Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)

Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)
Chapter 265: KECEWA


__ADS_3

Senin pagi, hari terindah. Daniel telah bersiap menunggu jemputan dari kantornya.


“Sayang, sarapan dulu. Masih satu jam lagi” Rita memperingatkan suaminya,


“Kayaknya aku skip sarapan hari ini, perut ku gak enak karena gugup” Daniel terus melihat ke arah CCTV, ia sangat tidak sabar untuk menaiki Lexus ES fasilitas kantor yang disediakan untuknya


“Sayang, kamu harus makan, setidaknya tiga suap nanti lambung mu sakit” Rita menyuapkan nasi dan lauk ke mulut suaminya.


“Aaaa” Daniel menurut, setelah tiga suap ia menghentikan makannya


“Sudah tiga suap kan?” ujarnya, Rita menghentikan tangannya untuk menyuapinya makan


“Ya sudahlah, tapi minum susu ya?”


“Aku sudah banyak minum susu mu dari semalam!”


“Hush! Jangan keras-keras nanti para suster dengar, aku bisa malu! Oh iya, sayang aku sudah menyiapkan bekal makan siang untuk mu.”


“Iya taruh saja,di situ” ujar Daniel , matanya masih menatap CCTV


“Aku keluar saja deh!” ia membawa tasnya dan mengambil bekal makan siangnya. Rita menggeleng melihat kelakuan suaminya.


Pukul 8 pagi anak-anak telah rapi, para suster membawanya ke ruang bermain, hanya Rayya yang masih dipegang oleh Rita.Karena penasaran, Rita juga keluar rumah dan menunggu di teras depan rumah.


“Lama sekaliiii” Daniel menggerak-gerakan kakinya gak sabaran,


“Rayya, tuh lihat papi. Lucu ya?” Rita menunjukkan tingkah Daniel pada Rayya. Rayya bergerak aktif minta digendong oleh Daniel


“Jangan sekarang ya Nak? Pakaian papi sudah rapi. Papi sengaja memakai pakaian terbaik untuk mobil terbaik” ujar Daniel pada Rayya. Rita agak menjauhkan Rayya dari Daniel agar dasinya tidak ditarik.


“Memangnya kamu minta dijemput jam berapa?”


“Jam setengah 9!”


“Masih lima belas menit lagi”


“Seharusnya dia datang lebih awal!” ujar Daniel agak kesal


“Mungkin dia mencari alamat rumah ini”


“Gak mungkin! Rumah ini besar dan terletak dipinggir jalan raya masa begitu saja nyasar!” suara Daniel agak meninggi karena kesal


“Sayang, kamu harus sabar, biasanya kamu juga berangkat jam setengah 9 kan?”


“Iya sih tapii....” Daniel belum menyelesaikan kalimatnya, sebuah mobil Totoya Fortuner warna putih mendekati mereka dan berhenti tepat di hadapan mereka. Seorang lelaki muda berpakaian abu-abu keluar dari pintu supir dan menghampiri mereka.


“Selamat pagi pak! Nama saya Hendra, saya akan menjadi supir pribadi Anda!” ujarnya menyalami, Daniel termangu tidak percaya dengan mobil yang berada dihadapannya, ia tidak menjawab salam Hendra. Rita yang merespon salamnya


“Selamat Pagi mas Hendra, Saya Rita istrinya pak Daniel, dan ini Rayya anak bungsu kami. Maaf pak Daniel sedang kurang sehat” ujar Rita mengelak


“Oh ya? maaf bu , saya tidak tahu karena kemarin dapat tugas untuk menjemput bapak hari ini, tidak ada kabar pembatalan” jawab Hendra, Rita mendekati suaminya yang masih mematung gak percaya, ia duduk dihadapan suaminya untuk menyadarkannya


“Sayang, kamu sudah sehat?” tegurnya dengan suara pelan


“Eh, Sayang kamu lihat mobilnya?” bisik Daniel ke telinga Rita


“Iya?”


“Itu Fortuner kan?” bisik Daniel lagi, Rita mengangguk pelan


“Aku gak salah lihat kan?” bisik Daniel lagi. Tiba-tiba ia berlari masuk ke dalam rumah. Rita dan Hendra di buat kaget olehnya.


“Maaf ya Mas Hendra, mungkin sakit perutnya kumat. Duduk saja dulu, mobilnya bisa diparkir di sana” Ujar Rita, ia segera masuk ke dalam rumah dan menghampiri suaminya yang membaca tablet penugasan dan fasilitas untuknya


“Kok jadi Fortuner?” ujarnya dengan kecewa


“Mungkin Hendra salah pilih mobil?” ujar Rita, ia meletakkan Rayya di boxnya


“Enggak, memang benar Fortuner, padahal sampai tadi malam, aku lihat Lexus!” ujar Daniel masih tak percaya. Ia terlihat panik dan marah. Hampir saja ia membanting tablet kerjanya.


“Sayang! Tenanglah!” Rita menahan tubuh Daniel sekuat tenaga


“Tapi..tapi...”


“Sayang, Fortuner juga gak apa-apa. itu salah satu mobil termahal kelima di Indonesia.”


“Bukan begitu maksudku...” Daniel terduduk lemas


“Sayang, itu hanya fasilitas kantor! Ingat kamu hanya diPINJAMKAN! Kalau mau Lexus kita beli saja sendiri gimana?” bujuk Rita dengan lembut


“Tapi...tapi...Aku salah apa?” tanya Daniel heran, suaranya mengecil, ia tampak sedih


“Sayang, kamu gak salah apa-apa. Cuma kenyataan tak sesuai ekspektasi, itu saja!”


“Aku kena prank ya?” wajahnya tampak sedih, Rita menjadi tidak tega melihat wajah memelas suaminya. Selama empat tahun bersamanya, baru kali ini ia melihat wajah paling sedih dari suaminya. Biasanya suaminya selalu terlihat cool dan tegar, bahkan ketika mendengar tante kesayangannya meninggal karena kecelakaan. Rita segera memeluknya, lalu melepaskan tubuh suaminya.


“Mau kemana?” tanya Daniel


“Aku mau bilang ke Hendra, hari ini perut mu sakit, tidak usah ke kantor dulu ya? tidak ada acara penting hari ini kan?”


“hmm....jangan! gak usah deh! Biar aku datang saja” perlahan Daniel bangkit, dia berjalan dengan pelan, Rita mengikutinya dari belakang


“datang gak ya?” Daniel tampak ragu,


“Sayang, kalau kamu gak datang karena sakit, aku dukung, tapi kalau kamu gak datang karena gak dijemput pakai Lexus, aku gak setuju!” ujar Rita tegas. Daniel menatap wajah serius istrinya,


“Baiklah, aku mengerti!” ia segera memantapkan jalan keluar dari rumah, Rita mengantarnya sampai di depan pintu


“bismillahirohmannirohim...” Daniel memasuki Toyota Fortuner putih


“Dadah papi!!!” Rita dan Raffa melepas papinya pergi ke kantor, Raffa sudah bangun tidur sejak tadi.


Di dalam mobil, Daniel berusaha menyamankan dirinya, ia teringat kata-kata Rita, ini hanya mobil pinjaman, kalau mau Lexus beli saja sendiri. kata-kata itu kini memenuhi benaknya.


Setengah jam kemudian ia telah tiba di kantor Lexi cabang Jakarta. Ia berbarengan dengan para CEO, mereka diantar mobil Mercedes Benz dan BMW seri terbaru. Tidak tampak iri di wajahnya, ia hanya memfokuskan dirinya untuk bekerja.


Tanpa terasa, hari itu bisa dilewatinya dengan tenang dan lancar. Rapat demi rapat dengan berbagai departemen telah ia lewati. Tiba saatnya pulang ke rumah, Daniel menunggu Hendra di Lobby kantor. Seseorang mendekatinya


“Sore pak Daniel!”

__ADS_1


“Sore!, eh pak Tony!” Daniel bangkit dan menyalami koleganya selama perekrutan di Lexi


“Wah, kita ketemu lagi di sini” ujar Tony tersenyum


“Iya, oh iya, Anda sudah ke Swiss bulan ini?” tanya Daniel


“Belum!, mereka bilang belum perlu. Katanya cukup pak Daniel saja yang kesana. Ternyata mereka sangat menyukai Anda pak !” ujar Tony dengan nada iri


“Ah tidak, mungkin saya akan merekomendasi Anda untuk menggantikan saya kesana” ujar Daniel


“Apa bisa begitu?”


“Kita coba saja kan?, oh maaf jemputan Saya sudah datang!”


“Kenapa Anda memilih Fortuner?” tanya Tony heran


“Yeah...saya...”


“Wah..pantas Anda menjadi kesayangan perusahaan, karena gak minta macam-macam. Saya kemarin minta BMW versi terbaru, eh diberikan. Tapi justru saya malah sering dapat berita mengecewakan” ujar Tony, nadanya tampak sedih


“Tapi kan pak Tony bisa naik mobil terbaru! Itu penghiburan kan?” ujar Daniel dengan nada menghibur


“Iya ya pak Daniel, baiklah saya tidak bisa membuat Anda terlambat pulang, sampai besok!”


“Sampai besok pak Tony!” Daniel memasuki mobil Fortuner putih, lalu menyenderkan tubuhnya di kursi


“Langsung pulang ya pak?”


“Iya dong! Memangnya mau kemana lagi?” Daniel terlihat tampak lelah


“Bos saya yang dulu selalu ke karaoke setiap pulang kantor pak, katanya di rumahnya dia kesepian” Hendra bercerita, tapi tidak ditanggapi oleh Daniel karena ia telah lelap tertidur.


Beberapa menit kemudian mobil telah tiba di kediaman Daniel


“Pak..pak Daniel” Hendra membangunkan dengan pelan


“Hah? Oh sudah sampai..ahhh...aku lelah sekali.. terima kasih Hendra, oh iya kalau kamu mau makan. Kamu bisa masuk melalui pintu karyawan di samping sana. Bilang saja kamu supir kantor pak Daniel, mereka akan memberi mu makan sore ini”


“Baik pak! Terima kasih banyak!” Hendra tampak senang, Daniel segera keluar dari mobil dan masuk ke rumahnya, tak disangka kedua anak batitanya menyambutnya dengan sepeda


“Papiiiii...welcomeee!!!” teriak Raffa mengelilingi papinya, Ranna mengikuti


“Papi gak bisa jalan nih!” protes Daniel


“Anak-anak! Jangan ganggu papi dulu!” Rita berteriak dari depan kamar mereka, akhirnya anak-anak meninggalkan papinya kembali ke ruang main mereka. Rita menggendong Rayya, menyambut suaminya


“Halo sayang!” sapanya


“Halo!, sini Rayya sama papi!” Daniel menyerahkan tasnya ke Rita, dan ia menggendong Rayya


“Maaf ya, tadi pagi papi gak gendong kamu!!!” Daniel menciumi anak bungsunya sambil masuk ke dalam kamar megah mereka.


“Kamu mau makan dulu?”


“Iya dong!, ah iya, tempat bekal makan siang ku ketinggalan di kantor, padahal tadi sudah ku cuci bersih”


“tapi kamu menghabiskan makanannya kan?” tanya Rita


“Sudah, makan dulu deh!” ujarnya


Daniel meninggalkan Rayya di sofa,


“Sayang, Rayya belum bisa jalan!” ujar Rita


“Oh iya! Maaf ya dek!!!” Daniel menggendongnya, lalu menyerahkan ke Rita.


Mereka makan tanpa berkata apa-apa, Rita sendiri bingung harus memulai percakapan dari mana, akhirnya ia memutuskan untuk membicarakan tentang kondisi kakeknya


“Tadi kak Andi Vcall, katanya kakek sedang dirawat”


“Oh ya? bagaimana? Apa harus dioperasi?”


“Kayaknya gak perlu, karena tidak ada pembuluh darah yang pecah”


“Tapi katanya stroke? Itukan pecah pembuluh darah?”


“Baru penyempitan pembuluh di otak, itu sebabnya kakek jatuh. Mereka sedang menyelidiki penyebab penyempitan”


“Oh begitu, kira-kira berapa lama kakek akan dirawat?”


“Entahlah, menurut kak Andi, ketika kakek Sugi itu dua minggu untuk menetralisir penyakitnya, sedangkan terapinya yang membutuhkan waktu agak lama sampai dua bulan penuh”


“Dua bulan? Bagaimana dengan Dar.Co?”


“Entahlah, kalau kak Andi tidak cerita berarti tidak ada masalah”


“Hmm..begitu ya? lalu Raffa bagaimana?”


“Dia sudah gak demam lagi, makannya juga sudah normal. Aku tadi membawanya ke ustadz untuk dirukiyah”


“Rukiyah? Apa itu?”


“Ya semacam didoakan, aku mendengar katanya anak indigo itu bisa melihat sesuatu karena diganggu jin tertentu. Aku gak mau anakku diganggu terus”


Daniel mengangguk-angguk


“Tapi Yang, kamu sendiri juga indigo kan?”


“iya sih”


“Apa kamu merasa diganggu? Atau terganggu?”


“Gimana ya? mungkin karena dulu aku kesepian, jadi siapa saja yang bisa nemani aku terima jadi teman”


“Kok bisa?”


“Aku jadi ingat, dulu waktu berumur 7 tahun, aku baru saja pindah rumah ke sebelah rumah Kiano”


“Kiano hitam itu?”

__ADS_1


“Hitam? Ya itulah!, ternyata ada roh nenek yang menghuni rumah tersebut.”


“Apa kamu gak takut?”


“Aku lebih takut kesepian, jadi aku malah mengajak nenek itu berteman. Aku sedih ketika roh nenek itu akhirnya benar-benar menghilang”


Daniel agak merinding mendengar cerita seram istrinya, ia jadi melupakan kesedihan hatinya.


“Tapi kenapa Raffa harus kamu cut kemampuannya?”


“Dia masih terlalu kecil untuk melihat hal-hal yang seharusnya tidak dia lihat. Aku ingin anakku hidup normal dan tenang. Bermain dengan manusia yang beneran. Oh iya, mulai bulan depan aku memindahkan studioku ke lantai 2.”


“Kenapa dengan studio mu yang lama?”


“Aku berpikir untuk membuat kelompok bermain untuk anak-anak batita. Aku ingin Ranna dan Raffa bermain dengan anak-anak seusia mereka, aku juga sudah mulai merekrut guru atau instruktur”


Daniel terdiam mendengar penjelasan istrinya, kemudian ia mengangguk


“Kamu kreatif ya? ide mu tidak pernah habis!” pujinya


“hehehe...terima kasih...Aku belajar dari yang terbaik!” jawab Rita


“Siapa?”


“Ya suami ku lah! Hehehe!” Rita membawa Rayya pergi untuk diganti popoknya. Daniel tersenyum mendengar ocehan istrinya, setelah makan ia membersihkan bekas makannya kemudian pergi mandi.


Malam harinya, Rita sibuk dengan tugas kuliahnya, sementara Daniel bermain dengan ketiga anak mereka.


“Sayang, belum juga?” tanya Daniel


“Sebentar lagi, kenapa?”


“Rayya sudah kelihatan mengantuk”


“Aku sudah menyiapkan susu di pantry, ada tiga botol di situ, ada namanya kok!”


Daniel bangkit dari ranjangnya, kemudian mengambil tiga botol susu


“Oke, kalian berbaris!” ujar Daniel, Ranna dan Raffa menurut mereka saling berebut untuk menempati urutan pertama


“Kakak number one!” ujar Ranna


“No, Abang, i am a man!” jawab Raffa


“Me!”


“No Me!!” akhirnya mereka rebutan untuk baris di tempat pertama. Akhirnya Daniel memberikan botol pertama kepada Rayya


“Adek yang pertama ya?” ujarnya


“why?” tanya Raffa dan Ranna bersamaan


“Karena dia yang paling tertib dan teratur!” jawab Daniel


“She’s a baby!” ujar Raffa, akhirnya ia mengalah di belakang Ranna. Dengan senang Ranna menerima botol susu berbentuk lucu dari papinya. Begitu juga Raffa. Ketiga anak minum susu dengan dengan tenang. Setelah minum susu mereka tampak mengantuk kemudian tertidur. Satu persatu Daniel memindahkan anak-anaknya ke kamar mereka dan menyalakan AC serta filter udara. Kemudian ia menghampiri Rita yang masih sibuk


“Anak-anak itu benar-benar anakku” ujarnya


“Tentu dong, memangnya anak siapa lagi?” tanya Rita, ia hampir selesai


“Maksudku, mereka bisa tenang setelah meminum susu dari maminya, aku juga begitu!” goda Daniel sambil memeluk istrinya dari belakang.


“Hari Sabtu dan Minggu besok aku harus ke sekolah di daerah Pamulang”


“Pamulang? Itu daerah Tangerang kan?”


“Iya betul, wah kamu hebat sudah tahu jalan”


“Yeah, Anwar mengajakku ke sana minggu lalu untuk memantau cabang resto yang baru. Daerahnya macet dan panas”


“Aku Cuma numpang ujian di sana”


“Ujian? Ujian apa?”


“Ujian semester, aku kuliah di Universitas Terbuka, nah kuliah jarak jauh ini, hanya diwajibkan datang untuk ujian hanya sehari atau dua hari untuk ujian”


“Kuliah mu yang di Singapura gimana?”


“Aku masih melanjutkan kok!”


“Jadi kamu ambil empat jurusan? Apa enggak capek?”


“Semuanya jarak jauh Say, lagi pula aku Cuma ikut kuliah untuk membuka wawasan saja. Suami ku ini pintar kalau aku gak bisa menandinginya bicara, bisa-bisa dia berpaling”


“Ohhh itu alasan mu kuliah, aku kira...”


“Demi gelar?”


“Iya? Kamu gak mau juga dibilang anak kaya yang manja dan bodoh di sekolah?”


“Nah itu juga!..”


“Apa gak mahal kuliah sebanyak itu?”


“Masih tercover kok, yang di Singapura mungkin tahun depan aku lulus. Nanti kamu bantuin aku bikin essainya ya?”


“Wah curang kalau begitu!”


“Maksud ku, aku bikin kamu baca. Lalu kasih masukan deh!”


“Oh begitu, kalau begitu aku mau!”


“Nah begitu!”


“Hoooaaaahhhmm.... Sayang, aku duluan tidur ya?” ujar Daniel


“Iya Sayang, sebentar lagi aku menyusul!”


Rita kembali menyelesaikan tugas di laptopnya , sementara Daniel telah terlelap dalam mimpinya.

__ADS_1


_bersambung_


__ADS_2