
“Sssttt!” Rita memperingatkan kakaknya. Beberapa orang terdengar di luar gudang, mereka menyangka gudang tersebut hanya tempat kosong yang sudah tidak terpakai. Mereka bersandar di pintu gudang sambil merokok
“Para sandera berhasil kabur! Aku heran bagaimana si bos mengatur rencana?” ujar salah seorang
“Ini karena si Adam, ternyata informasi tentang keamanan rumah itu banyak berubah”
“Seharusnya bos jangan percaya begitu saja dengan si Adam”
“Aku yakin, bos punya rencana lain. Kamu ingatkan, satu orang lagi yang kita sekap di ruang atas?”
“Siapa dia?”
“hmm...tadi dia bilang dia wali dari kedua cucu Darmawan!”
“Walinya? Jadi hubungannya apa dengan Darmawan?”
“Entahlah!, aku harap ini segera berakhir. Melakukan hal ini penuh resiko, aku sangat butuh uangnya!”
“Untuk apa?”
“hutang judi ku sudah bertumpuk, aku bisa mati kalau penyanderaan ini tidak menghasilkan apa-apa” ujarnya sambil menginjak rokok
“Ayo kita kembali ke rumah besar, di sini tidak ada apa-apa!” mereka hendak pergi hingga..
“Hatchii!!!” Rita tidak sengaja bersin, ia alergi asap rokok
“Eh ada orang di sini” mereka menendang pintu gudang, Mereka hendak menembakan senjata, Daniel berusaha merebut salah satu senjata mereka, sedangkan Andi menyerang orang yang satu lagi dibantu Rita. Akhirnya mereka berhasil melumpuhkan kedua orang itu. Mereka mengikatnya di gudang.
“Kalian siapa?” tanya Andi, mereka tidak menjawab. Daniel membuka penutup mulut salah satu mereka, dan menamparnya
“Auchh!!!” erang orang yang ditampar Daniel. Rita sangat terkejut, baru kali ini ia melihat wajah dan perlakuan Daniel yang kasar
“Siapa yang menyuruh Kalian!” tanya Daniel lagi, lagi-lagi mereka tidak menjawab. Itu membuat Daniel kesal. Ia membuka sepatu salah satu dari mereka dan melepas kaos kakinya
“Kalau kalian tidak mau bicara, satu persatu jari kaki kalian akan aku patahkan!” ancam Daniel, ia mengambil balok kayu dan hendak memukulkan ke jari kaki mereka
“Thomson!” ujar salah satu dari mereka, ia sangat takut melihat darah
“Siapa Thomson?” tanya Andi
“Dia bos kami yang ada di dalam!” ujarnya
“Apa yang Thomson mau?” tanya Daniel
“Dia,..seseorang membayarnya untuk menyandera cucu Darmawan!”
“Untuk apa?” tanya Andi
“Agar ia melepaskan saham PT.Pinrar!”
“PT.Pinrar?” tanya Andi dan Daniel bersamaan
Andi menelpon kakeknya
“Kek, apa hubungan kakek dengan PT.Pinrar?”
“Kamu tahu dari mana?” tanya kakeknya kaget
“Orang yang menyandera rumah dibayar seseorang agar kakek melepaskan saham PT.Pinrar” ujar Andi
“Begitu rupanya, mereka mulai main kasar” nada suara Darmawan terdengar geram
“Jadi bagaimana Kek?”
“Kalian tinggalkan rumah itu! Biarkan saja kalau mereka mau ledakan!” ujar Darmawan,
“Tapi Kek ada satu orang lagi yang mereka sandera, katanya wali aku dan Rita”
“Hah? Radian?” Darmawan sangat kaget
“Om Radian disandera mereka!” ujar Rita, ia mulai cemas
Daniel mengambil telepon Andi
“Halo Pak, ini Daniel!”
“Oh Daniel, syukurlah kamu di sana!. Tolong amankan anak-anak ya!”
“Siap Pak! Saya sudah menghubungi SWAT, beberapa menit lagi mereka akan tiba di rumah”
“Bagus Niel!, ah..kenapa Radian harus ke rumah? Lalu bagaimana? Apa mereka mulai menghubungi seseorang?” tanya Darmawan
“Tidak Kek, tapi mereka meledakan salah satu kamar” ujar Rita
“Rita? Kamu ada disitu?” suara kakeknya mulai terdengar sangat cemas
“Iya Kek, tadi Rita sempat disandera, tapi mereka tidak mengenali jadi Rita disekap bersama para staf lainnya. Dan kami berhasil melarikan diri dari kamar itu!”
“Alhamdulillah..syukurlah...tadi siang kakek mendapat telepon dari Bangkok. Ini tentang akuisisi PT.Pinrar oleh Dar.Co, sepertinya salah seorang ahli warisnya menolak akuisisi itu”
“Bagaimana dengan pak Radian Pak?” tanya Daniel cemas
“Aku sedang menunggu permintaan mereka, sementara ini jauhkan Rita dan Andi dari rumah itu Niel. Kalian bisa ke hotel, para staf juga!” ujar Darmawan
“Baik pak! Akan segera saya kerjakan!” ujar Daniel, telepon pun terputus.
“Lee apa ada jalan masuk lain ke rumah itu?” tanya Rita
“Kamu hendak masuk ke rumah itu ya?” tanya Andi,
“Kamu jangan meremehkan mereka Rit, mereka itu tentara bayaran, bukan preman biasa!” ujar Daniel memperingatkan
“Bukan aku yang masuk. Sebaiknya kamu bilang ke tim SWAT agat tidak memaksa masuk dari depan, aku takut mereka mempersiapkan perangkap. Kamu dengar sendiri, mereka tidak segan meledakan kamar. Aku takut mereka memasang bom untuk menghentikan SWAT” ujar Rita
“Kenapa kamu menduga begitu? Apa ini pernah terjadi dimimpimu?” tanya Andi penasaran
Rita menggeleng,
“Tidak!, di film die hard 1, mereka memasang bom di pintu, sehingga para anggota SWAT banyak yang terluka”
“Itu kan di film! Ini di dunia nyata” ujar Andi. Ia terduduk lemas , Rita duduk di sampingnya
“Aku harus membawa kalian keluar dari sini” ujar Daniel
“Seharusnya setelah berhasil menaklukan empat orang tadi, kita langsung keluar dengan mobilmu ya Niel!” sesal Andi
“Gak bisa kak! Aku melihat seseorang mengarahkan senjatanya ke mobil Daniel. Aku takut, mereka akan menembakkannya, kalau kita masuk ke dalam”
__ADS_1
“ooo begitu!” ujar Daniel dan Andi bersamaan
“Sekarang mereka menyalakan CCTV dan semua lampu, keadaan tidak lagi seperti tadi” ujar Daniel, ia mengintip dari sela-sela pintu gudang
“Aku lelah sekali” ujar Rita, ia kelihatan sangat mengantuk
“Tadi kamu kemana?” tanya Daniel
“Hhh...ke mall” jawab Rita asal, ia agak segan menjawab pertanyaan Daniel
“Ke mall? Gak sekolah?” tanya Andi
“Pulang cepat guru rapat, jadi aku dan Sisca pergi ke mall!”
“Berdua saja?” tanya Daniel
“Heeh!” Rita menjawabnya dengan singkat, Ia merasakan kantuk tidak tertahankan
“Mba Rita, di atas gudang ini ada tempat tidur, mungkin bisa tidur di situ sejenak!” ujar Lee
“Temani aku ya Lee?” ujar Rita. Lee mengangguk. Mereka meninggalkan Andi dan Daniel di lantai bawah. Lee membuka lemari gudang, disitu terdapat alat-alat elektronik yang sudah lama tidak terpakai. Ia menggunakan vacuum cleaner lama untuk menghisap debu di kasur
“uhuk..uhuk..” Rita dan Lee terbatuk-batuk
“ssttt!!!” Andi memperingatkan, Lee mematikan vacuum tersebut, dan meletakan alat itu kembali di tempatnya, kemudian ia mengambil selimut yang masih terbungkus plastik di dalam lemari itu.
“Gudang ini tempat penyimpanan Lee?” tanya Rita
“Iya, dulu ini tempat tinggal beberapa karyawan, sebelum mess di belakang jadi. Karena karyawan terus bertambah dan tempat ini tidak layak lagi untuk ditinggali, jadi gudang ini ditinggal begitu saja”
“alat-alat lama masih awet di sini?” tanya Rita
“Iya, alat-alat ini memang masih berfungsi baik, tetapi sudah kuno dan membutuhkan daya listrik yang tinggi. Jadi dibiarkan di sini” ujar Lee menjelaskan
“Ohh..begitu..huaahhh!” Rita menguap, akhirnya ia merebahkan dirinya di kasur
“Lee!”
“Iya?”
“Temani aku di sini!” ujar Rita. Lee mengangguk, ia tidur di samping Rita. Sementara Daniel mengirim pesan kepada tim SWAT agar tidak menyerang dari depan, karena dikhawatirkan membahayakan sandera.
“Kalian sedang bertengkar ya?” tanya Andi, ia melihat sikap Rita yang dingin terhadap Daniel
“hmmm...mungkin!” Daniel memaksakan dirinya tersenyum
“tadi kesekian kalinya diriku diselamatkan Rita!” ujar Andi, ia duduk di tengah ruangan
“Rita datang di saat yang tepat ya?” ujar Daniel
“Iya,..dia telat sedikit saja, pasti aku sudah mati” Andi menghela nafasnya lega.
“Rita, sejak bergabung dengan keluarga kami, hidupnya makin tidak tenang, peristiwa tante Metha. Aku sangat kagum dengan mental anak itu!” puji Andi
“Tapi Ndi kamu bilang, sebelumnya Rita juga terlibat banyak penculikan Kan?” tanya Daniel
“Iya, sifatnya yang terlalu peduli sama orang lain. Kadang menyulitkannya. Kamu tahu, dia pernah diculik dan di bawa ke hutan? Ia terperangkap dengan beberapa orang pekerja ilegal yang hendak di selundupkan ke luar negeri”
“Oh ya? Bagaimana dia bisa terperangkap?” tanya Daniel
“Itu, ia menggantikan anak dari teman mamaku yang akan diculik. Ternyata sang penculik membawanya untuk dijual bersama para pekerja itu”
“Entahlah, ia selalu menemukan jalan. Aku juga heran, tiba-tiba saja ia muncul di seberang jalan. Aku, Dewa dan Tommy juga heran”
“Dewa dan Tommy?” tanya Daniel
“Dewa temanku yang di pertandingan itu! Sedangkan Tommy, pacarnya Rita” ujar Andi
“Pacar Rita yang meninggal karena kecelakaan?” tanya Daniel
“iya betul! Kamu tahu juga ya?”
“Yeah..Rita menceritakannya sedikit” ujar Daniel mengingat perkataan Rita waktu itu
“Waktu Tommy meninggal, Rita sangat terpukul. Hampir satu minggu ia tidak sekolah dan tidak mau makan. Ayah memarahinya. Ia terus menyalahkan dirinya sendiri karena tidak bisa berbuat apa-apa untuk Tommy"
“Memangnya dia bisa apa?” tanya Daniel heran, hatinya mulai terbakar cemburu
“Biasanya Rita mendapatkan firasat tertentu dari mimpinya, tapi kematian Tommy ia sama sekali tidak mendapatkan firasat apapun. Ayah meminta tanteku mengawasinya, takut ia nekad”
“Nekad? Maksudmu bunuh diri?” tanya Daniel, Andi mengangguk
“Tidak mungkin, Rita itu orang yang sangat positif, tidak mungkin ia mengakhiri hidupnya dengan mudah!” ujar Daniel tidak percaya
“Tapi saat itu, Ayah melihat mata Rita yang begitu kosong, tidak ada semangat hidup. Kerjanya hanya menangis saja di kamar. Ia juga tidak sekolah karena sakit.”
“Apa Rita se sayang itu sama Tommy?” tanya Daniel pelan
“Iya, dan Tommy juga merasakan hal yang sama dengannya. Ketika Rita diculik, Tommy sengaja pergi bersama Ayah untuk mencarinya. Ia punya keyakinan Rita bisa melepaskan diri dari penculik”
“Apa mereka terhubung secara batin?” tanya Daniel, ia mulai meragukan hubungannya dengan Rita
“Entah! Aku benar-benar gak tahu, Dewa juga. Selama ini Tommy-Rita-Dewa, mereka selalu bertiga. Kelihatannya Rita sangat nyaman pada keduanya”
Dewa ini, apa dia punya perasaan pada Rita?” tanya Daniel tiba-tiba
“Mungkin! Tapi kelihatannya Dewa menyadari Rita tidak memiliki perasaan yang sama dengannya”
“Karena Tommy?” tanya Daniel
“Bukan! Karena Kamu Niel! Rita telah benar-benar move on dari Tommy”
“Kok kamu tahu? Apa Rita pernah cerita sama kamu?”
“Iya!, dia pernah cerita bermimpi bertemu dengan Tommy dan papa kami. Ia bilang perasaannya ke Tommy sudah berubah, ia sudah menyukai orang lain.”
“Kamu yakin itu aku?” tanya Daniel, perasaannya mulai berbunga-bunga
“Bagaimana kalian bisa jadian kalau kamu tidak yakin?” tanya Andi
“Sebenarnya, hanya aku yang bilang menyukainya, ia tidak mengatakan apa-apa, ia hanya tersenyum saja” ujar Daniel mengingat awal mereka jadian
“Masa sih? Hmm...aku harap kamu tidak mengecewakannya Niel. Kelebihan kami juga menjadi kekurangan kami”
“Maksudmu?”
Seperti kamu tahu, kelebihan kami sebagai cucu dari orang terkaya di dunia, status sosial terlalu tinggi sehingga orang menganggap kami terlalu tinggi. Padahal itu hanya harta saja, kami orang biasa Niel! Bisa berdarah jika dilukai, bisa terluka hati kami, sama dengan orang tak berharta lainnya.” Andi mengatakan sambil mengantuk, akhirnya ia tertidur.
__ADS_1
Daniel melihat ke lantai atas, ingin rasanya mendatangi Rita dan meminta maaf padanya. Tapi ia sadar saat ini lebih penting untuk menyelamatkan Radian dari rumah itu. Ia keluar dari gudang dengan sembunyi-sembunyi, hendak menemui komandan tim SWAT di pintu depan. Tetapi ia tertahan, dugaan Rita tepat, para penyandera menaruh bom dan ranjau tepat di depan pintu masuk.
Daniel yang melihat hal tersebut, segera memperingatkan komandan SWAT melalui ponselnya
“Sepertinya tidak bisa kalau pakai mobil” ujar Daniel
“Saranmu apa?” tanya komandan
“mungkin bisa langsung menyerbu secara diam-diam”
“Ada berapa orang penyanderanya?”
“Tadi kami mengikat 2 orang digudang, 4 orang di depan, tapi tidak kami ikat mungkin mereka sudah sadar”
“Kami? Kamu bersama orang lain?”
“Iya, aku bersama para cucu Darmawan, seharusnya aku segera mengeluarkan mereka dari sini. Mungkin para penyandera lebih dari 10 orang”
“Baiklah Niel, kamu bisa mengandalkan kami!”, mereka menutup komunikasi mereka, Daniel kembali ke gudang persembunyian, ia membuat kedua orang sandera mereka pingsan dan mengikat tangan dan kaki serta menutup mulut mereka.
Kemudian ia mengistirahatkan dirinya. Beberapa saat kemudian, seseorang membangunkannya
“Hah?” ia terkejut
“Ssstt!!! Kami dari tim SWAT, kami akan mengeluarkan kalian dari sini!” bisik orang tersebut, Daniel mengangguk, ia membangunkan Andi, lalu membangunkan Rita dan Lee yang sedang tidur di lantai atas
“Ssstt...kita segera pergi dari sini!” bisiknya. Rita yang setengah sadar hanya mengangguk saja mengikuti Lee yang berjalan lebih dulu ke lantai bawah.
Beberapa menit kemudian, mereka telah berada di luar rumah, beberapa orang staf yang berhasil dikeluarkan, memeluk Lee dengan lega. Mereka berhasil keluar lebih dulu, sementara Lee menunggu Rita dan Andi digudang dan sekarang mereka kembali berkumpul dalam keadaan selamat.
“Anda tidak apa-apa mba Rita?” tanya Robert
“Iya, aku tidak apa-apa!, syukurlah kita semua selamat!” ujar Rita lega, ia berada di dalam ambulan bersama Andi, Daniel
“Oh iya Robert, apa benar ada yang mereka sandera?” tanya Rita
“Ada, mereka menyeretnya ke lantai atas!” ujar Robert
“Apa wajahnya seperti ini?” tanya Daniel, ia menunjukkan foto Radian di ponselnya
“Iya betul, tadi dia bilang ingin bertemu kalian, tiba-tiba ia dipukul dan diseret ke atas” jawab Robert
“Kalian harus menyelamatkannya!” ujar Rita khawatir
“Aku akan menyelinap ke dalam membantu mereka!” ujar Daniel, ia melihat ke arah Rita yang menantapnya dengan mata khawatir.
Daniel mengenakan pakaian hitam-hitam, ia terlihat sangat gagah. Ia menaruh pistol dan pisau di ikat pinggangnya, kemudian bersama tim swat ia kembali ke rumah itu. Terdengar suara tembakan dan teriakan dari dalam rumah.
“Wah seru Rit!” ujar Andi, tidak ada jawaban dari Rita, ketika ia menoleh, Rita sudah tidak ada di sampingnya
“Lee, Rita mana?” tanya Andi panik, Lee menggeleng, tidak ada yang memperhatikannya keluar dari ambulan.
Sementara Daniel terperangkap dalam rumah, tim swatnya satu-persatu ditaklukan oleh pasukan thomson. Daniel yang hanya membawa pisau dan pistol bersembunyi di antara ruangan, sementara para penyandera menyisir tiap ruangan di rumah itu.
Tim swat yang terluka ditarik untuk menghadap ketua mereka. Posisi Daniel terjepit, para penyandera datang dari sebelah kanan dan kiri, hampir saja ia nekad menyerang mereka, hingga seseorang menariknya masuk ke dalam lemari yang disamarkan seperti tiang.
“Sssttt!” Rita menarik Daniel masuk
“Rita!” bisiknya perasaannya campur aduk, antara senang karena selamat, tapi juga takut Rita terluka. Mereka berdiam di dalam lemari, setelah merasa aman, mereka keluar dari persembunyian
“Kamu? Bagaimana?” tanya Daniel heran, bagaimana Rita bisa masuk ke rumah itu lagi. Rita menyuruhnya mengikutinya dengan tangga kecil ke atas, mereka tiba di ruangan tempat Radian di sekap.
Radian di dudukkan di tengah ruangan dengan kaki dan mata terikat. Daniel dan Rita berada di eternit yang kokoh, mereka melihat dari celah lampu hias di tengah ruangan.
“Niel, ada lubang untuk maintenance” bisik Rita. Dengan mengesot, Daniel menuju lubang itu. Ia melihat ke bawah, ketika ia mendengar keadaan telah aman, ia pun turun.
Tanpa disadari, salah seorang sengaja ditaruh di tempat tersembunyi, sehingga ia tidak terlihat oleh Daniel. Ia hendak menusuk Daniel dari belakang. Rita langsung turun menjatuhkan diri ke orang tersebut, hingga ia pingsan, Daniel sangat kaget, Rita segera mengambil pisau ditangan orang itu. Ia segera mengikatnya. Daniel yang mulai tersadar dari keterkejutannya, membebaskan Radian.
“Pak Radian!”
“Daniel? bagaimana?” ujarnya bingung
“ssttt...mereka akan kembali!” Rita memperingatkan, mereka mengganti Radian dengan penjaga yang tadi Rita buat pingsan. Lalu dengan petunjuk jalan dari Rita mereka berhasil keluar dari kamar itu.
Suara bising datang dari langit-langit rumah, tak berapa lama pasukan khusus masuk dengan menjebol atap rumah, mereka melakukan penyergapan mendadak tanpa diketahui oleh Thomson.
Akhirnya Thomson berhasil ditaklukan, bom dan ranjau di depan pintu masuk juga telah disingkirkan.
Radian, Daniel dan Rita berhasil keluar dengan selamat melalui pintu rahasia. Mereka tidak melihat penyergapan yang terjadi di dalam.
“Rita!!!” Andi berlari menghampiri dan memeluknya lega.
“Syukurlah kalian selamat!” Darmawan juga telah tiba di sana, ia menyalami Daniel dan Radian. Juga memeluk Rita
“Kamu ini!” ujarnya kesal sambil mencubit pipi Rita
“Kakek baru datang?” tanya Rita
“Sudah sejam yang lalu, Andi bilang kamu balik lagi ke dalam!” suara Darmawan terdengar mengecam
“Lee bilang ada pintu khusus untuk karyawan, hanya karyawan lama yang tahu tentang pintu itu Kek, jadi Rita ke sana” ujar Rita.
Daniel melihatnya dari kejauhan, ia melihat sosok Rita, bukan lagi sebagai gadis kaya yang manja, tetapi gadis pemberani yang menyelamatkan dirinya.
Tak berapa lama, polisi menghampiri Robert yang ikut nimbrung bersama Lee dan pak Darmawan, ternyata orang dalam yang dimaksud Lee adalah Robert, ia mendorong Lee untuk menghalangi polisi menangkapnya.
Rita yang memegang ranselnya, berlari mengejarnya dan melemparkan ransel tersebut diantara kedua kaki Robert, hingga ia terjatuh. Akhirnya Robert berhasil tertangkap. Semua yang berada di sana terpaku melihat aksi Rita seorang diri menangkap Robert.
“Rita! Kamu ini!” Darmawan tak henti-hentinya mengusap punggung cucu perempuannya.
“Niel, kamu lihat Rita? Apa kamu yakin akan terus berhubungan dengannya?” tanya Radian
“Maksud Pak Radian?”
“Rita bukan gadis biasa, dia cucu orang terkaya, tapi dia juga pemberani mungkin kamu akan mengalami bnyak hal aneh bila bersamanya. Kalau kamu bisa menerimanya kekurangannya aku pikir hubungan kalian akan bertahan lama” ujar Radian
Daniel mengikuti langkah Radian, sementara Rita dan Andi berkumpul dengan Darmawan
“Jadi Kek, kita mengungsi dulu ya, sampai rumah diperbaiki. Seram kek, banyak darah di dalam! Lagi pula TKP semua itu!” ujar Rita
“Kita mengungsi ke apartemen dulu, kakek sudah menyewa apartemen di tengah kota, jadi dekat dengan sekolah dan kampus kalian!’ ujar Darmawan
“Bagaimana dengan Lee dan para staff lainnya?” tanya Rita
“Tempat tinggal mereka yang sekarang tidak terganggu sama sekali karena terpisah dari rumah utama. Setelah rumah selesai diproses, akan segera di renovasi” ujar Darmawan, ia menggandeng kedua cucunya memasuki mobil Velfire putih yang membawa mereka ke apartemen.
Daniel hanya melihat mobil velfire itu menjauh, ia belum menetapkan kesiapan hatinya.
__ADS_1
_Bersambung_