Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)

Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)
Chapter 53: Kembalinya Gank Tuyul


__ADS_3

"Wi, Lo gak mau buktiin kalau Lo sayang sama Gue?"


"Maksud Lo Var?"


"Yaaa..itu tu..Endar sama Siska sudah melakukannya, beberapa kali malah"


"Gue gak ngerti maksud Lo, suer deh. Melakukan apaan?"


"Itu..ML, Lo suka sama gue kan? Kita kan sudah jadian lebih dari 3 bulan."


"ML? Mobil Legend?"


"Yah..Mobil Legend masih aje, bukan..ML, Making Love!"


"Kalau gue gak mau Lo mau apa?"


"Lo gak mau? Apa Lo gak suka sama gue Wi?"


"Ya, suka lah, kalau gak suka masa gue mau jadi pacar lo!"


"Ya buktiin dong!"


"Buktinya harus ML gitu ya? apa gak gue gantiin dengan traktiran aja?"


"Traktiran juga, setelah ML!"


"Gue gak mau!"


"Yaahh..Kowi sayang..kog gak mau??? Kenapa? sudah ada cowok yang lain?"


Kowi menatap Novar dengan wajah galak, hingga Novar salah tingkah.


"Gue gak mau, ya gak mau, TITIK!!!" Kowi pergi meninggalkan Novar


"Kowiii..jangan tingalin gueee!!" Novar mengejar dengan tatapan memelas


Di hari lainnya..


"Kowi,..pacarku yang manis..hari ini aku Ultah Lho, Kamu gak mau kasih hadiah??" tanya Novar dengan suara manja


"Yeeee...Selamat Ulang Tahun yaa..Novar Sayang..Sehat selalu dan makin ganteng!" Kowi memeluk Novar, lalu dengan segera melepaskan pelukannya.


"Udah?" tanyanya bingung


"Udah apaan?" tanya Kowi bingung


"Meluknya sebentar amat! agak lamaan dikit dong!" canda Novar


"Gak mau ah, entar makin seru!" Kowi pergi meninggalkan Novar


"Heran deh, ni orang kabur-kaburan melulu!" keluh Novar


Di tempat lain..


"Happy Birthday!!!" Novar disiram air oleh teman-temannya.


"Ah..****** Lo pada!" gerutu Novar


"hahaha...yang ultah traktir kita donggg!!!" pinta Alex


"Iya nih, yang ultah kenapa manyun gitu sih? kenapa chayang???" goda Endar teman Novar yang satunya.


Novar diam saja, dan duduk di kamarnya. Tiba-tiba kamar jadi sunyi, masing-masing sibuk dengan ponselnya.


"Eh, cewek gue udah di depan nih, Dar, Var gue cabut duluan ya!" Alex pergi meninggalkan Endar dan Novar, sementara itu, Novar membuka percakapan.


"Eh Dar, gue mau tanya?"


"Tanya langsung aje ngapain pakai kata pembuka?"


"Itu, waktu pertama lo ngajak Siska, caranya gimana?" tanya Novar penasaran


"Ngajak keluar maksudnya?"


"Bukan, ngajak ngamar, kog dia mau?"


"Yaaa...mana bisa cewe menolak Endar yang ganteng dan imut ini!" ujar Endar membanggakan diri


"Heh PA! serius gue!, kog bisa?"


"Kenapa? lo berminat?"


"Yahh..gue sama cewek gue kan udah 4-bulan, dia gak mau gue ngajak ngamar."


"Baru 4 bulan, gue sama cewek gue itu 8 bulan baru deh mau, itupun karena kita nonton film romantis, jadi kebawa."


"Ooo nontonnya dimana?"


"Di rumahnya lah, bokap-nyokapnya lagi pergi. eh kelepasan deh.hehehe..."


"Terus, cewek lo gimana? nangis?"


"Awalnya iya, tapi gue yakinkan dia gue bakal bertanggung jawab dan setia."


"Emang?" tanya Novar penasaran


"Yaa,....masalah itu urusan nanti lah!" ujar Endar cuek


"Apa lo gak takut cewek Lo hamil?"


"Takut lah, makanya selalu bawa ini!" Endar menunjukkan alat kontrasepsi


"Ini kan gak menjamin, gak hamil!" ujar Novar lagi

__ADS_1


"yaa kalau jebol, suruh gugurin aja!"


"Kasian dong cewek lo?"


" Habis?? kan gue masih muda, masa gue harus sekolah sambil ngasuh anak. Entar anak gue mau dikasih makan apa? gue aja masih minta duit sama bokap!" ujar Endar


"Wahh..Lo tega juga ya?" ujar Novar lagi


"Lah, Lo bukannya pernah juga sama cewek lo yang dulu?"


"Iya sih, cuma cewek yang sekarang lebih cantik,kayaknya ada darah bule deh"


"wahh..biasanya gampang tuh, orang bule kan udah biasa hubungan kayak gini!"


"Yang ini bule muka aja, lama di sini. Buset, gue minta cium aja gak dikasih. sebentar-sebentar kabur!"


"Kalau gitu pakai obat aja, sama cewek Lo yang dulu kan begitu?"


"Yang ini gak bisa, dia selalu bawa minum sendiri. kalau makan bareng nih maunya di tempat ramai. Kalau kita cuma berdua, dia duduknya menjauh. Pernah gue beliin minum air teh, eh dia beli air putih. gue kasih air putih, dia beli cola.Akhirnya semua minuman yang udeh gue campur obat tidur gue minum sendiri!" cerita Novar


"Kog bisa?"


"Dia doyan pedas, dia yang pesanin seblak, ampun deh pedas amat,gue minum yang gampang aja. Setelah dua botol gue baru inget tentang obat itu"


"Dasar Begooo!!!" Endar tertawa ngakak


Jadi ketahuan dong Lo?" tanya Endar


"Iya, kita sempat putus. Terus nyambung lagi sebulan kemudian."


"Kog dia masih mau sama Lo?"


"Gak sengaja, gue ngabantuin neneknya. Jadi dia pikir gue berhak dapat kesempatan kedua." cerita Novar


"Kalau gue, keluarganya Siska turun tangan tuh, gue disuruh bikin perjanjian bakal nikahin Siska setelah lulus SMA nanti."


"Lo beneran nikahi dia?"


"Apa boleh buat, kakak-kakaknya Siska ngancam gue. Hampir saja gue dibui!"


"Kog Lo masih mau sama Siska?"


"Habis terlanjur, gue mundur salah, ya maju saja deh, siapa tahu pernikahan kita bisa awet." ujar Endar


"kog Lo kayak nyesel gitu Dar?"


"Gue ngerti sih perasaan abang-abangnya Siska, kalau adik gue digituin cowok gue juga pasti bertindak kayak gitu, mungkin lebih. Makanya gue pasrah saja."


"Gue sih, aman-aman saja tuh sama Erna, orangnya kalem. Gue bilang begini, dia nurut. gue suruh apa saja mau, asyik kan??"


"Tapi kog Lo putusin?"


"Bosen, gak ada tantangan! sudah gitu gue sudah beberapa kali nyobain dia kan, yaa bosen lah!"


"Gue punya foto bug**nya Erna, kalau dia berani ngadu, gue sebar di internet. Takut banget dia, hehehe!"


"Parah Lo Var, gak takut Karma Lo?"


"Karma itu gak ada adanya korma dan itu manis, hahaha!" canda Novar.


Sepulang sekolah, Kowi dihadang empat orang cewek dari sekolah AA.


"Lo yang namanya Kowi kan? Ceweknya Novar?" tanya Dwi


"Kalau Iya kenapa? Lo siapa?"


"Gue Dwi, ini temen-temen gue. Mungkin Lo gak kenal. Erna sini!" Panggil Dwi. Erna menghampiri dengan kepala tertunduk.


"Ini kan orangnya yang ngerebut cowok lo?" tanya Dwi galak. Erna mengangguk pelan


tiba-tiba salah satu dari mereka mencengkram kerah baju Kowi


"Eh apa-apaan ni?" tanya Kowi panik dia berusaha melepaskan diri dari cengkraman cewek kuat itu. Salah satu dari cewek itu, menarik tangan Kowi dan memelintirnya ke belakang.


"Lo jangan sok cantik ya!" ancam cewek itu galak


"Emang gue cantik, gak sok Koq!" jawab Kowi mengaduh karena tangannya dipelintir. Tiba-tiba seseorang menendang cewek yang memelintir Kowi. Cewek itu terjatuh dan melepaskan pelintirannya dari Kowi


"Rita!!" panggil Kowi senang. Ketiga cewek tadi yang melihat serangan tiba-tiba Rita, dan menyadari kehebatan lawannya, segera melarikan diri dan meninggalkan Erna yang bengong sendirian.


"Ehh???" Erna bingung, antara mau ikut lari atau diam di tempat, kali ini giliran dia yang dihadang oleh Rita dan Kiki


"Heh, Lo kalau berani jangan keroyokan, nah sekarang Lo sendirian, coba berani gak lawan Kowi?" tanya Kiki dengan suara galak.


Erna ketakutan, ia jongkok dan menangis kencang. Andien dan Lisa datang belakangan berteriak


"Kowiii, Are you Oke??' tanya Andien khawatir


"Gue gak apa-apa Dien, syukurlah Rita datang, kalau engga, bisa bonyok gue."


"Eh Lo tu ya, beraninya jangan keroyokan!" hardik Andien ke Erna yang masih menangis dan melihat ke Andien dengan wajah pasrah.


"Erna???" panggil Lisa


"Lisa?" Erna melihat ke Lisa dan segera memeluknya.


"Eh kenapa nih?" Lisa kebingungan.


Mereka beramai-ramai duduk di warung terdekat. Erna yang masih menangis terisak menceritakan deritanya kepada Lisa. Kowi yang mendengarnya, marah.


"Coba lihat HP Lo!" ujarnya


Dilihatnya chat-chat ancaman Novar ke Erna.

__ADS_1


Darahnya mendidih.


"Dasar cowok kurang ajar, perlu gue kebiri rupanya!" ujar Kowi dengan suara keras. Wajahnya marah, mulutnya komat-kamit.Ia terdiam sebentar.


"Lis, menurut Lo gimana? Om Lo kan Polisi?" tanyanya


"Chat ini jangan dihapus Er, Lo screenshot kirim ke gue. nanti gue diskusikan sama Om gue. Dugaan gue, si Kampret ini bisa kena UU ITE dan perkosaan. Dia maksa Lo kan?"


"Iya, awalnya dia ngasih gue obat di minuman. pas gue bangun, gue sudah bug** Dia juga memfoto gue. Dia selalu mengancam foto gue akan disebar kalau gue ga mau ikuti perintahnya." isak Erna sambil menangis


"Cowok kurang ajar!!!" Kali ini Rita yang marah, wajahnya memerah menahan amarah.


"Tenang girls, kita tuh menghadapi kayak gini jangan esmosi" ujar Andien tiba-tiba


"Emosi kale Din!" ujar Kiki memperbaiki


"Iya,maksud gue begitu.Jadi gini cowok Baj***n itu harus kita beri pelajaran. Dia gak boleh lolos dari hukum."


"Jadi gimana usul Lo Din?" tanya Rita


"Kita bagi tugas, Lisa, Lo urus masalah yang terkait tentang hukum. Secepat mungkin Lo harus bilang ke Om Lo! Kowi Lo jangan berubah sikap ke Novar, usahain dapat ponselnya. Kiki lo siapin kartu memori, setelah kita dapat ponselnya, Lo gandakan semua gambar dan screen shotnya. Rita tugas lo sebisa mungkin bikin si Novar pingsan, kalau dia gak mau menyerahkan ponselnya dengan sukarela. Erna, Lo ikut Lisa, bagaimanapun juga Lo itu korban. Korban itu harus dilindungi bukan di bully."


"Tugas Lo apa Dien?" tanya Kowi


"Lah, Lo ga dengar? dari tadi gue yang bagi tugas?"


"jiaahhh...kenapa bisa begitu ya?" tanya Kiki heran


"Gue bagian, back up, plan B, kalau Rita gak bisa bikin pingsan Novar, Kowi rebut ponselnya, kita estafet. sebisa mungkin Novar harus kita taklukan!" ujar Andien bersemangat


"Dien, Lo sehat kan?" tanya Kowi


"Hohoho...sehat banget...sudah lama gue mau melakukan OTT sejak tuyul waktu itu. Lo pada gak tahu ya, diam-diam gue ambil kursus Jujitsu. Walau baru ban putih" ujar Andien bangga


"waduuhh..saingannya Rita nih!" ujar Kiki, yang disusul tawa teman-temannya.


Sore harinya, Novar menghubungi Kowi.


Kowi berusaha menahan kekesalannya, dan mengikuti keinginan Novar untuk bertemu di hari Sabtu sore besok.


Sabtu Sore, di Cafe Ini-itu


Rita, Kiki dan Andien telah datang lebih dulu di cafe. Mereka mengambil tempat duduk di lantai atas. Andien menggunakan kacamata dan masker hitam.


"Dien, gaya Lo lebay banget!" ujar Kiki geli melihat tingkah Andien


"Eh, harusnya yang dandan kayak gini, Lo sama Rita, kan kalian sudah pernah lihat Novar, waktu dating jamaah dulu?"


"Eh, iya ya Ki, cowok yang sama bukan?" tanya Rita gak yakin


"Kayaknya sama deh, Kowi kan termasuk yang setia, gak mungkin ganti cowok kan?" jawab Kiki yang juga gak yakin


"Tampangnya baik kan? Lo pada dibeliin pop corn kan?" tanya Rita


"Uangnya Kowi, dia bagian beli doang!" ujar Kiki


"Oooo" ujar Rita mengangguk


Lima belas menit kemudian Novar dan Kowi datang.Mereka memilih tempat duduk di tengah ruangan.


"Dasar cowok mesum, dia pilih yang cahaya lampunya remang-remang!" ujar Andien yang menggunakan kamera jarak jauhnya. Rita dan Kiki melihat ke Andien.


"Sejak kapan lo bawa gituan? Kog gue gak tahu?" tanya Kiki


"Lo gak lihat tas gue?"


"Mahal itu kan? kak Andi punya itu, bagus untuk foto jarak jauh" ujar Rita


"Heh, Lo pada fokus ke Kowi dong, ngapain ngomentarin gue?" ujar Andien kesal


" Eh iya, salfok sama Lo Dien. Gak nyangka Lo begitu bersemangat!" ujar Rita memuji


" eh...masalah nih" ujar Andien tiba-tiba


Dwi dan dua temannya datang dan menghampiri Kowi.


"Heh, Lo belom kapok ya, masih saja deketin cowok orang!" hardik Dwi hampir menjambak Kowi. Novar yang kaget melihat reaksi Dwi, menahan tangan Dwi


"Apa-apaan nih? Lo Dwi kan?" tanya Novar


"Lo gak usah ikut campur, biar gue urus cewek gak tahu diri ini!" Dwi menarik rambut Kowi, Novar menahan Dwi. Dua teman Dwi menahan Novar.Dwi menyerang Kowi. Rita dan Kiki saling berpandangan, dengan segera mereka turun ke lantai bawah. Rita menendang Novar dari belakang hingga ia jatuh tersungkur. Dwi dan teman-temannya, kaget melihat Rita, seketika itu juga, mereka kabur. Novar yang masih kaget dengan serangan tiba-tiba Rita, bangkit dan melayangkan pukulan ke arah Rita. Rita mengelak, dan menangkap tangannya dengan sigap seperti layaknya polisi yang menangkap penjahat. Ia jatuhkan Novar dengan tangan terplintir ke belakang. "Aduh..aduh...aduh.." Keluhnya.


Dengan sigap Kowi mengambil ponsel Novar dan memberikannya ke Kiki. Kiki melakukan seperti yang direncanakan. Novar yang melihat ponselnya diutak-atik, marah, ia mengejar Kiki. Kiki kabur bersama ponselnya Novar. Rita menyelengkat kaki Novar .


"Heh, dari tadi Lo nyerang gue melulu. Jangan mentang-mentang cewek ye, Lo kira gue takut mukul cewek!" teriaknya marah ke Rita


Rita tersenyum pancingannya berhasil.


Beberapa orang di cafe tidak melerai mereka, beberapa pegawai justru memindahkan meja dan kursi serta beberapa alat makan supaya tidak rusak. Seketika ruang tengah cafe menjadi arena pertandingan yang lapang.


Novar menyerang Rita dengan tendangan dan berhasil dihindari. Tugas Rita mengulur waktu, hingga Kiki selesai mengcopy file gambar Erna ke kartu memorinya.


"Heh bitc* jangan menghindar aje lo! Lawan gue, tadi Lo berani nendang gue dari belakang!" ujar Novar marah. Rita hanya tersenyum, dengan santai ia melayangkan beberapa tendangan ke arah Novar yang berusaha menangkisnya. Novar makin marah ia meraih kerah baju Rita dan memukulnya, tapi Rita lebih sigap, tangan Novar ditangkisnya, justru bogem mentah mendarat di hidung Novar hingga berdarah. Novar panik melihat darah, ia makin menyerang membabi buta, Rita melihat isyarat dari Kiki, lalu menyudahi dengan tendangan berputar ke arah pipi Novar dan membuatnya pingsan. Perlahan Kowi menghampiri Novar dan mengembalikan ponselnya ke kantong bajunya.


"Kita putus!" ujar Kowi.


Rita, Kiki, Kowi dan Andien meninggalkan cafe.


"Makasih Om!" teriak Andien


"Sama-sama Dien, salam sama Rizal!" teriak pemilik cafe.


"Oke Om"! Andien melambaikan tangannya sambil tersenyum.

__ADS_1


-Bersambung-


__ADS_2