Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)

Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)
Chapter 75: Kisah Saye


__ADS_3

“Jadi Rit, Radian ngasih duit ke mantannya 50.000 USD udah gitu ngebayarin hutang bisnis suaminya?, Wah bener-bener orang sangat baik!” puji Saye, mereka rehat sejenak setelah lelah berkeliling mall


“Lebih cocok jujur kali ya Tan” ujar Rita sambil menjilat es krim buah yang sangat ia sukai


“Jujur?”


“Ashley menunjukkan surat Radian ke Rita, yaa aku baca dong, kan diijinin. Intinya, dulu Om Radian pernah datang ke Greg dengan proposal bisnis, saat itu ia tahu kedekatan Greg dan Ashley, karena sangat butuh jadi ia datang ke Greg. Oleh Greg, Om “diberi” cek senilai 100.000 USD gak usah dibayar asalkan Om melepaskan Ashley. Awalnya Om akan merobek cek itu, tapi kemudian Ashley menemuinya dan mengakui hubungannya dengan Greg. Dia tidak bahagia bersama Om, sehingga Om melepaskan Ashley, dan ia gunakan uang dari Greg untuk usahanya dan Alhamdulillah berhasil.”


“Terus?”


“Ketika Greg datang padanya dan meminta bantuan, Om langsung menghitung modal yang diberikan Greg dulu yang Om anggap sebagai investasi. Penyesalan Om yaitu ia menunda memberikannya kepada Greg hingga ia nekat bunuh diri, kalau saja ia lebih cepat memberikan pasti ceritanya jadi lain.” Ujar Rita ikut menyesal


“itulah makanya ya perbuatan baik jangan ditunda-tunda ya, bisa keduluan setan!” timpal Saye


“Tapi Om juga gak sepenuhnya salah Tan, kalau saja Greg tidak sering berjudi dan mabuk maka ia akan lebih jernih berpikir. Menurut Om, ia mendapat kabar dari teman-temannya Greg sering berjudi, menang judi bertaruh lagi, terus kalah, begitu saja terus, akhirnya hutangnya nambah terus, Om juga menjaga Ashley.”


“Menjaga Ashley? Gak salah tuh? Ashley yang ninggalin Radian lho!”


“Om aku itu romantis Tan, dia bilang kesalahannya yang membuat hati Ashley berpaling, ia tidak bisa membuat wanitanya bertahan di sisinya!” ujar Rita datar


“OMG!!!! Sweet banget....gue jamin si Ashley bakal nyesel itu!” ujar Saye bersemangat


“Btw tan, gimana kabarnya, apa sudah dekat dengan seseorang?” tanya Rita tiba-tiba


“Nah, sebenarnya Rit, Tante mau minta pendapat Rita, kamu kan sudah merasakan tinggal di keluarga broken home, tahu rasanya tinggal sama single parent.”


“Maksudnya?”


“Begini, kamu inget mantan tante?”


“Hmm..mantan suami tante? Lupa Tan, hehehe gak keluar di ujian soalnya, hehehe!”


“hehehe, bisa aja kamu!. Jadi dia ngajak balikan sama tante!”


“Balikan? Rujuk maksudnya?”


“He eh, dia sudah bercerai dari istrinya, lalu dia inget sama tante, merasa bersalah jadi dia pengen balik lagi. Menurut Rita gimana?”


“Kalau menurut tante bagaimana? Apa Tante masih mencintainya?”


“Mungkin masih?”


“Yang tegas dong tante, kalau menurut Rita, cinta zaman now gak melulu tentang perasaan, tapi juga tentang logika dan harga diri!” ujar Rita dengan nada agak ngotot


“Banyak amat Rit kriteria cinta zaman now?” canda Saye


“Coba tante bayangin, tante pernah menikah sama dia, cinta bertepuk sebelah tangan. Buat dia, tante hanya cinta pelarian karena dia gak dapat pacarnya yang dulu. Selama masa pernikahan dia terus berhubungan dengan mantannya, sementara tante diam saja dan berharap dia akan berpaling ke tante. “Cinta akan tumbuh seiring waktu” Tante pernah bilang begitu sama Rita”


Saye diam saja mendengarkan celotehan Rita


“Cinta tumbuh seiring waktu! Preeettt!!! Ujar Rita kesal


“Tante menikah dengannya lebih dari 3 tahun, menurut IPA, 3 tahun itu artinya 3x bumi selesai mengelilingi matahari atau sama dengan 1.095 hari, tante telah menunggunya. Itukan waktu yang lama tan!, apa hati tante gak capek dengan cinta sepihak? Bahkan bertahan dengan perlakuannya sangat tidak baik? berselingkuh di depan istrinya dan bilang mantan sebagai bestie. Menurut Rita , Tante sudah dibutakan cinta, Toxic Love!”


“Waduhhh...tante parah banget dong Rit!” ekspresi Saye pada saat itu antara serius dan bercanda, Rita tetap cuek, ia meneruskan ucapannya


“Toxic Love itu bahaya tante, lama-lama tante akan menerimanya, lama kelamaan tante akan membenci diri tante, lama kelamaan tante akan merasa tidak pantas mendapatkan cinta dari siapapun! Kalau bukan kita yang sayang sama diri kita sendiri, siapa lagi?”


Rita meneruskan pidatonya


“Gak usah takut sendirian tante, you’re not alone! you have Allah! You’re an independent woman! Kita ini kaum penyayang, makanya rahim ada sama kita, karena rahim itu artinya penyayang. Jadi sayangi diri kita tante! Karena hidup itu pemberian Allah yang tak ternilai!” Rita mengakhiri khotbahnya.


“Aamiin!” ujar Saye, ia hanya diam seribu bahasa.


Mereka menyudahi acara keliling mall, sepanjang perjalanan Saye memikirkan kata-kata Rita. Semalaman ia tidak bisa tidur. dilihatnya Rita yang tidur nyenyak di sampingnya. Kemudian beranjak mengambil wudhu untuk melaksanakan sholat tobat, tahajud dan istikharah, Saye benar-benar ingin mendapatkan jawaban haruskah ia kembali pada Adrian atau tidak. Rita berangkat kerja pagi hari, ketika ia bangun Saye masih tertidur lelap, karena ia baru tidur setelah sholat subuh. Siang harinya ia pamit ke Andi untuk kembali ke Jakarta, tiket penerbangan berangkat pukul 4 sore.


“Tante, Richard akan mengantarkan sampai tante naik ke pesawat!, maaf kami hak bisa mengantar!” ujar Andi


Saye tersenyum, ia memeluk Andi


“Gak apa-apa sayang, terimakasih banyak sudah dijamu dengan istimewa!”


“Sampaikan salam tante kepada Rita dan kakek ya?”


“InsyaAllah akan Andi sampaikan!”


Saye masuk mobil, pintu otomatis tertutup


“Daaahhh!!!” Andi melambaikan tangannya


“Dahhh!!! Terimakasih!” balas Saye


Mobil meluncur ke bandara internasional Aucland IATA, suasana bandara cukup ramai, Richard menurunkan bagasi dari mobil.

__ADS_1


“Sudah sampai di sini saja Richard, saya bisa sendiri!” ujar Saye kepada Richard


“Tapi Bu, pesan mr.Andi?” ujar Richard


“Iya, anggap saja saya sudah naik pesawat, terimakasih banyak!” ujar Saye, ia menarik kopernya dan masuk ke dalam terminal.


Suara peluit polisi bandara mengingatkan Richard untuk segera menjalankan mobilnya, akhirnya Richard pergi meninggalkan bandara.


Setelah check in, Saye duduk di ruang tunggu, pesawatnya akan tiba satu jam lagi. Ia membuka ponselnya, ia membaca pesan dari Rita, dari pegawainya yang melaporkan tentang kantor serta dari pesan dari Adrian mantan suaminya.


Pesan dari Rita:


“Fii amanilah tante sayang! Kalau mampir ke tempat ayah titip salam ya, love you!” Rita mengirimkan emoji hati dan foto-foto ketika mereka keliling mall kemarin. Saye tersenyum melihat tingkah konyol Rita dalam foto.


Pesan dari Adrian”


“Sudah di mana? Kog gak ngabarin? Aku kangen! gak sabar ketemu kamu!”


“Saye, aku lihat bunga mekar di jalan, aku pikir bunga itu kalah indah dibanding kamu!”


“Maafkan aku buta selama ini!”


“Saye, aku membutuhkan mu!”


Adrian mengirimkan banyak pesan, Saye hanya membacanya, ia tidak membalas. Hatinya pilu, semakin ia membaca gombalan Adrian semakin deras air mata mengalir dari pipinya.


“Maaf Anda tidak apa-apa?” tanya penumpang sebelah Saye, melihatnya tidak berhenti menangis


“Salah satu keluargaku meninggal!” ujarnya berbohong


“Innalillahi wa’innailaihi roji’un, turut berduka cita!” ujar penumpang sebelahnya, ternyata seorang laki-laki orang Indonesia.


“Terimakasih!” Saye bangkit dari tempat duduknya, dan pergi ke toilet pesawat, ia terus menangis, sakit hatinya kembali terbuka


“Aneh! Semakin aku membaca pesannya, semakin aku bersedih, apa ini tanda dari Mu ya Allah?” gumamnya lirih, kemudian ia keluar dari toilet. Didepannya telah ada teh manis hangat, rupanya orang disebelahnya memesankan untuknya


“Ini teh manis hangat, saya pikir kehangatan akan membuat kesedihan Anda berkurang!” ujarnya


Saye mengangkat gelas kertas berisi teh hangat, setelah duduk, ia mulai meminumnya


“Hmmm...enak!” ujarnya sambil melihat ke arah lelaki di sebelahnya


Lelaki itu mengulurkan tangannya, seraya memperkenalkan diri


Saye membalas uluran tangannya


“Sayekti Bilbina!” ia tersenyum


“Mba Sayekti transit di Jakarta?” tanya Budi


“Saye, saja! Oh tidak, tujuan akhir Jakarta!” jawab Saye


“sama, saya juga!" ia terdiam lalu melanjutkan ucapannya


"Kehilangan itu memang berat, terutama di awal, semakin dekat kita dengan orang itu makin rasa kehilangan itu makin besar!” ujar Budi


“Ohh ya?” Saye meresponnya dengan beberapa kata


“Istriku meninggal dua tahun yang lalu!” cerita Budi


“Innalillahi wa’innalilaihi roji’un, turut prihatin!” ujar Saye bersimpati


“Terimakasih!, Ia meninggal karena breast cancer, kami sudah berobat bahkan sampai ke Belanda, tapi Allah berkehendak lain, rupanya Allah lebih sayang kepadanya, hingga ia tidak dibiarkan menderita lebih lama.” Ujar Budi


“Anda punya anak?” tanya Saye


“Ada 1 orang, usianya 5 tahun, sejak kecil ia tinggal bersama neneknya, ibu dari istri saya. Anak kami sering kami tinggal ketika istri saya harus berobat ke luar negeri. “


“Sakitnya lama?”


“Iya, sejak ia melahirkan anak kami, ternyata ada benjolan di ***********. Setelah biopsi, ternyata betul tumor ganas. Sehingga payudara sebelah kiri harus diangkat!”


“Subhanallloh, bagaimana keadaan istri Anda?”


“Dia orang yang tegar, dia ingin melihat anaknya tumbuh besar. Dia berjuang dalam pengobatan, ia melakukan kemoterapi, dan meminum ramuan tradisional yang bisa menghambat sel kanker.”


“Apakah berhasil?”


“Sel kanker menyebar ke payudara kanan, bahkan selang beberapa bulan ke paru-paru dan tulang. Sakit hati ini melihatnya sulit bernafas, dan menjalani beberapa perawatan.” Ujar Budi mengingat penderitaan istrinya, air mata mengembang di pelupuk matanya


“Maaf! Seharusnya saya tidak menambah kesedihan Anda!” ujarnya sambil menghapus air matanya


“Tidak, saya baru sadar, Anda lebih pantas bersedih dibandingkan saya!” ujar Saye tiba-tiba, kemudian ia bangkit dan mengambil dua buah coklat dari tasnya yang dia letakan di bagasi atas

__ADS_1


“ini, coba deh” ia memberikan dua bungkus coklat hitam rasa lemon


“Eh, ini apa?” tanya Budi heran


“Ini dark coklat lemon, sebenarnya ini rasa baru. Tadi Anda bilang, minum yang hangat bisa mengurangi kesedihan. Sekarang coba coklat ini! Dan beritahu saya pendapat Anda!” Saye yang bersemangat dengan produk barunya


Budi membuka bungkus coklat dan mulai menggigit lalu mengulumnya.


“Hmmm...: ia mengulumnya


Saye memperhatikannya dengan antusias


“Bagaimana?” tanyanya ga sabar


“awalnya pahit, lalu manis ditengah, lalu ledakan keasaman lemon!” ujar Budi dengan mata berbinar


“Betul! Unik kan rasanya?” Saye makin bersemangat


Budi mengangguk dan ia membuka bungkusan coklat yang kedua dan memakannya lagi


“Apa sudah ada nama untuk jenis rasa coklat ini?” tanya Budi


“aku mau menamakannya Coklat blast! Atau happy chocolate!, menurut mu?” tanya Saye dengan semangat


“saya setuju dengan happy chocolate, karena rasa coklat ini benar menghibur!” Budi membuka tasnya dan memberikan kartu namanya.


“Ini kartu nama saya, bisa kita bertukar kartu nama?” tanya Budi


“Oh boleh!” saye membuka dompetnya dan memberikan kartu nama


Saat ia membuka dompet, disitu tampak foto lama pernikahan Saye dan Adrian, Budi melihatnya sekilas


“Oh, Anda sudah menikah?” suaranya terdengar agak kecewa


“Oh ini foto lama, sudah jadi mantan!” ujar Saye menutup dompetnya, ia teringat kembali akan kesedihannya


“Baru bercerai?” tanya Budi


“Tidak, sudah empat tahun lalu!” ujar Saye lagi


“Anda masih menyimpan fotonya?” tanya Budi heran


“Yah, kenangan yang sulit dilupakan!” ujar Saye lagi


“Tentu sulit dilupakan, berapakali Anda membuka dompet dalam sehari? Sebanyak itulah Anda melihat terus wajahnya!” ujar Budi lagi


“Begitu ya?” Saye baru menyadari kesalahannya


“Setahun lalu aku terus memajang foto istriku, hatiku hampa. Tapi kemudian aku bermimpi, istriku datang, ia tersenyum cantiiikkk sekali, seperti saat kami bertemu dulu. Wajahnya bercahaya, tidak lagi kesakitan, tubuhnya kembali berisi, ia kelihatan sangat bahagia. Aku pikir aku harus bangkit, demi anakku dan demi diriku sendiri. Lalu aku melepas semua fotonya yang ada di rumah kami, aku simpan di gudang, suatu hari nanti foto itu akan kuberikan kepada anakku.” Cerita Budi


“Apakah itu membantu?” tanya Saye penasaran


“sedikit!” Budi tersenyum


Perjalanan NZ-Jakarta yang memakan waktu 13 jam 30 menit menjadi tidak terasa, karena mereka saling bercerita.


“Wahh,10 menit lagi kita landing!” ujar Budi


“Iya!” wajah Saye tidak lagi bersedih


“Saye, boleh saya menghubungi kamu? Mungkin kita bisa makan di luar!” ajak Budi


“Boleh saja, simpan saja nomor ku ya?” ujar Saye sambil tersenyum


“Mungkin aku akan minta perusahaanku memesan banyak happy coklat darimu!” ujar Budi lagi.


Saye tersenyum


“Saya harap itu bukan harapan kosong!” ujar Saye lagi


“Enggak lah!” ujar Budi lagi


Sekitar 10 menit mereka turun dari pesawat dan antri untuk mengambil koper.


“Kamu sudah menemukan kopermu?” tanya Budi


“Belum, mungkin di sebelah situ!” Saye kebingungan mencari kopernya


“Mungkin ada ciri-ciri khusus?” tanya Budi lagi


“Ah itu dia!” Saye menunjuk kopernya yang mulai berjalan di atas ban berjalan, tiba-tiba bahunya ditepuk seseorang, Saye menoleh...


_ bersambung_

__ADS_1


__ADS_2