
“Kamu kenapa? Apa ada yang mengganggu pikiran mu?” tanya Rita menanggapi sikap dingin suaminya
“Aku hanya lelah saja, besok aku harus ke klien lagi” Daniel mengubah posisi tidurnya membelakangi Rita, itu tidak pernah ia lakukan kecuali ia sedang banyak pikiran. Rita hanya menatap punggung suaminya, kemudian kembali online dengan Erina.
“Aku sudah memesan beberapa paket coklat dan cireng. Aku juga memesan varian baru cireng, kamu bisa memasukkannya sebagai menu baru”
“Baik bu kami tunggu paketnya, oh iya bu akan ada inspeksi ke toko kita”
“Inspeksi kesehatan?”
“Menyeluruh bu, di sini salah satu bentuk pengawasan pemerintah kepada pelaku usaha”
“Kamu tidak bisa mewakili? Kaki ku belum sembuh, ditambah lagi hari Minggu ini, anak-anak ada pertandingan , dan ini merupakan pertandingan pertama mereka”
“Untuk UMKM seperti kita, pemilik dan pengelola harus hadir bu”
“Begitu ya? apa bisa kamu jadwal 2 minggu lagi? Mungkin aku bisa kesana”
“Baik bu, saya akan sampaikan kepada petugas yang berwenang”
“Terima kasih Er!” Rita menutup tabletnya, mematikan lampu tidur lalu mulai tertidur, sementara Daniel pura-pura tidur, ia memikirkan percakapannya dengan Lucas
Tadi siang, di bank.
“Halo pak Daniel!” sapa Lucas, pemilik CITE
“Apa kabar pak Lucas!” Daniel menyalaminya, tanpa sengaja mereka bertemu
“Wah, pak Daniel aku mendengar sepak terjang mu di Lexi, ckckckck...sungguh mengagumkan, kakak ku sangat beruntung mendapatkan mu!” puji Lucas
“Ah pak Lucas bisa saja, saya hanya pegawai biasa” jawab Daniel merendah, dalam hatinya ia sangat senang kerja kerasnya mendapat apresiasi dari seseorang.
“Bagaimana kabar istri mu dan anak-anak? Siapa, kalau gak salah Ranna dan Raffa?”
“Dan Rayya!” sambung Daniel
“oh sudah 3 buntut sekarang? Cepat sekali..istri ku sedang hamil anak kedua, katanya sih perempuan. Aku tidak sabar menyambut putri kecil ku” cerita Lucas bangga
“Oh ya? selamat ya? jadi akan sepasang”
“Benar sekali!..istri ku bekerja sama dengan ibu mertua mu, sepertinya istri ku sangat menyukai ibu mertua mu”
“Oh ya? hahaha...ibu mertua ku memang baik”
“Iya, sama seperti Rita istri mu!,..aku heran bagaimana pak Darmawan bisa mengasuh putri sebaik dia”
“Yah,..dengan bantuan ayahnya mungkin” jawab Daniel
“hmm...kamu tahu gak Niel, aku pernah iri lho sama kamu!”
“Sama saya? Kok bisa? Anda jauh lebih kaya, tampan juga golongan bangsawan”
“Aku iri dengan kemudaan mu!,..kalau saja aku semuda kamu, mungkin Rita sudah menjadi istri ku”
“Oh ya? bukankah urusan asmara tidak mengenal usia?”
“Aku dan Rita? Aku lebih cocok jadi ayahnya, meskipun kalau dari sisi pak Darmawan tampaknya ia tidak keberatan”
“hah? Maksud Anda?”
“Aku pernah bercerita tentang aku dan Rita di gunung, pak Darmawan menganggap ku ada hati dengan Rita, dan dugaannya tidak salah”
“Ooo..apa pak Darmawan mengatakan sesuatu pada Anda?”
“Ya, beliau bilang ia orang yang terbuka, kalau Rita suka pada ku dia gak keberatan. Tapi aku harus bersaing dengan keponakan ku dan kamu tentu saja!”
“Edward?”
“Iya, dia sangat menyukai Rita, dia bilang kalian pernah menyelamatkannya di gunung dulu?”
“Oh iya, sebenarnya Rita yang mendengar seseorang berteriak dan berinisiatif menolongnya”
“Iya, Edward juga mengatakan begitu. Ketika kalian menikah ia sangat patah hati dan meminta pada ku untuk ditugaskan di tempat yang jauh untuk melupakannya”
“Tapi sepertinya Edward baik-baik saja,..”
“Memang..akhirnya ia bisa menerimanya,..oh ya pak Daniel hari Minggu ini aku bebas, bagaimana kalau kita main golf? Aku berada di Swiss selama 2 minggu”
“Hari Minggu ini? Wah, suatu kehormatan diajak main golf oleh petinggi CITE, tetapi maaf ada pertandingan karate anak-anak ku,..aku sudah berjanji untuk menghadirinya”
“Oh ya? aku boleh datang dan menonton? Aku menjadi penggemar istri mu. Pertandingannya waktu itu benar-benar membekas di pikiran ku, sekarang pertandingan anak-anaknya. Aku tidak akan melewatkannya, bisa aku datang pak Daniel?”
“Tentu, datang saja, nanti saya kirimkan alamat dan waktu pertandingannya” ujar Daniel
“Hari Jum’at dan Sabtu ini anak ku akan datang menyusul ku di sini, sedangkan istriku yang sedang hamil tua tetap di London”
“Apa George tidak apa-apa berkeliling sendirian?”
“Tenang saja, aku memiliki orang-orang kepercayaan yang menjaga anak ku dengan nyawanya sekalipun” jawab Lucas tersenyum
“tentu saja!”
“Baiklah pak Daniel aku duluan ya? aku tunggu undangan pertandingannya!” Lucas menyalami Daniel
“Baik pak!” mereka saling bersalaman, Lucas menaiki mobil rolls royce yang mengantarnya ke hotel.
“Pak Daniel!” seseorang memanggilnya
“Iya!” Daniel menghampiri orang itu
“Saya Robin, sekretaris Direktur Utama!”
“Daniel!” mereka bersalaman
“Mari ikut saya, Anda telah ditunggu Direktur Utama” ujar Robin
“Saya harap tidak membuatnya menunggu lama” jawab Daniel, Robin tersenyum mereka menaiki sebuah lift khusus eksekutif.
“Anda mengenal pak Lucas?” tanyanya
“Ya, kami pernah punya pengalaman bersama di gunung”
“ Anda orang yang sangat beruntung bisa akrab dengannya”
“bagaimana?”
“Tadi beliau menitipkan pesan pada bos ku agar menomor satu kan bertemu dengan Anda dibandingkan tamunya yang lain” ia menunjuk ruang tunggu eksekutif di bank tersebut
“Oh ya? aku memang beruntung” jawab Daniel tersenyum walaupun hatinya agak sungkan menerima perlakuan istimewa
Daniel di bawa ke sebuah ruangan mewah di kantor tersebut, beberapa eksekutif petinggi bank sudah berkumpul di situ. Mereka menyambut Daniel dengan ramah. Pertemuan hari itu sangat lancar dan memuaskan. Daniel juga memperoleh suntikan dana dari bank itu untuk proyeknya. Tentu saja ia sangat senang tetapi di sisi lain ada sesuatu yang mengganggu hati dan pikirannya.
“Anda tidak apa-apa pak Daniel?” tanya Dickens, ia melihat wajah Daniel yang tidak seceria biasanya
“Huh? Saya baik-baik saja” jawab Daniel
“Apa pertemuannya berjalan lancar?”
“Sangat lancar, bahkan kami langsung mendapatkan persetujuan untuk memulai proyek”
“Wah hebat sekali!,..itu membuktikan bahwa Anda dipercaya” ujar Dickens
“Apa benar begitu? Apa karena saya mengenal salah satu pemilik bank?”
__ADS_1
“Bisa jadi, tapi itu keuntungan buat Anda kan? Tidak semua orang bisa mendapatkan kesempatan seperti Anda”
“Memang!, seharusnya aku lebih bersyukur ya?”
“Tentu saja, oh iya. Deidre adik saya sudah datang ke rumah Anda, sepertinya ia sangat menyukai anak-anak Anda”
“Terima kasih!” ujar Daniel tersenyum
“Deidre, bercerita pada saya selama menunggu mereka di tempat les karate. Mereka sangat perhatian pada supir dan baby sitter nya aku pikir kalian orang tua yang baik bisa mengajarkan anak kalian sopan santun yang sudah mulai hilang akhir-akhir ini”
“terima kasih, istri ku sangat tegas kepada mereka. Dia bilang mengajarkan disiplin dan perilaku itu penting selagi mereka kecil” ujar Daniel tersenyum
“Anda sungguh beruntung, anak-anak yang baik dan rupawan, juga istri yang baik”
“Terima kasih!..aku juga tidak henti-hentinya merasa bersyukur”
“benar, rasa syukur itu harus dan kita tidak boleh melupakan nikmatNya” ujar Dickens
“tentu saja, oh iya antar aku langsung ke rumah saja, urusan ku sudah selesai di kantor” Daniel membaca pesan dari asistennya
“Baik pak!” Dickens mengarahkan mobil ke rumah
Kembali ke rumahnya, malam itu Daniel merasa gelisah beberapa kali ia terbangun dan minum di pantry kecil mereka. Sesekali ia melihat istrinya yang telah lelap tertidur. Ia melihat jam di dinding masih pukul 11 malam. Diam-diam ia keluar kamarnya, kemudian ke ruang kerja. Ia membuat sketsa perhiasan di buku gambarnya. Ia selalu melakukannya jika pikirannya sedang galau, setelah sketsa selesai ia merapikan gambarnya lalu memindainya kemudian mengirimkannya ke Franc,co. Kali ini ia membuat 6 desain, beserta bahan untuk membuat perhiasan tersebut. Tanpa terasa ia ketiduran di ruang kerjanya. Rita tak sengaja terbangun karena ingin buang air kecil, ia kaget suaminya tidak berada di ranjangnya. Setelah dari toilet, ia mencari suaminya, dilihatnya ruang kerja suaminya masih menyala lampu, waktu menunjukkan pukul 1 malam.
“Sayang, pindah tidurnya, nanti badan mu sakit tidur di sini” Rita membangunkan suaminya dengan lembut
“hah? Hoaamm...sudah subuh?”
“Belum, masih jam 1” Rita merangkul suaminya kemudian membawanya ke ranjang mereka.
“Hhh...Rita...Rita ku sayang”Daniel seperti mengigau, dia memeluk Rita erat hingga ia sulit bernafas
“Sayang,..aku..susah” terpaksa Rita mendorong suaminya ke pinggir ranjang , hingga ia jatuh di ranjang mereka, tetapi masih dengan mata tertutup.
“hhh...kamu berat sekali”gumam Rita dengan susah payah ia mendorong suaminya ke atas ranjang agar dapat tidur dengan benar.
“Rita...aku takut sekali...” Daniel mengigau
“Takut apa sayang?” tanya Rita
“Aku takut,...semua yang aku miliki sekarang hilang...kamu..anak-anak..pekerjaan.....semuanya..” igaunya .
Akhirnya Rita paham dengan sikap dingin dan pendiam suaminya sejak tadi sore, ia merasa lega karena bukan seperti perkiraannya.
“Sudah ya sayang, gak usah banyak berfikir,..sekarang istirahat saja” bisik Rita, kemudian ia memeluk suaminya lembut dan mencium keningnya. Ia memasang alarm untuk sholat malam dan subuh, kemudian kembali tertidur.
Pagi harinya, Rita tidak kembali tidur setelah sholat subuh, ia ke dapur untuk membuat makanan kesukaan suaminya, setelah selesai ia membungkusnya dengan rapi sebagai bekal makan siang.
“Pagiii!!” Daniel menyapa anak dan istrinya yang telah mulai lebih dulu sarapan
“Pagi sayang!” Rita mencium pipi suaminya
“Kalian masih latihan hari ini?” tanya Daniel pada kedua anaknya
“Ya,..papo!” jawab Ranna,
“Kalian berlatihnya yang benar ya? papi sih tidak berharap kalian menang tapi kalian harus berusaha sampai akhir.Oke!”
“Oke papoi!!” jawab Ranna, Raffa hanya mengangguk, ia sibuk dengan pancakenya
“Oh ya, Mi, hari Minggu nanti pak Lucas akan datang ke pertandingan anak-anak”
“Hah? George Lucas? Bos CITE?” tanya Rita kaget
“betul, ia membawa anak sulungnya untuk melihat anak-anak bertanding”
“Iseng banget dia sengaja ke Swiss untuk menonton pertandingan anak-anak?”
“Bukan begitu, dia kan juga pemilik bank Swiss tempat kemarin aku mengajukan kredit untuk proyek ku, eh ketemu beliau”
“Angkuh? Justru ia sangat ramah. Ia menanyakan kabar mu dan kabar anak-anak. Bukan kah dulu kita dijamu baik di rumahnya ketika di London?”
“Oh iya, ..aku lupa..kadang aku suka bingung bagaimana bersikap padanya”
“Maksud mu?”
“Kadang, dia menunjukkan sikap yang ‘terlalu excited’..aku suka risih. Usia beliau hampir seusia dengan ayah, tetapi kadang ia bersikap seperti remaja..aku bingung. Syukurlah kamu selalu ada di samping ku jadi aku gak perlu menghadapinya sendiri”
“oooo...” Daniel baru mengetahui pikiran istrinya, sejak kemarin ia terbakar cemburu karena perkataan Lucas tentang Rita
“Bagaimana dengan Edward, kamu ingat kan? Keponakannya?”
“Tentu saja, ia baik dan ramah. Kak Andi cocok dengannya. Ia bilang selain kak Dewa Edward teman yang enak untuk diajak diskusi”
“Itu perasaan Andi, kalau kamu?”
“Aku? Jujur ya..hihihihi...” tiba-tiba Rita tertawa
“Kenapa? Ada yang lucu?”
“Aksen britishnya, aku gak ngerti dia ngomong apa. kadang aku mengiya kan saja, padahal aku gak menangkap maksud ucapannya. Aku setuju kalau kita butuh penerjemah untuk orang yang berbicara dengan aksen british kental” ujar Rita geli. Daniel tersenyum, ia merasa heran pada dirinya sendiri bagaimana ia bisa meragukan istrinya sendiri.
“Tapi kamu dengar gak yang paling konyol?” ujar Rita tiba-tiba
“apa?”
“aku mendengar, Edward- Mario dan Kiano sering berkumpul bersama. Mereka menjadi akrab setelah pernikahan kita” ujar Rita
“Kamu tahu dari mana?” tanya Daniel heran
“kak Andi, ia melihat medsosnya Edward yang berfoto bersama Mario dan Kiano,..captionnya: bersama kita move on!..move on dari apa ya? apa mereka hendak mendemo sesuatu?” gumam Rita heran, Daniel memperhatikan wajah istrinya yang kebingungan.
“Jadi, apa Lucas boleh ikut nonton?” tanya Daniel
“Aku akan tanyakan ke senseinya anak-anak..apa boleh orang luar menonton,..seharusnya sih gak masalah toh ini promosi yang bagus untuk dojo nya”
“hmm...sensei anak-anak ini..”
“Sensei Akila...” ujar Raffa
“Akila? Usianya berapa?” tanya Daniel
“Berapa ya?...aku gak begitu memperhatikan,..suster menurut mu..sensei Akira itu muda apa tua?” tanya Rita
“Sensei Akira masih 35-an bu,..banyak mama yang mengaguminya. Mereka bilang sensei itu seperti samurai –X dunia nyata” ujar suster Erni dengan mata berbinar
“Samurai –x? Aku gak mengikuti filmnya” gumam Rita
“Mami...optimus plime?” tanya Raffa
“Apaan bang?” tanya Daniel
“Oh itu, Raffa mendapat kado berupa robot transformer, Optimus Prime, dia belum tahu transformer. Aku bilang mau menunjukkannya tapi lupa. Nanti ya bang!”
“Ya mami!”
“Aku sudah selesai,” Daniel pergi ke ruang sebelah untuk menggosok gigi dan mencuci mukanya
“Aku berangkat ya?” pamitnya sambil mengusap kepala ketiga anaknya
“Ah iya, aku membuat bekal untuk makan siang mu!” ujar Rita sambil memberikan kotak makan
“Terima kasih!” Daniel mencium pipi istrinya lalu keluar dari rumah, Dickens telah menunggunya di mobil.
__ADS_1
“Kalian sudah selesai makan kan?..segera siap-siap les,..ibu Deidre akan datang satu jam lagi, kalian jangan membuatnya menunggu” ujar Rita, ia hendak menggendong Rayya, tapi tiba-tiba ia merasa mual ia berlari ke kamar mandi dan memuntahkan apa yang baru saja ia makan. Suster Eva membawa Rayya ke lantai 2 untuk mandi. Setelah selesai, suster Eva memberikan Rayya ke Rita
“suster,..sepertinya aku gak sehat hari ini, bisa pegang Rayya dulu..aku tiba-tiba gak suka bau bedak bayi”
“Iya bu” Eva membawa Rayya kembali ke lantai 2 untuk bermain, anak-anak telah selesai berpakaian, mereka menunggu Deidre di ruang tamu
“Mami gak apa-apa?” tanya Ranna prihatin melihat maminya muntah-muntah sejak tadi
“Gak apa-apa kak!..hueekkk!!” ia mencium parfum bayi dari pakaian Ranna dan Raffa
“Mamiii!!!” Raffa menangis, ia sedih melihat maminya sakit
“Mami gak apa-apa bang,..huekk!” Rita berlari lagi ke kamar mandi.
“Mami ! kami berangkat!!!” teriak Ranna dan Raffa
“Iyaaa...hati-hati!!” jawab Rita dari dalam rumah,..badannya benar-benar tidak karuan.
“Beatrice, aku akan ke klinik pagi ini, titip Rayya ya? dia ada di atas bersama suster”
“Baik bu Rita, Semoga Anda tidak apa-apa”
Rita pergi ke klinik, ia melakukan test darah dan urine,
“Selamat ya bu, Anda hamil”
“hah? Apa mungkin dokter? Suami saya KB dan saya juga”
“Itu sangat mungkin bu, seperti yang Anda ketahui KB itu hanya 98% efektif selebihnya keajaiban Tuhan” ujar dokter
“Anda yakin dokter? Rasanya bulan ini saya sudah mens deh”
“Agar lebih yakin lagi, saya sarankan Anda cek ke dokter kandungan untuk tahu kepastiannya” ujar dokter
“Begitu ya dokter? Bagaimana dengan rasa mual dan hidung saya yang sensitif ini dokter?”
“Saya akan memberikan obat pengurang mual dan vitamin ya bu, sebaiknya Anda segera cek ke dokter kandungan” ujar dokter di klinik
“Baik dokter, terima kasih”
Dari klinik, sambil menggunakan tongkat ia naik taksi untuk cek ke dokter kandungan di rumah sakit. Daniel menelponnya
“Sayang, kamu di mana? Tadi Beatrice bilang kamu muntah-muntah?” tanya Daniel di kantornya
“Aku lagi dalam perjalanan ke rumah sakit”
“Hah? Rumah sakit mana? Apa gawat?”
“hmm...sebenarnya tadi dokter klinik bilang aku hamil”
“benar kah?..berapa bulan?” wajah Daniel tampak gembira
“Entahlah, itu sebabnya aku diminta cek di dokter kandungan”
“Wahh....Rayya akan jadi kakak..rumah sakit mana?”
“Omega,..ini sudah sampai, nanti aku hubungi lagi ya?” Rita turun dari taksi, masih dengan kaki yang masih nyeri dia cek ke dokter kandungan dan dokter penyakit dalam untuk mengecek luka di kakinya.
Ia mendapatkan perawatan di kakinya, kemudian ia melakukan USG.
“Kandungan anda berusia 10 minggu dan berkembang dengan baik”
“haiii!!” Rita terharu melihat gambar cabang bayinya di layar 4 dimensi.
“Ibu harus banyak istirahat ya, terutama karena luka di kaki ibu, sepertinya masih infeksi. Kami sudah menyuntikkan antibiotik tapi jangan khawatir antibiotik ini tidak mempengaruhi janin” ujar dokter menerangkan.
“Terima kasih dokter” alangkah terkejutnya Rita ketika ia memasuki ruang tunggu, Daniel sudah menunggunya di situ
“Rita!” panggilnya sambil menghampiri
“Hei!! Kamu sengaja datang?” tanya Rita heran
“Tentu saja! Istri ku sakit masa aku membiarkan!” Ia menuntun Rita dengan sabar dan membawanya ke mobil.
“Kamu sengaja keluar kantor?” tanya Rita khawatir
“Kenapa? Aku senior CEO! Siapa yang berani melarang ku keluar kantor?” ujar Daniel tersenyum
“ohh...” Rita duduk di kursi mobil yang nyaman
“Jadi kata dokter apa?”
“Aku hamil!”
“Iya, terus? Berapa bulan?”
“10 Minggu”
“Sepuluh minggu,..berarti 2 bulan lebih ya? kok bisa? Perasaan kamu masih mens kan 2 bulan itu?”
“aku lupa,..karena kita sibuk pindahan jadi gak ingat siklus haid, bukannya kamu sering mencatatnya?”
“Seingat ku kita gak pernah libur deh, kecuali kita sangat capek” ujar Daniel melihat ponselnya
“Nah..itu dia! Jadi kira-kira jadinya di mana ya?”
“Kayaknya di Sukabumi deh, ingat gak sebelum aku disuntik?”
“iya juga ya?...berarti Rayya benar-benar jadi kakak” ujar Rita tersenyum
“kamu merasa mual atau ngidam?” tanya Daniel
“Oh..aku gak suka bau bedak bayi,..kasihan Rayya sejak tadi aku menjauhkannya” keluh Rita
“Tapi kamu gak mual mencium bau parfum ku kan?” Rita menarik baju suaminya
“Enggak!”
“ah...syukurlah!!” Daniel tampak lega
“Kamu senang sekali ya?”
“Iya,...hahaha...entah kenapa akhir-akhir ini aku sering bermimpi menggendong bayi mungil. Rayya sudah bisa jalan, dia bukan bayi lagi”
“Masih bayi sayang, hanya bukan new born”
“Memang!,..kira-kira bagaimana kakak dan abang ya?” ujar Daniel
Tanpa terasa mereka sampai di rumah, anak-anak sudah kembali dari tempat lesnya. Mereka menghambur keluar menyambut maminya
“Mamiii!!!” keduanya menyambut Rita, mereka sangat khawatir mendengar maminya ke rumah sakit
“Kakak-Abang,...kalian sudah selesai ya lesnya?” ujar Rita
“Sudah Mi, oh iya sensei bilang..boleh nonton” ujar Ranna
“Hah?”
“Sensei bilang, orang lual boleh nonton. Datang saja” ujar Raffa memperjelas.
Daniel menuntun istrinya, ia menyandarkannya di sofa.
“Kamu duduk di sini, jangan bergerak!, biarkan orang yang melakukan untuk mu!” Daniel ke dapur dan berbicara dengan Beatrice.
__ADS_1
“Ah...selamat pak Daniel!!” ujar Beatrice dari suaranya ia tampak gembira.
_Bersambung_