
“Mami..mami...!” Ranna langsung berlari masuk ke dalam rumah yang mulai ramai dengan tamu undangan
“kak Ranna? Kok sendirian? Papi mana?” Rita langsung menggendong Ranna, dilihatnya perban di tangan dan kaki Ranna
“kakak kenapa?” tanya Rita
“Kakak diculik mi” Ranna memeluk maminya manja.
“Hah?” Rita tidak mempercayai apa yang baru ia dengar
“Dia hampir diculik, syukurlah aku berhasil mengejarnya “ ujar Daniel sambil menggendong Raffa
“Terus penculiknya berhasil ditangkap?”
“Iya, sudah diproses” jawab Daniel, ia langsung ke lantai 2 bersama Raffa untuk bersiap menerima tamu. Rita yang sudah rapi tampak tidak puas dengan jawaban singkat Daniel.
Diam-diam dia menghubungi Lisa untuk meminta nomor telepon kenalannya ke kepolisian.
“Lis, nomornya om Gunawan dong”
“Buat apaan Rit?”
“Gue ada perlu mendesaakkk banget”
“Sekarang beliau sudah kapten lho”
“Wah hebat!”
“Iya hebat ya, padahal masih muda. Prestasinya bagus, beberapa diantaranya lo yang bantuin tuh”
“Oh ya? gak tau gue. Kira-kira beliau ingat gue gak ya?”
“Inget dong, kadang-kadang dia suka nanyain lo, btw ada masalah apa?”
Rita menceritakan yang terjadi pada Ranna, Lisa mendengarkan, ia turut geram.
“Sialan tu orang!, gue kabarin nanti Rit tenang aja ya?” ujar Lisa. Percakapan pun selesai.
Acara selametan berlangsung dengan lancar, para tamu tampak puas dengan hidangan yang disajikan
Sepanjang acara Rita terus menggendong Ranna untuk menenangkannya.
“Enak banget, ini cateringnya dari mana ya?” beberapa ibu-ibu mencari merek catering di besek
Ketika ART lewat mereka langsung menanyakan
“Mba, ini cateringnya dari mana ya? saya minta nomornya boleh?”
“Oh ini, bu Rita sendiri yang membuat bu” jawab ART sambil berlalu
“Hah Rita bisa masak? Mana enak lagi?”
Ibu-ibu yang dulu anaknya pernah dibully oleh Rita dan menjadi tamu undangan terkesima dengan Rita yang sekarang.
“Beda banget ya waktu dia zaman SMP, dulu hampir seminggu sekali dokter Reza datang ke sekolah karena dia sering berantem” gibah para ibu
“Iya, tapi anehnya ia selalu lolos dari hukuman” jawab ibu yang lain
“Itu karena dia membela anak-anak yang dibully bu, anak saya termasuk yang dibelain Rita. Dia hebat lho, lawannya kakak kelas. Sejak Rita turun tangan, gak ada lagi anak yang dibully “
“Tapi terus dia pindah ya?”
“Iya pindah ke Jakarta, terus balik lagi kemari ketika kelas 2 SMA”
“Ooo begitu, suaminya orang Korea ya?”
“Iya, ganteng banget ya?”
“He eh..anak-anaknya saja cakep-cakep”
Acara selesai pukul 3.15 menjelang sholat Ashar . Daniel sholat di mesjid terdekat bersama O saat itu dipergunakan Rita dengan baik,
“Suster, saya titip anak-anak ya? saya ada keperluan. Kalau bapak nanya bilang saja saya ke rumah Lisa”
“Baik bu”
Asisten dan tim pembersih dari panti membantu membersihkan rumah .
Di tempat lain,
“Kak!” Rita menegur Dewa
“Rit!” mereka berdua memasuki kantor kepolisian tempat penculik Ranna berada. Rita dan Dewa menemui Gunawan di sana. Beberapa saat kemudian tahanan penculik Ranna di bawa ke ruangan interogasi.
“Kakak tunggu di luar saja” pinta Rita. Ia telah berpakaian kick boxer, ia memakai masker hitam untuk menutupi wajahnya. Ia mematikan CCTV di ruangan tersebut.
Tahanan tadi bingung didatangi seorang perempuan muda berpakaian hitam-hitam dan memakai sarung tinju.
“Eh ada apaan nih? pak polisi!!! “ ia mulai ketakutan, Rita menamparnya lalu memukul wajahnya
“buak!..buak!” Dewa hanya mendengarkan bunyi pukulan dari luar ruangan interogasi
“Kamu siapa? Saya salah apa sama kamu?” teriak tahanan itu
“Salah apa? huh? Lo salah culik anak! Buak... buak!” kali ini pukulan mendarat di perutnya. Rita berkali-kali menghantamkan upper cut
“Ampun...ampun...” tangis tahanan itu
“Berapa orang?” tanya Rita
“Hah?”
“Gue tanya berapa orang? Buak!!!” Rita menendang tulang keringnya
“Aduhhh.....5!...lima orang”
“sebutin alamatnya! Sebutin!!! Buak!!!” kali ini ia menendang paha kanannya
Tahanan itu menyebutkan alamat markasnya, dan berapa anak yang telah mereka culik. Rita mengakhiri interogasinya dengan mengancam
“Heh! Lo tahu kan ini terjadi karena kesalahan lo?” bisik Rita, tahanan itu mengangguk
“Kalau lo mengadukan yang terjadi di sini sama orang-orang ditahanan, gue pastiin lo akan menderita seperti ini setiap hari!” bisiknya
“Iya...saya gak akan mengadu!” ujarnya lalu ia pun pingsan. Ia dibawa ke rumah sakit untuk diobati atas biaya Rita.
“Kenapa harus kamu yang biayai?” tanya Gunawan
“Dia harus terpisah dulu dari tahanan lain, sampai lukanya sembuh. Saya juga gak mau Om dapat kesulitan karena saya” ujar Rita
“Saya sudah mengerahkan anak buah ke alamat yang disebutkan orang tadi, mudah-mudahan yang ia katakan benar”
“Seharusnya benar Om, dengan luka kayak begitu jarang bisa bohong” ujar Rita tersenyum
“Kamu yakin gak mau masuk kepolisian saja Rit?”
“Enggak ah Om, anak saya sudah tiga. Saya nikmati kok jadi ibu rumah tangga, oh iya tadi kami selametan rumah, banyak nasi kotak. Saya bawa semua ke sini”
“nasi kotak? Asikkk....saya ambil 2 ya? kayaknya enak nih”
“Silakan Om!”
Setelah urusannya selesai, Rita pulang bersama Dewa, mereka saling terdiam.
“Kak Dewa!”
“Hah? Eh ya Rit?”
“Kak Dewa jadi pengacara saja gimana?”
“Pengacara? Di mana?”
“Kakek Darmawan ada program bea siswa untuk anak-anak berprestasi. Kak Dewa kan pinter, sayang kalau gak dipergunakan kepinterannya. Nanti kalau sudah lulus bisa sekolah langsung ke luar negeri”
__ADS_1
“Luar negeri? Mana Rit?”
“Belanda, untuk lebih mendalami hukum di sana. Waktu itu berjalan sangat cepat kak, jangan di sia-sia kan. Kerja di pak Umar itu cuma iseng saja kan? Bukan pilihan karir?”
“yaa...karena ijasah kakak kan cuma SMA Rit.”
“Nah itu Kak, ikut program bea siswa saja, Rita kirim linknya ke email kak Dewa.”
“kuliah hukum? Untuk bantu kamu kalau ada kayak gini ya?” ledek Dewa
Rita tersenyum,
“Rita duluan Kak!” taksi berhenti di kelurahan, Rita hendak mengembalikan ular kecil yang diambil Ranna sebelumnya
“Rita!” Dewa memunculkan kepalanya
“Ya kak?”
“Terima kasih!” ujarnya tersenyum
“Sama-sama!” Rita melambaikan tangannya, ia menghampiri tukang ular .
Sementara Dewa yang berada di dalam taksi teringat momentnya bersama Rita satu jam sebelum Rita menikah.
Flash back...
Diam-diam Dewa ke ruang rias Rita.
“tok...tok...”
“ya masukk?” jawab suara dari dalam, Dewa masuk ke dalam ruang rias, ia terkesima melihat Rita yang begitu cantik berbalut kebaya putih. Di ruangan itu hanya ada Rita
“cantik sekaliii” gumam Dewa
“Eh kak Dewa, terima kasih sudah mau datang...maaf mendadak...hehehe..”ujar Rita malu
“Eh..gak apa..apa...Rita...apa kamu gak terburu-buru untuk menikah? Kamu kan masih muda? Kamu bilang masih mau jadi chef?” ujar Dewa mendekati dengan suara memburu
“Kenapa kak Dewa tiba-tiba?” tanya Rita bingung dengan sikap Dewa
“kakak hanya heran saja, seorang Rita yang cita-citanya tinggi kok tiba-tiba menikah? Memang sih Daniel ganteng, tapi ganteng itu Cuma sebentar Rit, lama-lama dia akan jadi tua , perut buncit dan botak” ujar Dewa
“hahaha...saat itu terjadi Rita juga sudah keriput dan tua kak!” jawab Rita
“Maksud kakak, apa sekarang ini harus menikah? Nanti kalau sudah menikah dia melarang mu berkarir gimana?”
“Daniel sudah janji tidak akan menghalangi karir Rita”
“Kamu yakin? Nih ya, cowok itu kalau belum dapat mau nya pasti ngomongnya sesuai yang diinginkan cewek tapi kalau sudah dapat pasti ingkar deh!”
“Kok kak Dewa tahu banget? Pengalaman pribadi ya?” ledek Rita
“Iya..eh..enggak! maksud kak Dewa...”
“Kak Dewa, hentikan! Rita sudah mantap kok menikah sekarang!”
“Hah? Mantap? Kok bisa?”
“hmm...dari kecil Rita memang sudah ingin menikah muda kak, punya suami, punya anak, punya usaha..”
“Tapi apa harus sekarang? Kenapa gak nunggu kakak..” suara Dewa mengecil
“Rita sangat menyukai Daniel sejak pertama kali bertemu, feeling Rita kuat sama dia. Banyak rintangan yang telah kita hadapi dan akan kita hadapi, tapi Rita mantap bersama Daniel kak! Rita harap kak Dewa mendoakan yang terbaik untuk pernikahan Rita ini. Dan Rita juga berdoa semoga kak Dewa menemukan belahan jiwa kak Dewa yang menerima kak Dewa apa adanya” jawab Rita
Di luar, acara hendak di mulai. Dewa terdiam dengan perkataan terakhir Rita.
“Baiklah Rit, kak Dewa ucapkan Semoga berbahagia, sakinah, mawaddah, warahmah hingga maut memisahkan!”
“aamiin...terima kasih banyak Kak Dewa!” jawab Rita tersenyum
“Sudah sampai kak!” supir taksi memecah lamunan Dewa, ia telah tiba di rumahnya .
“Berapa pak?” tanya Dewa hendak membayar ongkos taksi
“Sudah dibayar oleh mba yang tadi”
“11 pesan? “ dia membuka jaket dan memutar rekaman pesan
“Dewaa...katanya kamu di DO ya? kenapa gak bilang? Mama kewalahan di sini..Isye sering bertengkar sama papa karena papa mu mabuk-mabukan terus. Dia berani main perempuan sekarang”
“Dewa! Mama minta kamu bertahan ya nak? Mama akan usahakan membujuk papa mu supaya mau membiayai mu kuliah lagi!”
Terdengar suara pukulan dan cacian dari papa tiri Dewa.
Beberapa bulan lalu ..
Dewa berkunjung ke Bali, ke rumah mamanya
“Assalammu’alaikum...mama! Dewa kangen!” Dewa memeluk mamanya erat
“Wa’alaikummussalam..aduh...jangan peluk terlalu keras, mama kan sudah tua sudah gak kuat badannya” jawab mamanya
“Isye mana mah?”
“Oh dia kerja di cafe sekarang”
“Kerja? Bukannya seharusnya dia sekolah?”
“Dia bilang mau ikut paket C saja!, sudah lah kamu gak usah pikirin adek mu!” ujar mamanya mengajak Dewa masuk ke rumahnya
Dewa memperhatikan wajah mamanya yang kelihatan lebih lelah dari biasanya. Tangannya tampak kasar, seperti bukan ibu pejabat.
Papa tiri Dewa seorang pejabat perusahan pemerintah dengan reputasi cukup tinggi.
Mereka memasuki ruang tamu yang tampak sederhana.
“Mama sehat ma?” tanya Dewa
“Alhamdulillah sehat Dewa, kamu mau berapa hari di sini?”
“Selamanya? Hehehe...”
Gurat kekhawatiran terpancar dari raut wajah mamanya, tapi setelah mendengarkan tertawanya Dewa, ia ikut tertawa
“ah kamu masih lucu saja, bagaimana kuliahnya?”
“Susah ma, mungkin Dewa gak cocok dibagian teknik” keluh Dewa
“Kenapa milih jurusan itu?”
“Habis itu yang paling bergengsi ma, anak yang masuk situ kesannya wahh...pinter banget!”
“Kamu masuk situ gara-gara pengen dipuji pinter?”
“tiap orang kan butuh pengakuan ma!”
Dewa tinggal di salah satu paviliun di rumah itu. Di malam hari , sayup-sayup ia mendengar suara orang bertengkar dan beberapa barang pecah. Tadinya ia tidak peduli, dia pikir itu pertengkaran tetangga sebelah yang sering terjadi. Tapi kemudian ia berpikir lagi kalau rumah itu jauh dari rumah tetangga, akhirnya ia bangun dan menghampiri sumber suara.
“prang...prang...” bunyi piring dipecahkan
“Sampai kapan kamu main perempuan terus? Sampai kapan!” teriak mamanya Dewa
“Terserah aku! Plak!!plak!!” tamparan mendarat di pipi mama. Tidak terima ditampar, mama menarik rambut suaminya, mereka pun saling memukul . Dewa seperti tidak percaya pada apa yang dilihatnya, mama dan papa tirinya berkelahi layaknya bocah SD berebut mainan. Dewa mendatangi mereka dan memisahkan
“Ma...pa! sudah lah!” teriak Dewa , susah payah ia memisahkan
“Kamu!! Ngapain kamu di sini?” hardik papa tirinya
“Dia anak ku! Kenapa gak boleh?” jawab mama
“Dia sudah dewasa, seharusnya gak butuh kamu lagi!” teriak papa tirinya sambil berlalu, ia tahu Dewa memiliki kemahiran bela diri, ia takut dibuat semaput olehnya, suara mobil terdengar, papanya pergi dari rumah.
Dewa mengajak mamanya duduk lalu memberinya minum.
__ADS_1
“Ma, sejak kapan kalian seperti ini? “ tanya Dewa prihatin
Mama memalingkan wajahnya menghindari tatapan wajah Dewa.
“Kita kembali ke Sukabumi saja yuk ma? Kita mulai lagi dari awal” ajak Dewa
“Ke Sukabumi? Mama sudah tua Dewa, mama bisa apa?”
“Kita bisa buka usaha ma, laundry, cafe, apa saja!” bujuk Dewa
“Modalnya? Semua butuh modal Dewa, setidaknya di sini hidup mama ditanggung”
“Tapi mama jadi samsak terus”
“Tapi sekarang mama bisa membalas Dewa, kamu lihat tadi kan?” jawab mamanya
“Tapi ma, itu karena dia lagi gak serius kalau serius mama bisa terluka”
“Sudahlah, kamu gak usah ikut campur rumah tangga mama”
“Ma, sebenarnya Isye kemana? Sudah malam kenapa dia gak ada?” tanya Dewa menyelidik
“Isye sekarang tinggal sama bule, dia bilang ingin hidup lebih tenang di sana”
“Bule? Bule mana? Kok mama biarkan?”
“terpaksa Wa, waktu itu papa mu membawa temannya yang mabuk kemari, dia hendak melecehkan Isye.”
“Sudah atau akan?”
“akan...tapi Isye shock. Jadi dia pergi dari sini”
“Isye itu kan anaknya, apa dia gak berbuat apa-apa?” tanya Dewa heran
“Yang melecehkan Isye itu bosnya, dia takut dipecat”
“Sialan tu orang!” Dewa mulai marah
“Dewa! Hentikan! Sebaiknya kamu tidak di sini. Kekuasaan papa mu di sini besar, dia bisa membuat mu ditahan polisi untuk hal-hal remeh!” ujar mamanya memperingatkan
“Tapi maa...”
“Mama gak akan apa-apa Dewa...nanti kalau kamu sudah mandiri, kamu bisa jemput mama dan Isye di sini” ujar mamanya.
Malam itu juga Dewa keluar dari rumah mamanya dan kembali ke Sukabumi, hatinya hancur berkeping-keping. Dia sebagai anak lelaki tidak bisa melindungi orang-orang yang ia sayangi.
Dewa termenung di teras kamarnya, bunyi ponsel mengusik lamunannya
“Heh Ar!” sapa seseorang
“Ya?” jawab Dewa
“Ngapain lo jadi pelayan?” hardik seseorang
“Siapa nih?” tanya Dewa heran
“Belagu lo, ini Raka!”
“eh Ka!...ini Cuma sementara!”
“Sementara..sementara...gak ada deh...nih gue udeh hubungi kedutaan Indonesia di London”
“Hah London? Maksud lo?”
“Ya, lo masuk program bea siswa Darmawan jurusan hukum! Ini sudah terdaftar, sebulan lagi visa lo selesai siap-siap ya?”
“Eh tapi gue gak pernah melamar...”
“Udeh...anggap aja lo udeh melamar! Lo itu cowok berpotensi , ganteng , pinter, kalau Cuma jadi pelayan doang sayang! Nah siapin diri lo deh..”
“Kok ni abang-adek pada maksa?” ujar Dewa
“Heh Ar!, Rita bilang orang macam lo harus dipaksain kalau enggak melamun melulu, ngeliatin orang bergerak elo sendiri diam ditempat”
“Rita bilang begitu?”
“Iye! Dia nelpon gue dengan suara gemas. Dia bilang kak Dewa itu selalu gak jelas! Kesana-kemari mencari alamat...”
“lho kok jadi kayak lirik lagu?”
“Iya kayak cari alamat palsu, apa lo gak mau nolongin nyokap sama adek lo? kalau lo ga ada kerjaan yang mumpuni?”
“Eh , lo kok bisa tau ka?”
“Lo jangan remehin kita Ar!, lo itu sudah jadi keluarga buat kita. Kalau dulu lo bisa bujuk di O sampai jadi orang hebat kayak sekarang, masa lo gak mau kayak dia?” bujuk Andi
Dewa terdiam.
“Jadi gue harus ngapain nih?”
“Ya siapin dokumen yang dibutuhin, nanti ada link di email lo di situ ada persyaratan. Sekolah lo di London ini ditanggung 100 %, ya sekolah, uang saku .”
“Wuiidiiihh...ini sedekah apa-apa nih?”
“Kok sedekah? Enggak lah, ini investasi Darmawan ke elo! Jadi nanti setelah lulus lo kerja di Dar.co”
“Oh langsung kerja?”
“Iya dong? Masa mau nganggur lagi?”
“iya deh...makasih ya Ka,..bilang makasih juga ke Rita”
“Sama-sama, tadi dia cerita . lo habis nemenin dia ke kantor polisi?”
“Iya, wah kasihan gue sama tu orang”
“Salah sendiri, masih mending Rita yang ngerjain, kalau kasus ini ke kakek S,..wah tu orang bisa hilang dari bumi”
“Ah serius lo?”
“Dua rius! Kakek S itu paling gak suka sama orang yang main-main sama keluarganya”
“ceyeeeemmm...”ujar Dewa dengan nada manja
“Ya udah deh, Ar..sampai ketemu di London ya?”
“Oke Ka, thanks!” Dewa menutup ponselnya
Sementara di rumah Rita
“Kamu dari mana?” tanya Daniel, ia melihat Rita berganti pakaian
“Oh, tadi aku mampir ke kantor polisi, terus ngembaliin ular kecil yang diambil Ranna”
“Ya ampun si kakak, bener-bener deh aku gak tahu lho dia ngantongin ular”
“Kamu gak percaya sih kalau anak-anak kita ajaib, aku juga ngasih duit sama tukang ular itu”
“Oh ya? berapa?”
“200 ribu, anggap saja kompensasi. Kalau gak ada tu ular Ranna sudah dibawa jauh kan?”
“Iya juga, oh iya tadi aku lihat nasi kotaknya masih banyak, sekarang sudah habis, kamu bawa kemana?”
“Aku bagiin di kantor polisi, ucapan terima kasih sudah membantu kamu dan Ranna” Rita mengganti pakaiannya dengan piyama, lalu merebahkan dirinya dipelukan suaminya. Ia sangat lelah.
Mereka menonton berita
“Komplotan penculik anak berhasil dibekuk oleh kepolisian Sukabumi. Ketika dilakukan pengrebekan, korban penculikan yang dipaksa menjadi pengemis berhasil diamankan.”
Kutipan wawancara dengan Ajun Komisaris Polisi Gunawan
“Pembekukan ini berhasil dilakukan berkat kerjasama warga yang prihatin dengan maraknya penculikan terhadap anak dan balita, semoga untuk ke depannya makin banyak warga yang berpartisipasi memberikan informasi kepada polisi sehingga sindikat penculikan ini bisa kami bongkar”
__ADS_1
Rita terlelap dipelukan suaminya, keduanya terlelap sambil berpelukan, hari ini sungguh panjang...
_Bersambung_