
Daniel sibuk di dapur kecil dalam kamar mereka, ia membuat sandwich kesukaannya. Rita menghampiri suaminya.
“Kamu bikin apa Say?”
“Sandwich”
“Yeayy!...aku minta dong?”
“Duduklah dulu, nanti aku kasih” , Rita menuruti suaminya, ia duduk di kursi makan dan memperhatikan tubuh tegap suaminya dari belakang.
“Nah..sandwich untuk ibu anak-anak ku!” Daniel membawa sandwich yang baru jadi
“Yeaayyy!!!” Rita menepuk tangannya senang. Lalu mulai menyantap sandwich itu
“Wow! Rasanya beda dari yang dulu, ini isinya beda?”
“Kemarin aku membeli tuna, salmon dan beef ham. Jadi semua sandwich ini isinya beda-beda”
“hmm...enak!! oh ya, mama juga suka sandwich mu. Dia nanya ke aku, beli sandwichnya di mana, dia makan sandwich yang kamu taruh di lemari, aku bilang itu yang bikin Daniel”
“Terus mama bilang apa?”
“Enak banget, beliau bilang minta dibikinin kalau datang kemari”
“Hehehe..insya Allah” mereka menyantap sandwich dalam keheningan. Tanpa terasa semua sandwich sudah habis dilahap.
“Alhamdulillah...dek kamu makan kenyang ya hari ini!” Rita mengusap perutnya, Daniel tersenyum sambil mencuci piring. Rita masih memperhatikannya dari belakang.
“Kamu kenapa sih Say?”
“He? Kenapa?”
“Sejak kita pulang liburan kamu kok jadi pendiam? Apa ada yang bikin kamu risau?” tanya Rita
Daniel mengelap tangannya.
“hmm..kelihatan ya?”
“Iya, kamu tuh kalau lagi banyak pikiran biasanya jadi pendiam, belanja banyak lalu masak.”
“begitu ya? aku gak bisa ngumpetin apa-apa dari kamu dong” Daniel tersenyum, lalu terdiam lagi
Rita memulai percakapan
“Ada apa dengan Lexington?” tanyanya, sambil menatap suaminya tajam. Daniel yang tadinya duduk dihadapan Rita, ia bangkit dan mengambil 2 buah gelas.
“Kamu mau teh? Atau jus?” tanyanya ke Rita
“Teh hangat saja, 2!”
“Dua?”
“Satunya buat kamu! Ayo duduk di sini! Bilang sama aku ada apa?” bujuk Rita
Daniel memberikan teh hangat untuk istrinya dan dirinya, lalu ia meminumnya.
“Ahh...enak!”
“Memang! Wangi pula, cocok untuk menenangkan! Jadi apa yang mengganggu mu?” tanya Rita lagi, ia mulai tidak sabar
“eee..sebenarnya aku sudah dapat surat penugasan dari Lexington”
“Oya? Jadi fix kamu diterima?” Rita sangat senang
“Iya! Alhamdulillah!”
“Alhamdulillah!! Sudah ku bilang kamu itu hebat!!! Nak papi mu hebat lho!” Rita berbicara pada bayi dalam perutnya. Daniel tersenyum melihat reaksi istrinya
“Tapi Say, kok kamu kelihatan gak senang? Bukannya kamu sendiri yang ingin pindah ke Lexi?”
“Iya benar! Tapi..”
“Tapi kenapa?””
“Mereka ingin aku berkantor di Swiss, mereka bilang kemungkinan kantor di Jakarta akan ditutup ”
“Hah? Kenapa? Kok bisa? Apa kejadian yang sama dengan Dar.Co Singapura 2?”
“Bukan!, ini terkait dengan UU Ciptaker yang akan diberlakukan. Lexi mempelajari tentang UU itu dan mereka pikir UU itu tidak cocok dengan visi dan misi Lexi jadi mereka berniat hengkang”
“Kenapa mereka masih menuliskan penempatan Jakarta?”
“Mungkin mereka juga tidak menyangka UU itu akan disahkan, mengingat banyak serikat pekerja di Indonesia juga menentang, tapi sepertinya akan tetap disahkan”
“Jadi mereka bilang kamu diterima tapi di Swiss gitu?”
“Iya, posisi ku senior CEO, gajinya 5x lipat dari yang aku terima dari Dar.Co sebagai kepala proyek”
“Wow!..ckckck...aku betul-betul bangga sama kamu Say!” Rita menatap suaminya kagum
“Mereka memberiku waktu berpikir untuk menerima atau tidak, kalau aku terima, akhir bulan ini kita berangkat ke Swiss, perusahaan juga sudah menyiapkan tempat tinggal untuk kita di sana”
“Jadi kita akan menetap di Swiss?” tanya Rita, Daniel meminum lagi tehnya
“Kamu keberatan?” tanya Daniel pelan
“Berapa lama kamu diberi waktu untuk berpikir?”
“Sampai akhir bulan ini, kira-kira minggu besok “
“Yang membuat kamu berpikir keras karena aku?” tanya Rita, Daniel mengangguk
“Kalau kamu ikut aku, kamu akan meninggalkan kenyamanan ini semua, rumah megah, vlog mu, toko roti, kuliah.”
“stop!..stop!..stop!” Rita menghentikan ucapan suaminya
“Sekarangkan sudah serba online, aku tetap bisa bekerja via internet. Sekarang pun D’Ritz masih aku pegang! Kalau kuliah, aku bisa kuliah offline di Swiss. Vlog juga bisa aku buat di Swiss, rumah megah? Rumah ini akan tetap ada kalau liburan kita bisa kemari!” ujar Rita mantap
“Jadi kamu mau ikut aku?” tanya Daniel senang
“Tentu dong! Dimana ada suamiku di situ ada Aku!” ujar Rita memeluk suaminya, Daniel membalas pelukannya
“Terimakasih ya? Aku pikir kamu akan sangat keberatan”
“Keberatan? Mungkin awalnya, tapi aku adaptable kok! Kamu tahu kan? Sejak kecil aku tinggal pindah-pindah? Mungkin dulu aku pindah di sekitar pulau Jawa saja, sekarang di belahan bumi lain. Itu kan keren!”
Daniel menatap istrinya dengan sayang, lalu menciumnya
“Kamu baik banget!” ujarnya, lalu ia mengusap punggung istrinya
“Aku baik?”
“Iya! Kamu rela mengikuti suami mu ini menggelandang ke tempat yang jauh dari tempat kelahiran mu”
“Mungkin ini jawaban doa-doaku dulu ya?”
“Memangnya kamu berdoa apa?”
“Dulu waktu aku dititipkan di keluarga tentara, aku berdoa ada anggota keluargaku selain kakek Sugi yang mencari ku. Doaku terkabul, ternyata kakek Darmawan menjadi keluargaku. Doaku selanjutnya ketika aku sering ditinggal sendirian di rumah Sukabumi, aku melihat globe dalam hati mungkin asyik bisa tinggal di tempat yang jauh dari garis khatulistiwa”
“Garis khatulistiwa?”
__ADS_1
“Kamu gak ingat pelajaran geografi?” tanya Rita heran, Daniel menggeleng
“Garis khatulistiwa itu garis khayal yang dibuat ilmuwan, yang mana garis itu membagi bumi menjadi dua bagian utara dan selatan. Letak Indonesia di sepanjang garis khatulistiwa jadi kami mendapat sinar matahari sepanjang tahun!”
“Oh begitu, kamu dapat A dalam pelajaran itu?”
“Enggak! skor ku 40, itu setara D!”
“Lho kok bisa? Kamu pintar menjelaskan, bahkan masih hapal”
“Itu karena aku salah menggambar, aku diminta membuat garis-garis khayal, eh saking senangnya, ketukar kutubnya, jadi salah semua deh! Padahal menggambar itu yang skornya tertinggi”
“Remedial dong?”
“Enggak! gurunya gak mau remedial, lucunya dia bilang begini, Rita, kalau saja kamu benar menempatkan kutubnya, pasti kamu dapat 100!”
“Itu seperti mendukung tapi tidak mendukung ya?”
“Benar sekali! Tapi karena pelajaran itu, aku jadi senang mempelajari globe, lalu surfing tempat-tempat asyik di seluruh dunia. Aku gak menyangka akan dapat suami orang luar negeri dan bekerja di luar negeri, itu kan petualangan baru Say!” ujar Rita bersemangat
Daniel tersenyum, lalu menyeruput tehnya
“Aku beruntung memiliki istri yang senang bertualang!”
“Hehehe..oh iya, sebaiknya kita bilang ke kakek tentang ini, aku pikir sudah waktunya beliau menerima cucu menantunya tidak bekerja padanya”
“Eh?” Daniel heran dengan kata-kata istrinya
“Kak Andi pernah bilang kepada kedua kakek, kalau kami cucu-cucunya ingin membentuk jalan takdir kami sendiri, mungkin sulit tapi itu ingin kami jalani. Walaupun demikian kami tetap cucu-cucu kakek, dan siap dipanggil kapan saja kakek membutuhkan!”
Daniel melamun mendengar kata-kata istrinya
“Kamu benar, sepertinya aku harus mengatakan langsung ke kakek, mungkin hal ini yang selama ini mengganjal pikiranku” ujar Daniel ia menghabiskan tehnya lalu meletakannya di bak cuci piring
“Biar aku yang mencuci!” ujar Rita, Daniel melepaskan apronnya, lalu mencium bibir istrinya
“Muach, Aku mencintai mu!” ujarnya, lalu berlari keluar dari kamar mereka.
Menerima ciuman dari suaminya, membuat Rita tersipu, ia memegang perutnya dan berbicara pada bayi di perutnya
“Papi mu selalu membuat mami mabuk kepayang!” ujarnya tersenyum
Daniel setengah berlari menaiki lantai 3, di tangga ia bertemu dengan Andi
“Hey! Brother! Kamu di sini?” tanya nya heran
“Hey Niel, iya, aku baru datang tadi malam. Baru mau menemui kalian!”
“Oh iya, ada oleh-oleh dari Eropa, Rita ada di kamar, anak-anak ada di ruang bermain!”ujar Daniel terengah-engah habis menaiki 2 tangga
“Kamu mau kemana?”
“Aku mau menemui kakek, ada yang ingin aku bicarakan ke kakek, beliau ada kan?”
“Ada, tadi di perpustakaan, aku baru saja menyapanya”
“Baiklah, aku tinggal dulu!” Daniel segera naik tangga berikutnya, Andi memperhatikan iparnya
“Tambah keren saja si Daniel, gak heran si Rita hamil melulu” gumam Andi
“tok..tok..!” Daniel mengetok pintu kamar
“Masuk!” ujar suara dari dalam. Daniel memasuki ruangan yang tak kalah megah dengan kamarnya
“Hey Niel! Apa kabar!” sambut kakek Darmawan, Daniel menghampiri dan menyalaminya
“Alhamdulillah baik kek!”
“Iya kek!, kami membawa oleh-oleh untuk kakek, Andi dan mama Ratna”
“Oleh-oleh? Wah gak sabar nih, oh ya apa ada yang ingin kamu bicarakan?” tanya Darmawan
“Ada kek, sebenarnya kepergian kami ke Eropa kemarin selain liburan juga untuk pengenalan kantor”
“Eh?”
“Iya kek, Aku diterima menjadi senior CEO di Lexi, dengan penempatan di Swiss”
“Swiss? Bukannya Jakarta?” tanya Darmawan heran
“menurut mereka kantor di Jakarta kemungkinan akan ditutup”
“Ditutup? Lexi menutup kantor di Jakarta?” Darmawan terkejut
“Iya kek, menurut mereka UU Ciptaker yang akan disahkan tidak cocok dengan visi dan misi mereka, juga beberapa peraturan lain, jadi mereka memilih mundur dari Jakarta”
Darmawan mengangguk-angguk
“Aku belum dengar tentang itu dari perwakilan Jakarta”
“Oh ya bagaimana dengan Singapura 1 Kek?”
“Aku yang akan memegangnya langsung Niel!”
“Bagaimana dengan Auckland Kek?”
“Andi yang akan memegangnya, ia sudah menyanggupinya tadi”
“Ah syukurlah!” ujar Daniel lega
“Kenapa? Kamu gak enak ya sama kakek?”, Daniel mengangguk
“Aku sudah memikirkan tentang kata-kata mu yang lalu, aku menempatkan diri ku di posisi mu, dan aku memahaminya, jadi aku merelakan mu Niel!, tapi ingat ya? jika terjadi apa-apa padaku, kamu harus membantu Andi mengelola perusahaan ini ya?”
“Siap kek!, oh iya waktu itu Rita sempat menanyakan pada saya, kenapa kakek tidak menawarkannya posisi CEO itu padanya, apa karena ia perempuan?”
“Apa Rita tertarik?”
“Kelihatannya sih kek, dia juga mengambil kuliah jurusan ekonomi bisnis, dia bilang supaya bisa mempergunakan ilmunya untuk mengembangkan bisnisnya”
“oh begitu? Rita ternyata tertarik ya? aku pikir dia lebih tertarik di bidang kuliner, makanya aku gak tawari”
“Oh begitu”
“Jadi kamu akan di tempatkan di Swiss?”
“Iya kek”
“Apa Rita setuju?”
“Ia setuju Kek, katanya ini petualangan baru untuknya”
“Syukurlah, aku titip dia ya Niel, sabar-sabar menghadapinya. Kakek Sugi pernah bilang, Rita kalau dikerasi akan ia balas keras, tetapi sebenarnya ia anak yang baik dan setia. Kamu jaga dia ya? Kakek doakan karir mu melesat di Lexi dan rumah tangga kalian awet selalu, dan dikaruniai banyak anak”
“Aamiin Kek, eh banyak anak?”
“Pengalaman ku Niel, perusahaan ku banyak, aku kekurangan orang, karena anak ku cuma 1, cucu 2. Aku bingung sayangkan kalau usaha ku ini jatuh ke orang lain kalau aku tiada?”
“Insya Allah tidak akan terjadi kek”
“Oh iya, adeknya Raffa kapan lahir?”
__ADS_1
“sekitar 5 bulan lagi kek”
“Kemungkinan lahirnya di Swiss ya?”
“Mungkin Kek”
“Apa kamu tetap akan mendaftarkan anak ketiga mu sebagai WNI?”
“Insya Allah Kek, supaya sama dengan saudara-saudaranya juga maminya”
“Begitu?, baiklah Niel ada lagi yang mau kamu sampaikan?”
“Gak ada kek, itu saja!”
“Kalau begitu, yuk kita ke kamar anak-anak, kakek kangen sama cicit-cicit kakek”
Mereka meninggalkan lantai tiga dan menuju lift ke bawah
“Tadi kamu naik tangga ya?” tanya Darmawan
“Iya kek, kata Rita lumayan untuk olah raga”
“Memang, tapi lumayan banyak lho anak tangganya, kalian masih muda sih”
Ketika mereka keluar dari lift, Darmawan tampak kaget dengan kesibukan di salah satu kamar
“Ada apa kok di ruangan itu kelihatannya sibuk?”
“Oh itu, studio vlognya Rita kek, dia bikin vlog masak, nah kayaknya lagi syuting”
“Rita sibuk juga ya? apa gak apa-apa ninggalin aktivitasnya di sini?”
“Dia bilang, dia bisa mengerjakannya secara online”
“Apa kegiatannya gak banyak Niel? Kamu gak khawatir dengan kondisinya?”
Daniel tersenyum
“Rita itu unik kek, dia bekerja sesukanya. Dia bilang capek maka semuanya berhenti. Dia yang menghentikan semua.”
“Oh ya? kok bisa begitu?”
“Itulah kek, saya juga bingung kok bisa begitu”
“Dia bilang, aku kan bosnya, suka-suka aku dong, aku capek mau berhenti ya berhenti, begitu katanya”
“Terus modalnya gimana? Gak balik dong?”
“Nah itu anehnya kek, dia gak pernah kehabisan modal. Saya sering tanya, apa dia pakai uang bulanan yang saya kasih? Dia bilang enggak!”
“Jadi uangnya dari mana?”
“Ya hasil jualan roti kek, bahkan dia sudah jadi nasabah premium di Bank Singapura”
“Wah hebat sekali cucu ku, padahal toko rotinya kecil”
“Memang, dia selalu bilang kalau D’Ritz itu taman bermainnya”
“Kasihan dia harus meninggalkan taman bermainnya?”
“Dia bersikeras online kek, dia mempercayakan pengelolaan toko rotinya pada seseorang”
“Oh ya? ternyata cucu ku pintar berbisnis, tapi niel apa kamu gak kuatir?”
“Kuatir apa kek?”
“Kalau Rita lebih kaya dari kamu?”
“Sekarang Rita lebih kaya dari saya kek”
“Maksudku harta Rita bukan dari ku atau kakek Sugi, harta Rita dari usahanya”
“Kuatir sih kek, tapi sejauh ini dia masih selalu minta sama saya kek, bahkan cemberut atau marah kalau jatah bulanannya terlambat”
“Kamu pernah gak ngasih ke dia?”
“Wah mana berani kek, bisa-bisa saya gak dilayani!”
“Hahaha...cucu ku itu benar-benar deh” Darmawan geli membayangkan
“Kira-kira kalian berapa lama di Swiss? Eh kalian menjenguk Metha kan?”
“Soal berapa lama, saya belum tahu, sekarang ini saya dikontrak 3 tahun, dan bisa diperpanjang sesuai kebutuhan perusahaan. Kami mengunjungi tante Metha Kek, beliau sangat senang bertemu Ranna dan Raffa.”
“Hmm..tiga tahun ya? Ranna dan Raffa walau bukan kembar karena jaraknya dekat jadi seperti anak kembar ya?”
“Iya kek, oh iya, saya berencana ke Korea setelah anak ketiga lahir.”
“Kenapa gak sekarang? Oh iya ya, kalian akan sibuk mempersiapkan kepindahan ke Swiss”
“Iya kek!”
“Kalian akan membawa baby sitter dari sini kan?”
“Saya belum membicarakan dengan Rita kek!”
“Kalau begitu bicarakan Niel, mungkin sepele tapi nanti ketika kalian sibuk akan kewalahan seperti ledakan bom”
“hahahah..kakek bisa saja!”
Akhirnya mereka tiba di ruang bermain anak-anak, Andi juga tengah bermain dengan keponakannya
“kak Ranna, bang Raffa kemari, salam sama Uyut!” Panggil Daniel, Keduanya seperti mendapat komando, serentak meninggalkan Andi dan menghampiri uyut mereka
“Hahaha..Ranna, Raffa apa kabar kalian?” Darmawan menggendong keduanya sekaligus
“Hati-hati kek, keduanya berat lho!” ujar Daniel, ia menjaga kakeknya
“Tenang, kakek masih kuat kok!”
Andi menghampiri mereka
“Anak-anak ini seperti robot, begitu bapaknya manggil langsung kabur menghampiri” ujarnya
“Hehehe..ini didikan Rita dan aku, Wa!” jawab Daniel tertawa
“Itu kamar disana rame-rame ada apaan Niel?” tanya Andi
“Oh itu studio masaknya Rita, dia bikin vlog masak!”
“Oh ya? apa rame subscribernya?”
“Lumayan sih, selain karena dia pernah muncul di TV acara masak, juga aktif di sosmed, dia sampai menyewa admin khusus untuk sosmednya lho!”
“Wah hebat ya?”
“Iya Ndi!, gak nyangka Rita kita bakal jadi bisnis woman!” puji Darmawan sambil menurunkan kedua cicitnya, yang kembali bermain.
“Aamiin” Jawab Daniel senang
_Bersambung_
__ADS_1