
Radian dan Andi melangkah gontai memasuki rumah besar, pikiran mereka berkecamuk memikirkan Rita yang hilang tersapu air sungai yang meluap. Radian sangat menyesal mengajaknya pergi hanya untuk membuatnya diam. Andi juga sangat bersedih, penuh penyesalan, kalau saja ia mencegah Rita pergi, sekarang ini Rita pasti masih hidup itulah pikiran mereka.
Tiga jam sebelumnya...
Pagi sekali Radian dihubungi BASARNAS Auckland, untuk pencarian orang hilang, setelah mendapat kabar tiga orang selamat di penginapan, dan sekarang sedang berada di tempat penampungan untuk dijemput. Radian dan Andi segera datang ke tempat tersebut.
“Aku ikut Om!” ujar Andi yang melihat Radian tergesa mengambil kunci mobilnya
“Baiklah!” jawabnya, ia mengerti kekhawatiran Andi
Keduanya masuk ke mobil SUV biru milik Radian, dengan kecepatan cukup tinggi mobil itu segera meninggalkan pekarangan rumah besar. Di dalam mobil keduanya terdiam, masing-masing tenggelam dengan pikirannya masing-masing.
“Awas, orang nyeberang!” teriak Andi yang membuyarkan lamunan Radian, reflek Radian menyelamatkan mereka dari mencelakakan orang lain. Radian meminggirkan mobilnya, pikirannya sangat tidak tenang.
“Aku saja yang bawa Om, aku lebih tenang dibandingkan Om!” ujar Andi menenangkan
“Kamu bisa bawa?” tanya Radian
“Aku sudah punya mobil sendiri Om!” jawab Andi
“Baiklah!” Radian menyerahkan kunci mobilnya ke Andi, keduanya bertukar tempat duduk.
Andi membawa mobil dengan kecepatan sedang, Radian memperhatikannya dan mengangguk-anggukan kepalanya
“Aku selalu takut untuk mengajakmu bertualang Ndi!” ujar Radian tiba-tiba
“Oya? Boleh tahu kenapa?”
“Aku selalu merasa aku akan melukaimu kalau aku membawamu ikut petualanganku!” jawabnya
“Apa karena keadaan jantungku?” tanya Andi
“Yah, kebanyakan karena itu. Apa kamu tidak lagi memeriksakan keadaan jantungmu? Sekarang ini dunia medis sudah banyak penemuan baru dalam beberapa tahun terakhir, seharusnya serangan jantung sudah bisa diantisipasi, iya gak?”
“Aku sudah lama tidak lagi bermasalah dengan jantungku Om, terakhir check up baik-baik saja, hanya saja orang-orang sekitarku selalu memperlakukanku layaknya gelas kaca yang mudah pecah”
“Pasti sulit ya diperlakukan seperti orang sakit terus?” Radian bersimpati
“Awalnya begitu, lalu aku mendengar dan melihat petualangan Rita, aku pikir, aku beruntung tidak harus mengalami banyak kesulitan sepertinya. Aku tidak seberani Rita, padahal dia anak perempuan.”
“Iya, Rita memang berbeda, ia orang pertama yang tidak pernah menolak ketika aku ajak Bungee Jumping, Ia justru ketagihan, Daniel bahkan hanya mengikutinya satu kali, setelah itu selalu menghindar jika aku ajak.”
“Rita memang sangat menyukai Bungee Jumping, menurutnya itu olah raga yang lucu. Dia bilang bayangin Kak, kita mau jatuh nih, sudah siap menyentuh tanah, eh malah ditarik lagi ke atas, kan lucu!” Andi menirukan cara bicara Rita
“Hahaha, begitu?itu sebabnya ia selalu tertawa geli setiap habis terjun, sungguh anak yang aneh!” Apakah Ibumu tidak pernah melarangnya melakukan sesuatu yang berbahaya?”
“Mama? Bagaimana caranya? Rita selalu terjebak masalah yang bahkan ia tidak tahu itu akan terjadi padanya.”
“Reaksi mamamu bagaimana?”
“Beliau hanya menggeleng, kadang marah juga. Seperti kejadian dengan tante, beliau sangat marah pada Rita, hingga saat ini beliau belum mau menemuinya”
“Kasihan Rita, ia pasti merasa tersiksa”
“tersiksa? Entahlah soal itu karena Rita selalu tampak baik-baik saja di depanku, yang pasti ia tidak pernah menyesali perbuatannya yang membantu orang lain meski itu menyulitkannya.”
“hmm...Apa dia punya ketakutan?” tanya Radian penasaran
__ADS_1
“Aku belum tahu sejauh itu!”
“Kamukan kakaknya, kalian bersama sejak kecil kan?”
“Tapi kami terpisah selama 9 tahun, kami dipisahkan sejak usia 7 tahun, jadi banyak yang aku gak ingat tentangnya, kita hampir sampai Om” ujar Andi, ia melihat layar GPS yang mengantarnya menuju ke penampungan para pengungsi bencana alam.
Beberapa menit kemudian, mereka tiba. Radian dan Andi menemui komandan Basarnas, setelah itu mereka di bawa ke tempat lain. Daniel melihat Radian dan Andi, seketika ia memeluk Andi. Rick mengikutinya, juga Simon. Mereka bergantian memeluk Andi yang kebingungan dengan serangan “pelukan” para lelaki dewasa
“Hey What’s going On!” protesnya, ia mendorong Simon yang berusaha memeluknya lagi
“Rita mana?” tanya Radian, matanya sibuk mencari cewek tomboy keponakannya
Daniel dan Rick saling pandang, kemudian Daniel menceritakan kejadian yang terjadi hingga mereka tiba kembali di penginapan. Radian dan Andi terduduk lemas, mereka tidak percaya dengan yang telah mereka dengar.
“Apa kau sudah mengikuti alur sungai itu Daniel?” tanya Radian panik
“Kami mengikuti alur sungai, tapi mereka hanyut terlalu cepat dan sudah tidak terkejar!” jawab Simon
“Kami? Oiya kamu siapa?” tanya Radian kepada Simon
Daniel memperkenalkan Simon kepada Radian
“Ini Simon, ia guide kami, bosnya turut hanyut bersama Rita!” ujar Daniel
“Apa kalian sudah melaporkan hal ini kepada komandan?” tanya Andi
“Sudah, mereka juga sudah melakukan pencarian, kelihatannya mereka tenggelam atau nyangkut di suatu tempat.” Ujar Daniel lagi
“Om, bisakah kita meminta mereka untuk terus melakukan pencarian? Walaupun itu hanya tinggal jasadnya saja?” ujar Andi memohon kepada Radian
Radian segera menemui komandan, dan meminta terus dilakukan pencarian terhadap Rita, ia bersedia menanggung semua biaya pencarian. Satu jam kemudian mereka meninggalkan tempat itu. Simon diantar pulang ke tempat tinggalnya, begitu pula dengan Daniel dan Rick. Radian dan Andi kembali ke rumah besar dengan langkah gontai, mereka sangat lelah, dan berharap waktu bisa diputar kembali agar kejadian ini bisa dicegah. Keduanya langsung masuk ke Dapur untuk mengambil air minum, para staf dapur di minta meninggalkan mereka berdua. Dapur di rumah besar cukup luas, selain ada kitchen set, di situ juga ada meja makan bulat yang cukup untuk 8 orang. Andi memberikan air putih kemasan kepada Radian, kemudian duduk di hadapannya.
“Apakah itu hantu Rita? Inikan masih siang!” pikiran mereka berdua. Mereka terkesima melihat Rita berpiyama yang dengan gayanya yang cuek meneguk air mineral
“Aku menghubungi staf dapur, pada kemana ya?” tanyanya kepada Andi dan Radian
“Rita, kamu hidup!!!” Andi yang tersadar lebih dulu langsung memeluknya, untuk meyakinkan orang dihadapannya bukanlah hantu
“Ini Rita beneran Om!” teriak Andi kegirangan, ia terus merangkul Rita yang berusaha melepaskan diri dari rangkulan Andi. Radian menghampiri Rita dan mencubit kedua pipinya
“Aduuhhh!!! Sakit Om, apa-apaan sih kalian!” Rita mendorong kedua orang itu dengan sekuat tenaga
“Daniel bilang lo hanyut,Rit!” ujar Andi, ia melonjak-lonjak kegirangan sambil terus merangkul Rita
“Kak Andi sudah deh, jangan drama!” ujar Rita, ia berusaha melepaskan diri dari rangkulan Andi yang terasa semakin kuat
“Ini bukan drama keponakankuuu!!” Radian memegang kedua pipi Rita dan menciumnya
“Apaan sih Om!!!” lama-lama ia kesal dengan kelakukan kedua orang itu
“Duduk Rit, ceritakan bagaimana Lo bisa selamat dari arus sungai itu!” Andi menarik kursi makan dan memaksa Rita duduk di situ. Radian dan Andi duduk di samping kanan dan kiri Rita dengan wajah mendekatkan diri ke Rita. Rita mendorong duduknya menjauhi mereka
“Hmm...maaaf, aku belum gosok gigi, jadi agak jauh yaaa!” ujar Rita
“never mind, just carry on!” ujar Radian, ia tidak sabar mendengar cerita Rita.
Rita menceritakan pengalamannya hanyut bersama Lucas, yang akhirnya terdampar di sebuah danau
__ADS_1
“Jadi jaket itu beneran jadi pelampung Rit?” tanya Andi takjub
“Iya kak!, hebatnya lagi jaket itu bertahan lama, kalau dikira-kira jarak dari tempat awal hanyut ke danau, mungkin sekitar 1 km. “
“itu lumayan jauh Rit, aku lega kamu memakai jaket itu!” ujar Andi menepuk punggung Rita
“Bukan itu saja kak, coklat2 yang kakak bawakan, senter, korek api, wah sungguh-sungguh membantu kami untuk bertahan. Daniel bilang, kalau ia bertemu kakak, ia akan memeluk kakak!”
“Oooo begitu, pantesan!! Tadi di penampungan, baru ketemu dia langsung meluk, pas mau pulang meluk lagi. Eh teman-temannya pada ikutan. Kenapa nih tiga orang aneh!” ujar Andi sebal
“Hahahaha...rupanya Daniel menepati janjinya, mungkin Rick dan Simon hanya mengikutinya saja.”
“Rit, bagaimana kamu bisa lebih dulu ke rumah?” tanya Radian penasaran
Rita menceritakan pertarungannya dengan 2 orang di rumah kecil di tengah hutan untuk merebut kembali ranselnya Lucas
“Lucas, yang kamu ceritakan ini siapa sebenarnya?” tanya Radian
“Entahlah, kami bertemu secara tidak sengaja di hutan. Mobil jeepnya menabrak pohon, kami menolongnya, hingga kami membentuk kumpulan.” Cerita Rita
“Lucas ini temannya Simon? Kenapa mereka bersikeras kembali ke penginapan? Apa mereka tidak tahu orang-orang dipenginapan sudah pada mengungsi?” tanya Radian lagi
“agaknya Lucas mencari seseorang di penginapan itu, tapi ia tidak menceritakan siapa yang ia cari. Dia berdalih, orang akan kembali mencari di tempat awal, itu menurut dia!” ujar Rita lagi
“Lucas??? Sepertinya namanya tidak asing! Ya sudahlah, sungguh Rita, aku sungguh lega. Sekarang aku minta eh aku mohon kamu jangan menceritakan tentang kejadian ini ke kakekmu ya? Dia akan membunuhku jika tahu aku membahayakan cucu barunya” ujar Radian dengan nada memelas
Rita mengangguk, ia mengerti perasaan Radian
“Kamu juga Andi! Jangan ceritakan apapun ke kakek ya? aku akan mengajakmu ikut bertualang bersamaku!” ujar Radian ke Andi
“Apakah aku akan diajak nonton konser BlackPink?” tanya Andi dengan nada menggoda
Tiba-tiba Radian melotot dan melihat ke arah Rita dengan tatapan yang seolah berkata
“Kamu membuka rahasiaku ya?”
Rita membalasnya dengan menggeleng, seolah menjawab
“Aku gak bilang apa-apa!”
“Sebenarnya aku juga Blink seperti Om, beberapakali aku lihat Om di bagian VVIP pada saat konser BlackPink. Uangku hanya cukup sampai kelas festival.” Ujar Andi menerangkan
“Tapi Kak, kalau kelas festival dekat stage, kan enak bisa lihat langsung artisnya” ujar Rita
“Iya tapi capek, ke dorong-dorong. Kalau VVIP posisinya memang jauh dari panggung tapi duduknya nyaman. Sudah gitu ada privellege foto bareng artisnya setelah konser.” Keluh Andi
“Kamu baru saja jadi Blink apa sudah lama?” tanya Radian curiga,
“hmm...sejak Blackpink mengeluarkan lagu “Dudududu”” jawab Andi
“Masih baru kalau begitu, baiklah, aku akan mengajakmu ke konser Blackpink, tapi janji ya tidak cerita tentang hal ini ke kakek?” ujar Radian setengah mengancam
“Asyiiikkk...beres Om!!” ujar Andi senang, Rita pun turut senang
“Aku balik ke kamar ya? sebenarnya aku sangat lapar. Aku kembali tadi malam sekitar pukul 2, sebenarnya aku masih mengantuk tapi aku juga sangat lapar.” Keluh Rita
“Tadi Aku sudah memesan makanan dari restauran dekat sini, aku gak tahu sesuai seleramu atau tidak!” ujar Radian
__ADS_1
Beberapa menit kemudian staf dapur kembali, mereka membawa pesanan makanan yang dipesan Radian, ketiganya makan dengan lahap. Terutama Radian yang nafsu makannya hilang sejak Rita dikabarkan hilang.
_Bersambung_