika aku bertemu Andi, aku akan menciumnya, karena telah membawakanmu banyak coklat!” ujar Daniel yang duduk bersender di sebuah pohon dan memakan coklatnya
“Hahahaha, akan saya sampaikan!” tawa Rita
__ADS_1
“Apa benar kakekmu orang kaya?” tanya Rick tiba-tiba kepada Rita
“Yah bisa dibilang begitu!” jawab Rita, ia tidak begitu suka ditanya tentang kekayaan, apalagi kekayaan kakeknya
“Apa kakekmu akan membayarku besar jika aku membawamu kembali kepadanya?” tanya Rick lagi
“Entahlah, itu kalau kakek sudah kembali dari perjalanan bisnisnya, dan ia menyadari aku gak di rumah.” Jawab Rita lagi
“Kalian sudah selesai?” tanya Rick
“ yah, ayo kita mulai lagi!” Daniel dan Rita bangkit dari duduknya, tiba-tiba terdengar suara dentuman, terjadi agak jauh dari mereka. Rita dengan penasaran berlari menuju ke tempat itu
Daniel dan Rick mengikutinya dari belakang. Ternyata sebuah mobil jeep berpenumpang dua orang menabrak pohon. Rita membantu salah seorang keluar dari jeep terbuka itu, Daniel membantu penumpang jeep yang lainnya, kemudian menyeretnya menjauh dari jeep ,ia takut jeepnya meledak.
“Hai! Kamu baik-baik saja?” tanya Daniel menepuk-nepuk pipi penumpang jeep tadi
Rita mengambil senter kecil dari ranselnya, ia memeriksa pupil mata kedua orang itu
“Mereka pingsan, mungkin karena shock!” ujar Rita.
“Kita tunggu mereka sadar, baru kembali berjalan!” ujar Daniel
“Terlalu lama, biarkan saja mereka di sini, nanti juga mereka sadar. Anak itu bilang mereka Cuma pingsan” ujar Rick tidak sabar
“Jangan!, aku Cuma mengira-ngira, mungkin cedera mereka lebih parah, sebaiknya kita tunggu mereka sadar!” ujar Rita. Perlahan ia meletakan tubuh orang itu. Kemudian ia berjalan menuju jeep, ia mencari sesuatu.
“Kamu mencari apa?” tanya Rick
“Kalau ada yang bisa kita gunakan untuk menarik mereka, hingga kita bisa tetap melanjutkan perjalanan sambil membawa mereka. “ujar Rita. Daniel mengikuti Rita, ia ikut mencari benda-benda berguna yang bisa mereka gunakan. Mereka menemukan jerigen berisi bensin, selain itu tidak ada lagi.
“Orang-orang ini tidak berniat ke gunung? Kenapa mereka tidak membawa ransel?” ujar Rick bingung, ia mencari ransel para penumpang jeep.
Sementara itu, Radian telah tiba di rumah karena ia berada di penginapan, ia mengikuti pertolongan SAR yang datang di pagi hari saat badai mereda. Bersama tamu lainnya dan pemilik penginapan ia kembali ke rumah dengan selamat.
“Om, Rita tidak bersama Om?” tanya Andi, ketika Radian tiba di rumah besar Darmawan
“Eh, itu Di, begini!” Radian menceritakan apa yang telah terjadi pada Rita dan Daniel
“Waduhhh, kog bisa begitu Om?” Andi kebingungan
“Aku juga gak mengira akan datang badai salju dan itu tidak berhenti semalaman.” Ujar Radian bingung
“Sudah berapa hari sejak Rita berangkat?” tanya Andi
“Ini hari ketiga! Seharusnya sudah ada kabar dari mereka! Aku sudah melaporkan kehilangan kepada SAR, sekarang mereka sedang mencari.” Tiba-tiba ponsel Radian berbunyi, ia mengangkatnya, kabar dari SAR tentang pencarian mereka. Helikopter mereka ditemukan di dasar jurang karena tersapu longsoran salju, tetapi tidak ada jasad di sana. Sehingga pencarian terus berlangsung.
“Syukurlah, tidak ada jasad di helikopter, artinya mereka berhasil keluar sebelum terkena longsoran salju.” Ujar Radian.
Edward yang ikut pulang bersama Radian juga mendengar omnya juga hilang dalam perjalanan menuju penginapan mereka. Radian memperkenalkan Edward kepada Andi
“Edward!, oh jadi kamu kakaknya Rita”
“Aku Andi, kakak satu-satunya Rita!”
“Aku temannya Rita, ia banyak membantuku di sana!” ujar Edward
“Edward, kamu mau menginap di sini? Aku akan minta staf untuk menyiapkan kamar untuk mu!”
“Boleh, kalau kamu gak keberatan!”
__ADS_1
Andi menggeleng, ia menelpon staf rumah untuk menyediakan dua kamar tamu untuk Radian dan Edward.
-Bersambung-