Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)

Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)
Chapter 285: Melacak Jejak Rita


__ADS_3

Beberapa menit kemudian mobil yang membawa Rita kembali ke rumah tua.


“Sial, jembatannya tertutupi longsor, kita terjebak di desa ini” maki Bruno kesal


“Hei, bantu aku angkat dia ke kamarnya” pinta Shasa, dengan malas Bruno membantu Shasa membawa Rita ke kamar di atap. Tubuh Rita dihempaskan ke tempat tidur dengan kasar


“Tidurlah sejenak di situ!”ujar Shasa sambil menghisap rokoknya, Bruno memperhatikan wajah Rita


“Gadis ini lumayan cantik” Bruno menyentuh wajah Rita


“Jangan sentuh dia! Dia itu barang pertukaran bernilai tinggi. Ku bunuh kau jika berani menyentuhnya!” ancam Shasa, Bruno melepaskan tangannya dari Rita


“Tenang boss!, aku hanya baru menyadari kecantikan gadis ini” jawab Bruno


“Ye..ye...ye...aku tahu tak-tik licik mu, gadis sebelumnya yang mati bunuh diri di sini itu perbuatan mu kan?”


“eh? Bukan aku saja Leo yang lebih dulu, aku hanya melanjutkan” ujar Bruno ketakutan, ia tahu sekali Shasa sangat mudah membunuh orang.


“Hampir saja kalian berdua ku bunuh kalau saja aku gak ingat kalian masih sepupu ku!, ayo pergi!” Shasa menarik Bruno pergi dari kamar itu.


“Rita..Rita...” Hantu Aldo memanggilnya hingga ke mimpi


“Aldo? Kamu kok bisa muncul di sini?”


“Bangun Rit!” dalam mimpi itu Aldo mendorongnya, hingga akhirnya Rita tersadar


“Aduuhhh...” ia memegangi pipinya yang bengkak


“Sakiiittt..huuuu...” tangisnya


“Kenapa kamu?”


“Tadi aku dipukul kedua orang itu!”


“Mereka memang orang yang kasar. Oh iya, nama mereka Shasa dan Bruno, dan satu lagi Leo yang mengambil ponsel mu” Aldo berbuat seolah-olah membuka buku catatannya


“Apa gunanya tahu nama mereka?” ujar Rita kesal, ia menahan sakit di pipinya


“yeah...aku tadi mendengar percakapan mereka. Kini mereka tahu kamu bukan Majorka melainkan cucu dua orang terkaya di dunia dan mereka hendak menjadikan mu sebagai tebusan bernilai 1 juta dolar!”


“Oh...baguslah!”ujar Rita ia ke kamar mandi untuk membasahi handuk dan mengompres pipinya yang bengkak


“Huh? Kok bagus?”


“Satu juta dolar itu kecil bagi kedua kakek ku, mereka pasti akan segera membayarnya dan membebaskan ku!” jawab Rita enteng


“Hmm...kamu benar-benar polos ya?”


“Hah? Kenapa? Orang tolol itu melukai hidung ku” Rita mengelap darah yang menempel di hidungnya


“Kamu yakin akan dibebaskan setelah mereka mendapatkan uang?”


“Biasanya begitu kan?”


“Tapi bukan itu yang aku dengar tadi” jawab Aldo


“Apa?”


“Mereka bilang setelah mendapatkan uang tebusan kamu akan dilelang di tempat para orang kaya yang menghabiskan uangnya untuk gadis cantik dan muda”


“Hah! Kamu pasti salah dengar! Aku jauh dari cantik, aku lebih cocok ditukar dengan uang!” jawab Rita bersikeras


“hmm..kamu benar-benar gak menyadari kelebihan wajah mu ya? tapi terserahlah, yang penting aku sudah meneruskan informasi penting tentang para penculik mu”


“Terima kasih Aldo!, oh iya ketika aku hendak keluar jendela, aku melihat ada hantu seorang gadis di atas atap ini, kamu mengenalnya?”


“Oh itu Charlene!”


“Charlene? Siapa dia? Kenapa dia diam saja?”


“Dia itu gadis sebelum kamu yang menghuni kamar ini. Ketika ia tidur, dua orang dari para penculik memperkosanya secara bergiliran.”


“Innalillahi wa’innaillaihi roji’un, lalu?”


“Lalu ia menjatuhkan diri dari jendela ini, tadinya jendela ini tidak berjeruji”


“aku heran Aldo!”


“Kenapa?”


“Di film-film, orang yang mati dibunuh atau diperkosa seharusnya ia menuntut balas kan? Kenapa hantu Charlene tidak menuntut balas pada kedua orang pemerkosanya?”


“Karena jiwa mereka sangat kotor! Begitu kotornya, sampai-sampai aku sudah jadi hantu pun tidak bisa menyentuh mereka!” ujar Charlene yang tiba-tiba muncul di kamar.


“Heii...sabar...sabar!” Aldo menenangkan Charlene yang begitu emosi


“Kamu beruntung!”ujar Charlene pada Rita


“Aku beruntung?”


“Tadi ketika kamu pingsan, ia hendak melecehkan mu, tetapi Shasa mencegahnya, bahkan akan membunuh Bruno jika ia menyentuh mu. Tapi aku beritahu ya, Shasa tidak selalu berada di sini, dan Bruno si brengsek itu dan Leo si keparat bisa mengendap-endap kemari ketika kamu tidur, jadi kamu harus waspada”


“Charlene, jika kamu tidak bisa balas dendam kenapa kamu masih bergentayangan? Seharusnya kamu pergi saja?” ujar Rita


“Jiwa ku dikutuk terkurung di rumah ini karena mati bunuh diri” jawab Charlene bersedih


“Tapi Aldo tidak mati bunuh diri tapi tetap terikat di rumah ini?” tanya Rita heran


“Itu aku juga tidak tahu, aku gak bisa jauh dari rumah ini, buktinya ketika kamu hendak dipindah dengan mobil tadi aku mengikuti mereka di mobil, tapi tiba-tiba aku kembali ke kamar ini” ujar Aldo


“Kalian pergilah, aku mau sholat, sudah sore” ujar Rita, Aldo dan Charlene pergi meninggalkan Rita di kamar. Dalam doanya Rita berdoa semoga Allah mengirimkan seseorang untuk menolongnya.


Sementara di tempat lain,


“Rita! Eh” Daniel terbangun dari tidurnya, ia masih berada di penerbangan menuju Rusia, di sampingnya Alex temannya


“Kamu mimpi buruk?” tanya Alex


“Iya, aku melihat Rita dipukuli hingga pingsan, mineral water please?” Daniel meminta air mineral kepada pramugari


“Rita ini apa mu?”


“Dia cucu bos ku”


“Pasti lebih dari itu, kamu sendiri bilang kalau tugas mu di perusahaan bukan lagi sebagai pengawal tapi kenapa sekarang berubah lagi?”


“Aku dan Rita punya hubungan istimewa”


“Kekasih maksud mu?”


“Bisa dibilang begitu”


“Kok kamu gak yakin?”


“Karena kedua kakeknya sangat kaya, aku gak yakin mereka akan mengijinkan ku menikahinya”

__ADS_1


“Kamu serius?”


“Serius apa?”


“Menikahnya?”


“Tentu saja! “


“Wow!”


“Kenapa kamu kaget?”


“Tentu aku kaget, usia kita masih muda, aku sendiri target menikah 30-35 tahun. Sementara ini aku puas-puasin dulu berkenalan dengan banyak gadis”


“Aku memang berniat menikah diusia 25-27, dengan pekerjaan seperti ini yang menyerempet bahaya, Aku gak yakin bisa hidup sampai tua!” jawab Daniel


“Ya pokoknya hati-hati saja menjaga nyawa kita!” jawab Alex.


Beberapa jam kemudian akhirnya mereka tiba di Rusia.


Daniel diperkenalkan dengan penghubungnya


“Daniel ini Areta Kasparov!” Alex memperkenalkan


“Oh, Kasparov seorang wanita?” ujar Daniel menyalami


“Kamu keberatan?” tanya Areta


“Oh tidak! Sama sekali tidak!, ini David dan teman-temannya mereka tenaga bantuan untuk menyelamatkan sandera” ujar Daniel


“Ayo kita naik perahu boat 2-3 jam”ajak Areta


Mereka berdelapan menaiki boat menuju desa Kopay


“Aku dengar di sana sedang ada tanah longsor yang menutupi jembatan di perbatasan, lebih baik kita naik boat untuk menghindari jembatan itu” ujar Areta setengah berteriak


“Baiklah!” jawab Daniel


Seorang anggota David memberikan sesuatu kepada David, lalu ia meneruskannya kepada Daniel


“Siapa orang ini?”


“Dia ini mata-mata penculik, orang kami di desa itu sudah mengikuti orang ini sejak beberapa hari” ujar David ke telinga Daniel


“Oh tim kalian lebih dulu kemari?” tanya Daniel


“Pak Sugiyono customer kami yang istimewa,beliau sudah beberapa kali menggunakan jasa kami”


“Kalau kalian lebih cepat, kenapa beliau mengutus aku juga?” tanya Daniel


David menggeleng


“Pak Sugiyono selalu memiliki rencana B, mungkin Anda termasuk rencana B dari beliau”


“Mungkin beliau sedang menguji kesungguhan mu” bisik Alex


Beberapa jam kemudian mereka tiba di kantor polisi desa Kopay. Orang yang menjadi mata-mata penculik dimasukan ke ruang interogasi.


“Apa kalian sudah menginterogasinya?” tanya Daniel


“Belum, kami menunggu kalian” jawab Kepala polisi Desa, Emir


“Chief Emir boleh kami menginterogasinya langsung?” tanya Daniel


“Silakan, tapi ingat jangan sampai mati ya?” ujar Chief Emir mengingatkan


Lima orang memasuki ruang interogasi, Daniel, Alex sebagai penerjemah, David, Sean dan Jack


(bahasa Rusia)


“Apa yang kamu ketahui tentang penculikan?” tanya David


“Penculikan apa? aku gak tahu sama sekali!” jawab mata-mata itu


“Siapa nama mu?” tanya Daniel


“Sven!”


“Jadi Sven, kamu pernah melihat gadis ini?” Daniel memberikan gambar Rita dari ponselnya


Sven memperhatikan gadis di ponsel itu


“Tidak! Aku tidak pernah melihat gadis ini!” jawab Sven dengan suara yakin


“Lalu kenapa kamu mencuri dengar?” tanya David


“Mencuri dengar? Maksud Anda? Aku penguping begitu?” tanya Sven dengan nada tersinggung


“Hei! Kamu jangan menganggap kami bodoh! Setelah mendengar percakapan kamu pergi ke cafe depan kan?” ujar Jack tiba-tiba, suaranya yang berat mengagetkan Daniel


“Memangnya gak boleh aku haus?”jawab Sven


“Mungkin dia perlu dikasari” ujar Sean


“Dikasari ya?” ujar Jack,


“buak!!!” tiba-tiba Jack menjedotkan kepala Sven ke meja


“Eh!” Daniel sangat kaget


“Aku gak tahu apa-apa sungguh! Ini fitnah!” teriak Sven sambil menangis


“Ini baru awalnya, kamu gak mau mengaku?” tanya Sean dengan nada dingin, Mata Sean terlihat sangat beringas, Sven sampai menutup matanya


“Aku harus mengaku apaaa??” tanya Sven menangis, dahinya berdarah


“Tn. Daniel, kami tidak berlama-lama, jadi biarkan kami yang menginterogasinya” ujar David


“Silakan!” jawab Daniel


Kedua tangan Sven di rekatkan di atas meja dan hanya tinggal ujung jarinya saja


“Dengar Sven, kalau kamu masih ribut tidak tahu, kami akan memotong ujung jari mu satu-persatu sampai kamu mengaku!”bisik Sean ke telinga Sven


Jack mengambil koleksi pisaunya dari tas ransel yang sejak tadi dia bawa, lalu mengasahnya hingga tajam, ia mempertontonkan kepada Sven dengan memotong selembar kertas dengan pisau itu.


“Pisau ini tajam lho! Kamu itu jangan sok pahlawan menutupi orang yang bersalah, belum tentu dia sama setianya dengan mu!” ujar David. Mata Sven terlihat goyah, ia mulai ketakutan


“Yah dia kencing!, dasar jorok!” Sean menampar wajah Sven karena kesal


Daniel yang terbiasa dengan kebersihan, memanggil OB dan meminta bekas kencing Sven dibersihkan


“Nanti saja Niel!” bisik Alex


“Aku jijik, lagi pula bakal bau pesing di sini” ujar Daniel

__ADS_1


OB membersihkan ruangan, para anak buah David berbisik-bisik


“Kok sempat-sempatnya membersihkan ruangan?” tanya Brian heran


“Pak Daniel eneg mencium bau pesing!” jawab Jack


“Pasti ini bercanda kan?” ujar Andy


Setelah ruangan bersih, interogasi kembali dilanjutkan.


Sean mulai mengikis kuku Sven yang panjang


“Ini baru kuku lho, belum bawah kulit” ujar Sean dengan nada dingin


“Shasa!” teriak Sven


“Shasa? Shasa siapa?” tanya David


“Shasa Rumanov!”


Dengan segera Alex mencari profil Shasa Rumanov di data basenya


“Shasa Rumanov 38 tahun, mantan agen KGB, pernah menjadi staf di kedutaan besar Rusia di Perancis, Duda, info sekarang tidak diketahui keberadaannya” Alex membacakan profil Shasa


“Oh jadi Shasa bos penculikan ini?”


“Putin berhutang judi pada Shasa, dan ia berjanji akan membayarnya. Tetapi sudah 2 tahun Putin menghilang. Shasa mengikuti jejaknya melalui putrinya Majorka!” teriak Sven, ia mulai ketakutan karena Sean tanpa sengaja mengenai bagian dalam kukunya


“Apa Shasa tahu kalau yang diculiknya bukan Majorka?” tanya Daniel


“Sekarang dia tahu, aku memberitahunya” jawab Sven


“Kalau begitu tunjukkan lokasi Shasa biasanya menahan korban?” tanya David


“Aku gak tahu!”


“Gak tahu? Nih!” Sean melukai ujung kuku jempol Sven hingga darah mengalir,


“Ampun...aku gak tahuu...”


“Aku lupa, api bisa menghentikan pendarahan!” ujar Jack, ia menyundut rokoknya ke jari Sven yang berdarah


“Sakittt....ampun....coba rumah neneknya di Green Gloves no,27. Biasanya dia di sana” teriak Sven


“Nah begitu dong!” ujar Sean, kemudian Brian masuk ke ruangan, dan mengobati luka Sven


“Eh, kalian melakukan itu juga?” tanya Alex dengan tatapan aneh


“Kami bukan pembunuh berdarah dingin, setelah mendapatkan informasi penting sang informan harus diselamatkan!” jawab Brian


“Awwww!!!” Sven berteriak kesakitan karena Brian menyiramkan antiseptik ke lukanya


“Aku gak tahu deh, sebenarnya kalian mengobatinya atau malah membunuhnya” ujar Alex melihat cara Sean mengobati Sven.


Setelah interogasi, Daniel menemui Chief Emir.


“Sven sudah mengakui pak, agaknya sandera ditahan di rumah nenek Shasa”


“Siapa? Shasa?”


“Shasa Rumanov!”


“Rumanov? Dia seorang pahlawan!”


“Pahlawan?”


“Ya, dia pernah menyelamatkan desa ini dari perampokan, sampai-sampai kakinya cacat!” ujar Chief Emir


“Kapan itu terjadi?” tanya Daniel


“6-7 tahun yang lalu, sejak peristiwa itu ia dikeluarkan dari pekerjaannya. Istrinya membawa pergi kedua anak gadisnya karena gak tahan dengan kebiasaannya mabuk dan berjudi”


“Jadi Anda mengenalnya dengan baik?” tanya Daniel


“Yeah, dia juga pernah menyelamatkan ku, waktu itu aku terkepung dengan para perampok, tapi Shasa menyelamatkan hidup ku” cerita Chief Emir


“Tapi pak, sekarang Shasa melanggar hukum, dia menculik seseorang!” ujar Daniel


“Belum tentu dia kan? Kalau sepupunya Bruno atau Leo aku percaya! Mereka benar-benar sampah!” maki Chief Emir


“Jadi Anda bisa mengantarkan kami ke rumahnya?” tanya Daniel


“Sekarang?”


“Kalau ditunda lagi aku takut sandera akan dipindahkan ke tempat lain” jawab Daniel


“Baiklah! Ayo kita segera berangkat!” Chief Emir bersama rombongan Daniel menuju rumah neneknya Shasa, tapi di sana mereka tidak menemukan apa-apa.


“Nenek! Shasa di mana sekarang?” Tanya Chief Emir


“Shasa-shasa? Apa dia kesini?” tanya Nenek Lola yang sudah berusia 98 tahun


“Telinganya sudah tidak bisa mendengar” ujar Amira cucu nenek Lola yang merawatnya


“Kamu siapa?” tanya Alex


“Aku Amira, anaknya Shasa”


“Amira! Kebetulan, kamu tahu di mana papa mu?”


“Tidak! Aku tidak tahu! Dia berjanji akan merawat nenek menggantikan ku, tapi dia gak kunjung datang!” jawab Amira dengan nada kesal


Daniel menatap mata Amira, gadis berusia 15 tahun itu tampak malu-malu ditatap pemuda tampan


“Eh, Anda artis K-Pop ya?” tanya Amira malu dengan menggunakan bahasa Inggris yang terbata-bata


“Bukan!” jawab Daniel tersenyum, ia mendekati Amira dan mengajaknya duduk


“Jadi Amira, papa mu selama ini tinggal di mana?” tanya Daniel


“Mungkin di tempat sepupu kami, Bruno.” Jawab Amira


“Apa tempatnya jauh?” tanya Daniel


“Rumah Bruno melewati hutan, hati-hati di situ banyak perangkap beruang.” Jawab Amira tersenyum senang bisa menatap wajah Daniel dari dekat.


Amira memberikan alamat rumah Bruno


“Tempat ini berjarak satu jam dari sini, sekarang hari sudah gelap. Terlalu bahaya sebaiknya besok pagi saja kita lanjutkan” ujar Chief Emir


“Maaf Chief, kalau Anda keberatan, biar kami saja yang kesana. Anda cukup memberitahukan arahnya” ujar Daniel


“Benar-benar orang yang tidak sabaran!” keluh Chief


Akhirnya mereka melanjutkan perjalanan menuju rumah Bruno.

__ADS_1


_Bersambung_


__ADS_2