
“Jadi bagaimana pengalaman bekerja sama Radian?” tanya kakek pada saat berkuda di pagi hari
“Lumayan kek!” jawab Rita sambil mengndalikan kekang kudanya agar bisa berjalan mengiringi kakeknya
“Dia gak jahat kan sama kamu? Maksudnya nyuruh yang aneh-aneh ?”
“Enggak, normal-normal saja Kek, kenapa? Jangan-jangan aku disuruh kerja sama Om Radian karena beliau aneh?” tanya Rita curiga
“Bukan begitu, kakek banyak dapat keluhan dari rekan-rekan kerjanya, bahkan beberapa kali ganti asisten. Makanya kakek pengen tahu saja. Mungkin karena kamu masih baru?”
“Mungkin juga sih kek, tapi kemarin om malah menyuruh Rita belajar menyetir mobil, pesawat, dan boat. Wah seru banget kan tuh!” Rita tersenyum girang
“ hmmm...pantesss...jadi sebenarnya dia memang nyuruh kamu macam-macam, Cuma kamunya merasa itu bukan hal yang aneh!”
“Apa nyetir mobil itu aneh kek?”
“Nyetir pesawat terbang yang aneh!” jawab kakeknya
“Seru Kek, Rita kalau nonton film action itu jagoannya bisa membawa helikopter, Rita jadi kepengen. Dalam hati kapan ya ada yang bayarin buat belajar bawa helikopter, eh alhamdulillah doa Rita terkabul.”
“Terus waktu kamu bilang iya dan kelihatan senang, Om kamu mukanya gimana?”
“seharusnya mukanya gimana kek?”
“Happy face, datar, apa gitu?”
“Kayaknya happy face deh, Daniel juga happy”
“Ohh..Daniel, gimana kabarnya?”
“Baik kek, tambah ganteng lho, menurut kak Andi sih. Memang dulu Daniel pengawal kakek?”
“Daniel itu anaknya kenalan kakek di Korea. Kasihan karena usahanya bangkrut, kenalan kakek itu bercerai dengan istrinya. Nah Daniel diasuh sama istrinya. Anaknya multi talenta, pinter nari lho dia. Tapi persaingan di Korea itu gila, jadi dia beremigrasi ke NZ. Dia kerja dari nol di perusahaan kakek hingga sekarang jadi tangan kanannya Radian. Masih muda pula.”
“Jadi dia diterima kerja karena ayahnya kenalan kakek?”
“Iya, tapi dia berhasil membuktikan, walau kerja dengan jalur khusus tapi dia bekerja keras makanya posisinya tinggi.”
“dia pengawal kan?”
“Iya!”
“jadi gak masuk struktur jabatan perusahaan dong?”
“ Pengawal itu hanya sampingan saja Rita, posisi sebenarnya Asisten CEO. Dia bisa mewakili CEO kalau ada pertemuan, tapi tidak bisa memutuskan.”
“Oo begitu, Kek, pagar yang kemarin rusak seharusnya sudah diperbaiki kan?” tanya Rita, ia meihat pagar pembatas yang rusaknya semakin meluas
Kakeknya melihat hal tersebut, tiba-tiba wajahnya memerah menahan kesal. Beliau turun dari kuda, lalu mengambil ponsel dari kantung celananya. Ia menghubungi staff yang bertanggung jawab. Kurang lebih satu jam kemudian, beberapa pekerja datang, disertai truk besar yang membawa besi-besi dan pasak. Alat berat juga datang, mereka bekerja cepat. Pagar batas yang tadinya dibuat dari kayu, menjadi besi, dan pasaknya dari beton, sehingga akan sulit untuk dirusak. Rita dan kakeknya kembali ke kandang kuda, mereka tidak mengikuti perbaikan pagar. Sesampainya di lapangan kuda, Andi telah menunggu mereka di meja yang penuh dengan hidangan kue dan minuman. Yang mengejutkan, ada seseorang menemaninya. Ia adalah Greg.
Greg menghampiri kakek Darmawan dan menyalami dengan senyum, matanya agak kaget melihat Rita di samping Darmawan.
__ADS_1
“Ini cucu perempuan saya, Rita!” ujar kakek memperkenalkan Rita kepada Greg.
Greg menyalami Rita, dengan senyum agak dipaksakan. Wajahnya memucat, ia merasa tidak enak karena sebelumnya telah bersikap kasar kepada Rita.
“Greg!”
“Rita!” ia membalas salam Greg, walaupun Greg pernah bersikap kasar padanya, ia berusaha tidak mengingat hal itu.
“Kamu sudah kenal cucu lelakiku kan?” tanya Kakek kepada Greg
“Oh iya sudah, tadi saya ditemani sambil menunggu Bapak!” ujar Greg, beda sekali nada suaranya, yang sebelumnya angkuh menjadi sopan sekali.
“Ada perlu apa kemari? Oh iya ayah mu sehat? Salam ya? maaf Saya belum sempat menjenguk beliau waktu terkena stroke!”
“Sehat pak walaupun masih diterapi untuk strokenya. Jadi begini pak, saya mau minta tolong. Mungkin Bapak sudah dengar dari Radian tentang permintaan kami?”
Kakek Darmawan mengambil pipa rokok dari saku celananya, lalu duduk menyender di bangku , Rita kaget melihat kakeknya merokok
“Greg!, saya menolak permintaan perusahaanmu karena tidak ada proposal yang resmi. Aneh, perusahaan dengan bisnis sebesar kamu, tidak bisa membuat proposal yang jelas. Apa yang dibutuhkan, berapa banyak, dan kapan akan melunasi jika bantuan cair. Seharusnya kamu paham hal itu? Mungkin ada beberapa orang kenalan kamu bisa berbisnis tanpa kejelasan, tapi kalau dengan perusahaan saya? Tidak bisa! Semua harus jelas. Ikuti prosedur Greg!” ujar kakek memegang pipa rokoknya tapi tidak dinyalakan. Greg mendengarkan petuah kakek, sepertinya ia telah paham masalahnya, akan tetapi semuanya mendesak, jadi dia sangat bingung.
“Tapi Pak, bisakah proposalnya menyusul? Karena perusahaan saya sangat membutuhkan pembiayaan, kalau sampai akhir bulan ini tidak cair, maka perusahaan saya akan disita” ujarnya memelas
"Siapa yang menyita?” tanya kakek heran
“Jadi begini pak, core bisnis perusahaan kami mengimport gas dari Rusia, sebelumnya berjalan lancar, hingga pecah perang Rusia-Ukrania. Pihak Rusia hanya mau pembayarannya dalam bentuk emas. Perusahaan kami dan beberapa rekan perusahaan hanya mampu dengan dolar.”
“Ya, beli emas pakai dolar dong!” potong kakek
“Jadi maksudnya kamu mau beli emas dari perusahaan ku kan?”
“Betul pak!”
“Ya, beli saja. Setiap hari kami mencetak emas, kamu bisa beli langsung, gak usah ribet pakai proposal!” ujar kakek
“Nah, masalahnya kami belum bisa membeli dengan cash pak!”
“Maksud mu mau pinjam dulu emas aku begitu?” tanya kekak dengan nada tajam
“Iya pak, kami akan membayar lebih untuk emas yang sudah kami pinjam!”
“Inilah yang aku paling gak suka berbisnis dengan orang-orang pemalas macam kalian! Bisnisnya sudah besar, tapi dikelola secara amatir! Aku heran bagaimana ayahmu mengajarkan kamu berbisnis?”
Greg tertunduk diam
“Aku gak butuh uang lebihmu, belilah sesuai harga emas pasaran, kalau kamu mau ambil pinjaman, buatlah proposal bisnis yang betul. Saya tidak akan memberikan pinjaman kalau tidak ada proposal yang benar!” ujar kakek, ia pergi meninggalkan Greg yang terdiam. Rita dan Andi pamit kepada Greg, mereka mengikuti kakeknya.
“Kakek! Sejak kapan kakek merokok?” protes Rita
“Sudah lama kakek gak merokok Rita, ini Cuma gimick saja, supaya kelihatan wibawa”, ujar kakeknya tersenyum, ia mengantongi pipa cangklongnya.
“Oo begitu, syukurlah!” Rita merasa lega
__ADS_1
“Nah kalian harus ingat ya, apa yang kakek katakan itu bukan hanya untuk Greg tapi juga untuk kalian! Suatu hari nanti kalian akan menjalankan bisnis kakek!” ujar Kakek merangkul kedua cucunya
“Doorr!!” tiba-tiba suara pistol terdengar, Rita, Andi dan kakek menengok ke arah suara tembakan, mereka bergegas menghampiri suara tersebut.Ternyata Greg menembakan pistol ke kepalanya, ia mencoba bunuh diri. Kakek terperanjat, ia menatap Greg. Andi menelpon Ambulan. Rita berusaha menghentikan pendarahan pada kepala Greg, Ia mengangkat kepala Greg agar darahnya bisa tetap mengalir ke seluruh tubuhnya. Setengah jam kemudian ambulan datang, mereka membawa Greg ke rumah sakit. Rita tidak tahu apakah yang dilakukannya bisa membantu Greg, tapi mereka bertiga sangat shock, baru kali ini mereka melihat orang yang berusaha bunuh diri. Kakek, Andi dan Rita dimintai keterangan oleh polisi, selain itu polisi juga meminta rekaman CCTV di area tersebut.
Sore harinya Radian datang ke kediaman kakek, ia juga sangat kaget mendengar percobaan bunuh diri Greg.
“Kamu gak apa-apa Rita?” tanya Radian
“Masih shock sih Om, kakek juga dari tadi di kamar kerjanya belum keluar-keluar!” Rita menunjuk ke kamar kerja Kakeknya
“Cklek!” pintu terbuka, kakek keluar sambil membawa secangkir kopi
“Kamu baru datang Radian?”
“Iya Om, Om baik-baik saja kan?” tanya Radian cemas
“Yahh..masih shock, tapi ini masih lebih baik, dulu tahun 70-an kakek pernah jadi saksi penembakan John Lennon oleh penggemarnya. Kakek melihat John menghembuskan nafas terakhir. Melihat Greg, kakek jadi ingat lagi kejadian itu.”
“Greg selamat Om?”
“Entahlah, tadi Rita sudah berusaha menghentikan pendarahan di kepalanya. Kita doakan saja ia selamat. Kakek sungguh bersyukur, Rita dibesarkan oleh seorang dokter, jadi ia tahu pertolongan pertama.” Kakek mengelus kepala Rita dengan sayang
“Tapi Rita gak tahu kek, apa bisa selamat atau tidak!”
“Kalau menurut petugas ambulan tadi, kondisinya memang tidak baik, tapi masih ada nafas sedikit, kakek pikir Greg juga ragu melakukannya.”
“Ragu Om?” tanya Radian
“Karena kalau ia benar niat pasti mati, tapi ini agak meleset, buktinya masih bisa ditolong Rita. Atau bisa jadi dia juga takut melakukannya. Tapi Om ragu, kalau ia selamat apa akan kembali normal? Radian, sebenarnya ada apa dengan Greg? Kenapa dia jadi seperti itu?”
“Perusahaannya bangkrut Om, bantuan dari perusahaan Om merupakan taruhannya terakhir. Ia meminjam uang dari rentenir Om. Hotel Ashton sudah pindah tangan kemarin, tetapi karena terjerat bunga, ia tidak bisa melepaskan diri dari itu. Istrinya juga minta cerai, ia sudah melayangkan gugatan cerai ke pengadilan.” Cerita Radian
“Itu aneh, setahu Om, perusahaan Greg sudah berdiri lama, kenapa bisa terjerat hutang rentenir?”
“menurut Ashley, ambisi Greg terlalu besar, ia melakukan perluasan bisnis, tapi ia sendiri tidak menguasai bisnis tersebut, akhirnya tidak ada yang berjalan baik. Bahkan akibat ambisinya, justru merusak core bisnisnya. Ditambah lagi perang Rusia yang menganggu core bisnisnya.”
“Istrinya, Ashley, dulu pacar kamu kan?” tanya Kakek
“Iya kek!” Radian agak malu karena ada Rita yang mendengarkan
“Syukurlah, kamu gak jadi sama dia, walaupun cantik tapi gak setia. Masa suaminya dalam kesulitan bukannya membantu malah minta cerai! Seharusnya ia menemani dalam suka dan duka!” ujar kakek kesal
"Syukurlah kamu gak jadi sama dia!" tambah kakek lagi menyeruput kopinya
Radian hanya terdiam, pukul 8 malam ia pamit pulang.
“Rita kalau kamu belum bisa masuk besok, gak pa-pa, hubungi Daniel saja!” ujar Radian saat pulang
“Baik Om!” jawab Rita yang mengantarkan Radian sampai mobilnya
-bersambung-
__ADS_1