
Kiano memperhatikan dari lantai atas, ia juga melambaikan tangan membalas lambaian tangan Daniel, kemudian ia kembali ke kamarnya dan merebahkan tubuhnya di kasur yang nyaman.
“Ah, telat lagi gue!” gumamnya, pikirannya menerawang mengingat kenangan 10 tahun yang lalu.
Sepuluh tahun yang lalu,...
“Ma, rumah sebelah sudah ada yang menempati?” tanya Kiano kepada mamanya
“Sudah, katanya dokter muda dan anak perempuannya”
“Mama sudah kenalan dengan mereka?”
“Belum sempat, mama lihat barang-barang sudah masuk, tapi penghuninya belum kelihatan”
“Apa mereka berani ma?”
“Berani apa?”
“Nenek Apsiah dulu kan meninggal di situ!”
“Hush, kamu anak kecil tahu apa?”
“Nenek Apsiah ditemukan 3 hari setelah wafat, masa mama lupa? Kan mama yang menghubungi ketua rt dan polisi?”
“Iya mama ingat, tapi kamu jangan cerita macam-macam sama penghuni baru ya? kasihan pemilik rumah itu, akibat ada yang meninggal di situ, nilai rumahnya jatuh, dijual gak ada yang mau, dikontrakan pada takut”
“Orang baru itu beli rumah sebelah ma?”
“Ngontrak katanya, walaupun dokter tapi kelihatannya tidak kaya”
“oo begitu”
Keesokan harinya rumah Kiano kedatangan tamu
“assalammu’alaikum!” suara lelaki terdengar dari depan pintu
“Wa’alaikummussalam!” jawab Kiano, ia membuka pintu, ia melihat sesosok lelaki dewasa dan anak perempuan seumuran dengannya yang memberinya sesuatu
“Maaf kami tetangga sebelah, saya dr. Soegiarto, ini anak saya Rita!, mama atau papa ada?”
Kiano yang polos menjawab apa adanya
“Papa sudah lama pergi, mama ada di kamar, tunggu sebentar ya?”
Dr.Sogiarto dan Rita dudu di teras depan, tak lama Kiano dan mamanya muncul
“siapa ya?” tanya mama Kiano
“Saya Soegiarto, tetangga sebelah rumah bu, ini Rita anak saya!, Rita kasih bingkisannya ke kakak itu!” perintah ayahnya. Rita memberikan bungkusan putih berisi biskuit untuk Kiano
“Saya Eva dan ini anak saya Kiano, ia berusia 7 tahun”
“ Sama dong sama Rita, Kiano sekolah di mana?”
“SDN 01 “ ujar Kiano malu-malu
“Wah sama dong sama Rita, nanti sekolahnya bisa sama-sama ya?” ujar ayah Rita
Kiano memperhatikan anak perempuan, yang terus menempel di kaki ayahnya. Wajahnya manis, kulitnya putih, matanya agak sipit, kelihatannya ia pemalu. Perkenalan antar tetangga cukup singkat, Rita dan ayahnya kembali ke rumahnya.
“Ma, Kiano gak mau berangkat sekolah bareng Rita!”
“Kenapa Nak? Kasihan, Rita kan anak baru, temani saja 1-2 hari, setelah ia mengenal lingkungan sekolah dan rumah, kamu boleh kembali ke teman-teman kamu!”
“Tapi ma? Rita kan anak perempuan, nanti dia dibilang pacar aku gimana?”
“Hush! Kamu masih kecil, sudah pacar-pacaran!”
“Bukan aku ma, tapi teman-teman!”
“Kalau perbuatan buruk kamu jangan ikut-ikutan yang gak baik. Rita itu anak perempuan, kasihan dia belum punya teman di sini, kamu harus jadi temannya!”
“Harus ma?”
“tidak harus sih,pokoknya sampai Rita punya teman deh!”
Kiano anak yang patuh, ia mengingat pesan mamanya dengan baik. Pagi hari ia menjemput Rita untuk ke seolah bersama, tetapi Rita akan diantar naik Verspa oleh ayahnya, sejak itu, Rita dan Kiano naik vespa ke sekolah diantar ayah Rita. Pembawaan Rita yang ramah, tulus dan supel membuatnya dengan mudah berteman. Bahkan dalam waktu sebulan, ia dipercaya menjadi ketua kelas.
Pada suatu hari, Kiano disuruh mama mengantar kue buatannya ke rumah Rita, dengan segan ia membawa kue dalam piring ke rumah tetangga sebelah.
“Assalammu’alaikum!” ucap Kiano
__ADS_1
terdengar suara Rita dari dalam “sebentar ya nek, aku buka pintu dulu!” kemudian ia berlari menuju pintu depan “Wa’alaikummussalam!” jawab Rita
“Eh ini ada kue dari mama!, piringnya mau sekalian aku bawa!”
“oh, ayo masuk!”, Kiano masuk ke ruang tamu , di situ ada kertas gambar, rupanya Rita sedang menggambar, sementara Rita ke dapur untuk memindahkan kue ke piringnya. Kiano kepo, ia melihat-lihat gambar Rita
“gambarnya gak begitu bagus, tapi warnanya bagus!” gumam Kiano
“Kamu lagi lihat apa?” tanya Rita, ia kaget melihat Kiano membuka buku gambarnya
“Aku gak lihat apa-apa!” ujar Kiano
“Bohong!, kata nenek, kamu bilang gambarku jelek!” ujar Rita kesal
“EH NENEK??” nenek yang mana? Tiba-tiba Kiano teringat nenek Apsiah yang meninggal di rumah itu. Dengan terburu-buru ia menarik piring dari tangan Rita lalu pergi dari rumah itu.
Keesokan harinya, Kiano tidak masuk sekolah karena panas badannya, dr.Soegiarto mampir sebentar untuk memeriksa keadaan Kiano.
“Kiano agak demam mba, mungkin karena radang, saya buatkan obat untuk 2 hari, kalau sampai hari ketiga belum turun demamnya, terpaksa kita bawa ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut!”
“Terimakasih dokter, maaf merepotkan!, maklum, kalau saya bekerja, Kiano sering saya tinggal sendirian di rumah, jadi tidak terkontrol makanannya, walau kadang adik saya datang untuk menjaganya”
“Oh enggak merepotkan kog mba, nanti siang sepulang sekolah, saya suruh Rita ke sini untuk merawat Kiano, dia pandai merawat orang sakit!”
“O ya? tentu saja karena ayahnya dokter!” ujar mama Kiano tersenyum
Siang harinya, Rita datang ke rumah Kiano
“Assalammu’alaikum!”
“Wa’alaikummussalam!” Kiano membuka pintu, ia melihat Rita
“Kamu sendirian?”
“he eh!”
“Nenek gak ikut?”
“Kamu mau aku panggil nenek ke sini!”
“Jangan!!!” Kiano membanting pintu dan masuk ke kamarnya ketakutan. Dengan santai Rita masuk ke rumah , dan duduk di kursi tamu, di situ ada TV
“Kamu pulang saja sana!” teriak Kiano mengusir
“Aku enggak apa-apa!” teriak Kiano lagi dari kamarnya, Rita masuk ke kamar lalu ia mengambil termometer dari tas kecilnya
“Suhu tubuh mu 37,8, itu demam. Kamu sudah minum obat?”
Kiano menggeleng, Rita keluar dari kamar, beberapa menit kemudian ia kembali dengan semangkuk bubur
“Nih makan dulu!”, Kiano menolak ketika disuapi oleh Rita
“Taruh saja di situ, biar aku makan sendiri!” ujarnya ketus, Rita meletakan mangkuk bubur di samping ranjang, kemudian ia kembali ke ruang tamu. Beberapa menit kemudian ia kembali ke kamar, bubur nasi yang sudah ia buat tidak disentuh sama sekali.
“Kamu gak makan?”
“Gak mau!”
“Kalau begitu aku bawa nenek ke sini ya?”
“Nenek?”
“Iya, beliau bilang dia gak suka sama anak yang gak mau makan, nanti dia marah lho!”
Dengan segera Kiano mengambil sendok dari tangan Rita, dan memakan bubur nasi dengan lahap, setelah makan ia minum obat lalu tidur. Pukul 5 sore ia terbangun, ia tidak melihat Rita lagi di rumahnya, tapi badannya lebih enak dibandingkan sebelumnya. Esok paginya ia telah pulih dan kembali ke sekolah.
“Nih, untuk kamu!” Kiano memberikan sebatang coklat untuk Rita
“Untuk Aku?”
“Iya dari mama aku!, Dia bilang terimakasih sudah merawat aku!”
“hehehe, sama-sama, bilang terimakasih juga ya sama tante Eva!” Kiano mengangguk senang.
Suatu ketika Kiano diganggu oleh sekelompok anak dari kampung, karena ia selalu jalan sendirian sehingga anak-anak kampung sering mengganggu dirinya. Kiano kecil memang tampak lucu, rambutnya keriting, matanya bulat, kulitnya coklat eksotis, bibirnya agak tebal, sulit untuk tidak menganggunya. Siang itu sekelompok anak kampung menyeretnya ke sebuah rumah kosong, orang bilang rumah itu berhantu, karena beberapa orang pernah ditemukan tewas di sana. Sudah pukul 5 sore, Kiano belum pulang ke rumah. Mamanya yang sudah tiba di rumah dari pukul4 sore cemas menunggunya.
“Assalammu’alaikum!”
“Wa’alaikummussalam” jawab Rita , ia membuka pintu
“Rita, tadi pulang sekolah kamu bareng sama Kiano?” tanya bu Eva dengan nada cemas
__ADS_1
“Enggak tante, Kiano malu kalau harus pulang bareng aku!”
“Kamu tahu dia kemana?”
“Gak tahu tante, mungkin main ke rumah Adi?”
“Tadi tante dari rumah Adi, katanya Adi juga Kiano lebih suka jalan sendiri”
“Aku bantu cari deh tante!” dengan sigap Rita menulis pesan untuk ayahnya di meja depan dan mengunci pintunya
“Ayah kamu nanti mencari kamu bagaimana?”
“Aku sudah tulis pesan kog tante, ayah pasti juga khawatir Kiano belum pulang!”
Rita dan MamaKiano berkeliling ke rumah teman-teman Kiano untuk mencari Kiano, tapi tetap tidak ditemukan
“Apa lapor ke polisi saja ya?” ujar mama Kiano bimbang, Rita yang dibonceng motor, tak sengaja melihat ke arah rumah kosong. Dari luar jendela ia melihat orang-orang tinggi besar menatap ke bawah
“Tante, bisa berhenti sebentar?”
MamaKiano menghentikan motornya, Rita turun dari motor, lalu ia berlari masuk ke rumah kosong itu.
“Rita!” panggil mamaKiano mengikutinya dari belakang
Firasat Rita benar, penghuni rumah kosong melihat Kiano yang pingsan di rumah itu.
“Tante, Kiano ada di dalam!” teriaknya
Dengan sigap mamaKiano mendorong pintu rumah yang cukup berat, ia melihat Kiano yang berbaring di lantai yang kotor
“Kiano!..Kiano!” panggil mama mengguncang tubuh Kiano, Rita hanya melihatnya
“Yuk kita keluar tante, mungkin Kiano butuh udara segar!”
MamaKiano menggendong Kiano keluar dari rumah kosong itu, Rita pergi ke warung untuk membeli air mineral, lalu ia percikan air ke wajah Kiano
Kiano tersadar, ia mengerjap-ngerjap matanya
“Mama?”
“Kiano!!! Ngapain kamu main di rumah itu nak?” tanya mamanya
“Aku diseret ke situ ma, sama anak-anak kampung!”
“Syukurlah Rita bisa menemukan kamu!”
Mama segera membawa Kiano dan Rita pulang ke rumah. Esok siang sepulang sekolah, Rita mengikuti Kiano.
“Kamu ngapain sih ngikutin aku terus?”
“Aku takut kamu hilang lagi! Kasihan tante Eva, ketakutan karena kamu gak pulang”
“Aku berani kog!”
Setelah ia mengucapkan hal itu, sekelompok anak kampung yang kemarin menghadangnya,
“Kog bisa keluar?” tanya anak yang jangkung
Kiano berusaha menghindari ketiga anak itu
“Eh mau kemana? Kemarin lihat hantu di rumah itu gak?” tanya yang gemuk
“Aku lihat!” ujar Rita tiba-tiba
“Eh! Lo bawa temen ya?” ujar yang keriting
“Cewek euy!, kurung saja lagi di situ!” ujar si jangkung
“Mereka marah lho rumahnya dipakai main-main!” ujar Rita lagi
“Apaan sih ni anak kecil!” si gemuk menarik kerah baju Rita, kini Kiano dan Rita jadi tawanan ketiga anak kampung itu. Kali ini Kiano dan Rita ditarik dan dikunci di salah satu ruangan di rumah itu. Kiano berteriak-teriak ketakutan.
“Hushh..kamu jangan takut!” ujar Rita tenang. Entah kenapa Kiano menjadi tenang, ia mempercayakan hidupnya kepada Rita. Sepertinya Rita bisa berbicara dengan mahluk astral, ia menceritakan kronologis kepada sang penghuni kamar, sepertinya mereka mengerti, Rita diberitahu tentang kunci cadangan di kamar itu, dengan kunci itu akhirnya ia dan Kiano bisa keluar. Anehnya ketiga anak kampung tadi, ikut terkurung di rumah itu, sepertinya mereka berjalan berputar-putar mencari pintu keluar, sementara Rita dan Kiano telah keluar dari rumah itu.
“Rita kamu bilang apa sama penghuni rumah itu?” tanya Kiano
“Aku bilang, kamu dan aku dipaksa dan dikunci di sini, kita gak bermaksud menganggu dan mereka percaya, makanya kita bisa keluar!”
“Rita, anak-anak kampung itu bagaimana?”
“Tunggu besok, baru bilang ke orang dewasa, biar mereka kapok!”
__ADS_1
Esok harinya, Kiano dan Rita memberitahu warung depan rumah kosong itu, yang kemudian lapor ke rt, setelah itu pak rt dan beberapa orang membuka rumah itu, di situ ditemukan ketiga bocah yang pingsan, entah ketakutan ataupun karena dehidrasi, sejak kejadian itu Kiano menjadi akrab dengan Rita.
-bersambung-