
Sejak Andi mengenal Edward, ia banyak dikenalkan dengan alat-alat berteknologi tinggi. Rupanya hobi Andi dan Edward sama, mereka tertarik dengan teknologi. Andi menunjukkan kreasi dronenya yang jangkauannya jauh. Suatu hari Edward menunjukkan alat perekam yang canggih.
“Kamu mendapatkan ini dari mana?” tanya Andi kepada Edward tentang microphone super sensitif miliknya
“Aku dan temanku membuatnya sebagai project kuliah. Awalnya untuk lucu-lucuan, kamu tahu ASMR kan? Nah ini semacam itu, hanya saja yang menarik dari alat ini super sensitif, bahkan hembusan angin terdengar sangat jelas, padahal kita berada di ruangan lain.” Ujar Edward menjelaskan
“Jadi sudahlah sensitif juga wireless? Apa pakai bluetooth?” tanya Andi penasaran
“Iya semacam itu, tapi bluetooth terbaru ya, kamu mau coba? Aku pinjamkan!”
“Tapi Edward untuk apa kamu membuat ini? Kamu buatnya banyak bukan?”
“Kamu boleh panggil aku Eddie, hmm...seperti aku bilang awalnya hanya untuk lucu-lucuan saja, tapi ternyata ada beberapa orang sangat tertarik dengan alat ini!”
“Oh ya? para youtuber?”
“Bukan, para pemburu hantu!”
“Ah yang benar saja!”
“Beneran!, temanku secara gak sengaja meletakannya di loteng rumahnya, yang katanya berhantu, dan pada malam hari alat ini merekam suara-suara di loteng tersebut!”
“Kan bisa saja suara tikus, serangga, seperti yang kamu bilang alat ini super sensitif!” ujar Andi dengan nada tidak percaya.
“Nah, aku juga bilang begitu, tapi menurut temanku, gak mungkinkan serangga atau tikus bisa nyanyi?”
“Nyanyi?” tanya Andi penasaran
“Iya, dari rekaman itu, ia mendengar suara orang bernyanyi, lagunya seperti nina bobo,”
“Ah kamu mau bikin aku takut ya?, bisa saja itu suara ibunya yang menyanyikan lagu untuk adik temanmu atau suara tetangga sebelah!”
“penjelasan itu mungkin bisa diterima kalau lotengnya dekat dengan kamar utama, atau dinding tetangga sebelah. Ini loteng, lantai tiga. Dan temanku bilang, di situ ada kursi goyang, dulu neneknya sering mendendangkan lagu nina bobo untuk anaknya”
“Jadi temanmu tinggal di rumah neneknya?” tanya Andi lagi, dia mulai merinding membayangkan
“Iya,apa kamu mau mengujinya? Di rumah besar ini ada kamar yang jarang ditempati? Atau kamar itu penghuninya sudah meninggal?” tanya Edward
“Kayaknya ada, ini mendapatkan tenaganya dengan di charge seperti ponsel kan?” tanya Andi penasaran
“Betul!, coba dulu deh, kamu gak mungkin percaya tanpa dicoba!” bujuk Edward
“Baiklah, aku pinjam ya? sebagai pertukaran, kamu mau pinjam drone punyaku?” ujar Andi menawarkan
“Hmmm...aku sudah punya banyak drone, walaupun jangkauannya tidak sejauh drone milikmu. Tak apa aku pinjamkan perekam itu kepadamu. Nanti kalau kita ketemu lagi, kamu bisa mengembalikannya!”
“Baiklah! Btw tentang pemburu hantu itu, bagaimana mereka tahu tentang alat ini?”
“Temanku mengupload penemuannya ke channel youtube miliknya, dan beberapa orang tertarik, mereka bahkan memesan 10 -20 alat ini!”
“Oh ya? berapa kalian jual satu alat ini?”
“Hmm..sekitar 10rb – 15rb USD!”
“Hah??? Dan mereka membelinya banyak?” tanya Andi takjub
“Iya, aku dan temanku juga mulai mempromosikan ke beberapa perusahaan, siapa tahu ada yang tertarik untuk investasi!”
“wah keren!!, mungkin aku juga tertarik untuk membelinya?”
“Dengan kemampuan mu seharusnya kamu bisa membuatnya sendiri !” ujar Edward memberi ide
“tidak Eddie, ini adalah project kalian, aku mau fokus dengan project droneku saja!” ujar Andi bertekad.
Setelah Edward pulang, Andi memikirkan tempat untuk meletakan alat perekam wireless itu, kemudian ia memutuskan untuk meletakkan di kamar Eka, ayahnya. Ia penasaran, apakah hantu ayahnya ada di kamar itu, seperti yang sering disebut para staf rumah. Karena alat perekam itu, Andi mengetahui rencana kakek-kakeknya terhadap Rita.
“Wah, kakek-kakek ini, sudah kaya masih mau lebih kaya lagi, kali ini cucunya mau dikorbankan!” pikir Andi kesal, ia tidak begitu suka dengan Rendy, yang menurutnya sombong. Andi memikirkan cara mencegah perjodohan Rita dan Rendy, kemudian ia mendapat ide, ia menghubungi seseorang.
“Assalammu’alaikum, Arya?”
“Wa’alaikumussalam! Siapa nih?” tanya orang yang menjawab telepon
“Duuuhhh,..sombongnyeee, lupa yee? Ini Raka!” jawab Andi, nama lengkap Andi adalah Raka Andika
“Ohh, Elo Ka, ganti nomor ya?” tanya Dewa, yang dipanggil Arya, nama lengkapnya Arya Dewangga
“oh iya lupa gue, hehehe..apa kabarnya nih? Kuliah masih kan?”
“Masih, tapi kan lagi libur semester!”
“Oh ya? berapa lama?”
“Sekitar sebulan, kenapa? Mau undang gue kesitu? Boleh, tapi bayarin tiketnya ya?” canda Dewa
“Boleh, Lo urus visanya ya, nanti tiketnya gue beliin!” ujar Andi to the poin
“Serius lo Ka?” tanya Dewa gak percaya
__ADS_1
“Serius !”
“Tapi ka, disini untuk visa ke LN gak bisa mendadak begini!” protes Dewa
“Hmm,..begitu ya, begini deh, gue punya kenalan kakek gue di kedutaan NZ di Jakarta, nanti gue akan suruh orang ke rumah Lo ambil paspor, lo cukup siapin badan aja ya?” ujar Andi
“Ada apaan sih, kog buru-buru begini?” tanya Dewa heran
“Enggak ada apa-apa, nanti juga Lo tahu sendiri!”
“Oke deh, gue percaya sama elo nih gak bakal nge-prank gue kan?”
“enggak lah, kabari gue kalau orang kedutaan nanti menghubungi lo ya?” ujar Andi
“Shiaappp!!!” jawab Dewa girang, ia senang mendapatkan libur gratis ke luar negeri, ditambah lagi ia akan bertemu Rita lagi.
Seperti yang dijanjikan, Dewa datang pada hari ketiga pertandingan TWK. Andi meminta salah seorang staf menjemputnya di bandara, setelah di sampai di rumah besar, Dewa di antar staf menuju lapangan pertandingan. Pertandingan yang sedang berlangsung, panjat tebing/ wall climbing. Tiap peserta diwajibkan mencapai tinggi maksimal dinding yaitu 16 meter, pada ketinggian maksimal terdapat door prize untuk peserta yang berhasil mencapainya. Group Andi mendapatkan giliran kedua. Giliran pertama group Roby, tak disangka Roby yang biasanya begitu garang, ia takluk di ketinggian 5 meter , ternyata ia takut ketinggian, sedangkan partnernya Fita justru dapat menyelesaikan tantangan, ia naik hingga 16 meter dan meraih door prize. Peserta kedua, group Rita dan Andi. Andi terpaksa berhenti diketinggian 10 meter karena terpeleset,hingga jatuh, syukurlah ada tali pengaman, sehingga ia hanya bergelantungan. Sedangkan Rita terus lanjut memanjat
“Ah Sial !” maki Andi ketika ia tiba di bawah. Seseorang menepuk punggungnya
“Ka!” panggil orang itu
Andi menoleh, staf sedang melepaskan tali pengaman dari tubuhnya
“Hei Ar!” Andi tersenyum
Dewa celingukan mencari Rita
“Rita di mana?” tanyanya, Andi menunjuk ke atas. Dewa menengadahkan kepalanya ke atas, ia melihat Rita yang begitu serius meraih batu-demi batu panjatan, sementara di tempat lain para tamu berada di ruangan VIP, dan menyaksikan pertandingan melalui layar besar.
“Lihat Dik, cucu kita ini gak ada takutnya!” ujar kakek Sugiyono yang memantau melalui teropong yang mengarah ke arena pertandingan.
“Kak, kita sudah canggih, bisa lihat langsung di monitor!” tunjuk Darmawan
“Hah? Oh iya, hehehe!” kakek Sugiyono meletakan teropongnya dan menatap layar monitor dengan serius.
“Hebat ya Rita?” puji Lucas, ia menjadi penonton setia pertandingan
“Iya betul, sepertinya ia tidak takut apapun!” ujar Edward kagum. Daniel dan Radian yang ikut menyaksikan ketangkasan Rita memanjat tembok juga terkagum-kagum.
“Dia sudah pandai memanjat sejak kecil!, waktu kecil ia sering bersembunyi di hutan, ia memanjat pohon tertinggi!” cerita kakek Sugiyono
“Kakak membiarkan anak perempuan melakukan itu?” tanya Darmawan heran.
“Berkali-kali aku memarahinya, tapi sepertinya omelanku baginya, masuk kuping kiri keluar kuping kanan!” ujar Sugiyono
“EH? Ya setidaknya kelakuan nakalnya ada manfaatnya, hehehe!” kakek Sugiyono tertawa bangga
Rita berhasil meraih door prize di tempat tertinggi, ia menuruni tembok dengan sebuah bendera bertuliskan door prize, wajahnya terlihat sangat riang. Para staf segera menyambutnya di bawah dan segera melepaskan tali pengaman. Dewa berlari mendekati Rita, lalu menegurnya
“Rita!” tanpa sadar ia langsung memeluknya. Rita kaget dengan pelukan tiba-tiba Dewa, kamera pengawas juga mengabadikan pelukan tersebut
“Siapa anak itu? Kog sembarangan meluk?” tanya Darmawan
“Hmm..itu Arya, temannya Andi!” jawab Sugiyono heran, bagaimana Dewa bisa ada di sini
“ Wah, Rita betul-betul populer, sudah dua orang lelaki langsung memeluknya!” ujar Simon yang duduk di belakang Lucas tiba-tiba
Kedua kakek menatap Simon dengan wajah garang
“Dua? Siapa yang pertama?” tanya Darmawan, rupanya ia tidak melihat Daniel yang sebelumnya memeluk Rita.
Daniel salah tingkah karena Radian CS menatapnya.
“Aku kan gak sengaja!” gumamnya malu, Radian menepuk punggungnya agak keras
“plak!”
“Aduh!!” keluh Daniel kesakitan
Rita dengan segera melepaskan pelukan Dewa
“Kak Dewa? Wahh,..what a surprise!” ujarnya senang. Mereka meninggalkan dinding dan menghampiri Andi
“kak Andi yang mengundang kak Dewa kemari?” tanya Rita
“Enggak, kebetulan dia lagi libur kuliah, jadi main kesini!” jawab Andi berbohong
“Oh ya? berapa lama kakak akan di sini?” tanya Rita riang
“Sekitar 2 minggu-an!” jawab Dewa senang, ia tidak menyangka bertemu lagi dengan Rita.
Pertandingan hari itu diselesaikan dengan baik oleh Rendy, seperti Rita ia berhasil meraih puncak tertinggi.
“Wah hebat!” puji Rita
“Hmm!” Rendy hanya melengos saja meninggalkan Rita
__ADS_1
“Sombong banget tu orang!” umpat Andi kesal
“Siapa tuh Ka?” tanya Dewa heran, baru kali ini ia melihat Andi tidak menyukai seseorang
“nanti gue ceritain, sekarang kita pindah ke kolam renang!” ajak Andi
Hasil pertandingan panjat tebing :
Roby-Fita \= 21 meter \= 1 poin
Maia-Desi \= 23 meter \= 2 poin
Rita-Andi\= 26 meter \= 4 poin
Rosy-Rendy \= 24 meter \= 3 poin
Dengan demikian perolehan group sementara untuk 3 pertandingan :
Roby-Fita \= 13 poin , Maia-Desi\= 14 poin, Rita-Andi\=20 poin, dan Rosy-Rendy\=19 poin.
“Yess!!! Kita memimpin Rita!!!” Ujar Andi girang
Kakek Darmawan juga turut bertepuk tangan melihat skor group mereka.
“Bravo!!! Bravo!!! “teriaknya
Radian dan Daniel tersenyum melihat kelakuan Darmawan yang begitu senang.
Pada pertandingan renang, terjadi persaingan ketat antara Maia dan Rosy, keduanya memang jago berenang, mereka bahkan menjadi salah satu atlet renang yang dikirim ke ajang pertandingan renang internasional.
Pertandingan berakhir, dengan skor :
Roby-Fita \= 14 poin , Maia-Desi\= 18 poin, Rita-Andi\=22 poin, dan Rosy-Rendy\=22 poin.
“Besok Martial Art battle, pertandingan penutupan!” ujar Andi senang
“Tapi MAB itu perseorangan kan?” tanya Rosy
“Enggak tetap group, itu sebabnya, masing-masing kita akan disilang!” jawab Maia
“mudah-mudahan gue gak dapat Rita atau Roby!” ujar Desi ketakutan
“Rita sih masih mending, Roby tuh yang paling mengerikan!” ujar Fita
“Lo enak Fit, karena satu group sama Roby, jadi gak bakal ketemu dia!” ujar Desi lagi
“Eh, itu masing-masing lawan sudah terpampang!” ujar Rosy tiba-tiba
Daftar pertandingan Martial Art Battle, diadakan 2 hari lagi.
Pertandingan 1 : Roby vs Rendy
Pertandingan 2 : Fita vs Rosy
Pertandingan 3 : Maia vs Rita
Pertandingan 4 : Andi vs Desi
“Kak Andi melawan Desi, apa mau WO saja?” tanya Rita
“Enak aja! Enggak ah, gue mau coba dulu, kalau ternyata gak kuat ya gak usah!” jawab Andi
Tapi ternyata kedua kakek sangat mencemaskan Andi, sehingga pertandingan Andi vs Desi diubah menjadi pertandingan secara virtual.
“Gue sih gak keberatan!” ujar Roby meledek Andi
Andi mengacuhkan ejekan Roby
“Eh pengemis Lo kemari lagi?” ledek Roby kepada Dewa, rupanya ia teringat kenangan masa lalu
“Apaan sih Lo Rob!, jangan cari gara-gara deh!” ujar Rita membela Dewa
“Kenapa Lo mau dorong gue lagi?” ujar Roby kesal
“Boleh, mau coba?” tantang Rita
“Sudahlah Rit, jangan ditanggapi!” ujar Dewa, ia menghampiri Andi untuk menghindari Roby
“Rit, kenalin kita dong! Lo punya koleksi cowok tamfan, sendirian aje!” ujar Maia iseng
“Iya nih Rita, dua kali lho dipeluk cowok ganteng!” ujar Desi iri
“Yahhh..Rita gak jadi dong sama Rendy?” ujar Rosy tiba-tiba dengan suara agak keras, hingga Dewa bisa mendengarnya
“Eh?” Dewa tersentak kaget, lalu ia bertanya pada Andi
“Rendy dan Rita? Maksudnya apa Ka?” tanya Dewa
__ADS_1
_bersambung_