Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)

Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)
Chapter 296: Mencari Radian


__ADS_3

Alex memberikan amplop berwarna coklat pada Daniel


“heeee” Rayya mengambil amplop itu lebih dulu


“Hei! Jangan Dek! Itu kerjaan papi!” dengan lembut Daniel mengambil amplop itu dari tangan Rayya. Alex tersenyum, tak berapa lama Ranna dan Raffa menghampiri papinya


“Papiii!!!”


“ya? kenapa gak lanjut mainnya?” tanya Daniel


“Kakak push a kid!” lapor Raffa, Daniel melotot pada Ranna


“Kenapa kak?” Ranna mendekati dan bersembunyi dibalik tubuh Alex takut dimarahi


“jalannya dia lama, jadi kakak push supaya cepat” elaknya


“Lalu anak itu nangis gak?” tanya Daniel


“We don’t know. We left” jawab Raffa santai


“Kayaknya aku gak bisa buka amplop ini di sini deh, terlalu repot!” Daniel memasukkan amplop itu ke dalam tasnya


“Kalian duduk yang tenang lalu makan ya? papi sudah pesankan! Abang, kakak cuci tangan dulu!” perintah Daniel


“Yess papi!!” kedua anak itu berlari bergandengan, Alex tersenyum melihat keduanya


“Sehari-hari kamu pasti repot!”


“Gak juga! Biasanya ada baby sitter tapi hari ini mereka sudah kembali lebih dulu ke Jakarta, oh iya berapa biaya ini semua?”


“Tidak usah!” jawan Alex sambil menyantap makanannya


“Tidak usah? Beneran?” Daniel kembali menyuapi Rayya


“Sebagai gantinya aku mau minta tolong untuk dicarikan pekerjaan. Terserah Di Lexi boleh, di Dar.co , di CITE juga boleh”


“Hah? Memangnya kamu mau resign dari Interpol?”


“Aku ingin menjadi agen lepas saja, seperti kamu!”


“Yakin? Uangnya sedikit lho!”


“Ya gak apa-apa tapi kan aman, makanya aku minta dicarikan pekerjaan, aku sudah mengirimkan CV ku lewat email”


“Sesuai dengan kualifikasi mu atau bagian keamanan?”


“Terserah, posisi yang gajinya lumayan, gini-gini aku sudah sarjana strata 1 lho!”


“Baiklah, nanti aku hubungi jika ada posisi yang tepat untuk mu, btw kenapa tiba-tiba kamu mau jadi tenaga lepas?”


“Hmm...aku akan menikah!”


“Wahhh!!! Selamat ya!!! akhirnya...Alex si Playboy akan melepas masa lajangnya” Daniel menyalaminya


“Yeah! Pacar ku hamil, aku harus segera menikahinya sebelum perutnya membesar” jawab Alex terus terang


“Oh, pacar mu itu dari mana?”


“Kamu ingat Szaza? Empat tahun lalu? Kasus Majorka?”


“Ya? kenapa dengan Szaza?”


“Dia sudah meninggal, dan dia menitipkan anaknya yang berusia 19 tahun pada ku”


“kalau gak salah Ameere?”


“Bukan! Ameera!”


“iya Ameera! "


"Aku akan menikahinya!”


“Oh ya? tapi waktu itu Szaza menghilang?”


“Sebenarnya dia berhasil selamat. Ia direkrut menjadi agen lapangan dan tertembak setahun yang lalu. Sejak itu aku menjadi dekat dengan Ameera”


“Di mana kalian akan menikah?”


“Di gereja di desa neneknya, setelah menikah aku akan membawanya ke kota.”


“Mamanya? Dimana mamanya?”


“Mamanya dirawat di rumah sakit jiwa setempat, itu karena perbuatan Bruno yang memperkosanya. Ia mengalami trauma. Szaza baru mengetahui keadaan mantan istri dari ibu mertuanya, mereka menyembunyikannya selama ini. Szaza yang membunuh kedua sepupunya itu!” Alex menceritakan seolah tidak ada beban.


“Aku turut prihatin!”


“Tapi Niel! Aku penasaran setelah kamu tidak lagi aktif di interpol apa keahlian mu masih ada?”


“Mungkin! Entahlah! Tapi kamu tahu gak mengasuh kedua batita itu juga butuh skill, sebentar ya, aku harus mencari kedua anak itu! Aku titip Rayya!” Daniel bangkit, lalu pergi ke bagian cuci tangan. Ia tidak menemukan kedua anaknya, lalu ia ke bagian permainan, sejenak ia merasa was-was karena tempat bermain begitu banyak anak-anak dan ia agak sulit mencari anaknya.


“Kakak! Abang!!” panggilnya


“Ya piii!!!” jawab Ranna, ia sedang bergelayutan di mainan yang berbentuk pohon


“Mana Raffa?” tanya Daniel


“I’m here pi!!” Raffa di bergelantungan di tempat lebih tinggi lagi


“Ayo turun! Makan dulu baru pulang!”


“Ya piii!!!” keduanya langsung melompat ke jaring pengaman


“Ehhhh!!!” Daniel sempat panik dengan tingkah kedua batitanya


“Hahaha...” keduanya tertawa kegirangan, sementara Daniel terlihat sangat khawatir wajahnya. Ia langsung menggendong kedua anaknya dan mengajaknya cuci tangan, lalu mendudukkannya di kursi bayi


“No! We no baby!” tolak Raffa


“Abang! Duduk yang betul!” perintah Daniel, suara berat dan tegasnya membuat Raffa dan Ranna menurut. Alex terbiasa dengan Rayya, ia kini menyuapinya.


“Anak-anak ini seperti mamanya senang memanjat!”Daniel mengusap keringat dingin di dahinya


“Berapa usia mereka ini?” tanya Alex


“Ah iya! Aku lupa memperkenalkan kalian! Uncle Alex ini Ranna 2,5 tahun dan ini Raffa 2 tahun sedangkan yang kecil itu Rayya 8 bulan! Say hai to uncle!!”


“Hay!!!” keduanya menyapa sambil menyantap makanannya, Alex tersenyum.


“Apa kamu jadi lembut karena sering mengasuh anak-anak ini?” tanya Alex menyelidik


“Jangan salah lho! Tidak selalu lembut, tegas juga harus. Konsisten itu paling sulit! Maminya selalu mengkritik ku karena tidak konsisten menerapkan aturan pada anak-anak ini, kadang melihat wajah polos mereka membuatku lemah!”


“Apa kalian merencanakan punya anak dengan jarak usia begitu dekat?”


“Hahaha...tidak...kami masih muda, apalagi istriku yang ketika menikah masih belasan tahun”


“Oh ya? berapa usianya ketika kalian menikah?”


“Tujuh belas tahun!”


“Tujuh belas tahun? Wow! Aku pikir usia Ameera yang 19 tahun itu sudah terlalu muda tapi justru kamu lebih muda lagi”


“Ya begitulah, aku harus bergerak cepat, kalau tidak istriku akan diambil lelaki lain!”


“Persis Daniel yang aku kenal! Ambisius dan tahu pasti keinginannya!”


“Jadi, sebenarnya isi amplop ini apa?”


“Kalau gulungan itu tidak ada isinya, aku sudah mengecek apakah ada tinta rahasia atau tulisan rahasia di dalamnya tetap kosong. Aku minta tolong dengan teman ku di laboratorium agar gulungan itu segera diproses, kebetulan teman ku itu berhutang banyak dengan ku”


“Begitu? Lalu kenapa amplop ini begitu berat? Apa isinya?”


“Oh itu, aku memproses foto orang yang kamu kirimkan ke ponsel ku, disitu terdapat informasi tentang orang itu”


“Orang itu? Siapa? Apa kamu mendapatkan gambar yang jelas?”


“Tentu saja! Interpol memiliki lab multimedia super canggih yang bisa menyempurnakan gambar hingga pixel terapat. Dan orang itu adalah...Radian!”


“hah? Uhuk...uhukk..” Daniel terbatuk-batuk


“Radian? Apa kamu gak salah identifikasi?”


“Enggak!, aku dua kali mengeceknya. Ternyata selama ini ia menjadi informan industri dan menyembunyikan diri dari mafia industri. Hidupnya terancam, dia juga ternyata agen lepas CIA”


“hah? Beneran? Kok kamu bisa tahu info semacam itu? Biasanya status orang yang dalam pelarian itu classified alias sangat rahasia!”


“Aku kan sudah bilang, koneksi ku bertebaran di mana-mana! Beberapa tahun lalu aku pernah menyelamatkan seorang hacker komputer dari pembunuhan. Nah, aku memintanya untuk menghack informasi rahasia dari CIA, dan dia bisa melakukannya hanya dalam waktu 15 menit tanpa ketahuan! Sungguh-sungguh orang yang berbahaya” ujar Alex


“Begitu ya? padahal aku pikir pak Radian sudah tewas”


“Aku juga heran, seorang agen terlatih seperti mu kenapa bisa ceroboh mengenali orang? Jangan-jangan?”


“Kenapa?”

__ADS_1


“Aku ingat! Ketika pelatihan pengenalan mayat dulu kamu sering absen! Wahh!! Kamu itu!”


“Aku gak tahan melihat mayat yang berdarah!” jawab Daniel


“What’s mayat papi?” tanya Raffa


“Dead body!” jawab Alex


“Dead? Like long sleep?” tanya Raffa


“Yes!!” Alex mengusap kepala Raffa


“Papi, aku sudah selesai! Boleh main lagi?” tanya Ranna


“Enggak! kakak diam di sini, nih nonton ini saja!” Daniel memberikan tablet yang sengaja ia bawa”


“Hahaha...kamu itu seperti orang tua pada umumnya, supaya gampang kamu kasih gadget!” Alex tertawa renyah


“Kamu belum melihat aksi kedua anak ini tadi, jadi lebih baik duduk di sini saja menonton!” jawab Daniel


Akhirnya pertemuan mereka selesai,


“Nanti aku hubungi Alex, terima kasih banyak!” Daniel menyalami Alex


“Anak-anak, salam sama uncle!” perintah Daniel


“Thank you uncle!” ujar Ranna dan Raffa bersamaan, Alex tersenyum dan mengusap kepala keduanya. Merekapun berpisah, Daniel dan anak-anak kembali ke apartemen


“Hai! Kalian sudah kembali?” Rita telah berada di apartemen ia menyambut kedua anaknya


“Mamiii, we met uncle Alex!” ujar Raffa sambil membuka sepatunya dan menaruhnya di rak sepatu


“Alex? Siapa Alex? Kak Ranna! Sepatunya!” Rita memperingatkan Ranna yang membiarkan sepatunya berserakan. Dengan malas Ranna meletakkan sepatunya di rak.


“Kalian cuci tangan dan muka dulu! Mami bikin kue enak deh”


Kedua anak itu berlari ke dapur untuk mencuci tangan, Daniel memberikan Rayya kepada Rita


“Waduh, adek...berat banget..wah popoknya penuh nih!” Rita segera membawa anak bungsunya ke kamar anak untuk dimandikan. Daniel mengambil amplop coklat tadi lalu membukanya perlahan


“Papi! Mau kue?” tanya Ranna, ia mengambil kue dengan tangannya dan menyuapi ke mulut Daniel


“aaaa...terima kasih kakak! Lain kali pakai piring ya? itu seperti Abang!”


Raffa duduk rapi dengan membawa kue di atas piring kecil dan memakannya dengan sendok plastik. Ranna kembali ke dapur dan mengambil piring kecil, lalu memotong kue itu dengan tangannya lalu membawanya ke depan TV.


Daniel membuka amplop dan memperhatikan gambar di dalamnya satu per satu


“That’s Adian!” ujar Raffa tiba-tiba menunjuk foto orang misterius dengan wajah tertutup kain hitam


“eh? Ini bang?”


“yes!”


“Abang tahu sekarang Adian di mana?” tanya Daniel, Raffa menggeleng


“Adian sapa Pi?” tanya Ranna, wajahnya kini penuh dengan mentega. Ia menjilati dengan nikmat.


Rita telah selesai memandikan dan mengganti baju Rayya


“Aduhhh Kakak! Jadi cemong begitu, habis ini mandi ya? abang juga!”


“Ya mi!” jawab keduanya


“Enak gak kuenya?”


“Yummy!!!” jawab Raffa


“Enaakkk!!!...kakak suka klimnya!” ujar Ranna


“oh krimnya..hehehe...” Rita tersenyum senang, jerih payahnya membuat kue sejam terakhir tidak sia-sia, ia memperhatikan suaminya yang begitu serius membaca kertas di amplop


“Sudah kak? Bang? Yuk mandi! Taruh dulu di tempat cuci piring, gak usah dicuci biar mami saja yang cuci!”


Kedua anak menurut dan melakukan seperti yang disuruh.


Hari mulai malam, anak-anak kelelahan sehingga tidur lebih awal.


“Kalian habis ngapain sih, kelihatannya anak-anak lelah sekali?” Rita tiduran sambil memeluk tubuh suaminya


“Mereka memanjat pohon-pohonan! Lumayan tinggi lalu menjatuhkan diri ke jaring pengaman” Jawab Daniel, pikirannya melayang memikirkan Radian


“Hmm..apa ada sesuatu di foto itu?”


“Hah? Oh iya, itu foto Om Radian!”


“Benar! Alex sudah memastikannya” jawab Daniel


“Alex?”


“Kamu ingat gak teman interpol ku yang ikut menyelamatkan mu di Rusia dulu?”, Rita mengigat-ingat


“Oh iya, Alex ya, dia bertugas di Singapura?”


“Iya!, dia akan segera menikah tapi di Rusia!” Daniel menceritakannya dengan suara datar


“Begitu..” Rita turun dari ranjangnya


“Kamu mau ngapain?”


“Ke toilet!”


Daniel masih memikirkan tentang Radian. Dari toilet Rita berganti pakaian dengan piyama


“Jadi Om Radian masih hidup?” ujar Rita, ia kembali merebahkan diri di samping suaminya


“Iya, ternyata beliau itu informan CIA”


“Hah? Kok bisa? Beliau kan bukan orang US”


“Jadi agen CIA gak perlu orang US, kamu kalau punya sesuatu yang CIA butuhkan juga bisa direkrut jadi agen” jawab Daniel


“Apa itu sebabnya beliau berpura-pura meninggal?”


“Menurut info dari Alex, mafia industri sekarang ini sangat berbahaya apalagi ditengah persaingan bisnis dunia yang berkembang pasca pandemic”


“Bahaya? misalnya?”


“Ya, mereka memiliki jaringan yang luas, orang-orang yang bisa membuat perekonomian dunia anjlok. Informan seperti pak Radian biasanya disusupkan, sepertinya posisinya sebagai informan diketahui organisasi mereka sehingga mereka mengincar nyawanya”


“Apa itu sebabnya Raffa bilang Radian minta tolong?”, Daniel mengangguk


“Kamu tahu apa yang bikin aku takut?”


“Kamu takut?”


“Tentu!, aku takut tidak bisa membantu pak Radian, aku takut karena membantunya aku bisa melukai keluarga ku.” Ujar Daniel lesu, ia mengecup kepala istrinya


“Bagaimana kalau kita minta tolong kakek Sugi saja!” usul Rita


“Kakek Sugi? Wah..kalau ternyata ia bagian dari mafia itu bagaimana?” ujar Daniel, Rita melotot


“Maaf...bukan maksud ku...tetapi..” Daniel menghentikan ucapannya karena wajah Rita yang terlihat tidak suka dengan ucapannya


“Maksud ku begini, Om Radian dalam bahaya dan dia meminta pertolongan kita. Seharusnya beliau sudah tahu dong siapa saja yang terlibat dalam mafia itu. Nah kita bisa tanyakan pada beliau, kalau ternyata kakek Sugi tidak terlibat, kita bisa minta tolong padanya!” usul Rita


“Tapi bagaimana kita bisa menemukan pak Radian? Selama ini dia yang menghubungi kita?”


“hmm....bagaimana kalau kita gunakan kekuatan Raffa saja!”


“Raffa? Bagaimana? Memangnya kamu bisa?”


“Gak tahu kalau gak dicoba!” Rita bangkit dari ranjangnya lalu pergi ke kamar Raffa, dan menggendongnya.


“eh..nanti kalau dia bangun gimana?” bisik Daniel


“Ssstttt!!!...justru ketika ia tidak sadar kita bisa menanyakan alam bawah sadarnya” bisik Rita, ia meletakkan Raffa di ranjang mereka.


“Raffa...Adian dimana?” bisik Rita ke telinga Raffa


“hhhh.....” Raffa mengulet


“Gak berhasil!” bisik Daniel


“Belum!!!” jawab Rita lagi


“Abang...Adian minta tolong” bisik Rita lagi


“hhhh....hhh” tidak ada jawaban dari Raffa, ia justru mendengkur


“ gak berhasil yang!” bisik Rita


“Coba aku!” Daniel mendekati Raffa dan berbisik

__ADS_1


“Abang, tolongin papi, cari Adian ada di mana?” bisik Daniel, kali ini Raffa diam saja, matanya tertutup tetapi terlihat bola mata di dalamnya bergerak-gerak, lalu ia bergumam


“O house!” ujarnya kembali tertidur


“Rumah O? Masa Om di Sukabumi? “ bisik Rita heran


“Sudahlah!” Daniel kembali menggendong Raffa dan mengembalikan ke ranjangnya


“Gak mungkin Sukabumi, kamu bilang gulungan ini dilemparkan kemarin kan?” tanya Daniel


“Iya! Hmm..rumah O? Apa yang dimaksud apartemen O? Berarti di lantai bawah?”


“Besok aku tanya sama security tentang apartemen lantai bawah”


“Juga ini Yang, apartemen O yang disediakan Dar.Co selama setahun terakhir”


“Kalau begitu kita undur kepulangan kita ke Jakarta” ujar Daniel


Keesokkan paginya, Daniel menemui security dan menanyakan penghuni apartemen lantai bawah yang sebelumnya di tempati Mario.


“Oh sudah terisi oleh suami istri pak, wah kebetulan sekali itu mereka!” jawab security. Daniel memperhatikan kedua pasangan itu


“Apa bapak mau saya kenalkan ke mereka?” tanya security


“Gak usah! Terima kasih!” Lalu Daniel menelpon Eddy, mantan anak buahnya di Dar.co


“Halo!”


“Ya? pak Daniel? apa kabar?” suara Eddy terdengar gembira


“Baik Eddy, kamu bagaimana?”


“Kami di sini sedang penyesuaian pak Daniel. Oh iya pak Daniel sedang di Singapura?”


“Iya”


“Kalau begitu mampir pak!”


“Baiklah! Oh iya Ed, aku bisa minta tolong?”


“Ya Pak?”


“Bisa cari tahu apartemennya Mario setahun terakhir?”


“Pak Mario?”


“Ah iya! Pak Mario!” Daniel tersenyum, ia ingat posisi terakhir Mario di Dar.co


“Sebentar pak! Maaf nanti saya kirimkan alamatnya!”


“Terima kasih Ed!”


Daniel naik taksi pergi ke kantornya yang lama yang telah berganti nama menjadi CITE.


“Saya ingin bertemu pak Eddison!” pinta Daniel kepada Security


“Pak Daniel! apa kabar pak!” sapa security


“Baik!” Daniel terkejut security itu mengingat dirinya


“Bapak heran ya kenapa saya bisa mengingat bapak?”


“Ya?”


“Dulu, setiap pagi para karyawati berjejer di lantai ini hanya untuk melihat pak Daniel datang” ujar security itu tersenyum


“Masa iya? Kok saya gak tahu ya? saya pikir lantai ini selalu ramai”


“Tidak pak! Hanya saat jam masuk kantor, jam setengah 9 pagi, setelah pak Daniel lewat lantai ini kembali sepi”


“Oh begitu!”


“Pak Daniel!” panggil Eddy menghampiri


“Hai Ed!, saya ke sana dulu! Terima kasih!” Daniel menyalami security tersebut


“Apa kabar pak Daniel, wah masih tampan seperti dulu!” Eddy terlihat sangat senang bertemu mantan atasannya


“Ah kamu bisa saja! Eh ini roti dari istriku” Daniel memberikan sekotak roti D’Ritz untuk Eddy


“Untuk saya pak?”


“Iya!, dia bilang salam untuk anak mu! Dia masih ingat undangan anak mu ke sekolahnya”


“Hahaha...iya pak..oh iya sekarang Ranna sudah punya adik lagi?”


“Iya, namanya Rayya usianya 8 bulan”


“Jadi Ranna, Raffa dan Rayya”


“Betul sekali!”


“Hahahaha...” keduanya tertawa


“Jadi bagaimana sekarang di sini?”


“Hmm...kalau dari sisi manajerial lebih baik pak dari pada Dar.co sebelumnya karena orang-orang CITE baru dan kaku semuanya. Saya pikir ada baiknya, kalau dulu Dar.co keropos dari dalam, mungkin di CITE ini enggak seperti begitu”


“Oh begitu ya?”


“Eh ini pak alamat apartemennya pak Mario selama setahun terakhir tetapi menurut asistennya beliau lebih sering menempati apartemen yang lebih sederhana di pinggiran kota. Asistennya sering diminta untuk mengirimkan bahan makanan ke sana”


“Oh ya? kamu juga mencatat alamatnya?”


“Tentu saja pak! Oh iya sebaiknya pergi ke apartemen di pinggiran kota ini sebelum siang, karena menjelang siang bau daerah itu memuakkan”


“hah? Memangnya tempat apa itu?”


“Di belakang tempat itu ada pembuangan sampah terpadu biasanya siang hari semua sampah dari kota ini berkumpul di dekat tempat itu”


“Oh begitu, baiklah. Eddy terima kasih banyak atas bantuannya!”


“Sama-sama pak Daniel, terimakasih rotinya!”


“Iya!”


Daniel keluar dari kantor CITE dan memanggil taksi untuk pergi ke apartemen Mario, letaknya 1 jam dari kantor. Daniel memasuki gedung apartemen dan menanyakan pada security tentang apartemen Mario.


“Oh apartement pak Mario, sekarang masih kosong pak. Beberapa minggu lalu beliau sudah mengangkut semua barangnya dari sini”


“Jadi sekarang apartemen itu kosong?”


“Betul pak!”


“Saya boleh melihat apartemennya? Siapa tahu saya berniat menyewanya?”


Security mengambil kunci apartemen Mario, dan mengajak Daniel . Mereka ke lantai paling atas


“Wah dari sini pemandangannya bagus juga ya?”


“Betul pak! Sebenarnya dulu wilayah ini bernilai tinggi seperti apartemen di orchid, tetapi karena persaingan dan Orchid lebih dekat di pusat bisnis jadi peminat apartemen ini menurun hanya mereka yang tahu atau pernah ke daerah ini saja yang berminat tinggal di sini”


“Oh begitu”


“Pak Mario sering mengundang teman-temannya ke apartemennya, dia bilang sekalian mempromosikan tempat ini. Beliau sangat baik dan lucu, kami sangat kehilangan ketika beliau pamit pindah ke Jakarta” ujar Security itu bercerita


“Nah kita sudah sampai, mari pak!” Security membuka apertemen Mario dan mempersilakan Daniel masuk. Daniel berkeliling apartemen seolah orang yang hendak menyewa apartemen. Setelah beberapa saat


“Baiklah, saya akan pikirkan, mungkin ada benarnya kendala jarak dari kantor kesini harus di pertimbangkan” ujar Daniel kepada security


“Iya pak!”


Daniel pun pergi dari apartemen itu lalu berpindah ke apartment di pinggiran kota, ia menelpon Rita dari taksi.


“Sayang, aku sedang dalam perjalanan ke apartemen di pinggir kota”


“Pinggiran kota? Sebentar! Apa melewati jalan Bugis?”, Daniel melihat taksinya melewati jalan Bugis


“Iya betul! Kamu tahu tempat ini?”


“Iya, dulu Mario menyewa tempat itu untuk ayah, nanti kalau ada mini market, kamu beli masker dan parfum. Maskernya kamu kasih parfum sedikit, karena tempat itu bau!”


“Hmm...begitu ya?”


“Sudah sampai pak! Untuk mencapai apartemen di alamat itu, bapak harus berjalan lagi kira-kira 500 meter, karena jalanannya tidak bisa dilalui mobil”


“Baiklah, oh iya bisa kah kamu menunggu di sini?” tanya Daniel


“Apa Argonya saya biarkan menyala?”


“Iya gak apa-apa, ini 50 dolar untuk uang muka” Daniel memberikan selembar uang 50 dolar Singapura


“Baik pak!”

__ADS_1


Daniel berjalan menuju jalan yang ditunjukkan oleh supir taksi, ia juga mampir sejenak untuk membeli masker, parfum, air minum serta cemilan.


_Bersambung_


__ADS_2