
Daniel mendapatkan cuti dua minggu karena kelahiran anak ketiganya. Melalui Vcall ia menghubungi atasannya dan melaporkan tentang kelahiran anak ketiganya.
“Namanya Rayya Fitri Kang” ujar Daniel sambil menggendong Rayya
“Selamat pak Daniel!, dan Anda mendapatkan hak cuti selama 2 minggu, terhitung hari ini”
“Terima kasih banyak Pak!” Daniel mengakhiri Vcallnya
Suasana sahur pagi itu di kediaman rumahnya cukup ramai, Kakek Darmawan dan Andi yang belum mengetahui tentang kehadiran penghuni baru di rumah, agak heran dengan suasana sibuk di ruang makan karyawan.
“Ada apa? kenapa ramai sekali di ruang sebelah?” tanya Kakek kepada waiter yang menyajikan sahur
“Itu pak para staf medis yang datang tadi malam”
“Staf medis? Siapa yang sakit?” tanya Andi heran
“Bu Rita melahirkan tadi malam pak” jawab waiter tersebut
“Hah? Jam berapa? Kok saya gak dibangunin?” protes Andi
Ridwan datang menerangkan kepada Andi dan Kakek Darmawan
“Tadi malam, air ketuban mba Rita pecah Pak, lalu dibawa ke RS ternyata dalam perjalanan kesana, ada lakalantas sehingga mobil tidak bisa jalan. Akhirnya diputuskan untuk melahirkan di rumah ini dengan membawa tenaga medis dari RS pak”
Darmawan mengangguk-angguk lega
“Sekarang Ritanya?”
“Masih tidur pak, bayinya juga”
“Kalau Daniel?” tanya Andi
“Selamat pagi!” Daniel datang membawa Rayya digendongannya, ia hendak makan sahur
“Siapa ini???” Darmawan menerima Rayya dari Daniel
“Rayya, Eyang!”
“Rayya!! Aduhh..aduuhh...cantiknya...” puji Darmawana
“Alhamdulillah”..Daniel duduk di samping Darmawan, berhadapan dengan Andi
“Rita enggak apa-apa Niel?” tanya Andi
“Dokter bilang sehat, sekarang dia lagi tidur” jawab Daniel, ia mengambil makanan untuk sahur
“Tapi tetap dicek ke RS ya Niel, bagaimana pun juga, kemampuan rumah ini terbatas.”ujar Darmawan
“Saya mau gendong Kek!” Andi menghampiri kakeknya dan mengambil Rayya dari gendongannya
“Ya ampun mirip Rita banget!” ujarnya
“Iya ya?” Daniel tersenyum bangga
“Kamu jadi ke Swiss Niel?” tanya kakek
“Laporan itu bisa dilakukan via online kek, karena saya mendapatkan cuti 2 minggu karena istri melahirkan”
“Ohh...Lexi ada kebijakan itu ya, hebat juga” Darmawan meneruskan makan sahurnya
“Rayya, ini Uwa, nanti kita main drone ya sama kakak dan abang!” ujar Andi, ia memberikan Rayya pada waiter yang menunggu mereka makan.
Beberapa menit kemudian mereka selesai makan sahur.
“Kamu ke Mesjid Niel?” tanya Andi
“Hari ini aku sholat di rumah saja” Daniel meninggalkan ruang makan sambil membawa Rayya pergi
“Saya kembali ke kamar ya kek!” ijin Daniel
“Iya Niel, nanti agak siangan kakek akan menjenguk Rita
“Kakek seperti jauh saja!” canda Daniel
Mereka kembali ke kamar masing-masing, Daniel datang ke ruang perawatan Rita
“Assalammu’alaikum!” sapanya
“Wa’alaikummussalam!” Rita telah bangun, ia sedang memompa ASI nya
“Deras ya ASInya?” tanya Daniel
“Aku harus menyiapkan untuk tiga bayi sekarang”
“Ranna bisa minum susu formula?”
“Dia belum dua tahun, nanti setelah pas dua tahun, baru deh aku kasih sufor”
“Aku gak jadi ke Swiss”
“Oh ya? kenapa?”
“Istriku melahirkan, aku dapat cuti dua minggu!”
“Alhamdulillah!!!” Rita tampak senang
“Kamu kelihatan senang banget!”
“Iya dong!, sekarang ada tiga bayi, kalau aku sendirian lumayan capek”
“Kan ada suster”
“Tetapi mereka anak-anak ku, mereka gak mau full diasuh suster”
“Oh iya, aku sudah mengabarkan mamaku dan mama mu, juga kakek Sugi. Kakek Darmawan dan Andi juga kaget mendengar kabar kamu melahirkan di rumah”
“Terus reaksi mama gimana?”
“Mama akan datang besok pagi, kalau mama ku mengirimkan video ucapan selamat. nenek tidak bisa ditinggal jadi beliau tidak bisa datang kemari”
“Say, kamu siapin untuk akekah ya? kambing 1 ekor saja!”
“Iya, aku sudah menghubungi langganan kita, dan mereka akan memprosesnya besok”
“Besok? Jadi akan ada pengajian di sini?”
“Iya!, aku pikir mumpung masih suasana ramadhan. Sekalian saja”
Rita mengangguk setuju. Ia telah selesai memompa ASInya. Daniel memberikan Rayya padanya
“Masya Allah...hey Rayya!!!” tegur Rita pada anak ketiganya, Rayya menggerak-gerakkan kepalanya merespon ucapan Rita
“Andi bilang Rayya mirip kamu banget”
“Masa sih? Apa iya?” Rita memperhatikan wajah anaknya
“Sepertinya memang mirip” Daniel memperhatikan Rayya lebih dalam
“Waduh saingan aku nih”
“Hah? Kenapa saingan?”
“Biasanya kalau anak mirip mamanya, dia akan memonopoli papanya jadi saingan mamanya”
“Enggak mungkinlah!”
“Kenapa kamu begitu yakin?”
“Karena ada Ranna, dia akan mencegahnya!” ujar Daniel
“Hahaha..kamu ini lucu saja!” Rita menidurkan Rayya
“Masih sakit ya bekas jahitannya?” tanya Daniel
“Sedikit!, karena waktu hamil Rayya ini aku sering flek, aku jadi jarang Yoga dan diet, akhirnya dia besar di perut. Aku masih bersyukur dia lahirnya normal”
“Btw, Rayya yang pertama lahir di Indonesia ya? kedua kakaknya di Singapura”
“Iya, dia pribumi!” Rita mencium kening anaknya dengan sayang
“Aku sholat subuh dulu ya?” Daniel meninggalkan Rita dan Rayya dalam ruangan perawatan
Hari telah pagi, waktu menunjukkan pukul 8, anak-anak telah bangun, Mereka mencari mami mereka.
“Papi, where’s mami?” tanya Raffa
“Mami mana pi?” tanya Ranna
“Nanti ya, kalian selesaikan makan dulu nanti papi ajak lihat mami dan adik” jawab Daniel sambil menyuapi makan kedua anaknya
Selesai sarapan, keduanya mandi. Daniel memandikan mereka karena para suster belum datang bertugas.
“Papi brush!!” Raffa menunjukkan kalau ia bisa menyikat giginya
“Smart boy!!” Daniel memuji anak keduanya
“Papi... bubble..bubblee” Ranna meniupkan busa sabun dari tangannya
“Iya!, jangan main sabun terus kak, nanti tertelan gimana?”
“uhuk...uhuk...” Ranna terbatuk karena ada air sabun yang masuk ke kerongkongannya
__ADS_1
“Tuuhhh kannn!!!” Daniel segera membantunya berkumur dan membersihkan tubuh kecil Ranna dan Raffa
“Nahh..sudah bersih...Ayo kita pindah!” dia menggendong kedua anaknya, lalu membawa ke kamar mereka. Kedua anaknya sangat aktif, mereka memainkan bedak dan minyak sehingga berceceran kemana-mana
“Hey!!!” tegur Daniel agak kesal, karena ketika ia sibuk memilih pakaian untuk mereka Rayya menyemprotkan bedak bayi ke wajahnya
“Abang!!!” tegur Daniel dengan wajah putih penuh bedak, melihat wajah papinya berlumuran bedak, Ranna dan Raffa tertawa geli
“hahahaha....papi lucu...papi lucu...” ujar mereka bersamaan
Daniel mengusap wajahnya dengan handuk, lalu hendak memakaikan baju kepada kedua anaknya
Pertama Ranna, Ia sempat berlari ke tempat tidurnya untuk menghindari papinya.
“Hahaha....” Ranna berlari sambil meminum botol susu
“Kakak kemari!” pinta Daniel
“No!” tolak Ranna
“Kalau begitu abang saja!” Daniel mengambil pakaian Raffa. Tetapi Raffa tidak jauh beda dengan Ranna, ia berlari keluar kamar dan mengambil mainan kuda-kudaan
“Abang!! Kak Abang kemana?” tanya Daniel kesal, Ranna menunjuk keluar kamar
“Abanggg!!!” panggil Daniel, tak lama kemudian Raffa datang dengan mainan kuda-kudaan yang bisa berjalan sendiri, ia masih memakai popok
“Ya pi?” jawabnya dengan wajah polos, melihat wajah polos anaknya, Daniel tidak tega memarahinya
“Pakai baju dulu! Malu kan telanjang begitu?”
“No! Abang Mogi!” ujarnya
“Mogi? Siapa tuh kak?” tanya Daniel
“Mogiii....huuuuaaaaa” jawab Ranna, Daniel makin bingung, akhirnya ia berhasil menangkap Ranna dan membuatnya berpakaian.
“Mogi come here!” panggil Daniel, Raffa makin menjauh, Daniel mengejar Raffa yang mahir mengendarai kuda-kudaan, sementara Ranna tertawa geli melihat papinya mengejar adiknya
“Dapat!! Ayo pakai baju dulu!” Daniel memaksa Raffa berpakaian
“No papi, Mogi no dress!!!” ujar Raffa melawan
“Kalau gak pakai baju, gak boleh ketemu mami!” ancam Daniel. Raffa terdiam, ia berpikir sejenak, akhirnya ia memakai bajunya.
“Nah gitu dong!” Daniel berbaring di kamar anak-anak kelelahan
“Baru dua sudah capek bener” keluh Daniel
Beberapa saat kemudian, Raffa dan Ranna berboncengan menaiki kuda-kudaan, mereka diajak menemui Rita di ruang perawatan.
“Assalammu’alaikum!” Daniel mengajarkan kepada kedua anaknya
“Assalammu’alaikum!” kedua anaknya mengikuti, Daniel membuka pintu dan membantu kedua anaknya masuk ke dalam
“Wa’alaikummussalam!!” Rita baru saja selesai menyusui Rayya
“Kakak, Abang! Sini lihat adek!!” ujar Rita. Raffa berlari dan mendekati Rita, Daniel membantunya naik ke ranjang, sementara Ranna tetap berada di mainannya, memperhatikan dari jauh
“Kak Ranna sini!” ujar Rita, Ranna menggeleng. Daniel menggendongnya dan mendekatkannya ke Rita dan Rayya.
“Noo!!!” awalnya Ranna menolak
“Kak Ranna!, lihat adek dulu!!” bujuk Daniel dengan suara lembut. Perlahan Ranna melihat bayi kecil digendongan maminya. Raffa mengusap-usap kepala Rayya
“Mami, adek siapa?” tanya Raffa
“Siapa? Oh...Rayya!” jawab Rita
“Ayya?” tanya Raffa lagi
“iya ayya!” Rita memaklumi Raffa yang masih cadel
“Mulai sekarang kalian sayang adek Rayya ya, Kak? Bang?” ujar Daniel sambil memeluk Ranna
“Iya sayang adek!, mami dan papi juga sayang kalian! Kak Ranna dan Abang Raffa!” ujar Rita menambahkan
“Halo!!!” Darmawan dan Andi datang ke kamar perawatan
“Uwaaa!!!” Raffa segera turun dari ranjang dan menempel di kaki Andi. Ranna gak mau kalah, ia minta turun dari gendongan Daniel dan juga menempel di kaki sebelah kanan Andi
“Dasar!!!” keluh Daniel melihat tingkah kedua anaknya
“Iya, nanti kita main ya? Uwa mau lihat adek dulu!” ujar Andi pada kedua keponakannya.
Andi menggendong Rayya, tetapi Cuma sebentar karena Ranna memintanya untuk memberikan Rayya kepada Rita
“Uwa, baby to mami!” ujar Raffa
“Kenapa aneh kek?”
“Ranna pakai bahasa Indonesia, si Raffa bahasa Inggris terus” ujar Darmawan
“Ranna juga bisa bahasa Inggris” ujar Rita
“Iya, tapi kelihatannya ia lebih senang pakai bahasa Indonesia” ujar Darmawan
“Kamu sehat Rit?” tanya Darmawan, ia mencium rambut Rita
“Alhamdulillah kek, Cuma jahitannya ngilu”
“Oh ada jahitan?”
“Ada kek, Rayya lumayan besar, jadi sedikit digunting” ujar Daniel
“Jadi berapa lagi nih?” tanya Andi
“Apanya?” tanya Rita
“Anaknya”
“Tiga dulu deh!” jawab Daniel, Rita agak kaget mendengarnya
“Katanya mau 6?” ledek Rita
“iya sih, tapi kalau masih kecil semua repot juga ya? tadi saja aku memandikan capek banget. Oh iya Mogi itu siapa?” tanya Daniel
“Mogi? Siapa?” Rita juga heran
“Oh itu Mowgli dari Junggle Book!, kemarin mereka nonton itu di kamar gue” ujar Andi
“Oh Mowgli”
“Kenapa?” tanya Rita
“Tadi, si Raffa gak mau pakai baju, pakai popok saja. Dia bilang Abang Mogi!” jawab Daniel, semua di ruangan tertawa
“Ada-ada aja!..kalian benar-benar jadi orang tua sekarang!” ujar Darmawan tersenyum
“Assalammu’alaikum..hey!” Ratna dan Sugiyono masuk ke kamar perawatan
“Wa’alaikummussalam! Mama!” Rita mencium tangan mamanya dan kakeknya
“Mana cucu ku?” tanya Ratna, Daniel memberikan Rayya kepada Ratna
“Eh namanya siapa?”
“Rayya Fitri Kang!” jawan Rita dan Daniel bersamaan
“Rayya, artinya apa?” tanya Sugiyono, yang sekarang menggendong Rayya bergantian dengan Ratna
“Rayya artinya cahaya kek” jawab Rita
“Bagus namanya, kamu pintar memberi nama Niel!” puji Ratna
“Terima kasih ma!” Daniel tersenyum
“Oh iya, nanti sore akan ada pengajian akekah di sini, mama dan kakek jangan pulang dulu ya?” pinta Daniel
“oh langsung sekarang Niel?” tanya Darmawan
“Iya Kek, lebih cepat lebih baik, sebentar lagi ramadan berakhir, jadi mumpung masih bulan berkah”
“Kamu mau membagikan makanan berbuka juga?”
“Iya ma, selain untuk kita disini, para staf, juga orang-orang mesjid” jawab Daniel
Darmawan dan Sugiyono meninggalkan ruang perawatan, mereka ke ruangan Darmawan di lantai tiga. Sementara Ratna bersama Rita di ruang perawatan.
“Kamu kelihatan capek Say, tidur dulu deh, nanti dzuhur, aku akan minta staf membangunkan mu” ujar Rita yang melihat Daniel berkali-kali menguap
“Iya deh, aku tinggal dulu ya ma?”
“Iya Niel, istirahat deh!”
Daniel meninggalkan ruang perawatan dan kembali ke kamarnya, ia langsung terlelap begitu menempel di kasur.
“Rita, gak apa-apa melahirkan di rumah?” tanya Ratna cemas
“Ada dokternya kok ma, kemarin malam pak Ridwan langsung menghubungi dokter dan suster”
“Jadi mereka sekarang ada di sini?”
__ADS_1
“Iya ma, Daniel meminta setidaknya sampai keadaan aman buat saya”
“Mama terharu Rit, kamu sekarang ibu dengan tiga anak, usia mu baru 20 tahun”
“Hehehe iya ya ma? Rita juga seperti mimpi. Baru 20 tahun sudah punya tiga buntut”
“Oh iya Rit, kamu langsung KB saja”
“Iya ma, nanti Rita langsung suntik KB. Daniel juga mau KB”
“Oh ya? dia mau?”
“Iya, dia bilang karena kalau Rita yang KB kebobolan terus”
“Padahal dia yang rajin setor ya?” ledek Ratna
“Hehehe iya ma!”
“Rit, mama dengar kamu kerja sama dengan teman SMA mu bikin restoran Jepang?”
“Itu ma, Daniel yang kepengen. Awalnya kita makan di tenda pinggir jalan, eh ternyata makanannya cocok sama kita. Terus, koki sekaligus pemilik tenda juga teman SMA Rita. Jadi Daniel investasi”
“Terus? Sekarang berjalan lancar?”
“Katanya sih iya, bahkan mau buka cabang baru”
“Wah hebat ya, kalian anak-anak baik dan dermawan jadi rejekinya lancar”
“Alhamdulillah ma”
“Katanya kalian gak jadi ke Swiss?”
“Gak jadi ma, Alhamdulillah. Katanya karena istrinya Daniel orang Indonesia, jadi Daniel di tempatkan jadi perwakilan Lexi di sini”
“Jadi Daniel direktur Lexi di sini?”
“Iya ma, bisa dibilang begitu”
“Ckckck...hebat sekali ya? sering ingatkan suami mu, karir cepat menanjak itu kadang seperti pisau bermata ganda. Bisa melukai, jadi harus selalu waspada”
“Iya ma, Rita juga sering mengingatkan”
“Toko roti mu gimana?”
“Masih jalan kok ma. Tadinya Rita mau kesana, eh keburu melahirkan gak jadi deh”
“Mama mau menjodohkan Andi ke anaknya teman mama”
“Yang namanya Sabrina?”
“Iya, lulusan Harvard”
“Kak Andi tahu?”
“Belum! Mama lagi mikir caranya. Kira-kira gimana supaya mereka ketemu tapi gak sengaja gitu. Jadi gak ada kesan perjodohan”
“Mama bikin family gathering saja di rumah kakek Sugi. Kelahiran Rayya bisa jadi alasan. Sekalian memperkenalkan cicit baru kakek Sugiyono”
“Bisa begitu ya Rit?”
“Bisa ma, atau bikin halal bihalal setelah lebaran, kan pas itu”
“oh iya bener Rit..kira-kira Mario bisa bantu gak ya?”
“Oh iya, si O gimana kabarnya?”
“Dia ditempatkan di London menggantikan Andi”
“Oh ya? terus?”
“Ya gitu, seminggu pertama ngeluh melulu ke Andi, tapi setelah tahu gajinya, langsung anteng dia!”
“Dasar si O! Mama gimana butiknya di Perancis?”
“Terpaksa ditutup Rit. Kerusuhan terus di sana, sudah gitu biaya listrik melonjak tinggi. Paris tidak cocok untuk berbisnis sekarang ini”
“Modal mama dan istrinya Lucas gimana?”
“Kita sih, memindahkan produk kita ke New York”
“Oh mama jadi buka di New York?”
“Jadi dong!, kok kamu tahu?”
“Daniel menunjukkan beritanya di majalah”
“oe..oe..oe..” Rayya menangis
“Kelihatannya popoknya basah” ujar Rita, iya memencet bel, salah seorang suster datang
“Iya bu?”
“Popok Rayya basah, tolong gantiin ya?”
“Baik bu!” suster itu membawa Rayya untuk diganti popoknya
“Rita, kamu ingat tante Cleo gak?”
“Tante Cleo? Hmm...teman mama yang tinggal di Bali?”
“Iya betul! Kamu ingat rupanya”
“Kenapa ma?”
“Anaknya tante Cleo baru saja bercerai dari suaminya”
“Anaknya tante Cleo? Winda bukan?”
“Iya betul! Kamu ingat banget”
“Hehehe..kalau gak salah Winda menikah duluan dari Rita, beda sebulan kan?”
“Oh ya?”
“Suaminya bule kan? Eh apa orang Taiwan?”
“Suaminya orang Denmark”
“Winda cerai dari orang Denmark itu?”
“Iya!, katanya suaminya mau kembali ke negaranya. Tapi Winda gak mau ikut”
“Kenapa?”
“Katanya Winda takut dengan perbedaan budaya”
“Lah kalau begitu kenapa mereka menikah?”
“Winda hamil duluan!”
“Oh begitu, pantesan. Terus anaknya gimana dong?”
“Katanya sih dibawa bapaknya”
“Sekarang Windanya gimana dong?”
“Dia lagi dekat sama orang Afrika”
“Nah lho, makin jauh”
“Iya, tante Cleo ngeluh sama mama, anaknya selera internasional, tetapi hidupnya lokal. Padahal suami denmark nya itu baik banget. Tante Cleo sampai bilang ke Winda mau temani dia tinggal di Denmark tapi dasar si Winda, dia nolak. Takut katanya”
“Papanya Winda gimana ma?”
“Dia kan kena stroke sudah dua tahun, kemarin dengar Winda cerai, dia masuk rumah sakit karena shock”
“Kasihan ya ma?”
“Dengar itu, mama jadi ingat kamu yang mau tinggal di Swiss, eh ternyata gak jadi”
“Iya ma, tapi Daniel setiap sebulan sekali kesana”
“Oh ya?”
“Seharusnya besok dia kesana, eh saya melahirkan jadi dia dapat cuti 2 minggu. Laporannya ditunda bulan depan”
“oh begitu, pantesan dia pengen buru-buruh akekah Rayya”
“Iya ma, dia itu terencana banget orangnya. Semua dikerjakan berurutan, A,B,C...kalau gak sesuai sama rencananya dia suka kesal sendiri”
“Tapi dia gak kasar kan sama kamu?”
“Daniel? enggak ma!, tidak pernah. Kalau marah dia diam saja. Nanti setelah dia gak marah lagi baru deh ngomong kesalnya gara-gara apa”
“tapi dia masih suka dingin sama kamu kalau marah?”
“Sudah jarang, bahkan hampir gak pernah. Cuma diam saja”
“Mama doakan semoga kalian langgeng terus ya Rit!” Ratna mencium kening putri semata wayangnya
_bersambung_
__ADS_1