
“Sayang, apa aku harus ke Singapura untuk merawat kakek?” tanya Rita pada suaminya
“Menurut ku tunggu kabar saja dari Andi, siapa tahu dia akan membawa kakek pulang kemari”
“tapi kakek sekarang...” nada suara Rita terdengar khawatir
“Iya, aku mengerti. Tapi coba nih, kalau kamu kesana, anak-anak gimana ? pasti kamu repot kan walau ada baby sitter. Aku pikir baik Andi maupun kakek akan maklum dengan kondisi mu” Daniel merangkul Rita dan mengusap lengannya untuk menenangkan
“Aku pernah berjanji pada kakek untuk merawat dan menemaninya, mungkin sekarang waktunya aku menepati janji itu”
“Mamiii” Raffa memeluk kaki maminya
“Kenapa bang?” Rita segera menggendongnya
“Abang sick” Raffa meminta Rita menyentuh keningnya
“Raffa agak demam Say, kamu kelelahan main ya? ayo bobo sama mami” Rita segera membawanya ke kamar tidur mereka. Sementara Ranna bersama baby sitternya masih bermain di depan TV. Video Call dari Andi muncul di tengah-tengah film yang ditonton Ranna
“Uwa!!!” panggil Ranna tertawa, ia menghampiri layar monitor
“Kak Ranna! Mami dan papi mana?” tanya Andi
“Mami di kamal, papiiii!!!” Ranna berlari ke ruang kerja papinya
“Papiii!!!” panggilnya dengan suara lucu”
“Ya sayang?” tanya Daniel, ia baru sedang online dengan staf kantornya
“Uwa vcall!” ujar Ranna,
“Mami mana?”
“Mami bobo sama adek”
“Sebentar ya? nanti saya hubungi lagi” Daniel menutup percakapan dengan stafnya, ia menggendong Ranna kembali ke ruang TV
“Hei, Di, gimana kondisi kakek? Perlu gak kami ke Singapura?”
“Hey Niel! Kondisi kakek sudah stabil. Kemarin sudah di rongent, tidak ada yang patah, retak juga enggak. Tapi ada gangguan syaraf di otak, rencananya kakek akan dirawat di rumah sakit tempat dulu kakek Sugi dirawat”
“Oh ya? dimana itu?”
“Mama yang akan membawa kakek ke dokternya di China, beliau sudah mengurus visanya, nanti setelah dari China, kakek akan dibawa ke Jakarta untuk terapi.”
“Alhamdulillah, jadi kami gak perlu ke Singapura ya?”
“Gak perlu, insya Allah, besok kami sudah berangkat ke China. Nanti aku akan kasih kabar setelah sampai di sana. Oh ya tolong bilang ke Rita jangan khawatir”
“Baik Di, akan saya sampaikan. Oh ya Raffa mana?”
“Tadi agak demam setelah dapat kabar kakek sakit, ia sedang tidur bersama Rita di kamar”
“Oh begitu, Oke Niel, sudah dulu ya?”
“Oke! Terima kasih Di, salam sama Kakek dan mama!”
“Iya!” Mereka mengakhiri percakapannya, film yang diputar Ranna kembali seperti semula
“Kak Ranna gak bobo siang?” tanya Daniel, ia melihat ke arah susternya
“Kak Ranna bobo dulu yuk!” ajak Suster, ia mengerti isyarat dari Daniel. Semula Ranna menolak, tetapi Daniel mematikan TV, ia mengerti isyarat dari papinya. Akhirnya ia beranjak dari ruang tv dan pergi ke kamar bersama susternya. Sedangkan Daniel kembali ke ruang kerjanya dan melanjutkan onlinenya
Di kamar tidur, Rita menyusui Raffa.
“Abang, kalau sudah kenyang nanti minum air putih ya?”, Raffa mengangguk
“Abang kok tahu aki eyang sakit?” tanya Rita penasaran
“I saw aki fell down, he asked for help” jawab Raffa terbata-bata
“oh begitu, abang kenapa nangis?”
“Poor Aki...huuhuhuhuhu...” ia kembali menangis
“Aki sudah dirawat sama Uwa dan nenek, abang gak usah khawatir lagi ya?” bujuk Rita sambil mengusap kepala Raffa yang mulai mengantuk. Setelah beberapa menit, Rita meninggalkan Raffa di ranjang, kemudian ia sholat dzuhur setelah itu ia pergi ke ruang kerja suaminya
“Sayang, tadi sudah ada kabar dari kak Andi?” tanyanya gak sabar
“Sebentar!” Daniel menjeda percakapannya dengan stafnya, lalu mengajak Rita keluar dari ruang kerjanya
“Tadi Andi bilang, besok kakek akan dibawa berobat ke China ditemani oleh mama dan Andi.”
“Ke China? Jauh amat?”
“Itu tempat kakek Sugi dirawat ketika beliau stroke dulu, katanya bagus. Kamu gak usah ke Singapura, nanti dari China kakek akan dirawat di Jakarta.” Daniel menerangkan dengan sabar
“Apa kakek gak ada luka-luka?”
“Mungkin sedikit lecet, tapi tidak ada yang patah atau retak, mereka sudah melakukan test menyeluruh kamu gak usah khawatir”
“Alhamdulillah, jadi aku tinggal menunggu kabarnya saja ya?”
“Iya betul, Raffa bagaimana? Masih demam?”
“Dia agak kaget tadi makanya demam, aku sudah menenangkannya, sekarang ia sedang tidur”
“Syukurlah, kamu sudah tenangkan?” Tanya Daniel
“Iya, aku harus tenang kalau enggak anak-anak akan ikut gelisah”
Daniel memeluk dan mencium kening istrinya
“Semuanya akan baik-baik saja!” ujarnya menghibur
“Baiklah, kamu kembali kerja deh, maaf ya aku mengganggu!”
“Enggak! kamu yang utama kok!” Daniel tersenyum dan kembali ke ruang kerjanya, Rita pergi ke kamar anak-anaknya, Ranna telah lelap tertidur, sedangkan Rayya sedang asyik bermain di boxnya
“Suster boleh istirahat, biar Rayya saya yang jaga” Rita mengambil Rayya dari tempat tidurnya dan membawanya keluar
“Kita main di luar ya? biar kak Ranna bobo!” bisik Rita, ia membawa anak bungsunya ke sofa,
“Hey Adek!!!” Rita mendekatkan wajahnya ke Rayya yang tersenyum memegang wajah maminya
“Bilang Maaa miiii!”
“aaaaaaaa” Rayya menggerak-gerakan kakinya aktif,
“Maaaaaa” Rita mengulangi
“aaaaahhhhh!! Hhhh” kaki dan tangannya bergerak aktif, sambil menggendong Rayya, Rita mengambil 4 balon dan pompa sisa ultah Raffa kemarin, kemudian ia memompa balon dan mengikatkan ke balon lalu ia ikatkan ke tangan dan kaki Rayya.
“nah dek, tuhh...balonnn!!” ujar Rita sambil tidur di samping Rayya yang asyik bermain dengan balon yang terikat, tak lama kemudian Daniel bergabung dengan mereka
“Kalian lagi ngapain?”
“Lagi main ini pi!” jawab Rita, Daniel tidur di damping Rayya dan ikut menarik balon
“nih Dek, ini Red balon” ujarnya mengajarkan nama-nama warna di balon
“aaahhhh!!!” Rayya berteriak kegirangan
“Husshhh!! Jangan teriak-teriak nanti abang dan kakak bangun!” Rita memperingatkan
“Yang, besok aku mau bawa anak ke kantor” ujar Daniel
“Memangnya ada acara apa?”
__ADS_1
“Gak ada acara apa-apa, Cuma kepengen bawa saja”
“Apa kamu sedang menghindari seorang cewek?”
“Cewek? Siapa?”
“Model mungkin?”
“Oh soal itu telah selesai, dia sudah minta maaf sama aku”
“Oh ya? dia bilang apa?”
“Dia bilang minta maaf sudah salah paham, dan untuk ke depannya akan bertindak lebih hati-hati lagi”
“Ini beneran?”
“Beneran! Samuel saksinya!”
“Alhamdulillah, mungkin memang ada baiknya kalau ada tamu asisten mu selalu di samping mu?”
“Mungkin, oh ya boleh gak aku bawa salah satu anak kita?”
“Kamu gak akan terganggu pekerjaannya?”
“Enggak akan! Anak kita itu sangat kooperatif, aku jadi ingat dulu ketika kamu sakit aku juga bawa Ranna ke kantor, dia anteng lho! Bahkan menemani aku makan siang”
“ohh begitu toh!”
“Eh kenapa?”
“Kamu mau menghindari makan siang di kantin ya?”
“Enggak juga, aku pengen ada pelampiasan saja setelah kesibukan, kalau ada anak bisa aku mainin”
“Raffa sedang tidak enak badan, kamu coba bawa Ranna saja”
“Apa dia mau?”
“Bawain tablet saja, aku sudah memberinya tablet khusus untuk nonton film”
“iya, aku akan memperkenalkan anak pertama ku ke kantor, sayang Rayya masih terlalu kecil padahal aku pengen jalan sama Rita kecil”
“Rita kecil?”
“Rayya mirip banget sama kamu, dia versi sachet dari kamu” Daniel tersenyum
“Ranna mirip kamu tuh!” ujar Rita
“Iya, Raffa mirip siapa?” tanya Daniel
“mungkin mirip kita berdua” jawab Rita
Rayya tertawa senang mendengar percakapan kedua orang tuanya
“Anak ini periang ya?” ujar Daniel, ia tengkurap memperhatikan Rayya
“Semua anak kita periang, mungkin karena kita selalu membuat mereka senang!”
“Aku akan berbuat apa saja untuk keluarga ku!” ujar Daniel, ia merebahkan kepalanya, kemudian tertidur
“Sayang, tidurnya di kamar deh, temani Raffa!” pinta Rita
“Iya deh, aku ngantuk banget!” Daniel bangkit lalu masuk ke kamar tidur mereka, ia tidur di samping Raffa
“Adek, kamu belum mau bobo?” tanya Rita, ia mulai menguap. Cuaca siang itu membuatnya mengantuk. Ia melepaskan balon-balon dari tangan dan kaki Rayya, lalu menaruhnya di stroller, lalu membawanya ke kamar tidur. Tiba-tiba ia teringat pada Ranna, ia mengambil Ranna dari kamarnya lalu menaruhnya di ranjang mereka. Ranjang berukuran xxl itu kini terisi bayi. Rita menutup pintu kamar tidurnya, lalu tidur di samping suaminya. Siang itu mereka lelap tertidur. Beberapa jam kemudian, Rita terbangun, ia melihat suaminya sedang memperhatikannya tidur.
“ehh..kamu sudah bangun?” bisiknya pelan
“Baru saja, aku lihat kamu tidur, lelap banget! Kenapa anak-anak dikumpulin di sini?” tanya Daniel heran
“Oh begitu, kirain!”
“Kirain kenapa?”
“Aku Cuma berpikir, kamu kalau lagi gak tenang hatinya, biasanya semua kamu kumpulin di sini”
“masa?”
“Iya, aku perhatiin sih begitu. Makanya aku pikir, kamar tidur kita ini perlu diperluas, supaya kamu bisa menaruh semua barang yang bikin kamu tenang di sini” bisik Daniel
Rita bangkit dari ranjangnya
“Mau kemana?” tanya Daniel menahan tangan Rita
“Mau minum!” ia beranjak ke pantry kecil yang terletak di sudur kamar mereka. Kemudian ia menghampiri Raffa
“Badannya masih hangat, apa kita bawa ke dokter saja?” tanya Rita
“Iya boleh, nanti sore kita pergi.” ujar Daniel, ia bangkit dan menggendong Rayya yang masih lelap
“masih tidur kok digendong?” tanya Rita heran
“Aku kepengen gendong dia dari tadi” ujar Daniel, Rayya lelap tertidur di pelukan papinya
“Mamii!!!” tiba-tiba Ranna terbangun
“sstttt!!! Kakak jangan nangis nanti adek bangun!” Rita langsung menggendong Ranna , Daniel tersenyum melihat mereka berdua kini sibuk menggendong anak.
“Kenapa? Kok kamu tertawa?” tanya Rita heran
“Enggak! aku pikir, kita termasuk yang rajin juga ya? pernikahan kita hampir masuk tahun ke empat, eh anaknya sudah 3, masih kecil-kecil lagi”
“Iya memang, teman-teman ku juga bilang begitu. Tapi mama bilang mumpung masih ada tenaga untuk mengasuh anak, karena kalau kita punya anaknya sudah berumur pasti sudah habis tenaganya”
“Mungkin nanti, aku dan Raffa akan seperti kakak dan adik, atau juga dengan Ranna” ujar Daniel
“Bisa jadi, mudah-mudahan kita bisa mendampingi mereka hingga besar ya?” ujar Rita
“aamiin!!..” Daniel membalas ucapan istrinya.
Sore hari menjelang malam, mereka pergi ke dokter anak langganan, ketiga anaknya dibawa.
“Apa Rayya dan Ranna gak ditinggal di rumah saja Pak?” tanya Ridwan, ia heran melihat Daniel membawa stroller kembar untuk Raffa dan Ranna
“Jangan, kami ingin memeriksakan mereka juga”
“Oh begitu, nanti biar saya suruh Ali membawa perlengkapan anak-anak pak Daniel” Ali salah satu staf rumah
“Iya pak, terima kasih banyak, saya gak kepikiran ke situ”
“Sudah siap?” Rita menggendong Rayya, ia mengenakan pakaian berwarna cream dengan celana jeans, dan riasan tipis.
“Kok cantik amat?” Daniel melihat dandanan istrinya
“Masa aku keluar rumah harus pakai daster dan wajah kusam?” ujar Rita
“Iya sih, itu bedak dan lipstik saja kan?” ujar Daniel
“Iya dikit! Udah yuk! Keburu malam nanti” Rita mengalihkan percakapan, mereka pergi dengan menaiki mobil velfire putih yang luas dalamnya.
“Yang, mungkin mulai besok aku sudah gak pakai mobil ini ke kantor, Amin juga gak perlu antar aku ke kantor” ujar Daniel di dalam mobil
“Kenapa? Oh kantor menyediakan ya?”
“Iya betul sekali, nanti aku akan diantar dan dijemput supir dari perusahaan”
“Oh ya? mobilnya apa?”
__ADS_1
“coba kamu tebak!”
“Seperti ini?”
“Enggak, terlalu luas. Harus sedikit kecil”
“Tesla?”
“Bukan!”
“BMW?”
“Bukan!”
“Porche Taycan?”
“hhmmm...itu mobilnya sir Alec”
“Oh ya? apa Ferari atau Lamborghini?”
“Itu mobil sport! Memangnya aku mau balapan?”
“Apa dong? Lexus ES?”
“Iya! Tepat sekali!”
“Ah yang benar saja! Lexus! Kamu dikasih Lexus? Hebat sekali!” Rita bertepuk tangan
“Hehehehe...sebenarnya, sewaktu di Swiss, sir Alec nanya sama Aku. Niel, aku mau kasih fasilitas mobil ke seseorang, menurut mu bagusnya apa ya?”
“Aku bilang , kalau perusahaan gak mau malu, kasih Lexus ES saja. Eh gak taunya buat aku”
“Wahhh...kamu benar-benar beruntung! “
“Apa iya?”
“Tentu!, kamu bahkan baru beberapa bulan, tetapi fasilitas untuk mu mahalnya selangit! Wah..jangan sampai kakek tahu, bisa malu beliau!”
“Kenapa bawa-bawa kakek? Salah kakek apa?” tanya Daniel heran
“Tentu dong! Coba bayangin kamu di Dar.Co Cuma jadi CEO kecil-kecilan tapi di Lexi kamu ditinggi kan wah...benar-benar deh! Aku pikir Dar.co memang keterlaluan!” ujar Rita
Mendengar ucapan Rita, Daniel jadi terdiam. Mereka tiba di rumah sakit Ibu Anak dengan selamat.
Ketiga anak dicek bersamaan.
“Kedua anak perempuan ini sehat semuanya”
“Alhamdulillah!!” ujar Daniel dan Rita bersamaan
“Raffa agak radang di tenggorokannya, gak sembarangan makan kan?”
“Enggak dokter, makanannya sama dengan Ranna, kemarin Raffa saya beri ASI terus supaya panasnya turun” ujar Rita
“Iya, itu bagus. Tapi tetap radang di tenggorokannya, namanya anak-anak suka menggigit mainan yang kotor, kan kita tidak memantaunya terus” ujar dokter
“Abang, gigit apaan bang?” tanya Rita heran, Raffa diam saja. Dokter memberikan obat penurun panas dan demam
“Obat ini diminum kalau panasnya tinggi saja, kalau sekarang ini tidak usah. Cukup ASI dan bubur saja” pesan dokter
“Baik dokter, terima kasih!” ujar Rita dan Daniel bersamaan
Dari dokter anak, Rita memeriksakan diri ke dokter kandungan
“Rahimnya sehat bu”
“Alhamdulillah!” ujar Rita
“Gak ada isinya kan dok?” tanya Daniel tiba-tiba
“Belum ada pak!, jangan dulu ya pak . Diisinya kalau yang ketiga sudah besaran sedikit supaya semua anak dapat perhatian dari kedua orang tuanya!” pesan dokter kandungan
“InsyaAllah dokter, suami saya sudah ikut KB, saya juga”
“Eh kamu juga pakai KB?” tanya Daniel
“Cuma yang suntik, untuk jaga-jaga kalau KB kamu jebol!” jawab Rita
Dokter tersenyum mendengar jawaban Rita.
Di rumah, Rita terbangun dari tidurnya, ia melihat ke sisi ranjangnya, Daniel tidak ada. Ia ke dapur kecil mereka dan membuat teh camomile, lalu membawanya ke ruang kerja Daniel
“Sayang, kamu gak bisa tidur?” tanya Rita, suaminya masih berkutat di depan komputer
“Belum, sebentar lagi aku menyusul”
Rita meletakkan teh camomile di samping Daniel
“Minum ini, supaya rilex” ia mengusap rambut suaminya lembut, Daniel meminum teh buatan istrinya
“Hmm...wangi dan enak! Kamu pintar bikin aku senang!” Daniel menepuk pinggul istrinya
“masih banyak kerjaannya?”
“Enggak, sebenarnya ini bisa aku kerjakan besok tapi aku gak bisa tidur”
“Kenapa? Kepikiran tentang Lexus ya?”
“heeh..aku jadi mikir yang kamu bilang. Apa perusahaan gak berlebihan ngasih aku Lexus? Prestasi aku apa coba? Apa memenangkan semua game perusahaan artinya aku menangin semua fasilitas itu?” Daniel mengungkapkan pikirannya
“Sayang?” Rita memanggil lembut suaminya
“Huh?” Daniel tersadar dari lamunannya
“Kalau dikasih ya diterima jangan ditolak. Kalau nanti ada ujungnya dan kamu keberatan, kembaliin saja, lagi pula perusahaan hanya meminjamkan bukan memberikan”
“Menurut mu begitu?”
“Iya!, gak usah meresahkan diri dengan berbagai kemungkinan, nikmati saja!, aku boleh coba nyetir mobil mahal ya?”
“boleh, tapi di lapangan sana ya? nanti aku minta supir meminjamkan ke kamu”
“Enggak ah, aku mau keliling-keliling Jakarta naik Lexus!” goda Rita
“Jangan dong Yang, itu punya perusahaan. Kalau lecet atau rusak, bisa kerja seumur hidup untuk biaya perbaikannya”
“Hahaha...bercanda Sayang, yuk tidur, kamu sudah ngantuk tuh!”
Daniel mematikan komputernya dan mengikuti istrinya,
“Aku mau tidurin kamu boleh gak?”
“Jangan sekarang! Aku capek!” ujar Rita berlari
“Kalau begitu pegang-pegang saja deh!” ujar Daniel jahil
“Besok saja! Aku ngantuk!” ujar Rita
“huh pelit!” gerutu suaminya
“Peluk saja ya?”
“Di dada boleh?” tanya Daniel dengan wajah memelas
Rita mengangguk sambil memeluk suaminya, mereka pun lelap tertidur
_bersambung_
__ADS_1