Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)

Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)
Chapter 201: Davies diusir istrinya


__ADS_3

“Yang sudah sebulan sejak Erina menikah, kok dia gak datang ke D’Ritz?” tanya Rita suatu sore


“Mungkin dia masih bulan madu, kamu sabar dong!” Daniel baru saja selesai mandi dan berpakaian, ia mengambil Ranna dari maminya yang uring-uringan sejak kemarin


“Memangnya bulan madu berapa bulan? Cuma sebulan kan?” protes Rita


“Iya, tapi dia juga gak janji mau kerja sama kamu. Ah aku salah ya kasih kamu harapan!” ujar Daniel agak menyesal


“Iya! Lihat nih, perut ku makin membesar, aku akan kebingungan jika menjelang lahiran tidak ada yang mengurus D’Ritz” ambeknya


“Aku yang akan mengurusnya! Tenang saja!” ujar Daniel sambil bercanda dengan Ranna


“Benar ya?” Rita kelihatan lega dan senang


“Ranna, mami tuh nyari tenaga gratisan!” ledek Daniel


“Sabtu besok jadwal cek kandungan lho, kamu bisa antar kan?”


“Siap Mam! Laksanakan!” canda Daniel, ia meletakkan Ranna di kursi bayinya dan mulai menyantap makan malamnya


“Bagus!!!” Rita tersenyum


Malam harinya , mereka sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Daniel bermain dengan Ranna sambil menonton dari laptopnya, sedangkan Rita kuliah online. Pukul 10 malam, Ranna dan Daniel tertidur di ranjang, sedangkan Rita selesai kuliah.


“Ahh..selesai juga!” Rita menutup laptopnya, kemudian dia mengecek pintu apartemen dan jendela-jendela lalu mengambil Ranna untuk mengganti popok dan pakaiannya setelah itu ia susui. Ia menidurkan Ranna, Daniel menghampiri dan memeluknya dari belakang.


“Papinya Ranna juga perlu ditiduri” bisiknya jahil


“Memang papi gak bisa tidur sendiri?” bisik Rita


“Enggak bisa!, papinya kangen!” Daniel menciumi leher dan tangannya menggerayangi tubuh istrinya


“Oke, jangan di sini!” bisik Rita, ia menarik suaminya keluar dari kamar Ranna. Mereka berjalan sambil berpelukan dan berciuman menuju kamar mereka


“ting-nong!” bunyi bel apartemen mengganggu mereka


“kamu menunggu seseorang?” tanya Rita menghentikan aktivitasnya


“Enggak!, kamu?” tanya Daniel masih menciumi istrinya


“Sstt...” Rita menyuruh suaminya berhenti sejenak


“Ada apa?” tanya Daniel agak kesal


“Bellnya sudah berhenti!” Rita kembali mencium suaminya


“ting nong..ting nong...ting nong!” kali ini bell pintu berbunyi tanpa henti dan membangunkan Ranna


“huaaaaaa..eaaaeaaa”tangis Ranna


Akhirnya Daniel menyerah, ia melepaskan Rita dari pelukannya.


“Sial!! Kenapa hari ini banyak gangguan?” keluhnya, Rita segera memakai kembali piyama atasannya dan segera menghampiri Ranna, sedangkan Daniel membuka pintu


“Ya?” katanya kesal


“Daniel!!” tiba-tiba Davies memeluknya


“Eh pak Davies?”


Tanpa dipersilakan, Davies langsung masuk ke dalam apartemen dan duduk di ruang tamu.


“eh silakan ma...suk” ujar Daniel, ia duduk menemani Davies


“Maaf mengganggu mu niel!”


“Ada apa Pak?” tanya Daniel


“Aku diusir istriku dari apartemen kami. Sepertinya kami akan bercerai” keluh Davies


“Kok Anda tahu apartemen saya?” tanya Daniel


“Jameson pernah bilang kamu tinggal di apartemen orchard. Karena dekat dengan apartemen ku, dan kamu terlintas dipikiranku, jadi aku langsung kemari. Aku tidak mengganggu kalian kan?” tanya Davies, Daniel diam saja sebenarnya ia kurang suka mencampuri urusan orang lain.


“hmm...Jameson..Jadi malam ini Anda akan menginap di sini?” tanya Daniel


“Aku hendak check in di hotel, tapi semua rekening ku dikuasai Eliza istriku, aku jadi tidak bisa! Gak perlu repot aku bisa tidur di sofa ini”ujar Davies sambil merebahkan tubuhnya di atas sofa, tak lama kemudian ia terlelap. Daniel mengunci pintu apartemen, lalu kembali ke kamarnya, ia melihat Rita masih menenangkan Ranna.


“Siapa?” bisik Rita, Daniel mengunci kamar mereka


“Davies, dia diusir istrinya”


“Kenapa gak ke hotel?” tanya Rita, suaranya sudah biasa, karena kamarnya telah kedap suara dari luar.


“Dia bilang istrinya menguasai rekening banknya, jadi dia gak bisa kemana-mana”


“Aneh ya? masa tidak ada kartu kredit atau apa gitu!”


“Besok pagi dia pergi!” ujar Daniel, dia mengambil Ranna dari gendongan Rita dan mengembalikan ke kamarnya.


“Kita lanjutkan yang tadi!” Ujar Daniel sambil memeluk dan menciumi bibir istrinya


 “Eh kamu yakin gak bakal terdengar keluar?” tanya Rita agak gelisah


“Enggak!” Daniel mulai gak sabar, ia membuka bagian atas piyama Rita dan menariknya ke ranjang mereka


“tok..tok..tok..” bunyi ketokan pintu kamar mereka


“Ah sial!!!” Daniel menghentikan kegiatannya, Rita kembali memakai atasannya, dengan kesal Daniel membuka pintu kamarnya


“Ya?” tanyanya berusaha menguasai dirinya


“Niel, maaf aku lapar. Sejak tadi pagi aku belum makan. Mungkin kamu ada makanan?” tanya Davies


“ada, tunggu sebentar!” Daniel menutup pintu kamar,


“Kamu diam di sini ya? biar aku saja yang melayani Davies!” ujar Daniel


“Panaskan saja makanan yang tadi !” bisik Rita, Daniel mengangguk agak kesal, kemudian ia menutup kamarnya, dan ke dapur untuk memanaskan makanan untuk Davies. Beberapa menit kemudian


“Silakan!”


“wah..aku seperti dijamu, kamu gak temani aku makan?” tanya Davies


Daniel mengambil salad dari lemari pendingin


“Enak! Ini Rita yang memasaknya?” tanya Davies


“Iya!” Daniel mengangguk sambil menyantap salad sayurnya


“Kamu beruntung Niel, istri mu masih muda, cantik pandai masak, bisa punya anak pula!”


“Terima kasih!, maaf pak sekarang ini banyak metode untuk mendapatkan anak, bayi tabung misalnya”


“Bukan begitu Niel, beberapa tahun lalu aku memergoki istriku tidur dengan lelaki lain di kamar kami” Davies bercerita dengan nada datar seolah bukan masalah baginya


“eh? Bu Eliza?”


“Iya, Eliza, kamu tahu siapa lelaki yang meniduri istriku?”


“Siapa?”


“James!”


“Jameson?”


“Iya, si brengsek Jameson!” maki Davies

__ADS_1


“Tapi bagaimana Anda bisa...”


“Eliza memohon padaku untuk tidak menceraikannya, sedangkan Jameson berjanji membantuku mencarikan pekerjaan. Dan dia menepati janjinya, dengan bantuan pamannya aku bisa bekerja di Dar,Co dan beberapa tahun kemudian diangkat menjadi kepala cabang Singapura 2”


“Bagaimana hubungan James dan istri Anda?” tanya Daniel penasaran


“Mereka putus, James menikah dengan seorang wanita yang ia kenal di bar tempatnya nongkrong”


“Anda dan istri Anda???”


“Istriku bilang dia masih mencintaiku, sepertinya aku juga masih mencintainya tetapi bayangan ia selingkuh masih terbayang-bayang di kepalaku. Aku masih sulit menerimanya”


“Lalu kenapa kamu bisa memaafkan James tapi tidak bisa memaafkan Eliza?”


“Itu hal yang berbeda Niel!, kamu pasti tahu dan merasakan. Eliza itu milikku dan ia telah membiarkan dirinya disentuh orang lain. Sebenarnya aku jijik dengannya, tetapi aku juga teringat pengorbanannya ketika aku masih belum bekerja. Dia yang bekerja keras untuk kami berdua”


“tapi kalau seperti sekarang ini, kalian saling melukai kan?”


“iya, mungkin itu juga yang Eliza bilang, ia ingin berpisah dariku” Davies menghentikan suapannya dan termangu


“Besok Anda ke kantor?”


“Tentu!, aku ke rumah dulu mengambil semua pakaian ku, aku berniat menyewa apartemen di sekitar sini” ujarnya


“eh di sekitar sini?” tanya Daniel


“Iya, selain dekat dengan mu, wilayah sini cukup bagus”


“ya, semoga berhasil, aku dengar apartemen di sini sudah penuh!” ujar Daniel


“Benarkah? Sayang sekali” Davies menyelesaikan makannya. Daniel membersihkan bekas makannya


“kenapa kamu yang mengerjakan? Bukan Rita?” tanya Davies heran


“Aku cuma membantunya sedikit, Rita sudah lelah mengurus Ranna dan aku. Mencuci piring tidak membuatku lelah!” ujar Daniel tersenyum. Davies mengangguk, Daniel hendak masuk ke kamarnya


“Niel!, temani aku dulu” ujar Davies, Daniel kembali ke ruang tamu dan duduk menemani Davies


“Jujur niel, aku agak terkejut mendengar ternyata kamu cucu mantunya bos besar”


“Eh!” Daniel terkejut


“Benny yang mengatakannya padaku, ia menunjukkan foto resepsi pernikahan cucunya bos besar beberapa bulan yang lalu.”


“Oooo”


“Maafkan aku ya Niel!, aku gak tahu!” ujar Davies


“Kenapa harus minta maaf pak?” tanya Daniel heran


“Aku membuatmu bekerja ekstra, padahal itu kesalahan James!”


“yah..sebenarnya aku juga agak menyesal, bukan untukku tapi timku, mereka merasa tidak melakukan kesalahan, tetapi dihukum untuk memperbaiki”


“Maafkan aku! Entah kenapa jika berurusan dengan James, aku selalu merasa minder darinya”


“Minder? Kenapa?”


“Kamu tahu, dulu di SMA aku sering dibully karena penampilanku selain gendut juga kutu buku sedangkan James, dia tipe pemain tengah lapangan. Yang menjadi pahlawan sekolah”


“Apa betul begitu?”


“Apanya?”


“James pemain tengah lapangan?”


“Kayaknya, aku melihatnya seperti itu” ujar Davies


“Pembully-an itu terjadi saat Anda remaja, sekarang Anda sudah dewasa seharusnya sudah tidak menjadi masalah kan?” ujar Daniel


“Menurutku Anda overthinking!”


“Menurut mu?”


“Iya!, Dar.Co mempercayai salah satu cabangnya di tangan Anda, itu berarti Anda memiliki nilai di mata perusahaan. Walaupun Anda masuk ke Dar.Co dengan bantuan pamannya James”


“Begitu?”


“Iya, dulu saya sering bersama almarhum pak Radian, juga bos besar. Mereka tidak sembarangan menunjuk orang untuk jabatan sepenting kepala cabang”


“Kenapa mereka tidak membuatmu menjadi kepala cabang Niel?” tanya Davies heran


“Aku baru saja mempelajari semuanya, dipercaya membawahi proyek sebesar ini saja aku sudah sangat bersyukur. Aku pikir bos besar juga berpikiran sama dengan ku. Aku dimintanya untuk belajar banyak sebelum menempati posisi yang tinggi”


“Kamu sabar sekali, apa Rita tidak keberatan?”


“Kenapa dia harus keberatan?”


“Yaaa...dia kan cucu bos besar, biasa hidup mewah. Mungkin dia ingin kamu menempati posisi yang tinggi di perusahaan kakeknya”


“Aku mengenal istriku, dia bahkan memulai usaha roti dengan tabungannya sendiri, dia bilang tidak suka ada campur tangan kakeknya. Itu juga berlaku untuk karirku, dia tidak akan mencampuri pekerjaanku”


Davies mengangguk


“Komunikasi kalian lancar ya? apa kalian sering bertengkar?”


“Bertengkar? Pernah, tapi tidak sering. Tapi kami sering berdebat”


“Siapa yang menang?”


“Tergantung masalahnya, sebentar lagi Ranna akan punya adik. Itu membuat kami menyisihkan ego kami masing-masing.”


“Begitu ya? Apa kamu pernah tergoda dengan perempuan lain niel?”


“hmm...sejak bertemu Rita, aku sudah tidak tertarik dengan wanita lain!”


“benarkah? Kamu yakin? Alasanmu memakaikan celana panjang kepada seluruh staf wanita mu di lantai 20 supaya kamu tidak tergoda kan?”


“Aku lelaki normal, dan aku harus mencegah hal buruk sebelum terjadi kan?”


Davies kembali mengangguk


“Oh iya, kamu harus hati-hati dengan James! Dia betul-betul tergila-gila dengan istrimu!”


“hah? Dari mana Anda tahu?”


“Dia selalu menyebut tentang istrimu, yang cantik, muda. Dia bilang, walaupun harus membesarkan bukan anaknya dia bersedia menikahi istrimu”


“Dia tidak menganggap ku ya?” ujar Daniel geram


“James memang seperti itu, ia seperti anak kecil. Keinginannya harus terpenuhi dengan cara apapun”


“Dia bilang dulu ia pernah menikah dan memiliki satu anak lelaki berusia delapan tahun?”


“Oh itu!, iya dia sendiri yang cerita, dulu ia merebut istri sahabatnya sendiri.”


“Jadi anak itu bukan anaknya?”


“Anak itu anaknya James, maksudku, James dulu merebut pacar sahabatnya lalu menikahinya”


“Apa pacar sahabatnya itu cantik?” tanya Daniel


“Sepertinya begitu”


“Lalu kenapa dia bercerai?”


“James berselingkuh dengan istriku, aku mengadukan kepada istrinya. Akhirnya mereka bercerai”

__ADS_1


“Jujur saja, menurutku hubungan Anda dengan James itu aneh ya?”


“Hahaha? Begitu ya? sebenarnya dia orang yang asyik diajak bicara. Ya seperti aku bilang dia tipe pemain tengah, orang sulit menolak keinginannya”


“Masa? Aku gak merasa seperti itu padanya” ujar Daniel


“Mungkin kalian tipenya sama, sesama pemain tengah jadi kamu cukup percaya diri untuk menolaknya”


“Anda masih terus dihantui masa SMA ya? pemain tengah apapun itu, hanya berlaku saat kita sekolah, sekarang ini kita pribadi mandiri. Kita sendiri yang menentukan sikap dan hidup kita, iya gak?” ujar Daniel


Davies termangu mendengarkan


“Oh iya tentang Jameson, beberapa waktu lalu aku bertemu dengannya di bar, aku bilang padanya untuk mengurus administrasi pemecatannya dari Dar.Co”


“oh iya? Akhirnya dia dipecat?”


“Iya, suratnya sampai, sebelum pak Radian kecelakaan”


“Apa anda yakin itu murni kecelakaan?” tanya Daniel


“Entahlah, apa ada yang hendak melukai pak Radian?” tanya Davies lagi


“Besar kemungkinannya yang sedang bermasalah dengan beliau kan?”jawab Daniel lagi


“Mario, orang yang bersama pak Radian apa dia baik-baik saja?” tanya Davies


“Entahlah? Aku dengar ia masih koma, bos besar membawanya kembali ke Auckland untuk merawatnya. Mario sudah menjadi anak angkat bos besar”


“oh ya? aku baru tahu!” Davies terlihat terkejut


“Iya, Rita juga memberitahu padaku baru-baru ini”


“Bos Besar banyak mengangkat anak ya? mungkin kalau kamu tidak menjadi cucu mantunya, kamu juga akan diangkat menjadi anaknya” canda Davies


“hahaha...aku lebih memilih menjadi cucu mantunya” jawab Daniel


“hmm...baiklah Niel..terima kasih sudah menampungku niel!, selamat malam!” Davies merebahkan tubuhnya di sofa


“Selamat malam!” Daniel mematikan lampu ruang tamu dan kembali ke kamarnya. Dia melihat Rita sudah lelap tertidur, ia tidak tega membangunkannya. Ia mematikan lampu dan tidur memeluk istrinya.


Keesokaan paginya, Davies menepati janji, ia sudah pergi pagi-pagi sekali ketika Daniel hendak sholat subuh di mesjid dekat apartemen. Daniel kaget ketika kembali dari mesjid Rita mengenakan kaca mata pendeteksi kamera tersembunyi


“Kamu ngapain?”


“Aku curiga dengannya, jangan-jangan dia mata-matanya James!” Rita berkeliling mengenakan kacamata


“Sudah aman?” tanya Daniel tersenyum geli, ia menghampiri istrinya


“Ayo kita selesaikan yang semalam!” ajaknya, ia menarik Rita ke kamar mereka. Beberapa jam kemudian mereka selesai bercinta


“ahhh...akhirnya, aku sempat kesal pada Davies karena mengganggu ku dan istriku”


“iya, aku juga kesal padanya!”


“Oh ya? kenapa?”


“Karena dia, aku jadi harus mandi lagi” keluh Rita,


“Jangan mandi dulu!” larang Daniel


“Eh kenapa? Kamu harus kerja kan?” tanya Rita yang kembali ditarik oleh suaminya


“Iya, tapi agak siang. Aku sudah bilang ke Davies ada keperluan mendesak, dan dia menginjinkannya”


“Keperluan mendesaknya?”


“Ya ini, bersama istriku lebih lama, aku harus memanfaatkannya!”


“Dasar mesum!” Rita mencubit pipi suaminya gemas. Dan mereka kembali bercinta, setelah bercinta Daniel tertidur pulas karena kelelahan, sedangkan Rita setelah membersihkan dirinya, ia juga memandikan Ranna yang sudah bangun sejak tadi dan bermain sendiri di kamarnya


“Ranna!, kamu gak dengar aneh-aneh kan dari sini?” tanya Rita sambil mengangkat anaknya, ia membuka pakaian anaknya dan memandikannya. Setelah Ranna rapi, ia membawanya ke ruang makan dan mendudukkan di kursinya


“Kamu makan ya? Papi masih tidur!” Rita menyuapi Ranna dengan sabar


Ranna memainkan sendok garpu plastik yang ia pegang terus sejak tadi.


“Yang! Sudah jam berapa?” tanya Daniel dari kamar


“ jam setengah 9!” jawab Rita


Dengan langkah gontai Daniel pergi ke kamar mandi dan membersihkan dirinya, setelah selesai ia berpakaian rapi dan keluar dari kamar mereka


“wahh...Ranna..papi sudah ganteng!!! Banyak cewek yang suka sama papi!!” ledek Rita


“Iya dong, kalau papi gak ganteng mami kamu gak bakal mau nikah sama papi!” Daniel mengangkat Ranna yang sudah selesai makan


“Nanti baju mu kotor” ujar Rita memperingatkan


“ah iya!” Daniel meletakkan lagi Ranna dikursinya lalu menyantap sarapan yang disediakan Rita


“Yang!, kamu harus hati-hati sama James. Kalau-kalau dia muncul dihadapanmu!” ujar Daniel memperingatkan


“Tenang saja!, aku akan menyemprotnya dengan cairan lada ke matanya!” ujar Rita


Daniel bergidik ngeri mendengar ucapan istrinya


“Gak usah ekstrem begitu, tolak saja dengan tegas, dia pasti mundur”


“Kalau dengar dari ceritanya Davies, sepertinya Jameson bukan orang yang mudah disuruh mundur dengan kata-kata, tapi harus dengan otot!” ujar Rita kesal


“ingat kamu lagi hamil! Kata dokter anaknya lelaki kan?”


“mungkin!”


“Nah, kalau anaknya jadi mirip James gimana?” ujar Daniel


“Audzubillahi mindzalik!, jangan ya Nak! Kamu mirip papi saja gantengnya!” ujar Rita mengusap perutnya yang mulai terlihat membuncit


“hari ini jadwalmu kemana?” tanya Daniel


“Aku yoga, lalu ke pasar untuk membeli persediaan”


“Ke pasar? Harus sekarang? Bukannya kamu bisa memesan lewat telepon?”


“Iya, tapi kemarin kayaknya orang yang biasa melayaniku sudah ganti, jadi dia kurang mengerti”


“Kalau ke pasar, nanti saja bersamaku. Aku takut pasar itu sangat ramai dengan kondisimu sekarang”


“Baiklah! Tapi Sabtu kan kita ke dokter”


“Ya pulang dari dokter, keperluannya gak buru-buru kan?”


“memang tidak sih, aku hanya memikirkan bahan lain untuk rasa roti yang baru”


“Baiklah , aku berangkat ya?” Daniel telah selesai mencuci piring dan gelas bekas makannya


“Hati-hati di jalan!” Rita mencium bibir suaminya, Daniel mencium pipi Ranna


“Dah!!!” Daniel meninggalkan apartemen mereka. Rita merapikan ruang makan dan dapur, ia menghubungi laundry untuk mengambil cucian. Sambil menunggu orang laundry datang, Rita mandi ,Ranna ditaruh di depan kamar mandi agar Rita bisa mengawasinya. Setelah selesai mandi dan berpakaian orang laundry datang. Mereka membawa pakaian kotor dan menyerahkan pakaian yang sudah bersih


“aku sudah transfer untuk laundry yang sebelumnya ya?” ujar Rita


“Iya bu, terima kasih!”


Setelah itu Rita keluar dari apartemen tak lupa menguncinya, ia menaruh Ranna di stroller pemberian Andi. Lalu turun ke lantai bawah apartemen dan naik taksi menuju gym tempat ia yoga. Tanpa disadari, seseorang memperhatikannya dari jauh


_bersambung_

__ADS_1


__ADS_2