
Ranna dan Rita terjebak dalam perang dingin, Ranna belum menerima ketegasan Rita yang memaksakannya untuk minum sufor. Sebenarnya Ranna sudah terbiasa dengan sufor tersebut hanya saja ia ingin maminya lebih memperhatikan dirinya. Cara ia menunjukkan protesnya dengan menempel terus pada papinya. Ia selalu dalam gendongan Daniel.
“kakak sama mami dulu ya, papi mau ke toilet” Daniel melepaskan Ranna dari gendongannya,
“Nooo..papiiii” tangis Ranna, ia tidak mau digendong Rita. Ia terus menempel pada papinya
“Aduuhh kakak papi sudah gak tahan nih!” Dengan terburu-buru Daniel memberikan Ranna ke Rita dan langsung berlari menuju toilet bandara.
“papi...papiiii..papii!!” tangis Ranna memanggil papinya membuat semua orang menatapnya iba
“kakak! Hei kamu kenapa sih? Papi ke toilet sebentar” tegur Rita kesal, ia bangkit dari duduknya, Ranna meronta-ronta dari gendongan Rita hingga tanpa sengaja hidung Rita terpukul oleh tangan Ranna
“Aduhhh!! Kakak sakit tahu!” teriak Rita, Ranna kaget dengan suara kemarahan maminya, ia belum pernah mendengarnya sebelumnya kemudian ia menangis
“huuaaaaa!!!!” ia minta turun dari gendongan maminya, Rita yang kesakitan hidungnya memanggil suster Erni yang memegang Rayya.
“Suster!, pegang nih!” ujar Rita kesal. Ia menggendong Rayya lalu membawanya ke toilet. Ia ingin memeriksa hidungnya yang terpukul oleh Ranna. Tak berapa lama Daniel datang menghampiri suster Erni, Ranna masih menangis
“Lho ibu mana?” tanya Daniel sambil mengambil Ranna dari gendongan suster Erni.
“Ke toilet pak, tadi hidungnya tidak sengaja terpukul oleh Ranna” ujar Erni
“Hah? Kakak kenapa sih?” tegur Daniel, ia memarahi Ranna
“huuuaaaaaa...”Ranna menangis lagi, ia turun dari gendongan Daniel dan kembali digendong oleh suster. Beberapa saat kemudian Rita datang bersama Rayya.
“Kamu gak apa-apa?” tanya Daniel khawatir, ia mengambil Rayya dari gendongan Rita
“Gak apa-apa, tadi lumayan kenanya”
“Memangnya di bagian mana kenanya?” tanya Daniel memperhatikan hidung istrinya
“ini, bagian ini” Rita menunjukkan tempat ia terpukul.
“Iya agak bengkak, sebentar!” ia menyerahkan Rayya, lalu pergi ke suatu tempat. Beberapa menit kemudian ia tiba
“Nih pakai ini” Daniel menempelkan sapu tangan dingin ke kening Rita
“Ah..lumayan!..” Rita menyerahkan Rayya ke Daniel, dan menaruh sapu tangan dingin itu di keningnya
“Kok bisa terpukul?” tanya Daniel heran
“Iya, tadi dia meronta-ronta, lalu aku tahan, eh tangannya melayang ke hidung ku” keluh Rita
“Sayang, bagaimana kita biarkan saja Ranna meminum ASI mu lagi, mungkin dia belum siap” bujuk Daniel
“Kalau gak dipaksa sekarang kapan siapnya? Nanti juga Raffa dan Rayya akan begini juga” ujar Rita bersikeras. Daniel terdiam dengan kekerasan hati istrinya. Panggilan menaiki pesawat bergema, dengan segera Daniel beserta rombongannya naik ke pesawat menuju Zurich.
“Empat dewasa dan 3 anak-anak” Daniel menyerahkan tiket kepada petugas,
“Silakan pak!” ujar petugas, mereka pun memasuki lorong dan tiba di pesawat. Rita duduk di samping Daniel, sedangkan kedua suster duduk terpisah dua bangku di belakang. Mereka memegang anak-anak Ranna dan Raffa. Daniel memasangkan head phone ke telinga anak-anaknya untuk persiapan take off pesawat.
“Pakai ini ya sayang!” ujar Daniel, ia memasangkan head phone ke telinga Ranna dan Raffa yang dalam pangkuan susternya. Kedua suster tersipu, baru kali ini mereka melihat wajah Daniel dari dekat, kemudian ia kembali ke tempat duduknya. Timbul keisengan, ia mengecup bibir Rita ketika memasangkan headphone ke anak bungsunya.
“Hey! Malu ah!” ujar Rita tersipu
“Biar hidungnya gak sakit lagi” ngeles Daniel
“Aneh, yang dicium bukan ditempat yang bengkak!” ujar Rita tersipu
“Gak apa-apa nanti juga terasa efeknya!” ujar Daniel tersenyum.
Penerbangan memakan waktu cukup lama, suster bergantian memegang Ranna dan Raffa yang tidak bisa diam di pesawat. Beberapa penumpang tampak terganggu dengan kedua batita tersebut.
“Ah maaf!” ujar suster. Daniel mendengar beberapa keluhan penumpang lalu ia bangkit dan mengambil kedua anak dari para suster.
“Sama saya saja!” ujarnya merasa tidak enak. Kedua anak tertawa-tawa karena Daniel membawa mereka layaknya mereka tas.
“Kalian duduk di sini sama mami!”
“Nooo!!” ujar Ranna, ia merasa tidak enak sudah memukul maminya tadi
“Gak apa-apa kak!” ujar Daniel menenangkan. Ia sengaja membeli ekstra seat di sampingnya untuk anak-anak. Rita tampak terlelap dengan Rayya yang juga terlelap dalam gendongannya.
“Mami!” panggil Raffa
“ssttt!!! Mami lagi tidur” ujar Daniel memperingatkan
“I want to drink!” ujar Raffa
“sebentar bang!” Daniel bangkit dan mengambil botol susu Raffa dari kompartemen di atas.
“Aku mau juga pi!” pinta Ranna, ini kesempatan untuk meminum ASI pikirnya. Daniel berpikir praktis, ia mengambil botol Raffa yang satu lagi dan memberikannya ke Ranna. Dengan wajah senang Ranna menerima botol berisi ASI maminya, ia berpikir rencananya berhasil. Tetapi aneh, ketika ia mencoba tegukan pertama, ia tidak merasakan susu yang selama ini ia minum.
“ekh!” ia melepeh susu
“Kenapa kak?” tanya Daniel, Ranna kembali memasukkan botol ke mulutnya, sekali lagi
“weekk” ia memuntahkan susu dari mulutnya
“aduhh kakak!” Daniel mengambil tissue basah dari tas Rita dan mengelap mulut anaknya
Akhirnya Ranna menyerah
“Ini bukan punya aku!” ujarnya pelan
“apanya kak?” tanya Daniel sambil membuang bekas tissue
“botol ini bukan punya aku!” teriak Ranna
“sssttt...kakak!” Daniel melotot memperingatkan
“ini bukan punya kakak Pi!” ujarnya pelan, akhirnya Daniel kembali berdiri dan mengambil botol susu yang berwarna pink
“Yang ini kak?” tanya Daniel
“yaa!!!” teriak Ranna kegirangan, ia mengambil botol susu berwarna pink berbentuk unicorn dan meminum susunya dengan lahap.
“Sayang, waktunya makan” Daniel membangunkan Rita
“hah? Sudah waktunya? Aduuhhh..belum sampai ya?” keluhnya
“hhhhkk....ahhhhh” Rayya ikut terbangun
“maaf dek!!!” Rita berusaha mendiamkan anaknya
“Sini deh adek sama papi, biar mami bisa makan” Daniel mengambil Rayya dari Rita.
“Anak-anak mana?” tanya Rita sambil bersiap untuk makan
“di belakang sama suster”
“Eh kamu sudah makan?” tanya Rita, ia melihat makanan untuk suaminya belum di sentuh
“Belum, kamu dulu saja” ujar Daniel sambil menggendong Rayya.
“Bareng saja ya?” ujar Rita, ia melahap makanannya, lalu menyuapi suaminya
“hmm...enak nih cateringnya” puji Daniel
“oh ya? biasanya gak begini?” tanya Rita sambil melahap bagiannya
“enggak, biasanya gak seenak ini” Rita kembali menyuapi suaminya
“Dagingnya empuk!” mereka menikmati makanan dari pesawat.
“Anak-anak belum makan” Rita membuka tas perlengkapan, ia sudah menyiapkan makanan untuk anak-anaknya. Daniel yang duduk di pinggir memberikan tempat makanan anak-anak kepada kedua suster
“Ini makanan anak-anak, eh kalian sudah makan kan?” tanyanya
__ADS_1
“Sudah pak tadi” suster Erni menerima tempat makan anak-anak
“Oh baguslah!” Daniel kembali ke tempat duduknya.
Kedua suster menyuapi kedua anak batita yang mulai terbiasa duduk di tempat mereka.
“Sayang, bagian anak-anak dapat gak?” tanya Rita, kelihatannya ia masih merasa lapar
“bagian anak-anak dapat sih Cuma 2, Rayya masih dibawah setahun jadi gak dapat
“Boleh deh, mana?” Rita meminta makanan bagian anak-anaknya, lalu ia memakannya lagi
“Kamu masih mau?” ia hendak menyuapi suaminya
“Enggak ah, kenyang! Satu saja sudah banyak porsinya” tolak Daniel
“Iya sih, tapi aku kan harus memproduksi ASI untuk dua batita, jadi makannya harus double. Dengan lahap ia menyantap makanannya. Ia melirik botol susu warna pink, lalu mengangkatnya
“Lho kosong? Siapa yang minum?” tanyanya heran
“Gak mungkin aku kan?” ujar Daniel
“Masa sih Ranna?” tanya Rita
“Iya, dia yang minum. Tadi aku sempat memberikan botol milik Raffa, aku pikir gak apa-apalah sedikit ini. Eh gak taunya malah dimuntahin sama dia”
“Hah? Botol Raffa?”
“Iya, dia malah bilang, ini bukan punya aku, jadi aku kasih deh botol pink itu” ujar Daniel tersenyum
“oooohhhh...kamu cerdik sekali Say!” puji Rita
“Iya doongggg!” jawab Daniel tersenyum
“Eh Say, di sana nanti sudah ada tempat tinggal untuk kita kan?” tanya Rita
“Tentu! Aku sudah meminta asisten ku di sana untuk menyiapkan untuk kamu dan anak-anak, dan para suster tentunya”
“hmm....itu masuk fasilitas kantor atau biaya kamu?”
“Fasilitas kantor dong, aku ke Swiss kan karena dinas”
“Tapi kamu kan bawa aku dan anak-anak, kami kan gak dinas?”
“yaa...lihat saja nanti deh rumah yang aku tinggali kalau aku ke Swiss” ujar Daniel.
Beberapa jam kemudian mereka tiba di Zurich, mereka dijemput oleh supir kantor di bandara
(Bahasa Inggris)
“Selamat malam pak Daniel!” tegur supir paruh baya itu
“Selamat malam, Dickens! Kenalkan ini Rita istriku!” Daniel memperkenalkan
“Rita!”
“Dickens!”ia melepas topinya untuk menghormati Rita
“ini anak-anak ku. Itu Ranna, Raffa dan Rayya” Ketiga anak lelap tertidur di stroller mereka
“Wow, rombongan ya pak?” Dicken mengambil tas Daniel
“Jangan yang ini, yang di bagasi saja!” pinta Daniel, mereka pun bergegas ke mobil dan menuju ke rumah dinas. Suasana malam di Zurich terlihat memesona, Rita tak berhenti terkagum-kagum
“Wahh...sayang, kayaknya aku mau tinggal di sini saja” ujarnya, ia terkesima dengan balutan cahaya dari lampu-lampu di jalan
“hahaha...kamu senang keramaian seperti ini, coba deh datang pas musim dingin, semua putih tertutup salju, aku yakin kamu akan minta segera pulang ke Jakarta” ujar Daniel tersenyum
Para suster tidak mau kalah, mereka mengambil foto-foto dengan ponsel mereka selama dalam perjalanan.
“Sayang, kamu dua minggu kan di sini?”
“Sabtu dan Minggu juga di hitung hari kerja?”
“Sebenarnya hitungannya 14 hari tidak termasuk Sabtu dan Minggu, tetapi aku selalu memasukkan Sabtu dan Minggu untuk bekerja”
“Lho kenapa?”
“Karena aku mau cepat-cepat pulang bertemu keluarga ku” ujarnya
“Oh begitu!” Rita tersenyum
“Tapi kalau kalian di sini, aku mau libur ah Sabtu dan Minggu!”
“Beneran? Bisa begitu?”
“Bisa dong! Seharusnya sih”
Akhirnya mereka pun tiba di rumah dinas. Rumah bergaya eropa lama, dari luar tampak hangat.
“Selamat datang!!!” Daniel membuka pintu dan menyalakan lampu
“Wow!!!” Rita membuka jaketnya, begitu pula para suster.
“Selamat Datang kembali pak Daniel!” sapa seorang wanita setengah tua yang merupakan pengurus rumahnya
“Hey Beatrice apa kabar?” sapa Daniel ramah
“Baik pak Daniel!” jawab Beatrice tersenyum, ia melihat ke arah Rita
“Ah iya, beatrice kenalkan ini Rita istriku, dan yang tertidur semua itu anak-anak ku” ujar Daniel bangga
“ah iya, nyonya Rita!, wah Anda masih muda sekali ya?”Beatrice menyalami Rita
“Terima kasih bu!” jawab Rita ramah
“Panggil saya Beatrice saja jangan sungkan”
“Beatrice, ini Erni dan Rini pengasuh anak-anak ku” ujar Rita
“ooo” Beatrice mengangguk
“Ayo kita ke kamar kita!” ajak Daniel
“Saya sudah membereskan kamar Anda pak Daniel, juga dua kamar ekstra seperti permintaan Anda”
“Terima kasih, ayo kita ke atas!” ajak Daniel
“Di lantai bawah itu ruang tamu, ruang tengah, dapur, kamar mandi serta kamar pelayan. Sedangkan kamar-kamar kita ada di lantai 2” ujar Daniel
“Para suster di lantai satu atau dua?” tanya Rita
“Beatrice, untuk kedua nanny anakku di lantai mana?” tanya Daniel
“Lantai dua pak Daniel, karena anak-anak Anda masih terlalu kecil untuk terpisah jauh dari nanny mereka” Jawab Beatrice, sambil menunjukkan tiap kamar.
“Assalammu’alaikumm...” Rita memasuki kamar tidur mereka
“Wa’alaikummussalam..” jawab Daniel, Rita segera merebahkan tubuhnya ke ranjang
“Ahh...empuk sekalii” ia memeluk bantal dengan senang, sementara Daniel meletakkan tas mereka di lemari
“Ibu maaf, anak-anak mau di taruh di mana?” tanya suster Rini,
“Di sini dulu saja!” pinta Rita, kedua suster meletakkan stroller anak-anak di kamar orang tua mereka.
“Oh,...mereka bisa di tidurkan di sini” Beatrice menunjukkan kamar berhadapan dengan kamar Daniel dan Rita. Beatrice menyalakan lampu kamar serta pemanas, kamar yang cukup luas. Di situ sudah terdapat 3 box bayi yang di susun rapi dan apik.
“wow, kamu menyiapkan semua ini beatrice?” tanya Daniel kagum melihat kamar anak-anaknya yang nyaman
__ADS_1
“Tentu saja, saya menanyakan pada asisten Anda tentang usia anak-anak Anda yang masih batita. Tentunya kalian tidak mau privasi kalian terganggu oleh tangis anak-anak kan?” ujar Beatrice tersenyum
“Budaya di sini anak-anak sudah dipisahkan tidurnya dari orang tuanya” ujar Daniel kepada Rita
“Iyaa...toh mereka ada di depan kamar kita” ujar Rita masih menikmati ranjangnya.
Daniel menggeleng-geleng melihat tingkah istrinya
“Istri ku selalu begitu kalau di tempat yang nyaman” ujarnya pada Beatrice
“Hahahaha...syukurlah istri Anda menyukainya. Oh iya berapa usia istri Anda?”
“Dua puluh tahun” jawab Daniel
“Wah masih sangat muda ya? tetapi aku juga punya anak ketiga ketika usia ku 19 tahun” ujar Beatrice. Ia pergi menunjukkan kamar untuk para suster.
Daniel mengganti pakaian ketiga anaknya, kemudian menutup pintu dan kembali ke kamarnya
“Anak-anak sudah aku ganti pakaiannya” ujarnya sambil membuka pakaiannya
“Ah..terima kasih Sayang! Kamu baik sekali!” ujar Rita sambil memeluk bantal dan menciuminya
“Kamu benar-benar menyukai ranjang itu ya?” tanya Daniel sambil menuju ke kamar mandi
“Aku mau tanya ah, beatrice pakai pewangi dan pelembut apaan untuk seprai ini” ujar Rita.
Daniel membersihkan tubuh dan wajahnya, ia kelihatan lelah karena telah menempuh perjalanan jauh setelah itu ia sholat Isya. Kini giliran Rita yang membersihkan tubuhnya setelah itu ia sholat Isya. Daniel tampak terlelap ketika ia telah selesai sholat. Rita memikirkan anaknya di kamar depan, ia mengambil microphone bayi dan kamera kecil dari dalam tasnya, lalu meletakkan di kamar anak-anaknya. Satu per satu ia mencium anak-anaknya, ia menutup pintu tanpa bersuara lalu kembali ke kamarnya.
“Kamu sudah mengecek anak-anak?” tanya Daniel
“Astaghfirullah, bikin kaget saja!” Rita terkejut, karena teguran Daniel
“Kunci pintu dong!” pinta Daniel, Rita menuruti setelah itu ia merebahkan dirinya di samping suaminya
“hhmmm...” Daniel memeluk istrinya
“Hey kamu gak capek?” tanya Rita
“Capek sih, tapi aku ingin memeluk mu sejak tadi di pesawat” ujarnya sambil memeluk Rita layaknya Rita memeluk bantal tadi
“Hmmm...” Rita menatap wajah suaminya dan mengibaskan rambut kecil di keningnya
“Kenapa?”
“Enggak!..cup” ia mengecup kening suaminya lalu melepaskan diri dari pelukan suaminya
“Sudah begitu saja?” tanya Daniel
“Aku lelah, besok saja ya?” tolak Rita halus
“Baiklah!” tetapi Daniel tetap menarik Rita untuk tidur di pelukannya. Setelah bercanda sejenak, akhirnya mereka lelap tertidur.
“tinggg...” bunyi alarm membangunkan Daniel. ia melihat waktu menunjukkan pukul 4 pagi waktu setempat. Ia membaca waktu sholat subuh untuk wilayah Swiss
“Oh iya ya, ini waktu zurich, aku sudah telat nih” ia segera mengambil air wudhu lalu sholat subuh, setelah itu ia membangunkan Rita
“Sayang, waktunya sholat subuh”
“hah? Sudah jam 5?”
“Sudah telat, subuh itu di sini jam 3 kurang” ujar Daniel
“ahhh...iya ya” dengan langkah gontai Rita ke kamar mandi membersihkan diri lalu sholat subuh. Setelah itu ia kembali ke ranjangnya
“dingin ya?brrrr...” ia menggigil
Daniel selesai tilawah, lalu menghampiri istrinya
“Apa?” tanya Rita melihat tingkah suaminya
“Aku ingin olah raga pagi” ujarnya sambil membuka pakaiannya
“Olah raga pagi? Tapi di luar masih gelap” ujar Rita
“Maksudku olah raga sama kamu” ia mendekap tubuh istrinya dan melucuti pakaiannya, mereka bercinta di pagi hari.
“Sayang, kamu bertenaga sekali?” Rita menutupi tubuhnya selesai bercinta
“Kalau pagi, tenaga ku masih banyak, lagi pula bagus lho bercinta pagi” ujar Daniel merebahkan tubuhnya di samping istrinya.
“Iya sih, tapi malam juga gak menghentikan kamu kan?” ledek Rita
“Kalau ada kamu gak bisa lah!” Daniel memeluk istrinya
“waaaaaa...” suara tangis Rayya terdengar dari kamar depan.
“Ah Rayya menangis” Rita bergegas berpakaian, tetapi Daniel mengisenginya hingga ia agak susah memakai pakaiannya, Daniel merebahkan wajahnya di dada Rita
“Biar dulu begini ah sebelum anak-anak!” ujarnya
“Tadi kan sudah pi!!...ayolah tuh Rayya makin keras teriakannya” ujar Rita berusaha melepaskan diri dari suaminya, akhirnya ia berhasil, sambil memakai jubah tidurnya ia pergi ke kamar depan
“halo..halo!” ujarnya sambil menggendong Rayya, ia melihat Ranna dan Raffa tengah asyik dengan botol susu mereka.
“Kak, Bang, kalau ade nangis, kasih dong botol susunya” ujar Rita sambil duduk di pojokkan untuk memberikan ASI kepada Rayya. Ranna memperhatikan maminya yang sedang memberikan Asi kepada adiknya, ia turun dari boxnya lalu menghampiri Rita sambil membawa botol pink unicornnya
“mami, aku mau lagi” pintanya
“Apa? ini?” Rita menunjuk dadanya
“no! Susu Anna!” ujarnya
“Jadi sekarang doyan nih?” ledek Rita, Ranna meletakkan botol kosongnya di meja samping Rita duduk, lalu kembali ke tempat tidurnya.
“Kalian gak ngompol kan?” tanya Rita
“No!”Jawab Ranna
“huaaaaa...” Raffa menangis
“Kenapa bang?” tanya Rita heran, Raffa bangkit lalu menunjukkan celananya yang basah
“oh abang ngompol, ya udah, angkat deh seprainya, ganti celananya!” ujar Rita, mengetahui mamanya yang tidak marah, Raffa segera mengerjakan yang disuruh maminya. Ia membuka celananya, lalu mengelap dengan tissue basah, lalu memakai celana baru. Ia menarik selimut dan celana ompolnya
“abang pandai!” puji Rita, Raffa tersenyum malu. Satu persatu ia meletakan kain bekas ompolnya di laundry basket pojokan.
“done mami” ujarnya puas
“good boy...alhamdulillah!” puji Rita. Selesai menyusui Rayya, ia memandikan ketiga anaknya, mereka tampak bahagia dimandikan oleh maminya. Setelah itu mereka berpakaian. Rita pun kembali ke kamarnya untuk mandi dan berganti pakaian, ia tidak melihat Daniel di kamar mereka. Setelah rapi, ia bersama anak-anaknya menuruni tangga
“Pelan-pelan abang, kakak!” ujarnya memperingati,
“Selamat pagi!” sapa beatrice ramah. Daniel telah duduk di meja makan sedang sarapan. Ia membaca tabletnya
“Hai!” sapanya tersenyum.
“Memangnya kamu kenyang hanya makan roti dan scramble egg?” tanya Rita melihat piring suaminya
“Kalau di sini kenyang saja tuh, mungkin telurnya beda, kamu cobain deh” ujar Daniel sambil melahap sarapannya. Rita menyiapkan makanan untuk anak-anaknya, ia hanya memberikan scamble egg. Rayya hanya duduk sambil memainkan boneka bebeknya
“hmm...enak!!!” puji Rita, dengan lahap ia menyantap scamble egg dan roti
“Eh ini syrup maple ya?” tanyanya
“Iya! Coba pakai itu, rasanya tambah enak!” ujar Daniel yang menambah sarapannya. Rita mengikuti saran suaminya
“Wahh...bener-bener sarapan ala bule nih!” ujarnya tersenyum
_bersambung_
__ADS_1