
“Bagaimana hasil pencarian mu?”
“Yeah, aku tidak menemukan siapa pun di apartemen Mario”
“Mungkin Raffa benar, Om Radian ada di Sukabumi, kan dia bilang rumah O” Rita memberikan air mineral kepada suaminya
“Ahh...segarrr!!! entahlah, kita ke Jakarta saja malam ini”
“Oh jadi?”
“Iya! , tadinya aku pikir pencarian Om akan memakan waktu lama ternyata enggak, bahkan belum setengah hari aku sudah selesai berkeliling mencari Om Radian”
“Sama sekali tidak berjejak?”
“Sama sekali! Tapi itu artinya persembunyiannya berhasil, kalau semudah itu pasti Pak Radian dalam kesulitan, aku mandi dulu ah!” Daniel bangkit dari kursinya dan berjalan menuju kamar mandi
“iiiii!!” tegur Rayya yang merangkak mendekati kaki Daniel
“Eh Adek!...wah papi bau nih! Mi!! Adek nih!” Daniel mengangkat Rayya dan menaruhnya di kursi bayi
“Taruh saja di situ” Rita baru saja selesai merapikan dapur, ia menyiapkan makan dan minuman untuk anak-anaknya selama perjalanan ke Jakarta.
“Abangg!!!” panggil Rita, Raffa berlari dari ruang depan TV mendekati maminya di dapur
“Yes mi?”
“Bang, tolong jaga adek sebentar, mami mau ambil tas untuk menaruh ini semua!” pinta Rita
“Yes Mi! Adekk!!!” Rayya mengambil tempat duduk di dekat Rayya dan memperhatikannya, ia teringat sesuatu, ia berlari sebentar ke kamarnya mengambil mobil-mobilan
“This cal..these wheels, dools, windows” Raffa mengajarkan bagian-bagian mobil pada Rayya
“alsss” balas Rayya
“yes! Cals..smart gil!” puji Raffa menepuk kepala adeknya
“alllsss!!” Raffa ikut teriak senang, mendengar kedua adeknya berteriak, Ranna menghentikan mainnya lalu menghampiri kedua adiknya
“Kamu ngapain?” tanya Ranna
“i watching ayya” jawab Raffa sambil memberikan mainan mobilnya kepada Rayya
“Kenapa ayya boleh pegang mobil kamu, tapi kakak gak boleh?” protes Ranna melihat Rayya mendorong mobil mainan
“because kakak bad! You tholw my cal to bin!” jawab Raffa, ia masih kesal dengan kelakuan Ranna
“maappp...”ujar Ranna, ia mengambil mobil mainan dari Rayya
“kakak! Don’t do that!” larang Raffa, ia menarik mobilnya dari tangan Ranna
“ aku pegang aja!” jawab Ranna mempertahankan
“No!!!” Raffa berteriak kesal, ia merebut dari Ranna
“You bad!” ujar Ranna, ia mendorong Raffa hingga terjatuh
“NO you bad gil!” jawab Raffa, ia menarik Ranna hingga terjatuh juga akhirnya keduanya saling bergulat di depan Rayya, sementara Rayya memukul-mukul mejanya kegirangan, ia pikir kedua kakaknya sedang bermain. Daniel melihat kedua anaknya berkelahi
“ hey kalian!” ia menarik keduanya, Ranna dan Rayya menghentikan perkelahiannya, keduanya menangis
“Kenapa berkelahi?”
“huuhuu...adek pelit!”jawab Ranna, ia terlihat kesal
“I don’t want to give my cal!” teriak Raffa
“Abang!!! Kenapa?”
“She thow my cal to bin!” jawab Raffa kesal
“Thow?” Daniel bingung dengan bahasa Raffa
“throw!” ujar Rita dari belakang
“Ohh...throw! kakak kenapa begitu?” tanya Daniel
“becanda!” jawab Ranna
“Not funny!” ujar Raffa ia menarik boneka Ranna dan melemparkan ke tempat sampah
“you!!!”Ranna mendorong Raffa dan kembali berkelahi
“Kalian!!!” suara Daniel terdengar kesal
“Huaaaaaaa!!!!” kedua anaknya menangis mendengar suara galak papinya, Rayya mendengarnya juga ikutan menangis
“huaaaaaaaaa!!!” apartemen itu kini ramai dengan suara tangisan anak-anak
Daniel terdiam, ia kini bingung. Rita memperhatikan sejak tadi, ia merasa geli melihat suaminya melerai pertengkaran kedua batita.
Beberapa menit kemudian suara tangisnya berhenti, mereka terlihat lelah
“Sudah nangisnya?” tanya Daniel, Ranna dan Raffa berhenti menangis
“Kakak! Jangan suka memaksa ya? kalau tidak dikasih jangan direbut, itu tidak baik! Abang juga, kamu gak boleh pelit!”
“but..she..” jawab Raffa
“Iya! Kakak juga jangan membuang mainan orang! Itu tidak lucu! Kamu gak suka kan mainan mu dibuang?” ujar Daniel menasehati. Ranna mengangguk
“Sekarang kalian harus apa?” tanya Daniel
“Maappp!” ujar Ranna, ia mengulurkan tangannya, Raffa masih enggan, ia tampak masih kesal pada kakaknya
“Abang! Kalau orang minta maaf harus dimaafkan supaya Tuhan juga memaafkan Abang kalau abang salah” ujar Daniel. Akhirnya Raffa membalas uluran tangan Ranna
“nahhh...begitu dong!! Kemari peluk papi!” keduanya kompak memeluk papinya
“Sudah main lagi sana!” keduanya hendak pergi
“Eh iya kak Ranna! Kemari papi mau bicara, Abang jaga adek dulu ya?” Daniel menuntun anak pertamanya ke depan TV
“Kak Ranna kemarin mendorong anak lain ya?” tanya Daniel lembut, Ranna mengangguk
“Sebelumnya juga pernah kan? Anak itu sampai jatuh dan menangis?” tanya Daniel lagi, Ranna kembali mengangguk
“Kalau kakak didorong orang atau dipukul orang tanpa tahu salahnya, kakak bagaimana?”
“Aku push lagi! Aku pukul lagi!” jawab Ranna
“Tapi kalau anaknya lebih besar dari kakak gimana?” Ranna terdiam
“Kakak harus sabar ya kalau main, jangan dorong-dorong orang, jangan menarik mainan anak lain kalau gak diberi, itu tidak baik sayang! Kamu mengerti kan? Kak Ranna anak baik kan?” bujuk Daniel, Ranna tertunduk dan mengangguk
“Pintar!! Lain kali jangan begitu lagi ya?” ujar Daniel sambil memeluknya, lalu mencium pipinya
“ihhh...papi gemesssshhh sama anak papiiii!!!” Daniel menggelitik leher anaknya hingga kegelian
“ahhhh papiiii...geliii!!” teriak Ranna, ia melepaskan diri dari papinya dan kembali ke kamarnya. Daniel kembali ke dapur lalu menggendong Rayya
__ADS_1
“Abang bisa main lagi, terima kasih ya bang!” ujar Daniel sambil mengusap kepala anaknya, Raffa tersenyum lalu berlari kembali ke kamarnya. Rita menepuk tangannya
“Hebat pak Daniell!! Anda lulussss!!” ujar Rita tersenyum, ia membawa tas untuk diisi masakan
“Lulus?” tanya Daniel heran
“Iya lulus! Aku gak keberatan deh Rayya punya adek lagi kalau kamu mendidik anak-anak seperti itu!” ujar Rita
“Memangnya tadinya kamu keberatan?”
“Iya dong!, masa kamu ingin disebut orang tua yang gak bisa mendidik anak-anak? Sudah anaknya banyak tapi gak bisa diatur, wah itu parah banget!”
“tumben kamu memperhatikan omongan orang?”
“Hanya hal-hal yang penting saja, kalau gak penting ya gak usah!” jawab Rita sambil memasukkan masakannya ke dalam tas
“Kamu lagi ngapain sih?”
“Ini, aku masak untuk perbekalan di jalan nanti”
“Repot amat! Gak repot membawanya nanti?”
“Aku kemarin membeli ini” Rita mengambil sesuatu dari balik lemari
“Taraaaa!!!” sebuah stroller bertingkat
“Stroller lagi?”
“Ini bukan sembarang stroller, nih” Rita membuka stroller bertingkat itu
“Nah, di atas ini untuk si Adek, di belakang ini untuk tas, juga bagian bawah untuk tas kita
“Lalu stroller yang sebelumnya gak terpakai?”
“Anak kita kan tiga, mereka naik stroller lama, adek naik yang ini bersama barang-barang, kamu juga gak perlu menggendong lagi, cukup menggendong ransel ini saja”
“Tetap menggendong ?”
“Tapi kan gak seberat gendong anak, Raffa-Ranna sudah 10 kg lebih lho!”
“Memang! Jadi apa yang harus aku bantu?”
Mereka bekerja sama memasukkan barang-barang yang hendak dibawa ke Jakarta
“Cuma segini?” ledek Daniel melihat bawaan nya yang banyak
“Iya! Kita gak perlu membawa baju kecuali baju anak-anak, toh perjalanan Cuma 90 menit”
“Cuma 90 menit tapi kamu kayak orang pindahan”
“Ada beberapa barang di sini yang aku bawa untuk di Jakarta, sayang kalau harus beli lagi”
“Kenapa gak lewat jasa ekspedisi saja?”
“Terlalu ribet! Barangnya bisa masuk bagasi pesawat kok!”
“Yuk kita siap-siap!”
“Memangnya jam berapa penerbangannya?”
“Jam 5, ini sudah jam 2! Kita keluar dari tempat ini pasti setengah 4”
“Aku sih sudah mandi sejak tadi, tinggal berpakaian”
“Oh begitu kalau begitu kita ganti pakaian saja” Keduanya bergantian berpakaian, satu jam kemudian mereka telah siap, Rayya menangis rewel
“Ah dia belum terbiasa dengan stroller barunya” ujar Daniel, ia menukar Rayya dengan Ranselnya, akhirnya Rayya kembali ia gendong.
Akhirnya mereka keluar dari apartemen dan menuju bandara dengan menggunakan taksi dengan kapasitas besar dan mereka tiba setengah jam kemudian di bandara changi.
“Mami, aku lapar!” ujar Ranna
“Me too!” ujar Raffa, Rita segera membuka tas di strollernya dan memberikan dua buah tempat makanan dengan peralatan makannya
“Nih, makannya jangan berantakan ya?” keduanya menerima tempat makan itu dan melahapnya dengan nikmat, Daniel memperhatikan istrinya
“Itu tempat makan sekali pakai?”
“Iya, aku membelinya kemarin uji coba untuk take away cafe, kalau pakai Styrofoam itu mencemari lingkungan, kalau pakai tempat ini mudah di urai di lingkungan hanya dalam beberapa bulan, tempat minumnya juga”
“Apa aman untuk anak-anak?”
“Tentu dong! Bahan untuk membuat ini dari batang tebu, jadi organik sifatnya”
“Apa ada tambahan cairan kimia khusus?”
“Pasti ada tapi aman kok, aku sudah membaca jaminan kesehatan. Kamu tahu sendiri pengawasan di negara ini lebih baik dari pada di Indonesia”
“Begitu ya, kalau begitu aku mau juga deh!”, Rita membuka kembali tasnya, lalu memberikan tempat makanan lain kepada suaminya, juga untuk dirinya.
“Wah, bawaan ku jadi lebih ringan!” ujar Rita tersenyum
“Sudah habis?”
“Aku membuat 4 kotak untuk kita, sedangkan Rayya kan masih makanan bayi, dia juga sudah makan banyak tadi”
Panggilan memasuki ruang tunggu pesawat, stroller baru Rita harus masuk bagasi, juga stroller para batita. Mereka memasuki pesawat yang membawanya menuju Jakarta. Penerbangan berjalan lancar dan aman , mereka tiba di bandara Soekarno-Hatta dengan selamat. Di bandara Ridwan sudah menunggu mereka.
“Eh pak Ridwan?” tanya Daniel heran
“Selamat malam pak Daniel!” sapa Ridwan
“Aku menghubungi beliau untuk menjemput kita di sini” ujar Rita,
“ooo, tumben”
“Kita akan sangat kerepotan jika harus menunggu taksi, apalagi anak-anak kita mudah sekali bosan”
Daniel mengangguk, ia kagum dengan istrinya yang sangat memperhatikan hal mendetail semacam itu
“Ayo, kita pulang mobil sudah di depan!” ajak Ridwan, setelah mengambil bagasi mereka pun masuk ke dalam mobil vell fire putih dan menuju rumah besar
“Alhamdulillahhh...akhirnya sampai juga di rumahh!!!” Rita merebahkan tubuhnya di sofa, juga Daniel, anak-anak sudah dilepaskan dari strollernya, mereka langsung menyalakan TV dan duduk rapi menonton tayangan film anak.
“Bebenahnya besok pagi saja ah! Aku capek” Rita berjalan gontai menuju kamar, ia mengambil pakaian tidur lalu ke kamar mandi. Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian ia pun sholat Isya, kemudian langsung tidur.
“Abang! Kakak! Sudah malam, ayo kita cuci muka dan ganti pakaian” ajak Daniel. Kedua batita berlarian menuju kamar, mereka menyikat gigi dan membasuh wajah lalu berganti pakaian
“Kalian sudah pipis? Supaya gak ngompol”
“Doneee!!!” teriak Raffa
“Sudah pi!” jawab Ranna
“Good, ayo bobo!” Daniel meletakkan Rayya yang sudah lelap tertidur sejak tadi di boksnya, ia juga mengantar kedua anaknya tidur. Daniel mengganti popok dan pakaian Rayya lalu menyalakan sensor dan penyaring udara di kamar anaknya, perlahan ia keluar dari kamar anaknya.
Sebelum tidur ia memeriksa semua pintu dan jendela kamarnya, kemudian ia pun membersihkan diri lalu sholat Isya setelah itu ia bergabung dengan istrinya yang sudah terlelap lebih dulu di dunia mimpi.
Hari itu hari Kamis,Rita dan Daniel baru tiba kembali tadi malam, setelah sholat subuh mereka kembali tidur karena kelelahan.
__ADS_1
Rita menuliskan pesan kepada pak Ridwan, agar para baby sitter yang kini berjumlah 3 orang datang agak pagi untuk mengurus anak-anak tanpa mengganggunya.
Rita dan Daniel terbangun pukul setengah sebelas
“ahhh....nikmat sekaliii...alhamdulillahhh!!!”ujar Rita
“Hoaahhh...aku masih mengantuk, tapi anak-anak gimana?” tanya Daniel, Rita beranjak dari ranjang lalu membuka pintu kamar, ia melihat ke kamar anaknya yang kini telah kosong.
Untuk meyakinkan dirinya, ia membuka tablet lalu melihat CCTV untuk memantau ruang bermain , ia melihat ketiga anaknya sedang bermain dan dalam pengawasan baby sitter.
“Sudah aman!, aku tidur lagi ah!!!” ujarnya kembali ke kamarnya, ia membawa tablet
“Anak-anak?” tanya Daniel , Rita memberikan tablet yang menampilkan anak-anak yang sedang bermain
“Bagus deh, sebenarnya aku lapar tapi aku juga mengantuk dan capek” keluh Daniel
“Aku juga!, kita tidur lagi saja!” Akhirnya Rita dan Daniel kembali terlelap, mereka terbangun pukul satu siang, kedua anaknya berlompatan di ranjang mereka, rupanya Rita lupa mengunci pintu kamar mereka
“Papi! Ayo bangun! Bobo teus?” Ranna menomplok wajah papinya, sedangkan Raffa memegang wajah Rita
“Mami wake up!” ia menciumi wajah maminya membabi buta
“hahahaha...iya abang..iya mami bangun nih!” Rita tertawa lalu memeluk Raffa dengan sayang
“Papiiii!!!”Ranna menarik pipi Daniel
“Aduuhhhh kakak! Sakit nih!!!” protes Daniel kesakitan karena pipinya ditarik
“Hah!!!” Ranna nomplok kepala papinya
“Kak Ranna!! Papi gak bisa nafas nih!”
“hahahaha!!” Ranna tertawa karena mulut Daniel yang tertutup badan Ranna menggelitiknya.
Setelah kedua orang tuanya bangun, kedua anak itu kembali keluar untuk bermain
“Aku masih malas nih!” ujar Daniel kembali rebahan
“Sama! Tapi aku bersyukur jadi orang kaya”
“Hah? Kenapa tiba-tiba?”
“Ya, coba bayangin saja, aku tadi capek sekali kalau harus mengurus tiga bayi, jadi aku meminta baby sitter yang mengurus mereka, jadi kita bisa rebahan agak lama”
“Iya juga!, makanan anak-anak gimana?”
“Aku sudah menuliskan resep untuk para koki di sini untuk makanan anak-anak siang ini”
“trrrrrrttttt!!!” perut Daniel berbunyi
“Perut ku lapar!” ujarnya tersenyum
“ayo kita makan, kayaknya tadi aku melihat makanan sudah terhidang di meja makan”
Mereka keluar dari kamar, setelah mencuci tangan mereka pun makan
“uenakk!!” ujar Daniel dengan mulut penuh
“hehehe...iya kan? Ini resep baru, aku minta para koki memasaknya untuk kita!”
“Kamu makin pintar menyuruh orang ya?”
“Lho aku kan menggaji mereka, wajar kan? Lagi pula kalau aku gak butuh jasa mereka, mereka bakal kehilangan pekerjaan lho, mereka senang banget dapat tugas dari aku” ujar Rita sambil menggigit kerupuk. Daniel mengangguk
“Besok kita jadi ke Sukabumi?” tanya Daniel
“Terserah kamu!, mau nginap di sana atau pulang hari?”
“Gimana ya? aku masih capek sih, apa hari Sabtu saja?”
“Ya terserah!, Aku ikut kamu saja”
“Ke Sukabumi ada tol kan?”
“Ada, bocimi, mempercepat perjalanan hingga 2 jam!”
“Kalau begitu besok saja kita kesana lalu Minggu pagi pulang”
“Kamu gak capek?”
“Kan yang bawa mobil bukan aku, tapi supir”
“Tuh kann..bersyukur ya kita jadi orang kaya!”
“memangnya kita kaya ya?”
“Lho memangnya kamu gak perhatikan dimana kita tinggal?”
“Iya sih, tapi ini kan punya kakek mu!”
“Tapi apartemen kita di Singapura itu juga mewah lho, kemarin aku mendengar OB bilang nilai apartemen kita yang menjulang tinggi nilainya, jadi kamu itu kaya!”
“Alhamdulillahhhh!!!..Semoga kaya dan berkah ya?”
“Aamiinnn”
Esok paginya mereka berangkat ke Sukabumi
“Kok bawaan kamu gak seheboh kemarin?”
“Aku hanya membawa makanan anak-anak, serta beberapa cemilan. Kalau mau makan nanti kita bisa berhenti di beberapa tempat untuk makan, sekalian wisata kuliner!”
“Ah iya! Benar juga! Itu dia!”
“Apa?”
“Aku ingin kita wisata sekeluarga, aku kemarin melihat beberapa tempat wisata di...Gurut?”
“Gurut? Garut kali”
“Nah itu!, nanti sebelum kita tinggal di Swiss, kita wisata keluarga dulu ya?”
“Asyikk...!!!” Rita bertepuk tangan kegirangan, rombongan Rita berangkat menuju Sukabumi.
“Papi..” Raffa duduk dipangkuan Daniel
“Kenapa bang?”
“hhh!!” Raffa memeluk papinya
“Dia lagi pengen manja pi” ujar Rita
“Oh begitu” Daniel memeluknya dan menepuk-nepuk punggung anaknya lembut, sementara Ranna dan Rayya asyik menonton film kartun
“Tumben kamu gak tidur?” tanya Daniel ke Rita
“Oh ini, aku makan kacang koro, katanya ini anti mabuk perjalanan. Lebih baik makan ini kan dari pada minum obat mabuk terus”
Daniel mengangguk, ia kembali menatap keluar, tak hentinya rasa syukur terucap dari lubuk hatinya
__ADS_1
“Terima kasih ya Allah atas nikmat mu yang tak terhingga ini” batinnya
_Bersambung_