
Hari masih malam sayup-sayup Rita mendengar percakapan antara mamanya dengan seseorang di telepon.
“Iya mas, saya akan cari waktu untuk bicara ke anak-anak tentang kita”
“Sepertinya kalau sekarang belum, saya takut mereka shock!”
“Apa mungkin kita adakan dinner bersama anak-anak ya?”
“Hmm..baiklah..oke I missed you too!”
Rita yang terbangun sejenak, pura-pura tidur. Mamanya kembali tidur di sampingnya.
Rita yang mendengarkan percakapan mamanya terdiam memikirkan. Pikirannya berkecamuk. Di satu sisi ia mengerti mamanya yang kesepian, di sisi lain ia tidak rela mamanya diambil istri oleh lelaki lain selain ayahnya.
Ia mendengar dengkuran mamanya lalu bangkit dari tempat tidur dan mengambil ponselnya. Ia melihat masih pukul 2 dinihari, di Sukabumi masih pukul 1, karena berbeda 1 jam. Rita menelepon ayahnya,
Tuuuuutttt.trek!
“Assalamualaikum, Ayah?”
“Wa’alaikummussalam,Rita, ada apa kog malam baru nelpon?”
“Hmmm... Ayah sudah tidur ya?”
“Belum, masih ada kerjaan sedikit!”
“Ayah masih di RS? “
“Sudah di rumah dari tadi. Ayah ditemani Tomi nonton bola di sini, dia sudah pulang jam 10.”
“Oooh, Ayah..hmmm.. mungkin 3-4 hari lagi Rita pulang.”
“Iya Rit, jangan lama-lama, ada yang kangen tu!”
“Kak Indra ya?”
“Indra? Bukan, dia Cuma nelpon sekali yang waktu itu. Maksud ayah, Tomi.”
“Ah ayah bisa saja! Yah, jangan makan terlambat ya!”
“Tuh kan sama, Tomi juga tadi ngomong begitu sama ayah, dia juga ngasih nomernya kalau ada apa-apa ayah disuruh nelpon dia. Baik ya?? Sudah kamu sama Tomi saja daripada sama Dewa!”
“Ayah tahu dari mana ada kak Dewa di sini?”
“Dari Tomi, sepertinya dia cemburu itu!”
“Ayah nih! Ngegodain Rita terus! Rita kangen ayah !”
“Makanya kamu cepat pulang, jangan lama-lama di sana nanti kamu lupa daratan!”
“Iya siy yah, disini seperti mimpi.”
“Makanya ayah takut kamu terbiasa dengan kemewahan, nanti pas kembali ke sini malah kesulitan.”
“insyaaAllah engga yah. Sudah dulu ya yah, nanti kalau sempat Rita nelpon ayah lagi!”
“Oke, hati-hati ya Rita, salam sama mamamu,Assalamualaikum”
“Dah Ayah!
Wa’alaikummussalam!”
Rita mematikan ponselnya dan kembali tidur.
Pukul 5 pagi, Rita sudah bangun, seperti biasa, setelah sholat subuh ia keluar dari kamarnya menuju pantai. Di sana ia melakukan pemanasan. Pikirannya masih dipenuhi oleh percakapan mamanya dengan seseorang.
“Hey Rambut Merah, rajin sekali!” Sapa Dewa
, Rita yang melihatnya langsung menyerang, mereka pun mulai saling memukul dan menendang tetapi tidak sungguh-sungguh.
“Wah, kamu hebat juga Rit!” Puji Dewa setelah beberapa kali hampir terkena pukulan Rita
“Kakak juga hebat, sekilas terlihat tidak berbahaya, tetapi sekali menyerang bisa masuk beberapa pukulan, benar juga kata kak Tomi”
“Tomi bilang apa?”
“Dewa itu lawan yang sangat berbahaya dibalik sifatnya yang penuh kelembutan.”
“Tomi bilang begitu? Kog kakak jadi jijik ya?”
“Hahahaha...tumben.. biasanya memang kalian suka saling goda kayak gitu?”
“Iya siy, tapi kog rasanya beda ya kalau dengar dari orang lain.”
“Hmm..kak Dewa, Rita mau minta pendapat kakak, apa boleh?”
“Silakan”
“Kalau menurut kakak, kalau mama Rita menikah lagi bagaimana?”
“Ya , kalau tante Ratna mama kakak, ya kakak bolehin.”
“Alasannya?”
“Kakakkan sudah beranjak dewasa, sebentar lagi kuliah, mungkin akan jauh dari mama. Kasihan kan mama sendirian, kalau sudah ada pasangan yang menjaganya akan lebih baik.”
“Begitu ya kak? Walaupun menikahnya bukan dengan ayah kakak?”
“Kadang Rit, dalam hubungan 2 orang itu tidak bisa dipaksakan. Meskipun sudah ada anak. Perasaan masing-masing menentukan kebahagiaan pernikahan. Coba kamu bayangin, mama dan ayah kamu rujuk Cuma demi kamu, tidak ada perasaan dari keduanya, yang ada hanya hubungan hak dan kewajiban. Apa mereka bahagia? Bisa iya bisa juga tidak!”
“Jadi Rita harus bagaimana?”
“Kamu harus pastikan mama mu akan menikahi orang baik yang akan menjaganya.”
“Begitu ya kak? Kalau mereka menikah, Rita bagaimana?”
“ Rita bisa ikut mereka, bekas suami/istri ada, tapi tidak ada bekas anak.”
“Kalau Rita marah bagaimana?”
“Yaa wajar juga,kakak ngerti kog, kamu sudah 9 tahun ga ketemu mama, ketika ketemu mama mau menikah lagi. Pasti kamu merasa ditinggalkan ya?”
“Iya betul! Kakak jadi psikiater saja kak!”
“Psikolog kali Rit, kalau psikiater untuk ODGJ!”
“ODGJ?”
“Orang Dengan Gangguan Jiwa”
“Ooo”
“Apa sudah terjawab pertanyaan kamu?”
__ADS_1
“Sudah kak, Rita akan berusaha mengerti!”
“Gadis baik! Walaupun rambutnya merah tetap baik hati!”
“Kak Dewa nih!”
Dewa berlari dan dikejar Rita. Keduanya main tarik-tarikan ke arah laut.
Andi menghampiri mereka.
“Woy!!! Masih pagi malah pada pacaran! Cepat mand!i , 1 jam lagi sarapan terus ke sangeh!”
Rita dan Dewa saling mengangguk, dan mereka berdua menghampiri Andi. Andi yang sadar akan dikerjai berusaha melarikan diri, tetapi Rita dan Dewa lebih cepat, dan mereka menarik Andi dan menceburkan Andi ke laut.
“Heeeyyy... bocah2 sialan!!!”
Rita dan Dewa tertawa geli dan meninggalkan Andi yang basah kuyup, mereka kembali ke kamar masing-masing untuk mandi dan berganti pakaian.
Setelah sarapan pagi, mereka menuju Sangeh naik mobil travel. Diperjalanan, Dewa makin percaya diri mendekati Rita, Andi yang merasa ditinggalkan, mendekati mamanya.
“Mama, jangan kemana-mana ya? Andi ditinggalkan orang yang lagi kasmaran, tuh ma!” Tunjuknya ke arah Dewa dan Rita yang sedang memberi makan monyet.
“Ah kamu ! , Gabung dong sama mereka!”
“Engga ah takut ganggu!”
Rita menghampiri Andi sambil menggendong monyet kecil yang jinak kepadanya.
“Kenalin nih nyet..kakak!”
“Eh sialan gue disamain sama monyet!”
Andi bercanda sambil mengejar Rita. Mama tertawa geli melihat kedua anaknya yang main kejar-kejaran.
“Pemandangan yang langka” ujarnya dalam hati. Diam-diam ia memoto aktivitas Andi dan Rita.
Waktu makan siang telah tiba, mereka akan makan siang di restoran hotel Sangeh
“Malam ini, kita menginap di hotel ini!”ujar mama
“Eh, barang-barang kita gimana ma? Tanya Andi
“Tadi mama sudah minta pengurus hotel untuk mengirimkan semua barang kita kesini.”
“Oo begitu” ujar Andi dan Rita bersamaan.
Mereka berjalan menuju hotel ternyata di restoran itu sudah menunggu seorang laki-laki paruh baya.
Rita mengenalinya, karena orang itu yang sebelumnya ditolong oleh Rita.
“Selamat siang semuanya!” Sapa orang tersebut ramah.
“Selamat siang!” Jawab Andi,Rita dan Dewa bersamaan.
“Anak-anak kenalkan ini Pak Dodi, teman mama.”
Semuanya bersalaman dengan Dodi
“Andi”
“Dewa”
“Rita”
“Ah Rita, kemarin terimakasih ya, maaf Om sampai lupa berterimakasih.”
“yuk mari silakan duduk!”
Pak Dodi mengajak mereka masuk ke dalam restorannya.
“Hotel ini milik pak Dodi!” ujar mama menjelaskan.
“Ooo,”ujar anak-anak bersamaan.
“Pak Dodi sudah berkeluarga?” tanya Andi.
“Ooh sudah, anak saya 2, paling besar lelaki, tapi bersekolah di London. Yang paling kecil perempuan masih SD kelas 5”
“Ibunya anak-anak?” tanya Rita
“Ibunya Anak-anak tinggal di Jakarta bersama anak saya yang paling kecil.”
“Pak Dodi sering bolak-balik Jakarta-Bali?” tanya Dewa
“oo tidak, saya dan istri saya sudah bercerai 3 tahun yang lalu.”
“Ooo..” ujar anak-anak bersamaan lagi.
“Andi kelas berapa?”
“Saya kelas 3 SMU pak, Dewa ini juga kelas 3 SMU, sedangkan Rita kelas 2 SMU”
“Kalian 1 sekolah?”
“Tidak pak, Rita dan Kak Dewa 1 sekolah, sedangkan kak Andi sekolah di New Zealand”
“Lagi liburan ya?”
“Iya pak, masih ada 1 bulan lagi.”
“Liburan sekolah di sana memang lama ya waktunya?”
“Iya pak, lumayan.”
“Cita-cita kalian apa?”
“saya ingin jadi lawyer pak” jawab Andi
“Saya ingin jadi dokter” Jawab Dewa
“Saya ingin jadi chef profesional.” Ujar Rita
“Wah, Rita mau jadi chef? Katanya mau jadi atlet bela diri profesional?” tanya mama
“Zaman now kan bisa jadi atlet yang juga chef ma, hehehe!”
“Iya juga siy!”ujar mamamya
“Kalau mau jadi chef jangan tanggung Rit, kamu tahu kan Gordon Ramsay? Itu lho yang jadi juri MasterChef, dia begitu gagal jadi atlet bola, dia langsung belajar masak di Paris. Katanya pusat kuliner yang bagus di situ” saran pak Dodi
“Berarti Rita dari sekarang belajar bahasa Perancis, supaya di sana ga bingung!” ujar Andi
“Iya, lihat saja nanti deh” ujar Rita
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, muncul seorang anak perempuan kira-kira berusia 10 tahun.Ia berlari menghampiri meja pak Dodi.
“Papa!” Teriaknya riang
“Tasya!!” Pak Dodi berdiri dan menyambut anak bungsunya, dan memeluknya.
“Kamu sama siapa kemari?” tanyanya
“Sama Kak Aldi!”
“Mana kak Aldinya?”
“Masih di luar pa, lagi berantem sama pacarnya.”
“Hush! Ayo Tasya , kenalkan ini teman papa! Namanya Tante Ratna. Sedangkan kakak-kakak ini anaknya tante. Itu kak Andi, Kak Dewa dan yang rambutnya merah kak Rita.”
“Halo!” sapa Rita CS
“ Kak Rita senang makan gulali ya ? Rambutnya mirip gulali!”
“Pphhffff!!!” Andi dan Dewa hampir menyembur karena menahan gelaknya.
Wajah Rita memerah menahan malu. Mama Ratna yang menyadari hal itu langsung mengalihkan perhatian Tasya.
“Tasya sekolahnya kelas berapa?”
“Kelas 4 tante!”
“Lho kamu bukannya kelas 5?” tanya papanya bingung.
“Tahun depan pa, baru naik kelas!”
“ooh iya ya?”
Tak lama kemudian, seorang remaja laki-laki seusia Andi datang menghampiri mereka.
“Aldi!” sapa Pak Dodi.
“Papa!”
“Kalian sudah makan? Kalau belum yuk makan bareng kami!” ajak pak Dodi
“Malas ah! Aku jetlag nih pa, aku langsung masuk kamar ya?”
“Aldi, kenalkan dulu nih, ini teman2 papa!”
“Saya Tante Ratna, ini anak-anak tante, Andi, Rita dan temannya Dewa!”
“Aldi!, Saya permisi dulu tante!” Aldi pamit meninggalkan papanya serta tamunya.
“Maaf ya, Aldi memang seperti itu. Dia belum menerima perceraian kami, jadi sering marah kalau berkunjung kemari.”
“Anak-anak pak Dodi akan tinggal di sini selama liburan?”
“Hmm.. belum tahu juga, semua tergantung mamanya. Karena hak asuh anak diserahkan sepenuhnya kepada Mamanya.”
“Oo begitu!”
“Kalian juga capek kan? Saya sudah siapkan kamar untuk kalian berempat, barang bawaannya juga sudah di kamar masing-masing!”
“Oya?? Alhamdulillah... terimakasih pak!” ujar Rita, Andi dan Dewa bersamaan.
Andi, Dewa dan Rita meninggalkan restoran untuk ke kamar hotelnya.
Pak Dodi menyiapkan 3 kamar hotel. Untuk Rita sendiri, untuk mamaRatna, Andi dan Dewa 1 kamar.
Kamar Rita cukup luas dan cozy. Tidak seluas kamar di hotel sebelumnya, tetapi
Fasilitas kamar cukup lengkap, single bed, TV, meja Rias, lemari pakaian, kulkas dan balkon. Sedangkan kamar Andi lebih luas, karena untuk 2 orang. Suasana adat Bali lebih terasa di hotel ini.
“Gulali! Tas kamu ada yang nyasar ke kamar kita tu!” Ledek Andi
“Bodo’ amat!” jawab Rita kesal. Andi dan Dewa tertawa ngikik mendengar jawaban Rita.
Hari telah berganti malam, Rita, Dewa dan Andi berjalan-jalan berkeliling hotel.
Rita memperhatikan Aldi yang sibuk dengan ponselnya.
“Tu anak sombong banget ya?” ujar Andi
“Maklumin deh Ray, anak broken home biasanya begitu!” ujar Dewa
“Gue sama Rita juga broken home, ga gitu2 amat!” Ujar Andi Kesal.
Tiba-tiba, Aldi berlari menghampiri mereka.
“woy, bros sorry ya yang tadi, gue ga sombong kog Cuma lagi bete saja!” ujar Aldi lebih ramah.
“It’s okay!” ujar Rita
“O kalian anaknya tante Ratna ya?”
“Yoi, Aldi kamu kelas berapa?”
“2 SMU!”
“Berarti lo seumuran sama Rita!” Ujar Andi
“iya, jadi lo harus panggil mereka ini kak atau bang!” ujar Rita
“Bang? Bang Becak kali!” ujarnya nyantai
“ga usah, panggil nama saja!” ujar Dewa
“nah gitu! Oiya tadi Lo namanya siapa?”
“Dewa!”
“Ah iya, ini Dewa ,Rita dan Andi” kalian sudah jalan-jalan kemana saja?” tanya Aldi lebih ramah lagi
“ya baru lihat monyet aja siy!” jawab Rita.
“Di sini ada Taman Mumbul, kita bisa kasih makan ikan-ikan koi, kalau kalian mau besok gue ajak ke sana.
“Wah seru tuh! Boleh jam berapa bukanya?” tanya Andi
“Sekitar jam 10-an. Besok ngumpulnya di sini saja, nanti gue minta mobil hotel bawa kita kesana!”
“Oke! Btw kalau malam kayak gini hiburannya apaan?” tanya Andi
“ Lo pada suka nyanyi? Yuk kita ke ruang karaoke saja!”
Mereka berempat menuju ruang karaoke, disana mereka bernyanyi sampai kelelahan.
__ADS_1
“Wah sudah jam 9 nih! Gue balik ke kamar duluan ya!” ujar Rita.
“Gue juga deh, sudah capek juga!” ujar Andi. Akhirnya mereka bubar dan kembali ke kamar masing-masing.