
Rafardhan atau Rafa, anak kedua Rita dan Daniel telah menginjak 1 bulan, Rita dibantu oleh suster Rini untuk mengurus anak-anaknya.
Suatu hari suster Rini menemukan paket kecil di bawah stroller Ranna.
“Bu, saya menemukan ini di strollernya Ranna” Rini memberikan paket kecil berbungkus warna hijau terang
“Eh apaan tuh?” Rita melihat bungkusan yang ditujukan untuknya lalu membukanya.
“Flash disk? Hmm..ini sudah lama aku taruh taruh di situ.” Gumamnya, ia menaruh Rafa yang tertidur di tempat tidurnya sementara ia membuka laptop untuk melihat isi flash disk. Sebelumnya ia membersihkan isinya untuk mencegah virus komputer setelah notifikasi aman dari virus, ia pun mulai membukanya. Alangkah terkejut dirinya melihat isi flash disk yang berisi foto-foto dirinya yang diambil dari jarak jauh. Selain itu juga terdapat foto orang yang mencuri lingerienya dengan memakai masker tentunya. Rita memperhatikan waktu file dibuat
“ini sekitar 4 bulan lalu, yang ini sebelum aku hamil. Hmm...sudah lama dia memperhatikan aku”gumamnya
“Bu, Saya akan membawa Ranna main ke taman sore ini” ijin Rini
“Jangan sus, mulai sekarang main di rumah ini saja, kecuali ada papinya” ujar Rita cemas, ia takut terjadi sesuatu pada anak-anaknya
“Baik bu, hmm..apa Ibu baik-baik saja?” tanya Rini heran melihat wajah Rita yang cemas
“Iya!, oh ya sebentar lagi jam kerja mu selesai ya?”
“Iya bu, masih 1 jam lagi”
“Kamu bisa makan dulu sebelum pulang, biar Ranna main di sini bersama ku”
“Baik bu, terima kasih. Masakan ibu Rita enak sekali, saya jadi penggemar ibu!”
“Terima kasih!” Rita tersenyum, Ia membuka situs hiburan dan edukasi untuk anak-anak batita
“A”
“A!” Ranna mengikuti ucapan dari situs edukasi tersebut
“B”
“Bbbeew” ujar Ranna
“Hahahaha..kamu lucu sekali!!” Rita menggendong Ranna lalu mencium pipinya gemas
“Ranna cerdas sekali bu, kemarin saya mengajarkan nama-nama benda dalam bahasa inggris, tadi saya tanya: Ranna yang namanya book mana? Dia nunjuk gambar buku”
“Iya? Alhamdulillah...gak usah terlampau serius suster. Biar dia lebih banyak main saja. Aku lebih suka dia main dari pada belajar takut stress”
“Iya bu, sehari saya cuma ngajarin 3 barang. Dia cepat hapal”
“Anak umur segini memang lagi masa keemasan ingatannya, beberapa orang tua menyekolahkan dan mengajarkan beberapa bahasa asing tapi aku gak setuju. Kalau sekolahnya oke deh supaya dia belajar sosialisasi dengan anak lain, tapi belajar bahasanya? Wah enggak deh!”
“Iya bu, saya sudah selesai, pamit dulu ya bu?”
“Iya suster, sampai besok ya?”
“Iya bu, dadah Ranna!”
“Daaaaa!!!!” Ranna melambaikan tangan kecilnya
“Muaaacchhh anak mami pandai!” Rita mencium pipinya lagi
“Hueeee...”suara tangisan Rafa yang kencang mengagetkan Ranna, ia ikut menangis
“Huaaaaa!!!”
“Hey...hey!! kenapa pada kompak begini?” tanya Rita heran, ia mengambil Rafa dari boksnya, Ranna yang mulai jalan mengikutinya dari belakang, sesekali ia terjatuh
“Kakak! Pelan-pelan ya?”Rita memegang tangan Ranna, sementara tangan yang satunya menggendong Rafa
“Assalammu’alaikum!” sapa Daniel, ia langsung ke dapur mencuci tangannya
“Wa’alaikummussalam! Papi tuh kak!” ujar Rita
Dengan langkah perlahan Ranna menghampiri Daniel
“Hey!!! Kak Ranna!..ngapain saja hari ini?” tanya Daniel
“Ppppffhh!” Ranna menjawab
“Papi!!”
“papppppppfh!”
“Ya sudah deh!” Daniel menyerah, ia menghampiri Rita lalu mencium keningnya
“Kamu sibuk ya?”
“Enggak, ini Rafa baru bangun, dia nangis kakaknya ikutan nangis”
“hueeee!!” Rafa menangis lagi seolah mengerti sedang dibicarakan maminya
“Sini sama papi!” Daniel menggendong kedua anaknya
“Hati-hati Yang!”
“Gak apa-apa!” Daniel menunjukkan Rafa ke Ranna
“Kak Ranna jaga adik ya? jangan ikutan nangis kalau adik nangis, disayang ya?” ujar Daniel
Ranna melihat adiknya yang lucu, awalnya ia mengusap kepala adiknya, lalu kemudian sifat jahilnya kumat, ia memukul pipi Rafa yang membuatnya menangis
“Huaaa!!!”
“kakak!” suara Daniel yang tegas mengagetkan Ranna, akhirnya ia ikut menangis
“Huwwaaaa!” Ranna menangis kencang. Daniel bingung sendiri ia merasa tidak enak sudah memarahi Ranna. Ekspresi Daniel yang bingung dan menggendong dua anak yang menangis diabadikan Rita melalui ponselnya.
“hahahaha...seru nih!” Rita menaruh ponselnya lalu mengambil Rafa dari Daniel
“Jangan nangis dek, kakak cuma say hello saja!” ujar Rita, Rafa berhenti menangis, Ranna juga berhenti menangis
“heh...kalian sekongkol ya?” tanya Daniel heran
“Hahahaha...kamu jangan panik, baru anak 2 nangis sudah panik. Katanya mau 5!” ledek Rita sambil membawa Rafa pergi
“Kakak! Maafin papi ya? tadi papi kaget. Lain kali kakak jangan mukul adek ya?” ujar Daniel sambil mencium putrinya
“Pappfhh!” Ranna mengusap pipi Daniel, sepertinya ia memaafkan.
Rita menaruh Rafa di kursi ayun, lalu mengambil Ranna dari Daniel
“Kamu mandi dulu deh, lalu makan lalu istirahat, pasti kamu capek banget ya?” Rita melihat wajah lelah suaminya
“Yeah...tadi rapat para CEO lama banget. Aku heran kenapa aku ditaruh belakangan” Daniel berjalan menuju kamar mandi
“Mungkin supaya yang lain tetap di tempat, kalau kamu duluan presentasi yang lain pada gak merhatiin”
__ADS_1
“Mana bisa begitu?”
“Bisa dong!, staf ceweknya banyak juga kan di situ?”
“Kok kamu tahu?”
“Yaa..biasanya sih begitu, bintang nya ditaruh belakangan” Rita kembali bermain dengan Ranna. Kali ini ia memberikan buku bergambar hewan yang kalau ditekan bisa berbunyi.
“Kakak ini Gajah” Rita memencet gambar bunyi suara gajah
“Hahahaha!” Ranna tertawa geli
“Ini monyet! Burung! Bebek! Ayam!” Rita menekan gambar masing-masing hewan. Kali ini Ranna tidak tertawa, wajahnya terlihat sangat serius memperhatikan gambar. Rita mengulang
“Gajah!” ujar Rita, tiba-tiba Ranna menekan gambar gajah hingga terdengar bunyi
“Bebek?” Ranna melakukan hal yang sama
“Burung?” Ranna menekan gambar burung
“Ayam?” kali ini Ranna menekan gambar monyet
“Hehehehe....itu monyet kak, ini ayam” ujar Rita tertawa, tiba-tiba Ranna menangis kesal
“Huwaa!!!” lalu menarik buku dan melemparnya
“eh kakak? Kok begitu?” tanya Rita heran melihat tingkah anaknya. Ia mengambil buku itu, lalu membukanya lagi. Ranna terlihat tidak suka, ia melemparkan lagi buku itu lalu ia pergi memainkan pajangan di atas meja.
“Hmm...” Akhirnya Rita mengalah, ia menaruh buku hewan itu di tempatnya semula
“Kakak lapar gak? Makan bareng papi ya?” Rita melihat Daniel sudah berada di meja makan dan mengambil sendiri makanannya. Rita mengangkat Ranna lalu menaruhnya di kursi bayi, ia menyiapkan makanan bayi untuknya.
“Kamu capek gak?” tanya Daniel
“Lumayan!, aku berusaha menikmati saja”
“Kalau kamu ingin ke salon atau me time, kasih tahu aku ya? nanti biar anak-anak aku yang urus!” ujar Daniel sambil melahap makanannya
“Iya, kamu baik deh!”
“Aku pernah baca tentang baby blues yang dialami ibu yang baru melahirkan, aku takut itu terjadi sama kamu. Karena kesehatan mental ibunya anak-anak penting!”
“Aku belum merasakan apa-apa sih, Cuma aku kangen krav maga”
“hah? Kenapa?”
“Sudah setahun lebih aku gak latihan, padahal itu gerakannya bagus lho”
“Jangan krav maga deh itu terlalu keras, kalau Aikido saja gimana?”
“Kenapa? Kamu takut aku gebukin orang ya?” tanya Rita sambil menyuapi Ranna
“Bukan! Aikido itu bagus untuk pertahanan diri, kalau krav maga kamu menyerang”
“Lho, kok baru bilang sekarang? Dulu kamu yang menyarankan krav maga kan?”
“Itu sebelum ada 2 buntut, sekarang kamu lebih butuh untuk pertahanan diri dan olah raga kan?”
“Dulu aku punya guru Jacky Chen”
“Oh yang ngajarin kamu memusatkan pukulan?”
“Benar itu! Aku setuju. Lagi pula ada orang yang sedang kamu incar?”
“Hmm...sebenarnya..” Rita menunjukkan isi flash disk yang tadi
“Apa nih?” tanya Daniel bingung
“Aku diikuti stalker. Aku menerima paket ini waktu hamil Rafa 4 bulan. Aku lupa nerima itu, ku taruh di strollernya Ranna eh tadi suster Rini yang menemukannya”
Daniel memperhatikan foto-foto tersebut, ia terlihat khawatir
“Gak ada orang yang kamu curigai?”
“Hmm...siapa? aku gak pernah memperhatikan sekeliling ku sih”
“Aku juga! Hmm..dia ngambilnya gak terlalu jauh lho, kemungkinan dia mengikuti aktivitas kamu Yang!”
“Nih yang bikin aku kesal, lihat gambar ini deh!” Rita menunjukkan pencuri Lingerienya
“Oh dia orangnya” Wajah Daniel terlihat gusar
“Laporin ke polisi saja?”
“Pastinya, ini kelanjutan laporan ku beberapa bulan yang lalu. Apa mungkin penggemar mu?”
“Penggemar? Memangnya aku punya?”
“Lho ingat gak, waktu kita ke bird Zoo ada yang mengenali kamu dari acara masak?”
“Tapi kan itu ibu-ibu, gak mungkin ibu-ibu mencuri lingerie ku”
“Maksud ku penggemar lain yang laki-laki”
“Siapa ya? Aku gak inget , aku saja gak inget wajah satpam yang memberikan paket ini”
“Sebenarnya bisa dicek CCTVnya”
“Gak mungkin lah, rekaman CCTV paling sebulan dihapus kalau gak ada yang mencurigakan. Sedangkan aku nerima ini beberapa bulan yang lalu”
“Repot juga ya? minta dicek sidik jarinya juga gak mungkin”
“Iya, makanya aku pikir lebih baik aku berlatih krav maga lagi, walaupun gak terpakai setidaknya untuk kewaspadaan saja”
“hmm...cari instruktur yang perempuan ya?”
“kenapa? Kamu cemburu?”
“Tentu dong!, waktu latihan kalian akan lebih banyak kontak fisik”
“Kamu yang cariin tempat latihannya deh!”
“Iya, nanti aku cari, oh iya kamu masih Yoga?”
“Masih dong, cuma seminggu sekali. Ini memfokuskan mengembalikan tubuh ke bentuk semula”
“kamu repot dong?”
“Kan ada suster Rini, kadang aku ajak Ranna ikut yoga. Lucu banget dia” Rita mencubit pipi anaknya gemas
Daniel kembali menyantap makanannya, hatinya sangat gusar ia takut sesuatu yang buruk menimpa keluarganya
__ADS_1
“Yang! Kamu gak usah kepikiran, orang kayak gini jangan bikin kita terintimidasi justru harus kita lawan. Aku lebih senang dia muncul di sini dari pada aku merasa gusar terus memikirkan”
“Kelihatan ya, aku kepikiran?”
“Iya, jelas banget!. Jangan over thinking Yang. Mulai sekarang aku akan lebih hati-hati lagi tapi yang jelas aku gak akan membiarkan orang mesum kayak gini merebut hak ku untuk merdeka dari rasa takut” Rita menekan garpu plastik Ranna hingga patah
“Ups! Hehehe” Ia bangkit dan membuang garpu plastik itu, lalu mencuci piring bekas makan Ranna
“Kamu gak makan Yang?” tanya Daniel
“Aku sudah makan sejak tadi sore. Aku menghindari makan di atas jam 5, aku kan sedang diet”
“Gak usah diet lah! Kasihan anak-anak. Nanti kalau diet ASI mu jadi sedikit gimana?”
“Bukan, diet ku ini justru diet sehat, selain aku makan makanan yang memperlancar ASI, juga bergizi tinggi tapi low kalori supaya anak-anakku pintar”
“Aamiin deh, aku ikutan diet kayak kamu deh!”
“Kamu harus konsultasi dokter gizi dulu, karena tiap-tiap orang kan kebutuhan kalorinya beda. Seperti Aku, anak 2, keduanya masih ASI. Nah makanan yang disarankan pasti beda sama kamu”
“Ribet banget ya? Aku makan salad saja ah!” Daniel mencuci piringnya lalu mengambil Rafa dari kursi goyangnya
“Rafa, cepat besar ya supaya bisa jaga mami dan kakak!” ujar Daniel sambil mengajak Rafa ke ranjangnya. Rita membersihkan dan mengganti pakaian Ranna lalu menaruhnya di ranjang bersama Daniel dan Rafa.
“Aku kuliah dulu ya ?”
“Eh???” Daniel bingung dengan dua anak bayi di ranjangnya.Rita ke ruang tamu untuk kuliah online. Sementara Daniel repot membuat batas agar Ranna tidak jatuh dari ranjang. Dua jam berlalu, Rita selesai kuliah online, setelah mengecek semua pintu dan jendela kemudian Ia membersihkan dirinya. Malam itu tiba-tiba perasaannya tidak enak, untuk mencegah hal buruk terjadi, ia melepas selang gas, lalu memindahkan tempat tidur Ranna dan Rafa ke kamar mereka. Ia meletakkan beberapa kamera kecil di beberapa tempat. Ia mengecek pintu dan jendela apartemennya sekali lagi, setelah yakin ia pun kembali ke kamarnya dengan membawa air minum dan beberapa bungkus snack lalu ia mengunci pintu kamarnya. Setelah memindahkan anak-anak ke tempat tidurnya masing-masing, Rita menguji kamera kecil yang gambarnya bisa ia akses melalui ponselnya.
“Oke sip” ujarnya pelan, takut suaminya terbangun. Beberapa saat kemudian ia pun terlelap di samping suaminya.
Pukul 3 pagi Daniel terbangun untuk sholat tahajud, ia heran tempat tidur anak-anaknya berkumpul di kamarnya
“Kenapa jadi ramai begini?” gumamnya. Ia melihat wajah istrinya yang tidur pulas kelelahan. Perlahan ia bangun dari ranjang lalu ke kamar mandi untuk wudhu, setelah itu ia pun sholat. Rita terbangun sejenak
“Yang?” panggilnya, Daniel diam saja karena sedang sholat. Rita bangun lalu mengecek kamera tersembunyi melalui ponselnya.
“Tidak ada apa-apa” gumamnya, lalu ia kembali tidur.
Esok paginya, Daniel mampir sebentar ke kantor polisi untuk laporan lanjutan tentang penyusup di rumahnya. Tidak sampai di situ, ia juga menghubungi temannya yang detektif untuk mencari tahu tentang foto-foto di flash disk itu. Sementara Rita melanjutkan aktivitas seperti biasanya.
“Bu, kok tempat-tidur anak-anak di geser ke kamar ibu?” tanya suster Rini
“Untuk sementara Sus, nanti kalau keadaan sudah aman kembali lagi seperti biasa”
“Sudah aman? Memangnya ada apa bu?”
“hmm...enggak ada apa-apa sih, cuma beberapa hari ini aku merasa gak aman saja. Aku akan lebih tenang ketika bangun tidur anak-anakku ada di dekat ku”
“oh begitu”
“Tapi Ranna dan Rafa tetap mandi di kamar mereka ya?”
“Iya bu”
Pukul 9 pagi mereka pergi ke toko, pukul 11 Rita membawa anak-anaknya untuk Yoga, satu jam kemudian mereka kembali ke kantor. Pukul 2 siang, Rita pulang ke apartemen. Ia membiasakan anak-anaknya tidur siang bersamanya selama satu jam, suster Rini juga mengikuti jadwal yang Rita buat, walaupun ia tidak tidur tapi ia menggunakan waktu 1 jam itu untuk beristirahat. Pukul setengah 4 Rita bangun, lalu memasak. Karena alat-alat yang canggih, masakannya bisa selesai dalam waktu empat puluh menit. Seperti biasa, suster Rini memandikan Ranna dan Rafa sebelum pulang. Pukul setengah 5 sore ia pulang. Pukul 5.00 Daniel sudah tiba di apartemen.
“Sampai kapan tempat tidur anak-anak di kamar kita?” tanya Daniel
“Sampai hati ku tenang”
“Katanya kamu gak mau terintimidasi tapi kok perbuatannya lain sama ucapan?”
“Aku memang tidak mau terintimidasi, tapi aku merasa aman jika ketika aku bangun anak-anak ada di dekat ku”
“Hmm...kalau aku mau berduaan sama kamu gimana?”
“Belum bisa!, belum 40 hari”
“Maksudku kalau sudah 40 hari, tempat tidur anak-anak masih di sini gimana?”
“Ya kita pakai metode silent off, atau kita bisa menyewa hotel, anak-anak aku titipkan di toko”
“Kenapa jadi ribet begini ya?” keluh Daniel, ia menggaruk kepalanya
“Sebenarnya aku gak takut Yang, aku ngebayangin misalnya ada orang masuk ke apartemen kita, nah kamar anak-anak kan di luar kamar kita. Gak mungkin kan aku keluar dan ngambil anak-anak?”
“Tapi apartemen kita kan sudah dilengkapi dengan kunci pintu canggih, pintunya juga sudah kokoh. Mereka mau lewat mana coba?”
“Namanya penyusup kita gak tahu kapan dia muncul kan? Kamu sudah lapor polisi?”
“Sudah, aku juga sudah menghubungi temanku yang detektif. Dia akan menyelidiki foto-foto itu”
“Kira-kira berapa lama?”
“Secepatnya”
“Apa perlu aku pancing supaya orangnya keluar?”
“Jangan! Kalau dia nekat kamu bisa bahaya!”
“Iya juga ya? aku jadi gemas sama tu orang!”
“Menurut polisi, kemungkinan besar penggemar kamu”
“Kok polisi tahu?”
“Dia tahu kamu dari istrinya yang nonton kamu di TV. Dia nanya kapan ada episode yang ada kamunya”
“Terus kamu bilang apa?”
“Aku bilang, belum tahu karena baru melahirkan anak kedua”
“Istrinya bilang, episode yang ada kamunya paling mudah diikuti”
“Ah paling bisa memuji”
“Beneran! Aku dengar mereka mengulang-ngulang episode kamu tuh!”
“Apa aku syuting lagi?”
“Nanti kamu capek gimana? Buntutnya sudah 2 lho!”
“Iya sih, tapi aku gak mau berharap ah, Vicky gak menghubungi aku”
“Mungkin nomor mu hilang”
“Dia kan sudah tahu toko ku, datang saja kan?”
“Ya sudahlah!..” Daniel menyudahi makannya , seperti biasa ia mencuci sendiri bekas makannya lalu pergi mandi.
-bersambung-
__ADS_1