Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)

Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)
Chapter 202: Ranna Sakit


__ADS_3

“Yang, kita perginya berapa lama ya?” tanya Rita,


“Hmm..sebentar, 2 hari di cirebon, 2 hari di Swiss lalu 2 hari London, jadi totalnya 6 hari!”


“Tanggung banget ya? genapin jadi seminggu kenapa?” Rita mulai menyiapkan pakaian yang akan ia bawa


“Kamu bilang ke mama gak, kita minta pilihin baju untuk kondangan ke 3 tempat itu? Nanti aku transfer uang bajunya”


“Sudah!, mama bilang sudah beres, yang penting kita datang saja dulu”


“Tanya dong berapa harus transfer?”


“15 juta!”


“Dalam rupiah atau dollar?”


“kalau di rupiahkan 15 juta!”


“jadi sekitar 1000 dolar ya? oke aku transfer!” Daniel membuka ponselnya untuk menrasfer ke mama mertuanya


“Sudah yang!, aku share buktinya ke kamu ya!”


“Oke!!” Rita meneruskan pembayaran baju ke mamanya


“Terima kasih sayang!” balas mamanya


“Sama-sama mama, see you there!” balas Rita dengan emoticon tersenyum


“Kamu sudah menyiapkan persediaan untuk 2 minggu ke depan?”


“Sudah!, aku sudah menyiapkan semua bahan. Para pegawai tinggal mengolah, aku juga sudah meminta pada Erina untuk menghubungiku kapan saja jika ia bingung dengan urusan D’Ritz”


“Baguslah! Aku senang kamu kelihatan lebih tenang!” Daniel mencium rambut istrinya yang sedang sibuk, sementara Ranna bermain sendiri di boks bayinya.


“Jangan lupa membawa vitamin mu, dan penyangga perut supaya punggung mu gak sakit!” ujar Daniel mengingatkan


“Siap bos!, aku sudah rapi-rapi, silakan giliran Anda!” canda Rita, ia memberikan koper besar mereka ke suaminya


“hmm...kamu Cuma bawa baju segini? Kalau kurang gimana?” Daniel heran melihat jumlah pakaian yang dibawa istrinya


“Kalau kebanyakan nanti gak terpakai gimana?”


“Lebih baik lebih dari pada kurang kan? Atau kecuali kamu mau beli di sana? Tapi kalau kamu baju baru harus dicuci dulu kan?”


“Iya juga ya? kamu duluan deh, nanti aku lihat mungkin aku akan menambah jumlah pakaian yang aku bawa.”


“Pakaian Ranna juga di sini?”


“Enggak dong, pakaian Ranna di koper sendiri bersama semua keperluannya!”


“Nanti aku cek lagi kopernya Ranna” ujar Daniel


“Yang, kamu gak bawa underwear?” tanya Daniel heran


“Oh iyaa!!! Kenapa bisa lupa!” Rita segera mengambil simpanan underwearnya dari lemari yang lain dan meletakkannya di koper


“Ini semuanya?” tanya Daniel


“Iya!, itu semua yang dibelikan kamu dan mama”


“ooo” Daniel mengangguk dan merapikan tambahan pakaian Rita dan pakaian dirinya


“Oke, bagian kita sudah selesai!, sekarang giliran Ranna!” Daniel mengambil koper Ranna dan membukanya


“Wow ..banyak banget pakaiannya!”


“Sebenarnya itu semua pakaian yang dibelikan mama ketika Ranna lahir, karena untuk bayi umur bulanan, jadi aku simpan dulu. Eh ternyata muat sekarang!”


“Ranna sudah hampir 8 bulan, adiknya jalan 6 bulan, kita akan repot nantinya” gumam Daniel


“Kakek benar, kita harus mulai mencari baby sitter untuk Ranna dan adiknya” ujar Rita


“Sebenarnya aku lebih senang mengurus sendiri anak-anakku tapi...kita lihat nanti deh kalau tidak terpegang , kita menyewa bantuan!” Ujar Daniel


Mereka mengambil penerbangan siang, pagi harinya Rita mengunjungi D’Ritz


“Selamat Pagi!!” sapa Rita riang


“Pagi bu!” jawab para karyawan


Rita masuk ke kantornya yang mungil


“tok-tok”


“Masuk!”


“Bu Rita!”


“Eh Erina!, silakan duduk!” Rita mempersilakan manajer tokonya


“Terima kasih!, bu Rita Anda akan pergi berapa lama?”


“Sekitar seminggu, tenang aku sudah menyiapkan semua bahan untuk 2 minggu, kalau ada pesanan bisa dipenuhi”


“oh iya Bu Rita, apa saya perlu melaporkan perkembangan D’Ritz setiap hari?”


“Sebenarnya aku selalu mengecek penjualan setiap hari. Aplikasinya terhubung dengan ponsel ku, kamu tinggal meminta bagian akunting untuk memasukkan data saja!”


“Begitu ya? jadi saya wakil ibu di toko ini?”


“Iya betul!, saya harap kamu bisa berbaur dengan para karyawan di sini ya Er!”


“Baik bu, saya permisi dulu”


“Er!”


“Ya bu?”


“Terima kasih sudah bersedia membantu saya!” Ujar Rita tersenyum


“Sama-sama bu!” Erina kembali ke ruangannya


Rita melihat pesan dari suaminya untuk segera kembali ke apartemen. Setelah mengunci kantornya, ia segera meninggalkan tokonya


“Aku pergi ya! sampai jumpa seminggu lagi!”


“Iya bu! Hati-hati di jalan!” ujar semua karyawan kompak


Dengan riang Rita keluar dari tokonya dan berjalan santai menuju apartemennya, ia mampir sebentar ke minimarket untuk membeli es krim pesanan suaminya.


“Assalammu’alaikum!”


“wa’alaikummussalam!” jawab Daniel, ia menggendong Ranna


“Yang, Ranna badannya agak hangat ya?” Daniel memberikan Ranna ke Rita, dengan segera Rita mengambil termometer dan mengukur panas badan Ranna


“36,9 masih normal tapi agak demam ya?” Rita segera membawa ke ruangannya dan menyusuinya


Satu jam kemudian, Daniel menghampiri


“Bagaimana Yang? Sudah turun suhunya?”


“Belum, malah naik. Aku sudah mengompresnya, kita tunggu beberapa jam, kalau belum turun kita ke dokter” ujar Rita, Daniel mengangguk


Setelah ditunggu beberapa jam, panas tubuh Ranna belum juga turun. Rita dan Daniel langsung membawanya ke IGD. Daniel mengabarkan penundaan kedatangan mereka, karena kondisi Ranna.


“Kamu sudah bilang ke kakek, kita mungkin telat hadir?” tanya Rita, ia menunggui Ranna yang tertidur setelah di infus


“Sudah, beliau bilang jangan pergi dulu kalau Ranna belum sembuh”


“Aku takut, reaksi mereka berlebihan Ranna kan cicit pertama mereka”


“Mudah-mudahan enggak, aku sudah membatalkan pesawat kita. Sekarang yang penting Ranna pulih dulu” Daniel merangkul istrinya sambil memperhatikan anak pertama mereka


Dugaan Rita tidak salah, kakek Darmawan yang telah berada di Cirebon sangat bingung dan panik, ia menelepon Ratna

__ADS_1


“Ratna!”


“Ya Pa?”


“Kamu tahu Ranna sakit?”


“Iya pa, tadi Rita ngabarin saya, kata dokter ada masalah pencernaan”


“Masalah pencernaan? Memangnya dia dikasih makan apa?” tanya Darmawan heran


“Kemungkinan dari mainan, Ranna sedang gatal mau tumbuh gigi, jadi dia memasukkan benda apapun ke mulutnya”


“Aduhh...gimana ini Rita dan Daniel...mereka itu...” Darmawan mulai kesal


“gak apa-apa pah, mereka kan baru menjadi orang tua. Ini pembelajaran buat mereka, apalagi sebentar lagi ada adiknya Ranna” ujar Ratna menenangkan


“hmm...menurutmu tidak akan ada masalah di Ranna?”


“Ranna sudah ditangani dokter spesialis anak pa, Rita dan Daniel juga menungguinya”


“Baiklah, mudah-mudahan tidak sesuatu yang parah, anak sekecil itu sudah sakit aku tidak tega”


“Iya Pa, nanti Ratna kabari lagi perkembangannya”


“Kamu kapan sampai di sini?”


“Insya Allah nanti malam pa, saya menunggu Andi. Dia bilang akan datang menjemput saya”


“Baguslah! Anak itu mulai bertanggung jawab pada mamanya!”, Darmawan menutup percakapan dengan menantunya


“Kakek Dar ya ma?” tanya Andi


“Iya, beliau sangat khawatir tentang Ranna”


“Andi juga khawatir ma, tadi Andi sudah nelpon Rita. Dia bilang suhu tubuh Ranna sudah normal, tapi masih di observasi”


“Mama bersyukur dulu Rita diasuh Reza, jadi dia tahu pengobatan pertama untuk anaknya”


“Iya ma, kenapa Rita gak jadi dokter saja ya?”


“Rita? Dokter? Hahaha...anak itu seperti papa mu, gak mau sekolah lama-lama. Maunya yang santai!”


“hatchi...hatchi..hatchi” Rita bersin


“Kamu pilek?” tanya Daniel ia memberikan tissue ke istrinya


“Enggak, ada yang ngomongin aku nih!” Rita menyeka hidungnya.


Ranna di minta menginap di rumah sakit untuk melihat perkembangannya, Daniel mengambil kamar VIP untuk mereka.


“Apa gak kemahalan Yang? Ruang VIP?” tanya Rita


“Enggak!, ini bukan hanya untuk Ranna, tapi juga untuk mu. Kamu harus nyaman di dekatnya. Aku juga!”


“Kamu banyak mengeluarkan uang ya, bulan-bulan ini”


“Itu sudah tugas kita sebagai orang tua, sebenarnya aku masih mampu tapi aku bersyukur banyak yang peduli sama kita”


“Maksud mu?”


“Om Radian, sebelum meninggal memberikan beberapa ribu dolar untuk Ranna. Beliau bilang untuk keperluannya. Eh ternyata betul, uang itu terpakai sekali hari ini”


“oh ya? Om Radian baik sekali, semoga amalnya diterima Allah SWT”


“aamiin...”


Daniel dan Rita menginap semalaman di rumah sakit menemani Ranna. Esok paginya, Ranna sudah segar kembali, ia bermain sendiri di tempat tidurnya.


“Ranna! Kamu sudah sembuh Nak?” tegur Rita lega, ia memeluk anaknya dengan sayang


“Ranna sudah bangun?” tanya Daniel yang tidur di sofa


“Sudah, dia sudah main lagi.” Rita tersenyum senang, Daniel menghampiri dan menggendong Ranna


“Kamu bikin papi dan mami takut!” Daniel memeluk anak perempuannya erat


Dokter meminta mereka menginap sehari lagi untuk memastikan kondisi Ranna.


“Aku gak masalah! Menurut mu gimana?” tanya Daniel


“Aku sudah melihat hasil lab Ranna pagi ini, suhu tubuhnya juga sudah stabil. Kita pulang saja Yang!, di sini memang nyaman, tetapi namanya di rumah sakit”


“Kamu yakin? Aku terserah kamu lho!”


Rita berpikir sejenak, setelah mempertimbangkan


“Ya sudah, kita menginap sehari lagi, tapi pastikan Yang, sehari ini hanya untuk melihat kondisinya, dan Ranna tidak diberi infus lagi”


“Tentu!, aku akan memastikan!”


Akhirnya mereka menginap sehari lagi di rumah sakit, sementara Andi mengirimkan video acara pernikahan Metha melalui ponselnya. Rita dan Daniel menontonnya di TV RS yang dihubungkan ke ponsel Rita


“Wah...ramai lho yang!,..suaminya tante bule”


“Bule?”


“Kalau di indonesia, kami memanggil orang asing dengan sebutan bule. Itu karena kita dijajah belanda yang rambutnya blonde dan berkulit putih.”


“Aku bule juga dong?”


“hmm...kamu bukan bule, Cuma orang asing saja. Bule di sini perawakan orang eropa gitu!”


“oo begitu” Daniel mengangguk mengerti


“Eh itu si O!” Rita menunjuk Mario yang sibuk mengatur acara


“Dia sudah sembuh?”


“Kayaknya sudah, tapi dia masih memakai penyanggah leher”


“Orang itu tahan banting juga ya?” ujar Rita


“Aku dengar polisi menghentikan penyelidikan kecelakaan om Radian, sepertinya itu betul-betul kecelakaan” ujar Daniel


“Lalu penyelidikan orang mu bagaimana?”


“Mereka masih menyelidiki, aku juga meminta bantuan temanku di interpol, mungkin mereka punya info tentang itu”


“Apa mungkin om Radian disingkirkan oleh orang dari masa lalunya? Kan kamu bilang dulu beliau informannya interpol?”


“itu juga sedang dicari tahu”


“Kelihatannya Cuma kamu yang gak terima dengan kematian om Radian?


“Bukan begitu, aku hanya ingin memastikan, pak eh Om Radian itu orang baik. Aku banyak berhutang budi padanya” Rita memeluk suaminya


“Kamu sangat kehilangan beliau ya?” tanyanya, Daniel mengangguk menahan air matanya mengingat saat-saat mereka bersama.


“mamamama...papapapa!” tiba-tiba Ranna memanggil mereka berdua


“eh Ranna bisa ngomong!!” Rita dan Daniel bersamaan


“Lagi dong, mami!” ujar Rita


“Mamam!” jawab Ranna


“Papi!” Daniel mengajarkan


“Papappapapapp!!aahhh!” teriak Ranna


“apa kita ganti saja panggilan kita Yang?” tanya Rita


“Jangan, gak apa-apa, nanti pelan-pelan kita ajarkan”. Daniel mengendong Ranna dan memainkannya seperti terbang


“aahhhh....hahaahaaahaha!!” teriak Ranna kegirangan

__ADS_1


Rita dan Daniel kembali ke apartemen mereka setelah dua hari menginap di rumah sakit. Mereka terlihat kelelahan.


“Yang, aku sudah bilang ke tante Metha, kita datang yang di Swiss saja!” ujar Rita sambil merebahkan diri di ranjang. Daniel menarik tempat tidur Ranna di samping ranjang mereka, dan menidurkannya kemudian ia berbaring di samping istrinya. Ketiganya terlelap tertidur, ketika bangun hari telah malam. Mereka terbangun karena tangisan Ranna


“Eh!” Daniel terbangun lebih dulu


“Yang! Sudah malam!” perlahan Daniel membangunkan istrinya


“hah? Ya Ampun, aku tertinggal sholat maghrib!”


“aku juga!” Daniel mengangkat Ranna dari tempat tidurnya, dan membawanya ke kamar untuk mengganti pakaian dan popoknya.


“Yang kamu lapar gak?” tanya Rita, ia akan memesan makanan dari restauran terdekat


“Lapar dong!, pesan antar saja!” teriak Daniel dari kamar Ranna


Rita segera memesan makanan dari restauran terdekat. Beberapa menit kemudian pesanan mereka tiba, Rita menyiapkan di meja makan, sementara Daniel memberikan Ranna ASI Rita yang dipompa pagi ini setelah itu, Ranna ia dudukkan di meja bayi. Rita menyiapkan makanan bayi untuknya


“Apa Ranna sudah boleh makan lagi?” tanya Daniel sambil menyantap makanannya


“Sudah, aku sudah memberitahu dokter merek makanan yang Ranna makan, dokter bilang tidak ada masalah.” Rita duduk, kemudian mulai menyantap makanannya. Daniel menyuapi Ranna. Mereka bergantian menyuapi Ranna. Rita memperhatikan suaminya yang telaten menyuapi Ranna.


“Kamu baik banget ya? Semoga kamu sehat-sehat terus, dan baik terus sama aku dan anak-anak!” ujar Rita tersenyum, ia mengelap sisa makanan dari ujung bibir suaminya. Daniel tersenyum


“aamiin!! Doa yang sama untuk kamu ya?”


“Aamiin!” jawab Rita tersenyum


“Oh ya, waktu itu Eliza membisikkan sesuatu ke kamu, waktu kondangan. Dia bilang apa?” tanya Daniel penasaran


“awalnya dia tanya, berapa lama kamu menikah? Aku jawab setahun. Terus dia bilang, tunggu 5 tahun suami mu akan dingin padamu!” jawab Rita


“Terus kamu bilang apa?”


“Ya diam saja. Mereka sedang punya masalah, aku gak mau ikutan.”


Daniel mengangguk setuju


“Aku takut kamu terprovokasi olehnya” ujar Daniel


“Kalau soal dingin, aku sudah sering di-dingin-in sama kamu, jadi sudah biasa, gak usah tunggu 5 tahun” ujar Rita santai. Daniel menghentikan makannya


“Aku dingin-in kamu?” tanyanya heran


“Iya, sebelum kita berdebat, pasti kamu dingin-in aku dulu. Baru deh kita berdebat”


“Sebenarnya, aku mencegah supaya aku gak marah meledak-ledak sama kamu. Aku takut kemarahanku malah bikin kamu takut. Jadi lebih baik aku ‘mendingin-kan’ diri dulu.”


“begitu? Memang sih aku pikir juga begitu, tetapi di-dingin-in kayak gitu kadang bikin kita mikir macam-macam”


“mikir macam-macam? Misalnya apa?”


“yaa..apa ada perempuan lain dipikirannya? Apa dia mau berpisah denganku? Apa dia sudah bosan pada ku?..banyak deh!” jawab Rita sambil menyantap makanannya dengan lahap


“Apa perempuan itu selalu berpikir seperti itu ya?” tanya Daniel heran, ia kembali menyantap makanannya


“Karena kebanyakan lelaki seperti itu. Kita jadi insecure”


“Apa kamu gak tahu, laki-laki juga merasakan hal yang sama?”


“Maksudnya?”


“Ya, kami juga takut kehilangan”


“Iya?”


“Iya!”


“Kamu bisa menjelaskan tentang laki-laki yang selingkuh dari istrinya?” tanya Rita penasaran


“Soal selingkuh itu sekarang ini tidak berdasarkan gender, contohnya Eliza istrinya Davies. Dia duluan tuh yang selingkuh”


“Hmm...aku setuju! Aku pernah duduk di cafe bersama Ranna, seorang perempuan melakukan percakapan dengan pacarnya melalui ponsel kelihatannya ia sangat senang. Tak berapa lama datang lelaki lain, mereka lebih akrab lagi.”


“Lalu?”


“mereka pergi, sepertinya mereka check in di hotel”


“Dari mana kamu tahu?”


“Aku mendengar kata-kata check!”


“bisa saja kan cheque bank?”


“bisa jadi , tapi aku yakin mereka selingkuh”


“kalau ada yang bertanya diselingkuhi atau berselingkuh? Kamu jawab apa?” tanya Daniel penasaran


“Kalau jawaban ini kita harus bareng-bareng jawabannya!”


“Oke, hitungan ke tiga ya? 1-2-3!”


“Diselingkuhi!” jawab mereka kompak, akhirnya mereka toss


“Berarti kita sama ya?” ujar Daniel


“Insya Allah!, makanya dari awal aku ingin kita berdua saling jujur. Aku banyak kekurangan, kamu juga, jadi kalau kita bisa bertahan dengan kekurangan kita, insya Allah, kita bisa merayakan anniversary hingga lebih dari 50 tahun” ujar Rita


“Kamu ini sebenarnya usianya berapa sih? Benar 18 tahun? Kok kayak 81 tahun?” canda Daniel


“Aku belajar dari kegagalan kedua orang tua ku, anak yang kedua orang tuanya bercerai sangat tidak enak. Kamu juga mengalaminya kan?”


“em..em...orang tua ku berbeda kasus dengan orang tua mu!, kalau aku lebih suka kedua orang tua ku bercerai dari pada ibu ku menjadi korban terus” Daniel menyelesaikan makannya


“Iya sih, tapi dengan banyaknya pernikahan yang gagal. Itu membuatku takut. Walau katanya sekarang ini perempuan sudah mandiri, tetap saja. Kegagalan, kehilangan seseorang yang dipercayai itu menyakitkan. Iya gak?” ujar Rita sambil menyantap makanannya


“Kamu harus berhenti mendengarkan curhatan orang yang gagal, nanti kamu malah melampiaskan padaku” ujar Daniel memperingatkan


“Memangnya aku begitu?”


“Masa kamu gak sadar? Waktu itu pas kondangan, perempuan di sebelah mu tiba-tiba curhat tentang suaminya yang selingkuh. Eh pulang kondangan, kamu jutek banget sama aku.”


“Apa iya, aku begitu?” tanya Rita gak percaya


“Iya beneran!, kamu tuh sembuh setelah aku transfer uang bulanan. Baru deh ramah lagi”


“Masa? Aku begitu?”


“Beneran!”


“Kalau begitu maaf deh!..aku gak bermaksud begitu. Tapi Yang kok kamu tahu, aku kesal karena dengar curhatan itu?”


“Karena kamu menyinggungnya terus selama perjalanan pulang! Aku kesal sama ibu itu, seharusnya aku tidak membiarkan kamu ngobrol lama dengannya”


“Maaf ya?..insya Allah aku gak begitu lagi deh!”


“Bener ya? nanti kalau kamu begitu lagi aku rekam deh, biar kamu percaya!”


“Iya, rekam saja. Aku juga pengen tahu”


“Iya tentu akan aku rekam!”


“Aku juga rekam kamu kalau lagi nge-dingin-in aku ya?” balas Rita


“Boleh!”, mereka bersalaman bersepakat


“Kamu sudah makannya?” tanya Daniel


“Sudah, kenapa?”


“Aku mau beresin!”


“oh iya, terima kasih!” ujar Rita tersenyum, ia menggendong Ranna dan mengganti pakaiannya, lalu memberinya ASI.


“Malam ini dia tidur sama kita ya?” bisik Daniel

__ADS_1


“Iya” bisik Rita sambil mencium pipi suaminya


_bersambung_


__ADS_2