Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)

Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)
Chapter 301: Cerita di Sukabumi (2)


__ADS_3

“Sudah sholat nya?” tanya Daniel pada istrinya


“Sudah, waktu cepat sekali ya berjalan. Eh Yang, temani aku ke pasar yuk” ajak Rita


“Pasar? Mau belanja apa ?”


“Besok kan kita bikin selamatan rumah ini, tadi O bilang catering di sini kurang enak masakannya jadi dari pada mengecewakan lebih baik aku bikin sendiri”


“Kurang enak kan menurut dia, menurut orang lain belum tentu”


“Lagi pula mereka tidak melayani pesanan secara mendadak”


“Kenapa kita gak pesan nasi kotak Mc’D saja yang banyak, terus dibagi-bagiin deh kan lebih praktis dan kamu juga gak usah repot”


“Nasi Mc’D ? memangnya ulang tahun, kamu lagi mager ya?”


“Mager?”


“Males gerak”


“Iya, aku lagi senang keliling rumah ini, coba kita punya helikopter ya, aku berangkat kerjanya dari sini saja” ujar Daniel berkhayal


“Kalau kamu mager, aku saja deh yang ke pasar” Rita bergegas


“Eh kamu ke pasar dengan berpakaian begitu?” tanya Daniel melihat penampilan istrinya yang menggunakan daster batik panjang


“Iya, ini pakaian dinas...hehehe...ibu-ibu di pasar banyak yang pakai ini”


“Tapi gak bagus!”


“Ke pasar doang, ngapain bagus-bagus nanti malah dimahalin, yuk ah, aku berangkat ya?” Rita pamit, ia membawa serta kedua baby sitter, ART serta supirnya.


Cukup banyak yang ia beli dari pasar, 20kg beras, 15 ekor ayam yang sudah dibersihkan, beberapa papan tempe, 5 kg telur, bumbu dapur, minyak goreng serta sayur-sayuran. Tak lupa ia juga membeli kemasan untuk membungkus


“Banyak juga ya bu? Ini untuk berapa porsi?” tanya ART


“Kira-kira saja, mudah-mudahan cukup untuk 100 porsi”


“Ini buat besok bu?” tanya suster Erna


“Iya, nanti kita potong-potongin , yang bisa di goreng ya di goreng duluan, sisanya besok. Sedangkan ayam dimarinasi dulu supaya bumbunya meresap” mereka melewati warung pak Umar yang kini namanya berubah menjadi resto. Tiba-tiba Rita teringat ucapan Kiki sebelumnya tentang Dewa yang bekerja di warung pak Umar.


“Eh, Min, berenti di resto itu, kita makan sore dulu yuk!” ajak Rita. Ia memperlakukan para stafnya seperti layaknya teman. Mobil pun menepi ke resto pak Umar. Rita beserta rombongan masuk ke resto tersebut dan mencari spot paling nyaman.


Tak berapa lama seorang waiter datang menghampiri


“Ini daftar menunya, kalau sudah siap memesan silakan pencet bel ya?” ujar waiter tersebut, baik Rita maupun waiter tidak saling memperhatikan, sampai akhirnya


“Kak Dewa?” tegur Rita


“Rita? Kamu lagi di sini?” tanya Dewa tersentak kaget, ia tidak menyangka akan bertemu dengan mantan gebetannya


“Iya, Rita baru datang kemarin, apa kabar kak? Gak kuliah?”


“kabarnya begini lah, kuliah? Libur dulu kali ya?”


“Libur melulu, hahaha” ujar Rita tertawa, ia menunjuk beberapa menu untuk diri dan stafnya.


“ini saja?”


“Eh aku mau juga yang ini 3 porsi tapi dibungkus kak, buat makan malam”


“Oh oke..oke.” Dewa mencatat pesanan Rita


“Ada tambahan lain lagi?” tanyanya, Rita masih memperhatikan menu


“Aku juga kepengen cemilan sih, yang ini deh, 1 porsi untuk di sini, 2 porsi untuk dibungkus”


“Ada lagi?”


“Sudah ah, gak selesai-selesai jadinya!”


“hahaha...oke..tunggu 15 menit ya?”


“Sip!”


Resto itu terlihat lebih ramai dari sebelumnya, terutama kunjungan para ABG yang datang untuk melihat Dewa.


Mereka memfotonya dari jauh dan juga meminta Dewa untuk berfoto bersama mereka. Rita memperhatikan dari jauh, diam-diam ia memfoto Dewa dan mengirimkan ke kakaknya dengan caption:


“Kak Dewa sekarang bekerja di cafe dan berhenti kuliah”


Rita dan rombongannya berada di resto cukup lama, menjelang maghrib ia pun pulang.


“Ini yang di take away!” Dewa memberikan pesanan Rita


“Oke kak, besok kalau bisa datang ya?”


“Jam berapa?”


“Habis dzuhur, pas jam makan siang”


“Oh..insya Allah deh Rit, terima kasih ya sudah memborong!”


Rita menaruh beberapa rupiah sebagai tip di dekat kasir, cukup banyak ia habiskan uang di resto tersebut. Dewa mengantarnya hingga mobil Rita meninggalkan parkiran


“Siapa wa?” tanya temannya


“Teman!”


“Banyak juga lho belanjanya, orang kaya ya?”


“Ya begitu deh!, eh shift kerja gue hampir selesai nih!” Dewa melepaskan apronnya dan pergi ke ruang ganti. Ia terduduk lemas, pikirannya melayang. Walaupun Rita tidak berkata apapun padanya tetapi ia merasakan keprihatinan dalam nada suara Rita.


Dewa langsung pulang, hari itu terasa lebih berat dari biasanya.


Rita tiba di rumah pas adzan maghrib


“Assalammu’alaikum...”

__ADS_1


“Wa’alaikummussalam!” jawab Daniel, ia dan anak-anak berkumpul di ruang tamu menunggu kedatangan mami mereka.


“Wah...kalian sudah pada mandi semuanya” Rita melihat anak-anak yang sudah rapi, termasuk Rayya yang belajar berdiri


“Sudah dong, kamu beli apaan ? kita sudah pada lapar nih”


“Tenanggg...mami sudah membeli banyak makanan” Rita membuka bungkusan yang ia beli dari resto pak Umar, ia meminta ART membawakan piring serta minuman, mereka hendak makan di ruang tamu, sedangkan para baby sitter dan supir menaruh belanjaannya di dapur


“Kamu belanja banyak juga ya?” Daniel melihat hasil belanjaan Rita


“Kalau untuk catering itu ya begini, aku habis hampir 2 juta”


“Hah?”


“Hampir lho, beras saja 20 kg dengan kualitas premium sudah hampir 400 ribu”


“Kok gak pilih beras yang biasa saja? Kalau begini bagaimana bisa untung?”


“Lha ini kan buat selametan rumah kita, kalau makanan yang kita kasih itu enak dan bermutu insya Allah doa mereka lancar untuk kita. Tapi kalau ngasal, nanti bukan doa yang muncul tetapi cacian”


“Terserah kamu deh!” Daniel meneruskan makannya, setelah mandi dan sholat maghrib, Rita melanjutkan kesibukannya di dapur. Ia memarinasi ayam, para asistennya memotong tempe dan menggorengnya, setelah itu mereka mengolah sayuran sebagai acar. Daniel dan anak-anak berdiam di lantai dua, mereka menikmati film bioskop dari set TV yang ia beli sehari sebelumnya. Ranna dan Raffa tidur-tiduran di ranjang papinya, sedangkan Rayya senang belajar berdiri, ia berpegangan pada tepian ranjang , meja dan kursi.


“Papi”


“Ya?”


“Mami masak apa?” tanya Ranna


“Mami masak buat acara besok”


“Acala?”


“Iya, kak Ranna jangan halangi papi lagi nonton” mata Daniel tertuju pada TV layar lebar di depannya


“Papi”


“Ya kak?”


“Besok odong-odong yuk?”


“Odong-odong? Apaan tuh?”


“haaaa...papi...odong-odong!” rengek Ranna


Daniel kurang mengerti, ia mencari ponselnya dan mengetikkan kata odong-odong


“oh ini, memangnya ada di sini?”


“Di pasal pi”


“Kok kakak bisa tahu?”


“Kata om O”


“Ya udah, besok pagi kita ke pasar ya?”


“Asikkk...cup!” Ranna kegirangan, ia mencium pipi papinya


“Sudah selesai masaknya?”


“Sudah 70%, besok finishingnya” jawab Rita


“Besok pagi anak-anak minta naik odong-odong, itu dimana? Di pasar?”


“Pasar kaget”


“Hah? Pasar kaget? Dimana lagi itu?”


“Di sebut pasar kaget karena pasarnya dadakan muncul Sabtu-Minggu dan hari libur saja. Kalau di sini di kelurahan, kamu tahu kan kantor kelurahan yang menuju ke rumah ini?”


“Oh di situ, dekat ya?”


“Lumayan, tapi besok aku masih pakai para baby sitter untuk membantu ku masak, kamu bisa bawa anak-anak? Rayya bisa ditinggal di sini kalau merepotkan.


“Memangnya semerepotkan apa?”


“Kedua anak kita terlalu lincah, di pasar kaget itu biasanya ramai kamu akan kesulitan mengatur kedua anak itu” jawab Rita dengan suara makin mengecil karena mengantuk. Tak lama kemudian ia pun terlelap.


Daniel terbangun pukul 3 dinihari, seperti biasa ia sholat tahajud, setengah jam kemudian Rita terbangun. Setelah tahajud, ia melanjutkan masaknya. Para asistennya belum pada terbangun


“Kamu lagi ngapain?” tanya Daniel


“Cuci beras, aku harus memasak nasi yang lumayan banyak ini”


“Aku bantu deh”, dengan sigap Daniel membantunya mencuci beras lalu memasaknya di rice cooker besar


“Rice cookernya besar banget, ini kapasitas berapa?”


“5 kg, aku menyewanya kemarin, kalau pakai rice cooker biasa bisa-bisa kematangannya gak sama dan lama”


Setelah beras dicuci dan dimasak, adzan subuh berkumandang, keduanya sholat subuh. Setelah itu melanjutkan kegiatannya.


“Setelah ini apa?” tanya Daniel


“Sudah kamu istirahat saja, sebentar lagi anak-anak bangun. Mereka ingin segera main, kamu harus menyimpan tenaga mu” ujar Rita, ia mulai menggoreng ayam.


“Eh wangi sekali ayamnya, nanti sisakan buat aku ya?” pinta Daniel


“Iya dong!” Rita melanjutkan masaknya. Pukul setengah 6 para asisten telah bangun dan dapur pun mulai sibuk lagi. Daniel mempersiapkan anak-anaknya untuk berangkat ke pasar kaget.


“Kalian pakai jam yang dari Uwa ya?” Daniel memakaikan jam ke tangan masing-masing anaknya


Mereka memakai setelan pakaian olah raga berwarna hijau. Rayya masih tidur, Daniel mengurungkan niatnya untuk membawa anak bungsunya.


“Mami berangkat ya?” ujar Daniel


“Iyaa...Kakak, Abang, jangan keliaran sendirian ya? hati-hati” pesan Rita sambil merapikan pakaian anaknya, dan memberikan sebotol air minum kepada suaminya.


“Bawa ini juga?”

__ADS_1


“Iya, siapa tahu kan kalian kehausan di jalan?”


“Dahh...mamiii!!!” teriak kedua anaknya keluar dari rumah diikuti Daniel. mereka berjalan melewati rumah O.


“Eh Kak, mau ajak om O gak?” tanya Daniel


“Om O?”


“ya?” Daniel menggendong Ranna dan Raffa, keduanya bergantian memencet bel pintu rumah Mario.


Mario muncul dengan selimut terkalung di lehernya, ia menguap


“Hoaahhh...apaan sih..masih pagii” ia membuka pintu dan melihat Daniel serta kedua anaknya di depan pintu


“Pagi Mario!” sapa Daniel ramah


“Pagi bos! Masih pagi mau kemana?”


“Anak-anak mau main odong-odong, katanya infonya dari kamu?” tanya Daniel iseng. Sebenarnya ia hanya ingin ditemani


“Hmm..” sebenarnya Mario malas, tetapi Ranna dan Raffa bergelayutan di kakinya dengan lucu.


“Iya deh, sebentar, Ai cuci muka dulu!” ia kembali masuk ke dalam, Daniel mengikutinya, ia melihat sebuah motor RX King terparkir. Beberapa menit kemudian Mario telah siap dengan pakaian olah raganya.


“Ayo kita berangkat!” ajaknya sambil menuntun Raffa


“Ada tamu O?” tanya Daniel sambil menunjuk motor itu


“iya, ada orang panti yang menginap di sini” jawab Mario, mereka keluar dari rumah lalu berjalan menuju pasar kaget. Di sana telah ramai


“wah, padahal baru jam 6 lewat tapi sudah ramai” ujar Daniel termenung, ia ditarik Ranna untuk melihat beberapa atraksi di sana. Ranna sangat menyukai atraksi memegang ular, ia tidak takut, bahkan ia mengalungkannya ke lehernya sementara Daniel agak menjauh agak takut.


“Wah anak-anak ini mirip emaknya ya? gak ada takut-takutnya” ujar Mario memperhatikan Ranna dan Raffa yang bergantian memegang ular. Tanpa Daniel dan Mario ketahui, Ranna mengantongi anak ular kecil setelah itu ia pun ke bagian mainan anak-anak. Ia dan Raffa menikmati main odong-odong bersama anak-anak yang lain. Cukup lama mereka bermain, Daniel membeli beberapa cemilan, juga Mario.


“Di korea juga sama kayak gini kentangnya” ujar Daniel


“Ya,makanan seperti ini mendunia, karena di drakor sering muncul, nah itu seperti takoyaki, odeng banyak deh” jawab Mario


“Iya juga, tapi rasanya beda”


“Iya dong kan disesuaikan dengan lidah orang sini. Eh bos, nanti jadi selametan rumahnya?”


“Jadi dong, Rita sudah masak banyak sejak kemarin, nanti kamu datang setelah sholat dzuhur, bawa juga anak-anak panti untuk mendoakan” pesan Daniel


“Ritong masak sendiri? hebat juga?”


“Dia bersemangat sekali, dari jam setengah 4 pagi sudah masak” cerita Daniel


“ckckckc...gak nyangka ya si Ritong, dulu cewek sangar yang hobinya berantem kini doyan masak dan keibuan...yu bener-bener pawang yang hebat bos!” puji Mario


“Pawang?”


“Iya penakluk! Orang yang kenal Rita sejak ia di sini pasti kaget deh melihatnya sekarang.” Ujar Mario


“Kamu kenal dia bukannya cuma sebentar?”


“Tiga bulan bos, tapi intens kan dia tinggal di rumah kakeknya, yang dulu dipakai tante Saye untuk kawinan, nah itu rumah bapaknya Ayah Reza” cerita Mario


“Maksud ku, kamu gak tahu masa kecilnya Rita kan?” ujar Daniel


“Iya sih, tetangga Ai kan satu sekolah sama Ritong, dia bilang dia satu-satunya cewek yang jadi ketua gank cowok. Aneh kan? Ai sudah tebak deh pasti si Ritong siapa lagi”


“Kalau Tommy? Kamu kenal?”


“Tommy? Sape tu? Ai gak kenal.”


“Tapi kamu baik juga ya O? Walau kenal cuma 3 bulan tapi sekarang malah jadi dekat kayak saudara begini”


“Emang! Keluarganya si Ritong itu baik banget, dulu waktu Ai digebukin sama anak tetangga, Ai diobatin dr.Reza, bahkan nginep di rumahnya. Di kasih makan, wah pokoknya kayak saudara deh. Padahal saudara Ai yang beneran saja gak kayak begitu” Mario mengenang


“Papi..papi...” Raffa berteriak mendekati papinya


“Kenapa nak?”


“Someone take kak Anna!” teriak Raffa


“Hah? Kemana larinya?” Daniel tampak panik, ia menggendong Raffa ke tempat Ranna menghilang, ia menanyakan ke orang-orang sekitar. Mario membantunya


“Gawat nih boss, udeh jauh kali mereka” ujar Mario, Daniel menyerahkan Raffa ke Mario, ia menyentuh jam tangan pintarnya untuk melacak Ranna,


“Dia masih sekitar sini” Daniel berlari ke arah yang ditunjukkan oleh smartphone, tiba-tiba seseorang datang mendekatinya dengan menaiki motor RX-King


“Naik ini Niel!” ujarnya


“Hah?” Daniel kaget melihat orang itu, tapi ia tidak sempat, pikirannya terpusat mencari Ranna, Ia menaiki motor itu mengikuti petunjuk jalan, tak lama ia tiba di tempat, orang itu jatuh dari motor, dan Ranna menangis karena terjatuh dari motor.


“Kak Ranna!!” teriak Daniel


“Papiii!!!” Ranna menangis kencang, orang itu hendak melarikan diri, dengan sigap Daniel segera menangkapnya, ia sangat marah pada orang yang mencoba menculik putrinya.


Daniel membawa orang itu ke kantor polisi, orang itu tampak gelisah


“Kamu kenapa?” tanya polisi


“Ada sesuatu di badan saya pak” ujar penculik itu sambil membuka jaket dan kaosnya, seekor ular kecil keluar dari punggungnya dan jatuh ke tanah


“Ulal...” teriak Ranna ia mengambilnya dari lantai dan mengelusnya. Daniel kaget


“Kakak dapat dari mana ular itu?” tanya Daniel


“Dali olang ulal tadi Pi” ujar Ranna sambil mengelus ular kecil itu.


Mereka melakukan BAP, ternyata ketika orang itu mengambil Ranna dengan paksa, Ranna melepaskan ular kecil itu ke jaketnya orang itu yang mengganggu konsentrasinya menyetir hingga terjatuh.


Sepulang dari kantor polisi Ranna dibawa ke dokter untuk diperiksa luka-lukanya.


“tidak ada yang mengkhawatirkan pak, ini hanya besot di kaki saja, sudah dibersihkan dan diobati. Nanti siang diganti ya perbannya” pesan dokter


“Terimakasih dokter!” ujar Daniel, ia bersama Mario dan anak-anak kembali ke rumah Mario.

__ADS_1


“Terima kasih pak Radian, kalau Anda terlambat datang pasti Ranna sudah jauh dibawa pergi” ujar Daniel


_Bersambung_


__ADS_2