
Rita dan Andi kembali ke Auckland setelah menghadiri 3 hari perayaan pernikahan Charles Lucas yang megah.
“Ahh...senangnya kembali ke kamar” Rita rebahan di ranjangnya, matanya menatap langit-langit kamar
“Apa yang lupa ya?” gumamnya mengingat-ingat, tiba-tiba ia teringat sesuatu
“Astaghfirullah al'adzim!” serunya , ia mengambil ponselnya dan segera menelpon Ratna
“Halo Mama?”
“Ya Rita?”
“Koper kecil?” Ratna mencari koper yang disebut Rita
“Iya ma, yang warna hijau, ada gambarnya”
“Koper yang gambar mini mouse?”
“Iya betul!”
“Wah, masih ada di sini Rit, ketinggalan toh?”
“Iya maa,..itu isinya tugas sekolah yang harus dikumpulkan pada saat Rita masuk sekolah
“Yaahh...kamu sih, kenapa bisa lupa?”
“Mama kapan ke Auckland?”
“Hmm...mama di sini karena Alena meminta mama, mungkin dua atau tiga hari baru mama bisa pulang”
“Kalau begitu bisa dikirim saja ma? Lewat jasa ekspedisi?”
“Hmm,..nanti mama coba ya, mama usahakan hari ini dikirim Rit!”
“Iya ma Terima kasih!” Rita menutup ponselnya, ia bisa bernafas lega.
Ia kembali berbaring di ranjangnya, kemudian ia teringat ponselnya yang tertukar dengan ponsel Sisca. Ia menelpon Sisca melalui ponselnya yang satu lagi
“Sisca?”
“Ya? ini siapa?”
“Rita!”
“Oh Rita, apa kabar? Kamu sudah kembali?”
“Baru balik, Eh Sis, ponsel kita tertukar ya?”
“Hehehe, iya!, kamu beli lagi dong?”
“Enggak, pakai ponsel lama. Nanti sore kamu di rumah?”
“Ada, mau kemari?”
“Iya, mau ambil ponsel, sekalian ngasih oleh-oleh!”
“Oleh-oleh? Apaan tu?"
"cinderamata dari London!”
“oohh..oke deh, aku tunggu ya!”
Pukul 4 sore, setelah sholat Ashar, Rita pergi ke rumah Sisca dengan mengendarai mobilnya, jarak rumah Sisca dari rumahnya sekitar 45 menit.
Sesampainya di sana, Sisca menemuinya di ruang tamu
“Halo Rita!” sapa Sisca.
“Halo!”
Sisca mengenakan dress model tahun 60-an,
“Kamu retro banget ya?” ujar Rita melihat penampilan Sisca
“Iya? hahaha, ini bajunya nenek aku. Ternyata nenek aku itu anak gaul!. Kemarin aku membuka lemari pakaian nenek, seperti menemukan harta karun!”
“Ooo,..semua barang-barang tahun 60-an?”
“Sebenarnya 70-80-an, ternyata mode pakaian itu sering berulang lho! Aku pikir, gak salah kalau aku pakai bajunya. Masih bagus-bagus pula!”
“Eh Sis, ponsel ku mana?”
“Oh , ini! Tenang saja aku gak buka-buka kog!. Cuma waktu itu ada telpon dan pesan dari oppa “
“Kamu baca?”
“Dikit, gak sengaja. Btw Rit, kalau oppa dan kamu bertengkar biasanya yang minta maaf selalu dia ya?”
“Enggak juga, kami jarang bertengkar kog.”
“Kalau bertengkar biasanya tentang apa?”
“Apa ya? ku gak pernah mau inget-inget yang jelek-jelek. Kalau sudah minta maaf ya sudah, masalah selesai!”
“Begitu saja? Apa gak ada perayaan berbaikan?”
“Apaan tuh? Gak ada, biasa saja kog! Memangnya kamu ngebayangin apa?”
“Enggak, kata orang kalau habis bertengkar biasanya kalian lebih mesra, karena artinya komunikasi lancar.”
“kata siapa? Kamu jangan kebanyakan baca novel, kadang novel itu hanya menulis yang indah-indah saja, atau masalah simple dibikin sulit and ribet.”
“Ya iyalah, kalau gak begitu mana menarik hidup ini. Nih, aku baru selesai baca novel online tentang dokter muda yang menghamili pengasuh keponakannya, tepat sehari sebelum ia menikah. Ternyata, kejadiannya setelah ia meminum minuman dari temannya.”
“Lalu akhirnya gimana?”
__ADS_1
“Akhirnya pengasuh itu hamil, dan dia berhenti bekerja di rumah itu. Pada akhirnya si dokter memilih si pengasuh, karena ia jatuh cinta. Sweet banget ya Rit?”
“Jujur ya, Aku gak suka cerita yang tokoh perempuannya berada di posisi tak berdaya, menurutku perempuan itu harus punya kekuatan!”
“Kekuatan kayak kamu gitu?”
“Iya betul!”
“Waah...gak setiap masalah bisa diselesaikan dengan otot Rit!, apalagi dalam dunia percintaan. Nih, semisal ternyata Oppa kamu selingkuh dari kamu, tapi kamu masih sangat sayang sama dia. Aku jamin deh pasti kamu juga gak bakal mukulin Oppa kan?”
“Ya gak mungkin juga aku mukulin dia, orang dia lebih jago bela diri dari aku!”
“Ya semisal dia gak jago bela diri, apa kamu akan memukulinya?”
“Mungkin enggak, yang pasti hubungan kita selesai!”
“Tapikan kamu masih sangat mencintainya?”
“hmm...mungkin pertama aku cari bukti dulu, apa betul dia selingkuh. Kalau perlu aku tangkap basah, kalau akhirnya bukti-bukti ada dan dia juga mengakui kalau sudah selingkuh. Ya apa boleh buat, terpaksa harus melepasnya!”
“walaupun kamu masih sangat mencintainya?”
“Aku mungkin masih mencintai, tapi dianya enggak, buktinya dia selingkuh. Itu artinya aku menjalani cinta sepihak. Aku sudah janji sama diriku sendiri, tidak akan terlibat cinta sepihak!”
“Kog kayaknya kamu pengalaman sekali?”
“Bukan aku, seseorang yang aku kenal menjalani cinta sepihak selama 8 tahun, hatinya bakak belur, syukurlah orangnya sangat positif thinking sehingga ia bisa bangkit lebih cepat”
“Ooo, syukurlah. Rit, dari semua putri di dongeng Disney, siapa putri yang paling kamu suka, dan paling tidak suka?”
“Ini kuis ya?”
“Penasaran saja, sepertinya temanku ini bulletproof banget sama urusan percintaan”
“Bulletproof bisa saja bikin istilah..hmm...princes disney yang aku suka itu Moana, dia itu pemberani, mengarungi samudra wah keren deh. Perempuan itu harus tegar! Karena dia menjadi tiang untuk anak-anaknya!”
“Kalau yang gak disukai?”
“hmm..Cinderlela”
“Kenapa? Padahal tokoh itu populer lho. Tahu kan dongeng yang jadi kenyataan? Princes Charles dan Lady Diana?”
“Tapi kan ending mereka gak happy!”
“Iya sih betul, kalau kamu jadi lady Diana bagaimana Rit?”
“Sebenarnya Lady Diana ini kalah dalam pertempuran, Dia gak berhasil merebut cinta suaminya”
“Iya betul, pangeran Charles jahat dong ya?”
“Dibilang jahat iya juga, seharusnya ia memikirkan ibu anak-anaknya. Kalau ia punya rasa hormat pada wanita, ia tidak akan terang-terangan mengatakan kalau dari semula ia tidak mencintai Lady Diana. Itu hal paling menyakitkan, betul gak? Tapi dari sisi lain, pangeran Charles juga bisa dipuji, karena setia, setia mencintai wanita yang sama.”
“Jadinya tokoh jahatnya siapa?”
“Kalau kata mamaku, semua yang terjadi dalam dunia percintaan itu sudah ada takdirnya. Pangeran Charles dan Lady Diana itu berjodoh, walau cuma sebentar. Hasilnya, mereka dikaruniai dua anak yang tampan kan? Kalau kamu perhatikan, kedua anak itu belajar dari kesalahan kedua orang tuanya. Perhatiin deh, mereka lebih sayang sama istrinya!”
“Btw kenapa sih dari tadi kamu nanya yang aneh-aneh terus?”
“Enggak, aku kan sering sendirian di rumah”
“Oh bagaimana keadaan mamamu?”
“Sudah berangsur pulih, kemarin beliau pulang terapi berjalan.”
“Apa ada perubahan kepribadian?”
“Maksudnya?”
“Mamamu kan pernah koma, orang bilang kalau pernah mengalami pengalaman mendekati kematian biasanya ia akan menjadi lebih baik, lebih menghargai hidupnya, lebih sayang sama orang sekitarnya!”
“hmm...tentang itu, aku juga gak merhatiin ya? soalnya dari dulu aku gak begitu dekat sama mama, aku kan sekolah asrama dari kecil, baru 2 tahun ini aku gak sekolah di asrama. Kalau tahu bakal kesepian kayak begini, lebih baik aku kembali ke asrama ya?”
“Kamu gak punya kakak atau adik?” tanya Rita, ia menyeruput es coklat yang disuguhkan
“Aku anak tunggal, ayah dan mama menikah hanya sebentar, setelah aku lahir mereka bercerai! Ayah tinggal di Bandung, ia sudah punya keluarga baru. Sedangkan Aku dibesarkan kakek”
“gak heran ya kamu kesepian, kalau begitu kamu boleh main ke rumahku Sis!”
“Iya, kapan-kapan aku main ke rumah kamu ya!”
Seorang lelaki berusia sekitar 60-an mendekati mereka yang sedang asyik ngobrol
“Halo!” tegurnya
Rita berdiri dan menyalaminya
“Selamat sore!” tegur Kakek itu
“Kakek ini temanku Rita” ujar Sisca memperkenalkan, Rita menyalami sang kakek. Kakek hanya tersenyum kemudian meninggalkan ruang tamu
Sisca dan Rita kembali mengobrol sambil memakan cemilan yang disediakan
Tak terasa, satu jam telah berlalu, Rita pamit untuk pulang
“Sis, sudah hampir malam, Aku pulang ya? sampai ketemu besok!” Rita menuruni tangga rumah Sisca, seorang pelayan mendatangi Sisca tergopoh-gopoh
“Nak Sisca, kakek pingsan!”
“Hah? Kakek pingsan?” Sisca segera masuk ke dalam, Rita mengurungkan niatnya untuk pulang, ia menemani Sisca menemui kakeknya.
“Kakek kenapa?” tanya Sisca, ia mendekati kakeknya yang terbaring di lantai
“Permisi Sis” Rita memperbaiki posisi berbaring kakek Sisca, kemudian membantu memberikan pertolongan pertama yaitu PCR.
“Sisca, telepon ambulan, suruh segera datang!” perintah Rita. Sisca melakukan yang diminta Rita.
__ADS_1
Rita terus menekan dada sang kakek, beberapa menit kemudian kakek tersadar
“uhuk..uhuk!!!” ia terbatuk , Sisca menangis ketakutan
“Kakek, jangan sakit!” tangisnya sambil memeluk kakeknya. Beberapa menit kemudian ambulan datang, Sisca menemani kakeknya ke rumah sakit
“Terima kasih Rit! Kalau gak ada kamu mungkin kakekku gak tertolong!”
Rita mengangguk, kemudian mengusap punggung Sisca
“Kamu temani kakek ya, gak usah takut di RS beliau akan dirawat dengan sangat baik!” ujar Rita menenangkan
Ambulan meninggalkan rumah Sisca, Rita memasuki mobilnya, ketika ia hendak menyalakan mobilnya, ia melihat sesosok bayangan menatap kepergian ambulan.
“Siapa tu?” pikirnya, ia pun mengendarai mobilnya dan pulang ke rumah.
Keesokan paginya koper kiriman mamanya telah tiba dengan selamat
“Alhamdulillah!!!” teriak Rita senang, dengan semangat ia membuka koper itu
“EH kog gak ada?” isi koper hanya pakaiannya yang belum sempat ia pakai
“Kemana ya?” pikirnya, kemudian ia datang ke kamar Andi
“Kak Andi!”
“Hah?” Andi masih memainkan game online diponselnya
“Kakak lihat laptop aku gak?”
“Hmm..laptop yang mana?”
“Yang warna hijau, aku pakai sekolah online waktu di London!”
“Oh itu!” Andi menghentikan permainannya, kemudian mengambil laptop hijau dari laci mejanya lalu memberikannya ke Rita
“Nih!”
“Ya aampuunn kak! Aku sudah minta mama untuk ngirim koper jauh-jauh dari London, aku pikir laptop ku ada di koper, ternyata ada di kak Andi!”
“Enggak! Kemarin sore Daniel datang, dia yang antar laptop ini. Dia bilang mungkin kamu mencarinya.”
“Kok dia gak bilang? Tumben biasanya dia nelpon?” tanya Rita heran
“Entahlah, dia juga buru-buru. Dia bilang, besok dia ke London lagi. Om Radian memanggilnya ke sana, jadi mungkin gak bisa antar jemput!”
“Oh iya, terima kasih kak!” Rita semakin bingung, mengapa Daniel tidak menyampaikan langsung padanya, tapi malah melalui perantara Andi. Ia kembali ke kamarnya, ia mencoba menghubungi Daniel, tetapi tidak kunjung diangkat, akhirnya ia menyerah.
Rita membuka laptop hijaunya, kemudian ia sibuk mencetak semua tugas yang telah ia buat selama berada di London.
Pukul 8 malam ia mendapat telepon dari Sisca yang mengabarkan kakeknya telah meninggal dunia.
Rita segera berkemas, ia meminta supir di rumahnya untuk mengantarnya menemui Sisca. Sesampainya di sana, ia menemui Sisca yang menangis sendirian.
“Rita, kakek..” ia tidak meneruskan ucapannya, ia terus menangis. Rita memeluknya.
“Tenang Sis, aku ada di sini” ujarnya menenangkan.
“Aku sudah menghubungi mama, tapi gak diangkat, aku sudah pesan sama orang rumah untuk bilang ke mama tentang kakek” Sisca masih terisak. Rita mendampinginya, orang rumah sakit menawarkan untuk pemakaman kakeknya di rumah duka Heaven on Earth. Sisca bingung karena ia tidak memiliki uang untuk itu, Rita menyanggupi untuk menalangi pembayaran pengurusan jenasah kakek. Uang ditabungannya terus bertambah sejak ia tinggal bersama kakek Darmawan. Jadi ia bisa mempergunakan uang tersebut untuk membantu pemakaman kakek Sisca.
“Sisca, kakek kamu akan dibawa ke rumah duka, kamu belum berhasil menghubungi mamamu?” tanya Rita, Sisca menggeleng. Setelah urusan administrasi selesai, Rita membawa Sisca kembali ke rumahnya, di sana ia tidak menemukan siapapun.
“Peyton, kamu gak tahu mamaku di mana?” tanya Sisca, Peyton sang pelayan menggeleng,ia pun bersedih atas kematian majikannya
“Besok kakek di kubur, kamu tahu gak kakek mau dikubur di mana?” tanya Sisca
Peyton memberikan kunci ruang kerja kakek kemudian ia pergi meninggalkan Sisca sendirian.
“Rita jangan tinggalkan aku sendirian!” pinta Sisca memelas, Rita mengangguk, ia pun menelpon Andi untuk meminta ijin menginap.
Rita menginap di rumah Sisca untuk menemaninya, Sisca masih sangat terpukul, ia sangat ketakutan, mamanya tak kunjung pulang, sementara ia harus dihadapkan dengan banyak pengeluaran untuk pemakaman kakeknya. Karena terus menangis ia pun kelelahan lalu tertidur. Malam telah larut, rumah Sisca yang sepi, semakin terasa sepi. Rita yang tidur di samping Sisca, ia bermimpi kakek Sisca mendatanginya
“Kakek?” tegur Rita, Sosok kakek Sisca memintanya mengikutinya. Rita mengikuti sang kakek. Kakek itu mengajaknya ke ruang kerjanya kemudian ia menunjuk sebuah laci. Rita membuka laci itu, di dalamnya terdapat sebuah kunci brankas. Kakek memberikan isyarat kepada Rita untuk mengambil pulpen, Rita menurutinya. Kakek menunjuk angka-angka di kalender, kode untuk membuka brangkas besi. Setelah itu, kakek pun pergi. Rita terbangun dari mimpinya, ia mengambil kertas dan mengingat-ingat angka yang disebutkan kakek dalam mimpinya, lalu ia membangunkan Sisca
“Sis, Sisca!” Rita mengguncang tubuh Sisca pelan
“Hah?” Sisca terbangun
“Aku ngantuk sekali!”
“Sis, aku mendapatkan angka ini untuk membuka brangkas!”
“Brangkas? Brangkas apa?”
“Brangkas di ruang kerja kakek mu! Mau dicoba?” tanya Rita
Sisca mengambil kunci ruang kantor yang diberikan Peyton sebelumnya. Mereka berdua datang ke ruang kerja kakek, lalu ia menemukan brangkas yang disebut Rita. Mereka mencoba nomor yang telah Rita sebutkan sebelumnya
“Terbuka!” ujar Sisca dan Rita bersamaan. Di dalam brangkas, terdapat banyak uang tunai dan beberapa batang emas, serta beberapa surat-surat. Sisca mengambil 2 gepok uang dan kartu debit. Ia membaca surat yang ditinggalkan sang kakek. Setelah membaca surat wasiat dari kakek, ia kembali mengunci brangkas dan kembali ke kamarnya.
“Rita, dari mana kamu tahu nomor brankas kakek? Kamu kan baru kenal kakek aku sore ini?” tanya Sisca heran
“Ehem..sebenarnya, aku tahu dari mimpi”
“Mimpi? Maksudnya?”
“Tadi sewaktu aku tidur, kakekmu datang ke mimpiku, ia memintaku untuk mengatakan ini semua sama kamu!”
“kenapa ia gak langsung datang ke mimpi ku?” tanya Sisca setengah tak percaya
“Mungkin beliau takut kamu gak percaya, atau takut kamu tambah sedih!”
Sisca hanya diam, ia kembali merebahkan tubuhnya di atas ranjangnya
“Rita, temani aku di sini ya? aku kesepian!” pinta Sisca, Rita mengangguk pelan, kemudian merekapun melanjutkan tidurnya
__ADS_1
-bersambung-