
Rita dan Daniel mempersiapkan kepergian mereka ke Swiss.
“Kita berapa hari di sana?”
“Sebenarnya bukan hanya Swiss, tapi tour Eropa” Jawab Daniel
“Tour Eropa? Memangnya kamu gak kerja?”
“Sebenarnya begini, ke Swiss itu untuk kerja beberapa hari lah, 1-2 hari, setelah itu kita bisa jalan-jalan”
“Yahh...berarti gak ngapa-ngapain dong di sana?”
“Ngapa-ngapain dong, tinggal atur waktunya saja”
“Katanya kamu apply untuk cabang Jakarta, kok ini malah ke Swiss?”
“Kamu gak tahu ya? kantor pusat Lexington itu di Swiss, jadi kami yang direkrut harus ke kantor pusat selama beberapa hari.”
“Berapa hari?”
“katanya sih 1-2 hari”
“Terus yang tour eropa itu gimana?”
“Itu cuma satu minggu. Belanda, Perancis, Belgia,Inggris, Luxembrug”
“Itu pakai travel ya?”
“Iya!”
“Apa gak mahal itu?”
“Enggak, ternyata mereka lagi diskon besar-besaran tour eropa setelah pandemi. Selain lagi murah, aku pikir mumpung kandungan kamu masih muda”
“Kita bawa baby sitter gak?”
“Aku sudah tanya mereka untuk paspor, tapi seorang dari mereka gak bisa ikut karena paspornya harus di perpanjang”
“Jadi gimana?”
“Ya terpaksa kita bawa Amin saja”
“Amin?”
“Iya, dia gak ngurus anak-anak, tapi ngurus barang-barang kita, anak-anak kita saja yang pegang”
“Aminnya mau?”
“Mau banget, aku sudah bilang kemarin. Dia senang sekali”
“Jadi baby sitter dua-duanya gak diajak?”
“Kamu butuh mereka banget ya?”
“Kehamilan yang ketiga ini aku cenderung malas, padahal aku sudah melawan kemalasan itu tapi sulit”
“Kalau baby sitternya cowok saja gimana?”
“Cowok?”
“Iya, yang Ihsan waktu itu, dia kan bagus”
“kalau Ihsan satu untuk Raffa dan satu lagi suster Sari gimana? Dia kan bisa?”
“Sebentar jadi orang dewasa 5, anak-anak 2 jadi 7 ya?”
“Iya, gimana? Mahal ya?”
“Aku sih baru DP, belum pelunasan karena takut kayak gini ini berubah”
“Coba kamu bayangin saja, amin repot sama barang-barang, nah kamu kerja, anak-anak kita lincahnya minta ampun. Raffa ini kalau gak diawasi akan memanjat apa saja. Kalau Ranna senang berkeliling. Aku bakal susah kan?”
“Iya ya? ya sudah kamu bilang Ihsan dan suster Sari, bisa gak mereka ikut kita”
“Iya!” Rita langsung keluar kamar mereka dan menemui Ihsan dan Sari sementara Daniel sibuk menyiapkan pakaian yang akan dibawa.
Satu jam kemudian, Daniel sedang duduk di sofa membaca tabletnya, Rita menghampiri dan duduk di hadapannya.
“Jadi gimana?” tanya Daniel
“Suster Sari gak bisa ikut kalau lama, karena ada anak di rumah yang gak bisa ditinggal, kalau Ihsan bisa.”
“Terus pengganti suster Sari?”
“Akhirnya temannya Ihsan yang kemarin jaga Ranna, Emil. Dia bisa, aku pikir kalau ketiga orang yang kita bawa cowok kita lebih gampang pesan penginapannya kan? Cukup 2 kamar, kamar kita dan mereka”
“Oke jadi fix ya? 7 orang dewasa dan dua anak-anak. Aku mau hubungi travelnya”
“Iya!” jawab Rita mantap
Beberapa menit kemudian Daniel kembali dari ruang kerjanya
“Nanti ada orang travel yang mengambil paspor, jadi minta ketiga orang itu memberikan paspornya ke kita sekarang”
“iya!” Rita menelpon pak Ridwan untuk meminta paspor Amin , Ihsan dan Emil
“yah yang!”
“Kenapa lagi?”
“Si Amin paspornya expired! Kalau perpanjangan setidaknya 1-3 hari itu pun sudah jalur khusus”
“Gimana sih si Amin” gerutu Daniel
“Yang, kalau pak Ridwan saja gimana?”
“Pak Ridwan? Beliau bisa? Kamu nyaman gak nyuruh-nyuruh beliau?”
“Ya gak apa-apa, toh sekalian kita minta beliau manajeri kedua brother kan?”
“Brother?”
“Ya kalau suster kan cewek, kalau baby sitternya cowok ya brother”
“Ada-ada saja kamu!” Daniel tersenyum, istrinya kadang-kadang bisa melawak juga
“Kamu atur saja deh sama pak Ridwan. Bilang ke beliau kita pergi paling lama 2 minggu, paling cepat 10 hari!”
“Siap!” Rita kembali menelpon Ridwan, beberapa menit kemudian
“Bisa Yang!, pak Ridwan sudah menemukan penggantinya di rumah ini”
“Ah beres kalau begitu, mintain paspornya ya?”
“Iya!”
Tak berapa lama Ridwan datang menemui Rita
“Mba Rita, ini paspor kami bertiga!”
“Iya Pak! Besok pagi kita berangkat ya?”
“Paginya jam berapa mba?”
“hmm...kira-kira jam 9. Oh iya mobil travelnya yang akan jemput kita, jadi koper bapak dan para sitter sudah siap ya?”
“Baik mba Rita, oh iya tadi ada telepon dari teman mba Rita, Lisa”
“Lisa? Kenapa nelpon ke rumah?”
“Dia bilang menghubungi ponsel mba tapi gak diangkat”
“Oh ya? sebentar!” Rita membuka ponselnya
“Gak ada miscall pak?”
“Mungkin nomor lama mba Rita!”
“Oh iya!” Rita segera mencari ponsel lamanya yang ia taruh di dalam tas.
“Saya pamit dulu mba Rita!”
“Iya, Pak, terimakasih!” Rita membongkar tas selempang yang belum sempat ia rapikan sepulang dari Singapura.
“Kamu nyari apa?” tanya Daniel, ia melihat Rita menjatuhkan semua isi tas ke karpet
“Ponsel”
“kamu memang banyak pikiran atau apa? yang kamu pegang itu apa?” Daniel geli melihat istrinya kebingungan, Rita melihat ponsel yang ia pegang
“Bukan yang ini, ponsel lama aku!”
“Ponsel lama? Kamu ingat gak naruhnya dimana?”
__ADS_1
“Ya di dalam tas ini, sepulang dari kondangan kita kan ke RS, terus langsung pulang kemari”
Daniel membantu mencarinya di tas yang lain.
“Gak ada yang!, memangnya ada apa sih?”
“Tadi pak Ridwan bilang, kalau Lisa nelpon kemari karena nelpon ke ponsel, aku gak angkat. Aku lupa kalau teman lama ada diponsel lama” Rita terus mencari
“Kamu ribet banget, pindahin saja semua ke ponsel baru, jadi gak ribet kayak gini”
“Iyaaa, karena kalau aku pakai ponsel yang mahal gak enak sama teman-teman nanti disangkanya aku sombong!”
“Sombong? Kok bisa begitu? Kalau teman yang baik sih gak bakal berpikir jelek tentang temannya. Lagi pula mereka kan sudah tahu kamu cucu konglomerat, pengusaha roti dan suaminya CEO, wajar kalau ponselnya bagus!”
“Iya-iya, kadang aku belum bisa ngelepasin status lama, nah ini dia!” akhirnya ia menemukan ponsel lamanya ditumpukan baju.
“kok bisa di situ?” tanya Daniel heran
“Gak tau deh!” Rita melihat miscall dari sahabatnya
“Sampai 10x!”
“Ada yang penting kali!, bilangin kamu mau ke luar negeri!”
“Iyaa!!!” Rita bergegas ke teras dan nelpon sahabatnya.
“Assalammu’alaikum, Lis! Sorry ya? ponsel gue baru ketemu nih”
“gak apa-apa!”
“Ada apa nih?”
“Gue baru saja balik dari Malaysia, kado dari Lo. Tadinya mau mampir ke rumah lo minta alamat, eh ga diangkat akhirnya kita langsung balik deh ke Sukabumi”
“yahh..telat ya? nanti gue kasih alamat gue deh, gue share di group ya?”
“Oke!”
“Eh Lis, sebelum yang sekarang lo juga miscall, kenapa nih?”
“Ohh, itu..gue gugup malam pertama”
“terus? Terus? Lancar gak?” tanya Rita penasaran
“Awalnya kita diam-diaman, ternyata dia juga malu”
“terus?”
“ada kali 2 jam ngobrol ngalor-ngidul, ngomongin gak jelas”
“Terus?”
“Akhirnya kita ketiduran”
“Yahhh...jadi kalian belum dong?”
“Waktu itu belum, benar-benar malam bersama di rumah itu belum”
“Jadi kapan?”
“Jadinya ya waktu di Genting, kebetulan hotelnya bagus banget pemandangannya, jadi mood booster banget. Di situ deh!”
“Jadi gimana?”
“Sakit ya?”
“Iya awalnya, tapi kalau sudah sering enggak!”
“Iya sih, gue sih masih malu, tapi laki gue kayaknya nagih deh.”
“Memang! Tapi lo juga suka kaaann??” ledek Rita
“Yaa, lumayan! Eh terimakasih ya lingerienya, berhasil banget! Gue sampai kaget ‘diserang’ laki gue”
“Hahaha...ceritain dong!”
“Gak apa-apa nih pulsa lo habis?”
“Gak apa-apa!”
“oke, jadi gini . Setelah kegagalan malam pertama, gue rada sangsi bahwa malam pertama kami akan terjadi”
“Memangnya malam pertama itu lo gak pakai lingerie gue?”
“Pakai!, tapi gue sembunyiinn dibalik mantel batik”
“Hahaha..bisa aje lo! habis gue malu pakai begituan!”
“terus?”
“setelah keliling di genting, gue dan laki gue istirahat di hotel. Nah pas malamnya, gue lupa kalau lagi pakai lingerie itu. Habis mandi, langsung pakai itu. Rencananya mau langsung tidur, eh laki gue ngeliat gue pakai itu”
“Terus?”
“Dia bengong seperti gak percaya, terus nyamperin. Gue baru sadar pakai baju minim, mau ganti eh ditahan sama dia, udeh deh jadi malam pertama”
“Yeaayyy!!! Akhirnya! Selamat ya?? sudah resmi jadi istri”
“Terimakasih...terimakasih...Kalau gue pikir-pikir ini semua berkat andil lo dan laki lo. kalau kalian gak turut campur kayaknya gue jadi istri perawan terus”
“Hahaha..enggak mungkinlah! Kak Farhat itu sudah naksir lo lama, gak mungkin lo dianggurin. Ada juga dia lagi nunggu moment yang tepat!”
“Iya ya, kalau gitu gue kirimin saja deh oleh-oleh dari genting”
“Gak usah Lis, soalnya kita sekeluarga mau pergi 2 mingguan. Besok kita berangkat”
“Yahh...sayang dong, soalnya oleh-olehnya gak bisa tahan lama”
“Ya sudah buat teman-teman di sana saja, bilang dari gue! Hehehe!”
“Memangnya kalian mau kemana?”
“Laki gue kan pindah kerja, “jadi dia diminta datang ke kantor pusatnya di Swiss”
“Jadi kalian ke Swiss nih?”
“Iya!, biaya kantor lho! Bukan gue yang bayar!”
“Pastilah!, wah enak banget! Lo mainannya sudah ke luar negeri ya Rit?”
“Sekarang mah gampang!, lo cek deh, tour keliling Eropa lagi murah tuh! Travelnya. Lo bisa pergi juga Lis!”
“Iya sih, tapi laki gue kan sudah mulai penempatan kerja Rit, jadi gue juga ikut sama laki gue”
“Terus kuliah lo gimana?”
“Gue pindah kuliah yang dekat sama tempat tugas laki gue”
“Oh iya ya, bisa begitu”
“Bisa dong!, jadi kita gak perlu LDR-an”
“Memangnya tugas laki lo di daerah berapa lama?”
“Tiga-empat tahun-an lah!”
“Wah kita ketemu lagi lo bawa buntut !”
“InsyaAllah Rit, doain saja. Tadinya gue mikir tentang child free. Tapi setelah melihat keluarga kecil lo, gue pengen juga punya Lisa kecil.”
“Iya lah! Ngapain child free, itu mah ide orang yang egois, karena masih muda nanti kalau sudah tua, sendirian bakal terasa deh kesepiannya”
“Iya Rit, btw anak-anak diajak dong ya?”
“tentu dong! Gak mungkin ninggalin.”
“Yang pergi siapa saja?”
“Gue, Daniel, anak-anak, 3 orang baby sitter”
“Baby sitternya 3 orang?”
“Untuk anak-anak masing-masing 1, untuk barang-barang 1”
“Iya deh, semoga lancar perjalanannya, sehat-sehat semuanya, kembali ke tanah air dengan selamat!”
“aamiin...thank Lis, btw lo masih di kereta?”
“Iya nih!, tuh laki gue baru balik. Dia habis beliin makanan”
“Ya sudah deh, salam ya sama kak Farhat, mudah-mudahan kalian cepat dapat momongan!”
“aamiin...thanks ya Rit, salam sama anak-anak dan bilang terimakasih sama Daniel!”
__ADS_1
“Iya, insya Allah! Dah !” Rita menutup ponselnya, lalu kembali ke dalam rumah
“Lama amat nelponnya”
“Tadi Lisa mau mampir kemari sepulang dari Genting, karena aku gak angkat jadi mereka langsung balik ke Sukabumi”
“oh begitu, gimana? Bagus gak?”
“Bagus banget, dia bilang, Rit, tolong bilangin terimakasih ya sama Daniel karena sudah kasih kado yang istimewa”
“Sama-sama,..hehehe...”Daniel tampak senang
“Aku gak ngeluarin uang untuk kado itu. Kebetulan aku menang lomba, dan juara utama”
“Juara utama?”
“Maksudnya setiap perlombaan aku menang nomor 1, jadi disebut juara utama, hadiahnya itu!”
“Sayang dong, hadiah hasil kerja keras malah dikasihin orang?”
“Gak apa-apa! toh aku ikut perlombaan karena iseng eh menang!”
“Memangnya kalian lomba apaan?”
“Panjat pohon, menyusuri sungai, menemukan barang yang hilang! Aku nomor satu semuanya!”
“Barang apa?”
“Karena aku pakai headlamp dari kamu, gampang banget nyari barangnya, sedangkan mereka yang pakai obor atau senter agak susah”
“Memangnya gak ada aturan tentang pemakaian alat?”
“Gak ada, aturannya Cuma, gunakan alat yang ada padamu!, Kalau memanjat pohon, aku pernah memperhatikan kamu memanjat setelah ingat-ingat, ternyata bisa. Wah kamu benar, melihat dari ketinggian itu memang asyik ya?”
“Iya kan? Waktu di Auckland aku sering nongkrong di batang pohon yang tebal, pohonnya tepat di depan kamar. Gak tahu kenapa begitu aku balik lagi, hampir semua pohon di sekitar rumah cabangnya sudah gak ada!”
“Hahaha...kayaknya kakek Darmawan itu lebih cerdik dari pada kakek Sugiyono. Aku ingat, waktu kamu panjat tebing, kakek Sugiyono bangga sekali kamu berhasil naik sampai tinggi, sedangkan wajah kakek Darmawan kebalikannya. Ia cemas sekali.”
“Kedua kakek ku memang punya cara yang berbeda untuk melindungi anak dan cucunya”
“Terus, Lisa cerita apa lagi?”
“Ya dia cerita, kalau di genting mereka melakukan malam pertama”
“Oh ya? sebenarnya kalau malam pertama memang lebih enak di hotel”
“Kenapa?”
“Kamu bayangin saja kalau di rumah, perasaan was-was ada yang ngintipin. Makanya waktu kita, aku langsung bawa kamu menjauh dari hotel Qowi kan? Karena banyak keluarga kamu di situ!”
“Tapi kita kan gak ngapa-ngapain di hotel itu”
“Iya, tapi setidaknya aku tenang berdua saja dengan istri ku tanpa berpikiran tentang keluarganya!”
“Oh begitu!”
Sore hari seorang utusan dari travel datang ke rumah untuk meminta dokumen yang diperlukan. Sebelum memberikan dokumen, Daniel memotret orang tersebut, dan memverifikasi wajahnya dengan travel agent setelah yakin, ia memberikan paspor mereka.
“Besok, kami jemput sekitar pukul 10 pagi ya pak?”
“Iya! Terima kasih!”
Malam harinya, mereka berkumpul di kamar tidur.
“Kak Ranna, Bang Raffa besok bangun pagi ya? kita mau pergi ke Swiss” ujar Daniel
“wiss!” jawab Raffa
“Swiss!” Daniel membetulkan
Raffa turun dari tempat tidur, lalu pergi ke ruangannya lalu kembali membawa mainannya
“Pi, bee!” ia memberikan boneka berbentuk lebah kesukaannya
“Oh iya! Aku lupa!, sini Bang, mami taruh koper!” Rita mengambil boneka Raffa,
“Nooo!!!!” Raffa ngambek
“Kenapa? Nanti ketinggalan gimana?” tanya Rita
“Noo!!”Raffa memeluk Bee, sambil meminum susu dari botolnya, ia tidur di samping Daniel
“Oh..mungkin malam ini dia mau bersama Bee, besok pagi saja taruh di koper”
“Kak Ranna, mau bawa Rabbit?” tanya Rita
Kali ini Ranna keluar dari kamar lalu kembali lagi membawa sekotak mainan
“Banyak amat kak! Jangan kebanyakan pilih satu saja!” ujar Daniel memperingatkan
“ini kak?” Rita menunjuk boneka barbie
“Ranna punya barbie juga?” Daniel memperhatikan boneka itu
“Punya, itu dari Rossy kalau gak salah, dia ngirim langsung dari Dubai”
“Wow! Ternyata tante Rosy baik juga ya? Dia sudah melahirkan?”
“Sudah lama!”
“Kamu ngirim ke dia?”
“Iya dong!, aku ngirim apa ya? pokoknya Rosy senang deh! Lucu banget katanya”
“Mahal ya?”
“Lumayan, kalau murah, aku malu dong, suamiku CEO masa ngasih kado murah!”
“Iya sih, tapi jangan kemahalan, CEO juga bisa gak punya duit lho!”
“Tentu!, pokoknya harganya terjangkau deh, tapi fungsional”
“Kamu beliin apaan?”
“Mainan merangsang aktivitas bayi, ada bunyi, warna, banyak deh”
“Raffa punya gak?”
“Enggak!”
“Kok anak sendiri gak dibeliin?”
“Raffa mainannya sudah banyak, apalagi yang diturunkan dari Ranna”
“Jangan dong!”
“Jangan apa?”
“Raffa harus punya mainan sendiri, jangan diturunkan dari Ranna, kasihan. Nanti dia gak punya milik pribadi. Aku ingat, dulu teman sebangku ku di sekolah ngeluh. Dia anak kedua, hampir semua barang miliknya lungsuran dari kakak pertamanya. Dia kesal, karena susah meminta yang baru ke ortunya. Akhirnya dia sering merusak barang dari kakaknya supaya dibelikan yang baru”
“Dia dibelikan?”
“Enggak!, ortunya marah. Mereka menganggapnya tidak bisa merawat barang. Jadi Yang, anak kedua itu biasanya paling mandiri dan dekat dengan keluarga. Kamu lihat saja kan, bagaimana dia mengambil sendiri botol susunya?”
“Memang!, wah kamu hebat juga ya? dalam waktu singkat bisa dekat dengan anak-anak”
“Bersama dengan anak-anak memang menyenangkan tapi juga melelahkan. Aku sempat repot waktu di Sukabumi. “
“Kan ada mama dan para suster?”
“Anak-anak ini nempel banget sama kamu! Apalagi Ranna. Dia lagi main, tiba-tiba dia ingat kamu. Dia keliling rumah nyariin. Nangis, mama kamu gak bisa bikin dia diam”
“Terus Ranna diamnya gimana?”
“Ya aku gendong, aku bawa keliling komplek, aku bilang yuk cari mami. Baru deh dia diam”
“Kakak Ranna!” Rita memeluk anak perempuannya yang mulai tertidur di sisinya.
“Hari ini anak-anak tidur bersama kita di sini ya?” pintanya
“Heeh!”
Tempat tidur mereka berukuran xxl, hingga cukup untuk tidur dewasa dan anak-anak
“Kamu sudah sholat Isya?” tanya Daniel
“Sudah, kamu?”
“Dari tadi!” Daniel mengunci pintu kamar dan mematikan lampu
“Jangan lupa pasang alarm!” Rita mengingatkan”
“Iya!”
__ADS_1
Mereka pun terlelap
_bersambung_