Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)

Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)
Chapter 220: Obrolan Sore Hari


__ADS_3

“Jadi Rit, orang yang stalker lo itu adiknya orang yang dulu pernah lo tangkap?” tanya Andi melalui Vcall


“Iya Kak, ditemukan semua baju aku dan foto-foto aku dan anak-anak”


“Ah , syukurlah Lo dan anak-anak gak apa-apa” ujar Andi lega


“Eh, iya besok kita merayakan setahunnya Ranna, Uwa Vcall ya?” ujar Rita sambil menggendong Ranna yang meminta maju ke layar untuk mendekati wajah Andi


“Jangan Kak! Nanti mata mu sakit!” ujar Andi tertawa, ia sangat menyayangi keponakannya


“Raffa mana Rit?”


“Tadi lagi diajak olah raga sama papinya.”


“Tumben, biasanya dia nge gym, di situ ada gym kan?”


“Iya, dia bilang suntuk di dalam rumah terus, jadi dia pengen jalan-jalan”


“Oh, gue sudah kirim kado buat Ranna dan Rafa, tunggu saja ya?”


“Lho? Yang ultah kan Ranna”


“Gak apa-apa, supaya Raffa gak iri”


“bilang terima kasih Uwa!” Rita mengajarkan kepada Ranna


“Waaa!!!” Ranna mengikuti


“Hehhehe...di sini lock down agak ketat, apalagi ada petinggi istana yang terjangkit. Udah deh keluar saja sulit”


“Mama gimana Kak?”


“Mama terisolasi di Paris, mungkin nanti mama nelpon lo Rit!”


“Kakek mana Kak?”


“Halo Rita!” tiba-tiba wajah kakeknya muncul


“Halo Kek! Sehat-sehat kan?”


“Alhamdulillah! Kalian sehat-sehat juga kan?”


“Alhamdulillah Kek, oh iya bagaimana penyelidikan tentang orang itu kek?”


“Masih digali lagi motifnya Rit, dia bilang motifnya balas dendam. Tapi kami ragu, mungkin dia menerima bayaran dari orang untuk melukai kalian!”


“Saya juga gak habis pikir kek, kenapa orang itu bisa jadi pegawai di sini?”


“Kakek juga sudah minta Ridwan menyelidiki, orang itu baru masuk atau sudah lama. Kakek jarang di Jakarta jadi tidak memperhatikan satu per satu pegawai”


“Oh iya Kek, saya mau menggunakan salah satu kamar kosong untuk studio Vlog, boleh kek?”


“Rita, rumah itu milik mu, kakek sudah mengalihkan atas nama mu jadi terserah kamu bagaimana menggunakannya”


“Iya kek? Waduhh...terima kasih banyak ya!, oh iya terima kasih juga untuk mobilnya, kakek memang baik hati”


“Hehehe..sama-sama Rit, kakek melihat kalian bersenang-senang di rumah itu membuat kakek sangat lega”


“Kenapa kek?”


“Kakek pernah berpikir untuk menjual rumah itu, tapi terlalu banyak kenangan masa perjuangan kakek di Jakarta. Dari tanah yang luasnya hanya 50 meter persegi, kakek dirikan rumah dan juga tempat usaha, lama-lama bertambah terus jadi seluas dan sebesar sekarang. Tahu-tahu kakek sudah tua saja, semua fasilitas yang susah payah kakek bangun di rumah itu jadi sia-sia karena kakek sibuk membesarkan bisnis. Tapi sekarang kakek sudah lega, oh iya apa Raffa akan punya adik lagi?” tanya


“Jangan sekarang dong Kek, Rafa masih 3 bulan, masa langsung punya adik lagi?” protes Rita


“Biasanya Daniel rajin ya Ndi?”


“Gak tahu ah Kek!,” sepertinya Andi menghindari percakapan tentang itu, sepertinya ia mengingat insiden di apartemen Rita dulu


“Kamu nih, eh Rit, kemarin kakek menjodohkan Andi dengan cucunya teman kakek”


“Oh ya? cantik gak kak?”


“Cantik sih, tapi sombong banget, manja pula.Hadeuuhh....stress deh gue”


“Eh Ndi, dia nelpon tuh!” Kakek menunjuk ponsel Andi yang berdering. Dengan segera Andi mematikan ponselnya


“Kenal dulu saja kak, siapa tahu ada kepribadian baik lainnya” bujuk Rita


“Heh Rit, gue Cuma mau kenal dulu, tahu-tahu dia sudah bilang tentang pernikahan..ih..kabur dong gue!” ujar Andi


“Memangnya dia bilang apa ndi?”


“Oh, dia bilang begini kek, kata kakek ku ia menjodohkan kita. Aku tidak boleh keberatan sama kamu!”


“Eh, dia bilang begitu Kak?” tanya Rita gak percaya


“Beneran!”


“Terus kamu bilang apa Ndi?” tanya kakek


“Masa? Kok kakek saya gak bilang apa-apa ya? trus dia bilang lagi, mungkin kakek mu lupa, maklum lah sudah tua!”


“Sialan!” maki kakek, ia sangat tidak suka seseorang menyebutnya tua, Rita menahan tawa melihat ekspresi wajah marah kakeknya


“Oh iya kek, si O terperangkap di Singapura katanya” ujar Rita


“Iya! dia mengeluh kesepian di sana, aku juga gak bisa apa-apa. Pemerintah Singapura sangat ketat dibandingkan di Indonesia, jadi aku memintanya sabar nanti kalau keadaan sudah agak legang dia akan ku minta kembali ke Auckland”


“Oh iya Kek, besok Ranna ultah, kakek hadir online ya?” ujar Rita


“Insya Allah Rit, kakek sudah diingatkan kak Sugi sejak minggu lalu, dia sangat ingin melihat Ranna”


“Hahaha, iya nanti setelah ini Rita akan Vcall kakek Sugi”


“Kamu kan di Jakarta Rit, undang saja langsung!”


“Memangnya boleh Kek?”


“Di Jakarta hanya PPKM, itu pun hanya tempat-tempat umum. Rumah kamu kan besar, gak akan ada penggerebekan selama kalian menaati protokol kesehatan!”


“Oh iya, aku sering lupa masih satu kota dengan kakek Sugi” ujar Rita


“Alahhh, bilang aje lo takut kan ketemu kakek Sugi?” ledek Andi

__ADS_1


“Rita takut sama kakek Sugi?” tanya Kakek Darmawan heran


“Enggak Kek, kak Andi boong!” elak Rita, padahal dalam hatinya lebih suka Vcall dengan kakek dari ibunya itu dibandingkan ketemu langsung.


“Oh syukurlah, kakek Sugi akan sedih mendengar cucu kesayangannya takut padanya!”


“Enggak kek, sudah dulu ya? besok insya Allah ketemu lagi! Dah kakek!”


“Dadah Ranna!!!” mereka menyudahi percakapan mereka, tak lama kemudian Daniel dengan Rafa digendongannya baru tiba dari jogging sore.


“Hai papi!, hai adik!!” sapa Rita , ia meletakan Ranna di kursinya dan mengambil Rafa dari gendongan Daniel


“Oh My God! Raffa, kamu keringetan! Ini keringat kamu atau keringat papi?” tanya Rita, ia membawa anak keduanya ke kamarnya untuk diganti bajunya,


“Hai, Ranna! Kamu ngapain saja sama mami?” tanya Daniel, ia melakukan pendinginan


“Hahhh..hah....” Ranna memukul-mukul mainannya


“coba kamu sudah bisa ngomong ya?” ujar Daniel, tiba-tiba Ranna mengucap


“Wak...Di!”


“Hah? Wa Andi? Tadi kamu ngomong sama wak Andi?” tanya Daniel, ia kelihatan senang Ranna bisa berkata-kata


“Hehehehe” Ranna tertawa lagi


“Pasti wa Andi akan mengirim banyak mainan lagi ya untuk kamu!” Daniel mencubit pipi putrinya gemas


“Mandi ah!” ia membuka pakaiannya yang basah, tampak tubuh bak roti sobek berkeringat, membuatnya kelihatan sangat sexy, Rita keluar dari kamar Rafa, ia baru saja mengganti pakaian Rafa


“Kamu jangan mandi dulu, masih berkeringat! Nanti masuk angin!” ujar Rita memperingatkan


“Sini aku peluk!” canda Daniel dengan tubuh penuh keringat


“Hiiidiihhh!!! Enggak!” Rita menghindari pelukan suaminya sambil menggendong Raffa, yang tertawa geli dibawa lari oleh maminya


“Mii..mii..mi..!”panggil Ranna, ia ingin ikutan lari dengan maminya


“Wahh....Ranna bisa panggil mami ya?” Daniel mengangkatnya


“Yahh...Ranna harus ganti baju lagi deh!” keluh Rita, karena Ranna menempel dengan tubuh Daniel yang berkeringat


“Tadi kamu nelpon Andi ya?” tanya Daniel


“Iya, aku mengundangnya untuk hadir secara online ke ultah Ranna besok, kok kamu bisa tahu?”


“Heran kan? Tebak coba aku tahu dari siapa?”


“Paling kamu lihat history percakapan di sini kan?”


“Enggak! mana? Aku kan sejak tadi di sini, gak ke ruang tengah”


“Apa kamu pasang kamera tersembunyi di sini?” tanya Rita, ia melihat sekeliling


“Enggak!”


“Jadi apa dong?”


“Memangnya Ranna bilang apa?”


“Wa Di!”


“ooohh.. Ranna kamu pintar ya?” Rita menghampiri Ranna sambil menggendong Raffa,


“Nah kena!” tiba-tiba Daniel memeluk Rita dengan tubuhnya yang berkeringat, ia seperti mengelap tubuhnya ke pakaian Rita


“Yahh!!, jorok ih, aku mandi lagi deh!!” keluh Rita, ia menaruh Rafa di kursi goyang bersama dengan Ranna.


“Ayo sini, mandi bareng aku!” Daniel menarik istrinya ke kamar mandi


“Eh Yang, anak-anak gimana?” Rita berusaha menahan tarikan Daniel


“Mereka enggak akan apa-apa ditinggal sebentar!” ujar Daniel, akhirnya mereka mandi bersama setelah itu disusul dengan mandi wajib. Keduanya keluar dari kamar mandi dengan rambut basah. Kedua anaknya melihat papi dan maminya keluar dari kamar mandi bersamaan. Rita langsung ke walking closet untuk berpakaian, sedangkan Daniel masih dengan jubah mandinya mengawasi anak-anak.


Beberapa menit kemudian,


“Kamu aneh banget, tadi anak-anak ditinggal. Sekarang sambil pakai jubah mandi kamu mengawasi mereka, apa gak aneh?”


“Enggak, ini antisipasi saja”


“Antisipasi?”


“Kalau aku melihat kamu berganti pakaian, sudah pasti kita akan mandi wajib lagi” ujar Daniel sambil meninggalkan kedua anak mereka bersama Rita


“Dasarrr!!,..Eh Ranna kamu ganti baju ya? bau keringat papi nempel di baju mu!” Rita menuntun Ranna yang bisa berjalan sendiri, sedangkan ia menggendong Raffa di tangannya yang lain.


Mereka menghabiskan waktu sore mereka di teras, depan kamar mereka yang luas


“Aku sudah mendapat ijin kakek untuk menjadikan salah satu kamar kosong untuk jadi studio vlog ku”


“Memangnya kamu mau bikin konten apa?”


“Konten memasaklah, apa lagi? Kamu ingat kan aku pernah bilang ingin membintangi acaraku sendiri?”


“Iya sih, tapi apa kamu bisa mengerjakan semuanya sendiri?”


“Gak sendirian dong? Aku akan merekrut orang, part timer lah!”


“Jadi sebelumnya kamu bangun studionya dulu dong?”


“Iya betul!, aku sudah membicarakannya dengan pak Ridwan. Mungkin dia mengenal desain interior”


“Biar ku tebak, dia pasti bilang Mario kan?”


“Betul! Tapi masa aku harus menunggu dia keluar dari lock down Singapura? Kalau kayak begitu lebih baik kita kembali ke sana kan?”


“Oh iya, bagaimana kabar D’Ritz?”


“Pesanan online mengalir lumayan banyak , aku tadi sudah meminta Ismael untuk menghitung jumlah persedian bahan baku”


“Terus?”


“Masih aman!, tapi aku khawatir”

__ADS_1


“Kenapa?”


“Aku dengar Erina sedang mabuk berat karena hamil muda, ia terlihat kurus tadi”


“Kamu gak menyuruh dia istirahat di rumah?”


“Sudah, tapi dia menolak. Sepertinya dia menghindari ibu mertuanya”


“Maksudnya?”


“Erina dan Suaminya masih tinggal bersama orang tua suaminya. Karena suaminya anak tunggal, orang tuanya tidak mengijinkan mereka pindah rumah”


“Lalu, kenapa Erina menghindari mertuanya?”


“Itu karena mertuanya terlalu cerewet”


“Mungkin mereka khawatir karena Erina hamil cucu pertama mereka kan?”


“Enggak! yang betul cucu kedua!”


“Maksud kamu Erina sudah punya anak begitu?”


“Bukan anak Erina, jadi Erina menikahi duda beranak satu. Anaknya perempuan, usianya 10 tahun dan tinggal bersama mereka”


“Lalu kenapa dengan Erina?”


“Sepertinya anak sambungnya cemburu karena akan punya adik baru, jadi setiap hari dia selalu mencari-cari kesalahan Erina”


“Kok kamu bisa tahu sih?” Daniel heran


“Kita kan cewek bos!” ujar Rita bersemangat


“Hubungannya apa?”


“Maksud ku, aku pernah memergoki Erina menangis di kantor. Tadinya aku gak berminat tahu urusannya, tetapi kelihatannya ia sangat tertekan lalu aku berusaha menenangkannya. Eh dia cerita panjang kali lebar kali tinggi, alias lama banget gitu”


“Tapi kelihatannya kamu menikmati ceritanya?”


“Habis gimana ya? aku seperti menonton sinetron tapi ini beneran! Aku kasihan sama Erina”


“Aku turut bersimpati padanya!” ujar Daniel


“Kenapa kamu bersimpati?” tanya Rita dengan nada cemburu


“Kok kamu cemburu?” tanya Daniel heran, ia menyeruput kopinya


“Yang, kamu perlu tahu ya, di dunia ini ada aturan yang tidak tertulis”


“Oke, tentang apa dulu aturan yang tidak tertulis itu apa?”


“Kalau istri cerita, kamu mendengarkan dengan baik itu bagus, tapi bersimpati dengan korban? Ckckck...itu tidak dibenarkan!” ujar Rita dengan nada mengecam


“Kenapa tidak dibenarkan?”


“Karena bisa memicu perselingkuhan, awalnya simpati lama-lama jadi ingin menjadi pahlawan baginya..wah..itu bahaya!”


“Tapi Erina kan curhatnya sama kamu, bukan ke aku!”


“Apalagi sampai curhat ke kamu! Lama-lama nyaman...oh no!!!”


“Kamu sering bilang orang lain drama queen, kamu sendiri?” ledek Daniel


“Gerbang perselingkuhan itu curhat, jadi kamu harus menghindari ya, kalau ada cewek yang curhat ke kamu!” ujar Rita memperingatkan suaminya


“Kalau ada cowok yang curhat ke kamu gimana?” tanya Daniel


“Aku juga menghindar, jujur ya kalau sama cowok aku gak begitu suka ngobrol”


“Masa? Dengan para senpai kamu gimana?”


“Itu karena rame-rame dengan teman-teman lainnya, kalau sendiri aku gak mau. Apalagi aku kan sudah menikah!”


“Kayaknya kamu senang banget ya sudah menikah!”


“Tentu dong!, aku jadi gak usah khawatir tentang cari jodoh lagi. Kemarin teman-teman ku bingung dengan pasangan masing-masing. Aku bilang, kita kan masih muda, gak usah panik-panik amat. Eh mereka protes, kamu gak tahu derita kita sih Rit!! Mereka menjadikan aku penasehat”


Daniel tersenyum melihat wajah istrinya yang begitu serius, sementara ia menyuapi Ranna makan.


“Jadi intinya kamu bersyukur sudah menikah ya?” ujar Daniel tersenyum


“ya, begitu deh.”


“Btw Yang, kamu lagi isi lagi ya?” tanya Daniel


“Eh enggak? kenapa? Kemarin kakek juga nanya begitu”


“Coba kamu cek deh, ini sudah tanggal berapa biasanya kamu mens kan?”


“Huh? Gak mungkinlah aku hamil, aku kan rajin minum pil KB”


“Pil itu diminum beberapa jam sebelum berhubungan kan?”


“sesudahnya juga boleh”


“Tapi kita pernah beberapa kali berhubungan tanpa rencana lho, ingat-ingat deh!”


“Kamu jangan nakutin begitu!” ujar Rita kesal


“Kok nakutin? Aku kan cuma mengingatkan!, kalau jadi lagi ya bagus. Biar rumah ini tambah ramai!”


“Tapi kamu yang urusin semua anak kita ya? aku sih gak keberatan hamil terus, asal kamu yang mengurus semuanya!”


“Oke!, jadi gimana kita bikin lagi sekarang?” tantang Daniel


“Enggak ah, tadi kan sudah!” tolak Rita


“Pelit ih!” ujar Daniel sambil menggendong Raffa


“Pelit? Ada-ada saja!” Rita tersenyum mendengar celotehan suaminya


“Raffa kamu mau punya adik gak? Kak Ranna umur se kamu lho, waktu kamu ada!” Daniel membawa Raffa masuk ke dalam rumah. Rita membawa Ranna masuk, dan mengunci pintu dengan rapat, sore itu mereka lalui dengan indah.


_Bersambung_

__ADS_1


__ADS_2