
Kantor baru Daniel di Lexington cabang Jakarta,..
“Selamat pagi pak Daniel, saya Samuel asisten bapak, siap untuk membantu pak Daniel” seorang lelaki muda menyalami Daniel di ruangannya
“Selamat Pagi Samuel! Mudah-mudahan kita bisa bekerja sama dengan baik ya?”
Samuel, lelaki muda berusia sekitar 25 tahunan, tampak canggung, berdiri di depan Daniel
“terima kasih pak!” jawabnya bersemangat
“Sudah berapa lama kamu bekerja di sini?”
“Baru setahun Pak, atasan saya sebelumnya pak Andre”
“Pak Andre? Sekarang beliau di mana?”
“Beliau kembali ke Swiss pak”
“Andre...Andre..nama lengkapnya siapa ya?”
“Andre Maxmilian pak”
“Andre Maxmilian, dia bagian HRD bukan?”
“Betul pak! Di sini tadinya menjabat sebagai wakil direktur, ketika ditarik ke Swiss jabatannya menjadi CEO bagian HRD”
“Seingat saya beliau juga yang mewawancarai saya” Daniel mengingat-ingat
“Oh ya pak, sebelumnya ada yang perlu saya ketahui tentang kebiasaan dan peraturan dari bapak?”
“hmm...sederhana saja, kalau istri saya menelpon kamu harus segera memberitahu saya. Kamu koordinasi dengan bagian lain untuk jadwal meeting saya, sampai 2 minggu ke depan. Jika ada tamu kamu harus di sini menemani saya, kecuali saya meminta kamu untuk keluar”
Samuel sibuk mencatat peraturan dari Daniel
“Ada lagi pak?”
“Untuk sementara itu dulu, oh iya tinggalkan nomor WA kamu ya? saya sih gak pernah menghubungi di luar jam kerja, tetapi untuk emergency kan saya harus tahu nomor WA staf saya!”
“Baik Pak, ada lagi?”
“Oh iya, tolong bilang ke bagian pantry, mulai sekarang di sini jangan ada minuman beralkohol, apapun merknya. Ganti dengan soft drink, air mineral atau air ion juga boleh!”
“Baik pak! Itu berlaku mulai sekarang?”
“Iya!, saya gak suka ada minuman beralkohol apalagi di ruangan saya. Eh iya di sini jam makan siang jam berapa?”
“Jam setengah satu pak”
“Apakah makanan di sini halal?”
“Hmm...campur sih pak, karena di sini banyak yang non muslim”
“Begitu ya? baiklah untuk sementara segitu dulu deh, hari ini hari pertama saya di sini tolong beritahu saya kebiasaan di perusahaan ini”
“Baik pak, oh iya minggu depan Father’s Day pak”
“Father’s day? Itu bagaimana?”
“Di Lexi ini kami mengedepankan keluarga pak, terutama ikatan antara ayah dan anak. Jadi setiap setahun sekali para ayah yang bekerja di sini membawa salah satu anaknya untuk ikut bekerja bersama ayahnya”
“Oh ya? kalau anaknya masih bayi bagaimana?”
“Ya di bawa saja pak”
“Memangnya akan ketahuan kalau saya misalnya gak bawa anak?”
“Biasanya pada father’s day itu ada rapat gabungan pak, semua bagian di Lexi. Semua memperkenalkan anak-anak mereka”
“Apakah mother’s day juga dirayakan di sini?”
“Wah, kalau mother’s day lebih spesial pak”
“Maksudnya?”
“Para perempuan di kantor ini diberi libur 1 hari untuk mother’s day”
“Semua perempuan pak”
“Kenapa bisa berbeda begitu?”
“Menurut Sir Alec, perempuan apalagi seorang ibu harus diberi keistimewaan walau hanya sehari, jadi mereka libur dan tetap dibayar”
“Wah hebat ya, itu salah satu sebab ya, parkiran di gedung ini, lantai satu dan dua untuk perempuan semua?”
“Betul pak!”
“Samuel, sebelum masuk ke perusahaan ini, apa kamu pernah kerja di tempat lain?”
“Belum pernah pak, Lexi perusahaan pertama saya. Saya mengikuti pelatihan karyawan Lexi selama enam bulan.”
“Pelatihan karyawan sampai 6 bulan?”
“Iya pak, itu karena Lexi ingin setiap kami menempati posisi sesuai dengan kompetensi kami. Untuk mengujinya kami di tempatkan di setiap departemen secara bergantian selama 2 minggu. Pada akhir penilaian kami akan mendapat tempat dan tidak akan digeser lagi”
“oh begitu?”
“Kalau kami setingkat staf begitu pak, kalau tingkat CEO mungkin berbeda” ujar Samuel lagi
“yaaa, kami lebih sering ditempatkan di alam liar” ujar Daniel
“Oh iya pak Daniel dari Korsel?”
“Saya lahir di Korsel tapi besar di Kanada. Sebelumnya saya bekerja di Dar.Co selama kurang lebih 6 tahun”
“eh? Dar.Co? pak Daniel dari Dar.Co?”
“Iya betul, kenapa? Kok kamu kaget sekali?”
“Dar.Co kan kereen” gumam Samuel
“Kamu kenapa terkejut mendengar nama Dar.Co?”
“Karena perusahaan itu hebat pak, lebih besar dari Lexi kan?”
“Mungkin! Memangnya kenapa?”
“Atasan saya yang dulu ketika saya masih pelatihan pernah mengeluh karena tender Lexi selalu kalah dari tender Dar.Co. “
“Tender? Tender proyek?”
“Iya pak? Proyek dengan beberapa perusahaan, yang terakhir kalah telak pada saat tender BOS, sir Alec sampai memecat atasan itu karena pekerjaannya gak becus.”
“Tender BOS? Bank of Singapore?”
“Betul pak!, katanya sekarang mereka buka tender lagi karena kontrak dengan Dar.co sudah berakhir”
“Oh begitu”
Malam hari di rumah, Rita sedang sibuk mengerjakan tugas kuliahnya, sementara Daniel bermain dengan kedua anak batitanya
“Sayang, minggu depan aku harus membawa salah satu anak ini ke kantor” ujar Daniel yang tubuhnya dijadikan taman bermain oleh kedua anaknya
“Hah? Sebentar Say!” Rita menyelesaikan ketikan di laptop.
“Yak selesai, kirim!!!” dia mengirimkan tugas kuliahnya, setelah itu ia menuju kamarnya. Perutnya buncit dengan kehamilan 7 bulan
“Tadi kamu bilang apa?” tanyanya
“Minggu depan aku harus membawa anak ke kantor untuk ikut aku bekerja”
“Hah? Kenapa?”
“Di Lexi ada tradisi Father’s Day, nah setiap hari itu para ayah tanpa kecuali membawa anaknya ke kantor untuk ikut bekerja”
“Apa gak bikin pekerjaan terganggu?”
“Gak tahu deh, mungkin Cuma sehari saja gak ada pengaruhnya”
“Kamu mau bawa yang mana?”
“Hei kalian duduk di depan papi yang betul!” ujar Daniel pada kedua anaknya
“Hihihii” sambil tertawa kedua anaknya menurut, dan duduk dengan rapi di depan papinya
__ADS_1
“Hmm...siapa yang mau nemani papi kerja di kantor?”
Ranna terlihat tidak tertarik, ia langsung meninggalkan Daniel dan menomplok di punggung maminya
“Nah terjawab Pi, Raffa yang ikut!” ujar Rita tersenyum
“Bang Raffa ikut papi kerja ya?” ujar Daniel sambil menggendong Raffa, sementara Ranna mencium pipi Rita gemas, dan menggigitnya
“Aduuhhh kakak nih! kalau cium-cium saja jangan sampai menggigit, sakit tau!” Rita membalas menggigit pipi Ranna, ia tertawa geli karena Rita menggigit pipinya dengan bibir.
“Kak Ranna kenapa gak mau ikut papi?” tanya Daniel
“No!” jawab Ranna singkat
“Iya kenapa?”
“Kakak coco melon!” jawabnya dengan nada lucu
Tiba-tiba Raffa teringat sesuatu
“Papi, Affa no too!” ujarnya dengan wajah serius
“Eh kenapa?” tanya Daniel heran
“Coco melon?” jawab Raffa
“Yahhh....hahahaha....papinya kalah pamor!” Rita tertawa geli
“Waduh kehabisan anak nih!, apa yang diperut dikeluarin saja ya?”
“Hei! Jangan sembarangan ngomong ah!” Rita memperingatkan
“Habis, gimana dong pada gak mau?”
“Nanti deh, aku bujuk masih seminggu lagi kan?”
“Iya sih, tapi aku penasaran kira-kira acaranya bakal seperti apa?”
“Lexi unik juga ya?”
“He eh!, tapi kamu tahu gak, ternyata yang selama ini menggagalkan proyek Lexi itu aku!” ujar Daniel
“Kamu? Kok bisa? Bagaimana ceritanya?”
“Sebentar, tiba-tiba kepengen ngemil” Daniel beranjak ke pantry mereka dan memotong buah semangka, dan meletakkan di piring lalu kembali ke kamar
“Jadi, tadi asisten ku cerita, tiga tahun belakangan Lexi selalu gagal tender, yang terakhir itu BOS”
“BOS? Yang dulu kamu...”
“Iya betul! Aku ingat-ingat lagi, tiga tahun yang lalu aku memang mengalahkan beberapa perusahaan besar, tapi aku gak begitu memperhatikan perusahaan apa”
“Kok bisa?”
“Karena di kepala ku aku sedang menghitung mahar untuk menikahi mu!”
“Ah kamu! Pasti mengada-ada kan?”
“Enggak beneran kok!, aku ingat, komisi dari tender BOS itu besar banget dan turunnya cepat. Makanya aku langsung melamar kamu”
“Tapi katanya bukannya dari royalty Frank?”
“Oh kalau yang itu untuk pestanya, kalau mahar dari BOS itu!”
“Gak nyangka ya, sekarang kamu malah bekerja untuk mereka”
“Eh kamu gak apa-apa kan?” tanya Daniel
“Kenapa memangnya?”
“Aku bakal jadi lawan Dar.Co nih”
“Ya gak apa-apa, justru kan Dar.co akan diuji, apa mereka benar tim yang solid, atau yang hebat itu kamu!. Professional saja Say! Lagi pula Dar.Co kan bukan perusahaan milik ku, itu punya kakek. Dan kakek sudah terkenal hebat sejak dulu”
“yaa,...syukur deh, kalau kamu menganggapnya begitu, karena aku sempat cemas “
“Gak usah diambil hati, aku juga gak bakal cerita apa-apa sama kakek, biasanya beliau lebih tahu dari aku”
“iya sih, eh kamu masih mau semangkanya? Kalau enggak aku habisin nih?”
Seminggu kemudian, malam harinya
“Bang Raffa bobo cepat ya, besok kamu kerja sama papi” ujar Rita lembut
“Coco melon?” tanyanya
“Kamu bawa tablet mami, bisa nonton coco melon dari tablet ya?” bujuk Rita
“Yeaayy!!!” Raffa kesenangan, dibolehkan memegang tablet maminya
“Eh kamu ngasih gadget ke anak kecil?” tanya Daniel
“Bukan ngasih, Cuma meminjamkan, supaya dia mau ikut kamu”
“Itu tablet baru?” Daniel memperhatikan tablet Android berukuran 12 inch yang dipegang Raffa dengan hati-hati
“Baru aku buka, jadi beberapa tahun lalu, mama ngasih aku tablet. Padahal tablet ku yang lama masih ada dan awet. Jadi hadiahnya aku simpan saja siapa tahu kan nanti butuh ternyata betul”
“Tapi Yang, kenapa gak kasih tablet lama kamu saja? Kenapa yang baru nanti rusak bagaimana?”
“Tablet yang baru itu specnya bagus untuk menonton, karena si Raffa mau nonton Coco Melon, jadi gak apa-apa bawa saja. Aku masih punya tablet baru lagi”
“Banyak amat? Memangnya ada berapa?”
“Ada 2 lagi”
“semuanya hadiah?”
“Iya, hadiah ultah, salah satunya dari Daniel”
“Dari aku? Kapan aku ngasih?”
“Bukan Daniel ini, Daniel yang satu lagi”
“Daniel bankir?”
“Iya, dia ngasih tablet sebagai hadiah pertemanan”
“Kamu terima?”
“Lho kan dikasih, aku kalau dikasih ya diterima lah!”
“Kenapa gak kamu pakai?” tanya Daniel cemburu
“Tablet lama ku masih utuh, aku simpan saja”
“Tapi kalau kelamaan disimpan nanti rusak lho!”
“hmm...begitu ya? nanti deh semua aku unboxing”
“Tapi si Daniel itu ngasih tablet ada maunya?”
“Enggak ada deh, dia ngasih saja, katanya dia dapat 3 sample tablet, ada perusahaan yang mengajukan kredit dan dia dapat sample tablet. Biasanya dia bagikan ke keluarganya, terus dia pernah melihat aku membuka tablet lama ku. Jadi dia ngasih tablet ke aku”
“Perhatian banget ya?” ujar Daniel dengan nada cemburu
“Memang, tapi Daniel yang itu aku gak mau” ujar Rita sambil meninggalkan suaminya, Daniel tersipu mendengar perkataan istrinya
Keesokan pagi, Ranna masih terlelap, semantara Raffa terbiasa bangun pagi. Ia menghampiri kamar maminya
“Mami drink!” ujarnya sambil naik ke ranjang. Rita membuka piyama atasnya dan menyusui Raffa
“Masih jam 5 bang, masih lama kerjanya, habis minum bobo lagi ya?”ujar Rita sambil mengusap rambut anaknya
“Halo abang, jadi kita kerja hari ini ya?” Daniel baru saja kembali dari mesjid setelah sholat subuh
“iya pi!” jawab Rita mewakilkan
“Heh, abang, kok drinknya gak pakai botol? Itu kan punya papi?” ujar Daniel jahil
“ahh...papi!!!” Raffa menghalau wajah Daniel yang mendekatinya
“Ih si papi nih! jangan iseng gitu!” ujar Rita agak malu
__ADS_1
“memangnya, kamu gak memompa ASI tadi malam?” tanya Daniel dengan nada serius
“Ada kok, kayaknya si Raffa ini pengen nempel sama aku. Anak ini ngerti akan dibawa kerja dan jauh dari aku, jadi dia ingin dekat dulu”
“Oh begitu! Ya sudah deh, puas-puasin bang. Papi pinjamin punya papi ke abang!”
“Dasar!” Rita tersenyum geli
Pukul 8 pagi, Raffa telah mandi dan sarapan pagi, Rita telah menyiapkan perlengkapan baju ganti, popok, makanan serta minuman untuknya.
“Sayang, ini perlengkapan Raffa ya, aku sudah masukin koper, tabletnya juga sudah di koper”
“Ih abang lucu banget!!” Daniel kaget melihat Raffa mengenakan kemeja putih dan celana bahan seperti layaknya orang hendak bekerja. Sementara Ranna memperhatikan sambil meminum susu dari botolnya
“Kamu tuh seperti baby boss di film ya?” ujar Daniel, memperhatikan kelengkapan pakaian Raffa
“hahaha, memang terinspirasi dari itu” ujar Rita
Lima belas menit kemudian mereka berangkat. Raffa yang baru kali ini jauh dari Rita dan kakaknya tampak khawatir
“Dadah, abang!!” Rita mengantarnya sampai mobil meninggalkan kediaman mereka
“papi!” Raffa menempel pada papinya
“Tenang bang, kan ada papi!” ujar Daniel menenangkan.
Tak berapa lama mobil sampai di depan lobi kantor Lexi, semua ayah membawa anak-anak mereka. Raffa duduk di koper yang bisa berjalan, ia mengikuti Daniel. semua orang yang melihatnya tersenyum, karena tampangnya saat itu sangat serius
“Selamat pagi pak Daniel!” sapa security
“Selamat pagi!, kenalkan ini Raffa anak kedua ku!” ujar Daniel
“Halo dik!” Security menyapa ramah
“Halo!” jawab Raffa malu-malu
“Ayo bang, kita naik lift” ajak Daniel. mereka menaiki lift menuju ruangannya, sesampainya di lantai 15,
“Selamat pagi!!” sapa Daniel
“Pagi Pak!” jawab Samuel. Perhatiannya tertuju pada bocah kecil di belakang Daniel
“Nah Samuel, ini Raffa Ahmad Kang, anak kedua ku!, Bang Raffa ini pak Samuel! Say hello!”
“Helloo!!!” Raffa menuruti
“Hello!! “ Samuel tersenyum ramah.
“Jam berapa rapatnya Sam?”
“Setengah jam lagi pak, di ruang paling atas”
“Paling atas? Lantai 30?”
“Betul pak, lantai 30 itu khusus untuk rapat gabungan”
“oh begitu nanti ingatkan saya ya?”
“Baik pak! Dek Raffa tasnya mau Om bawakan?”
Raffa melihat ke arah Daniel
“No, i can do it my self” jawabnya, Daniel tersenyum mendengar jawaban tegas Raffa
“Yuk Bang, ke ruangan papi!”
Sehari sebelumnya Daniel telah menyiapkan meja dan bangku kecil untuk Raffa di ruangannya
“nih, abang duduk di sini ya?” ia menyiapkan tablet, serta cemilan yang dibawakan Rita untuknya, Raffa duduk dengan tenang dikursinya sambil menonton coco melon dari tabletnya. Daniel gemas melihatnya, ia mengambil foto anaknya yang sedang serius menonton dan mengemil lalu mengirimkan ke istrinya
“Nih bos kecil!” ujarnya dengan emoticon tersenyum
“Kak Ranna, lihat bang Raffa lucuuu kan?” Rita menunjukkan foto Raffa. Ranna melihat, lalu
“Mi, let’s to papi!”
“Ngapain?”
“Take Affa!”
“Jangan, abang lagi kerja, kakak kerja sama mami di rumah ya, nih, tablet untuk kak Ranna kerja” Rita memberikan tablet baru untuk Ranna yang berisi game edukasi, Ranna bermain game itu dengan serius.
Rapat gabungan di lantai atas, cukup heboh. Beberapa ayah baru tampak kerepotan dengan anak balitanya yang menangis bosan, sementara Raffa yang hanya memperhatikan orang-orang dalam rapat itu
“Pi?”
“Ya?”
“Why they cry?” tanyanya
“mungkin ngantuk” jawab Daniel sekenanya, ia merasa beruntung Raffa tidak rewel dan sangat tertib, tidak seperti anak-anak kecil lainnya yang berlarian mengganggu rapat
“pi, I want pee”
“oh, oke!” Daniel segera membawanya keluar ruangan dan ke toilet, ia agak kaget karena Rita sudah memakaikan popok
“Eh abang kenapa gak pee di popok saja?” tanya Daniel, sambil membiarkan Raffa pipis di WC
“No!, it nasty” Raffa menyiram sendiri bekas pipisnya, lalu membersihkan *********** dengan air lalu cuci tangan dengan sabun.
“Done!” ujarnya, Daniel membantunya memakaikan celana. Ia sangat bangga dengan anak lelakinya yang tidak lagi pipis di popok. Mereka kembali ke ruang rapat
Setelah rapat terbatas, semua ayah diperbolehkan pulang, hanya staff perempuan saja yang bekerja sampai waktu kerja tiba
“Wah seru nih bang! Pulang cepat!” Daniel membereskan perlengkapan Raffa dan segera keluar dari ruangannya
“Eh Sam, kamu gak pulang?”
“Tidak pak, karena saya belum jadi ayah. Saya tinggal sampai jam kerja berakhir”
“Oh begitu, besok kerja seperti biasa ya?”
“Betul pak, untuk jadwalnya sudah saya kirim ke email bapak!”
“Ok, Sam terima kasih! Abang say, thank you ke pak Samuel!”
“Thank you Sir!” Raffa menyalami Samuel
Daniel dan Raffa pun pulang, sebelumnya mereka mampir ke supermarket untuk membeli cemilan
“Abang mau es krim?”
“Yess!!!” Raffa berteriak kegirangan
Daniel membeli banyak es krim, serta coklat.
“Assalammu’alaikum!!!” ujarnya saat masuk ke kamar
“Wa’alaikummussalam! Lho kok sudah pulang?” tanya Rita heran, ia melirik jam dinding yang menunjukkan pukul 1 siang
“iya Cuma setengah hari kerja!” Daniel mengecup kening istrinya
“Nih upah kerjanya abang Raffa, dia pintar lho!” Daniel memberikan bungkusan besar berisi es krim dan coklat
“Wah..sebanyak ini? Memangnya abang ngapain saja?” tanya Rita
“Just sit and see” jawab Raffa sambil membuka pakaiannya dan mencari kakaknya
“Dia sudah gak pipis di popok ya?” ujar Daniel
“Memang, aku sengaja memakaikan, takut dia gak bisa tahan pipis “
“Oh begitu, aku surprise banget sama si abang. Dia tenang banget, anak-anak lain berlarian dan berteriak-teriak, dia diam saja ngeliatin. Aku nanya kamu gak mau main sama mereka?”
“Terus dia bilang apa?”
“No kakak, no play! Katanya begitu”
“Wah gawat dong ya?”
“Kok gawat?”
“Dia mau main sama kakaknya saja?”
__ADS_1
“Ya biarin saja, mungkin nanti lama-lama kalau ada teman seumuran dia akan main seperti biasa. Kamu jangan terlalu khawatir!” Daniel pergi ke kamar mandi untuk berganti pakaian
_bersambung_